Eka Kurniawan

Journal

Tag: Ryūnosuke Akutagawa

Hidung Gogol

Kang Gogol, kumaha damang? Saya baru baca cerpen “Hidung” karya sampean. Saya kok bingung ya, ketika Kovalev kehilangan hidungnya dan hendak melapor ke polisi, eh dia malah ketemu hidung itu. Si hidung turun dari kereta kuda dan bahkan memakai seragam pejabat. Saya enggak bisa bayangin hidungnya macam apa, ya?

Ah dasar sia, belegug! Matak oge ari maca pake isi babatok. Pakai imajinasi. Masa gitu aja enggak ngerti. Hidung ya hidung. Dia kehilangan hidung dan dia melihat hidungnya. Tentu saja dia segera mengenalinya. Bukankah hidung merupakan sesuatu yang paling depan ada di wajahmu. Ketika kau bercermin, apa yang paling nampak? Hidung! Kalau kau tak mengenali hidungmu sendiri, kau tak tahu rupamu sendiri. Paham? Soal bagaimana bentuk hidung itu, hanya Kovalev dan isi kepalamu yang tahu. Kalau kau enggak bisa membayangkan itu, berhenti saja baca buku. Enggak ada gunanya baca kalau enggak punya imajinasi.

Baiklah. Hampunten simkuring, Kang. Ngomong-ngomong kok sekarang jarang nulis cerpen lagi? Maksudnya di media massa, di koran atau majalah. Enggak suka ya nulis di sana?

Siapa bilang enggak suka? Cerpen “Hidung” awalnya diterbitin di majalah. Editornya Pushkin. Kenal Pushkin, kan? Eta editor anu keren, lah, ceuk barudak zaman sekarang mah. Editor sekarang enggak ada yang sekeren itu, makanya saya teh jadi males. Geuleuh lah mun ngaku editor tapi teu nyaho mana anu alus mana anu butut. Bisa diajak duel sama Pushkin. Untunglah Pushkin udah mampus, jadi editor-editor butut bisa tetep hirup.

Ternyata Kang Gogol teh galak, nya. Soal “Hidung”, ada satu penulis muda belia yang juga menulis cerpen berjudul “Hidung”. Nama penulis itu Ryūnosuke Akutagawa. Kenal?

Tentu saja kenal. Akutagawa teh salah satu penulis muda yang moncereng. Cerpen “Hidung” miliknya sudah jelas berbeda dengan “Hidung” milik saya, meskipun ada satu hal yang menautkan kami berdua. Dalam kedua cerpen, sudah jelas betapa hidung bisa sangat mengganggu kehidupan seorang manusia. Yang satu bercerita tentang kehilangan dan penemuan hidung, yang lain bercerita tentang hidung yang kelewat panjang sampai menggelambir ke bawah dagu. Saya rasa di masa depan Akutagawa bakal menjadi penulis yang sangat diperhitungkan. Sangat segar.

Itu enggak basa-basi, kan? Biasanya penulis tua sok basa-basi muji-muji penulis muda?

Si borokokok, teh! Nya henteu. Aing mah tara basa-basi. Mun cik aing butut, nya butut. Cik aing hade nya hade. Ulah sok belegug kitu tatanya, teh.

Baiklah, Kang Gogol. Satu lagi nih. Saya baca novel sampean berjudul Tarass Boulba, terbitan Balai Pustaka. Di sampulnya ditulis “Gogol lebih baik dikenal sebagai pengarang jang berbakat humoris daripada sebagai pengarang prosa klasik.” Tanggapan Kang Gogol?

Balai Pustaka aja lo denger. Enggak tahu itu penerbit antek kolonial? Dibikin buat ngeracunin otak inlander? Mikir sia teh!

Mau Ke Mana Cerita Pendek Saya?

