Journal

Berbagi Mengenai Penerjemahan

30 September merupakan Hari Penerjemahan Internasional. Mari bicara tentang ini. Tak bisa disangkal, banyak penulis berharap karyanya diterjemahkan ke bahasa asing. Tak hanya membuka ruang pembaca baru, tapi terutama tentu saja sedikit gengsi: karya yang diterjemahkan setidaknya mengindikasikan karya tersebut memiliki nilai atau kualitas tertentu. Beberapa orang barangkali beruntung menguasai lebih dari satu bahasa sehingga bisa melakukannya sendiri. Isaac Bashevis Singer, salah satu yang saya tahu menerjemahkan karyanya sendiri (sebagian) ke bahasa lain. Tapi tentu tak semua orang seberuntung itu. Bahkan meskipun bisa melakukannya, atau nekat melakukannya, juga bukan hal yang gampang menerbitkan karya terjemahan. Banyak orang buta mengenai hal ini. Saya salah satunya. Sekarang sedikit bisa melihat, meskipun boleh dibilang masih rabun. Saya ingin berbagi sedikit mengenai pengalaman saya, siapa tahu berguna bagi penulis lain. Saya tahu banyak penulis dan karya dalam kesusastraan kita, yang layak untuk dibaca di luar teritori bahasa kita. Baiklah, sekali lagi, seperti kebanyakan penulis di sini, saya buta soal penerjemahan karya ke bahasa asing. Saya tak kenal penerjemah, tak kenal penerbit di luar, atau intinya, saya tak punya kenalan siapa-siapa. Diperparah oleh kenyataan saya punya kecenderungan bekerja sendiri, tak punya komunitas dengan jaringan luas dan kemampuan keuangan yang mampu mengirim anggotanya ke berbagai acara kesusastraan di luar, hanya memiliki sekelompok teman yang nasibnya kurang-lebih sama seperti saya. Satu-satunya yang bisa saya lakukan hanyalah menulis sebaik mungkin, menerbitkannya di sini, dan berharap ada orang yang menyukainya. Dalam keadaan seperti itu, ketika Cantik Itu Luka diterjemahkan dan terbit dalam Bahasa Jepang (2006), bisa dibilang itu kebetulan. Ibu Ribeka Ota (ia menerjemahkan karya Murakami ke bahasa Indonesia juga), orang Jepang yang tinggal di Semarang, kebetulan membaca novel itu dan menyukainya. Atas inisiatifnya sendiri, ia menerjemahkan novel itu. Entah berapa lama. Saya rasa ia melakukannya karena hobi, sebab ia tak menghubungi saya maupun penerbit saya pada awalnya. Hingga satu hari, sebuah agen (literary agent) yang bermarkas di Tokyo menghubungi saya, bilang ada penerbit Jepang ingin menerbitkan novel itu. Saya senang dan kaget, tentu saja. Semakin kaget ketika tahu, naskahnya sudah siap dan tinggal terbit. Dari merekalah saya kemudian berkenalan dengan Ibu Ribeka Ota. Ia masih memperbaiki naskah novel tersebut dengan berkonsultasi ke saya (saya ingat mengiriminya foto-foto pohon untuk menunjukkan nama pohon yang tidak dimengertinya), sebelum terbit. Itu buku pertama saya yang terbit dalam bahasa asing. Saya rasa, nasib saya sangat baik. Hal itu juga terjadi dengan edisi Malaysia untuk novel yang sama. Bahkan bisa dibilang, saya sama sekali tak berhubungan dengan penerbit maupun penerjemahnya. Kami diperantarai pihak ketiga, hingga buku itu akhirnya terbit. Hal yang sama terjadi dengan novel Lelaki Harimau. Ada sebuah penerbit dari Italia yang mengirim orang ke Indonesia untuk mencari karya-karya lokal untuk diterjemahkan dan terbit di sana. Saya tahu ia mengambil beberapa karya penulis Indonesia lainnya. Saya tak tahu bagaimana ia kemudian memutuskan mengambil novel saya juga (L’Uomo Tigre, dari informasi penerbitnya, akan terbit awal tahun depan). Tiga kasus itu hanya menunjukkan betapa pasifnya saya. Saya yakin, tak hanya saya, tapi sebagian besar penulis Indonesia juga sepasif itu. Sebagian besar karena saya buta soal urusan ini. Lagipula menunjukkan hasrat agar karya diterjemahkan ke bahasa asing, untuk standar moral saya, agak memalukan (meskipun sebenarnya sah-sah saja). Hal ini sedikit berubah setelah saya bertemu dua sahabat baik: Ben Anderson dan Tariq Ali. Dalam beberapa pertemuan, Ben sedikit mengkritik sikap pasif saya. Saya sadar, seambisius apa pun kita, kita cenderung menyembunyikannya. Saya termasuk, tentu saja. Tapi Ben mengingatkan satu hal yang sangat penting: terjemahan yang buruk akan memberi kesan yang buruk terhadap karyamu. Itulah kenapa ia menyarankan saya lebih aktif. Ia menyarankan saya untuk memulai memikirkan penerjemahan karya saya ke Bahasa Inggris dan Perancis sebagai awalan. Kedua bahasa itu bisa dibilang lingua franca. Pintu gerbang untuk ke seluruh dunia. Meskipun saya mengerti, saya toh tak bisa berbuat apa-apa juga. Memang apa yang bisa saya lakukan? Selama bertahun-tahun sejak obrolan itu, bisa dibilang saya tak melakukan apa pun. Hingga satu hari saya bertemu dengan Tariq Ali, makan siang bersama di satu restoran Jepang di Kemang. Ia galak. Tentu saja galak, sebab ia memang aktivis. Dia orang yang diceritakan oleh The Rolling Stones dalam lagu “Street Fighting Man”. Dia yang muncul di satu episode novel Bad Girl Mario Vargas Llosa sedang teriak-teriak di jalanan London. Dia bilang, “Karyamu harus dibaca pembaca berbahasa Inggris” dengan nada seolah saya tak punya pilihan lain. “Cari penerjemah sekarang juga.” Sejujurnya saya agak terteror waktu itu. Hampir setiap bulan dia bertanya, sejauh mana prosesnya? Saya hanya membalas dengan basa-basi, sebab kemajuan saya bisa dibilang sangat lambat. Atau tak bergerak sama sekali. Bagaimana bisa bergerak, saya bahkan tak kenal penerjemah? Hingga akhirnya, setelah memperoleh kepastian dari Verso bahwa mereka akan menerbitkan karya saya (Lelaki Harimau/Man Tiger), saya memberanikan diri menghubungi beberapa penerjemah, untuk memberi contoh terjemahan 1-2 halaman. Contoh-contoh itu dikirim ke London (untuk Tariq) dan Los Angeles (untuk Ben). Kami akhirnya memilih Labodalih Sembiring untuk menerjemahkan karya tersebut (hampir dua tahun prosesnya, dan novel itu rencananya terbit 19 Mei 2015). Di hari yang sama ketika bertemu Dalih untuk membicarakan proyek tersebut, di Yogya, saya juga bertemu dengan Annie Tucker. Itu terjadi di awal 2012. Saya sudah berhubungan dengannya melalui surel selama beberapa minggu sebelumnya. Intinya, ia ingin menerjemahkan Cantik Itu Luka. Jujur saja, ini kebetulan. Kebetulan ada yang menyukai novel itu dan tertarik menerjemahkannya. Terjemahannya bagus dan saya suka. Tapi saya tak ingin proyek Annie berjalan seperti kasus-kasus sebelumnya, di mana proyek itu berjalan sendiri tanpa keterlibatan saya. Saya sudah sedikit mempelajari seluk-beluk soal penerjemahan dan penerbitan sehingga saya setidaknya tahu apa yang saya inginkan. Setidaknya, novel itu bisa saya bawa ke Verso juga, tapi jika ada kesempatan lain kenapa tidak diusahakan. Sebelum saya memberi izin Annie meneruskan terjemahan itu, saya meminta bertemu dengannya. Kami kemudian membuat kesepakatan. Saya ingin membagi kesepakatan saya di sini, karena saya pikir ini sangat penting dan siapa tahu bisa menjadi masukan untuk penulis lain. Ada dua syarat yang saya minta ke Annie: 1) Ia harus menyelesaikan terjemahan itu, tak peduli ia memperoleh dana (entah dari mana) atau tidak. 2) Saya tak ingin buku itu terbit di Indonesia. Saya hanya mau itu terbit di negara Berbahasa Inggris. Saya sadar, itu syarat berat. Annie merupakan penerjemah baru. Syarat pertama barangkali bisa dilakukannya, karena rasa senang dan hobi. Tapi syarat kedua? Seperti saya, ia juga tak kenal penerbit di luar. Termasuk di Amerika, tempat tinggalnya. Saya sendiri tak punya pilihan lain. Saya tak ingin karya saya diterbitkan dalam terjemahan, tapi tak dibaca. Saya ingin lebih serius soal ini. Tapi Annie ternyata menyanggupinya. Ia mengerjakannya di antara waktu luang mengerjakan desertasi. Ia mengajukan dana beasiswa untuk penerjemahan itu, dan beberapa ada yang lolos. Yang paling penting adalah ketika proyek itu memperoleh bantuan dana dari PEN Center Amerika. Draft terjemahan saya di sana dibaca salah satu orang penting di penerbitan sastra Amerika, Barbara Epler. Dia pemimpin New Directions. Dia editor yang mengakuisisi penulis-penulis seperti Roberto Bolaño dan Cesar Aira. Ketika ia menghubungi saya dan menyatakan minat untuk menerbitkan Beauty is a Wound, saya tahu saya tak mungkin menolaknya. Buku ini direncanakan terbit tahun depan. New Directions menginginkan buku itu terbit berdekatan dengan Indonesia sebagai tamu kehormatan di Frankfurt Bookfair, meskipun saya tak tahu, apa urusan buku saya, saya, dan acara itu. Pada saat yang sama, manuskrip Man Tiger rupanya beredar di beberapa editor penerbit Eropa. Salah satunya Sabine Wespieser Editeur dari Perancis, yang segera menghubungi saya dan berminat menerbitkan novel itu ke dalam bahasa Perancis (akan disusul dengan Cantik Itu Luka). Tak ada alasan untuk saya menolak, kan? Saya hanya memastikan bahwa saya ingin berkomunikasi dengan penerjemahnya. Nasihat Ben terus terngiang-ngiang, “Penerjemahan yang buruk akan meninggalkan kesan yang buruk tentang karyamu.” Selama hampir setahun proses penerjemahan, saya tak hanya berhubungan melalui surel dengan Pak Etienne Naveau, sang penerjemah, tapi juga telah bertemu dua kali di Jakarta. Saya tak tahu proses ini akan membawa saya (dan karya saya) ke mana. Jujur, sebenarnya saya hanya ingin menulis dan membaca saja, tapi urusan-urusan semacam ini pada akhirnya tak terelakkan. Dan tentu sama seriusnya. Dan naluri saya yang kemudian mengatakan: saatnya berhenti sejenak. Saya tak lagi membicarakan prospek menerjemahkan karya saya ke bahasa lain untuk sementara, setidaknya sampai edisi Inggris dan Perancis terbit. Mungkin saya salah. Tapi saya merasa dua bahasa itu merupakan salah dua pintu gerbang, yang harus dibuka lebih dulu sebelum membuka pintu-pintu yang lain. Semoga catatan saya bermanfaat untuk penulis-penulis lain. Saya akan senang sekali jika bisa melihat karya-karya penulis Indonesia beredar di rak toko-toko buku berbahasa asing, dan mereka dibicarakan bukan karena mereka penulis Indonesia, tapi sesederhana karena mereka penulis yang bagus.

