Journal

Walter Benjamin

The Origin of German Tragic Drama. Ia pernah berkata (di esai “One-Way Street”), “Karya akademik modern umumnya dimaksudkan dibaca seperti sebuah katalog.” Ia mungkin bercanda, atau meledek. Atau mungkin ia menganggap serius segenap katalog, dari daftar produk IKEA hingga daftar diskon dari minimarket depan rumah; dari katalog pameran seni rupa hingga katalog berisi daftar menu. Tentu saja ketika ia menulis buku ini, yang dimaksudkannya sebagai “karya akademik” (agar bisa menjadi dosen, meskipun akhirnya tak jadi), ia mungkin berpikir tentang katalog, meskipun saya tak merasa begitu ketika membacanya. Tapi mari berpikir secara begitu. Jika ini sebuah katalog, ia sedang menjajakan sederet gagasan mengenai drama tragedi, simbolisme, satir, dan tentu saja sosok tragis. Sosok tragis tak hanya muncul di dalam fiksi, tapi juga di kehidupan nyata. Saya sudah lama bertanya-tanya, dari mana ini berasal? Meskipun buku ini tak secara khusus untuk menjawab pertanyaan tersebut, tapi sedikit banyak memberi lanskap kilasan sejarah tragedi dan sosok-sosok tragis. Dengan kematiannya setelah minum racun demi mempertahankan apa yang dianggapnya sebagai kebenaran, Plato mengekalkan sosok tragis yang adalah gurunya: Socrates. Dan jangan dilupakan, Jesus berkorban untuk keselamatan manusia, untuk dosa-dosa mereka. Ia sosok tragis. Kedua sosok tragis ini, di kehidupan nan sekuler maupun nan religius, banyak memengaruhi sosok-sosok tragis lainnya. Fiktif maupun nyata, saya kira. Sejarahnya panjang, dan yakin akan tetap panjang ke masa depan. Sebagai orang yang lama hanya mengenal Walter Benjamin karena disebut orang di sana-sini (kelihatannya memang keren menyebut namanya dan mengutip satu-dua penggal kalimatnya), dan kemudian hanya sempat membaca satu-dua esainya (mungkin dianggap paling penting: “The Storyteller” dan “The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction”), membaca karyanya yang ini jelas merupakan tantangan yang mengasyikan, dan saya kira merupakan jendela pembuka yang sangat perlu. Terutama jika dibandingkan dengan tulisan-tulisan lainnya, yang seringkali berupa esai refleksi ringkas (meskipun tidaklah ringkas benar), dan terutama jika terbiasa hanya membaca penggalan-penggalan kalimatnya yang dikutip orang.

Reflections. Ketika di akhir 1940 di perbatasan Spanyol dalam “pelarian menuju kebebasan” (sebagaimana disebut oleh sahabatnya, Gershom Scholem), ia tertangkap dan memutuskan mengakhiri hidupnya, dunia kehilangan salah satu pemikirnya yang cemerlang. Tapi sekaligus, barangkali, memberi gairah baru untuk filsafat ketika esai-esai pendeknya, alih-laih traktat filsafat tebal (meskipun ia juga meninggalkan naskah lebih dari seribu halaman tentang arkade atau deretan toko-toko yang menjamur di Paris di akhir abad 19, yang sayangnya tak terselesaikan), dikumpulkan dan diterbitkan. Para filsuf mungkin tak lagi terobsesi untuk menciptakan atau menemukan sistem besar dan kompleks, dan yang datang kemudian hanyalah menjadi catatan kaki bagi para pendahulunya: bagi Marx, Hegel, Kant (misalnya). Setidaknya saya bisa melihat itu dari tulisan-tulisan Walter Benjamin ini. Ia tak sungkan menjadi “catatan kaki” ini, terutama untuk Marx, dan justru dari sini kita bisa melihat mata tajamnya terhadap hal-hal sederhana, keseharian yang banal, dan menembus untuk melihat dasar material dari berbagai fenomena tersebut, menjadikannya salah satu penafsir marxisme yang segar. Ketika pemikiran Marx menjadi monumen yang angker dan mengintimidasi (bahkan jika mengikuti anjuran-anjuran Slavoj