Eka Kurniawan

Journal

Tag: Roberto Bolaño (page 1 of 3)

The Seven Madmen, Roberto Arlt

Makhluk-makhluk di novel ini tak hanya sekumpulan orang-orang gila, sampah masyarakat dan yang terabaikan, tapi juga sekaligus sebagai barang mainan dari dunia yang bengis. Buenos Aires bagi Roberto Arlt (seperti Jerusalem bagi Yesus, kata Roberto Bolaño), adalah padang gembalaan dengan domba-domba yang minta diselamatkan sekaligus sadar bahwa dunia hanya akan meluluh-lantakkan mereka, jika bukan dihancurkan oleh diri sendiri. Oleh ketololan dan kegilaan. Kesusastraan Argentina dari kejauhan, dari negeri tropis yang melenakan ini, seringkali berada di bawah bayang-bayang keglamoran Borges (juga Bioy Casares): intelek, penuh permainan, metafisis, dan tentu saja menyihir. Kehidupan yang berbaur dengan mitologi, sosok-sosok setengah filsuf, para gaucho yang beradu duel pisau, hingga teka-teki personal yang misterius. Tapi tidak, Kawan. Kesusastraan Argentina juga memperlihatkan sisi baliknya yang brengsek, gelap, kacau, dalam diri Roberto Arlt, yang hidup sezaman dengan Borges (meskipun lebih pendek). Brengsek bahkan dalam tingkatan yang paling menyedihkan: novel-novelnya dijejali dengan kesalahan tatabahasa dan logika yang ugal-ugalan (seperti disinggung Nick Caistor, penerjemahnya). Bagi para pemuja, ia jenius; bagi para pembenci, ia sampah. Dan seperti tokoh-tokohnya, Arlt merupakan yang terabaikan. Menggelandang ke sana-kemari, sesekali muncul kembali pengaruhnya dalam diri penulis belakangan. Cortazar atau Bolaño, bisa disebut. The Seven Madmen bisa dikatakan, sekali lagi, tentang orang-orang gila yang mencoba mengubah dunia. Atau lebih tepatnya, menghancurkan dunia yang telah menghancurkan mereka, yang telah melahirkan mereka dalam ketidakbahagiaan akut. Ketidakbahagiaan yang sudah bersemayam di dalam diri mereka, seperti dikatakan salah satu karakter, Hipólita. Pusat dari kegilaan ini barangkali terletak di diri Si Peramal, yang meyakinkan sekelompok orang gila lainnya untuk mendirikan kelompok rahasia dengan tujuan utama: melancarkan revolusi. Novel ini ditulis dan diterbitkan, persis beberapa tahun sebelum masa-masa yang penuh gejolak dalam politik Argentina, ketika tentara berkali-kali berusaha mengambil-alih kekuasaan, sebelum akhirnya berhasil dilakukan oleh Peron. Kejeniusan Arlt terletak bagaimana ia bisa menangkap seluruh keresahan itu, juga kegilaan, di zaman yang tak menentu. Rencana revolusi mereka barangkali merupakan rencana paling tolol yang pernah ada dalam sejarah revolusi, sebab mereka tak tahu persis apa dasar moral, dasar keyakinan, dari revolusi mereka. Si Peramal berkali-kali menyebut Lenin, juga Mussolini, juga bandit abad kesembilan belas bernama Abdala-Abn-Maimun, bahkan mengagumi organisasi Klu-Klux-Klan. Buat Si Peramal sebenarnya sederhana saja. Ia bisa menghasut kaum buruh dan merah dengan gagasan-gagasan revolusioner ala komunis, tapi menghadapi orang-orang religius, kita bisa mengumbar ayat-ayat kitab suci. Yang penting menggalang massa, yang penting membuat mereka senang. “Kebahagiaan manusia terletak dalam kebohongan metafisikal,” jika ada satu kutipan paling penting dari mulutnya, inilah kutipan itu, dan bisa jadi jika ada, inilah inti dasar revolusi yang diangan-angankannya. Dan kembali ia berkata melanjutkan sambil menerangkan si bandit Maimun yang dikaguminya: “Izinkan kukatakan bahwa pemimpin gerakan ini seorang sinis yang luar biasa, yang tak memercayai apa pun. Kita akan mengikuti contoh mereka. Kita akan menjadi Bolshevik, Katolik, fasis, ateis, militeris, tergantung tingkat inisiasi.” Bangsat betul, bukan? Ini dunia yang tidak dijejali pahlawan, tapi sekaligus tidak mengglorifikasi anti-pahlawan. Mereka bukan pahlawan juga bukan anti-pahlawan. Mereka hanya gembel-gembel yang penuh dengan ketulusan, impian, cinta kasih, sekaligus kesedihan, luka, kejahatan dan kedengkian. Gembel di luar dan gembel di dalam. Sebab, seperti kemudian dikatakan kembali oleh Si Peramal, semua manusia pada dasarnya gila, setidaknya di dalam pikiran. Yang membedakan satu dan yang lainnya: ada yang mengungkapkan pikiran-pikiran sintingnya, ada yang mendekamnya. Si tokoh utama (sebenarnya saya ragu mengatakan dia sebagai tokoh utama, mengingat kemunculan dirinya seringkali menjadi pengantar bagi kemunculan sosok-sosok lainnya di novel ini), Remo Erdosain bisa dibilang menyimpan kesintingannya rapat-rapat. Ia mencoba menghadapi hidup seolah semuanya baik-baik saja, padahal kita tahu, segala sesuatu di luar dirinya merupakan kekejian yang tak ada ampun untuk dirinya. Ia memandang dirinya sendiri sebagai penemu. Ia membayangkan banyak penemuan, dan bermimpi mewujudkan penemuannya serta menghasilkan uang. Tapi itu tak pernah terjadi. Uang tak pernah datang kepadanya dan penemuan-penemuan itu hanyalah gagasan-gagasan naif. Hidupnya berakhir menjadi tukang tagih, yang dengan sedikit kecerdikannya, bisa mencuri uang dari tuannya, yang belakangan menjadi masalah besar yang membuatnya terbenam jauh ke dalam lumpur dunia. Persoalannya tak hanya itu: ia menikahi seorang perempuan, yang tak hanya tidak pernah diciumnya, tapi juga tak pernah berani disetubuhinya. Ketika ia akhirnya mencoba menjamah isterinya, si isteri menolak, dan itu memaksanya untuk menghabiskan perkawinan mereka dalam masturbasi. Hingga satu hari, ia melihat isterinya pergi dengan lelaki lain. Ke mana-mana ia membawa pistol di saku celananya, dan memang pantas sekali jika ia punya pikiran untuk menembak kepalanya. Hanya satu pelor, logam kecil, dan segala ketidakadilan dunia dan ketidakbahagiaannya akan berakhir. Tapi makhluk-makhluk brengsek Buenos Aires ini dilahirkan untuk melata lebih lama, bahkan meskipun mereka tak sanggup sekadar menertawakan nasib, dan malahan berpikir untuk meluluh-lantakkan dunia untuk menatanya kembali. Arlt membawa mereka pada akhir yang jenius, juga menyedihkan sebenarnya. Memikirkan semua rencana revolusi itu, mereka terhenyak ketika seorang tentara berkata: “Organisasi kaum buruh bereaksi dan mengumumkan pemogokan; kata-kata ‘revolusi’ dan ‘Bolshevisme’ akan menyebarkan ketakutan sekaligus harapan. Kemudian, ketika serangkaian bom telah melanda seluruh kota, ketika semua selebaran sudah dibaca, dan agitasi revolusi sudah mencapai puncaknya, itulah waktu ketika kami orang militer mengambil alih …” Novel ini tak hanya membicarakan tujuh orang gila, tapi juga dunia yang sinting. Kita harus membaca lebih banyak Arlt, sambil mencabik-cabik apa yang kita pikir tentang novel dan kesusastraan.

