Journal

Günter Grass, Obituari

Saya tak ingat kapan pertama kali membaca The Tin Drum. Buku itu ada di rak buku saya, ada coretan-coretan saya di dalamnya. Tapi saat ini saya sedang tak mungkin untuk mengambilnya dari rak. Saya sedang di lobi sebuah hotel di daerah Kensington, London, jam 3 dinihari. Saya terbiasa bangun sangat pagi untuk menulis, untuk mengganti kebiasaan buruk lama “begadang” (yakni tidur menjelang dinihari), dan hanya beberapa jam sebelumnya mendengar kabar meninggalnya Günter Grass (usia 87), sang penulis. Bertahun-tahun lalu ketika mengunjungi Pramoedya Ananta Toer di rumahnya di Utan Kayu, Pram pernah memperlihatkan kepada saya satu lukisan di dindingnya. “Grass yang bikin,” kata Pram. Itu memang lukisan Grass, dihadiahkan kepada Pram ketika kedua penulis bertemu di Jerman. Ada dua hal setidaknya yang sering membuat saya iri kepada Grass. Yang pertama, luasnya keterampilan seni dia. Selain menulis novel, puisi, drama, dia juga membuat patung, karya grafis dan lukisan. Di kesusastraan, saya bahkan tak bisa menulis puisi! Dan di bidang seni rupa, ingin sekali saya punya studio kecil seperti miliknya untuk keisengan saya dengan grafis. Saya selalu tergila-gila dengan cetak saring dan cukil kayu, tapi tak pernah punya waktu (alasan para pemalas) untuk benar-benar melakukannya. Sumber keirian kedua, tentu saja watak kesusastraannya. Meskipun bisa dibilang saya tak memiliki pengetahuan melimpah mengenai kesusastraan Jerman, tapi jika membandingkannya dengan beberapa penulis Jerman lain, ada hal yang unik dalam dirinya. Saya sering membayangkan kesusastraan Jerman hampir mirip dengan filsafat Jerman: analitik, kontemplatif, memiliki skala yang “grande”. Membayangkan karya-karya Thomas Mann (The Magic Mountain), Robert Musil (The Man Without Qualities), Hermann Broch (Sleepwalker), sering sama “menakutkannya” dengan menghadapi kitab-kitab filsafat Kant, Hegel, dan kemudian Marx! Seperti saya menemukan sejenis keriangan dalam filsafat Jerman melalui Nietzsche, saya merasakan hal yang sama melalui novel-novel Grass dalam kesusastraan Jerman. Jujur, saya lebih sering membayangkan karya-karya Grass berada dalam tradisi Spanyol atau Inggris daripada Jerman. Pertama kali membaca The Tin Drum, kita sadar itu merupakan novel piqaresque, satu tradisi yang banyak berkembang di Spanyol (Don Quixote), Inggris (lihat beberapa karya Dickens), dan bahkan Amerika (Huckleberry Finn). Yang cerdas dari kisah Oskar Matzerath adalah, Grass berhasil mengelola kecenderungan picaresque yang seringkali memiliki watak kritis terhadap persoalan sosial, menjadi kendaraan untuk memotret sebuah zaman: terutama cikal-bakal dan memuncaknya kekuasaan Nazi. Setelah membaca beberapa karyanya yang lain, terutama yang paling saya suka The Flounder, kita juga segera menemukan kecenderungannya yang lain, yang membuat watak picaresque Grass semakin unik: fabel. Ya, selain meminjam alusi-alusi dari fabel, karya-karyanya juga memang sering dalam tingkat tertentu merupakan fabel. Tradisi picaresque dan fabel menciptakan dalam karya-karyanya sesuatu yang riang (meksipun humornya lebih seram gelap), kekanak-kanakan, ringan (meskipun hampir selalu dalam skala epik). Jarang saya melihat kualitas-kualitas semacam itu dalam karya penulis-penulis lain. Membaca Midnight’s Children Salman Rushdie barangkali bisa sedikit mengingatkan kita ke arah sana, meskipun Rushdie lebih sering disebut-sebut sebagai penulis realisme magis (label yang juga sebenarnya kerap ditimpakan juga kepada Grass), label yang dengan gampang sering diberikan orang asal menemukan elemen-elemen magis di dalam sebuah karya (jeritan si cebol Oskar bisa membuat kaca-kaca pecah berhamburan). Tapi bukankah fabel sejak awal sering muncul juga dengan keajaiban-keajaibannya? Grass saya rasa lebih banyak berutang kepada fabel, yang di tangannya, karya-karya itu menjadi fabel-fabel politik yang unik, dan telah memberi warna kesusastraan dunia di setengah terakhir abad kedua puluh. Oskar, mari tabuh beduk kecilmu untuk kepergiannya!



