Eka Kurniawan

Journal

Tag: Pramoedya Ananta Toer (page 2 of 3)

Tanya-Jawab: Pengaruh Sastrawan Indonesia

F Daus AR: Ini pertanyaan agak pribadi. Sejauh mana pengaruh sastrawan Indonesia terhadap karya yang Anda gubah. Nama yang saya maksud di luar sastrawan Indonesia yang sudah sering dibahas di jurnal. Misalnya saja, Kuntowijoyo, yang wafat 22 Februari 2005 silam.

Jawabannya juga agak pribadi. Ada satu peristiwa yang pernah membuat saya sangat sedih. Seperti saya pernah mengatakannya, [Cantik Itu Luka], novel pertama saya pernah ditolak beberapa penerbit. Oh, itu bukan bagian sedihnya. Soal itu saya tak terlalu peduli, dan di masa itu saya masih cukup punya kepercayaan diri anak muda bahwa cepat atau lambat saya akan menemukan satu cara untuk menerbitkannya. Hal yang membuat saya sedih datang beberapa tahun kemudian. Akhirnya saya bertemu dengan satu editor yang pernah menolak novel tersebut (nama dan tandatangannya memang tertulis di nota kecil penolakan itu), dan dia secara terus-terang bilang membaca novel saya dan menolaknya, salah satu alasannya: novel itu tidak masuk kriteria/preferensi dia mengenai novel sastra yang bagus. Menurutnya, novel sastra yang bagus mestinya seperti novel-novel Mangunwijaya, Kuntowijoyo, Ahmad Tohari. Tentu saja saya kemudian membaca beberapa karya mereka, dan saat itulah saya merasa sangat sedih. Saya sedih karena saya tahu persis: 1) saya tak ingin menulis novel seperti mereka, 2) jika ukuran kesusastraan (Indonesia) yang bagus diukur dengan karya-karya mereka, saya merasa tak memiliki tempat di peta kesusastraan dan kemungkinan besar saya tak ingin menjadi penulis. Meskipun begitu, di tengah kesedihan itu, saya patut bersyukur bahwa saya mendengarnya setelah “telanjur” jadi penulis, di usia saya yang jauh lebih dewasa, dan apa pun yang dikatakan orang tentang “sastra Indonesia yang bagus”, saya dengan keras kepala bisa membuat patok sendiri di hamparan peta itu, untuk saya dan karya-karya sendiri. Atau jika tidak diberi tempat, saya akan membuat peta sendiri. Jadi menjawab pertanyaan di atas, saya kuatir bahwa pengaruh penulis-penulis ini atas saya bisa dikatakan kecil atau tidak langsung. Bukan karena saya tak suka atau mereka tak bagus, tapi sesederhana bahwa saya memang baru mengenalnya belakangan. Dalam hal ini, saya akan mundur ke belakang. Izinkan saya menceritakan sejarah membaca saya, yang barangkali bisa menjelaskan kenapa hanya segelintir penulis Indonesia (yang itu-itu saja) yang sering saya bicarakan, dan yang pengaruhnya banyak membekas, dan kenapa ada begitu panorama kesusastraan Indonesia yang saya “tinggalkan” dan menciptakan lubang besar. Saya jarang menceritakan hal ini, dan hanya pernah sekali menceritakannya secara lengkap kepada seorang pengamat Indonesia yang penasaran karena “tampaknya saya tak terlalu peduli dengan penulis-penulis Indonesia” (dia bilang kepada saya, ini sejenis arogansi yang juga ada pada Pramoedya, hahaha). Baiklah, saya bisa dibilang tak memiliki sejarah yang baik dengan kesusastraan Indonesia. Hingga selesai SMA, tak banyak karya “sastra” yang saya baca. Anda semua tahu bagaimana pendidikan kita di tahun 80-90an. Saya tinggal dan sekolah di sebuah kota kecil, Pangandaran. Tak ada toko buku dan tak ada perpustakaan. Saya memang senang membaca buku, tapi yang bisa saya peroleh hanyalah novel-novel “picisan”: Asmaraman S. Kho Ping Hoo, Abdullah Harahap, Bastian Tito, buku stensilan. Sebagai selingan, saya juga membaca Enid Blyton, Karl May. Lupakan kanon-kanon sastra Indonesia, saya tak pernah melihatnya. Jika di masa remaja itu saya ingin menjadi penulis novel, sudah pasti novel yang ingin saya tulis adalah novel horor atau cerita silat. Saya pernah mencobanya sebelum dibuang ibu saya karena kertas-kertas itu menumpuk dan menjadi makanan rayap. Selesai SMA, saya pindah ke Yogyakarta. Kuliah di UGM. Melanjutkan kegemaran membaca (yang tak terpuaskan di kondisi kota kecil tempat saya tinggal), saya dibuat terpana menemukan perpustakaan. Sepanjang masa kuliah, saya menghabiskan lebih banyak waktu di perpustakaan, dan favorit saya selama enam tahun itu adalah ruangan kecil di perpustakaan kampus di mana saya bertemu Toni Morrison, Salman Rushdie, Gabriel García Márquez, Leo Tolstoy, Dostoyevsky, Melville, Knut Hamsun dll (ada satu rak yang dipenuhi oleh buku-buku terbitan Everyman’s Library). Tololnya saya, bahkan saat itu saya tak sadar tengah menghadapi kanon-kanon kesusastraan dunia. Bagi pikiran anak pantai ini, saya hanya sesederhana membaca novel, melanjutkan kegemaran saya. Saya lumayan beruntung bisa membaca bahasa Inggris. Ayah saya yang mengajari sejak kecil, meskipun seperti saya, dia mengajar sambil lalu dan ogah-ogahan. Baru bertahun-tahun kemudian saya menyadari (orang lain yang kemudian mengatakannya kepada saya), masa awal 90an itu merupakan “lompatan” dalam sejarah membaca saya. Dari sastra picisan yang dibaca di masa remaja, saya kemudian “melompat” membaca kanon-kanon dunia. Di antara kedua jenis bacaan itu, saya melewatkan karya-karya “kanon” kesusastraan Indonesia, kecuali Pramoedya Ananta Toer yang saya peroleh dari beberapa teman di masa-masa kami turun ke jalan, melemparkan batu ke polisi, antara tahun 1996-1998. Saya selalu percaya, selera kita jauh lebih banyak terbentuk ketika kita masih muda. Maka jika saat ini ada yang bertanya karya sastra macam apa yang ingin saya tulis, jawaban saya kurang-lebih masih sama seperti di masa remaja: saya ingin menulis novel silat atau novel horor. Dan sastra yang bagus bagi saya, karena dipengaruhi oleh sejarah bacaan, saya tak bisa tidak merujuk ke Hamsun, Melville, Cervantes. Jika saya boleh berbagi ambisi, (mungkin sederhana, mungkin tidak), saya ingin menulis seperti Kho Ping Hoo, Abdullah Harahap, sekaligus seperti Cervantes atau Melville, atau Gogol. Saya baru membaca sastra Indonesia secara lebih banyak, dan “sadar”, justru setelah saya memutuskan untuk menjadi penulis, selepas 1999. Saya tahu, saya sangat terlambat, tapi saya tak bisa memutar ulang waktu. Dan di umur dewasa seperti sekarang, sangat sulit untuk mengubah selera. Otak kita cenderung menjadi lebih bebal dan membatu bersama dengan bertambahnya usia. Lagipula, haruskah saya mengubah selera sastra saya? Bagi saya bukan tindakan kriminal menempatkan Kho Ping Hoo, Abdullah Harahap dan Pramoedya di atas penulis-penulis Indonesia lainnya. Mereka jelas-jelas memberi arti penting tak hanya dalam karya saya, tapi juga dalam hidup saya. Tanpa sastra picisan itu, saya akan menjalani masa remaja yang membosankan. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para penulis yang telah meletakkan patok-patok dalam sejarah kesusastraan nasional kita, tak bisa tidak, selamanya saya akan berterima kasih kepada sastra picisan, melebihi kanon-kanon kesusastraan Indonesia lainnya.