Žižek, untuk memahami Marx kamu harus juga memahami Hegel yang tak kalah mengintimidasi), para penafsir seperti Georg Lukács, Antonio Gramsci atau Ernst Bloch membuat gagasan-gagasan besar ini menjadi lebih tertanggungkan untuk dipahami. Walter Benjamin membuatnya lebih terjangkau lagi, melalui fragmen-fragmen pemikirannya yang memang tak sistematis, acak, dan yang tak kalah penting: membicarakan fenomena-fenomena di depan mata. Hal ini saya kira juga dipengaruhi (atau mempengaruhi) pilihan gayanya: esai-esainya ditulis dengan berbagai pendekatan, mulai dari semi-memoar, catatan perjalanan, sketsa, percakapan (dengan Brecht), meskipun ia juga tak anti melakukan ulasan dengan gaya tradisional mengenai satu tema spesifik (seperti dilakukannya di “On Language as Such and on the Language of Man”). Lebih dari seorang pemikir maupun pengamat kebudayaan, Walter Benjamin memang seorang prosais yang mengasyikkan, bisa melihat detail-detail peristiwa dan menuangkannya dalam baris-baris yang jernih. Dalam catatannya mengenai Moskow, misalnya, ia menulis bagaikan seorang novelis: “Mereka telah mengembangkan tindakan mengemis sebagai satu seni tinggi dengan seratus cara dan variasi. Mereka mengamati para pelanggan di satu kedai roti di satu jalan yang sibuk, mendekati satu di antaranya, dan menemaninya, mengeluh dan memohon, hingga si pelanggan merelakan sepotong pie panasnya.” Sekali lagi, membaca potongan semacam itu, kita serasa berhadapan dengan seorang pencerita, melebihi seorang pemikir yang tengah mencacah dan membedah sebuah peristiwa. Tentu saja gaya yang relatif ringan dan bersifat fragmen ini sudah pernah dilakukan oleh para pemikir sebelumnya. Satu yang menonjol, misalnya Nietzsche, melalui fragmen-fragmen dan aporisma-aporismanya. Hal ini, pada akhirnya, akan menjadi tantangan berat bagi pembaca yang mencoba untuk menemukan “sistem”, pola, dari semua tulisan dan pemikiran yang tercerai-berai ini, terlepas apakah sang pemikir mencoba membangunnya atau tidak. Bagi saya sendiri, Walter Benjamin tampaknya tak mencoba ke arah sana. Meskipun begitu, kita dengan mudah melihat tegangan dari pemikirannya: antara sistem besar marxisme dan kecenderungannya yang tak kalah kuat dan tak terelakkan kepada anarkisme. Seperti kebanyakan intelektual sezamannya, ia mengklaim dirinya sebagai pemikir kiri, simpati dan pembelaannya terhadap marxisme harus dihadapkan kepada kenyataan Rusia di hari-hari tersebut. Ia tak menyembunyikan dukungannya, tapi juga tak sungkan memperlihatkan kegalauannya terhadap perkembangan kediktatoran proletar di bawah Stalin. “Rusia kini bukan saja sebuah kelas, tapi juga sebuah negara kasta,” katanya. Mungkin hal ini yang membuatnya terus-menerus melirik anarkisme? Lihat saja, kadang ia menukil Epicurus yang terdengar anarkis, ketika bicara tentang citra (atau saya kira tentang apa pun) yang “terus-menerus membebaskan dirinya dari benda-benda dan menentukan persepsi kita tentangnya.” Dengan kata lain, tak ada citra yang absolut atas apa pun. Tapi pada saat yang sama, persepsinya (dari telaah-telaahnya) terhadap banyak hal, memperlihatkan garis pemikiran marxisme yang juga kuat. Bicara tentang Pameran Dunia 1855 dalam esai lanskap tentang “Paris, Capital of the Nineteenth Century”, dengan jitu (sebagaimana hal ini masih tepat bahkan hingga saat ini), ia menunjukkan bahwa pameran tersebut “merupakan situs ziarah untuk pemujaan atas komoditas.” Ide pameran ini pada awalnya untuk “menghibur kelas pekerja dan menjadikan untuk mereka festival kesetaraan,” tapi dengan cepat Walter Benjamin