Bagaimana jika seorang tolol mengisahkan sebuah cerita? Hasilnya kurang-lebih tentu saja A School for Fools. Si tukang cerita bahkan tak sanggup melihat dirinya siapa, kadang ragu apakah dirinya seorang narator atau seseorang yang sedang diceritakan, atau bahkan seorang pembaca. Ia juga tak bisa membedakan waktu, bingung apa bedanya hari ini, kemarin dan besok. Juga tak mengerti perbedaan beberapa hari dan beberapa tahun. Dengan semua kekacauan-berpikir seperti itu, bagaimana dia bisa diandalkan sebagai seorang pencerita? Buat Anda pembaca yang waras dan cerdas, mungkin akan frustasi mengikuti novel Sasha Sokolov ini. Persis seperti profesor fisika atau astronomi yang harus menghadapi manusia-manusia yang percaya bumi itu datar dan langit itu sejenis kubah. Frustasi, Kawan. Tapi kalau kita mau menghadapinya dengan ringan, kita bisa menertawakan mereka. Menertawakan kebodohan-kebodohan ini. Maka hasilnya kita berhadapan dengan novel penuh humor, komedi tolol yang tak hanya menertawakan kebodohan penceritanya, tapi juga mungkin menertawakan (sok) kecerdasan pembacanya. Oh, kadang-kadang ia waras, mengisahkan cerita cerdas sebagaimana barangkali yang sebagian kita harapkan. Ini muncul, misalnya, saat ia menceritakan seorang tukang kayu di tengah padang pasir. Sebuah parabel yang mengharukan, tentang betapa tak bergunanya seorang tukang kayu, tanpa paku dan kayu untuk diolah. Hingga ia akhirnya sekelompok orang datang memberinya dua palang kayu dan paku, serta seorang lelaki untuk disalibkan di sana. Ia melakukannya demi memperoleh beberapa bilah kayu dan apa pun untuk membuat keahliannya sebagai tukang kayu di tengah gurun pasir berguna. Jadi, sebenarnya ia tidak bodoh? Entahlah, yang jelas ia dimasukkan ke sekolah khusus, sekolah untuk orang-orang bodoh. Jadi jelas, ia setidaknya dianggap bodoh. Ngomong-ngomong tentang sekolah, bukankah sekolah dibuat untuk menghapus kebodohan? Untuk menjadikan si bodoh sebagai si pintar? Tapi tengok sekolah-sekolah di negeri ini, bahkan mungkin di semua tempat di dunia. Untuk masuk ke sekolah, Anda harus menghadapi test. Anak-anak yang memperoleh nilai terbaik, memperoleh kursi untuk belajar di sekolah. Artinya? Sekolah tidak mencari orang bodoh untuk dibikin pintar. Hampir semua sekolah mencari anak pintar, untuk dijejali pengetahuan. Sebagian menjadi lebih pintar, sebagian malah menjadi bodoh. Untuk orang yang bodoh sejak awal, inilah dia: sekolah khusus untuk orang bodoh. Satu di antaranya, mencoba menceritakan pengalaman hidupnya, melalui novel ini. Dengan cara bercerita yang amburadul dan berantakan. Tapi tunggu, apa itu amburadul dan berantakan? Jangan-jangan, itu cuma prasangka kita saja, yang terbiasa membaca novel atau cara bercerita yang lain daripada yang kita hadapi di novel ini? Jangan-jangan, menurut si narator ini, caranya bercerita tak kurang tertib dan adikuat dibandingkan yang seharusnya, dan jangan-jangan cara orang lain menulis, justru menurutnya amburadul dan berantakan? Siapa berhak menentukan mana yang tertib dan mana yang berantakan? Kita telah lama, dan mungkin akan terus begitu, hidup di tengah prasangka bahwa manusia lain tolol dan bodoh, atau lebih tolol dan bodoh dari kita. Jika mereka bercerita atau menulis, berbeda dari cara kita biasanya bercerita atau memperoleh cerita, kita menganggapnya sebagai narator tolol yang tak meyakinkan. Novel ini, jelas secara langsung mempertanyakan itu semua. Mempertanyakan siapa sebenarnya lebih bodoh dari siapa, dan adakah satu sistem naratif yang bisa dianggap lebih cerdas daripada yang lainnya?