Journal

The Sad Part Was, Prabda Yoon

Ini memang agak memalukan: saya nyaris tak tahu apa-apa tentang kesusastraan negeri-negeri tetangga. Hanya satu-dua novel dari Malaysia saya baca, sisanya nyaris tak ada yang saya tahu tentang kesusastraan Thailand, Filipina, Vietnam atau lainnya. Tentu saja ada sejenis rasa penasaran, rasa ingin tahu, sekaligus prasangka (buruk): kalaupun baca, paling tak jauh berbeda dengan kesusastraan negeri sendiri. Prasangka buruk mengenai kesusastraan (seperti kesusastraan) negeri sendiri itu kurang-lebih: (1) terlalu berat oleh beban lokalitas, penuh dengan uraian-uraian yang nyaris mendekati karya-karya etnografi ketimbang sebuah cerita fiksi; (2) terlalu berat oleh beban ornamen, yakni kata-kata indah bersayap yang seringkali hanya menghasilkan deskripsi ketimbang narasi; (3) terlalu berat oleh beban moral. Baiklah, siapa pun tak ada yang melarang membuat cerita macam begitu. Saya hanya cenderung menghindarinya. Tapi membaca The Sad Part Was (sialnya dalam bahasa Inggris, dan entah kapan akan tersedia dalam bahasa Indonesia, sebab entah kapan juga saya bisa membaca dalam bahasa Thai) karya Prabda Yoon cukup keras menghantam prasangka (buruk) itu. Sebagian besar kisahnya, ini memang kumpulan cerita pendek, terjadi di ruang urban, Bangkok, tanpa upaya berlebihan meromantisirnya (dengan segala stereotif tentang metropolitan di negara dunia ketiga, utamanya Asia Tenggara). Hal pertama yang tampak adalah cara berceritanya (saya makin penasaran seperti apa aslinya), yang ringan tanpa buih-buih: “Aku tak punya banyak hal yang bikin bangga, kecuali satu kenangan yang membuatku tersenyum sampai hari ini yakni Ei Ploang menyebutku orang baik.” Seperti itu cara ia menulis, seperti di pembukaan satu cerpennya. Irama dan gayanya segar, mengingatkan saya kepada beberapa penulis kontemporer (saya tak ingin menyebut nama-nama, berharap selama membaca catatan ini, cukup mengingat nama Prabda Yoon belaka). Bahkan untuk manusia seperti saya yang sialnya juga belum pernah mengunjungi Thailand (kecuali beberapa kali transit di bandara ibukotanya), tak ada yang asing dalam kisah-kisahnya, juga humor-humornya. Saya benar-benar tertawa lebar, harfiah, ketika membaca kisah mengenai sepasang muda-mudi yang harus nengok ke atap tempat tinggal mereka gara-gara dua huruf N dan O yang besar sekali (dari iklan produk) diterbangkan hujan badai dan jatuh di sana. Sialnya, huruf N dan O itu menimpa seseorang yang kemudian mati tertindih. Setelah melapor dan polisi datang memeriksa, dengan air muka yang kesal penyelidik menyuruh muda-mudi ini ikut ke kantor polisi. Ternyata di atap, polisi mencium bau percintaan dan penyelidik menganggap mereka melakukan hal yang tak beradab dengan bercinta di depan mayat. “Tapi, kami melakukannya sebelun tahu ada mayat,” gumam si cowok, tapi tentu saja tak mampu mengatakannya terus-terang. Kisah yang lain sangat mengharukan, tentang seorang anak yang punya kelainan mental dan setiap hari memberi sejumput rumput kepada ibunya sambil berkata, “Ibu, ini salju untukmu.” Si ibu selalu berterima kasih, tapi dengan hati yang pedih juga. Ia berpikir, mungkin salju betulan bisa membuat si anak sembuh. Ia akhirnya berhasil menabung setelah bertahun-tahun (anaknya sudah tiga puluhan tahunan), dan membawanya ke Alaska. Apakah si anak sembuh? Itu tak penting. Yang terpenting si anak selalu memberi “Ini salju untukmu” dan si ibu selalu akan berterima kasih. Berharap akan humor agak-agak filosofis? Baca kisah tentang ruang kosong antar kalimat (saya harus membayangkan itu ditulis dalam aksara Thai; dalam huruf latin saya membayangkan spasi di antara kata). Tentang seorang lelaki yang mengintip seorang gadis menulis diary di bus, dan terkejut mengenai spasinya yang lebar sekali. Ia mencoba berspekulasi mengenai ruang kosong itu, spekulasi yang menarik, satir, sekaligus menggelikan. Spekulasi konyol yang kurang-lebih bisa ditemukan juga di cerpen lain tentang kancing piyama yang copot ketika pemiliknya tidur. Siapa atau bagaimana kancing itu bisa copot? Atau tentang akhir dunia di cerpen terakhir. Saya tak perlu menceritakan cerpen-cerpen lainnya, tapi saya bisa katakan, ini salah satu hal paling menyegarkan yang bisa kita temukan dari negeri tetangga, dan membuat saya makin yakin bahwa sudah saatnya ada upaya-upaya serius saling memperkenalkan kesusastraan di antara tradisi-tradisi yang berdekatan ini.

Standard