Esai

Selain membaca novel, cerpen, buku-buku sejarah dan filsafat, saya senang membaca esai. Esai tentang apa saja, meskipun esai filsafat dan sastra lebih sering menarik minat saya. Bagi saya, esai merupakan perkawinan unik antara disiplin berpikir, keberanian berspekulasi, dan gaya menulis. Banyak penulis kontemporer merupakan esais-esais cemerlang. Roberto Bolaño bagi saya tak hanya diingat sebagai penulis The Savage Detectives atau Amulet, tapi juga sebagai penulis esai keren “Literature+Ilness=Ilness”. Jorge Luis Borges, selain dikenal sebagai cerpenis penting abad kedua puluh (pengaruh puisi-puisinya juga tak bisa dianggap remeh), juga dikenal sebagai “profesor” karena esai-esai sastranya (salah satu buku esainya yang saya sukai berjudul Seven Nights). Seperti cerpen-cerpennya, esai-esai Borges sering memperlihatkan spekulasi-spekulasi filosofis dengan obyek karya sastra. Misalnya dalam esai berjudul “The Labyrinths of the Detective Story and Chesterton”, ia tanpa sungkan membuka esainya dengan satu spekulasi: bahwa orang Inggris hidup dengan dua hasrat yang tak nyambung, yakni gairah aneh untuk bertualang dan gairah aneh untuk legalitas. Saya rasa, esai semacam itu tak hanya membutuhkan ketekunan membaca, ketelitian mencerna dan menganalisa, tapi juga keberanian menarik kesimpulan. Bentuk esai yang cenderung bebas, tentu menarik minat banyak penulis sastra untuk merambah genre ini, di mana mereka bisa mengguratkan gaya mereka di sana. Tapi tentu saja gaya tak hanya melulu monopoli para penulis sastra. Banyak filsuf juga menulis esai-esai mereka dengan gaya. Sudah lama kita kenal filsuf macam Marx maupun Nietzsche juga sebagai para penggaya dalam menulis. Lebih dari itu, esai juga menarik karena kadang-kadang ia merambah tema-tema yang tak umum, yang barangkali terlalu biasa untuk dijadikan bahan traktat filsafat yang tebal dan berat. Dalam esai, misalnya, Borges bisa menulis hubungan antara dinding raksasa Cina dan pembakaran buku oleh kaisar yang sama dalam “The Wall and the Books”. Beberapa waktu lalu, saya membeli buku tipis Arthur Schopenhauer hanya karena tema dan judulnya: The Horrors and Absurdities of Religion. Isinya beberapa esai mengenai agama, tentu dengan horor dan keabsurdannya. Coba bayangkan judul-judul lainnya yang menurut saya sama gokil, dan kecil kemungkinan ditemukan di buku-buku filsafat yang lebih “serius”, tebal dan berat: Fear and Trembling (Søren Kierkagaard), atau Of the Abuse of Words (John Locke). Apa sih untungnya membaca esai-esai semacam ini? Bagi saya, selain karena tema-temanya cenderung lebih sederhana dan unik, di sisi lain esai (yang baik) tak pernah kehilangan daya untuk merangsang nalar kita. Seperti membaca cerpen-cerpen yang bagus kita merasa yakin bahwa segala sesuatu bisa menjadi cerita yang menarik, membaca esai-esai yang keren cenderung membuat kita yakin bisa memikirkan segala sesuatu dan memberinya makna. Esai bisa membebaskan kita dari cengkeraman karya-karya akademik yang cenderung garing, yang meneror kita dengan judul-judul super semacam: “Wacana Pascakolonial dalam Karya Pramoedya Ananta Toer”, atau “Perspektif Feminis dalam Novel Madame Bovary”, atau “Kehendak Bebas Menurut Franz Kafka”, yang barangkali isinya tak secerdas dan semenggairahkan esai “The Storyteller” Walter Benjamin yang mengupas cerpen-cerpen Nikolai Leskov. Esai merupakan wilayah kreatif, wilayah main-main tanpa harus kehilangan hasrat intelektual. Wilayah penulisan penuh gaya tanpa kehilangan bobot. Ah, tiba-tiba saya membayangkan esai-esai gokil semacam, “Apa yang Dipikirkan Kucing Ketika Kucing Memikirkan Murakami?”, atau “Apa yang Terjadi Jika Suatu Pagi Seekor Kecoa Terbangun dan Menemukan Dirinya Berubah Menjadi Franz Kafka?”, atau “Hemingway Membunuh Hemingway”. Esai. Hal-hal seperti itu bisa ditulis dalam bentuk esai.

