Eka Kurniawan

Journal

Tag: Pu Songling

Beberapa Tesis Tentang Pu Songling (2)

Baca: Beberapa Tesis Tentang Pu Songling (1)

(6) Apa yang kita pelajari dari cerita rakyat, dongeng, adalah bahwa cerita berbeda dengan berita, tak pernah memiliki dorongan kuat untuk menjelaskan segala-galanya. Berita memiliki karakter yang sebaliknya, sebagai sebuah wahana informasi, ia harus jelas dalam dirinya sendiri. Apa yang buruk dari kecenderungan seni bercerita modern, tak lain adalah pengaruh dari kecenderungan berbagi informasi ini, bahwa segala sesuatu harus jelas dalam dirinya sendiri, termasuk cerita. Cerita-cerita Pu Songling, sebagaimana dongeng dan cerita tradisional, tak memiliki dorongan untuk menjelas-jelaskan segala sesuatu. Cerita adalah cerita, demikian adanya. Jika banyak bagian di dalam cerita tak jelas mengikuti alur akal-budi manusia, ya karena itu memang cerita. Sesuatu yang apa adanya. Saya melihat salah satu penulis kontemporer dewasa ini yang sedang mengundang banyak perhatian, César Aira, kembali merayakan hakekat dongeng dalam banyak novelnya. (7) Kita tahu, “sastra” awalnya merujuk kepada “petunjuk” atau “tuntunan”. Petunjuk atau tuntunan ini bisa berupa petunjuk praktis, bisa pula merupakan ujaran nilai-nilai. Saya ingin menceritakan cerita berjudul “Dung-Beetle Dumpling”. Du Xiaolei menyuruh isterinya membuat dumpling untuk ibunya yang buta. Tapi dasar isterinya merupakan menantu kurang ajar, ia malah mencampur daging untuk dumpling itu dengan serangga (pemakan kotoran). Tentu saja si mertua yang buta, mencium bau dumpling itu segera tahu dan tidak memakannya, menyembunyikannya untuk dilaporkan kepada Du Xiaolei. Ketika tahu hal ini, Du Xiaolei marah, tapi untuk menghormati ibunya, ia marah dengan cara membisu. Hingga ia mendengar isak isterinya. Tapi ketika ia menoleh, yang ia temukan ternyata seekor babi dengan kaki berbentuk manusia. Dari cerita itu, tentu saja kita tahu, ini cerita tentang moral. Meskipun babi itu kemudian dipertontonkan di jalanan sebagai pelajaran bagi rakyat, hal baik dari cerita Su Pongling ini, kita tak menemukan kalimat, “Begitulah hukuman bagi menantu yang tak berbakti,” sebagaimana biasa kita temukan di dongeng-dongeng (terutama cerita anak) modern yang ditulis dengan buruk. Yang ditulis oleh para penulis yang tak percaya kepada kekuatan cerita, sehingga ia merasa perlu menuliskan satu pasal petunjuk di akhir cerita. Para penulis, jika Anda tak percaya dengan kekuatan ceritamu, sebaiknya berhenti menulis cerita. Cobalah menulis buku manual saja. (8) Terakhir, tradisi kesusastraan yang besar, saya rasa ditopang tak hanya oleh tradisi yang panjang, tapi juga akses yang mudah terhadap tradisi tersebut. Kesusastraan Cina, di luar Strange Tales from a Chinese Studio, sangat bangga dengan empat (sering juga ditambahkan menjadi lima) novel klasik mereka: Water Margin (atau kita mengenalnya sebagai Tepi Air), Romance of the Three Kingdom (Kisah Tiga Kerajaan atau Sam Kok), Journey to the West (ingat Sun Gokong?) dan Dream of the Red Chamber (saya belum pernah melihat versi saduran Indonesianya). Karya-karya ini tak hanya mudah diperoleh oleh orang Cina, tapi bahkan oleh orang dari mana-mana. Salah satu persoalan terbesar tradisi kesusastraan kita, saya rasa, kita tak hanya kurang merawat dengan baik tradisi ini, tapi bahkan yang tercatat pun tak mudah untuk memperolehnya. Di mana anak sekolah kita bisa membaca Ngarakrtagama, misalnya? Jika kita mengharapkan sebuah tradisi kesusastraan nasional yang besar, kita tak hanya perlu mencuri dan merampoknya dari kesusastraan negeri lain, tapi juga sangat perlu untuk memiliki pondasi dasar yang kokoh, dan itu seharusnya tersedia dengan mudah.

