Eka Kurniawan

Journal

Tag: Robert Musil

Günter Grass, Obituari

Saya tak ingat kapan pertama kali membaca The Tin Drum. Buku itu ada di rak buku saya, ada coretan-coretan saya di dalamnya. Tapi saat ini saya sedang tak mungkin untuk mengambilnya dari rak. Saya sedang di lobi sebuah hotel di daerah Kensington, London, jam 3 dinihari. Saya terbiasa bangun sangat pagi untuk menulis, untuk mengganti kebiasaan buruk lama “begadang” (yakni tidur menjelang dinihari), dan hanya beberapa jam sebelumnya mendengar kabar meninggalnya Günter Grass (usia 87), sang penulis. Bertahun-tahun lalu ketika mengunjungi Pramoedya Ananta Toer di rumahnya di Utan Kayu, Pram pernah memperlihatkan kepada saya satu lukisan di dindingnya. “Grass yang bikin,” kata Pram. Itu memang lukisan Grass, dihadiahkan kepada Pram ketika kedua penulis bertemu di Jerman. Ada dua hal setidaknya yang sering membuat saya iri kepada Grass. Yang pertama, luasnya keterampilan seni dia. Selain menulis novel, puisi, drama, dia juga membuat patung, karya grafis dan lukisan. Di kesusastraan, saya bahkan tak bisa menulis puisi! Dan di bidang seni rupa, ingin sekali saya punya studio kecil seperti miliknya untuk keisengan saya dengan grafis. Saya selalu tergila-gila dengan cetak saring dan cukil kayu, tapi tak pernah punya waktu (alasan para pemalas) untuk benar-benar melakukannya. Sumber keirian kedua, tentu saja watak kesusastraannya. Meskipun bisa dibilang saya tak memiliki pengetahuan melimpah mengenai kesusastraan Jerman, tapi jika membandingkannya dengan beberapa penulis Jerman lain, ada hal yang unik dalam dirinya. Saya sering membayangkan kesusastraan Jerman hampir mirip dengan filsafat Jerman: analitik, kontemplatif, memiliki skala yang “grande”. Membayangkan karya-karya Thomas Mann (The Magic Mountain), Robert Musil (The Man Without Qualities), Hermann Broch (Sleepwalker), sering sama “menakutkannya” dengan menghadapi kitab-kitab filsafat Kant, Hegel, dan kemudian Marx! Seperti saya menemukan sejenis keriangan dalam filsafat Jerman melalui Nietzsche, saya merasakan hal yang sama melalui novel-novel Grass dalam kesusastraan Jerman. Jujur, saya lebih sering membayangkan karya-karya Grass berada dalam tradisi Spanyol atau Inggris daripada Jerman. Pertama kali membaca The Tin Drum, kita sadar itu merupakan novel piqaresque, satu tradisi yang banyak berkembang di Spanyol (Don Quixote), Inggris (lihat beberapa karya Dickens), dan bahkan Amerika (Huckleberry Finn). Yang cerdas dari kisah Oskar Matzerath adalah, Grass berhasil mengelola kecenderungan picaresque yang seringkali memiliki watak kritis terhadap persoalan sosial, menjadi kendaraan untuk memotret sebuah zaman: terutama cikal-bakal dan memuncaknya kekuasaan Nazi. Setelah membaca beberapa karyanya yang lain, terutama yang paling saya suka The Flounder, kita juga segera menemukan kecenderungannya yang lain, yang membuat watak picaresque Grass semakin unik: fabel. Ya, selain meminjam alusi-alusi dari fabel, karya-karyanya juga memang sering dalam tingkat tertentu merupakan fabel. Tradisi picaresque dan fabel menciptakan dalam karya-karyanya sesuatu yang riang (meksipun humornya lebih seram gelap), kekanak-kanakan, ringan (meskipun hampir selalu dalam skala epik). Jarang saya melihat kualitas-kualitas semacam itu dalam karya penulis-penulis lain. Membaca Midnight’s Children Salman Rushdie barangkali bisa sedikit mengingatkan kita ke arah sana, meskipun Rushdie lebih sering disebut-sebut sebagai penulis realisme magis (label yang juga sebenarnya kerap ditimpakan juga kepada Grass), label yang dengan gampang sering diberikan orang asal menemukan elemen-elemen magis di dalam sebuah karya (jeritan si cebol Oskar bisa membuat kaca-kaca pecah berhamburan). Tapi bukankah fabel sejak awal sering muncul juga dengan keajaiban-keajaibannya? Grass saya rasa lebih banyak berutang kepada fabel, yang di tangannya, karya-karya itu menjadi fabel-fabel politik yang unik, dan telah memberi warna kesusastraan dunia di setengah terakhir abad kedua puluh. Oskar, mari tabuh beduk kecilmu untuk kepergiannya!

