Journal

Dua Buku Roland Barthes

A Lover’s Discourse. Jika ada buku terakhir yang ingin dibaca seseorang yang sedang jatuh cinta, mungkin inilah buku itu. Setidaknya saya tak akan membaca buku ini karena jatuh cinta kepada seseorang. Benar dong, jatuh cinta, pencinta, cemburu, surat cinta, mestinya untuk dirasakan dan dialami, bukan untuk dijadikan wacana. Roland Barthes pasti nganggur banget sampai menjadikan urusan ini wacana, tapi ya suka-suka dia, lah. Untunglah dia tak mencoba mendeskripsikan, menerangkan ini dan itu. “Deskripsi wacana pencinta telah diganti oleh simulasinya, dan untuk itu wacana telah memulihkan persona fundamentalnya, sang aku, dalam rangka menampilkan suatu ungkapan, bukan suatu analisis.” Demikian ia memformulasikan bangunan buku ini. Sekali lagi, jangan kuatir. Ini tentang ungkapan-ungkapan sang pencinta. Apa yang dia ungkapkan tentang “dia yang tak hadir”, kekasih yang tak ada di sini seperti sering kita dengar di lagu? “Ketidakhadiran hanya ada sebagai konsekuensi dari yang lain; yang lain itulah yang pergi, aku yang tinggal. Yang lain dalam kondisi keberangkatan abadi, perjalanan; sang lain, menurut pekerjaannya, merupakan migran, pelarian.” Dan apa kata sang pencinta tentang “penantian”? “Seorang perempuan menunggu kekasihnya, di malam, di hutan; aku tak sedang menunggu apa pun kecuali panggilan telepon, tetapi kegelisahannya sama saja.” Dan tentang cemburu: “Sebagai seorang lelaki yang cemburu, aku menderita empat kali: sebab aku cemburu, sebab aku menyalahkan diriku sendiri karena itu, sebab aku takut kecemburuanku akan menyakiti orang lain, sebab aku membiarkan diri menjadi satu subyek banalitas: aku menderita karena dikecualikan, karena agresif, karena gila, dan karena biasa-biasa saja.” Tentu tidak hanya itu. Sang pencinta bicara dari dan tentang berbagai hal. Salah satu hal yang menarik, bagaimana ia merujuk perasaan maupun pengalamannya kepada para pemikir maupun kisah lain di novel. Merujuk Sartre, Freud, Zen, Lacan, Symposium, dan lain-lain. Sebagian orang ingin memikirkan dirinya sebagai sang pencinta, sebagian lain cuma ingin menjalani perannya, sebagian lagi tak memikirkan maupun menjalani. Kamu termasuk yang mana?

Camera Lucida. “Kuamati bahwa selembar foto dapat menjadi objek tiga praktek […] Sang Operator adalah si Fotografer. Sang Spectator adalah kita semua yang melirik koleksi-koleksi foto […] Dan seseorang atau sesuatu yang difoto, sang rujukan […] yang saya ingin menyebutnya sang Spectrum Fotografi […] Salah satu dari praktek ini tak terdapat pada saya dan tak akan saya investigasi; saya bukan seorang fotografer, bahkan bukan fotografer amatir: terlalu tak sabaran untuk itu.” Wah, kalau Roland Barthes menulis ini di zaman sekarang, mungkin dia sudah dirundung banyak orang. Bukan fotografer ngapain kamu ngomongin fotografi? Untunglah dia filsuf, jadi bolehlah dia ngomongin apa saja, dan tak ada yang melarangnya untuk penasaran pada hal ini. Rasa penasaran yang bisa diungkapkan dalam satu kalimat: apa sih Fotografi sebagai “dirinya sendiri”? Sesuatu yang tanpa “itu”, tak bisa dibilang sebagai Fotografi. Ia mencoba mengulitinya perlahan-lahan, seperti seorang paleontologis menyapukan kuas pada tulang-belulang tua. Dalam sapuan pertama, ia menemukan bahwa, satu foto tertentu, memberi efek, tak pernah terbedakan dengan rujukannya. Seperti kamu melihat foto dirimu, kamu akan berkata, “Itu saya.” Foto itu selalu membawa rujukannya (dirimu) kapan pun dan ke mana pun. Di sapuan berikutnya … Ingin tahu lebih banyak? Ya, mending baca sendirilah. Masa saya harus merangkumnya di sini. Bagi saya, yang juga bukan seorang fotografer (bahkan untuk level amatiran sekali pun), tapi senang mengintip foto-foto bagus di Instagram orang, buku ini sangat mengasyikan untuk memahami apa yang tengah terjadi antara saya, foto yang saya sedang lihat, dan tentu saja orang yang mengambil foto itu. Itu satu hal. Hal lainnya, sambil membaca ini, saya juga membayangkan hal-hal lain. Apa sih Film sebagai “dirinya sendiri”? Apa sih Novel sebagai “dirinya sendiri”? Apa Cinta sebagai “dirinya sendiri”? Sesuatu yang tanpa “itu”, mereka tak bisa disebut demikian. Hal terbaik dari satu wacana adalah kemampuannya untuk menggiring pembaca memikirkan wacana lain. Buku ini tempat yang gokil untuk tersesat dan melantur, setidaknya bagi saya.