Beberapa Tesis Tentang Pu Songling (1)

(1) Para pendongeng, sejatinya merupakan pengumpul kisah. Ia mendengar sebuah kisah dari orang lain, yang mungkin mengalami peristiwa di dalam kisah tersebut, atau mendengarnya dari orang lain lagi yang mengalaminya, lalu si pendongeng menyampaikan kisah tersebut dengan caranya sendiri. Kadang-kadang si pendongeng mencampurkan kisah dari satu orang dengan kisah dari orang lain, yang mungkin tak berhubungan sama sekali, sehingga menjadi satu kisah yang lain. Walter Benjamin pernah menyinggung soal ini ketika bicara mengenai penulis Rusia, Nikolai Leskov, dalam esai terkenal berjudul “The Storyteller”. Hal ini benar pula menyangkut Pu Songling, penulis Strange Tales from a Chinese Studio (1766). (2) Apa yang disebut cerita aneh adalah, kisah dimana hal-hal yang tidak wajar, hal-hal yang asing, menunggangi hal-hal yang kita anggap wajar atau kita akrabi. Misalnya dalam kisah mengenai lelaki bangsawan yang mata-ke-ranjang, “Talking Pupils”, yang karena menggoda seorang calon pengantin, disembur debu yang telah dijampi-jampi. Sejak saat itu, matanya jadi tak bisa melihat. Tapi di dalam matanya tinggal dua makhluk asing, yang ngomel-ngomel karena mereka juga tak bisa keluar melihat dunia. Akhirnya kedua mahkluk itu tinggal di satu mata dan membuat jendela, atau pintu, agar bisa jalan-jalan keluar. Si sosok bangsawan akhirnya bisa melihat kembali dan tobat. Makhluk kecil di dalam mata merupakan elemen yang tidak wajar, apalagi sampai bicara. Tapi membuat jendela atau pintu dari selaput yang menutupi merupakan elemen yang mudah dimengerti. Jika hal-hal tidak wajar melakukan tindakan-tindakan yang juga tidak wajar, itu tak akan menjadi kisah aneh, sebab kita dengan sadar menempatkan diri ke dunia yang berbeda. (3) Teori-teori cerita-rekaan modern seringkali memperumit masalah dengan menuntut banyak hal: perkembangan karakter, dramatisasi, sudut pandang, dan lain sebagainya. Pu Songling menunjukan betapa bercerita bisa sangat sederhana. Betapa cerita bisa disampaikan dalam beberapa paragraf, dengan karakter yang datar (hanya disebutkan siapa dan bagaimana tokoh tersebut). Yang terpenting adalah apa yang terjadi, mengapa terjadi, dan bagaimana akhirnya. Plot. Ini berlaku untuk banyak cerita Jorge Luis Borges, dan kita tak heran mengapa penulis Argentina ini merupakan salah satu penggemar garis keras Pu Songling. (4) Cerita yang baik, saya rasa merupakan peristiwa, atau beberapa peristiwa, yang bisa dilihat dengan lebih dari satu cara pandang. Dalam kisah “The Painted Wall”, Zhu terpesona oleh gambar bidadari di dinding kuil sehingga ia terperosok masuk ke kahyangan dan bercinta dengan bidadari itu. Selama kepergiannya ke kahyangan, ia menghilang dari hadapan temannya di dunia nyata, yang mencari-carinya. Setelah biksu di kuil tersebut mengetuk dinding kuil, kembalilah Zhu ke dunia nyata. Ia menceritakan pengalaman anehnya kepada biksu dan temannya, dan bertanya sebenarnya apa yang sesungguhnya terjadi. Sang biksu hanya berkata: “Sumber ilusi berada di dalam manusia sendiri. Siapa aku untuk menerangkan hal seperti ini?” Setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda atas peristiwa, itulah mengapa peristiwa menjadi cerita. (5) Yang aneh, seringkali sekaligus merupakan sesuatu yang lucu. Kisah “A Fatal Joke” merupakan contoh terbaik mengenai hal ini. Seorang lelaki bernama ‘X’, terbunuh oleh gerombolan bandit. Tapi ketika keluarga hendak menguburnya, lelaki itu masih memperlihatkan tanda-tanda kehidupan. Keluarga akhirnya menutup luka sayatan pedang di tubuhnya dan merawatnya hingga sembuh. Sepuluh tahun kemudian, seorang temannya menceritakan kisah lucu, dan ia tertawa terbahak-bahak, hingga bekas lukanya terbuka kembali. Darah menyembur deras dan ia mati. Ayahnya memutuskan untuk menuntut si pembuat lelucon atas pembunuhan itu. (6) Seringkali plot pun bahkan sama sekali tak perlu. Yang kita perlukan hanyalah menggambarkan saja apa yang terlihat. Seorang pendongeng kadangkala hanyalah seorang pelapor satu pemandangan. Misalnya ia pernah melihat seorang pengamen dengan kodok-kodoknya yang bisa memainkan bunyi layaknya orkestra, dan ia hanya menuliskan bagaimana pengamen itu membuat kodok-kodoknya berbunyi. Ini mengajarkan kita satu hal: kekuatan suatu karya sastra, pertama dan terutama, ada di elemen paling mendasar. Kata dan bagaimana kita mempergunakan kata-kata.