Merdeka Memilih Sejarah

Kita tak mungkin memilih ayah dan ibu biologis kita, tapi saya yakin kita bisa memilih ayah dan ibu, dan bahkan leluhur spiritual kita. Buat saya itu jauh lebih penting, dan kita seharusnya merdeka memilih sejarah kita sendiri. Sejarah kesusastraan merupakan contoh paling nyata bahwa kita bisa memilih sejarah kita sendiri, tanpa terkungkung oleh wilayah geografis, oleh keyakinan, bahkan oleh waktu. Bayangkan, salah satu novel penting Prancis, Jacques the Fatalist, beribu novel dari tanah Inggris, Tristram Shandy. Dan novel babon yang ditulis dalam Bahasa Inggris, Ulysses, berayah pada novel Prancis yang sungguh tak dikenal We’ll to the Wood No More. Gabriel García Márquez barangkali tak akan menulis One Hundred Years of Solitude tanpa ia membaca novel terpenting Meksiko, Pedro Paramo; dan apakah Nyai Ontosoroh ciptaan Pramoedya Ananta Toer akan memiliki karakter seperti yang kita kenal, seandainya Pram tak membaca Mother dari Maxim Gorky? Lantas apa gunanya sejarah kesusastraan yang kita kenal di sekolah, yang disebut sebagai sejarah kesusastraan nasional? Entahlah. Sejarah kesusastraan yang dibagi-bagi dalam periode-periode dan tahun-tahun, bagi saya merupakan gagasan paling absurd; siapa pun yang menuliskannya, yang menciptakannya, tak mengerti dengan baik bagaimana kesusastraan secara alamiah bekerja, demikian juga pemikiran yang melatarbelakanginya. Sejarah yang disusun berdasarkan periode-periode, barangkali hanya berguna bagi pengamat di luar, yang ingin tahu apa yang ditulis dan dipikirkan sebuah bangsa di satu waktu dan waktu lainnya, yang bahkan sebenarnya mereka harus sadar bahwa hubungan karya yang ditulis di waktu-waktu yang berbeda itu tidak selurus yang mereka bayangkan. Bagi penulis, setidaknya untuk saya, itu tak banyak membantu. Sebab seperti masa depan, masa lalu seharusnya merupakan pilihan. Seperti kita menciptakan peta jalan untuk masa depan kita, semestinya kita merdeka memilih peta jalan masa lalu, dan itu besar kemungkinan tidak merupakan jalan lurus yang membentang. Sebab mustahil menentukan masa depan tertentu tanpa kita memilih masa lalu tertentu. Memilih sejarah sendiri, bagi saya seperti meramu makanan di meja dapur. Artinya, kita tak hanya memerdekakan diri dari selera makan yang diam-diam terbentuk, tapi membayangkan rasa yang akan didapat, bahkan mungkin juga bersiap dengan kemungkinan-kemungkinan baru yang tak terbayangkan, rasa yang tak disangka-sangka. Bayangkan jika kita bisa menciptakan novel yang beribu dari novel-novel horor-fantasi H.P. Lovecraft dan berayah novel horor-politik Geroge Orwell, serta diselingkuhi oleh novel horor lokal ala S.B. Chandra, kira-kira akan menghasilkan novel horor macam apa? Sudah jelas hasilnya sangat absurd jika kemudian kita letakkan novel (dan penulisnya) dalam sejarah kesusastraan dalam kerangka periode tertentu, katakan saja sastra angkatan 2014; sementara rekan segenerasinya menciptakan novel yang berayah Serat Centhini dan beribu novel-novel Barbara Cartland. Baiklah, yang jauh lebih penting dari kemerdekaan memilih sejarah kesusastraan sendiri, karena kemerdekaan semacam ini hanyalah buah turunan, adalah kemerdekaan pikiranmu dari segala yang mengungkung. Sejarah sebagaimana yang lainnya selalu merupakan pisau bermata dua: mengikatmu atau membebaskanmu. Sebab sebagaimana tubuhmu, pikiran juga sangat mudah untuk terpenjara. Dan lebih berbahaya daripada penjara untuk tubuh, penjara untuk pikiran seringkali tak terlihat. Dan lebih sialnya: penjara pikiran besar kemungkinan tak tersadari.

Pak Jokowi, Usul Dong!

Ini mungkin agak egois, tapi untuk Pak Jokowi presiden Indonesia ketujuh, boleh dong saya minta sesuatu: majukan kesusastraan Indonesia. Ya, saya tahu, banyak masalah bangsa Indonesia yang perlu diprioritaskan. Tapi saya ingatkan satu hal: pidato kemenangan Bapak dilakukan di atas kapal. Bapak seolah memberi pesan kepada bangsa ini bahwa kita adalah bangsa maritim! Salah satu orang yang secara gigih mengungkapkan gagasan untuk kembali menjadi bangsa maritim adalah sastrawan besar kita, Pramoedya Ananta Toer. Jika kita berkaca kepada tradisi teater kuno Yunani, dan pemikiran Aristoteles (saya pernah menulisnya) bahwa kesusastraan merupakan kehidupan potensial, kita bisa belajar banyak dari kesusastraan, tentu saja, sebagaimana kita terinspirasi mengenai bangsa maritim melalui novel Arus Balik. Baiklah, saya tak akan bertele-tele. Saya mau mengusulkan beberapa hal untuk memajukan kesusastraan kita (dan dengan majunya kesusastraan, saya harap maju pula bidang-bidang yang lain, meskipun kata Marx, dasar kehidupan itu ekonomi alias perut, bodo deh!). Pertama, selain kesehatan dan pendidikan gratis melalui kartu sehat dan kartu pintar, saya yakin kita juga membutuhkan akses yang baik dan mudah terhadap perpustakaan. Bayangkan kalau kita punya perpustakaan umum di setiap kecamatan, Pak! Apa gunanya gembar-gembor menumbuhkan minat baca jika tak ada buku yang bisa dibaca? Perpustakaan tak hanya ruang tempat kita bertemu dengan gagasan-gagasan dari mana-mana (ruang dan waktu), tapi juga memungkinkan pembaca satu berjumpa dengan pembaca lain. Kesusastraan yang hebat, Pak, hanya mungkin lahir dari tradisi membaca yang juga hebat. Kedua, ini masalah pendidikan. Saya sering menghadiri diskusi atau seminar dan memperoleh fakta menyebalkan ini: ketika giliran sesi tanya-jawab, peserta yang ratusan itu seringkali bungkam. Malu-malu dan takut-takut untuk bertanya atau beradu pendapat. Bagaimana kita bisa membangun tradisi intelektual kalau bertanya saja malu dan takut? Masalah ini saya rasa sudah bermula dari sekolah-sekolah kita, deh. Kita harus mengajari mereka untuk berani bertanya, berani berpendapat, bahkan terhadap guru mereka sendiri. Oh ya, kadang-kadang ada sih yang rajin bertanya di diskusi-diskusi. Tapi ya ampun, bukannya bertanya, malah sering curhat. Kita kadang tak mampu mengajukan pertanyaan dalam satu kalimat yang jelas. Bayangkan, Pak, jika anak sekolah kita berani bertanya dan berpendapat, dan pintar mengajukan pertanyaan secara jelas tanpa curhat ini-itu, lulus SD pun mereka pasti pintar menulis. Tak perlu juga kalau sudah besar mereka menjadi penulis, setidaknya kalau mereka menjadi presiden seperti Bapak, mereka bisa lho menuliskan pemikiran sendiri. Jangan mau kalah dong sama presiden pertama kita, Soekarno, yang rajin menulis dan jago. Ketiga, galakkan penerjemahan. Kalau Bapak ikut mengamati, sekarang sedang heboh-hebohnya karya-karya sastra Indonesia diterjemahkan (ke Inggris atau Jerman) demi acara Frankfurt Bookfair tahun depan. Entah berapa triliun duit yang digelontorkan pemerintah untuk itu. Tentu saja ini penting, untuk memperkenalkan sastra kita ke dunia, untuk membuat orang asing mengenali kita (siapa tahu kemudian tertarik pelesir kemari membawa devisa), dan terutama untuk menyenang-nyenangkan ego para penulis yang ingin menaklukkan dunia (kalau bisa memperoleh Nobel, Pak). Tapi yang jauh lebih penting menurut saya: menerjemahkan karya-karya asing ke bahasa Indonesia. Tujuannya sederhana: agar kita makin pintar dan punya lawan tanding yang lebih luas. Dan jangan dilupakan bahwa tradisi kesusastraan kita yang panjang, diawali justru dari kesusastraan bahasa daerah. Bahasa-bahasa ini di sisi lain juga menjadi “asing”. Penting banget, Pak, menerjemahkan kekayaan kesusastraan Nusantara ke dalam Bahasa Indonesia. Keempat, ini soal harga buku yang mahal. Tentu bisa diatasi dengan usulan pertama, perpustakaan umum yang tersedia di mana-mana. Tapi jika harga buku lebih murah, akan mendorong masyarakat secara mandiri membangun perpustakaan mereka sendiri. Toko buku hidup, penerbit hidup, penulis juga makin rajin. Sangat baik untuk industri. Salah satu kendala dengan harga buku yang murah adalah pajak di perbukuan yang bertingkat-tingkat. Kita tahu, kertas, tinta dan lem sudah kena pajak. Begitu juga mesin cetak dan percetakan. Ketika itu semua digabung menjadi buku, kena pajak lagi. PPN, alias pajak pertambahan nilai. Pajak yang juga dikenakan kepada telepon genggam atau sandal jepit. Jangan lupa, masuk toko buku, juga toko bukunya kena pajak. Oh ya, honor penulis juga kena pajak. Baiklah, negara hidup dari pajak warga negara. Usul saya sih, negara jangan terlalu rakus mengambil pajak dari buku, atau, bagaimana jika pajak itu dikembalikan ke dunia perbukuan dalam bentuk subsidi, penghargaan atau kemudahan insfrastruktur? Kelima, ini mungkin tak ada hubungannya dengan kesusastraan secara langsung. Bapak sudah mencalonkan diri menjadi presiden dan menang. Selamat, Pak, dan semoga bisa mengemban amanah tersebut. Sekadar info, seumur hidup saya golput, Pak. Tapi kali ini saya memutuskan berepot-repot pulang kampung dan mencoblos. Tentu saja saya memilih Bapak. 10% karena saya menyukai Bapak, tapi 90% karena saya tak ingin Prabowo jadi presiden. Nah, boleh saya usul hal yang saya pikir lebih sulit dari menjadi presiden Republik Indonesia? Bagaimana jika Bapak juga mencalonkan diri menjadi Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)? Masa Megawati terus, Pak? Ya, ya, ini enggak ada hubungannya dengan kesusastraan. Maaf. Salam metal, deh!

