Eka Kurniawan

Journal

Tag: Pramoedya Ananta Toer (page 1 of 3)

Kita Semua Medioker dengan Cara Sendiri

Belakangan beberapa teman penulis ikutan marah dengan fenomena ustadz karbitan. Ustadz yang menurut mereka enggak punya riwayat pendidikan panjang dalam soal agama, enggak jelas sanad keilmuannya, tapi dengan mudah berkhotbah bahkan di layar televisi nasional. Hasilnya tentu saja kegaduhan dan pendapat-pendapat yang tak jelas dasarnya. Hal yang sama juga terjadi ketika orang tak punya latar pendidikan dan kepakaran dalam soal sejarah atau antropologi, tiba-tiba bicara tentang agama yang dianut Majapahit, atau tentang siapa yang membangun Borobudur. Sebagian jengkel, marah, meskipun ada juga yang menanggapinya sebagai sejenis lelucon. Jujur saja, kadang saya pengin juga bertanya, kok elo enggak marah dan jengkel dan tersinggung, kalau melihat fenomena yang sama di kesusastraan atau kesenian? Banyak kok yang enggak jelas riwayat keilmuannya, tapi koar-koar seolah paling tahu tentang kesusastraan, tapi jadi juri misalnya, tapi jadi pemegang meja editor misalnya (dan lulusan filsafat sok-sokan nulis novel)? Kadang memang mudah marah untuk hal-hal lain, dan mudah memaafkan jika itu terjadi di lingkungan sendiri. Permisif, kata orang. Kita marah untuk fenomena di bidang ilmu agama atau sejarah, menuntut mereka untuk menegakkan kompetensi, memberlakukan ilmu-ilmu terebut dengan standar yang ketat; tapi abai untuk menuntut hal yang sama di bidang sendiri. Kenapa? Mungkin karena berpendapat, semua orang boleh bersastra dan semua orang boleh membicarakan hal itu. Ini fenomena yang sama dengan kebiasaan kita, kaum penulis dan seniman, yang garang mengkritik praktek-praktek kekuasaan. Kita benci kekuasaan yang korup, benci raja yang tak mau turun dari singgasana. Tapi pernahkah terpikir bahwa kita sendiri adalah “raja-raja kecil” dalam kesusastraan yang tak mau turun dari singgasana? Yang memiliki kekuasaan sedikit kemudian menyalahgunakan kekuasaan tersebut? Sederhana saja: jika di koran ada 52 minggu setahun, berapa banyak yang mau turun dari “singgasana” dengan tak menulis cerpen di sana, untuk memberi tempat pada tunas baru (ya saya tahu, pertanyaan ini menjengkelkan)? Tentu saja kritik seperti itu ada, tapi biasanya dari gembel jelata. Raja jarang mengkritik raja, apalagi mengkritik dirinya sendiri. Baiklah, kembali kepada kompetensi. Produk bawaan dari zaman modern. Rohnya masih gentayangan tentu saja sampai sekarang. Sebagian orang masih berharap hanya ustadz atau santri yang boleh bicara tentang ilmu agama. Sebagian masih berharap profesor atau peneliti yang melakukan kajian dengan standar ilmiah bicara tentang sejarah. Profesor fisika yang menerangkan apakah bumi itu bulat atau datar, dan bagaimana posisi planet-planet. Kita marah karena kuatir, tradisi keilmuan yang telah dibangun berabad-abad bisa runtuh oleh ocehan-ocehan tak jelas dari gerombolan medioker ini. Tapi sekali lagi, elo enggak marah jika hal itu terjadi di kesusastraan atau kesenian? Itu juga terjadi, dan mungkin lebih sering. Atau karena sering banget, sampai kebanyakan tidak sadar dan lupa untuk marah dan jengkel? Mungkin. Saya juga pernah marah, juga pernah jengkel. Mungkin karena saya menganggap kesusastraan sama pentingnya dengan ilmu sejarah, ilmu agama, antropologi atau fisika. Atau bahkan lebih penting. Tapi itu kemarin dulu, sih. Sekarang sudah enggak jengkel lagi. Sudah selow. Pascamodernisme sudah mengajari kita, bukan? Bahwa iklan obat kuat bisa sama pentingnya dengan tetralogi buru Pramoedya, dari aspek semiotik, sejarah maupun estetik? Bahwa segala sesuatu, termasuk kebenaran, adalah konstruksi pemaknaan yang relatif (tergantung siapa yang ngomong, di mana, di zaman apa, konteksnya apa). Dan berlaku sebaliknya, dong: mau gembel atau profesor, raja maupun jelata, boleh dong ngomong politik, sejarah, agama, atau sastra? Orang boleh merasa risi dengan fenomena kaum medioker bicara gaduh di sana-sini seolah-olah ahli, tapi pikirkanlah: kita semua medioker kok, dengan cara sendiri-sendiri. Satu-satunya hal yang perlu dilakukan, saya rasa, adalah kejujuran untuk mengungkapkan kekurangan di bidang-bidang ini (yang kita geluti atau tidak), semacam disclaimer, tanpa mengurangi hak-hak siapa pun untuk memiliki gagasan dan pendapat. Sejarah ilmu (juga filsafat, sastra, seni, dll), kenyataannya juga dipenuhi oleh gagasan-gagasan konyol dan tolol, dan dengan itulah peradaban berjalan. Saya sendiri percaya bumi itu datar. Datar sedatar-datarnya, tapi massa membuat ruang dan waktu melengkung. Datar seperti permukaan bola. Saya memang tak percaya surga tempat pesta seks (kalau mau, bisa melakukannya di dunia). Tapi seperti Borges, saya percaya di surga ada perpustakaan yang sangat komplet di mana saya bisa membaca semua buku yang ada (jangan tanya saya apa dalilnya, saya enggak tahu). Kalau mau jengkel, setidaknya jengkellah pada hal-hal yang lebih dekat dulu, siapa tahu itu membuat peradaban maju lebih cepat. Ambil segelas bir (atau kopi), duduk manis, dan nikmati hidup. Terakhir, jangan tersinggung dengan tulisan ini. Sesama medioker mbok jangan gampang tersinggung.

