Buku pertama Raymond Queneau yang saya baca, ironisnya terbit tidak mempergunakan namanya (ia memakai nama Sally Mara), berjudul We Always Treat Women Too Well. Isi ceritanya agak gokil, bergaya novel bubur kertas (boleh enggak sih, pulp fiction diterjemahkan begitu?), yang memperlihatkan kecenderungan Queneau untuk bereksperimen dengan bebas dan ringan, membuatnya menjadi salah satu figur menonjol dalam kesusastraan Prancis (tapi karena gayanya yang nyeleneh seperti itu, mungkin menjadi sulit diterima di belahan dunia lain). Novel ini secara ringkas adalah: “Sebuah kantor pos di tengah kota Dublin diserang sekelompok orang bersenjata, yang menyebut dirinya sebagai pejuang Republik Irlandia. Mereka berhasil membunuh beberapa pegawai pos, dan dengan cepat juga adu tembak dengan tentara Britania yang mengepung mereka. Sialnya, ada seorang gadis pegawai pos yang terjebak di dalam gedung. Mengingat sucinya perjuangan mereka, para pemberontak ini tak mau membunuh seorang gadis. Tapi apa daya, satu orang malah tergoda kebinalan gadis itu dan kehilangan keperjakaan, dan teman lainnya menyusul. Ketika tentara Britania berhasil melumpuhkan mereka, dan dua pemberontak menyerah, mereka berharap si gadis tak mengatakan apa-apa. Itu bisa menyembunyikan aib si gadis, sekaligus menasbihkan mereka sebagai pahlawan suci yang menjaga kehormatan seorang gadis. Sial, si gadis menipu semua pihak dengan mangatakan, para pemberontak mencoba menyibakkan gaunnya.” Bisa membayangkan isi novelnya? Atau cara saya meringkas masih terlalu kering? Baik, mari saya coba lagi: “Aku sembunyi di toilet perempuan, hingga mereka menemukanku. Para pemberontak yang menyedihkan. Mereka mencoba menginterogasiku, tapi sekilas saja aku tahu betapa naif orang-orang ini. Mereka akan berakhir menjadi bangkai, mereka tak akan mungkin mengalahkan pasukan Britania. Tapi masalahnya, mungkin saja aku juga menjadi bangkai, ditembak pemberontak atau tertembak pasukan pemerintah. Aku harus berusaha bertahan hidup. Aku menggoda satu di antara mereka, yang napasnya langsung tersengal begitu menyentuh tubuhku. Lututnya gemetar dan ia meminta tobat berkali-kali, meskipun tanpa daya menghampiriku. Kemaluannya telah mengendalikannya. Dan si bujang ini memasuki kemaluanku, hanya dalam hitungan waktu yang ringkas. Aku bisa menaklukkan mereka. Dan menyadari hal ini, mereka mulai merengek. Memintaku untuk tak mengatakan apa pun yang telah terjadi, jika mereka tertangkap. Menjadi pahlawan yang terhormat jauh lebih penting buat mereka daripada nyawa atau apa pun. Mereka pikir aku tak akan mempermalukan diri sendiri. Tentu saja itu benar. Aku tak akan mempermalukan diriku, tapi aku akan mempermalukan mereka. Dalam hidup dan mati.” Masih terasa enggak asyik? Jangan kuatir, kamu bisa menceritakan kisah tersebut dengan caramu sendiri, dengan berbagai gaya. Saya menyadari hal itu setelah membaca buku Raymond Queneau yang lain (kali ini benar-benar mempergunakan namanya sendiri), berjudul Exercises in Style. Itu benar-benar buku latihan yang penuh gaya, yang saya rasa wajib dibaca semua penulis, dan dianggap sebagai mahakarya Queneau. Buku ini lebih ajaib dari buku pertama yang saya baca, yang sok ingin jadi novel bubur kertas itu, karena hanya menceritakan kisah yang lebih ringkas: tentang seorang lelaki naik bus, kesal dengan penumpang lain, lalu dua jam kemudian ketemu temannya yang memberinya saran untuk menambahi kancing di mantelnya. Cuma itu! Yang menjadikannya unik, adegan yang bisa ditulis dua paragraf tersebut ditulis sebanyak 99 kali dengan gaya yang berbeda. Dari gaya metaforis, mimpi, sampai gaya orang menulis blurb di belakang buku. Juga gaya surat resmi sebuah perusahaan dan teks pidato. Serius tapi konyol minta ampun. Setidaknya, buku ini bisa menjadi bahan ejekan: berapa kali kamu sudah mencoba menuliskan ceritamu dengan cara yang berbeda hingga menghasilkan tulisan paling asyik?