Corat-coret di Toilet dan Hal-hal Lain Tentang Cerpen

Selain menerbitkan novel baru, hal paling membahagiakan untuk saya adalah melihat kembali Corat-coret di Toilet terbit. Bagaimanapun itu buku tipis saya yang istimewa: buku fiksi pertama saya (setahun sebelumnya saya menerbitkan skripsi saya di UGM tentang Pramoedya). Saya jarang membaca ulang karya-karya saya (kecuali terpaksa untuk beberapa kebutuhan, seperti ngedit dan mencocokkan terjemahan), tapi hal ini tak berlaku untuk Corat-coret di Toilet. Saya harus mengakui: buku itu sering saya baca kembali, untuk mengingatkan saya kenapa saya memutuskan untuk menjadi penulis, kenapa menulis merupakan sesuatu yang menyenangkan. Di luar itu, jujur saja, saya menganggap penulis-penulis lain dari generasi saya, melakukan debut karya fiksi mereka (kebanyakan kumpulan cerpen), jauh lebih baik daripada saya. Saya bisa menyebut beberapa kumpulan cerpen debut penulis-penulis yang saya kenal, yang saya rasa sangat istimewa: Kuda Terbang Maria Pinto Linda Christanty, Sihir Perempuan Intan Paramaditha, Perempuan Pala Azhari, Bidadari yang Mengembara A.S. Laksana. Meskipun bukan debut, Filosofi Kopi Dee juga salah satu yang menarik. Dibandingkan karya-karya itu, Corat-coret di Toilet terlihat terlalu sederhana, dengan cerita yang gampang ditebak, ditulis dengan main-main, dengan teknik yang secara sembrono dicuri dari sana-sini (kadang-kadang membacanya kembali saya suka tersenyum lebar dan bergumam, “Ini sangat Dickens, seharusnya aku tak mencuri terlalu terang-terangan, lah.”). Sebenarnya, seperti apa sih kumpulan cerita pendek ideal saya? Sejujurnya saya tak memiliki kriteria khusus, tapi ada beberapa kumpulan cerpen Indonesia, selain judul-judul di atas, yang saya anggap istimewa. Misalnya, Saksi Mata Seno Gumira Ajidarma. Barangkali karena tema dan gayanya, serta tekniknya, yang utuh dalam satu kumpulan. Saya tak pernah melihat yang seperti ini lagi di kumpulan cerpen Seno lainnya. Saya juga ingin merujuk kumpulan cerpen Asrul Sani, Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat. Tak ada tema besar yang mengikat erat cerpen-cerpen itu, tapi kesederhanaan dan leluconnya menyenangkan, bahkan dibaca saat ini pun. Godlob Danarto, barangkali memenuhi hasrat saya mengenai kumpulan cerpen yang utuh, dengan gaya dan teknik yang menyatu. Dengan alasan yang sama, saya juga merujuk ke Cerita dari Blora, Pramoedya Ananta Toer. Ada yang saya lewatkan? Debut Joni Ariadinata, Kali Mati, saya rasa harus dimasukkan ke dalam daftar ini, daftar kumpulan cerpen yang saya sukai dan saya rekomendasikan. Saya tak pernah melihat Joni menulis cerpen-cerpen, atau menerbitkan kumpula cerpen, seberkarakter debutnya ini. Problem utama Joni, saya kira adalah, ia mencoba meniru dirinya sendiri. Itu hal terburuk yang bisa terjadi pada seorang penulis, dan ini banyak terjadi pada penulis lain di sini. Mungkin saya salah, saya tak lagi mengikuti karyanya dalam beberapa tahun terakhir, tapi saya tetap menganggap Kali Mati salah satu kumpulan cerpen terbaik di negeri ini. Ada yang lain? Saya kira ada beberapa yang lain, yang saya lewatkan atau saya lupakan ketika menulis ini. Kembali ke Corat-coret di Toilet, dengan segala kesederhanaan teknik seorang penulis pemula, ditambah kenaifan dan kenekatannya, saya selalu kembali ke buku itu. Sebab hanya di buku itu saya bisa melihat benih-benih hasrat-hasrat kesusastraan saya, yang tak akan pernah saya temukan di karya saya yang lain. Saya tak bisa membayangkan akan menulis lebih bagus dari itu di masa itu. Jika waktu di ulang, saya yakin, saya akan menulis hal yang sama, barangkali dengan ketololan yang sama. Saat ini, bertahun-tahun kemudian (14 tahun tepatnya), saya sudah sangat senang jika seseorang menyukai cerita-cerita itu, dan saya senang melihatnya kembali terbit. Seseorang bilang, itu buku yang bagus. Bahkan ada yang bilang, itu buku kumpulan cerpen terbaik yang pernah dibacanya. Saya rasa ia belum membaca banyak kumpulan cerpen, bahkan untuk ukuran cerpen Indonesia. Ada banyak kumpulan cerpen bagus di kesusastraan kita. Masalahnya, saya pikir, kesusastraan Indonesia tak lagi membutuhkan karya yang bagus. Sudah banyak. Yang benar-benar kita butuhkan adalah karya yang hebat, sebab sekadar bagus sudah tak lagi mencukupi.