Standard
Journal

The Corpse Exhibition, Hassan Blasim

Di dunia yang brutal, yang lebih aneh daripada fiksi, masih diperlukankah cerita? Hari-hari ini kita melihat pembantaian penduduk Gaza oleh tentara Israel disiarkan secara langsung oleh televisi, dan para penjahat perang dengan santai duduk di sofa menjawab wawancara. Peristiwa penghancuran sebuah bangsa menjadi sama banalnya dengan kisah anak kampung memenangkan kontes menyanyi. Adakah yang tersisa untuk dituliskan sebagai sebuah cerita? Membaca kumpulan cerpen The Corpse Exhibition karya penulis Irak Hassan Blasim memberi keyakinan, tak hanya selalu ada ruang untuk cerita, tapi bahwa cerita merupakan bagian peradaban manusia yang penting untuk menghadapi penciptaan dan penggunaan senjata untuk menghancurkan peradaban. Ia salah satu penulis muda yang lahir dari rahim tradisi panjang kesusastraan Arab. Umurnya masih 40an (kelahiran 1973). Ia tumbuh di negeri yang dihajar perang tak berkesudahan (melawan Iran, menginvasi Kuwait, digempur pasukan Sekutu, perang saudara, dan yang terbaru: dikoyak-koyak gerombolan ISIS – Islamic State of Iraq and Syria). Di usia muda ia harus tercerabut dari negerinya karena perang (Perang Irak melawan Sekutu, jika saya tak salah ingat, merupakan yang pertama disiarkan langsung televisi di tahun 90an). Hassan Blasim terpaksa eksil dan menuliskan cerpen-cerpennya terutama di internet, saya rasa dengan satu kesadaran, apa pun yang bisa dilakukan jurnalisme, dongeng tetap dibutuhkan. Yang luar biasa darinya adalah, ia tak mencoba meromantisir perang apalagi penderitaan. Humornya meluap-luap, meskipun gelap dan menyayat-nyayat. Ia juga tak semata-mata menjadi saksi mata, tapi membawa dalam dirinya tradisi kesusastraan dari mana-mana. Dalam cerpen “The Corpse Exhibition”, ia menceritakan satu organisasi rahasia yang merekrut pembunuh yang harus membunuh manusia dengan penuh kreatifitas lalu memajangnya di ruang publik seolah sebagai karya seni. Tapi dengan gaya nyindir, bos organisasi ini berkata, “Kita bukan teroris dengan tujuan menjatuhkan korban sebanyak mungkin untuk mengintimidasi orang lain, atau pembunuh gila yang bekerja untuk uang. Kita juga bukan anggota Islamis fanatik atau agen rahasia …” Kita melihat humor gelap gaya Gogol dalam kisah-kisahnya, tapi juga dengan sikap iseng dan main-main ala Borges. Beberapa pengamat membandingkan gaya “visceral realism”-nya kepada Roberto Bolaño, yang saya rasa tak berlebihan. Dalam “The Killers and the Compass”, ia menceritakan seorang anak bernama Mahdi, yang di tengah kebrutalan zaman, diinisiasi oleh kakaknya untuk melihat satu pembunuhan. Dengan melihat sendiri seseorang mati dibunuh, Mahdi ditasbihkan sebagai, “Kini kau Tuhan.” Juga bisa dilihat gaya Kafka, sebagaimana kita bisa melihat pengaruh itu dalam cerpen-cerpen penulis Israel, Etgar Keret. “Setiap orang di pusat penerimaan pengungsi memiliki dua cerita – yang nyata dan yang untuk dicatat,” begitulah pembukaan cerpen “The Reality and the Record”. Tapi juga jangan dilupakan tradisi kesusastraan Arab dan Persia. Saya dongeng yang penuh pertanyaan sekaligus mengibur, misalnya dalam “A Thousand and One Kives” yang dari judulnya tentu saja mengingatkan kita pada dongeng-dongeng Syahrazad dalam Hikayat Seribu Satu Malam. Apa yang kita saksikan di Irak melalui televisi atau berita yang berseliweran, barangkali lebih brutal dan lebih tak masuk akal. Tapi dongeng tetaplah dongeng: ia mengirim kepada kita perih, tapi sekaligus memberi kita penghiburan. Dongeng barangkali mengguncang keyakinan kita, tapi dengan tulus mengulurkan tangan memberi kita pegangan. Cerpen-cerpen Hassan Blasim, meskipun secara nyata berdiri di atas puing-puing kekacauan bangsanya, memberi sejenis hiburan semacam itu, sekaligus semacam tantangan intelek. Kita sadar, kadang-kadang seorang jenius memang bisa dilahirkan dari mana saja, bahkan dari tempat-tempat yang kita pikir nyaris mustahil.