Standard
Journal

Cerita-cerita Seram Riyono Pratikto, Hal-hal yang Kita Tahu, Hal-hal yang Kita Tidak Tahu, dan Kenapa Kita Takut

Kadang-kadang ada hari-hari yang terasa kelabu, tak menggairahkan, dan membosankan. Hari ini merupakan hari semacam itu bagi saya. Saya memutuskan untuk mampir ke toko buku bekas, dan terhibur menemukan buku Si Rangka karya Riyono Pratikto. Sepanjang siang saya menghabiskan waktu membacanya dan teringat beberapa hari lalu, tanpa sengaja saya mencuri dengar pembicaraan seorang penulis (saya rasa seorang pemula) mengenai resep menulis cerita seram. Menurutnya, cerita seram dewasa ini, “Yang penting bikin kaget.” Saya tersenyum dan membayangkan film-film horor yang menjadi tren belakangan, yang sering membuat kaget penonton dengan musik menggelegar, atau kemunculan sosok yang tiba-tiba (bisa hantu, bisa pula bukan). Ya, tentu saja itu salah satu resep membuat takut orang. Tapi menurut saya, “bikin kaget” merupakan resep cerita seram paling dangkal dan paling tidak mengasyikkan. Kenapa? Sebab cerita semacam itu tak bisa dinikmati berkali-kali. Efek takutnya semakin berkurang karena makin lama kita menjadi tidak kaget, dan yang lebih menyebalkan, cerita seperti itu tak meninggalkan gaung apa pun setelah selesai membacanya. Kita akan memamahnya, setelah itu melepehkannya ke keranjang sampah. Resep klasik menulis cerita seram yang lebih keren, paling tidak dari pengalaman baca saya, tentu saja bermain di ranah “tahu” dan “tidak tahu”. Banyak kisah-kisah seram klasik, berhasil memainkan hal ini. “Tahu” artinya, kita sebagai pembaca menghadapi sesuatu yang memang telah kita ketahui akan memberi pengalaman yang menakutkan. Misalnya ada seorang pembunuh berdarah dingin yang selalu makan korbannya, dan senantiasa lapar setiap melihat manusia. Orang ini dikurung di satu sel. Lalu kita dipaksa masuk ke sel yang sama dan dikurung di sana bersamanya. Kita akan merasa takut, karena kita “tahu” apa yang akan terjadi. Mengelola “pengetahuan” ini gampang-gampang susah. Gampang, karena rasa takut itu sudah mendekam di kepala pembaca. Susah, karena sebagaimana pengetahuan apa pun, rasa takut karena tahu akan berbeda-beda berdasarkan pengalaman masing-masing orang, dan terutama juga dipengaruhi oleh kultur. Orang yang tak pernah tahu bahwa manusia di dalam sel itu pembunuh dan pemakan manusia, tentu saja tak akan setakut orang yang tahu. Demikian juga dengan hantu-hantu: kuntilanak belum tentu membuat orang Eropa takut, sebagaimana vampir belum tentu membuat takut kita. Sebagian besar dari kita belum pernah melihat kuntilanak, tapi “pengetahuan” akan kuntilanak sebagai sumber ketakutan, secara kultur sudah tertanam di pikiran kita. Kisah-kisah seram tentang ini, tentu bermain di ranah “tahu”. Resep lain, di antara semuanya saya rasa ini merupakan ketakutan paling alamiah yang bisa melintasi sekat-sekat pengalaman maupun kultur: bermain di wilayah “hal-hal yang kita tidak tahu”. Cerpen-cerpen Riyono Pratikto dalam Si Rangka (pertama kali terbit tahun 1958), merupakan harta karun langka dalam kesusastraan kita, terutama dalam genre “cerita-cerita seram” (istilah yang diberikan H.B. Jassin kepadanya), banyak bermain di wilayah ini. Di cerpen yang berjudul “Si Rangka”, misalnya, kita dihadapkan oleh kisah sepasang suami-isteri yang baru menikah dan menempati rumah baru. Setiap malam, si isteri selalu mendengar suara biola menyayat-nyayat dari balik tembok. Ia tak tahu siapa yang bermain biola, dan ketidak-tahuan inilah sumber ketakutannya. Tapi ketakutan ini berlipat di pihak si suami. Ia tak pernah mendengar suara biola itu, jadi ia “tak tahu” apa yang sedang dialami isterinya. Praktikto tidak bermain di hantu-hantu “kultural” yang diakrabi pembacanya. Ia tampaknya tak tertarik bermain di wilayah “tahu”, dan justru di sinilah kenapa cerita-cerita seramnya tampak istimewa sekaligus modern di waktu bersamaan. Tak heran jika Pramoedya memujinya sebagai “mempunyai tempat tersendiri, dan seakan ia membuat dunia tersendiri.”



Standard
Journal, Tanya dan Jawab

Tanya-Jawab: Apakah Kemampuan Menulis Saja Tidak Cukup untuk Menciptakan Karya Penting?

Bernard Batubara: Naguib Mahfouz adalah novelis yang karyanya dianggap kontroversial dan masuk daftar buruan kelompok Islam fundamentalis di negaranya. Orhan Pamuk sangat kritis dan diperkarakan oleh kelompok nasionalis di Turki ke meja persidangan gara-gara di sebuah wawancara sempat berbicara tentang pembantaian kaum Armenia pada masa pemerintahan Ottoman. Pramoedya Ananta Toer ditangkap dan dibuang ke Pulau Buru karena karya-karyanya ditentang oleh pemerintah Orde Baru. Pertanyaan saya: Apakah hanya dengan menjadi ‘berbahaya’ seseorang dapat menjadi pengarang besar? Apakah kemampuan menulis saja tidak cukup untuk menciptakan karya penting dan meletakkan nama kita di dalam sejarah kesustraan, baik dalam negeri maupun dunia? Apakah tidak ada tempat di dunia kesusastraan bagi penulis yang ingin hidup biasa-biasa saja dan tenang-tenang saja?