Beberapa kali saya kembali membaca esai Bolaño berjudul “Advice on the Art of Writing Short Stories” di kumpulan esai dan artikelnya Between Parenthesis. Sejujurnya bukan esai yang cemerlang, tapi nasihat tetaplah nasihat. Seperti bisa diperhatikan, beberapa tahun terakhir saya tak lagi banyak menulis cerpen. Menerbitkan satu cerpen dalam setahun sudah cukup produktif bagi saya. Ada rasa bosan membaca cerpen-cerpen di koran, dan ada rasa bosan menuliskannya juga. Saya tak mau berpusing-pusing memikirkan keadaan cerpen dalam kesusastraan kita, meskipun tak keberatan memberikan pendapat jika ada yang bertanya, dan lebih senang melihatnya sebagai problem internal saya sendiri. Tulisan ini barangkali akan lebih menarik jika berjudul “Mau Ke Mana Cerita Pendek Kita?”, tapi saya rasa terlalu berlebihan untuk mengurusi “kita” saat ini, dan saya tahu persis sebagian besar penulis tak suka diurusi. Kebosanan ini problem internal, titik, dan menggelisahkan hal ini patut saya syukuri: setidaknya saya masih sedikit waras untuk bertanya kepada diri sendiri. Menjelang terbitnya kumcer keempat saya, [Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi], saya mencoba melihat sejauh apa yang telah saya lakukan. Hal paling gampang untuk dilihat tentu saja jumlah: lebih dari lima puluh cerpen telah saya tulis sejak tahun 1999, dan empat buku telah saya terbitkan. Bagi banyak orang, mungkin itu banyak sekali; bagi saya setidaknya itu lebih dari cukup, lebih dari itu bisa saya anggap berlebihan. Berbeda dengan cara kerja saya menulis novel, yang sering saya bayangkan seperti membangun rumah tanpa rancang-gambar, yang membuat saya begitu senang menulis ulang sebuah novel berkali-kali sebelum menerbitkannya; cerpen bagi saya seperti ruang laboratorium penulisan. Kadang-kadang saya punya gagasan kecil di kepala, bisa berupa olok-olok ringan maupun andai-andai berat, lalu saya mencobanya di “laboratorium”, dan jadilah sepotong cerpen. Bagaimana jika Thomas de Quincey, penulis Confession of an English Opium Eater ternyata penduduk Hindia Belanda di masa kolonial dan menulis dalam bahasa Melayu pasar? Hasilnya adalah cerpen “Pengakoean Seorang Pemadat Indis”. Bagaimana jika kita pergi ke satu tempat, bertemu orang-orang dan mendengar cerita mereka, lalu menuliskannya? Cerpen-cerpen seperti “Gerimis yang Sederhana”, “La Cage aux Folles” dan “Penafsir Kebahagiaan” ditulis dengan eksperimen seperti itu. “Caronang” awalnya merupakan eksperimen untuk menulis cerpen dengan pendekatan catatan perjalanan, tapi hasil akhirnya berbeda, sementara “Pengantar Tidur Panjang” merupakan memoar dengan obsesi yang berlebihan: menangkap sejarah republik melalui kacamata sebuah keluarga, tak lebih dari 2000 kata. Saya senang melakukan hal itu di cerpen karena alasan yang sederhana: bentuknya pendek, sehingga saya dengan mudah berpindah dari eksperimen satu ke eksperimen lainnya. Satu disiplin yang rasanya tak akan saya lakukan untuk novel. Sementara eksperimen-eksperimen samacam itu saya percaya layak untuk terus dilakukan, lebih dari lima puluh cerpen dan empat buku tetaplah jumlah yang banyak. Di sisi lain, saya juga percaya, sesuatu tak bisa dilakukan secara berkepanjangan. Ada satu titik di mana seseorang harus berhenti, metode dipertanyakan, dan kepercayaan diri yang berlebihan harus dihancurkan. Ini akan berat untuk saya, tapi rasanya mengurangi menulis cerpen sama sekali bukan jalan keluar yang memuaskan. Saya perlu berhenti setelah buku keempat ini. [Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi] akan menandai jeda panjang saya, hingga beberapa tahun ke depan. Dan tahun-tahun tersebut akan memberi saya banyak waktu untuk menjelajahi beragam khasanah cerita pendek. Saya menyukai penulis-penulis cerpen klasik, dari Chekhov, Gogol, Maupassant, Akutagawa, bahkan cerpen-cerpen konyol O. Henry. Bolaño menyuruh kita membaca Borges, Juan Rulfo, Edgar Allan Poe, hingga Enrique Vila-Matas dan Javíer Marias. Saya sudah membaca mereka. Di luar itu saya kira banyak penulis-penulis kontemporer, dari abad lalu maupun abad sekarang, yang patut untuk dibaca. Belum lama saya membaca cerpen-cerpen Ludmilla Petrushevskaya, yang membawa tradisi panjang kesusastraan Rusia (kapan-kapan saya akan menulis tentangnya di sini). Etgar Keret dan Hassan Blasim, semestinya dibaca sebagaimana kita membaca penulis cerpen klasik. Jangan lupa Raymond Carver. Juga Primo Levi. Dan Eileen Chang. Dan tentu saja César Aira. Saya pernah berhasil berhenti merokok, berhenti bergaul di Twitter dan Facebook (yang memberi saya waktu melimpah untuk membaca buku), rasanya saya akan sanggup melewati yang ini. Berhenti menulis cerpen untuk jangka waktu yang lama, mungkin terasa menyiksa dan menyedihkan; tapi mengetahui akan ada banyak yang bisa dibaca dan belajar kembali dari mereka sambil bertanya “Mau ke mana cerita pendek saya?”, saya rasa layak untuk dilalui. Sebab, mengutip Borges, kegiatan membaca lebih intelek daripada menulis. Dan lebih menyenangkan, tentu saja.