Saudara Seperguruan atau “Literary Brothers”

Dalam satu wawancara, Enrique Vila-Matas ditanya mengenai persahabatannya dengan Roberto Bolaño dan ia menjawabnya: “Bertemu dengannya pada tahun 1996, saya merasa tak lagi sendirian sebagai penulis.” Ia melihat dalam diri Bolaño seseorang yang bisa disebut, dalam kata-katanya, “literary brother”. Saya bayangkan istilah itu semacam “saudara seperguruan” dalam konteks dunia persilatan yang sering saya baca di novel atau komik silat. Saya bisa mengerti perasaan Vila-Matas. Di tengah kerumunan para penulis, bukanlah hal mudah menemukan satu atau segelintir penulis yang kamu bisa merasa nyaman, nyambung, tak hanya dalam konteks keseharian tapi juga dalam konteks kesusastraan, sehingga kamu bisa menyebutnya sebagai “saudara”. Saya beruntung punya teman-teman semacam itu. Para penulis yang ketika dalam satu wawancara saya ditanya, siapa penulis Indonesia yang karya barunya akan saya tunggu, dengan jelas saya menjawab: para penulis dari generasi saya. Yang sebagian sekali waktu adalah teman-teman bermain saya. Jika orang bertanya, siapa penulis terbaik di Indonesia saat ini, saya akan menjawab dengan jawaban yang sama. Generasi saya, teman-teman saya. Akhir-akhir ini saya berhubungan dengan orang luar, dari editor, wartawan hingga agensi, dan jika mereka bertanya siapa penulis-penulis Indonesia yang perlu diperhatikan? Jawaban saya tetap sama. Generasi saya, teman-teman saya. Saya tak pernah pusing dengan orang-orang yang semangat mempromosikan teman-teman atau karya teman-temannya. Saya akan melakukan hal yang sama, selama saya melakukannya atas nama saya pribadi. Semalam saya bertemu denan Ugoran Prasad dan Intan Paramaditha. Mereka dua di antara penulis yang jelas masuk kategori “generasi saya, teman-teman saya” itu. Kami jarang bertemu sejujurnya, tapi apa pentingnya bergerombol terus-menerus seperti kawanan serigala? Maka pertemuan-pertemuan itu selalu terus mengingatkan saya tentang motivasi-motivasi dan gairah kami atas kesusastraan, dan merasakan kembali keberadaan “saudara seperguruan” semacam “literary brother”-nya Vila-Matas itu. Teman kepada siapa kami bisa dengan kekanak-kanakan berkata, ingin seperti “Adolfo Bioy Casares yang diterbitkan nyrb classics”. Teman yang saya bisa bilang di depan muka mereka, “Masalah kalian adalah cerpen-cerpen kalian. Jangan menerbitkan cerpen kecuali setara Borges. Setidaknya setara Etgar Keret atau Hassan Blasim.” Tapi obrolan-obrolan kami seringkali mengingatkan saya betapa saya mencintai cerpen-cerpen teman-teman saya, tanpa mereka harus menjadi Borges. Pergi ke Toko Wayang merupakan buku terbaru yang saya baca, yang ditulis oleh teman saya yang lain, salah satu yang penting untuk dibaca. Satu-satunya Gunawan Maryanto. Satu-satunya di antara kami yang paham literatur klasik Jawa (juga literatur pasar macam Gareng dan Petruk), yang kami semua selalu mencemburuinya. Sebagai penulis, saya tumbuh bersama mereka. Saya kenal Ugo, Chindil (itu panggilan Gunawan Maryanto di antara teman-temannya), Puthut EA bahkan ketika kami belum benar-benar mulai menulis. Kami sama-sama kuliah di kampus yang sama, meskipun di jurusan atau angkatan yang berbeda-beda. Kegiatan atau sekadar kantin bisa mempertemukan kami, tapi terutama hasrat pada kesusastraan yang akhirnya membuat kami saling kenal. Kampus kami berdekatan dengan IKIP (sekarang UNY), dan dari sana kami mengenal “saudara seperguruan” yang lain: Muhidin M. Dahlan, Zen R.S. (yang esai-esai-nya tentang sepakbola sangat saya kagumi), dua di antaranya. Pertemanan juga seringkali tak hanya ditentukan oleh ruang. Saya kenal Linda Christanty sejak akhir 90an. Dia aktivis PRD, saya senang nongkrong dengan segerombolan anarkis. Beberapa teman saya kenal dengan beberapa temannya, dan akhirnya kami berkenalan. Ternyata ia suka sastra, dan saya juga, dan kami sama-sama punya teman yang sama: seorang penjual buku bekas di belakang Malioboro bernama Mahdi, yang dengan semangat sering menyuplai kami dengan bacaan sastra dunia (kalau kami tidak bisa membeli, dia berbaik hati memfotokopikan). Tentu saja beberapa teman dekat saya, dari generasi saya, juga ada yang saya kenal setelah kami sama-sama menerbitkan karya. Perkenalan saya dengan Dinar Rahayu dan A.S. Lakana terjadi dengan cara yang aneh: bertemu di Belanda dalam keadaan sama-sama baru pertama kali ke luar negeri. Pertemanan yang selalu bersifat alamiah: kami merasa nyambung, merasa nyaman, untuk mengatakan apa pun. Buat saya hal seperti ini rada-rada penting, di luar urusan estetik kesusastraan. Seperti yang dikatakan Vila-Matas, itu membuat kita “tidak merasa sendirian.” Tidak merasa sendirian karena seringkali kita bertemu dengan cara pandang terhadap kesusastraan yang kurang-lebih mirip, yang saya yakin hal seperti itulah yang membuat sebuah generasi sebagai “generasi”. Sebagai contoh, saya selalu mengingat apa yang sering kami katakan jauh hari, ketika kami masih segerombolan mahasiswa gembel yang tak yakin bisa lulus (beberapa di antara kami benar-benar tidak lulus). Kami punya sejenis manifesto-manifestoan. Saya katakan begitu, karena manifesto itu tak pernah dituliskan. Juga karena manifesto itu bisa ditambah-kurangkan sesuka hati kami sendiri. Tapi kurang-lebih manifesto itu berbunyi: 1) Kami ingin menjadi penulis, jika tak ada yang menerbitkan, kami akan menerbitkannya sendiri. Kami belajar bagaimana memproduksi buku, bagaimana menjualnya. Bahkan belajar melayout dan mendesain sampul. 2) Kalau media besar tak menerima karya kami, kami akan membuat media sendiri. Ya, meskipun kecil. Puthut membuat On/Off, sebelumnya jika ada yang iseng mau mencari, ia satu-satunya orang di belakang “jurnal” Ajaib. Ugo dan beberapa temannya menerbitkan Konblok. 3) Kalau komunitas kesusastraan tak ada yang menerima kami, kami akan buat komunitas sendiri. Kami membuatnya. Beberapa berumur pendek, beberapa berumur pendek sekali. Yang penting kami membuatnya untuk mendukung diri kami sendiri. Saya selalu percaya komunitas seharusnya dibangun untuk mendukung anggotanya, dan bukan sebaliknya. Seperti negara ada untuk rakyat, dan bukan sebaliknya. 4) Jika para kritikus tak ada yang peduli kepada karya kami, atau menghina-dina, kami akan menjadi kritikus untuk karya teman-teman sendiri. Saya selalu ingat, Muhidin M. Dahlan merupakan “yang paling marah” ketika novel pertama saya Cantik Itu Luka, “dihancurkan” oleh seorang kritikus. Muhidin menulis balasan yang tak kalah sengitnya. Manifesto-manifestoan ini bisa dibikin lebih panjang, dengan pola yang tetap sama. Saya tak ingat siapa yang mencetuskannya, tapi itu hidup di pikiran kami. Buat saya: itu tetap berlaku sampai hari ini. Dan jika saya bisa menyimpulkannya dengan lebih pendek, itu bisa berbunyi: “Jika kesusastraan Indonesia tak memberi tempat untuk kami, kami akan menciptakan ruangan untuk diri kami sendiri.” Saya tak tahu apakah itu sesuatu yang aneh atau tidak. Tapi teman-teman saya mengerti hal ini. Mungkin itulah yang membuat kami merasa nyambung dan nyaman. Di dunia persilatan ada begitu banyak pendekar, tapi hanya segelintir yang bisa dipanggil “saudara seperguruan”. Lebih sering bukan karena jurus yang sama, tapi karena saling memahami bagaimana melihat dunia. Jadi siapa para penulis Indonesia terbaik saat ini? Tentu saja para penulis dari generasi saya. Generasi yang juga bukannya tanpa kelemahan. Kami berisik dan agak pemalas. Tapi: 5) Jika tak ada perahu untuk kami, kami akan belajar membuat rakit, atau cara berenang. Kalau harus tenggelam, kami tenggelam dengan sedikit keangkuhan.