Standard
Journal

Takashi Hiraide, Andrés Neuman, Sjón

Saya sadar, terus-terusan membaca karya klasik nan tua, meskipun saya menikmatinya, lama-kelamaan juga membosankan. Karya-karya itu, demikian tuanya, kadang-kadang tak ada hubungan apa-apa lagi dengan kehidupan kita sekarang. Tapi tentu saja, banyak di antara karya-karya itu masih asyik dinikmati. Dan jika mau mencari-cari pelajaran moral, mereka mengajarkan banyak hal. Hal paling waras, tentu saja menyelingi bacaan klasik tersebut dengan karya-karya baru. Karya-karya penulis yang masih hidup, beberapa di antaranya bahkan seumuran dengan saya. Buku pertama, The Guest Cat karya Takashi Hiraide, yang memang saya incar bahkan sejak buku itu masih “rencana terbit”. Pertama, saya selalu penasaran dengan penulis Jepang. Kedua, ini tentang kucing. Saya selalu senang membaca novel bagus tentang manusia dan binatang. Komentar saya? Manusia memiliki banyak bahasa untuk menjelaskan hubungan mereka dengan binatang: memelihara, melindungi, bahkan memiliki, atau kadang sekadar berteman. Lihat sepasang tokoh utama di novel ini: awalnya mereka menyebut Chibi (si kucing tetangga) sebagai “tamu”. Tapi di akhir cerita, kita tahu, Chibi bukan lagi sebagai tamu. Meskipun bagi Chibi, yang tak mengenali teriroti manusia (kecuali teritori binatangnya), gagasan tentang tamu atau tuan rumah itu sudah jelas pasti absurd (dan kontrasnya semakin menarik dengan kerumitan status si pemilik rumah, yang menyewa dan harus berpindah rumah). Menarik bahwa novel ini, selain menceritakan hubungan mereka dengan Chibi yang berubah bersama waktu, juga mencoba menjelaskan perilaku mereka (kucing, manusia dan kucing-manusia) dalam bentuk sejenis esai ringan yang terselip di sana-sini. Takashi Hiraide aslinya seorang penyair. Saya belum membaca puisinya, tapi yakin ia penyair yang hebat, sebab hanya penyair yang bagus bisa menulis novel seperti ini. Novel berikutnya adalah Talking to Ourselves, karya Andrés Neuman. Saya pernah membaca novel Neuman sebelumnya, Traveller of the Century, yang saya anggap sebagai novel terbaik yang saya baca tahun lalu. Kali ini ia muncul dengan novel yang lebih sederhana, lebih tipis, dengan hanya tiga tokoh yang berbicara bergantian dengan cara seperti Faulkner dalam As I Lay Dying. Seperti novel sebelumnya, ini novel gagasan. Neuman (ia lebih muda dari saya, lahir 1977), saya kira merupakan master dalam novel mengenai gagasan. Kelebihannya adalah, ia mampu meramu novel tentang gagasan dengan banalitas secara kontras, sehingga novel itu tak melulu merupakan perdebatan mengenai gagasan-gagasan (dalam hal ini, ia mengadu dan mempertemukan banyak gagasan penulis mengenai rasa sakit, dari Virginia Wolf hingga Roberto Bolaño, dari Kenzaburō Ōe hingga Javier Marías), tapi juga mengenai usia tua dan tubuh yang memburuk serta dorongan seksual yang malah membara. Meskipun tipis, seperti pendahulunya, saya beranggapan novel ini hanya diperuntukan untuk pembaca yang sabar. Novel ini diterbitkan oleh Pushkin Press, satu penerbit Inggris yang sedang merajalela dengan terjemahan-terjemahan sastra kelas satu dari berbagai tempat. Buku berikutnya berjudul The Whispering Muse, karya Sjón. Siapa Sjón? Jika melacak di internet, ia lebih banyak dihubung-hubungkan dengan Björk, karena ia banyak menulis lirik lagu untuk penyanyi tersebut. Tapi sebenarnya ia, selain penyair, juga novelis ngetop di negaranya, Islandia. Novel ini berkisah tentang Valdimar Haraldsson, seorang penulis jurnal (ya, jurnal dalam pengertian jurnal ilmiah, tapi isinya ia tulis sendiri di setiap edisi) mengenai “ikan dan kebudayaan”. Intinya, itu jurnal mengenai pengaruh konsumsi ikan atas superioritas ras Nordic. Gara-gara jurnalnya ini, ia direkomendasikan seorang temannya untuk mengikuti pelayaran kapal dagang milik ayah si teman. Di kapal, ia bertemu seorang pendongeng. Sepanjang novel, selain menceritakan pengalaman berlayarnya, perjalanan itu juga menjadi bingkai bagi dongeng-dongeng yang didengarnya di atas kapal. Sekilas, juga mengingatkan pada tujuh petualangan ajaib Sinbad sang pelaut. Dengan kata lain, ini dongeng versi modern (settingnya selepas Perang Dunia). Dan tentu saja si penulis juga memberi kontribusi di kapal itu: memberi ceramah mengenai ikan dan kebudayaan. Intinya, menurut si tokoh, kehidupan manusia berasal dari laut. Dan secara biologi, termasuk susunan gigi manusia, dirancang untuk mengkonsumsi nutrisi dari laut. Secara pribadi, karena saya suka seafood, saya setuju. Saya jadi ingat, sewaktu kecil ibu saya selalu berkata, makan ikan agar pintar. Sampai sekarang, jika disuruh memilih dari berbagai macam makanan, saya akan menengok ke ikan. Tapi pertanyaan seriusnya, di negara kepulauan yang dikepung laut ini, benarkah laut atau ikan menjadi sumber pengaruh kebudayaan kita yang terbesar. Anehnya, saya sangsi. Indonesia merupakan negara yang dikepung laut tapi tak banyak memberi kontribusi terhadap kebudayaan ikan. Lihat saja menu makan kita. Berapa banyak variasi jenis makanan kita yang berasal dari ikan atau laut? Ikan hanya digoreng dan dibakar, atau dipepes. Menyedihkan, bukan? Saya rasa novel ini bisa dibaca sebagai ejekan untuk kita. Itu jika Anda sudi mengejek diri sendiri.