Jika yang kamu maksud ‘berbahaya’ adalah bermasalah dengan penguasa atau masyarakat, ya jelas tidak harus begitu. Banyak penulis besar, dengan karya besar, hidup relatif biasa-biasa saja. Franz Kafka, jika kita membaca biografinya, lebih sering bermasalah dengan ayahnya, pekerjaannya, dan tunangannya, daripada dengan negara maupun masyarakat, tapi kita tahu pengaruhnya terhadap kesusastraan dunia bisa dikatakan sangat besar. Shakespeare dalam tingkat tertentu bahkan menikmati hidupnya sebagai penulis sekaligus selebritas, bisa dibilang kaya-raya dan diakui oleh kerajaan sehingga ia memperoleh gelar kebangsawanan. Hidupnya baik-baik dan tenang-tenang saja. Dan kita bisa sebut bahwa separuh penulis di dunia ini bernenek-moyang kepadanya. Dan Mo Yan, yang belum lama ini memperoleh Nobel Kesusastraan, saya kira juga menikmati hidup yang tenang-tenang saja. Memang ada karyanya yang pernah dilarang (The Garlic Ballads diterjemahkan melalui edisi Taiwan yang tidak disensor, seingat saya), tapi tetap saja ia bisa dibilang hidup tenang-tenang saja. Sebab kita tahu dia “pejabat” pemerintah dan hubungannya dengan kekuasaan cukup akrab. Daftar ini bisa sangat panjang, tentu. Hubungan tidak mesra antara penulis (dan intelektual secara umum) dengan kekuasaan dan masyarakat, selain itu, saya kira ada kaitan yang erat juga dengan faktor penerimaan lingkungan tertentu terhadap gagasan-gagasan baru ataupun yang berbeda. Ketika Jose Saramago menerbitkan The Gospel According to Jesus Christ, sudah jelas menimbulkan reaksi yang keras dari umat Katolik, tapi saya tak pernah mendengar ada “fatwa mati” ditujukan kepadanya, dan novel itu beredar dengan bebasnya. Hal ini berbeda ketika Salman Rushdie menerbitkan The Satanic Verses, yang kita tahu telah membuat penulisnya harus bersembunyi bertahun-tahun. Sebagai seorang muslim, saya menikmati novel itu, menganggapnya sebagai “inside joke” (sesuatu yang hanya bisa dinikmati oleh sesama muslim yang mengerti) tentang insiden ayat palsu yang diturunkan oleh setan, tanpa harus mengikis rasa hormat kepada Rasul (bahkan meskipun Rushdie bermaksud menghina, saya tak akan membiarkan diri saya terhasut olehnya). Jika semua muslim bisa menerima dengan cara seperti itu, ya barangkali Rushdie tak harus sembunyi ke mana-mana. Dan mari kita berandai-andai tentang Pamuk: seandainya ia penulis Amerika dan ia bilang, “Kaum kulit putih Amerika telah membantai orang-orang Indian hingga banyak suku-suku mereka punah,” apa yang akan terjadi? Saya yakin tak ada yang menggiringnya ke pengadilan. Saya tak bermaksud mengagung-agungkan orang Amerika, toh di bagian lain, mereka juga punya kekonyolannya sendiri. Dan tentang Pramoedya, dia relatif hidup tenang-tenang saja sebelum Soeharto berkuasa, dan baik-baik saja setelah Soeharto tumbang. Kita perlu bersyukur bahwa saat ini kita relatif bisa mengatakan banyak hal. Kita bisa bilang negara bertanggung jawab terhadap ratusan ribu (atau jutaan) simpatisan komunis yang dibantai. Kita juga bisa bilang, rakyat Papua berhak menentukan nasibnya sendiri. Meskipun ya, tampaknya kita masih tak akan aman sentosa berkeliaran di jalan dengan kaus bergambar palu dan arit. Yang perlu diingat, ada banyak penulis dibuang ke Pulau Buru bersama Pramoedya, tapi kenyataannya bisa dibilang hanya Pramoedya yang “dibaca”. Tapi mari kita bicara sesuatu yang lebih mendasar. Menurut saya, pada dasarnya semua penulis bisa dianggap berbahaya. Kenapa? Sebab tugas utama seorang penulis adalah menularkan gagasan dari dirinya ke orang lain. Dan gagasan yang tertanam ke pikiran orang lain, seringkali lebih permanen dan membahayakan melebihi virus yang menyusup ke tubuh. Tentu saja ini terlepas dari fakta bahwa ada gagasan yang sederhana dan ada gagasan yang kompleks, besar, revolusioner, aneh, dan macam-macam lainnya. Sebuah novel barangkali bisa mengubah seorang yang rasis menjadi toleran, sebuah puisi barangkali bisa mengubah sebaliknya, yang toleran menjadi homofobia, misalnya. Adakah yang lebih berbahaya daripada virus pikiran? Virus pikiran ini bisa berkembang dengan wajar di masyarakat yang bisa menerima gagasan baru dan perbedaan, dan menciptakan dialog yang sehat. Tapi di masyarakat atau komunitas yang tak siap, seringkali menciptakan benturan dan tak jarang menimbulkan kekerasan (penulis terpaksa eksil, dipenjara, dibunuh, karena gagasan mereka tak bisa diterima). Ketika benturan-benturan ini terjadi, hanya ada dua hal bisa dilakukan seorang penulis: tetap tegak dengan keyakinannya, atau merunduk dan menyerah kepada tekanan. Perbedaan keduanya akan menujukkan perbedaan kepribadian mereka, yang barangkali sedikit banyak juga memengaruhi kepada etos dan karya mereka. Sekali lagi, tentu saja seorang penulis bisa hidup biasa-biasa dan tenang-tenang saja, dan banyak contoh kehidupan seperti itu. Tapi di saat-saat tertentu, kita juga melihat ada penulis (dan kaum intelektual) menempuh tradisi Socrates, ketika ada yang harus dikatakan, mereka memilih untuk mengatakannya apa pun risikonya. Sekarang untuk pertanyaan tersisa, Apakah kemampuan menulis saja tidak cukup untuk menciptakan karya penting dan meletakkan nama kita di dalam sejarah kesustraan, baik dalam negeri maupun dunia? Saya ingin menjawabnya melalui analogi. Apakah kemampuan berenang saja tidak cukup untuk seekor ikan mencatatkan namanya di sejarah kelautan? Saya tak ingin menjawab dengan cukup atau tidak cukup, tapi satu hal jelas: ada miliaran ikan pandai berenang, seekor ikan harus “stand-out” untuk membuatnya terlihat. Dan percayalah, di dunia ini ada jutaan penulis yang bisa menulis bagus, mungkin jutaan yang lebih bagus dari kita. Dan ada jutaan karya yang bagus juga. Ini logika sederhana saja: di antara jutaan penulis yang bagus kemampuan menulisnya, apa yang bisa membuat seseorang dilihat/didengar? Saya rasa perbedaan mencoloknya terletak pada gagasan dan visi (termasuk gagasan/visi bagaimana sebuah cerita seharusnya ditulis), yang apa boleh buat, kadang-kadang membuat mereka terpaksa meletakkan dirinya dalam keadaan, yang kamu sebut “berbahaya”. Lagipula ujung-ujungnya, apa sih tujuanmu menulis? Ingin mencatat atau dicatat?