With Borges, Alberto Manguel

Seorang remaja enam belas tahun, mengisi waktu luangnya sepulang sekolah dengan menjadi penjaga toko buku Pygmalion di satu sudut Buenos Aires. Toko itu terutama menjual buku-buku impor berbahasa Inggris dan Jerman. Satu sore, seorang pelanggan buta datang dan menawari si bocah, seandainya ia punya waktu untuk bekerja dengannya, sebagai pembaca buku. Ia menerimanya, dan dari 1964-1968, Alberto Manguel datang sekitar tiga kali seminggu untuk membacakan buku (atau apa pun) kepada si pelanggan buta. Ia menjadi satu dari sedikit orang yang beruntung pernah menjadi pembaca bagi seorang penulis yang kita tahu menjadi salah satu tonggak untuk cerita pendek, realisme magis, el boom: Jorge Luis Borges. Manguel menceritakan pengalaman istimewanya dalam sebuah buku tipis berjudul With Borges. Saya tak pernah tahu ada buku ini sebelumnya, menemukannya secara tak sengaja di sebuah toko buku bekas bernama Judd Books, di 82 Marchmont Street, London, ketika sedang iseng berjalan-jalan sambil memakan es krim. Sebenarnya bukan buku bekas, ada sebuah meja yang khusus memajang buku baru (setidaknya buku-buku dengan kondisi baru). Setiap judul ditumpuk ke atas, berisi beberapa kopi. Mungkin sisa gudang, mungkin juga si pemilik toko sengaja menyediakan buku baru atas pilihannya sendiri. Di meja itu, saya melihat ada satu novel Bolaño, ada satu ulasan tentang Garcia Lorca, kumcer Raymond Carver. Saya hanya mengambil With Borges, seharga 3,99 pound. Saya membacanya di dalam kereta, lalu melanjutkannya dalam penerbangan dari Heathrow menuju Changi. Buku ini berisi setengah memoar dan setengah ulasan, dan seolah menegaskan kecenderungan karya-karya Borges, Manguel merasa hanya perlu 74 halaman buku untuk menceritakan itu semua. Untuk seorang pembaca Borges, barangkali banyak hal di buku ini pernah diketahui, atau pernah dibaca di tempat lain, tapi saya rasa ini salah satu buku yang perlu dibaca tak hanya menyangkut Borges, tapi juga menyangkut kesusastraan. Seperti kristal, peristiwa-peristiwa pendek yang terjadi dalam kehidupan Borges dan kemudian diceritakan kembali oleh Manguel, memancarkan begitu banyak hal mengenai sastra sebagai keterampilan maupun jalan hidup. Salah satu yang baru saya ketahui dan mengharukan adalah, ketika Manguel pertama kali datang ke apartemen Borges dan menyadari (kontras dengan reputasi sang pengarang yang dikenal sebagai “pembaca banyak hal”), tak banyak buku di sana. Hanya ada rak kecil di ruang baca, dan rak lebih kecil di kamarnya. Sebagian besar buku-buku klasik, yang juga gampang ditemukan di tempat lain. Manguel kemudian teringat komentar Mario Vargas Llosa yang pernah berkunjung ke apartemen tersebut dan bertanya kenapa hanya sedikit buku di sana. Si tuan rumah menjawab, “Mungkin (mengumpulkan buku) itu yang kalian lakukan di Lima, di sini di Buenos Aires kami tak suka pamer.” Borges mulai membuta di akhir 30an, kebutaan yang teramalkan (ayah dan kakeknya menderita hal yang sama), dan buta total menjelang umur 60. Mengenai kebutaannya, Borges sendiri pernah menulis esai menarik berjudul “Blindness” (di buku Seven Nights). Memoar ini, sekali lagi ini memoar seorang pembaca buku untuk seorang penulis buta, juga banyak berputar mengenai kebutaannya. Untuk membaca buku, ia banyak dibantu oleh ibunya (“Saya pernah mengurus suami yang buta, sekarang saya mengurus anak saya yang juga buta”), dan beberapa teman yang membacakan buku untuknya. Di balik kebutaannya, Borges memiliki ingatan yang luar biasa. Ia menghapal banyak karya, kata per kata, kalimat per kalimat. Ia mengarang puisi dan cerpennya di dalam kepala, mengoreksinya di dalam kepala, hanya mendiktekannya ketika puisi atau cerpen itu telah tersusun rapi di kepalanya. Dan jika ia pergi ke toko buku, ia akan berjalan sepanjang rak dan tangannya meraba jilid buku, merasakannya, seolah ia tahu persis apa isi buku tersebut. Ia tak pernah sedih mengenai kebutaannya, tidak pernah menganggapnya sebagai sebuah tragedi, dan bahkan dengan bangga ia sering merujuk kepada Homer, penyair agung yang juga buta. Borges percaya tugas moral manusia adalah menjadi bahagia, dan kebahagiaannya terletak dalam membaca buku. Kebutaan tak pernah menghalanginya untuk membaca buku, untuk bahagia. Sekali lagi, buku ini sangat tipis. Tapi untuk seorang pembaca buku, atau penulis, buku ini seperti tonjokan tanpa ampun.

Mau Ke Mana Cerita Pendek Saya?

Beberapa kali saya kembali membaca esai Bolaño berjudul “Advice on the Art of Writing Short Stories” di kumpulan esai dan artikelnya Between Parenthesis. Sejujurnya bukan esai yang cemerlang, tapi nasihat tetaplah nasihat. Seperti bisa diperhatikan, beberapa tahun terakhir saya tak lagi banyak menulis cerpen. Menerbitkan satu cerpen dalam setahun sudah cukup produktif bagi saya. Ada rasa bosan membaca cerpen-cerpen di koran, dan ada rasa bosan menuliskannya juga. Saya tak mau berpusing-pusing memikirkan keadaan cerpen dalam kesusastraan kita, meskipun tak keberatan memberikan pendapat jika ada yang bertanya, dan lebih senang melihatnya sebagai problem internal saya sendiri. Tulisan ini barangkali akan lebih menarik jika berjudul “Mau Ke Mana Cerita Pendek Kita?”, tapi saya rasa terlalu berlebihan untuk mengurusi “kita” saat ini, dan saya tahu persis sebagian besar penulis tak suka diurusi. Kebosanan ini problem internal, titik, dan menggelisahkan hal ini patut saya syukuri: setidaknya saya masih sedikit waras untuk bertanya kepada diri sendiri. Menjelang terbitnya kumcer keempat saya, [Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi], saya mencoba melihat sejauh apa yang telah saya lakukan. Hal paling gampang untuk dilihat tentu saja jumlah: lebih dari lima puluh cerpen telah saya tulis sejak tahun 1999, dan empat buku telah saya terbitkan. Bagi banyak orang, mungkin itu banyak sekali; bagi saya setidaknya itu lebih dari cukup, lebih dari itu bisa saya anggap berlebihan. Berbeda dengan cara kerja saya menulis novel, yang sering saya bayangkan seperti membangun rumah tanpa rancang-gambar, yang membuat saya begitu senang menulis ulang sebuah novel berkali-kali sebelum menerbitkannya; cerpen bagi saya seperti ruang laboratorium penulisan. Kadang-kadang saya punya gagasan kecil di kepala, bisa berupa olok-olok ringan maupun andai-andai berat, lalu saya mencobanya di “laboratorium”, dan jadilah sepotong cerpen. Bagaimana jika Thomas de Quincey, penulis Confession of an English Opium Eater ternyata penduduk Hindia Belanda di masa kolonial dan menulis dalam bahasa Melayu pasar? Hasilnya adalah cerpen “Pengakoean Seorang Pemadat Indis”. Bagaimana jika kita pergi ke satu tempat, bertemu orang-orang dan mendengar cerita mereka, lalu menuliskannya? Cerpen-cerpen seperti “Gerimis yang Sederhana”, “La Cage aux Folles” dan “Penafsir Kebahagiaan” ditulis dengan eksperimen seperti itu. “Caronang” awalnya merupakan eksperimen untuk menulis cerpen dengan pendekatan catatan perjalanan, tapi hasil akhirnya berbeda, sementara “Pengantar Tidur Panjang” merupakan memoar dengan obsesi yang berlebihan: menangkap sejarah republik melalui kacamata sebuah keluarga, tak lebih dari 2000 kata. Saya senang melakukan hal itu di cerpen karena alasan yang sederhana: bentuknya pendek, sehingga saya dengan mudah berpindah dari eksperimen satu ke eksperimen lainnya. Satu disiplin yang rasanya tak akan saya lakukan untuk novel. Sementara eksperimen-eksperimen samacam itu saya percaya layak untuk terus dilakukan, lebih dari lima puluh cerpen dan empat buku tetaplah jumlah yang banyak. Di sisi lain, saya juga percaya, sesuatu tak bisa dilakukan secara berkepanjangan. Ada satu titik di mana seseorang harus berhenti, metode dipertanyakan, dan kepercayaan diri yang berlebihan harus dihancurkan. Ini akan berat untuk saya, tapi rasanya mengurangi menulis cerpen sama sekali bukan jalan keluar yang memuaskan. Saya perlu berhenti setelah buku keempat ini. [Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi] akan menandai jeda panjang saya, hingga beberapa tahun ke depan. Dan tahun-tahun tersebut akan memberi saya banyak waktu untuk menjelajahi beragam khasanah cerita pendek. Saya menyukai penulis-penulis cerpen klasik, dari Chekhov, Gogol, Maupassant, Akutagawa, bahkan cerpen-cerpen konyol O. Henry. Bolaño menyuruh kita membaca Borges, Juan Rulfo, Edgar Allan Poe, hingga Enrique Vila-Matas dan Javíer Marias. Saya sudah membaca mereka. Di luar itu saya kira banyak penulis-penulis kontemporer, dari abad lalu maupun abad sekarang, yang patut untuk dibaca. Belum lama saya membaca cerpen-cerpen Ludmilla Petrushevskaya, yang membawa tradisi panjang kesusastraan Rusia (kapan-kapan saya akan menulis tentangnya di sini). Etgar Keret dan Hassan Blasim, semestinya dibaca sebagaimana kita membaca penulis cerpen klasik. Jangan lupa Raymond Carver. Juga Primo Levi. Dan Eileen Chang. Dan tentu saja César Aira. Saya pernah berhasil berhenti merokok, berhenti bergaul di Twitter dan Facebook (yang memberi saya waktu melimpah untuk membaca buku), rasanya saya akan sanggup melewati yang ini. Berhenti menulis cerpen untuk jangka waktu yang lama, mungkin terasa menyiksa dan menyedihkan; tapi mengetahui akan ada banyak yang bisa dibaca dan belajar kembali dari mereka sambil bertanya “Mau ke mana cerita pendek saya?”, saya rasa layak untuk dilalui. Sebab, mengutip Borges, kegiatan membaca lebih intelek daripada menulis. Dan lebih menyenangkan, tentu saja.