Standard
Journal

Traveller of the Century, Andrés Neuman

“Bahkan sebuah puisi orisinal tak memiliki tafsir tunggal, membaca puisi juga berarti menerjemahkannya, kita tak akan pernah benar-benar yakin apa yang dikatakan sebuah puisi bahkan dalam bahasa kita,” demikian satu kutipan di novel Traveller of the Century, karya Andrés Neuman. Ini novel tentang puisi dan terjemahan? Ya, tapi tak hanya itu. Ini novel tentang sejarah Eropa, tentang pergulatan filsafat, tentang puisi dan terjemahan, tentang perjalanan, tentang rumah dan tentang kota dan negara asing, dan juga tentang asmara (lebih tepatnya tentang petualangan sinting bercinta dengan calon bini orang, di hari-hari menjelang pernikahannya). Kita lihat kutipan lainnya, saya ambil acak dari halaman yang jauh dari kutipan sebelumnya: “Semakin banyak persamaan mereka temukan di antara cinta dan penerjemahan, di antara memahami seseorang dan menerjemahkan sebuah teks, di antara membacakan sebuah puisi dalam bahasa yang berbeda dan meletakkan dalam kata-kata apa yang sedang dirasakan orang lain …” Saya bisa bilang ini novel yang sangat ambisius. Tak hanya dalam jumlah halaman (578 halaman), tapi juga luasnya persoalan yang dikemukakan dengan tokoh yang hanya segelintir (Hans si pejalan, dan dua kelompok teman-temannya, serta Sophie). Tahun ini segera akan berakhir. Saya sedang mencoba menengok kembali ke belakang: sudah setahun saya menulis jurnal di blog ini. Sedikit banyak saya bersetia kepada janji saya, untuk lebih banyak membaca penulis-penulis kontemporer. Istilah “penulis kontemporer” ini barangkali dilematis, tapi saya membuat acuan sederhana saja: penulis-penulis (dunia) yang lahir di tahun 50an. Kalaupun mundur, lahir tahun 40an. Jika ada yang lahir tahun 60an, tentu akan saya tengok. Jumlahnya saya kira belum terlalu banyak. Lahir 70an? Saya akan gembira sekali jika menemukan penulis dari generasi saya, dan saya memang menemukannya. Salah satunya penulis Argentina bernama Andrés Neuman (ia lahir 1977, sialan sekali!). Roberto Bolaño memujinya sebagai, “Kesusastraan abad dua puluh satu akan menjadi milik Neuman dan beberapa saudara sedarahnya.” Saya tak ingin merasa minder, tapi mengukur dimana posisi kita dalam jagat kesusastraan saya rasa bisa ambil cara gampang: bandingkan karyamu dengan karya penulis segenerasi dari tempat lain. Dan bagi saya, itu berarti membaca Traveller of the Century. Menghadapi penulis yang bahkan dua tahun lebih muda, saya merasa menghadapi seorang penulis yang ditakdirkan akan menjadi penulis besar. Saya ingin sedikit memberi bocoran mengenai novel ini, yang saya pikir merupakan salah satu kehebatannya, salah satu hal paling sulit untuk dicontek oleh penulis lain. Bisa dibilang, novel ini hampir sepenuhnya dibentuk oleh dialog. Ada dua kelompok teman-teman Hans tempat ia ngobrol. Pertama, ia ngobrol dengan kelompok si pemutar organ. Mereka bicara tentang musik, tentang menjadi terasing, tentang tinggal di rumah. Dilihat dari sudut pandang si pemutar organ yang sederhana, pembicaraan mereka biasanya bersifat naif, tanpa referensi apa pun. Kelompok ngobrol kedua, yang lebih serius dan menjadi tulang pungung novel ini, adalah kelompok kaum “intelektual” kota kecil tempat Hans singgah, yang sering berkumpul di rumah Sophie. Mereka berdebat tentang Schiller dan Goethe, tentang penyerbuan Napoleon, tentang perbedaan karakter orang Spanyol, Jerman, Prancis dan Inggris, juga tentang sastra dan politik, serta agama. Isinya tentang ngobrol doang? Ya. Akan sangat membosankan untuk pembaca yang gemar novel-novel aksi. Tapi bagi saya novel ini berhasil membuat saya tak merasa bosan, dan mengikuti baris-barisnya, dan tanpa sadar telah melampaui ratusan halaman, disebabkan hal sederhana yang merupakan resep tua para pendongeng: Neuman berhasil menahan rasa ingin tahu saya, dan terus memberi misteri-misteri baru, di tengah perdebatan serius tersebut. Bagaimana nasib percintaan Hans dan Sophie, yang “tak patut” itu? Bagaimana nasib asmara Elsa, si babu, dengan teman nonanya? Apakah Hans si pejalan akan meninggalkan kota itu? Siapa lelaki misterius yang membunuh perempuan di tengah malam? Bagaimana nasib Lisa, anak pemilik losmen, yang minta belajar menulis? Saya selalu percaya, tentang apa pun, sebuah novel bisa sangat tidak membosankan. Asal tahu caranya. Novel ini sedikit banyak mengajari saya hal itu. Bisa saya akui, ia penulis yang paling bikin saya iri sepanjang tahun ini. Masih ada beberapa hari tersisa. Masih ada beberapa novel dan penulis kontemporer yang ingin saya baca sebelum liburan akhir tahun datang (akan tanpa komputer dan buku), sebab saya punya janji lain untuk tahun depan, tahun kedua saya “belajar” sastra: lebih banyak membaca karya-karya klasik. Karya-karya dari abad sembilan belas ke belakang. Saya belum akan mengucapkan selamat tahun baru, tapi saya yakin, setahun ini saya memiliki pengalaman membaca yang menyenangkan. Dipuncaki oleh Andrés Neuman dan Traveller of the Century.

Standard
Journal

Apa Sih, yang Dilakukan Para Penulis Hebat?