Standard
Journal, Tanya dan Jawab

Tanya-Jawab: Pengaruh Sastrawan Indonesia

F Daus AR: Ini pertanyaan agak pribadi. Sejauh mana pengaruh sastrawan Indonesia terhadap karya yang Anda gubah. Nama yang saya maksud di luar sastrawan Indonesia yang sudah sering dibahas di jurnal. Misalnya saja, Kuntowijoyo, yang wafat 22 Februari 2005 silam.

Jawabannya juga agak pribadi. Ada satu peristiwa yang pernah membuat saya sangat sedih. Seperti saya pernah mengatakannya, [Cantik Itu Luka], novel pertama saya pernah ditolak beberapa penerbit. Oh, itu bukan bagian sedihnya. Soal itu saya tak terlalu peduli, dan di masa itu saya masih cukup punya kepercayaan diri anak muda bahwa cepat atau lambat saya akan menemukan satu cara untuk menerbitkannya. Hal yang membuat saya sedih datang beberapa tahun kemudian. Akhirnya saya bertemu dengan satu editor yang pernah menolak novel tersebut (nama dan tandatangannya memang tertulis di nota kecil penolakan itu), dan dia secara terus-terang bilang membaca novel saya dan menolaknya, salah satu alasannya: novel itu tidak masuk kriteria/preferensi dia mengenai novel sastra yang bagus. Menurutnya, novel sastra yang bagus mestinya seperti novel-novel Mangunwijaya, Kuntowijoyo, Ahmad Tohari. Tentu saja saya kemudian membaca beberapa karya mereka, dan saat itulah saya merasa sangat sedih. Saya sedih karena saya tahu persis: 1) saya tak ingin menulis novel seperti mereka, 2) jika ukuran kesusastraan (Indonesia) yang bagus diukur dengan karya-karya mereka, saya merasa tak memiliki tempat di peta kesusastraan dan kemungkinan besar saya tak ingin menjadi penulis. Meskipun begitu, di tengah kesedihan itu, saya patut bersyukur bahwa saya mendengarnya setelah “telanjur” jadi penulis, di usia saya yang jauh lebih dewasa, dan apa pun yang dikatakan orang tentang “sastra Indonesia yang bagus”, saya dengan keras kepala bisa membuat patok sendiri di hamparan peta itu, untuk saya dan karya-karya sendiri. Atau jika tidak diberi tempat, saya akan membuat peta sendiri. Jadi menjawab pertanyaan di atas, saya kuatir bahwa pengaruh penulis-penulis ini atas saya bisa dikatakan kecil atau tidak langsung. Bukan karena saya tak suka atau mereka tak bagus, tapi sesederhana bahwa saya memang baru mengenalnya belakangan. Dalam hal ini, saya akan mundur ke belakang. Izinkan saya menceritakan sejarah membaca saya, yang barangkali bisa menjelaskan kenapa hanya segelintir penulis Indonesia (yang itu-itu saja) yang sering saya bicarakan, dan yang pengaruhnya banyak membekas, dan kenapa ada begitu panorama kesusastraan Indonesia yang saya “tinggalkan” dan menciptakan lubang besar. Saya jarang menceritakan hal ini, dan hanya pernah sekali menceritakannya secara lengkap kepada seorang pengamat Indonesia yang penasaran karena “tampaknya saya tak terlalu peduli dengan penulis-penulis Indonesia” (dia bilang kepada saya, ini sejenis arogansi yang juga ada pada Pramoedya, hahaha). Baiklah, saya bisa dibilang tak memiliki sejarah yang baik dengan kesusastraan Indonesia. Hingga selesai SMA, tak banyak karya “sastra” yang saya baca. Anda semua tahu bagaimana pendidikan kita di tahun 80-90an. Saya tinggal dan sekolah di sebuah kota kecil, Pangandaran. Tak ada toko buku dan tak ada perpustakaan. Saya memang senang membaca buku, tapi yang bisa saya peroleh hanyalah novel-novel “picisan”: Asmaraman S. Kho Ping Hoo, Abdullah Harahap, Bastian Tito, buku