Gagasan Kecil Tentang Penerjemahan dari dan ke Bahasa yang Sama

Karena memutuskan untuk lebih banyak membaca karya-karya klasik yang telah berumur paling tidak lebih dari satu abad, saya mulai menemukan buku-buku dengan berbagai versi terjemahan. Tentu saja ini menguntungkan sebagai pembaca, saya bisa memilih dengan berbagai pertimbangan. Meskipun begitu, kadang-kadang saya malah membaca lebih dari satu versi. Misalnya Don Quixote. Pertama kalinya saya membaca terjemahan Bahasa Inggris karya Pierre Antoine Motteux (meskipun terbit pertama kali sekitar 1700, banyak diterbitkan dan karenanya murah. Itu alasan saya dulu membelinya). Beberapa tahun yang lalu, terbit terjemahan baru Don Quixote karya Edith Grossman. Bagi pembaca sastra Amerika Latin, siapa yang tak kenal Edith Grossman? Ia melanjutkan kerja Gregory Rabassa untuk menerjemahkan karya-karya Márquez yang lebih baru, belum termasuk karya-karya penulis Latin lainnya. Saya tak bisa menahan diri untuk tak membaca kembali Don Quixote dalam terjemahan baru. Hal yang sama terjadi pada Arabian Nights (atau kita kenal sebagai Hikayat Seribu Satu Malam). Ada satu terjemahan klasik karya Richard F. Burton (pertama kali terbit tahun 1885, sangat disukai oleh Borges). Hampir sebagian besar penulis Barat membaca Arabian Nights dari versi Burton ini, yang juga merupakan versi yang saya baca (bukan yang pertama, sebab saya pernah membaca versi sederhana dalam Bahasa Indonesia, yang saya lupa terbitan mana). Sebenarnya versi ini sangat lemah dalam aspek orisinalitas. Burton memakai sumber yang berbeda-beda untuk terjemahannya. Beberapa dekade yang lalu, muncul edisi “kritis” (melalui penelitian akademis yang ketat), yang dikenal sebagai “versi teks Leiden” yang dikurasi oleh Muhsin Mahdi. Terjemahan Bahasa Inggris versi ini dilakukan oleh Husain Haddawy (saya rasa terjemahan Bahasa Indonesia ada juga yang mendasarkan versi ini). Saya menyukai versi Husain Haddawy (Volume 1 bisa dibilang yang asli, Volume 2, bisa dibilang untuk menyenangkan hasrat pembaca meskipun cerita-cerita di dalamnya bukan bagian dari Arabian Nights, seperti dongeng tentang Sinbad, dll). Bahasa Inggris Haddawy terasa lebih enak dibaca, tentu karena lebih modern, daripada Burton. Tapi saya masih sering membaca Burton juga karena alasan sederhana: ada cerita-cerita yang ada di Burton tapi tak ada di Haddawy (karena metodologi Burton lemah, sering memasukkan cerita yang bukan Arabian Nights, tapi malah membuatnya jadi menarik), seperti kisah yang saya sukai “The Ruined Man Who Became Rich Again Through a Dream”. Baru-baru ini penerjemah penting Bahasa Jerman ke Inggris, Susan Bernofsky merilis versi baru The Metamorphosis Franz Kafka. Saya lupa sudah baca berapa versi novela ini. Saya bahkan pernah menerjemahkannya (yang saya rasa kualitasnya menyedihkan). Saya tak bisa menahan diri, saya pasti akan membaca versi ini begitu bukunya beredar di pasar. Untuk karya-karya dari Rusia, pasangan penerjemah Richard Pevear dan Larissa Volokhonsky menjadi bintang terjemahan Bahasa Inggris versi baru dalam belasan tahun terakhir. Saya membaca beberapa karya Gogol dan Nikolai Leskov