Saya kadang-kadang bertanya seperti itu. Apa sih, yang membuat mereka hebat? Apa yang bisa kita lakukan jika ingin seperti mereka? Saya tak memiliki kesempatan untuk bertanya kepada para penulis hebat favorit saya: Hamsun, Gogol, Melville, Kawabata, Borges, dan lain-lain. Bahkan sekiranya mereka masih hidup dan saya berkesempatan bertanya, saya mungkin terlalu jengah untuk bertanya. Jadi apa yang bisa saya lakukan hanyalah sedikit menduga-duga, ya, dengan cara mencari tahu apa yang mereka lakukan dalam hidupnya. Tentu saja selain menulis karya-karya hebat itu. Pertama, tentu saja karena mereka banyak membaca. Mereka pembaca-pembaca kelas berat. Tengok Borges: saya curiga ia membaca hampir semua buku di perpustakaan tempatnya bekerja, hingga di masa tua matanya nyaris buta. Yang jelas, ia membaca karya-karya klasik Inggris. Sebenarnya tak cuma Inggris. Jika kita membaca cerpen-cerpennya, kita tahu ia membaca sastra dari mana-mana. Salah satu buku favoritnya adalah Alf Layla wa Layla, atau kita mengenalnya sebagai Hikayat Seribu Satu Malam. Atau coba baca wawancara beberapa penulis di The Paris Review. Saya sering terbengong-bengong melihat luasnya bacaan mereka. Atau baca buku kumpulan esai Roberto Bolaño, Between Parenthesis, ia membaca tak hanya sesama penulis (berbahasa) Spanyol, tapi juga membaca Cormac McCarthy, misalnya. Berapa banyak buku yang sudah kamu baca? Klasik dan kontemporer? Tak hanya dari kesusastraan negerimu sendiri? Jika ingin sehebat Borges atau yang lainnya, saya rasa kamu harus membaca segila mereka. Kedua, menerjemahkan. Menerjemahkan, tak hanya membuat pengetahuanmu atas bahasa lain bertambah, tapi sekaligus mengajarimu menulis secara langsung dari penulis yang kamu terjemahkan. Kamu mengikuti jejak sang penulis, kata per kata, kalimat per kalimat, dengan bahasamu sendiri. Pada saat yang sama, kamu tengah mengasah kemampuan menulismu, ya, dalam bahasa yang kamu pergunakan. Murakami merupakan seorang penerjemah yang tekun. Ia menerjemahkan novel Raymond Chandler ke Bahasa Jepang, salah satunya. Juga menerjemahkan novel The Great Gatsby karya F. Scott Fitzgerald. César Aira, yang novel-novelnya belakangan saya gemari, juga seorang penerjemah (sampai satu titik, bisa dibilang profesinya). Kembali ke Borges: novela Metamorfosa Kafka yang dibaca pertama kali oleh García Márquez merupakan edisi Spanyol yang diterjemahkan oleh Borges. Tak usah jauh-jauh, novelis terbaik kita, Pramoedya Ananta Toer, juga menerjemahkan banyak karya penulis luar: Steinbeck, Tolstoy, Saroyan. Ketiga, tak hanya menulis cerita, novel atau puisi, tapi tulis juga pandangan-pandanganmu tentang penulis lain, karya lain, dan kesusastraan secara umum. Sampai saat ini, salah satu esai terbaik tentang teknik menulis dua raksasa sastra Amerika saya temukan di esai pendek Gabriel García Márquez berjudul “Gabriel García Márquez Berjumpa dengan Ernest Hemingway”. Di esai itu, ia menulis tentang Hemingway dan Faulkner, dan bagaimana kedua raksasa itu berbeda secara teknik. Ngomong-ngomong soal García Márquez, jangan lupakan buku ulasan serius Mario Vargas Llosa mengenai novel Cién Anos de Soledad. Vargas Llosa juga menulis buku serius mengenai Madame Bovary dan Gustave Flaubert (Perpetual Orgy: Flaubert and Madame Bovary). Mau contoh yang lain? Michel Houellebecq menulis biografi kritis mengenai penulis cult Amerika, H.P. Lovecraft. Saya rasa, menulis esai tentang penulis dan karyanya membantu kita untuk belajar menganalisa, belajar melihat sudut-sudut pandang yang berbeda, dan dengan tanpa sadar, kita menciptakan cara berpikir sendiri, dan sudut pandang yang barangkali unik. Keempat, yang ini tak perlu dijelaskan panjang-lebar: terus menulis. Anda bisa menambahkan beberapa hal lain, yang boleh ditiru atau tidak: maraton (Murakami), mabuk (Faulkner), berburu (Hemingway), dan lain-lain. Jadi jika ada yang bertanya kepada saya bagaimana caranya menjadi penulis hebat, barangkali saya akan menjawab terutama empat perkara di atas. Jujur saja, itu bukan jaminan juga. Saya hanya berusaha menjawab dengan belajar dari penulis-penulis ini. Tapi setidaknya, mencoba melakukan apa yang mereka lakukan, saya rasa bukanlah hal buruk. Juga bukan kejahatan. Itu hal-hal baik yang layah dicoba. Setidaknya, belajar dari mereka, saya tahu bukanlah hal mudah untuk menjadi penulis yang baik, apalagi penulis yang hebat. Sebagaimana bukan hal yang mudah mengalahkan Usain Bolt dalam adu cepat lari di lintasan seratus meter.

Standard
Journal

Sonora dan Impala

Saya menonton film 2 Guns karena yang main Mark Wahlberg dan Danzel Washington, tapi yang kemudian saya ingat adalah lokasi cerita, sebuah tempat di perbatasan Meksiko-Amerika bernama Sonora, dan mobil yang dipakai oleh para bajingan narkoba: Impala. Sambil nyengir saya berpikir, si penulis skenario (atau dari penulis novel grafisnya), mungkin membaca The Savage Detectives Roberto Bolaño. Sonora dan Impala, itu juga salah satu yang saya ingat dari novel tersebut. Beberapa waktu sebelumnya, saya menonton film lain, tentang gerombolan tukang sulap yang mempergunakan keahlian mereka untuk merampok bank (Now You See Me). Di salah satu adegan, salah satu tukang sulap tiduran di sofa sambil membaca novel tebal. Yah, The Savage Detectives, tentu saja. Saya pikir, keren amat tukang sulap jalanan ini bacaannya novel semacam itu. Apa pun, Roberto Bolaño tampaknya sudah menyerbu Hollywood, dengan satu atau lain cara. Tiba-tiba Sonora menjadi seksi, dan mobil Impala yang sudah tua itu seliweran di jalan. Pagi ini saya terbangun dan menemukan beberapa buku bergeletakkan di samping saya, berbagi ranjang. Di antaranya buku Bolaño, saya masih punya dua yang belum saya baca. Buku-buku tipis yang seharusnya saya selesaikan dalam satu atau dua hari. Di sekitar mereka ada buku-buku lain, empat novel karya César Aira. Saya pernah membaca satu novel Aira, yang berjudul How I Became a Nun, novel sinting betokoh aku yang di akhir cerita si tokoh mati (mati untuk menceritakan kisah ini?), novel sinting yang dengan seenaknya mengaburkan kelamin si tokoh aku (saya tetap tak terlalu yakin ia lelaki atau perempuan, meskipun sampulnya bergambar anak perempuan), dan novel sinting yang menceritakan bagaimana seseorang menjadi suster, tapi di akhir cerita tak pernah diceritakan sedikit pun kapan ia menjadi suster (kan mati?). Manusia Argentina ini sudah jelas harus dibaca, itulah kenapa saya meletakkan buku-bukunya di ranjang. Di mana lagi tempat paling intim selain ranjang? Seperti Bolaño, saya yakin tak lama lagi ia akan menjadi bagian dari kebudayaan Hollywood. Seseorang di film akan muncul menenteng atau membaca salah satu novelnya. Mungkin The Hare, mungkin Ghosts, atau The Literary Conference. Yang mana pun, asal membuat tokoh di film terlihat keren, tak peduli ia mahasiswa sastra atau sekadar bajingan atau polisi korup yang membaca sambil makan donat. Yah, kira-kira seperti Love in the Time of Cholera Márquez nongol di film Serendipity, begitu lah. Saya tak nyinyir soal ini. Sebaliknya saya senang. Saya senang duduk di kegelapan bioskop dan melihat sesosok karakter, sosok fiktif, berbagi bacaan dengan saya. Meskipun mereka tak menceritakan apa pun tentang buku yang mereka pegang, mengetahui seseorang (betapa pun fiktifnya) berbagai bacaan dengan kita, serasa kita tengah berbincang mengenainya. Ini seperti kita menonton film dan tokohnya mampir ke tempat yang sama pernah kita kunjungi. Meskipun kita tak berada di sana bersamaan, tapi tiba-tiba kita merasa tidak sendirian. Jauh lebih luas: kita tak merasa sendirian di dunia ini. Mungkin ini agak berlebihan. Tapi ketika saya membaca The Savage Detectives (haruskah saya rekomendasikan? Itu salah satu novel terbaik di dunia ini, novel terbaik di pergantian milenium ini), saya tak tahu apa-apa tentang Sonora (gurun pasir ini muncul di beberapa novel Bolaño lainnya, yang saya ingat di mahakaryanya yang lain, 2666), juga tak pernah melihat mobil Impala. Tentu saja banyak hal yang belum pernah saya ketahui atau lihat. Saya senang bisa mengenal Sonora dan Impala, melalui sebuah novel. Tentu saja akan aneh jika setelah membaca novel itu, saya pergi menemui seorang teman dan bilang, “Eh, ada lho tempat bernama Sonora, dan ada mobil bernama Impala.” Untuk hal-hal demikian, percayalah, saya lebih sering diam saja. Saya bisa bercerita atau berpendapat tentang novel itu, tentang teknik menulis pengarangnya, tapi kecil kemungkinan nyelutuk tentang Sonora dan Impala. Saya lebih sering diam, menyimpannya untuk diri sendiri. Tapi hal itu bisa berubah: satu malam, saya berada di bioskop dan filmnya mengajak saya ke Sonora dan memperlihatkan kepada saya seperti apa mobil Impala. Tiba-tiba saya merasa punya teman. Saya merasa tidak sendirian. Saya merasa bertemu seseorang yang membicarakan hal yang sebelumnya saya simpan untuk diri sendiri. Saya pikir, itulah salah satu hal hebat yang saya ketahui dari berbagi bacaan. Apa pun yang kita baca. Bahwa, sekali lagi, kita tak sendirian.