Kisah Fantasi + Spekulasi Filsafat = Jorge Luis Borges

Jika boleh menyederhanakan, formula cerpen-cerpen Borges menurut saya bisa dikatakan adonan antara kisah fantasi dan spekulasi filsafat. Kalau penasaran, sila baca artikel saya “Kosmologi Borges”, tapi di sini saya terutama ingin menunjukkan bahwa kreatifitas pada dasarnya merupakan upaya membuat adonan baru dari sesuatu yang ada sebelumnya. Para ahli toh sudah banyak yang bilang bahwa tiga tahap kreatifitas itu sederhana. Pertama, kita meniru. Makanya, jangan buru-buru main hakim jika melihat seseorang meniru kreatifitas orang lain, atau memergoki anak kita mencontek. Meniru merupakan tahap awal kreatifitas. Yang harus ditanamkan adalah jangan membiasakan diri mengaku karya orang lain, apalagi memperoleh keuntungan dari pekerjaan orang lain, sebab itu sudah kriminal. Meniru bukanlah mencuri, atau mengaku, tapi sebuah usaha menempatkan diri di tempat orang lain dan mencoba melakukan hal yang sama yang telah dilakukan orang lain. Jika saya meniru lukisan Van Gogh, saya mencoba menempatkan diri di tempat Van Gogh dan mencoba melukis bunga matahari persis seperti yang dilakukannya. Biasanya tidak sama bagus, tapi setidaknya kita belajar sebuah proses kreatifitas langsung ke seorang master (meskipun secara imajiner). Ketika Borges menulis “The Story of the Two Dreamers”, saya rasa dia mencoba meletakkan dirinya di tempat Sir Richard Burton ketika menerjemahkan “The Ruined Man Who Became Rich Again Through A Dream”. Perbedaannya, Burton menerjemahkan karya itu dari Arab ke Inggris, sementara Borges membayangkan dirinya menerjemahkan ke Spanyol. Dan pada dasarnya, proses penerjemahan kurang-lebih sama seperti proses meniru, makanya banyak penulis mengawali karirnya belajar menulis melalui penerjemahan. Tahap kedua, setelah meniru, adalah memodifikasi atau mengubah karya orang lain. Di tahap ini seseorang tak lagi meniru, tapi mulai menambah atau mengurangi sesuatu secara sadar. Menyadur sebuah karya bisa dianggap merupakan proses modifikasi. Demikian pula parodi, saya kira. Sebagian besar karya awal Borges di A Universal History of Infamy, saya rasa merupakan proses modifikasi dari karya-karya atau sumber-sumber lain. Banyak penulis lain melakukan hal yang kurang sama: mengambil ide pokoknya, lalu mengembangkannya sendiri ke arah lain. Kita tahu Borges menulis buku The Book of Imaginary Beings, sejenis eksiklopedia mengenai makhluk-makhluk imajiner. Italo Calvino mencomot gagasan ini dan mengembangkannya menjadi Invisible Cities, yang kurang-lebih sama: tentang kota-kota imajiner. Roberto Bolaño saya kira juga berangkat dari gagasan yang sama dan memodifikasinya ketika ia menulis Nazi Literature in the Americas, tentang penulis-penulis dan kesusastraan sayap-kanan imajiner di dataran Amerika. Bahkan di tahap modifikasi ini pun, kreatifitas kadang menciptakan hal-hal hebat. Setelah meniru, memodifikasi, tahap terakhir kreatifitas adalah mencampur apa-apa yang telah ada sebelumnya menjadi sesuatu yang lain. Seperti buah jambu, nanas, bengkuang, dicampur gula merah, garam, cabai, asam jawa, dan jadilah “rujak”. Kita tahu di dalam rujak ada berbagai bahan, tapi kita tak lagi menyebutnya berdasarkan bahan-bahan itu. Dalam Borges, saya melihat kreatifitasnya merupakan adonan kisah-kisah fantasi ditambah spekulasi-spekulasi filsafat, yang kemudian menghasilkan cerpen-cerpen semacam “The Disk”, “The Book of Sand”, “Borges and I”, atau yang sangat terkenal, “Tlön, Uqbar, Orbis Tertius”. Dalam karya-karya Cormac McCarthy, kita menemukan adonan gaya Faulkner yang dicampur dengan kisah koboi atau “Spaghetti Western” (terutama dalam trilogi perbatasannya, serta di The Road dan No Country for Old Men). Dalam karya-karya Patrick Modiano, kita bertemu ramuan kisah detektif yang bertemu dengan tradisi Proust, serta novel-novel sosial-politik. Di Animal Farm, Orwell sudah jelas memadukan satir politik, sastra bertendens, dan fabel. Penulis Indonesia seperti Intan Paramaditha, meramu fairy tales dan dongeng gothic dengan isu-isu feminis dan politik, menghasilkan cerpen-cerpen yang orisinal. Dan puisi-puisi Joko Pinurbo, jika bisa disederhanakan, merupakan pertemuan antara kisah-kisah Alkitab dan lelucon-lelucon sufi, sertra tradisi puisi lirik. Tak ada yang baru di bawah langit, demikian kata pepatah. Tugas kita, manusia secara umum atau penulis secara khusus, hanyalah membuat rujak. Syukur jika enak dimakan. Syukur jika ada lidah yang terus mengenang rasa rujak itu dan mengingat rasa tersebut sambil mengingat siapa yang membuat adonannya.

Tanya-Jawab: Monokultur

Gita Wiryawan: Menurut mas Eka, apakah sebaiknya sastra lebih membumi agar pembacanya kian banyak ataukah cukup di tempat semula, yang berjarak (bagi beberapa orang, sastra disebut berada di menara gading) agar bisa dibedakan dengan karya fiksi populer?