Ahli Waris Kebudayaan Dunia?

Kadang-kadang saya berpikir, mental inferior kita dalam kesusastraan (yakni mental asyik dengan dunia sendiri, berani bertarung cuma dengan kawan-kawan sendiri, karena enggak punya nyali bertarung di kelas berat dengan lawan-lawan yang berat), telah ada sejak kaum Seniman Gelanggang Merdeka di awal 50an (22 Oktober 1950) memproklamasikan diri bahwa, “Kami ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia, dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri.” Halo? Ahli waris? Dilihat dari sudut pandang wirausaha, mental “ahli waris” merupakan mental pemalas dan mau gampangannya saja. Mental ahli waris adalah mental kekanak-kanakan, yang melihat generasi sebelumnya banting-tulang mendirikan kejayaan, terus kita tinggal menikmatinya. Eh, tunggu, bukankah di dalam wirausaha, juga banyak ahli waris yang bisa memajukan usaha orangtua mereka lebih tinggi dari sebelumnya? Baguslah kalau itu terjadi. Tapi di lapangan kebudayaan, mereka memperlakukan warisan ini dengan “kami teruskan dengan cara kami sendiri”. Apa maksudnya ini? Maksudnya ingin lepas tanggung jawab? Ingin memperoleh warisan, tapi kemudian warisan itu boleh dong kita perlakukan sesuka-suka kita? Persis mental anak malas yang mau enaknya makan kekayaan orang tua dan bilang ke orang, “Suka-suka gue dong mau diapain, duit-duit gue.” Tak ada tanggung jawab yang menyiratkan bahwa, “Kami ahli waris kebudayaan dunia, dan kami akan bikin kebudayaan ini lebih menjulang lagi.” Atau, “Kami ahli waris kebudayaan dunia, dan kami akan mewariskan hal yang lebih baik kepada dunia.” Tidak. Saya rasa mental kita tak ditempa untuk menjadi sesuperior itu. Mental kita adalah mental yang jika dituding tak mampu melakukan apa-apa, maka akan bersembunyi di balik tameng, “Kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri.” Proklamasi kebudayaan itu sudah terjadi berpuluh-puluh tahun, diproklamasikan justru oleh generasi yang saya pikir bukanlah para “ahli waris”, tapi para perampok yang budiman. Mereka merampok kekayaan kebudayaan dari mana-mana, dari tempat-tempat yang mereka bisa merampoknya. Dan saya lebih menghormati para perampok ini daripada para ahli waris. Dari hasil rampok-merampok ini (apa istilahnya mengambil sesuatu milik bangsa lain – kebudayaan mereka – menjadi milik sendiri, jika bukan merampok?), mereka membangun kekayaan: puisi-puisi Chairil Anwar, cerpen-cerpen Asrul Sani, novel-novel Pramoedya, misalnya. Jika generasi ini kemudian memproklamasikan diri mereka sebagai “ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia” daripada “perampok kebudayaan dunia”, dan dengan tanpa tanggung jawab memilih “kebudayaan ini kamu teruskan dengan cara kami sendiri” daripada memilih berjanji, “dan kekayaan budaya ini akan kami pakai untuk mendidik anak keturunan kami agar lebih berbudaya”, saya kuatir ini merupakan kecelakaan sejarah. Hasilnya, dari generasi ke generasi, kita mewarisi mental-mental “ahli waris” ini. Pengaruhnya kemana-mana: negara dibangun dengan “warisan” utang dunia; seseorang merasa bisa jadi presiden karena bapaknya (atau ibunya, atau kakak iparnya) pernah jadi presiden, seolah-olah jabatan merupakan warisan pula; dan banyak undang-undang kita, masih merupakan warisan hukum kolonial. Jika ada yang bilang bahwa sastra, kesenian, dan kebudayaan tak memiliki fungsi praktis, saya bisa menunjukkannya: sastra, kesenian, dan kebudayaan bisa sangat praktis dalam menyumbang keruntuhan. Jadi apa saran saya setelah ngomel ke sana-kemari ini? Buat saya sudah jelas, saya akan berhenti menganggap diri saya sebagai “ahli waris”. Bahkan meskipun kebudayaan ini diciptakan oleh ayah atau kakek saya, saya tak ingin menempatkan diri sebagai “ahli waris”. Kebudayaan yang mereka ciptakan merupakan kekayaan mereka, dan kita, sudah selayaknya berjanji untuk membangun kekayaan sendiri. Kebudayaan sendiri. Saya hanya akan bangga dengan apa yang bisa saya kerjakan, bukan yang telah dikerjakan oleh nenek-moyang, apalagi oleh orang lain. Jika untuk modal membangun kekayaan sendiri itu kita harus merampoknya dari orang lain, mari kita merampoknya. Kita baca seluruh khasanah kesusastraan mereka. Jika Anda terlalu takut untuk menjadi Robin Hood, setidaknya mari kita “meminjamnya”. Dan sebagaimana peminjam yang baik, kita harus mengembalikan kebudayaan dunia yang kita pinjam, kembali ke dunia. Pastinya dengan bunga! Kalau perlu, dengan bunga kelas rentenir! Berhentilah menjadi kerdil sejak dalam kepala. Jika lapangan kesusastraan ini merupakan medan pertempuran melawan para raksasa, mari kita berkelahi dengan penuh nyali. Para raksasa itu tak lebih dari kincir angin belaka, Tuan. Dan saya akan menutup gerundelan ini dengan kutipan dari Umar Kayam (mudah-mudahan ia termasuk yang meyakini dengan teguh pernyataannya ini): “Bangsa yang bisa membangun Borobudur, mestinya bisa membangun apa pun.”

Apa Sih, yang Dilakukan Para Penulis Hebat?