Standard
Journal

Pesan Moral

Sekali waktu saya jadi pembicara di hadapan guru-guru dan murid-murid sekolah menengah. Seorang guru bertanya, kenapa banyak karya sastra (saya yakin, maksudnya termasuk dua novel saya) “tidak mendidik”? Jawaban saya sederhana, dan saya rasa didorong emosi seorang anak muda, “Saya bukan guru, kenapa saya harus mendidik?” Tapi bertahun-tahun kemudian, saya toh masih sering jengkel oleh pertanyaan semacam itu. Banyak guru, banyak orang tua, berpikir novel semestinya mendidik dan (ah!) bermoral. Baiklah, mungkin sebenarnya saya setuju. Yang barangkali menjadi ganjalan adalah, saya (mungkin juga kebanyakan penulis) punya pikiran yang berbeda tentang “mendidik”, juga memiliki ukuran yang berbeda tentang “moral”. Setiap usaha untuk menyamaratakannya akan berakhir menjadi keadaan menjengkelkan. Lebih buruk dari itu, barangkali akan berakibat sensor dan tirani. Kenyataannya, bukan hanya guru dan orang tua berpikir demikian. Diam-diam para penulis dan kaum intelektual juga mengamininya. Lihat saja penghargaan-penghargaan sastra. Saya malas menyebutkannya satu per satu. Itu hanya akan memancing orang berkomentar, barangkali saya terkena sindrom pecundang. Lagipula saya tak suka menjelek-jelekkan penulis atau karya orang lain: karya yang memang jelek tak hanya tak layak dikomentari atau dijelek-jelekkan, sebaiknya memang tak perlu dibaca sama sekali. Itu hanya menambah-nambah kejengkelan saja. Tapi mari kita teruskan saja perbincangan ini. Lihat perhargaan-perhargaan sastra. Seberapa sering sebuah karya memperoleh penghargaan karena berbicara tentang sesuatu. Jujur saya jengkel soal ini. Bagi saya, tendensi menilai karya sastra lebih berat kepada muatannya sama mengerikannya dengan tendensi tuntutan moral. Karya ini menang karena kontekstual dengan isu kita hari ini. Pfuh! Karya ini menang karena mengajarkan bagaimana sikap seorang anak terhadap orang tua. Pfuh! Karya ini menang karena berpihak kepada orang-orang yang tertindas. Pfuh! Saya tak bilang itu tak penting. Seorang penulis harus punya sikap. Bahkan saya percaya, seorang penulis harus memiliki pilihan politik, ideologi, estetik, dan lain sebagainya. Tapi menjadikan pilihan seorang penulis sebagai lebih baik daripada pilihan penulis lain bagi saya terdengar seperti omong kosong. Menjadikan novel atau karya sastra semata-mata tunggangan pesan, hanya akan menjadikannya angkutan umum. Kejar setoran. Yang penting pesan sampai dengan selamat kepada pembaca. Dunia sastra kita akan dipenuhi penulis-penulis yang bertabiat ugal-ugalan seperti sopir angkutan umum di Jakarta. Dan mereka akan bangga dengan ini. Bangga telah menjadi penulis berpihak, tak peduli caranya menulis menyedihkan. Mungkin seperti kata Lenin (saya kutip semena-mena): “Penyakit kiri kekanak-kanakan.” Bangga telah menjejali novel dengan pesan-pesan moral, tapi lupa bagaimana menulis yang benar (belum lagi sampai tahap mengasyikan). Tapi ah, kenapa saya harus jengkel? Saya bukan guru yang harus mendidik orang bagaimana bersikap, sebagaimana tak perlu mendidik para penulis dan kaum intelektual. Mereka sudah cukup pintar untuk melihat kebodohan-kebodohan di dalam diri sendiri. Barangkali problem utamanya bukan ini, tapi kebutuhan saya untuk mengunjungi psikiater. Untuk meredakan ketegangan-ketagangan estetik, kejengkelan-kejengkelan yang tak perlu. Beberapa miligram obat pengendali mood mungkin baik buat saya, sehingga saya tak terlalu terganggu oleh apa pun yang terjadi di dunia kesusastraan. Seperti kata Roberto Bolaño, kita para penulis (yang baik, dan saya harap saya bisa menjadi bagiannya, bahkan meskipun saya penulis yang buruk, saya akan mengikuti sarannya), tak memerlukan siapa pun untuk bernyanyi bertepuk tangan atas karya-karya kita. Kenapa? Karena kita sudah dan akan melakukannya sendiri. Kita akan bernyanyi dan bertepuk tangan untuk karya-karya kita sendiri. Dan saya mesti mengingatkan diri sendiri, satu-satunya ukuran yang perlu diperhatikan adalah ukuran-ukuran yang telah ditancapkan oleh diri sendiri. Jika ingin menulis karya bermoral, tulislah. Jika ingin menulis karya tak bemoral, tulislah. Yang akan membuat saya membaca novel itu, pertama-tama bagaimana ia dituliskan. Menarik atau tidak? Mengasyikan atau tidak? Kalau sekadar ingin bilang “para bayi butuh minum ASI hingga 6 bulan” cukup tuliskan dalam satu baris kalimat, tak perlu satu novel.

Standard
Journal

Dimana Individu?