Disclaimer: penulis tak pernah belajar sastra secara formal, hanya gandrung baca dan tidak seberapa banyak. Kemudian sok-sokan menulis empat novel dan beberapa kumpulan cerita. Secara formal belajar filsafat, itu pun lulus dengan nilai pas-pasan

Though he considers Pramoedya an influence, and a master of the historical novel, he is quick to point out the radical differences in their approach to fiction: “I don’t think Pramoedya would write about an undead woman rising from underground,” he said. “It’s not his style.”

“A Writer’s Haunting Trip Through the Horrors of Indonesian History”, by Gillian Terzis, The New Yorker

“The Violent Mysteries of Indonesia”, by Ian Buruma, The New York Review of Book

“Indonesia: Robbed, Raped, Abused”, by Charles R. Larson, Counter Punch

“The Best Books I Never Wrote” (published by Stuff) is about 5 books I admire.

Sjón dan Parabel Bunga

“Enam bulan pertama sejak buku saya terbit dalam bahasa Inggris, tak ada ulasan, tak ada berita. Sepi,” kata Sjón dalam obrolan dengan saya di satu kedai di daerah bantaran selatan Brisbane. Ia sedang bercerita tentang novel pertamanya yang terbit dalam bahasa Inggris, The Blue Fox. Nama besarnya di kesusastraan Islandia sama sekali tak memengaruhi pembaca Inggris. Ia mencoba membesarkan hati, berpikir barangkali di novel berikutnya keadaan akan berubah. Buku itu memang diterbitkan oleh penerbit kecil di London, Telegram. Barangkali karena tak ada biaya promosi besar, dan jaringan para pengulas yang terbatas, novelnya seperti lahir untuk terkubur. Saya sendiri mengenalnya sejak sekitar setahun lalu, melalui novelnya yang lain, The Whispering Muse. Di acara pembukaan festival, ketika seorang panitia mempertemukan kami dan ia bilang sedang membaca novel saya, dengan sedikit terkejut saya berkata, “Sjón? Ah, saya baca bukumu!” Ya, saya agak norak jika bertemu penulis yang saya pernah baca bukunya dan saya menyukainya. Kami janjian untuk minum kopi atau sarapan bareng. Sialnya karena jadwal kami sering tabrakan, kami hanya bertemu selewat-selewat. Hingga di malam terakhir, ketika saya merasa bosan, saya keluar hotel untuk sekadar minum di satu kedai. Saya berniat menghabiskan waktu satu-dua jam membaca satu novel Halldór Laxness, seorang penulis Islandia, The Fish Can Sing. Tanpa disangka, saya bertemu si penulis Islandia lainnya di kedai, dari generasi yang tentu saja jauh lebih muda. Akhirnya kami punya kesempatan ngobrol panjang. Dari Knut Hamsun (ia terkejut karena saya bahkan bisa menyebut judul novel Hamsun dalam bahasa Norwegia – cuma judulnya, dan ia berkata, “Wah, kamu benar-benar mengenal Hamsun!”), yang pengaruhnya sangat besar dalam kesusastraan Islandia dan Skandinavia secara umumnya (kecuali barangkali di Norwegia sendiri, hahaha, di mana banyak orang membencinya); melebar membicarakan Laxness (kita seharusnya cemburu, Islandia berpenduduk tak lebih dari 400.000 jiwa tapi bisa menghasilkan penulis sekelas mereka. Laxness memperoleh Nobel Kesusastraan tahun 1955), salah satu “murid” Hamsun; saya bicara tentang Pramoedya Ananta Toer (“Penulis terbesar kami, dan akan selalu merupakan yang terbesar, tak tergantikan”) dan ia bilang ingin membaca Pramoedya; hingga akhirnya ia bercerita tentang pengalamannya ketika novelnya mulai terbit dalam bahasa Inggris, dan selama enam bulan pertama tanggapan atas buku itu sepi saja. Ia menceritakan