Saya kadang-kadang bertanya seperti itu. Apa sih, yang membuat mereka hebat? Apa yang bisa kita lakukan jika ingin seperti mereka? Saya tak memiliki kesempatan untuk bertanya kepada para penulis hebat favorit saya: Hamsun, Gogol, Melville, Kawabata, Borges, dan lain-lain. Bahkan sekiranya mereka masih hidup dan saya berkesempatan bertanya, saya mungkin terlalu jengah untuk bertanya. Jadi apa yang bisa saya lakukan hanyalah sedikit menduga-duga, ya, dengan cara mencari tahu apa yang mereka lakukan dalam hidupnya. Tentu saja selain menulis karya-karya hebat itu. Pertama, tentu saja karena mereka banyak membaca. Mereka pembaca-pembaca kelas berat. Tengok Borges: saya curiga ia membaca hampir semua buku di perpustakaan tempatnya bekerja, hingga di masa tua matanya nyaris buta. Yang jelas, ia membaca karya-karya klasik Inggris. Sebenarnya tak cuma Inggris. Jika kita membaca cerpen-cerpennya, kita tahu ia membaca sastra dari mana-mana. Salah satu buku favoritnya adalah Alf Layla wa Layla, atau kita mengenalnya sebagai Hikayat Seribu Satu Malam. Atau coba baca wawancara beberapa penulis di The Paris Review. Saya sering terbengong-bengong melihat luasnya bacaan mereka. Atau baca buku kumpulan esai Roberto Bolaño, Between Parenthesis, ia membaca tak hanya sesama penulis (berbahasa) Spanyol, tapi juga membaca Cormac McCarthy, misalnya. Berapa banyak buku yang sudah kamu baca? Klasik dan kontemporer? Tak hanya dari kesusastraan negerimu sendiri? Jika ingin sehebat Borges atau yang lainnya, saya rasa kamu harus membaca segila mereka. Kedua, menerjemahkan. Menerjemahkan, tak hanya membuat pengetahuanmu atas bahasa lain bertambah, tapi sekaligus mengajarimu menulis secara langsung dari penulis yang kamu terjemahkan. Kamu mengikuti jejak sang penulis, kata per kata, kalimat per kalimat, dengan bahasamu sendiri. Pada saat yang sama, kamu tengah mengasah kemampuan menulismu, ya, dalam bahasa yang kamu pergunakan. Murakami merupakan seorang penerjemah yang tekun. Ia menerjemahkan novel Raymond Chandler ke Bahasa Jepang, salah satunya. Juga menerjemahkan novel The Great Gatsby karya F. Scott Fitzgerald. César Aira, yang novel-novelnya belakangan saya gemari, juga seorang penerjemah (sampai satu titik, bisa dibilang profesinya). Kembali ke Borges: novela Metamorfosa Kafka yang dibaca pertama kali oleh García Márquez merupakan edisi Spanyol yang diterjemahkan oleh Borges. Tak usah jauh-jauh, novelis terbaik kita, Pramoedya Ananta Toer, juga menerjemahkan banyak karya penulis luar: Steinbeck, Tolstoy, Saroyan. Ketiga, tak hanya menulis cerita, novel atau puisi, tapi tulis juga pandangan-pandanganmu tentang penulis lain, karya lain, dan kesusastraan secara umum. Sampai saat ini, salah satu esai terbaik tentang teknik menulis dua raksasa sastra Amerika saya temukan di esai pendek Gabriel García Márquez berjudul “Gabriel García Márquez Berjumpa dengan Ernest Hemingway”. Di esai itu, ia menulis tentang Hemingway dan Faulkner, dan bagaimana kedua raksasa itu berbeda secara teknik. Ngomong-ngomong soal García Márquez, jangan lupakan buku ulasan serius Mario Vargas Llosa mengenai novel Cién Anos de Soledad. Vargas Llosa juga menulis buku serius mengenai Madame Bovary dan Gustave Flaubert (Perpetual Orgy: Flaubert and Madame Bovary). Mau contoh yang lain? Michel Houellebecq menulis biografi kritis mengenai penulis cult Amerika, H.P. Lovecraft. Saya rasa, menulis esai tentang penulis dan karyanya membantu kita untuk belajar menganalisa, belajar melihat sudut-sudut pandang yang berbeda, dan dengan tanpa sadar, kita menciptakan cara berpikir sendiri, dan sudut pandang yang barangkali unik. Keempat, yang ini tak perlu dijelaskan panjang-lebar: terus menulis. Anda bisa menambahkan beberapa hal lain, yang boleh ditiru atau tidak: maraton (Murakami), mabuk (Faulkner), berburu (Hemingway), dan lain-lain. Jadi jika ada yang bertanya kepada saya bagaimana caranya menjadi penulis hebat, barangkali saya akan menjawab terutama empat perkara di atas. Jujur saja, itu bukan jaminan juga. Saya hanya berusaha menjawab dengan belajar dari penulis-penulis ini. Tapi setidaknya, mencoba melakukan apa yang mereka lakukan, saya rasa bukanlah hal buruk. Juga bukan kejahatan. Itu hal-hal baik yang layah dicoba. Setidaknya, belajar dari mereka, saya tahu bukanlah hal mudah untuk menjadi penulis yang baik, apalagi penulis yang hebat. Sebagaimana bukan hal yang mudah mengalahkan Usain Bolt dalam adu cepat lari di lintasan seratus meter.