Robert Musil

Ia seorang pengamat yang tekun, tak terbantahkan. Tapi terutama ia pemotret yang jeli. Selepas itu, inilah yang bisa membuatmu sedikit menahan napas, ia bisa menjejerkan potongan-potongan gambar yang dihasilkannya dengan gambar-gambar lain, untuk menciptakan sejenis horor. Barangkali akan sulit untuk menyebut tulisan-tulisan pendek di The Posthumous Papers of A Living Author Robert Musil sebagai apa. Boleh disebut esai. Boleh disebut cerita mini. Bahkan mungkin puisi. Atau sekadar deskripsi pengamatannya atas sesuatu. Tapi siapa yang peduli dengan kotak-kotak semacam itu? Di sebuah kebun binatang di Italia, ia menggambarkan sebuah “pulau monyet” di mana tiga keluarga monyet berada. Satu kelompok tinggal di sebatang pohon mati, hanya tiang dan cabang yang menonjok langit. Mereka bagai pengintai, pengamat dan penjaga yang terus mengawasi seluruh koloni kecil itu. Kelompok lain tinggal di sejenis kandang tepat di bawah pohon, disebut sebagai istana. Mereka tampak seperti raja, ratu dan sang pangeran. Kelompok terbesar, monyet-monyet kecil, tinggal di selokan semen yang lebar, yang mengelilingi pulau itu sekaligus memisahkan pulau monyet dengan pengunjung kebun binatang. Sekilas pemandangan itu seperti pemandangan umumnya di semua kebun binatang. Tapi di tangan Musil, itu menjadi horor mengenai masyarakat dengan hirarki yang tegas, masyarakat dengan jurang-jurang di antara satu lapisan dan lapisan lainnya. Pulau monyet kecil ini memperlihatkan sejenis dunia Orwellian, dan Musil hanya perlu menuliskannya dalam lima paragraf saja. Lima paragraf yang penuh gaya, dan teror. Di tulisan berjudul “Flypaper”, kita bertemu jenis horor yang lain. Sebenarnya ia hanya menceritakan tentang seekor (atau beberapa ekor) lalat/serangga yang terjebak kertas-serangga (kertas berperekat untuk menangkap serangga). Saya rasa itu pemandangan biasa, kita sering menangkap lalat dengan cara itu. Tapi Musil mengajak kita melihat lalat yang terjebak ini lebih dekat, dengan kaca pembesar jika mungkin. Dari jarak yang sangat dekat itulah kita bisa melihat bagaimana kaki-kaki mereka, atau sayap mereka, terjebak di perekat. Bagaimana dalam keterkejutan yang singkat, mereka mencoba memberontak. Tapi pemberontakan mereka hanya membuat kaki atau sayap mereka terperangkap lebih dalam. Mereka menyadari kekeliruannya. Mereka mencoba mengumpulkan tenaga, mencoba lebih cerdik, dan dengan segenap kekuatan mereka mencoba membebaskan diri. Percuma. Mereka sudah terlampau rekat ke kematian. Mereka mulai kehilangan tenaga, dan harapan. Di titik inilah, dengan kaca pembesar, kita melihat makhluk-makhluk yang akhirnya menyerah kepada kematian. “Seperti pemanjat tebing karena rasa sakit di jarinya dengan penuh kesadaran melepaskan cengkeramannya,” tulis Musil, mencoba menjejerkan potret kecil tersebut. “Seperti orang tersesat di salju memutuskan berbaring seperti anak kecil.” Teror itu belum selesai. Pamungkasnya adalah ketika lalat itu akhirnya terdiam, seperti tidur, tapi jika kita melihat semakin dekat lagi, kita tahu masih ada yang bergerak. Seperti mata manusia yang terbuka-terpejam di tubuh yang mati. Tak heran jika manusia ini disebut sebagai salah satu penulis stylis terbesar. Prosa-prosanya tak pernah terasa berlebihan, tidak juga terasa kurang. Ia hanya perlu menangkap suatu lanskap, satu kejadian kecil, menuliskannya dengan penuh gaya, dan tiba-tiba potongan prosa itu bicara tentang ketakutan yang mendalam.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