itu sambil tertawa, barangkali sambil membayangkan bulan-bulan penuh frustasi. Tapi setelah enam bulan itu, ketika si penulis berpikir karyanya tak sanggup membuat pembaca Inggris tersihir, tiba-tiba The Guardian menurunkan satu ulasan panjang atas novel itu. Dan tak tanggung-tanggung, yang mengulas adalah A.S. Byatt, seorang penulis papan atas. Gampang diduga, ulasan-ulasan lain mulai bermunculan dan orang-orang mulai mencari karyanya. Kini, ketiga novelnya yang telah diterjemahkan ke bahasa Inggris terbit di Amerika oleh Farrar, Straus and Giroux, dan tentu saja ia mulai menjadi seorang selebriti dalam kesusastraan kontemporer dunia. Cerita tentang “nasib” Sjón ini membuat saya teringat pada parabel bunga, yang dulu sering saya dengar di kelas filsafat. Parabel itu sebenarnya diceritakan untuk membantu memahami konsep-konsep mengenai “ada” dan “menjadi”, tapi saya rasa bisa juga untuk menjelaskan “nasib” Sjón dan bukunya. Bayangkan ada bunga (katakan mawar yang indah) di tengah hutan. Bunga itu benar-benar indah, tapi masalahnya: tak ada orang yang melihatnya. Bunga itu “ada” sekaligus “tidak ada”. Jika bunga itu memiliki keajaiban, dan bertahan enam bulan, suatu hari barangkali akan ada orang lewat dan menemukannya, mengetahui keindahannya. Seperti A.S. Byatt menemukan The Blue Fox setelah berbulan-bulan. Intinya, sebuah novel tak bisa dibilang buruk hanya karena tak ada yang membicarakannya. Kualitasnya telah “ada”, seperti mawar indah di hutan; tapi sekaligus “tak ada” sampai ada konfirmasi atasnya. Tentu saja ada kemungkinan lain: ada orang lewat melihat bunga mawar itu, tapi ia buta atau tak mengenal konsep indah, maka mawar itu pun tetap tak ditemukan dan terkonfirmasi. Jadi, mungkin saja selama enam bulan itu, The Blue Fox ada yang baca, tapi mereka tak menyadari kualitasnya. Lebih sial lagi: ada yang baca, tahu kualitasnya, tapi tak mau mengatakannya (bisa karena ia tak ingin orang lain tahu). Parabel ini memang aneh, tapi setidaknya bisa dipakai untuk menghibur diri: jika karyamu tak dianggap selama bertahun-tahun, barangkali suatu hari ada yang menemukan dan mengetahui kualitasnya. Kita tanpa sadar sering berpikir dengan cara seperti itu. Tapi tunggu, parabel ini juga bisa diceritakan dengan cara sebaliknya: ada bunga bangkai yang sudah layu, buruk tidak kira; lalu pemilik lahan yang berharap orang datang ke hutannya bercerita ke orang-orang, “Ada bunga indah mekar di lahanku.” Tentu saja ia penipu, tapi ia bisa menciptakan ilusi “ada”, sampai orang mengkonfirmasi kenyataan sebaliknya. Dan yang lebih sering terjadi, kita memiliki bungai bangkai layu yang buruk, dan orang-orang telah melihat bahwa itu memang buruk, tapi kita tetap yakin suatu hari akan ada yang melihatnya dan menganggapnya mawar yang indah. Parabel yang aneh. Saya tak perlu belajar filsafat untuk mengetahui itu berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Tapi menyangkut Sjón, saya sarankan kalian membacanya. Saat ini saya sedang membaca novelnya yang lain, From the Mouth of the Whale. Seperti orang Islandia umumnya, ia sangat mencintai laut. Negeri kita dikelilingi laut, tapi nyaris tak ada penulis kita bicara laut.

Indonesian Greatest Writers and Some Talented New Generations

jplus_160815

Here is my glimpse view of Indonesian greatest writers, and some talented writers of our new generation (from JPlus, 16 August 2015).