Baca: Beberapa Tesis Tentang Pu Songling (2)

Yang Berguna Sekaligus Omong-Kosong

Seperti apa kesusastraan ideal untuk saya? Saya akan menjawabnya: kesusastraan yang berguna sekaligus omong-kosong. Saya tahu, itu terdengar kontradiktif dan membingungkan, dan memang begitu. Saya tak akan menyangkalnya. Jika Anda mengikuti jurnal saya, memeriksa dengan teliti, Anda bisa menyadari kecenderungan saya tersebut dengan segera. Pertama. Saya mungkin tak terlalu percaya bahwa karya sastra bisa mengubah dunia (meminjam ungkapan Don DeLillo, bom bunuh diri, atau dua pesawat yang menabrak menara kembar barangkali bisa mengubah dunia lebih dahsyat). Satu-dua karya sastra barangkali pernah mengubah dunia, tapi saya tak terlalu yakin itu tujuan seluruh karya sastra. Meskipun begitu, saya percaya karya sastra bisa mengubah cara orang memandang dunia (dan dengan cara seperti itulah barangkali dunia bisa berubah). Saya percaya, sastra yang baik seharusnya merupakan medan pertarungan gagasan, tempat virus-virus kecil cara kita melihat dunia disebarkan dari satu kepala manusia ke kepala manusia yang lain. Gagasan itu merupakan sesuatu yang besar dan kompleks atau kecil dan sederhana, itu perkara lain. Saya berkali-kali mengatakan, membayangkan genre sastra seperti filsafat. Saya tak terlalu suka karya sastra yang penuh khotbah dan penuh pesan moral. Bukan saya anti khotbah dan moral, tapi saya menyukai karya sastra yang berkhotbah dan menyodorkan pesan moral tanpa saya sadar karya itu tengah berkhotbah dan menggelontorkan pesan moral. Anda harus menjadi penulis hebat untuk membuat karya sastra semacam itu. Kedua. Tapi di sisi lain, saya juga menyukai karya sastra yang omong-kosong. Nonsens. Tentu saja kita bisa berdebat, benarkah di dunia ini ada hal-hal yang benar-benar kosong? Mungkin sebenarnya tidak ada. Jika saya mengatakan sastra yang omong-kosong, itu semata-mata saya merujuk ke sastra yang ditulis seolah-olah untuk main-main saja. Sekali waktu saya pernah mengatakan, kesenian (juga kesusastraan), bagi saya ibarat permainan untuk anak-anak. Kadang-kadang kita tak memerlukan tujuan apa pun, seperti anak-anak dengan bola yang ditendang-tendang sesuka kaki mereka. Kita melakukannya hanya karena kita senang. Kita melakukannya karena sadar, betapa kelabunya kehidupan kita tanpa itu, sekelabu anak-anak yang tak pernah bermain. Begitulah, jika saya melihat diri saya sendiri, saya selalu merasa berada dalam ketegangan antara dua sudut itu: berpikir tentang sastra sebagai sesuatu yang