Pertanyaan di atas membawa problem serius yang bisa berujung ke sesat pikir. Pertama-tama, apa itu “membumi”? Setahu saya, semua karya sastra di dunia ditulis dengan bahasa dan kata-kata yang diciptakan oleh manusia di bumi, tak ada satu pun yang diimpor dari langit. Bahkan kitab suci yang dipercaya diciptakan langsung oleh Tuhan pun mempergunakan bahasa manusia. Tentu saja manusia juga menciptakan bahasa untuk komputer, tapi 1) Belum pernah lihat novel/cerita yang ditulis dengan bahasa itu, 2) kalaupun ada, manusia tetap bisa mempelajarinya dan mengerti (dengan syarat memiliki kapasitas pengolahan data di kepalanya yang memadai). Jadi dengan asumsi tersebut, seharusnya semua karya bisa dibilang membumi. Baiklah, mari kita membuat asumsi baru bahwa yang dimaksud “membumi” adalah karya-karya yang dekat dengan kehidupan/persoalan pembaca sehingga mudah dipahami oleh mereka (sehingga lebih “populer”). Bahkan asumsi ini pun meninggalkan banyak persoalan. Apakah Harry Potter dekat dengan kehidupan/persoalan pembaca? Bahkan meskipun sihir pernah menjadi persoalan serius dalam peradaban manusia, itu terjadi di zaman kegelapan, ketika tentara inkuisisi Spanyol merajalela di Eropa barat, dan Harry Potter tak ada hubungan langsung dengan hal itu. Baltasar and Blimunda karya Jose Saramago jelas berhubungan langsung dengan kasus tersebut, bisa dibilang “membumi” karena menceritakan kehidupan dan permasalahan yang lebih dekat dengan manusia (bahkan tokohnya, Padre Bartolomeu Lourenço, merupakan sosok yang benar-benar pernah ada), tapi saya yakin novel keren ini jauh kalah populer dari ciptaan J.K. Rowling. Baltasar and Blimunda tak bisa dikatakan tidak membumi hanya karena ia kurang populer dan sulit dipahami oleh masyarakat kebanyakan. Atau coba tengok si Le Petit Prince (Antoine de Saint-Exupéry). Kita tahu novel pendek itu bercerita tentang pangeran kecil yang hidup di planet dan melompat dari satu planet ke planet lain. Tidak membumi? Sekilas, ya. Tapi novel itu juga bercerita tentang ketidakmampuan orang dewasa memahami imajinasi anak-anak. Membumi? Ya, itu persoalan orang dewasa dari dulu sampai kapan pun. Di sini kita masuk ke persoalan ketiga: jarak antara teks dan pembaca (yang kamu istilahkan bahwa karya sastra berada di “menara gading”). Pada dasarnya, semua karya sudah pasti memiliki jarak antara teks dan pembacanya. Jarak ini bisa sangat lebar, bisa pula tidak, akan sangat tergantung kepada pembacanya. Mengasumsikan semua pembaca berada di tingkat pemahaman, penafsiran, kecerdasan dan kedewasaan intelektual serta keluasan pengalaman hidup (ini juga penting!) yang sama merupakan sikap yang naif. Tak bisa dielakkan bahwa ada karya-karya tertentu yang hanya dipahami segelintir orang, dan ada yang bisa dipahami oleh lebih banyak orang. Dan kepercayaan bahwa karya sastra harus dipahami sebanyak-banyaknya orang (menjadi populer?), selain sesat pikir, juga bisa menjerumuskan. Kenapa? Mari kita bicara soal makanan, kebutuhan pokok manusia. Apa makanan yang paling mudah masuk ke mulut kebanyakan manusia? Sudah tentu, fast food. Di Indonesia bisa ditambahkan: nasi. Kapitalisme dunia selama beberapa dekade terus-menerus menciptakan makanan yang monokultur. Selera sebisa mungkin diseragamkan, karena segala hal yang seragam berarti lebih mudah diproduksi, lebih efisien, dan tentu lebih irit. Mereka berusaha meneliti atau menciptakan “selera kebanyakan”. Tentu saja ada segelintir orang yang tak suka nasi, dan orang akan menganggapnya aneh. Dalam istilah kesusastraan, ia barangkali di menara gading. Nah, yang sering dilupakan orang, kesusastraan secara umum (segala yang memproduksi teks), juga tak lepas dari konteks kapital. Kesusastraan juga komoditas, seperti ayam goreng. Penerbit (sebagai alat kapital), tentu berusaha memproduksi sesuatu yang lebih mudah, lebih laku, lebih irit, dan efisien. Itulah kenapa ada sekolah menulis (bandingkan dengan lab), dan ada formula menulis (bandingkan dengan resep). Belajar dari bisnis makanan, jawabannya adalah: kesamaan selera. Sebisa mungkin pembaca berada di zona di mana seleranya bisa dikendalikan, dan penulis juga didorong untuk menulis di zona yang sama. Ini tak hanya terjadi dalam makanan dan kesusastraan. Ini terjadi di fashion, di teknologi, di olahraga, di bidang apa pun. Dunia dari hari ke hari semakin menjadi monokultur. Di mana-mana di dunia dengan mudah kita melihat orang makan pizza, pakai gadget Android, mengenakan atribut Machester United, dan … membaca Harry Potter. Saya tak ingin menyalahkan produk-produk yang disukai banyak orang itu (semua orang di keluarga saya penggemar Harry Potter dan suka pizza), tapi bagi saya penting bahwa ada produk-produk di luar itu. Dan kesusastraan, dengan gigih (Bolaño menyebut bahwa para penyair merupakan sosok paling berani, lebih bernyali dari para perampok bank) terus-menerus memberi produk “yang berbeda” ini. Saya yakin kebanyakan di antara mereka tak menciptakan karya yang “asal berbeda”. Seperti para koki, barangkali mereka mencoba menciptakan sesuatu yang lebih bergizi, dan lebih sehat (dan sialnya, yang begini biasanya tak disukai kebanyakan orang). Jarak antara teks dan pembaca (yang sudah pasti akan selalu ada), tak bisa melulu diselesaikan dengan cara pandang kapital: produk dipaksa untuk mengikuti selera konsumen, dan selera konsumen dibentuk untuk mengkonsumsi produk yang diciptakan. Jarak antara teks dan pembaca yang lebar, dalam kesusastraan (dan segala hal), harus juga didekati dengan strategi kultural (pendidikan, terutama). Saya percaya manusia merupakan makhluk yang “geocentric” (meskipun sudah tahu bumi mengelilingi matahari), yakni memusatkan segala hal kepada dirinya sendiri. Semua karya sastra, bicara tentang robot, planet, vampire, setan, dewa-dewa, pada dasarnya bicara tentang manusia dan bumi tempat mereka berpijak. Kita bicara tentang diri sendiri. Persoalan membumi atau tidak membumi, pada akhirnya, jangan-jangan sesepele permasalahan bahwa ada karya yang “sulit” bagi sebagian pembaca. Jika benar permasalahannya itu, bagi saya kemungkinannya ada dua: 1) Karya tersebut memang ditulis dengan buruk, 2) Pencernaan kita tidak akrab dengan jenis bacaan ini. Solusinya kita semua tahu apa.

Tanya-Jawab: Media Sastra

Arlian Buana: Saya ingin tahu bagaimana Mas Eka melihat peran media untuk kesusastraan (baik Indonesia maupun dunia), dan media sastra seperti apa yang sebaiknya hadir di tengah-tengah pembaca Indonesia di era internet ini.