Kita Ingin Menceritakan Kisah Orang Lain, Pada Akhirnya Kita Menceritakan Diri Sendiri

Pada awalnya novel ini seperti novel lainnya: bagian pertama mengisahkan persahabatan seorang bocah dengan seorang anak perempuan yang sedikit lebih tua, diawali oleh sebuah gempa yang membuat orang-orang berhamburan keluar rumah. Si anak perempuan dikisahkan sebagai keponakan lelaki misterius bernama Raúl, yang merupakan tetangga si bocah. Persahabatan itu membawa mereka ke satu kesepakatan: si bocah akan memata-matai kehidupan Raúl dan melaporkannya ke si anak perempuan. Memasuki bagian kedua, saya segera sadar novel ini tidak sebagaimana novel pada umumnya. Setidaknya tidak terlalu umum. Bagian kedua menceritakan si aku, seorang penulis yang sedang berjuang menyelesaikan novelnya (novel kesekian), serta hubungannya dengan Eme, mantannya. Seperti kebanyakan novelis, ia harus berjuang menyelesaikan bab pertama novelnya, mengedit, menghapus, menulis ulang, dan satu-satunya harapan adalah Eme mau membacanya. Jika Eme suka dengan apa yang ia tulis, setidaknya ia punya harapan untuk melanjutkan. Eme mencari-cari dalih untuk tidak membacanya. Satu hal yang sangat jelas, bagian awal novel yang sedang ditulis si penulis ini adalah bagian awal novel yang baru saja saya baca: tentang persahabatan si bocah dengan anak perempuan selepas gempa. Tentu saja awalnya saya menganggap ini sejenis kegenitan, hal konyol yang sering menghinggapi generasi saya. Saya merasa berhak menyebut penulis novel ini sebagai “generasi saya”, karena kebetulan ia juga lahir di tahun 1975, meskipun tentu saja dalam kandungan tradisi yang jauh berbeda: Alejandro Zambra lahir di Santiago, Chile, ketika negeri itu masih dalam kekuasaan Allende, sebelum jatuh ke tangan Pinochet. Judul novelnya Ways of Going Home, jika tak salah merupakan novel ketiganya. Ia salah satu dari 39 penulis berumur di bawah 40 dalam daftar yang disebut sebagai Bogotá39, sebuah inisiatif untuk menemukan para penulis muda terbaik dari Amerika Latin. Sebagian besar nama-nama itu belum saya kenali karyanya, kecuali dua: Andrés Neuman (Argentina) dan Juan Gabriel Vásquez (Kolombia). Zambra merupakan nama ketiga dari daftar itu yang karyanya saya baca. Bogota39 kemudian melahirkan Beirut39 (untuk kesusastraan Arab) dan Africa39 (untuk kesusastraan Afrika). Saya sendiri punya sedikit obsesi tentang umur 40: Gabriel García Márquez menerbitkan Cien anos de soledad di umur 40, Pramoedya Ananta Toer dianggap “berbahaya” dan ditangkap sebelum dibuang ke Buru pada umur 40. Saya anggap itu memang umur istimewa untuk kesusastraan. Saya pernah mengusulkan agar lomba-lomba kesusastraan dikhususkan saja untuk para penulis di bawah umur 40, dan uang negara (jika ada) dipergunakan sebagian besar untuk mengirim para penulis di bawah umur 40 ke berbagai festival sastra di dunia. Tanggapan? Banyak yang jengkel kepada saya dengan alasan, “Mutu kesusastraan tak bisa diukur dengan umur.” Baiklah. Lupakan. Kembali ke Zambra. Sebagai penulis saya rasa ia berbagi banyak pengalaman dengan sebagian besar kita di sini: tidak mengalami atau masih terlalu kecil untuk melihat seorang diktator despotis naik ke puncak kekuasaan. Ia dengan satu atau lain kata, dibesarkan oleh Pinochet. Tak jauh berbeda dari saya dan para penulis seumuran saya: kami tak melihat bagaimana ratusan ribu orang dibunuh untuk melapangkan jalan bagi Soeharto naik ke kuasaan, malah kami menikmati pertumbuhan ekonomi dan pendidikan yang relatif baik dan murah di bawah kekuasaannya. Tapi ketika saya melihat stiker di bak truk dengan foto sang tiran serta kata-kata, “Piye, Dab, enak zamanku, toh?” (Bagaimana kabarmu, Sobat, lebih enak zamanku, kan?), kepala saya mendidih dan marah, meskipun saya masih bisa menerimanya sebagai sejenis ejekan penuh humor. Si penulis di novel ini, juga marah ketika ayahnya berkata, “Pinochet seorang diktator, ia membunuh banyak orang, tapi setidaknya di masa itu ada keteraturan.” Ia marah, barangkali karena meskipun bisa menikmati keteraturan, ekonomi dan pendidikan, ia menikmati itu semua di atas pembantaian manusia-manusia lain. Kisah tentang penguasa tiran, barangkali merupakan kisah para korban kekejiannya. Tapi novel ini mengingatkan: kisah itu pada dasarnya merupakan kisah semua orang. Bahkan orang yang diam, yang tak berpolitik, pada dasarnya telah memberi andil besar dengan membiarkan kekejaman kemanusian terjadi di depan matanya. Novel ini mencoba menceritakan kisah sebuah keluarga (si anak perempuan) yang harus tercerai-berai oleh kekuasaan Pinochet, tapi akhirnya ia menceritakan kisah keluarganya sendiri (orang tua si penulis, yang memilih diam dan apolitis dan membiarkan semua itu terjadi), sebagaimana dikatakan si penulis, “Meskipun kita barangkali ingin menceritakan kisah orang lain, pada akhirnya kita selalu menceritakan kisah tentang diri sendiri.”