stensilan. Sebagai selingan, saya juga membaca Enid Blyton, Karl May. Lupakan kanon-kanon sastra Indonesia, saya tak pernah melihatnya. Jika di masa remaja itu saya ingin menjadi penulis novel, sudah pasti novel yang ingin saya tulis adalah novel horor atau cerita silat. Saya pernah mencobanya sebelum dibuang ibu saya karena kertas-kertas itu menumpuk dan menjadi makanan rayap. Selesai SMA, saya pindah ke Yogyakarta. Kuliah di UGM. Melanjutkan kegemaran membaca (yang tak terpuaskan di kondisi kota kecil tempat saya tinggal), saya dibuat terpana menemukan perpustakaan. Sepanjang masa kuliah, saya menghabiskan lebih banyak waktu di perpustakaan, dan favorit saya selama enam tahun itu adalah ruangan kecil di perpustakaan kampus di mana saya bertemu Toni Morrison, Salman Rushdie, Gabriel García Márquez, Leo Tolstoy, Dostoyevsky, Melville, Knut Hamsun dll (ada satu rak yang dipenuhi oleh buku-buku terbitan Everyman’s Library). Tololnya saya, bahkan saat itu saya tak sadar tengah menghadapi kanon-kanon kesusastraan dunia. Bagi pikiran anak pantai ini, saya hanya sesederhana membaca novel, melanjutkan kegemaran saya. Saya lumayan beruntung bisa membaca bahasa Inggris. Ayah saya yang mengajari sejak kecil, meskipun seperti saya, dia mengajar sambil lalu dan ogah-ogahan. Baru bertahun-tahun kemudian saya menyadari (orang lain yang kemudian mengatakannya kepada saya), masa awal 90an itu merupakan “lompatan” dalam sejarah membaca saya. Dari sastra picisan yang dibaca di masa remaja, saya kemudian “melompat” membaca kanon-kanon dunia. Di antara kedua jenis bacaan itu, saya melewatkan karya-karya “kanon” kesusastraan Indonesia, kecuali Pramoedya Ananta Toer yang saya peroleh dari beberapa teman di masa-masa kami turun ke jalan, melemparkan batu ke polisi, antara tahun 1996-1998. Saya selalu percaya, selera kita jauh lebih banyak terbentuk ketika kita masih muda. Maka jika saat ini ada yang bertanya karya sastra macam apa yang ingin saya tulis, jawaban saya kurang-lebih masih sama seperti di masa remaja: saya ingin menulis novel silat atau novel horor. Dan sastra yang bagus bagi saya, karena dipengaruhi oleh sejarah bacaan, saya tak bisa tidak merujuk ke Hamsun, Melville, Cervantes. Jika saya boleh berbagi ambisi, (mungkin sederhana, mungkin tidak), saya ingin menulis seperti Kho Ping Hoo, Abdullah Harahap, sekaligus seperti Cervantes atau Melville, atau Gogol. Saya baru membaca sastra Indonesia secara lebih banyak, dan “sadar”, justru setelah saya memutuskan untuk menjadi penulis, selepas 1999. Saya tahu, saya sangat terlambat, tapi saya tak bisa memutar ulang waktu. Dan di umur dewasa seperti sekarang, sangat sulit untuk mengubah selera. Otak kita cenderung menjadi lebih bebal dan membatu bersama dengan bertambahnya usia. Lagipula, haruskah saya mengubah selera sastra saya? Bagi saya bukan tindakan kriminal menempatkan Kho Ping Hoo, Abdullah Harahap dan Pramoedya di atas penulis-penulis Indonesia lainnya. Mereka jelas-jelas memberi arti penting tak hanya dalam karya saya, tapi juga dalam hidup saya. Tanpa sastra picisan itu, saya akan menjalani masa remaja yang membosankan. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para penulis yang telah meletakkan patok-patok dalam sejarah kesusastraan nasional kita, tak bisa tidak, selamanya saya akan berterima kasih kepada sastra picisan, melebihi kanon-kanon kesusastraan Indonesia lainnya.