berguna, sesuatu dimana saya ingin menyampaikan gagasan saya, tapi di sisi lain, juga tentang sastra yang sekadar omong-kosong belaka, semata-mata sejenis permainan. Kesusastraan saya, saya bayangkan, sebagai sebuah ketegangan untuk menjadikan ini sebagai suatu proses bermain-main yang serius, atau keseriusan yang main-main. Sekali lagi, itu terdengar kontradiktif, memang. Barangkali seperti itulah, saya. Saya tak tahu apakah saya mampu mengatasi ketegangan kreatif semacam itu atau tidak. Saya tak berusaha menghindarinya, dan memilih untuk selalu berada di tengah ketegangan tersebut. Demikian pula bacaan-bacaan saya. Saya, barangkali seperti kebanyakan pembaca, selalu mencoba “menebak” apa yang ada di pikiran penulis, dan mencoba mengujinya dengan pikiran sendiri. Saya mencoba menafsir Don Quixote, seolah saya bicara dengan Cervantes. Mencoba merasakan amarah Moby Dick, seolah tengah berdebat dengan Melville. Tapi adakalanya saya membaca karya-karya tertentu, yang saya perlakukan sebagai omong-kosong belaka, hanya untuk membuat saya tertawa atau mengernyitkan dahi. Misalnya saya membaca Strange Tales from a Chinese Studio, karya Pu Songling (1640-1715), yang isinya hanya kisah-kisah konyol yang saya tak perlu pusing memikirkan apakah ada maknanya atau tidak. Bayangkan saja sebuah kisah tentang seorang yang sedang semadi, kemudian mulai mendengar suara-suara aneh. Suara-suara yang kurang-lebih mengatakan sesuatu akan terbentuk. Ia penasaran dan terus semadi, untuk melihat sesuatu itu membentuk. Hingga muncullah makhluk-makhluk kecil. Ia kaget dan mengamati makhluk-makhluk itu, penasaran ingin tahu apa. Tapi pada saat yang sama, pintu diketuk tetangganya. Si makhluk-makhluk kecil panik dan berlarian (seperti tikus mencari lubang untuk kabur), dan menghilang. Cerita selesai. Pikirkan saja, cerita macam apa itu? Nyaris tanpa makna sama sekali. Seperti anak-anak bermain kelereng, kadang-kadang saya membaca cerita omong-kosong semacam itu sesederhana hanya karena itu menyenangkan. Jika harus disederhanakan kembali, kesusastraan ideal saya barangkali ini: omong-kosong yang bisa mengganggu isi kepala Anda. Atau: usaha mengganggu isi kepala Anda dengan cara yang penuh omong-kosong. Sebagaimana segala sesuatu yang ideal, kesusastraan macam begitu jauh membumbung di atas langit. Mari kita kembali menginjakkan kaki ke tanah dan menghadapi problem besar setiap penulis: mewujudkan apa yang ada di kepala ke dalam kata-kata.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