Minggu ini saya bergabung dengan Pontas Agency, satu literary agent yang berkantor di Barcelona. Semasa hidup, Pramoedya Ananta Toer juga pernah bernaung di agensi yang sama.

Günter Grass, Obituari

Saya tak ingat kapan pertama kali membaca The Tin Drum. Buku itu ada di rak buku saya, ada coretan-coretan saya di dalamnya. Tapi saat ini saya sedang tak mungkin untuk mengambilnya dari rak. Saya sedang di lobi sebuah hotel di daerah Kensington, London, jam 3 dinihari. Saya terbiasa bangun sangat pagi untuk menulis, untuk mengganti kebiasaan buruk lama “begadang” (yakni tidur menjelang dinihari), dan hanya beberapa jam sebelumnya mendengar kabar meninggalnya Günter Grass (usia 87), sang penulis. Bertahun-tahun lalu ketika mengunjungi Pramoedya Ananta Toer di rumahnya di Utan Kayu, Pram pernah memperlihatkan kepada saya satu lukisan di dindingnya. “Grass yang bikin,” kata Pram. Itu memang lukisan Grass, dihadiahkan kepada Pram ketika kedua penulis bertemu di Jerman. Ada dua hal setidaknya yang sering membuat saya iri kepada Grass. Yang pertama, luasnya keterampilan seni dia. Selain menulis novel, puisi, drama, dia juga membuat patung, karya grafis dan lukisan. Di kesusastraan, saya bahkan tak bisa menulis puisi! Dan di bidang seni rupa, ingin sekali saya punya studio kecil seperti miliknya untuk keisengan saya dengan grafis. Saya selalu tergila-gila dengan cetak saring dan cukil kayu, tapi tak pernah punya waktu (alasan para pemalas) untuk benar-benar melakukannya. Sumber keirian kedua, tentu saja watak kesusastraannya. Meskipun bisa dibilang saya tak memiliki pengetahuan melimpah mengenai kesusastraan Jerman, tapi jika membandingkannya dengan beberapa penulis Jerman lain, ada hal yang unik dalam dirinya. Saya sering membayangkan kesusastraan Jerman hampir mirip dengan filsafat Jerman: analitik, kontemplatif, memiliki skala yang “grande”. Membayangkan karya-karya Thomas Mann (The Magic Mountain), Robert Musil (The Man Without Qualities), Hermann Broch (Sleepwalker), sering sama “menakutkannya” dengan menghadapi kitab-kitab filsafat Kant, Hegel, dan kemudian Marx! Seperti saya menemukan sejenis keriangan dalam filsafat Jerman melalui Nietzsche, saya merasakan hal yang sama melalui novel-novel Grass dalam kesusastraan Jerman. Jujur, saya lebih sering membayangkan karya-karya Grass berada dalam tradisi Spanyol atau Inggris daripada Jerman. Pertama kali membaca The Tin Drum, kita sadar itu merupakan novel piqaresque, satu tradisi yang banyak berkembang di Spanyol (Don Quixote), Inggris (lihat beberapa karya Dickens), dan bahkan Amerika (Huckleberry Finn). Yang cerdas dari kisah Oskar Matzerath adalah, Grass berhasil mengelola kecenderungan picaresque yang seringkali memiliki watak kritis terhadap persoalan sosial, menjadi kendaraan untuk memotret sebuah zaman: terutama cikal-bakal dan memuncaknya kekuasaan Nazi. Setelah membaca beberapa karyanya yang lain, terutama yang paling saya suka The Flounder, kita juga segera menemukan kecenderungannya yang lain, yang membuat watak picaresque Grass semakin unik: fabel. Ya, selain meminjam alusi-alusi dari fabel, karya-karyanya juga memang sering dalam tingkat tertentu merupakan fabel. Tradisi picaresque dan fabel menciptakan dalam karya-karyanya sesuatu yang riang (meksipun humornya lebih seram gelap), kekanak-kanakan, ringan (meskipun hampir selalu dalam skala epik). Jarang saya melihat kualitas-kualitas semacam itu dalam karya penulis-penulis lain. Membaca Midnight’s Children Salman Rushdie barangkali bisa sedikit mengingatkan kita ke arah sana, meskipun Rushdie lebih sering disebut-sebut sebagai penulis realisme magis (label yang juga sebenarnya kerap ditimpakan juga kepada Grass), label yang dengan gampang sering diberikan orang asal menemukan elemen-elemen magis di dalam sebuah karya (jeritan si cebol Oskar bisa membuat kaca-kaca pecah berhamburan). Tapi bukankah fabel sejak awal sering muncul juga dengan keajaiban-keajaibannya? Grass saya rasa lebih banyak berutang kepada fabel, yang di tangannya, karya-karya itu menjadi fabel-fabel politik yang unik, dan telah memberi warna kesusastraan dunia di setengah terakhir abad kedua puluh. Oskar, mari tabuh beduk kecilmu untuk kepergiannya!