Seperti saya tulis akhir tahun lalu di jurnal ini, sepanjang tahun ini saya ingin membaca lebih banyak penulis “muda”. Muda dalam hal ini ialah lahir sekitar tahun 1950 atau lebih muda lagi. Saya telah membaca beberapa penulis hebat dari generasi ini. Lupakan Roberto Bolaño, semua orang hampir mengenalnya sekarang, dan tengok nama-nama lainnya: César Aira (Argentina, novelnya How I Became a Nun benar-benar ejekan untuk tradisi novel yang terlalu kaku menempatkan narator); Enrique Vila-Matas (Spanyol, saya baru membaca dua dari beberapa novelnya, Dublinesque dan Bartleby & Co.); Michel Houellebecq (Prancis kembali menempatkan salah satu penulisnya di radar kesusastraan dunia, saya sangat menikmati The Map and the Territory dan Atomised); dan jangan lupa László Krasznahorkai (Hungaria, bagi yang tak tahan membaca cara menulis Jose Saramago, kemungkinan besar tak akan berhasil membaca novelnya Satantango). Itu hanya beberapa nama saja. Sementara saya menikmati novel-novel yang dihasilkan generasi ini, di sisi lain saya mulai merasakan sesuatu yang “hilang”. Apa itu? Dengan mudah saya bisa menemukan apa yang hilang dari novel-novel kontemporer ini: individu. Tentu saja itu tak membuat novel-novel ini menjadi buruk atau gagal, bagi saya ini hanyalah merupakan kecenderungan dari satu generasi, satu zaman. Sebenarnya tanda-tanda menghilangnya individu dari novel-novel “besar” ini saya rasakan telah dimulai sejak generasi setelah Perang Dunia II. Seperti kita tahu, pengagungan terhadap individu merupakan sesuatu yang sangat kuat di novel-novel modern, sebab pengagungan individu merupakan anak sah dari modernisme ini, dan bagi saya itu sangat terasa sejak kemunculan novel modern: Don Quixote. Membaca novel ini mau tak mau kita “membaca” sosok sang ksatria. Demikian juga ketika kita membaca Moby Dick (novel terbesar yang berhasilkan oleh Amerika, dan rasanya mereka tak pernah menghasilkan yang seperti ini lagi setelah itu), kita membaca mengenai Ishmael dan Kapten Ahab. The Idiot Dostoevsky? Kita membaca Pangeran Mishkin. Anna Karenina? Tentu saja itu tentang Anna Karenina (dan sosok-sosok lainnya, tentu). Novel-novel modern berputar di sosok-sosok individu dan nasibnya. Tapi modernisme memang tak hanya mengagungkan individu, di sisi lain, modernisme juga bisa dianggap bertanggung jawab atas lahirnya kolonialisme, yang secara umum berakhir setelah Perang Dunia II. Analisa saya mungkin salah, mungkin terlalu sembrono, tapi saya merasa para penulis dari negara-negara koloni ini (yang kemudian melahirkan kesusastraan pascakolonial, dan di negara Dunia Pertama barangkali melahirkan posmodern), mulai mengikis individu di novel-novel mereka. Demikianlah ketika kita membaca Bumi Manusia, saya merasa Minke di sana bukan Minke, tapi Jawa/negeri jajahan. Demikian juga Saleem Sinai di Midnight’s Children adalah India. Keluarga Buendia? Mereka bukan hanya Kolombia, tapi dianggap sebagai Amerika Latin. Individu di novel-novel pascakolonial tak lagi sekadar mewakili dirinya, ia lebih merupakan metafor generasi, bangsa, atau kaumnya. Sekali lagi itu mungkin kecenderungan. Beberapa mungkin sadar melakukannya, beberapa yang lain mungkin tidak sadar. Tentu butuh penelitian yang lebih seksama, dan menyeluruh, untuk mengamati perkembangan ini. Dan tentu saja perubahan ini, saya yakin, tidak bisa serempak. Masih banyak novel-novel berwawasan modern di abad kedua puluh satu, sebagaimana pasti ada cikal-bakal novel posmodern di abad kesembilan belas atau dua puluh. Kini kembali ke sastra kontemporer, ditulis oleh sebagian besar penulis yang sama sekali tak mengalami trauma kolonialisme. Penulis-penulis yang saya sebut di atas, bisa dibilang merupakan anak kandung globalisasi. Bahkan bisa dibilang generasi internet. Jika individu semakin menghilang di novel-novel mereka, bisa jadi itu merupakan perkembangan lebih lanjut dari era pascakolonial ini. Di novel-novel Vila-Matas, misalnya, individu hanyalah antek-antek untuk menyampaikan gagasan. Mereka menjadi semen dan batubata untuk sebuah bangunan. Jika di kesusastraan pascakolonial bangsa dan identitas merupakan perkara yang penting, di novel-novel kontemporer ini, arsitektur gagasan terasa seperti sesuatu yang mahautama. Sekali lagi, mungkin itu perasaan saya. Saya mungkin harus membaca lebih banyak lagi generasi ini, meskipun diam-diam, kerinduan saya pada individu membuat saya ingin menengok kembali Moby Dick dan cerpen-cerpen Gogol sebagai selingan yang pasti menyenangkan. Dan seperti apa novel-novel di masa mendatang? Itu akan berada di tangan Anda semua, penulis-penulis masa kini.