Saya rasa media sastra (atau media secara umum) seharusnya lahir dari satu gagasan besar, dari satu kegelisahan, dan tentu saja kemudian lahir dari satu visi mengenai kesusastraan macam apa yang ingin kita ciptakan? Tanpa itu, beribu-ribu media (jurnal, majalah, atau apa pun) hanya akan menjadi tempat pajangan karya untuk memuaskan ego para penulis saja. Hal ini, menurut saya, tengah berlangsung dalam kesusastraan Indonesia yang apa boleh buat, masih didominasi apa yang disebut “sastra koran”. Jujur saja, saya sudah lumayan lama kehilangan selera dengan sastra (utamanya cerpen dan puisi) di koran. Kehilangan selera untuk membaca maupun menulis. Saya tak melihat ada visi maupun gagasan besar di sana. Baiklah, barangkali tak perlu besar, tapi setidaknya gagasan yang menarik: mau dibawa ke mana kesusastraan ini? Apa yang diinginkan koran-koran itu dengan kesusastraan kita? Kesusastraan macam apa yang sedang didesain di masa kini dan masa depan? Saya tak melihatnya. Saya hanya melihat koran-koran itu sebagai tempat pajangan bagi jalan pintas penulis pemula untuk “go national” atau penulis-penulis mapan untuk mengisi daftar hadir tahunan (seperti harimau mengencingi wilayah untuk mengumumkan, “Hey, gue masih ada lho!”). Padahal dengan kekuatan finansial dan jaringan yang luas, koran di Indonesia (di mana sebagian besar penulis terpenting Indonesia menulis di sana), harusnya bisa menjadi lokomotif bagi kemajuan kesusastraan. Baiklah, untuk lebih adil, saya rasa ini tak hanya terjadi di kita. Selama bertahun-tahun, saya juga mengikuti karya-karya sastra di tiga media internasional, yang bolehlah dianggap cukup “mainstream” untuk ukuran kesusastraan: Granta, New Yorker, dan The Paris Review. Dari masa sepuluh tahun lalu sampai hari ini, situasinya kurang-lebih sama (Haruki Murakami akan berkata, “Hey, cerpen gue diterbitin lagi, dan lagi, dan lagi.”). Media-media internasional itu barangkali sedikit beruntung karena ia menyaring tulisan-tulisan terbaik dari seluruh dunia. Kita menemukan Roberto Bolaño atau Cesar Aira dalam satu dekade terakhir, misalnya. Tapi yang terpenting sebenarnya bukan “menemukan”, tapi bagaimana media-media ini, internasional maupun nasional atau bahkan lokal, bisa ikut “menciptakan” kesusastraan. Tentu saja karya sastra diciptakan oleh para penulisnya. Tapi institusi semacam media, dengan kebijakan editorial (dan dalam kasus tertentu kemampuan finansial), bisa memberi rancangan besar arah kesusastraan. Saya tak bilang bahwa para penulis harus didikte oleh kemauan institusi media, tapi kenyataan sederhana, institusi media memiliki kekuatan untuk melakukan hal itu. Sebagai contoh, generasi emas kesusastraan di Argentina saya rasa tak akan muncul tanpa kehadiran majalah Sur, yang didukung antara lain oleh filsuf Spanyol José Ortega y Gasset. Majalah ini antara lain melahirkan Jorge Luis Borges, Julio Cortazar dan Adolfo Bioy Casares. Atau tengok kontribusi Les Temps Modernes bagi kesusastraan (dan filsafat) Prancis di masa Jean-Paul Sartre dan Jean Genet (termasuk memuat ulasan yang mengawali perpecahan persahabatan Sartre dan Albert Camus). Atau bagaimana Poedjangga Baroe melahirkan generasi Pujangga Baru. Tentu saja gagasan-gagasan yang melatar-belakangi majalah atau jurnal-jurnal tersebut barangkali tak lagi relevan atau menarik saat ini, dan tak selalu harus terus-menerus relevan dan menarik. Tapi bahwa ia membawa satu gagasan dan bagaimana ia ikut menciptakan kesusastraan (dan karya intelektual lainnya) di satu masa, saya rasa itu yang terpenting. Jadi sekali lagi, menurut saya media tentu saja sangat penting bagi kesusastraan. Buku sendiri merupakan media. Tapi tanpa gagasan cemerlang di belakangnya, tanpa visi dan kegelisahan, pada akhirnya ia hanya tempat pajangan. Hanya etalase. Lupakan saja menciptakan media sastra baru jika tujuannya hanya itu. Kita membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar tempat pajangan. Media bisa berbentuk jurnal, majalah, koran tercetak, atau jurnal online, atau sesederhana sebuah blog yang diterbitkan oleh perorangan, tapi yang penting adalah gagasan apa yang dibawa. Internet sendiri secara luas merupakan media. Ada penulis Irak yang (karena keadaan negaranya yang porak-poranda), menuliskan cerpen-cerpennya di internet. Hasilnya, ia salah satu penulis cerpen penting dunia saya kira. Namanya Hassan Blasim. Karya yang baik bisa lahir di mana saja. Jika kamu tertarik membuat media sastra, tanyakan kepada diri sendiri beberapa hal ini: 1) Apakah media yang ada memang tak memadai? 2) Apa yang akan membedakan karya-karya di media barumu dengan karya-karya di media lain? Dan yang terpenting sekali lagi: 3) Kesusastraan macam apa yang ingin kamu perjuangkan sehingga kamu merasa perlu menciptakan media baru karena media yang sudah ada tak memberinya tempat?

Esai

Selain membaca novel, cerpen, buku-buku sejarah dan filsafat, saya senang membaca esai. Esai tentang apa saja, meskipun esai filsafat dan sastra lebih sering menarik minat saya. Bagi saya, esai merupakan perkawinan unik antara disiplin berpikir, keberanian berspekulasi, dan gaya menulis. Banyak penulis kontemporer merupakan esais-esais cemerlang. Roberto Bolaño bagi saya tak hanya diingat sebagai penulis The Savage Detectives atau Amulet, tapi juga sebagai penulis esai keren “Literature+Ilness=Ilness”. Jorge Luis Borges, selain dikenal sebagai cerpenis penting abad kedua puluh (pengaruh puisi-puisinya juga tak bisa dianggap remeh), juga dikenal sebagai “profesor” karena esai-esai sastranya (salah satu buku esainya yang saya sukai berjudul Seven Nights). Seperti cerpen-cerpennya, esai-esai Borges sering memperlihatkan spekulasi-spekulasi filosofis dengan obyek karya sastra. Misalnya dalam esai berjudul “The Labyrinths of the Detective Story and Chesterton”, ia tanpa sungkan membuka esainya dengan satu spekulasi: bahwa orang Inggris hidup dengan dua hasrat yang tak nyambung, yakni gairah aneh untuk bertualang dan gairah aneh untuk legalitas. Saya rasa, esai semacam itu tak hanya membutuhkan ketekunan membaca, ketelitian mencerna dan menganalisa, tapi juga keberanian menarik kesimpulan. Bentuk esai yang cenderung bebas, tentu menarik minat banyak penulis sastra untuk merambah genre ini, di mana mereka bisa mengguratkan gaya mereka di sana. Tapi tentu saja gaya tak hanya melulu monopoli para penulis sastra. Banyak filsuf juga menulis esai-esai mereka dengan gaya. Sudah lama kita kenal filsuf macam Marx maupun Nietzsche juga sebagai para penggaya dalam menulis. Lebih dari itu, esai juga menarik karena kadang-kadang ia merambah tema-tema yang tak umum, yang barangkali terlalu biasa untuk dijadikan bahan traktat filsafat yang tebal dan berat. Dalam esai, misalnya, Borges bisa menulis hubungan antara dinding raksasa Cina dan pembakaran buku oleh kaisar yang sama dalam “The Wall and the Books”. Beberapa waktu lalu, saya membeli buku tipis Arthur Schopenhauer hanya karena tema dan judulnya: The Horrors and Absurdities of Religion. Isinya beberapa esai mengenai agama, tentu dengan horor dan keabsurdannya. Coba bayangkan judul-judul lainnya yang menurut saya sama gokil, dan kecil kemungkinan ditemukan di buku-buku filsafat yang lebih “serius”, tebal dan berat: Fear and Trembling (Søren Kierkagaard), atau Of the Abuse of Words (John Locke). Apa sih untungnya membaca esai-esai semacam ini? Bagi saya, selain karena tema-temanya cenderung lebih sederhana dan unik, di sisi lain esai (yang baik) tak pernah kehilangan daya untuk merangsang nalar kita. Seperti membaca cerpen-cerpen yang bagus kita merasa yakin bahwa segala sesuatu bisa menjadi cerita yang menarik, membaca esai-esai yang keren cenderung membuat kita yakin bisa memikirkan segala sesuatu dan memberinya makna. Esai bisa membebaskan kita dari cengkeraman karya-karya akademik yang cenderung garing, yang meneror kita dengan judul-judul super semacam: “Wacana Pascakolonial dalam Karya Pramoedya Ananta Toer”, atau “Perspektif Feminis dalam Novel Madame Bovary”, atau “Kehendak Bebas Menurut Franz Kafka”, yang barangkali isinya tak secerdas dan semenggairahkan esai “The Storyteller” Walter Benjamin yang mengupas cerpen-cerpen Nikolai Leskov. Esai merupakan wilayah kreatif, wilayah main-main tanpa harus kehilangan hasrat intelektual. Wilayah penulisan penuh gaya tanpa kehilangan bobot. Ah, tiba-tiba saya membayangkan esai-esai gokil semacam, “Apa yang Dipikirkan Kucing Ketika Kucing Memikirkan Murakami?”, atau “Apa yang Terjadi Jika Suatu Pagi Seekor Kecoa Terbangun dan Menemukan Dirinya Berubah Menjadi Franz Kafka?”, atau “Hemingway Membunuh Hemingway”. Esai. Hal-hal seperti itu bisa ditulis dalam bentuk esai.