Cerita-cerita Seram Riyono Pratikto, Hal-hal yang Kita Tahu, Hal-hal yang Kita Tidak Tahu, dan Kenapa Kita Takut

Kadang-kadang ada hari-hari yang terasa kelabu, tak menggairahkan, dan membosankan. Hari ini merupakan hari semacam itu bagi saya. Saya memutuskan untuk mampir ke toko buku bekas, dan terhibur menemukan buku Si Rangka karya Riyono Pratikto. Sepanjang siang saya menghabiskan waktu membacanya dan teringat beberapa hari lalu, tanpa sengaja saya mencuri dengar pembicaraan seorang penulis (saya rasa seorang pemula) mengenai resep menulis cerita seram. Menurutnya, cerita seram dewasa ini, “Yang penting bikin kaget.” Saya tersenyum dan membayangkan film-film horor yang menjadi tren belakangan, yang sering membuat kaget penonton dengan musik menggelegar, atau kemunculan sosok yang tiba-tiba (bisa hantu, bisa pula bukan). Ya, tentu saja itu salah satu resep membuat takut orang. Tapi menurut saya, “bikin kaget” merupakan resep cerita seram paling dangkal dan paling tidak mengasyikkan. Kenapa? Sebab cerita semacam itu tak bisa dinikmati berkali-kali. Efek takutnya semakin berkurang karena makin lama kita menjadi tidak kaget, dan yang lebih menyebalkan, cerita seperti itu tak meninggalkan gaung apa pun setelah selesai membacanya. Kita akan memamahnya, setelah itu melepehkannya ke keranjang sampah. Resep klasik menulis cerita seram yang lebih keren, paling tidak dari pengalaman baca saya, tentu saja bermain di ranah “tahu” dan “tidak tahu”. Banyak kisah-kisah seram klasik, berhasil memainkan hal ini. “Tahu” artinya, kita sebagai pembaca menghadapi sesuatu yang memang telah kita ketahui akan memberi pengalaman yang menakutkan. Misalnya ada seorang pembunuh berdarah dingin yang selalu makan korbannya, dan senantiasa lapar setiap melihat manusia. Orang ini dikurung di satu sel. Lalu kita dipaksa masuk ke sel yang sama dan dikurung di sana bersamanya. Kita akan merasa takut, karena kita “tahu” apa yang akan terjadi. Mengelola “pengetahuan” ini gampang-gampang susah. Gampang, karena rasa takut itu sudah mendekam di kepala pembaca. Susah, karena sebagaimana pengetahuan apa pun, rasa takut karena tahu akan berbeda-beda berdasarkan pengalaman masing-masing orang, dan terutama juga dipengaruhi oleh kultur. Orang yang tak pernah tahu bahwa manusia di dalam sel itu pembunuh dan pemakan manusia, tentu saja tak akan setakut orang yang tahu. Demikian juga dengan hantu-hantu: kuntilanak belum tentu membuat orang Eropa takut, sebagaimana vampir belum tentu membuat takut kita. Sebagian besar dari kita belum pernah melihat kuntilanak, tapi “pengetahuan” akan kuntilanak sebagai sumber ketakutan, secara kultur sudah tertanam di pikiran kita. Kisah-kisah seram tentang ini, tentu bermain di ranah “tahu”. Resep lain, di antara semuanya saya rasa ini merupakan ketakutan paling alamiah yang bisa melintasi sekat-sekat pengalaman maupun kultur: bermain di wilayah “hal-hal yang kita tidak tahu”. Cerpen-cerpen Riyono Pratikto dalam Si Rangka (pertama kali terbit tahun 1958), merupakan harta karun langka dalam kesusastraan kita, terutama dalam genre “cerita-cerita seram” (istilah yang diberikan H.B. Jassin kepadanya), banyak bermain di wilayah ini. Di cerpen yang berjudul “Si Rangka”, misalnya, kita dihadapkan oleh kisah sepasang suami-isteri yang baru menikah dan menempati rumah baru. Setiap malam, si isteri selalu mendengar suara biola menyayat-nyayat dari balik tembok. Ia tak tahu siapa yang bermain biola, dan ketidak-tahuan inilah sumber ketakutannya. Tapi ketakutan ini berlipat di pihak si suami. Ia tak pernah mendengar suara biola itu, jadi ia “tak tahu” apa yang sedang dialami isterinya. Praktikto tidak bermain di hantu-hantu “kultural” yang diakrabi pembacanya. Ia tampaknya tak tertarik bermain di wilayah “tahu”, dan justru di sinilah kenapa cerita-cerita seramnya tampak istimewa sekaligus modern di waktu bersamaan. Tak heran jika Pramoedya memujinya sebagai “mempunyai tempat tersendiri, dan seakan ia membuat dunia tersendiri.”