Standard
Journal

Gerombolan

Salah satu binatang yang senang bergerombol adalah serigala. Paling tidak, itulah yang sedikit saya ketahui. Saya bukan ahli serigala. Saya membaca sedikit mengenai serigala melalui novel Wolf Totem karya Jiang Rong. Itu novel yang bagus, saya pikir salah satu novel terbaik yang datang dari China dalam sepuluh tahun terakhir ini. Tapi saya tak hendak membicarakan novel itu, saya ingin bicara tentang gerombolan. Seperti serigala, ada orang-orang yang senang hidup dalam gerombolan. Tengok para preman yang pawai dengan motor, membawa parang dan membuat keributan. Mereka bergerombol. Mereka tak bisa hidup sendirian. Menyedihkan memang. Pemimpinnya, mereka menyebutnya alfa, tak berdaya tanpa pengikut. Para pengikutnya, hanya kerumunan yang tak bisa memikirkan apa pun. Perilaku bergerombol mengelilingi alfa (disertai beta yang menyalak paling keras) tak hanya berlaku bagi serigala dan preman, tapi juga di kelompok masyarakat lain. Contohnya? Saya bisa bilang: seniman. Lebih khusus lagi, penulis. Dengan mudah kita bisa melihat ada penulis-penulis yang senang bergerombol. Menyerang ramai-ramai, menyalak ramai-ramai, menggonggong ramai-ramai. Seperti serigala, mereka juga punya alfa, sang big boss. Penulis alfa ini barangkali pendiri komunitas, barangkali seorang patron yang memiliki akses terhadap dana, barangkali penulis berkharisma yang kata-katanya seperti mantra yang harus didengar, atau barangkali bukan itu semua tapi berada di posisi itu karena ia memiliki sedikit kekuasaan yang menentukan hidup dan karir penulis lain (paling tidak seperti itulah yang akan dilihat oleh penulis dengan mental gerombolan). Kalau kita membaca novel Roberto Bolaño The Savage Detectives (salah satu novelnya yang terpenting!), kita akan melihat mental-mental penyair dan penulis gerombolan ini di sana. Mereka berkerumun di sebuah gerakan yang mereka sebut visceral realist. Itu bukan gerakan yang penting, hanya gerakan sekelompok penyair muda yang merasa diri mereka penting. Pendiri dan pemimpin gerombolan ini dua orang penyair bernama Ulises Lima dan Arturo Belano. Mereka bisa dibilang alfa gerombolan ini. Atau alfa dan beta. Tentu saja tidak seperti gerombolan preman, gerombolan penulis tak perlu memenuhi jalanan dengan beringas, meskipun mereka juga sering terlihat datang dan pergi bergerombol di acara-acara kesenian. Tapi seperti serigala, jika ada satu penyair menyalak, temannya akan ikut menyalak, tak penting tahu atau tidak yang sedang dihardik itu apa. Jika karya satu penulis diserang, temannya akan membela. Jika salah satu dari anggota gerombolan itu menulis buku, anggota gerombolan lainnya sibuk memuji, sampai kadang-kadang melampaui akal sehat. Jika penulis alfa mengatakan sesuatu, anggota gerombolan menyetujuinya, tak peduli apa pun itu. Tak peduli sang alfa sudah pikun atau tidak. Jika mereka membuat penghargaan, anggota gerombolan memenanginya. Jika mereka membuat acara, anggota gerombolan yang menjadi pengisinya. Jika serigala harus bergerombol untuk mempertahankan diri, untuk menjamin kelangsungan hidup mereka dari serangan musuh maupun kekurangan makanan, sebenarnya itu juga terjadi pada gerombolan penulis. Mereka juga butuh mempertahankan diri, dan tentu saja butuh makan. Tentu saja tak bisa dipungkiri, manusia konon memang makhluk sosial. Manusia harus hidup bersama yang lain. Ulises Lima dan Arturo Belano tahu itu. Mereka juga tahu, kekuatan kecil jika disatukan akan menghasilkan kekuatan besar. Itulah kenapa mereka bergerombol. Tapi ada orang-orang yang harus terus bergerombol, dan ada orang yang pada satu titik akan keluar dari gerombolannya. Ulises Lima dan Arturo Belano termasuk yang kedua. Seperti yang dikatakan Manuel Maples Arce, salah satu tokoh di novel ini tentang mereka: “Semua penyair, bahkan yang paling avant-garde, butuh seorang ayah. Tapi para penyair ini memutuskan menjadi anak yatim.” Jika kamu penulis yang lemah, sejenis penulis medioker, atau masih terlalu muda untuk bisa berdiri sendiri, masuklah ke gerombolan. Di sana kamu akan banyak yang membela, dan tentu memberimu makan. Sebab hanya sedikit orang, saya rasa, bisa menjadi seperti Ogami Ittō, tokoh di komik Lone Wolf and Cub Kazuo Koike. Hanya sedikit orang yang bisa keluar dari gerombolan, dan mengembara sendirian. Ia samurai yang menuntaskan pertarungan sendirian, ia samurai yang mencari makan dengan tangannya sendiri. Tanpa tuan, tanpa pengikut. Persis seperti namanya: Lone Wolf.

Standard
Journal

All The Pretty Horses, Cormac McCarthy

Setelah membaca The Road, saya memutuskan untuk membaca novel lain karya Cormac McCarthy. Kali ini saya melanjutkannya dengan All The Pretty Horses. Kadang-kadang, jika saya menemukan penulis baru dan saya menyukainya, antusiasme saya seperti anak kecil. Saya ingin melakukan maraton membaca semua, atau paling tidak beberapa karyanya berurutan. Penulis baru? Beberapa orang mungkin akan berkata, Kemana saja kamu selama ini baru membaca Cormac McCarthy? Baiklah, saya tidak kemana-mana. Ada ratusan atau bahkan ribuan penulis di dunia ini yang karyanya layak dibaca. Saya yakin banyak di antara mereka dengan mudah terlewatkan. Itulah hal menarik dari menyukai kesusastraan. Hal terbaik dari kegemaran membaca novel dan cerita pendek, serta puisi, bahkan esai. Hal yang sama barangkali tak jauh berbeda dengan membaca buku-buku filsafat (yang sering saya lakukan, juga untuk kesenangan). Jika umur kita cukup panjang pun, katakanlah seratus tahun, karya-karya terbaik dari penulis-penulis terbaik di dunia tak akan selesai kita lahap semua. Dengan cara itulah, dari tahun ke tahun kita akan menemukan penulis-penulis dan karya-karya baru, meskipun kenyataannya sudah lama. Kembali ke Cormac McCarthy, saya mengenalnya karena menonton film No Country for Old Men. Meskipun belum membaca novel itu, saya memutuskan untuk mulai membaca novelnya. Sekilas saja kita segera tahu, karya-karyanya banyak terpengaruh oleh tradisi kesusastraan western (untuk menyebut tradisi cerita koboi). Tak hanya penuh petualangan, tapi bahkan penuh adegan kekerasan, kebrutalan, dan kehidupan yang liar dan kasar. Dalam The Road, kita memang tak dihadapkan pada petualangan para koboi. Novel ini bercerita di waktu dunia (Amerika?) selepas “kiamat”. Dua orang ayah dan anak melakukan perjalanan sepanjang jalan, berbekal satu pistol dan kemudian satu peluru untuk melindungi diri, mencari pantai untuk memulai kehidupan baru. Bukan cerita koboi dengan kuda dan topi laken memang, tapi tema itu tak jauh berbeda dengan kisah para koboi yang menyeberangi dataran Amerika untuk mencari tambang emas, bukan? Di No Country for Old Men, kita menemukan polisi tua yang harus berhadapan dengan jaringan narkoba perbatasan Amerika-Meksiko. Si polisi, tentu saja memakai topi laken bergaya koboi. Hingga akhirnya saya menemukan koboi sungguhan di All the Pretty Horses. John Grady Cole (anak remaja yang bahkan belum selesai sekolah) merasa dirinya dilahirkan sebagai koboi, dilahirkan untuk hidup di hamparan padang rumput bersama ternak dan kuda. Ketika ia merasa tercerabut dari peternakan keluarganya, ditemani seorang teman dan seorang teman lagi yang ditemuinya di perjalanan, ia memutuskan untuk naik kuda dan menyeberang perbatasan. Saya penggemar film koboi (sebagaimana saya menyukai film-film wuxia), tapi bisa dibilang tak pernah membaca novel-novel koboi (saya masih bisa membaca novel-novel wuxia, yang banyak disadur ke dalam kesusastraan Indonesia). Baiklah, dalam karya McCarthy, kita memang tak menemukan koboi sebagaimana di film-film. Bahkan ia memindahkan tempat yang biasanya berada di barat ke selatan. Maka jangan heran, di kisah-kisah koboinya, kita juga menemukan aroma selatan sebagaimana bisa kita temui dalam karya-karya Faulkner. Ia mencampur petualangan, plot yang penuh kekerasan, dengan paparan mendalam tentang psikologi. Tentang mimpi, harapan, dan bahkan ketakutan. Dalam satu tinjauan tentang novelnya yang lain, Blood Meridian, Roberto Bolaño bahkan menyebut lanskap novel McCarthy sebagai lanskap (Marquis) de Sade: satu lanskap yang haus dan tak acuh yang dikendalikan oleh hukum aneh yang meliputi rasa sakit dan anestesia. Saya sudah lama tak membaca sastra Amerika. Setelah generasi emas Faulkner, Hemingway, Fitzgerald, dan kemudian Steinbeck, tak banyak lagi yang menjulang setinggi mereka. Tapi kini, satu nama saya pikir sangat perlu untuk diperhatikan: Cormac McCarthy.

Standard