Standard
Journal

Esai

Selain membaca novel, cerpen, buku-buku sejarah dan filsafat, saya senang membaca esai. Esai tentang apa saja, meskipun esai filsafat dan sastra lebih sering menarik minat saya. Bagi saya, esai merupakan perkawinan unik antara disiplin berpikir, keberanian berspekulasi, dan gaya menulis. Banyak penulis kontemporer merupakan esais-esais cemerlang. Roberto Bolaño bagi saya tak hanya diingat sebagai penulis The Savage Detectives atau Amulet, tapi juga sebagai penulis esai keren “Literature+Ilness=Ilness”. Jorge Luis Borges, selain dikenal sebagai cerpenis penting abad kedua puluh (pengaruh puisi-puisinya juga tak bisa dianggap remeh), juga dikenal sebagai “profesor” karena esai-esai sastranya (salah satu buku esainya yang saya sukai berjudul Seven Nights). Seperti cerpen-cerpennya, esai-esai Borges sering memperlihatkan spekulasi-spekulasi filosofis dengan obyek karya sastra. Misalnya dalam esai berjudul “The Labyrinths of the Detective Story and Chesterton”, ia tanpa sungkan membuka esainya dengan satu spekulasi: bahwa orang Inggris hidup dengan dua hasrat yang tak nyambung, yakni gairah aneh untuk bertualang dan gairah aneh untuk legalitas. Saya rasa, esai semacam itu tak hanya membutuhkan ketekunan membaca, ketelitian mencerna dan menganalisa, tapi juga keberanian menarik kesimpulan. Bentuk esai yang cenderung bebas, tentu menarik minat banyak penulis sastra untuk merambah genre ini, di mana mereka bisa mengguratkan gaya mereka di sana. Tapi tentu saja gaya tak hanya melulu monopoli para penulis sastra. Banyak filsuf juga menulis esai-esai mereka dengan gaya. Sudah lama kita kenal filsuf macam Marx maupun Nietzsche juga sebagai para penggaya dalam menulis. Lebih dari itu, esai juga menarik karena kadang-kadang ia merambah tema-tema yang tak umum, yang barangkali terlalu biasa untuk dijadikan bahan traktat filsafat yang tebal dan berat. Dalam esai, misalnya, Borges bisa menulis hubungan antara dinding raksasa Cina dan pembakaran buku oleh kaisar yang sama dalam “The Wall and the Books”. Beberapa waktu lalu, saya membeli buku tipis Arthur Schopenhauer hanya karena tema dan judulnya: The Horrors and Absurdities of Religion. Isinya beberapa esai mengenai agama, tentu dengan horor dan keabsurdannya. Coba bayangkan judul-judul lainnya yang menurut saya sama gokil, dan kecil kemungkinan ditemukan di buku-buku filsafat yang lebih “serius”, tebal dan berat: Fear and Trembling (Søren Kierkagaard), atau Of the Abuse of Words (John Locke). Apa sih untungnya membaca esai-esai semacam ini? Bagi saya, selain karena tema-temanya cenderung lebih sederhana dan unik, di sisi lain esai (yang baik) tak pernah kehilangan daya untuk merangsang nalar kita. Seperti membaca cerpen-cerpen yang bagus kita merasa yakin bahwa segala sesuatu bisa menjadi cerita yang menarik, membaca esai-esai yang keren cenderung membuat kita yakin bisa memikirkan segala sesuatu dan memberinya makna. Esai bisa membebaskan kita dari cengkeraman karya-karya akademik yang cenderung garing, yang meneror kita dengan judul-judul super semacam: “Wacana Pascakolonial dalam Karya Pramoedya Ananta Toer”, atau “Perspektif Feminis dalam Novel Madame Bovary”, atau “Kehendak Bebas Menurut Franz Kafka”, yang barangkali isinya tak secerdas dan semenggairahkan esai “The Storyteller” Walter Benjamin yang mengupas cerpen-cerpen Nikolai Leskov. Esai merupakan wilayah kreatif, wilayah main-main tanpa harus kehilangan hasrat intelektual. Wilayah penulisan penuh gaya tanpa kehilangan bobot. Ah, tiba-tiba saya membayangkan esai-esai gokil semacam, “Apa yang Dipikirkan Kucing Ketika Kucing Memikirkan Murakami?”, atau “Apa yang Terjadi Jika Suatu Pagi Seekor Kecoa Terbangun dan Menemukan Dirinya Berubah Menjadi Franz Kafka?”, atau “Hemingway Membunuh Hemingway”. Esai. Hal-hal seperti itu bisa ditulis dalam bentuk esai.