Tanya-Jawab: Apakah Kemampuan Menulis Saja Tidak Cukup untuk Menciptakan Karya Penting?

Bernard Batubara: Naguib Mahfouz adalah novelis yang karyanya dianggap kontroversial dan masuk daftar buruan kelompok Islam fundamentalis di negaranya. Orhan Pamuk sangat kritis dan diperkarakan oleh kelompok nasionalis di Turki ke meja persidangan gara-gara di sebuah wawancara sempat berbicara tentang pembantaian kaum Armenia pada masa pemerintahan Ottoman. Pramoedya Ananta Toer ditangkap dan dibuang ke Pulau Buru karena karya-karyanya ditentang oleh pemerintah Orde Baru. Pertanyaan saya: Apakah hanya dengan menjadi ‘berbahaya’ seseorang dapat menjadi pengarang besar? Apakah kemampuan menulis saja tidak cukup untuk menciptakan karya penting dan meletakkan nama kita di dalam sejarah kesustraan, baik dalam negeri maupun dunia? Apakah tidak ada tempat di dunia kesusastraan bagi penulis yang ingin hidup biasa-biasa saja dan tenang-tenang saja?

Jika yang kamu maksud ‘berbahaya’ adalah bermasalah dengan penguasa atau masyarakat, ya jelas tidak harus begitu. Banyak penulis besar, dengan karya besar, hidup relatif biasa-biasa saja. Franz Kafka, jika kita membaca biografinya, lebih sering bermasalah dengan ayahnya, pekerjaannya, dan tunangannya, daripada dengan negara maupun masyarakat, tapi kita tahu pengaruhnya terhadap kesusastraan dunia bisa dikatakan sangat besar. Shakespeare dalam tingkat tertentu bahkan menikmati hidupnya sebagai penulis sekaligus selebritas, bisa dibilang kaya-raya dan diakui oleh kerajaan sehingga ia memperoleh gelar kebangsawanan. Hidupnya baik-baik dan tenang-tenang saja. Dan kita bisa sebut bahwa separuh penulis di dunia ini bernenek-moyang kepadanya. Dan Mo Yan, yang belum lama ini memperoleh Nobel Kesusastraan, saya kira juga menikmati hidup yang tenang-tenang saja. Memang ada karyanya yang pernah dilarang (The Garlic Ballads diterjemahkan melalui edisi Taiwan yang tidak disensor, seingat saya), tapi tetap saja ia bisa dibilang hidup tenang-tenang saja. Sebab kita tahu dia “pejabat” pemerintah dan hubungannya dengan kekuasaan cukup akrab. Daftar ini bisa sangat panjang, tentu. Hubungan tidak mesra antara penulis (dan intelektual secara umum) dengan kekuasaan dan masyarakat, selain itu, saya kira ada kaitan yang erat juga dengan faktor penerimaan lingkungan tertentu terhadap gagasan-gagasan baru ataupun yang berbeda. Ketika Jose Saramago menerbitkan The Gospel According to Jesus Christ, sudah jelas menimbulkan reaksi yang keras dari umat Katolik, tapi saya tak pernah mendengar ada “fatwa mati” ditujukan kepadanya, dan novel itu beredar dengan bebasnya. Hal ini berbeda ketika Salman Rushdie menerbitkan The Satanic Verses, yang kita tahu telah membuat penulisnya harus bersembunyi bertahun-tahun. Sebagai seorang muslim, saya menikmati novel itu, menganggapnya sebagai “inside joke” (sesuatu yang hanya bisa dinikmati oleh sesama muslim yang mengerti) tentang insiden ayat palsu yang diturunkan oleh setan, tanpa harus mengikis rasa hormat kepada Rasul (bahkan meskipun Rushdie bermaksud menghina, saya tak akan membiarkan diri saya terhasut olehnya). Jika semua muslim bisa menerima dengan cara seperti itu, ya barangkali Rushdie tak harus sembunyi ke mana-mana. Dan mari kita berandai-andai tentang Pamuk: seandainya ia penulis Amerika dan ia bilang, “Kaum kulit putih Amerika telah membantai orang-orang Indian hingga banyak suku-suku mereka punah,” apa yang akan terjadi? Saya yakin tak ada yang menggiringnya ke pengadilan. Saya tak bermaksud mengagung-agungkan orang Amerika, toh di bagian lain, mereka