melalui terjemahan baru mereka (saya menunggu dan berharap mereka mau menerjemahkan kembali Gorky). Dari pengalaman kecil ini saya berpikir, enak sekali ya, jadi pembaca karya-karya terjemahan (terutama Bahasa Inggris, sebenarnya). Ada banyak pilihan dan untuk karya-karya agung, selalu ada versi terjemahan yang segar dalam bahasa yang modern. Tentu selain faktor-faktor kesalahan terjemahan, salah metodologi atau salah sumber, faktor “keusangan” bahasa menjadi sangat penting. Bahasa selalu tumbuh dan berkembang, dengan begitu karya terjemahan juga seringkali memerlukan pembaharuan untuk mengikuti target pembacanya. Bahkan penulis-penulis yang masih hidup pun, beberapa di antaranya memperbaharui terjemahan karyanya (dengan beragam alasan). Misalnya Milan Kundera pernah menyibukkan diri dengan merevisi hampir seluruh karyanya dalam terjemahan Bahasa Inggris. Orhan Pamuk juga mengeluarkan The Black Book dalam versi terjemahan baru. Sekali lagi, kita sebagai pembaca dimanjakan dalam perkara ini. Saya misalnya tak perlu membaca The Divine Comedy dalam terjemahan kuno, sebab ada terjemahan baru yang segar karya Clive James. Atau karya Ryūnosuke Akutagawa (Rashomon and Seventeen Other Stories) yang diterjemahkan kembali oleh salah satu penerjemah Murakami, Jay Rubin. Sialnya, kemewahan ini tak berlaku justru untuk pembaca bahasa asli karya tersebut ditulis. Orang Spanyol, misalnya, tetap membaca Don Quixote dalam Bahasa Spanyol Cervantes abad ke-17, sebagaimana orang Prancis membaca Pantagruel François Rabelais dengan Bahasa Prancis abad ke-18. Dalam kasus kita, kita tetap akan membaca Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat Asrul Sani dalam Bahasa Indonesia generasi 45 (yang untuk banyak anak muda, terasa jadul dan menjadi tembok penghalang). Saya jadi memikirkan gagasan sinting ini: bagaimana jika karya-karya klasik itu diterjemahkan ke bahasa yang sama tapi lebih modern? Tentu kita tahu, banyak beredar karya-karya klasik yang ditulis ulang (dalam bahasa yang sama) agar lebih mudah dibaca. Tapi biasanya itu versi ringkas, atau versi “enak dibaca” untuk para pemula (anak sekolah yang sedang belajar), atau bahkan versi penyederhanaan. Bukan. Maksud saya bukan itu. Maksud saya tetap terjemahan, yang ketat, dengan kualitas yang tinggi, tapi modern. Tidak boleh disadur. Proses yang sama seperti menerjemahkan dari Prancis ke Inggris atau dari Rusia ke Spanyol, tapi kali ini dari Spanyol ke Spanyol atau dari Rusia ke Rusia. Bayangkan saja suatu ketika ada edisi Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat yang “diterjemahkan ke Bahasa Indonesia modern oleh A.S. Laksana”, misalnya. Atau, Don Quixote yang “diterjemahkan ke Bahasa Spanyol modern oleh Javier Marías”. Sekali lagi, gagasan ini mungkin tidak baru, dan terdengar seperti melecehkan karya-karya agung, tapi kenapa tidak? Paling tidak, bagi saya, itu terdengar menyenangkan dan sedikit menantang. UPDATE: Baru membaca soal ini, bahwa novel (konon novel pertama di dunia) Tales of Genji karya Murasaki Shikibu dari abad 11, “diterjemahkan” ke Bahasa Jepang abad 20 oleh penyair Akiko Yosano.

Apa yang Kamu Pelajari dari Novel?