Standard
Journal

Merdeka Memilih Sejarah

Kita tak mungkin memilih ayah dan ibu biologis kita, tapi saya yakin kita bisa memilih ayah dan ibu, dan bahkan leluhur spiritual kita. Buat saya itu jauh lebih penting, dan kita seharusnya merdeka memilih sejarah kita sendiri. Sejarah kesusastraan merupakan contoh paling nyata bahwa kita bisa memilih sejarah kita sendiri, tanpa terkungkung oleh wilayah geografis, oleh keyakinan, bahkan oleh waktu. Bayangkan, salah satu novel penting Prancis, Jacques the Fatalist, beribu novel dari tanah Inggris, Tristram Shandy. Dan novel babon yang ditulis dalam Bahasa Inggris, Ulysses, berayah pada novel Prancis yang sungguh tak dikenal We’ll to the Wood No More. Gabriel García Márquez barangkali tak akan menulis One Hundred Years of Solitude tanpa ia membaca novel terpenting Meksiko, Pedro Paramo; dan apakah Nyai Ontosoroh ciptaan Pramoedya Ananta Toer akan memiliki karakter seperti yang kita kenal, seandainya Pram tak membaca Mother dari Maxim Gorky? Lantas apa gunanya sejarah kesusastraan yang kita kenal di sekolah, yang disebut sebagai sejarah kesusastraan nasional? Entahlah. Sejarah kesusastraan yang dibagi-bagi dalam periode-periode dan tahun-tahun, bagi saya merupakan gagasan paling absurd; siapa pun yang menuliskannya, yang menciptakannya, tak mengerti dengan baik bagaimana kesusastraan secara alamiah bekerja, demikian juga pemikiran yang melatarbelakanginya. Sejarah yang disusun berdasarkan periode-periode, barangkali hanya berguna bagi pengamat di luar, yang ingin tahu apa yang ditulis dan dipikirkan sebuah bangsa di satu waktu dan waktu lainnya, yang bahkan sebenarnya mereka harus sadar bahwa hubungan karya yang ditulis di waktu-waktu yang berbeda itu tidak selurus yang mereka bayangkan. Bagi penulis, setidaknya untuk saya, itu tak banyak membantu. Sebab seperti masa depan, masa lalu seharusnya merupakan pilihan. Seperti kita menciptakan peta jalan untuk masa depan kita, semestinya kita merdeka memilih peta jalan masa lalu, dan itu besar kemungkinan tidak merupakan jalan lurus yang membentang. Sebab mustahil menentukan masa depan tertentu tanpa kita memilih masa lalu tertentu. Memilih sejarah sendiri, bagi saya seperti meramu makanan di meja dapur. Artinya, kita tak hanya memerdekakan diri dari selera makan yang diam-diam terbentuk, tapi membayangkan rasa yang akan didapat, bahkan mungkin juga bersiap dengan kemungkinan-kemungkinan baru yang tak terbayangkan, rasa yang tak disangka-sangka. Bayangkan jika kita bisa menciptakan novel yang beribu dari novel-novel horor-fantasi H.P. Lovecraft dan berayah novel horor-politik Geroge Orwell, serta diselingkuhi oleh novel horor lokal ala S.B. Chandra, kira-kira akan menghasilkan novel horor macam apa? Sudah jelas hasilnya sangat absurd jika kemudian kita letakkan novel (dan penulisnya) dalam sejarah kesusastraan dalam kerangka periode tertentu, katakan saja sastra angkatan 2014; sementara rekan segenerasinya menciptakan novel yang berayah Serat Centhini dan beribu novel-novel Barbara Cartland. Baiklah, yang jauh lebih penting dari kemerdekaan memilih sejarah kesusastraan sendiri, karena kemerdekaan semacam ini hanyalah buah turunan, adalah kemerdekaan pikiranmu dari segala yang mengungkung. Sejarah sebagaimana yang lainnya selalu merupakan pisau bermata dua: mengikatmu atau membebaskanmu. Sebab sebagaimana tubuhmu, pikiran juga sangat mudah untuk terpenjara. Dan lebih berbahaya daripada penjara untuk tubuh, penjara untuk pikiran seringkali tak terlihat. Dan lebih sialnya: penjara pikiran besar kemungkinan tak tersadari.



Standard
Journal

Pak Jokowi, Usul Dong!