Standard
Journal

Mythologies, Roland Barthes

Kadang saya pengin nulis esai tentang fenomena-fenomena di sekitar saya. Katakanlah soal pesugihan yang membuat pelakunya harus merenovasi rumah terus-menerus, yang orang Jawa menyebutnya sebagai kandang bubrah. Atau para penjual roti keliling di pagi hari yang berebut perhatian dan pelanggan dengan lagu jingle masing-masing. Atau lembaga swadaya masyarakat yang menyebar sukarelawannya untuk mencegat orang-orang lewat di mal atau di jembatan penyeberang sambil berkata, “Boleh minta waktu sebentar, lima menit saja?”, yang ujung-ujungnya tak jauh berbeda dengan sales parfum, perumahan, atau asuransi untuk menodong isi dompet kita. Kadang pengin juga nulis tentang jalan raya di daerah saya, yang semakin macet justru di hari libur. Tapi cukup membaca buku macam Mythologies karya Roland Barthes, dan keinginan saya dengan segera rontok, serontok-rontoknya. Orang macam ini, sebagaimana esais macam Walter Benjamin atau yang lebih muda dari mereka, Umberto Eco, telah membuat aktivitas menafsir berbagai fenomena kebudayaan (populer) tampak seperti sejenis pengulangan dan tiru-tiruan belaka. Paling banter, kalaupun saya nekat melakukannya, hanya akan menjadi tiruan pemikiran kualitas kesekian, dengan omong-kosong tentang tanda dan apa yang saya pikir diwakilkan oleh tanda tersebut. Bayangkan di buku yang hanya merangkum sebagian saja esai-esainya ini, Barthes menulis dari mulai gaya rambut dan keringat orang-orang Romawi di film hingga soal liburan para penulis yang dianggapnya sebagai memproletarkan diri (liburan awalnya hak anak sekolah, kemudian hak kaum pekerja). Memang, terutama Barthes bicara tentang mitos-mitos modern di belakang berbagai hal yang bahkan tampaknya banal. Potongan rambut seorang santa, misalnya, tak hanya merefleksikan ketaatan beragama tapi juga kekuasaan gereja; sebagaimana janggut lebat mencitrakan manusia bebas (karena tak harus mengikuti norma masyarakat yang harus bercukur setiap pagi). Saya jadi membayangkan para pendeta Buddha yang plontos sebagaimana orang-orang muslim yang saleh memanjangkan jenggotnya tanpa berkumis dengan dahi yang menghitam. Barthes mungkin tak membahas hal-hal itu, sebagaimana dia tak sempat melihat orang bekerja di cafe dengan laptop bergambar apel kroak, atau berjalan bergegas di trotoar sambil memegang gelas sekali pakai bergambar putri duyung hijau, tapi apa bedanya? Dia bisa membaca semua itu dan membaurkannya dengan mitos-mitos masyarakat modern. Mitos yang pada dasarnya dari abad ke abad tetap sama tapi direproduksi terus-menerus secara berbeda. Atau mungkin kita bisa menulis esai dengan sedikit berbeda, tak hanya menafsir dan mereka-reka makna di balik benda-benda, tapi juga memberikan kritik (kalau perlu yang pedas) atasnya. Aha, Barthes sudah melakukannya. Ia tak hanya menafsir Chaplin, tapi juga mengkritiknya sebagai menyederhanakan kaum ploretar sebagai kaum miskin. Juga mengejek cara pandang majalah Elle: kalian bicara bahwa perempuan bisa melakukan apa saja, tapi jangan lupa tugas kalian adalah bunting dan bikin anak (untuk lelaki). Sial bener, bukan? Atau bagaimana selain menafsir dan membuat kritik yang tajam, juga membuat perbandingan? Ini akan mengasyikkan, di mana kita bisa menciptakan hubungan fiktif yang gila-gilaan. Katakanlah arisan sebenarnya merupakan ritus pemujaan baru, atau sepakbola sebenarnya pesta orgy. Percayalah, Barthes sudah melakukannya. Di satu esai, ia membayangkan adegan striptease sebagai eksorsisme, sementara mobil dianggap sebagai katedral di zaman modern. Dan di esai lain, ia bicara tentang kandidat politikus yang mempergunakan potret diri mereka sebagai alat kampanye, dan saya merasa betapa esai itu bahkan masih berlaku sampai sekarang, termasuk di negeri ini. Apa yang tersisa untuk penulis payah macam saya, kecuali kemudian menganggap manusia macam Barthes adalah mitos itu sendiri. Kenapa saya membacanya? Mungkin biar dianggap keren? Pembuktian diri sebagai anggota masyarakat kelas borjuis kecil (sebab kaum proletar kemungkinan besar tak membacanya sebagaimana mereka kemungkinan tak membaca Marx juga)? Entahlah, buku macam begini, meskipun mental borjuis saya bisa sedikit terhibur, tapi juga sekaligus menjengkelkan. Membuat saya jadi bertanya-tanya, memangnya apa lagi yang bisa diperbuat dengan semiotika dan segala ilmu tanda serta tafsir ini?

Standard