Saya paling malas jika harus keluar pagi, menyetir menuju pusat kota Jakarta. Itu artinya saya harus terjebak dalam kemacetan yang panjang dan semrawut. Sejujurnya bukan kemacetannya yang menjengkelkan, tapi kesemrawutannya. Sepeda motor bisa naik ke trotoar, dan tiba-tiba bisa menyalip dari kanan atau kiri tanpa terlihat. Jika mereka menyenggol (atau tersenggol) dan jatuh, pengendara mobil selalu dianggap salah. Pengemudi mobil sama gilanya. Setiap hari kita bisa melihat mobil-mobil keluar dari jalur antrian, mencoba memotong di pintu masuk atau keluar tol. Di lampu merah, atau pintu kereta, mereka bisa menunggu di lajur kanan. Mereka tak hanya sopir angkutan kota, tapi bahkan kaum kerah putih. Apa yang ada di pikiran mereka? Orang bisa bilang, mereka mengejar waktu. Mereka ingin segera tiba di tempat kerja. Mereka perlu bekerja dan menghasilkan uang untuk keluarga mereka di rumah. Hah, bukankah semua orang juga begitu? Kenapa mereka tak pernah berpikir bahwa kita sama-sama ingin tiba di tempat tujuan dengan segera? Dari jalan raya Jakarta, saya melihat ilustrasi kecil mengenai ambisi. Lebih tepatnya ambisi pribadi yang menyedihkan. Kebanyakan orang hanya memikirkan diri mereka sendiri. Tiba di tempat kerja lebih cepat dari orang lain. Bekerja demi keluarga, dan kenapa harus peduli dengan keluarga orang lain? Saya jadi ingat satu cerita Pendek Ryūnosuke Akutagawa berjudul “The Spider Thread”. Dikisahkan Sang Buddha Shakyamuni yang sedang mengintip Neraka jauh di bawah Kolam Lotus. Di sana ia melihat seorang pendosa bernama Kandata, perampok yang bahkan membakar rumah dan membunuh orang. Tiba-tiba Sang Buddha teringat, betapa pun jahatnya Kandata, ia pernah berbuat baik sekali dalam hidupnya. Ketika itu ia sedang berjalan, ia melihat seekor laba-laba kecil dan hendak menginjaknya. Namun ia mengurungkannya, menganggapnya itu tindakan pengecut, dan membiarkan binatang itu hidup. Sang Buddha terpikir untuk memberinya kesempatan naik ke Surga. Di Neraka, Kandata tiba-tiba melihat seekor laba-laba merajut seratnya. Serat laba-laba memanjang, turun terus hingga mencapai Neraka. Kandata berpikir, jika ia menaiki serat laba-laba itu, ia bisa membebaskan diri dari Neraka dan naik ke Surga. Ia pun menaikinya, dan ketika ia sudah setengah jalan, ia baru menyadarinya semua orang di belakangnya juga berebutan naik. Ia berteriak-teriak, “Hey, siapa yang membolehkanmu naik? Ini seratku. Seratku!” Ambisi pribadi, hanya memikirkan diri sendiri, akhirnya hanya membuat mereka kembali terperosok ke Neraka setelah serat laba-laba itu putus kelebihan beban. Bukankah perilaku yang sama kita lihat sehari-hari di jalanan Jakarta? Darimana sebenarnya asal-usul semua ini? Sekali waktu, nongkrong di 7 Eleven, saya bertemu seorang teman lama yang bertanya, lebih tepatnya mengeluh, “Kenapa kesusastraan kita hari ini tak mewakili zaman?” Saya dengan santai menjawab, ada dua kemungkinan: pertama ia tak banyak membaca sastra, kedua ia salah membaca zaman. Saya bilang, “Jika saya tak salah ingat, ada banyak novel yang mereka beri label inspiratif, yang merajalela di toko buku. Mereka mengajarkan kita untuk memiliki mimpi setinggi langit. Lebih tepatnya mimpi pribadi. Ambisi pribadi. Anak kampung dengan sekolah hampir roboh? Tak masalah. Dengan kerja keras, dengan ambisi besar, kamu bisa keluar dari kemiskinan dan sekolah hingga luar negeri. Jika ada temanmu yang karena satu dan lain hal tak bisa keluar dari kemiskinan, tak bisa memperoleh beasiswa, itu salah mereka. Sekarang pergi ke jalan raya di pagi atau sore hari? Aku bisa bilang, sastra kita merupakan potret zaman.” Saya tak tahu apakah kata-kata saya mengandung kebenaran atau tidak. Pertama, saya tak banyak membaca novel-novel semacam itu. Kedua, orang mungkin akan berdebat apakah novel-novel ini dianggap sastra atau tidak. Tapi saya percaya, perilaku kita, perilaku orang-orang yang ingin menang sendiri di jalanan, sedikit banyak dipengaruhi apa yang masuk ke dalam pikiran mereka. Dari apa yang mereka baca. Jika orang-orang ini membaca lebih banyak cerita pendek Akutagawa seperti di atas, barangkali mereka akan memikirkan ulang perilaku mengemudi mereka. Siapa tahu?

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