juga punya kekonyolannya sendiri. Dan tentang Pramoedya, dia relatif hidup tenang-tenang saja sebelum Soeharto berkuasa, dan baik-baik saja setelah Soeharto tumbang. Kita perlu bersyukur bahwa saat ini kita relatif bisa mengatakan banyak hal. Kita bisa bilang negara bertanggung jawab terhadap ratusan ribu (atau jutaan) simpatisan komunis yang dibantai. Kita juga bisa bilang, rakyat Papua berhak menentukan nasibnya sendiri. Meskipun ya, tampaknya kita masih tak akan aman sentosa berkeliaran di jalan dengan kaus bergambar palu dan arit. Yang perlu diingat, ada banyak penulis dibuang ke Pulau Buru bersama Pramoedya, tapi kenyataannya bisa dibilang hanya Pramoedya yang “dibaca”. Tapi mari kita bicara sesuatu yang lebih mendasar. Menurut saya, pada dasarnya semua penulis bisa dianggap berbahaya. Kenapa? Sebab tugas utama seorang penulis adalah menularkan gagasan dari dirinya ke orang lain. Dan gagasan yang tertanam ke pikiran orang lain, seringkali lebih permanen dan membahayakan melebihi virus yang menyusup ke tubuh. Tentu saja ini terlepas dari fakta bahwa ada gagasan yang sederhana dan ada gagasan yang kompleks, besar, revolusioner, aneh, dan macam-macam lainnya. Sebuah novel barangkali bisa mengubah seorang yang rasis menjadi toleran, sebuah puisi barangkali bisa mengubah sebaliknya, yang toleran menjadi homofobia, misalnya. Adakah yang lebih berbahaya daripada virus pikiran? Virus pikiran ini bisa berkembang dengan wajar di masyarakat yang bisa menerima gagasan baru dan perbedaan, dan menciptakan dialog yang sehat. Tapi di masyarakat atau komunitas yang tak siap, seringkali menciptakan benturan dan tak jarang menimbulkan kekerasan (penulis terpaksa eksil, dipenjara, dibunuh, karena gagasan mereka tak bisa diterima). Ketika benturan-benturan ini terjadi, hanya ada dua hal bisa dilakukan seorang penulis: tetap tegak dengan keyakinannya, atau merunduk dan menyerah kepada tekanan. Perbedaan keduanya akan menujukkan perbedaan kepribadian mereka, yang barangkali sedikit banyak juga memengaruhi kepada etos dan karya mereka. Sekali lagi, tentu saja seorang penulis bisa hidup biasa-biasa dan tenang-tenang saja, dan banyak contoh kehidupan seperti itu. Tapi di saat-saat tertentu, kita juga melihat ada penulis (dan kaum intelektual) menempuh tradisi Socrates, ketika ada yang harus dikatakan, mereka memilih untuk mengatakannya apa pun risikonya. Sekarang untuk pertanyaan tersisa, Apakah kemampuan menulis saja tidak cukup untuk menciptakan karya penting dan meletakkan nama kita di dalam sejarah kesustraan, baik dalam negeri maupun dunia? Saya ingin menjawabnya melalui analogi. Apakah kemampuan berenang saja tidak cukup untuk seekor ikan mencatatkan namanya di sejarah kelautan? Saya tak ingin menjawab dengan cukup atau tidak cukup, tapi satu hal jelas: ada miliaran ikan pandai berenang, seekor ikan harus “stand-out” untuk membuatnya terlihat. Dan percayalah, di dunia ini ada jutaan penulis yang bisa menulis bagus, mungkin jutaan yang lebih bagus dari kita. Dan ada jutaan karya yang bagus juga. Ini logika sederhana saja: di antara jutaan penulis yang bagus kemampuan menulisnya, apa yang bisa membuat seseorang dilihat/didengar? Saya rasa perbedaan mencoloknya terletak pada gagasan dan visi (termasuk gagasan/visi bagaimana sebuah cerita seharusnya ditulis), yang apa boleh buat, kadang-kadang membuat mereka terpaksa meletakkan dirinya dalam keadaan, yang kamu sebut “berbahaya”. Lagipula ujung-ujungnya, apa sih tujuanmu menulis? Ingin mencatat atau dicatat?

Older posts

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