Tiga Penulis

Tiba-tiba saya memikirkan tiga orang penulis, yang saya pikir merupakan penulis-penulis besar yang telah diperlakukan dengan tak sepantasnya di negeri ini. Pertama-tama, saya akan menyebut Wiji Thukul. Di generasinya, saya pikir ia penyair paling cemerlang dan orisinal. Sajak-sajak pamflet dan protesnya seperti tinju yang menghantam-hantam, kadang-kadang seperti cubitan kekasih yang membekas lama. Di tengah tradisi puisi yang (saya suka menyebutnya) “mooi indie”, puisi-puisi Thukul seperti penyimpangan yang mengancam. Saya mendengarnya (ya, mendengar bukan membaca) pertama kali di tengah-tengah aksi jalanan mahasiswa di Yogyakarta, di pertengahan hingga akhir 90an. Puisi-puisinya hidup di tengah aksi protes dan pembangkangan, dan aksi-aksi jalanan itu juga hidup oleh puisi-puisinya. Tapi seperti kita tahu, ia hilang bersama belasan aktivis lainnya. Tak ada yang tahu apakah ia masih hidup atau sudah menghilang. Tak ada yang tahu dan tak ada yang mengaku, siapa yang membuatnya menghilang. Apa yang terjadi padanya merupakan sensor atas kesusastraan yang paling penghabisan, paling mengerikan. Jika kita merasa hari ini menikmati kebebasan yang melimpah atas nama kesenian dan kesusastraan, pikirkanlah barangkali itu semu belaka. Sejarah Wiji Thukul belum lama terjadi, dan tak pernah ada koreksi sama sekali. Jika seseorang bertanya kepada saya, siapa penulis Indonesia yang perlu diterjemahkan ke bahasa asing sehingga mereka mengenali kesusastraan kita? Saya ingin menyebut, kita perlu memperkenalkan sajak-sajak Wiji Thukul. Bukan karena ia hilang, tapi karena sajak-sajaknya memang harus dibaca. Karena saya ingin membayangkan, jika orang berpikir seperti apa kesusastraan Indonesia, mereka akan melihatnya dalam puisi-puisi itu. Sedikit mundur ke belakang, tentu saja saya akan menyebut penulis kedua: Pramoedya Ananta Toer. Saya tak akan menulis banyak tentangnya, sebab banyak hal tentang Pramoedya telah diketahui orang. Termasuk sensor kesusastraan yang juga terjadi atasnya: pembuangan ke Pulau Buru. Kita bersyukur bahwa sensor mengerikan ini tak menghentikannya dalam menulis karya-karya besar, di antaranya Arus Balik dan Tetralogi Buru, tapi bayangkan jika ia tak perlu mengalami itu semua. Jika ia tak harus kehilangan arsip-arsip penelitiannya. Jika negeri ini memberinya kesempatan untuk menulis lebih banyak lagi. Dalam hal ini saya selalu berpikir negeri ini dirasuki kebodohan. Kita selalu berhasil menghentikan (membuang, menghilangkan, dan bahkan membunuh) bakat-bakat cemerlang, sehingga yang tersisa adalah apa yang memang bisa kita sebut sebagai sisa-sisa. Saya akan berhenti bicara tentang Pramoedya, kali ini saya ingin menyebut penulis ketiga, dari generasi yang jauh lebih ke belakang lagi: Amir Hamzah. Ia dijuluki (oleh H.B. Jassin) sebagai “Raja Penyair Pujangga Baru”, dan saya pikir memang ia raja. Ia tak hanya bisa disebut sebagai salah satu peletak sastra modern Indonesia, tapi kita harus mengakui bahwa sajak-sajaknya melampaui pelabelan tersebut. Sajak-sajaknya merupakan bagian dari karya-karya terjernih dan terbaik yang pernah dihasilkan oleh anak negeri ini. Saya bahkan tak bisa membayangkan Chairil Anwar akan muncul dengan puisi-puisinya yang seperti kita kenal, tanpa ia pernah membaca Nyanyi Sunyi, karya terbaik Hamzah. Tapi apa yang terjadi pada dirinya? Ia mati terbunuh dalam satu revolusi sosial di Sumatera. Ia seorang nasionalis, ia mencita-citakan Indonesia, tapi ia dihukum pancung pada 20 maret 1946 yang kemungkinan karena ia “feodal” dan mungkin dituduh anti-revolusi. Tuduhan yang saya pikir salah kaprah dan tak bisa dipertanggungjawabkan. Menyedihkan. Negeri ini memiliki sejarah yang memilukan: ia memenggal bunga-bunga tercantiknya, bahkan jauh sebelum mekar. Jika kesusastraan kita hari ini, untuk para pengeluh yang budiman, tak pernah beranjak kemana-mana, barangkali mungkin memang ini penyebabnya. Bahwa kita sering menghentikan bakat-bakat terbesar kita. Kita tak hanya tak menyediakan tanah gembur untuk pohon-pohon tumbuh agung, tapi bahkan jika ada pohon yang bakal menjulang indah di tanah tandus pun, tanpa rasa bersalah, kita menebangnya.

Apa yang Saya Katakan Ketika Saya Bicara Sastra Indonesia?

Sudah sering saya mendengar seseorang bertanya, kenapa sastra Indonesia belum dikenal di dunia? Belum lama, saya membaca tulisan pendek Linda Christanty di Facebook, kurang lebih mengatakan, untuk apa memperkenalkan sastra Indonesia ke dunia, jika kualitasnya masih memalukan? Kurang lebih saya akan sepakat dengannya. Tapi mari kita lihat sudut pandang lain. Sekali waktu saya pernah ditanya mengenai hal itu (jika dicari di internet, saya rasa akan ditemukan arsipnya), dan jawaban saya kurang lebih: apa yang disebut dunia itu dalam kasus kesusastraan hampir bisa dibilang berarti terjemahan dalam Bahasa Inggris diterbitkan di negara berbahasa Inggris (terutama Amerika dan UK). Dan perkara ini, Anda boleh merisetnya, hanya 3% dari penerbitan di dunia berbahasa Inggris (Amerika, UK, Australia), yang merupakan terjemahan. Dan kurang dari 1% berupa karya fiksi. Entah berapa nol koma persen yang merupakan fiksi sastra. Untuk menjadi bagian dari yang sangat sedikit itu, Anda harus menjadi salah satu penulis terbaik di antara terbaik (atau mungkin: sangat beruntung). Sastra Indonesia? Saya rasa belum menjadi hitungan. Oh, tentu saja jika Anda bertemu dengan kaum romantik (dan nasionalis buta), mereka akan mengatakan, “Kualitas kesusastraan kita sudah bagus, kok. Kita punya Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, Rendra, dll (saya sebut yang sudah meninggal saja, biar penulis yang masih hidup tak terlalu berang, atau terlalu senang).” Saya juga menyukai mereka, dan akan mengatakan mereka beberapa di antara penulis terbaik yang kita miliki. Tapi mari kita sedikit lupakan bias nasionalisme ini. Mari kita lihat dengan cara berbeda. Saya bisa menyebut beberapa penulis sastra Norwegia. Saya bisa bikin daftar 10 penulis terbaik (menurut saya) Jepang. Jika ada yang meminta saya menyebut nama penulis Israel, paling tidak saya bisa menyebut dua nama. Sekarang mari kita balik: tanyakan kepada seorang penduduk Norwegia, yang doyan sastra: apa yang ia ketahui tentang sastra Indonesia? Oh, sebenarnya tak perlu sejauh itu. Anda cukup membuka jurnal-jurnal sastra, esai-esai sastra yang ditulis para penulis asing, dan lihat, apakah mereka pernah menyinggung tentang sastra atau nama penulis Indonesia? Saya belum pernah membacanya. Karya dan nama penulis Indonesia melulu muncul di artikel tentang Indonesia, ditulis oleh pengamat Indonesia. Itu fakta. Saya pribadi tak terlalu suka membungkus fakta itu dengan apa pun yang akan membuatnya lebih menarik. Terus, bagaimana cara kita menembus 1% kesusastraan itu? Beberapa akan mengatakan: kita butuh pemasaran yang baik, kita butuh penerjemahan karya-karya terbaik kita dan mendistribusikannya dengan baik. Itu benar. Tapi saya ingin melihatnya dengan cara yang sederhana: banyak yang sudah dilakukan mengenai hal itu, bahkan bisa dibilang setua umur kesusastraan modern kita, tapi hasilnya jauh dari menggembirakan. Seperti dalam berbagai bidang, mata rantai kesusastraan bisa disederhanakan dalam rangkaian produksi-distribusi-konsumsi. Selama ini saya melihat usaha kita untuk memperkenalkan karya kesusastraan Indonesia selalu dititik-beratkan di bagian distribusi-konsumsi. Saya yakin telah ratusan karya sastra Indonesia diterjemahkan, tak hanya ke Bahasa Inggris, tapi bahkan bahasa asing lainnya. Lebih dari 25 tahun, ada lembaga semacam Lontar yang “memperkenalkan kesusastraan Indonesia ke dunia” melalui upaya penerjemahan ini. Setiap tahun, banyak penerbit, atau ikatan penerbit, mengikuti pameran-pameran buku internasional (termasuk yang bakal bikin heboh: Frankfurt Bookfair 2015, di mana Indonesia konon akan jadi tamu, dan membuat penerbit kalang-kabut dan membabi-buta menerjemahkan produk-produk mereka). Hasilnya? Saya tak terlalu terkesan. Bagi saya, permasalahan besar kesusastraan Indonesia bukan karena kita kurang rajin menerjemahkan dan kurang rajin mempromosikannya. Bagi saya, permasalahan terbesar ada di hulu: produksi. Untuk menembus 1% elit kesusastraan di muka bumi ini, untuk memperbaiki keadaan kesusastraan Indonesia hari ini, saya hanya percaya satu hal terpenting: perbaiki kualitas penulis. Kirim anak-anak kita, remaja kita, anak-anak sekolah, ke kamp konsentrasi yang bernama perpustakaan, suruh mereka membaca, membaca dan membaca, 365 buku setahun jika perlu, kesusastraan dari penjuru planet, dari masa klasik hingga kontemporer, kalau perlu mereka bisa membaca dalam tiga atau empat bahasa, sebab memperbaiki kualitas manusia dewasa (penulis setua kita), percayalah akan sesulit mengajak setan berbuat kebaikan. Cara lain (untuk penggemar analisis hegemoni Dunia Pertama), dan ini jauh lebih susah lagi: ubah pola pikir masyarakat dunia (terutama Dunia Pertama!) sehingga mereka menganggap kesusastraan terbaik di dunia adalah apa yang dihasilkan para penulis Indonesia. Cara lain yang lebih gampang, dan ini sering saya lakukan karena memang gampang: bersikap tak peduli (anggap saja kesusastraan kita hidup di dunia tersendiri). Cara pandang saya atas kesusastraan Indonesia mungkin agak sedikit kelabu. Tapi jangan kuatir. Saya seorang Sagitarian, yang konon “bisa melihat keindahan dalam ketidaksempurnaan.” Dengan semua masalahnya, saya tetap mencintai kesusastraan Indonesia, dan menikmatinya. Tentu saja termasuk menikmati karya-karya lugu dan bodoh kita.