Tristram Shandy

Kebanyakan orang yang baru pertama kali membaca Tristram Shandy, saya rasa akan bergumam, “Cerita apaan sih, ini?” Ngalor-ngidul, menceritakan kejadian-kejadian kecil, karakter orang-orang, bahkan referensi-referensi terhadap pandangan-pandangan filosofis tertentu. Bagi pembaca modern (seperti saya), lebih memusingkan lagi karena referensi ini merujuk ke karya-karya yang jauh lebih tua lagi (ia mengolok-oloknya, membuat simile, alusi, atau bahkan “menjiplak”nya untuk membuat efek baru). Tapi satu baris penting di bagian 1 bab 22 saya rasa menjelaskan banyak hal (saya tak akan menerjemahkannya): “Digressions, incontestably, are the sunshine, – they are the life, the soul of reading! ” Saya rasa, Laurence Sterne salah satunya merayakan digresi, penyimpangan, dalam novel ini, sesuatu yang seringkali dihindari dalam kebanyakan novel arus-utama yang memuja keutuhan dan efisiensi. Sebenarnya kelakuan macam begini tentu saja tidak asing. Banyak penulis modern melakukannya (tentu saja terpengaruh oleh novel ini), dan kita membacanya dengan baik-baik saja. Milan Kundera melakukannya. Salman Rushdie melakukannya. Roberto Bolaño juga melakukannya. Tapi di karya-karya penulis belakangan ini, saya rasa kita menemukan penyimpangan yang halus, yang tertanggungkan. Semacam jalan-jalan tapi sesekali melipir ke dalam toko melihat barang-barang, sebelum melanjutkan perjalanan lagi. Penulis-penulis ini seolah menghadirkan teknik penyimpangan yang lebih ramah-baca, seperti masakan padang yang telah disesuaikan untuk lidah orang Jawa di rumah-rumah makan padang di Jakarta. Kontras dengan karya-karya mereka, Tristram Shandy yang terbit di abad 18 merupakan kesemrawutan, perayaan gila-gilaan atas ini, seolah tak peduli dengan ketumpulan cara baca manusia modern yang akan lahir berabad-abad kemudian (termasuk otak saya, yang mulai sering ditumpulkan oleh novel-novel “lurus”, penuh aksi dan sedikit refleksi). Novel ini bukan sejenis perjalanan, tapi seperti masuk ke museum dan kita disibukkan mendengar pemandu yang menceritakan tentang kemaluan yang tak sengaja tersunat, Paman Toby, raksasa-raksasa Rabelais, dan lainnya. Dari mana kesemrawutan ini berawal? Seperti disiratkan oleh judulnya (aslinya berbunyi The Life and Opinions of Tristram Shandy, Gentleman), ini kisah mengenai Tristram yang mencoba menceritakan dirinya sendiri. Tapi alih-alih menceritakan dirinya secara langsung, ia harus menceritakan konteks di setiap momen atau bagian dari yang ceritakannya. Konteks-konteks inilah yang membuat setiap momen akan berjalan ke sana-kemari, karena untuk mengisahkan sesuatu, ia harus menceritakan sesuatu yang lain, untuk menjelaskan sesuatu, ia harus menjelaskan hal-hal lain. Hasilnya, ini novel semacam jaring laba-laba. Novel ini seperti mengingatkan saya kembali apa yang berkali-kali disinggung Kundera, bahwa novel merupakan “seni”. Dan seperti genre seni lainnya, ia merupakan kesempatan terbuka untuk kemungkinan-kemungkinan baru. Kemungkinan-kemungkinan yang seringkali dibunuh oleh paradigma “novel seharusnya begini, begini”. Saya jadi ingat sebelum pengumuman Nobel tahun ini, salah satu juri berkata, “Kesusastraan barat telah dibunuh oleh tradisi grant dan kursus menulis kreatif.” Kursus menulis kreatif? Jangan-jangan yang ia maksud persis seperti yang saya curigai: kita perlahan-lahan menjadi robot yang kebetulan bisa menulis. Berkarya mengikuti cara-cara yang telah diformulasikan, dan tak memiliki nyali keluar dari sana. Dan untuk mengumpulkan nyali semacam ini, hanya untuk menyadari bahwa kita bisa menyimpang segila-gilanya, saya bahkan harus belajar dari sebuah novel dari masa 3 abad yang lampau. Mungkin saatnya kita menulis dengan satu sikap seperti dikatakan oleh Sterne sendiri: “I begin with writing the first sentence – and trusting Almighty God for the second.” Sebab sebagaimana pernah dikatakan Cortazar (salah seorang eksperimentalis paling gila dalam kesusastraan modern), kerja menulis novel merupakan kerja anarkis. Tapi ingat, itu bukan formula. Sekali sesuatu telah menjadi formula, itu tak layak lagi disebut anarkis.