Ini mungkin agak egois, tapi untuk Pak Jokowi presiden Indonesia ketujuh, boleh dong saya minta sesuatu: majukan kesusastraan Indonesia. Ya, saya tahu, banyak masalah bangsa Indonesia yang perlu diprioritaskan. Tapi saya ingatkan satu hal: pidato kemenangan Bapak dilakukan di atas kapal. Bapak seolah memberi pesan kepada bangsa ini bahwa kita adalah bangsa maritim! Salah satu orang yang secara gigih mengungkapkan gagasan untuk kembali menjadi bangsa maritim adalah sastrawan besar kita, Pramoedya Ananta Toer. Jika kita berkaca kepada tradisi teater kuno Yunani, dan pemikiran Aristoteles (saya pernah menulisnya) bahwa kesusastraan merupakan kehidupan potensial, kita bisa belajar banyak dari kesusastraan, tentu saja, sebagaimana kita terinspirasi mengenai bangsa maritim melalui novel Arus Balik. Baiklah, saya tak akan bertele-tele. Saya mau mengusulkan beberapa hal untuk memajukan kesusastraan kita (dan dengan majunya kesusastraan, saya harap maju pula bidang-bidang yang lain, meskipun kata Marx, dasar kehidupan itu ekonomi alias perut, bodo deh!). Pertama, selain kesehatan dan pendidikan gratis melalui kartu sehat dan kartu pintar, saya yakin kita juga membutuhkan akses yang baik dan mudah terhadap perpustakaan. Bayangkan kalau kita punya perpustakaan umum di setiap kecamatan, Pak! Apa gunanya gembar-gembor menumbuhkan minat baca jika tak ada buku yang bisa dibaca? Perpustakaan tak hanya ruang tempat kita bertemu dengan gagasan-gagasan dari mana-mana (ruang dan waktu), tapi juga memungkinkan pembaca satu berjumpa dengan pembaca lain. Kesusastraan yang hebat, Pak, hanya mungkin lahir dari tradisi membaca yang juga hebat. Kedua, ini masalah pendidikan. Saya sering menghadiri diskusi atau seminar dan memperoleh fakta menyebalkan ini: ketika giliran sesi tanya-jawab, peserta yang ratusan itu seringkali bungkam. Malu-malu dan takut-takut untuk bertanya atau beradu pendapat. Bagaimana kita bisa membangun tradisi intelektual kalau bertanya saja malu dan takut? Masalah ini saya rasa sudah bermula dari sekolah-sekolah kita, deh. Kita harus mengajari mereka untuk berani bertanya, berani berpendapat, bahkan terhadap guru mereka sendiri. Oh ya, kadang-kadang ada sih yang rajin bertanya di diskusi-diskusi. Tapi ya ampun, bukannya bertanya, malah sering curhat. Kita kadang tak mampu mengajukan pertanyaan dalam satu kalimat yang jelas. Bayangkan, Pak, jika anak sekolah kita berani bertanya dan berpendapat, dan pintar mengajukan pertanyaan secara jelas tanpa curhat ini-itu, lulus SD pun mereka pasti pintar menulis. Tak perlu juga kalau sudah besar mereka menjadi penulis, setidaknya kalau mereka menjadi presiden seperti Bapak, mereka bisa lho menuliskan pemikiran sendiri. Jangan mau kalah dong sama presiden pertama kita, Soekarno, yang rajin menulis dan jago. Ketiga, galakkan penerjemahan. Kalau Bapak ikut mengamati, sekarang sedang heboh-hebohnya karya-karya sastra Indonesia diterjemahkan (ke Inggris atau Jerman) demi acara Frankfurt Bookfair tahun depan. Entah berapa triliun duit yang digelontorkan pemerintah untuk itu. Tentu saja ini penting, untuk memperkenalkan sastra kita ke dunia, untuk membuat orang asing mengenali kita (siapa tahu kemudian tertarik pelesir kemari membawa devisa), dan terutama untuk menyenang-nyenangkan ego para penulis yang ingin menaklukkan dunia (kalau bisa memperoleh Nobel, Pak). Tapi yang jauh lebih penting menurut saya: menerjemahkan karya-karya asing ke bahasa Indonesia. Tujuannya sederhana: agar kita makin pintar dan punya lawan tanding yang lebih luas. Dan jangan dilupakan bahwa tradisi kesusastraan kita yang panjang, diawali justru dari kesusastraan bahasa daerah. Bahasa-bahasa ini di sisi lain juga menjadi “asing”. Penting banget, Pak, menerjemahkan kekayaan kesusastraan Nusantara ke dalam Bahasa Indonesia. Keempat, ini soal harga buku yang mahal. Tentu bisa diatasi dengan usulan pertama, perpustakaan umum yang tersedia di mana-mana. Tapi jika harga buku lebih murah, akan mendorong masyarakat secara mandiri membangun perpustakaan mereka sendiri. Toko buku hidup, penerbit hidup, penulis juga makin rajin. Sangat baik untuk industri. Salah satu kendala dengan harga buku yang murah adalah pajak di perbukuan yang bertingkat-tingkat. Kita tahu, kertas, tinta dan lem sudah kena pajak. Begitu juga mesin cetak dan percetakan. Ketika itu semua digabung menjadi buku, kena pajak lagi. PPN, alias pajak pertambahan nilai. Pajak yang juga dikenakan kepada telepon genggam atau sandal jepit. Jangan lupa, masuk toko buku, juga toko bukunya kena pajak. Oh ya, honor penulis juga kena pajak. Baiklah, negara hidup dari pajak warga negara. Usul saya sih, negara jangan terlalu rakus mengambil pajak dari buku, atau, bagaimana jika pajak itu dikembalikan ke dunia perbukuan dalam bentuk subsidi, penghargaan atau kemudahan insfrastruktur? Kelima, ini mungkin tak ada hubungannya dengan kesusastraan secara langsung. Bapak sudah mencalonkan diri menjadi presiden dan menang. Selamat, Pak, dan semoga bisa mengemban amanah tersebut. Sekadar info, seumur hidup saya golput, Pak. Tapi kali ini saya memutuskan berepot-repot pulang kampung dan mencoblos. Tentu saja saya memilih Bapak. 10% karena saya menyukai Bapak, tapi 90% karena saya tak ingin Prabowo jadi presiden. Nah, boleh saya usul hal yang saya pikir lebih sulit dari menjadi presiden Republik Indonesia? Bagaimana jika Bapak juga mencalonkan diri menjadi Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)? Masa Megawati terus, Pak? Ya, ya, ini enggak ada hubungannya dengan kesusastraan. Maaf. Salam metal, deh!



Standard