Apa Itu Klasik? Apa Itu Cult?

Akhir-akhir ini saya sering menemukan atau mendengar orang menyebut “novel cult” atau “penulis cult”. Di sampul belakang novel Atomised Michel Houellebecq, Observer menulis “ditakdirkan sebagai buku cult.” Beberapa waktu sebelumnya, pernah membaca Chuck Palahniuk merupakan salah seorang penulis cult. Sebenarnya apa itu novel atau penulis cult? Ah, tentu saja dengan gampang kita bisa membuka internet dan mencari tahu definisinya. Dan sebagaimana bisa diduga, sebenarnya tak ada kesepakatan mengenai hal itu. Di satu sisi, itu menyiratkan penulis-penulis atau novel-novel yang memiliki penggemar (yang tak banyak tapi) kuat, yang membicarakannya dengan gila, menunggu karya-karyanya dengan fanatik (saya rasa itulah kenapa disebut cult, persis sama seperti tradisi dalam kelompok pemujaan lainnya). Haruki Murakami sekali waktu sempat bilang, kira-kira begini: “Jika aku tak menulis Norwegian Wood, aku akan menjadi penulis cult.” Dengan kata lain, gara-gara novel itu, bukunya dibaca oleh pembaca di luar pembaca tradisionalnya (yang mungkin menikmati karya-karyanya yang lain melebihi buku paling larisnya itu, atau bahkan membenci Norwegian Wood). Dengan kata lain, itu merujuk ke karya-karya yang bagus, bermutu, tapi tak terlalu populer (bahkan di kalangan kesusastraan yang jumlahnya sedikit sekalipun). Di sisi lain, ungkapan cult tampaknya juga menyiratkan novel-novel atau penulis yang tak laku (itulah kenapa pembacanya sedikit), tapi bagian pemasaran penerbit menyebutnya cult untuk memancing minat segerombolan pembaca menjadi pembaca fanatik. Apa pun itu, ini membuat saya berpikir-pikir, siapa kiranya di Indonesia yang layak disebut sebagai penulis cult? Mungkin Abdullah Harahap dan Asmaraman S. Kho Ping Hoo (keduanya penulis favorit saya)? Tapi di masa kejayaan mereka, karya-karya keduanya bisa dibilang arus-utama bacaan orang Indonesia. Bandingkan dengan H.P. Lovecraft, yang di masa hidupnya tak banyak orang membaca, tapi sekarang memancing minat pembaca baru yang keranjingan (Houellebecq bahkan sampai menulis buku tentangnya, dan Stephen King menulis esai). Saya pikir, saya ingin menyebut Manusia Harimau S.B. Chandra sebagai novel cult. Saya bertemu beberapa orang yang tergila-gila novel itu, memujanya, dan saya sendiri merasa bangga luar biasa karena memiliki novel itu dalam keadaan baik. Sekali lagi, istilah itu bisa saja sebenarnya akal-akalan bagian pemasaran penerbit saja. Jangankan cult, definisi tentang “klasik” pun tak pernah benar-benar ada kesepakatan. Saya punya definisi sederhana untuk klasik ini: karya-karya yang dibaca dan akan terus dibaca dari generasi ke generasi. Tentu saja itu juga problematik, siapa yang membaca dan terus membaca? Pada akhirnya, sebuah karya akan menjadi klasik untuk kebanyakan orang, dan sebagian lagi menjadi klasik untuk sekelompok orang tertentu. Saya bayangkan, novel-novel Pramoedya Ananta Toer akan menjadi klasik. Dulu kita membacanya, sekarang kita membacanya, dan saya yakin akan tetap dibaca beberapa generasi ke depan. Hal yang sama akan terjadi pada novel-novel dari masa Balai Pustaka: Siti Noerbaja, Salah Asoehan, Atheis. Sebagian besar mungkin karena peran para guru, dinas pendidikan, para kritikus dan sastrawan. Saya sendiri bukan penggemar novel-novel era Balai Pustaka, saya menganggapnya membosankan (beberapa saya baca sekali, dan yakin tak ingin membacanya lagi). Jadi bagi saya (mungkin minoritas), itu bukan novel klasik. Saya lebih memilih novel-novel berbahasa Melayu-Pasar dari era yang sama atau lebih tua, misal novel-novel penulis Cina Peranakan. Atau novel-novel yang ditulis oleh penulis-aktivis seperti Marco Kartodikromo. Sekali lagi, definisi ini memang tak kokoh, tapi seseorang harus memiliki pegangan, bukan? Sebuah novel bisa menjadi klasik bahkan jika Anda tak membacanya berulang-ulang, demikian pula sebaliknya. Apa boleh buat, setiap negara memerlukan deretan karya klasik ini, untuk menjadi pegangan bagi warganya apa yang sekiranya perlu dibaca. Sebagaimana sekelompok orang merasa perlu memberi cap penulis kegemarannya sebagai cult, paling tidak agar mengetahui apa yang bisa mempersatukan sekelompok kecil orang dalam bacaan dan antusiasme yang sama.

Older posts Newer posts

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