Berbagi Mengenai Penerjemahan

30 September merupakan Hari Penerjemahan Internasional. Mari bicara tentang ini. Tak bisa disangkal, banyak penulis berharap karyanya diterjemahkan ke bahasa asing. Tak hanya membuka ruang pembaca baru, tapi terutama tentu saja sedikit gengsi: karya yang diterjemahkan setidaknya mengindikasikan karya tersebut memiliki nilai atau kualitas tertentu. Beberapa orang barangkali beruntung menguasai lebih dari satu bahasa sehingga bisa melakukannya sendiri. Isaac Bashevis Singer, salah satu yang saya tahu menerjemahkan karyanya sendiri (sebagian) ke bahasa lain. Tapi tentu tak semua orang seberuntung itu. Bahkan meskipun bisa melakukannya, atau nekat melakukannya, juga bukan hal yang gampang menerbitkan karya terjemahan. Banyak orang buta mengenai hal ini. Saya salah satunya. Sekarang sedikit bisa melihat, meskipun boleh dibilang masih rabun. Saya ingin berbagi sedikit mengenai pengalaman saya, siapa tahu berguna bagi penulis lain. Saya tahu banyak penulis dan karya dalam kesusastraan kita, yang layak untuk dibaca di luar teritori bahasa kita. Baiklah, sekali lagi, seperti kebanyakan penulis di sini, saya buta soal penerjemahan karya ke bahasa asing. Saya tak kenal penerjemah, tak kenal penerbit di luar, atau intinya, saya tak punya kenalan siapa-siapa. Diperparah oleh kenyataan saya punya kecenderungan bekerja sendiri, tak punya komunitas dengan jaringan luas dan kemampuan keuangan yang mampu mengirim anggotanya ke berbagai acara kesusastraan di luar, hanya memiliki sekelompok teman yang nasibnya kurang-lebih sama seperti saya. Satu-satunya yang bisa saya lakukan hanyalah menulis sebaik mungkin, menerbitkannya di sini, dan berharap ada orang yang menyukainya. Dalam keadaan seperti itu, ketika Cantik Itu Luka diterjemahkan dan terbit dalam Bahasa Jepang (2006), bisa dibilang itu kebetulan. Ibu Ribeka Ota (ia menerjemahkan karya Murakami ke bahasa Indonesia juga), orang Jepang yang tinggal di Semarang, kebetulan membaca novel itu dan menyukainya. Atas inisiatifnya sendiri, ia menerjemahkan novel itu. Entah berapa lama. Saya rasa ia melakukannya karena hobi, sebab ia tak menghubungi saya maupun penerbit saya pada awalnya. Hingga satu hari, sebuah agen (literary agent) yang bermarkas di Tokyo menghubungi saya, bilang ada penerbit Jepang ingin menerbitkan novel itu. Saya senang dan kaget, tentu saja. Semakin kaget ketika tahu, naskahnya sudah siap dan tinggal terbit. Dari merekalah saya kemudian berkenalan dengan Ibu Ribeka Ota. Ia masih memperbaiki naskah novel tersebut dengan berkonsultasi ke saya (saya ingat mengiriminya foto-foto pohon untuk menunjukkan nama pohon yang tidak dimengertinya), sebelum terbit. Itu buku pertama saya yang terbit dalam bahasa asing. Saya rasa, nasib saya sangat baik. Hal itu juga terjadi dengan edisi Malaysia untuk novel yang sama. Bahkan bisa dibilang, saya sama sekali tak berhubungan dengan penerbit maupun penerjemahnya. Kami diperantarai pihak ketiga, hingga buku itu akhirnya terbit. Hal yang sama terjadi dengan novel Lelaki Harimau. Ada sebuah penerbit dari Italia yang mengirim orang ke Indonesia untuk mencari karya-karya lokal untuk diterjemahkan dan terbit di sana. Saya tahu ia mengambil beberapa karya penulis Indonesia lainnya. Saya tak tahu bagaimana ia kemudian memutuskan mengambil novel saya juga (L’Uomo Tigre, dari informasi penerbitnya, akan terbit awal tahun depan). Tiga kasus itu hanya menunjukkan betapa pasifnya saya. Saya yakin, tak hanya saya, tapi sebagian besar penulis Indonesia juga sepasif itu. Sebagian besar karena saya buta soal urusan ini. Lagipula menunjukkan hasrat agar karya diterjemahkan ke bahasa asing, untuk standar moral saya, agak memalukan (meskipun sebenarnya sah-sah saja). Hal ini sedikit berubah setelah saya bertemu dua sahabat baik: Ben Anderson dan Tariq Ali. Dalam beberapa pertemuan, Ben sedikit mengkritik sikap pasif saya. Saya sadar, seambisius apa pun kita, kita cenderung menyembunyikannya. Saya termasuk, tentu saja. Tapi Ben mengingatkan satu hal yang sangat penting: terjemahan yang buruk akan memberi kesan yang buruk terhadap karyamu. Itulah kenapa ia menyarankan saya lebih aktif. Ia menyarankan saya untuk memulai memikirkan penerjemahan karya saya ke Bahasa Inggris dan Perancis sebagai awalan. Kedua bahasa itu bisa dibilang lingua franca. Pintu gerbang untuk ke seluruh dunia. Meskipun saya mengerti, saya toh tak bisa berbuat apa-apa juga. Memang apa yang bisa saya lakukan? Selama bertahun-tahun sejak obrolan itu, bisa dibilang saya tak melakukan apa pun. Hingga satu hari saya bertemu dengan Tariq Ali, makan siang bersama di satu restoran Jepang di Kemang. Ia galak. Tentu saja galak, sebab ia memang aktivis. Dia orang yang diceritakan oleh The Rolling Stones dalam lagu “Street Fighting Man”. Dia yang muncul di satu episode novel Bad Girl Mario Vargas Llosa sedang teriak-teriak di jalanan London. Dia bilang, “Karyamu harus dibaca pembaca berbahasa Inggris” dengan nada seolah saya tak punya pilihan lain. “Cari penerjemah sekarang juga.” Sejujurnya saya agak terteror waktu itu. Hampir setiap bulan dia bertanya, sejauh mana prosesnya? Saya hanya membalas dengan basa-basi, sebab kemajuan saya bisa dibilang sangat lambat. Atau tak bergerak sama sekali. Bagaimana bisa bergerak, saya bahkan tak kenal penerjemah? Hingga akhirnya, setelah memperoleh kepastian dari Verso bahwa mereka akan menerbitkan karya saya (Lelaki Harimau/Man Tiger), saya memberanikan diri menghubungi beberapa penerjemah, untuk memberi contoh terjemahan 1-2 halaman. Contoh-contoh itu dikirim ke London (untuk Tariq) dan Los Angeles (untuk Ben). Kami akhirnya memilih Labodalih Sembiring untuk menerjemahkan karya tersebut (hampir dua tahun prosesnya, dan novel itu rencananya terbit 19 Mei 2015). Di hari yang sama ketika bertemu Dalih untuk membicarakan proyek tersebut, di Yogya, saya juga bertemu dengan Annie Tucker. Itu terjadi di awal 2012. Saya sudah berhubungan dengannya melalui surel selama beberapa minggu sebelumnya. Intinya, ia ingin menerjemahkan Cantik Itu Luka. Jujur saja, ini kebetulan. Kebetulan ada yang menyukai novel itu dan tertarik menerjemahkannya. Terjemahannya bagus dan saya suka. Tapi saya tak ingin proyek Annie berjalan seperti kasus-kasus sebelumnya, di mana proyek itu berjalan sendiri tanpa keterlibatan saya. Saya sudah sedikit mempelajari seluk-beluk soal penerjemahan dan penerbitan sehingga saya setidaknya tahu apa yang saya inginkan. Setidaknya, novel itu bisa saya bawa ke Verso juga, tapi jika ada kesempatan lain kenapa tidak diusahakan. Sebelum saya memberi izin Annie meneruskan terjemahan itu, saya meminta bertemu dengannya. Kami kemudian membuat kesepakatan. Saya ingin membagi kesepakatan saya di sini, karena saya pikir ini sangat penting dan siapa tahu bisa menjadi masukan untuk penulis lain. Ada dua syarat yang saya minta ke Annie: 1) Ia harus menyelesaikan terjemahan itu, tak peduli ia memperoleh dana (entah dari mana) atau tidak. 2) Saya tak ingin buku itu terbit di Indonesia. Saya hanya mau itu terbit di negara Berbahasa Inggris. Saya sadar, itu syarat berat. Annie merupakan penerjemah baru. Syarat pertama barangkali bisa dilakukannya, karena rasa senang dan hobi. Tapi syarat kedua? Seperti saya, ia juga tak kenal penerbit di luar. Termasuk di Amerika, tempat tinggalnya. Saya sendiri tak punya pilihan lain. Saya tak ingin karya saya diterbitkan dalam terjemahan, tapi tak dibaca. Saya ingin lebih serius soal ini. Tapi Annie ternyata menyanggupinya. Ia mengerjakannya di antara waktu luang mengerjakan desertasi. Ia mengajukan dana beasiswa untuk penerjemahan itu, dan beberapa ada yang lolos. Yang paling penting adalah ketika proyek itu memperoleh bantuan dana dari PEN Center Amerika. Draft terjemahan saya di sana dibaca salah satu orang penting di penerbitan sastra Amerika, Barbara Epler. Dia pemimpin New Directions. Dia editor yang mengakuisisi penulis-penulis seperti Roberto Bolaño dan Cesar Aira. Ketika ia menghubungi saya dan menyatakan minat untuk menerbitkan Beauty is a Wound, saya tahu saya tak mungkin menolaknya. Buku ini direncanakan terbit tahun depan. New Directions menginginkan buku itu terbit berdekatan dengan Indonesia sebagai tamu kehormatan di Frankfurt Bookfair, meskipun saya tak tahu, apa urusan buku saya, saya, dan acara itu. Pada saat yang sama, manuskrip Man Tiger rupanya beredar di beberapa editor penerbit Eropa. Salah satunya Sabine Wespieser Editeur dari Perancis, yang segera menghubungi saya dan berminat menerbitkan novel itu ke dalam bahasa Perancis (akan disusul dengan Cantik Itu Luka). Tak ada alasan untuk saya menolak, kan? Saya hanya memastikan bahwa saya ingin berkomunikasi dengan penerjemahnya. Nasihat Ben terus terngiang-ngiang, “Penerjemahan yang buruk akan meninggalkan kesan yang buruk tentang karyamu.” Selama hampir setahun proses penerjemahan, saya tak hanya berhubungan melalui surel dengan Pak Etienne Naveau, sang penerjemah, tapi juga telah bertemu dua kali di Jakarta. Saya tak tahu proses ini akan membawa saya (dan karya saya) ke mana. Jujur, sebenarnya saya hanya ingin menulis dan membaca saja, tapi urusan-urusan semacam ini pada akhirnya tak terelakkan. Dan tentu sama seriusnya. Dan naluri saya yang kemudian mengatakan: saatnya berhenti sejenak. Saya tak lagi membicarakan prospek menerjemahkan karya saya ke bahasa lain untuk sementara, setidaknya sampai edisi Inggris dan Perancis terbit. Mungkin saya salah. Tapi saya merasa dua bahasa itu merupakan salah dua pintu gerbang, yang harus dibuka lebih dulu sebelum membuka pintu-pintu yang lain. Semoga catatan saya bermanfaat untuk penulis-penulis lain. Saya akan senang sekali jika bisa melihat karya-karya penulis Indonesia beredar di rak toko-toko buku berbahasa asing, dan mereka dibicarakan bukan karena mereka penulis Indonesia, tapi sesederhana karena mereka penulis yang bagus.

Older posts

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