menunjukkan bahwa yang terjadi justru “[kelas pekerja] menyerahkan dirinya untuk dimanipulasi sementara menikmati keterasingan dari dirinya sendiri dan dari orang lain.” Kemudian, ketika bicara tentang “Surrealism”, ia tak segan-segan menyatakan, “Sejak Bakunin, Eropa kekurangan satu konsep radikal mengenai kebebasan. Kaum surealis memilikinya.” Sikap anarkismenya, juga keberpihakannya kepada marxismenya, bagaimanapun telah membuatnya unik. Ia mungkin belum berhasil memadupadankannya (atau memang tak perlu), membiarkan esai-esainya bergoyang. Itu hanya memperlihatkan dirinya yang lebih dari sekadar pemikir: ia seorang pencari, penjelajah. Dalam satu foto yang pernah saya lihat, ketika ia duduk berdua bersama Bertolt Brecht saling menghadap ke papan catur, kita bisa melihat sosok manusia yang tak hanya tajam menatap bidak-bidak catur, tapi pada saat yang sama juga ada kesan menerawang. Ia tak hanya sering bermain catur atau bercakap-cakap dengan sang seniman, tapi sering datang kepadanya membawa esai yang baru ditulisnya. Meminta dibaca, menunggu komentar, lalu kembali mempertimbangkannya. Mungkin ia harus mempertimbangkan kedalaman pemikirannya, mungkin juga ia sedang mencoba memoles gaya prosanya. Ia pernah berkata bahwa menulis prosa yang baik memiliki tiga langkah: tahap musikal ketika itu disusun, tahap arsitektural ketika dibangun, dan tahap tekstil ketika ia dirajut. Esai-esainya, di luar tinjauan yang menyegarkan, tak terbantahkan juga merupakan musik, arsitektur sekaligus rajutan yang membuka ruang-ruang persepsi baru, sekaligus petualangan dan perjalanan.

Illuminations. Membaca esai macam “The Works of Art in the Age of Mechanical Reproduction” di zaman sekarang mungkin terasa menggelikan. Meskipun tentu saja masih mudah menemukan berbagai karya yang direproduksi secara mekanik (buku, foto konvensional, piringan hitam masih diproduksi), tapi serbuan reproduksi digital (buku elektronik, musik, film, foto digital) dengan segala kemudahan dan kecepatannya telah membuat reproduksi mekanik tampak tak hanya ketinggalan zaman, tapi terutama pemborosan waktu dan biaya. Walter Benjamin tak menikmati umur panjang, memilih mati daripada hidup di bawah fasisme Nazi, dan karenanya tak pernah melihat zaman digital ini. Tapi saya kira, apa yang dibicarakannya di esai tersebut tetap akan relevan, sebab yang diperbincangkannya bukan semata-mata alat, cara dan hasil reproduksi (yang merupakan salah satu fokus kritik Marx atas sistem produksi kapitalisme), tapi terutama apa pengaruhnya bagi pencipta, penikmat dan karya itu sendiri. Kegelisahannya berkelindan dimulai dari pertanyaan-pertanyaan tentang otentisitas atau keunikan. Tentu saja, seperti dikatakannya, semua karya seni pada dasarnya bisa direproduksi. Di zaman dulu, lukisan seorang master bisa dijiplak oleh murid-muridnya. Demikian pula pementasan teater, bisa diproduksi berkali-kali oleh kelompok yang sama atau kelompok yang berbeda. Dalam konteks seperti itu, reproduksi masih memiliki keunikan masing-masing. Goresan tangan si master berbeda dengan tangan si murid. Bahkan produksi teater dari kelompok yang sama di hari berbeda memiliki keunikannya masing-masing. Tapi bagaimana dengan karya yang diproduksi secara mekanik, seperti fotografi atau film? Semua hasil reproduksi bisa dikatakan sama. Apakah tetap ada otentisitas dan keunikan? Apakah mereka memiliki “aura”? Saya rasa pertanyaan-pertanyaan itu semakin tajam jika ditujukan kepada reproduksi digital. Dalam reproduksi mekanik, perbedaan antara satu kopi dengan kopi lain masih bisa dilacak (karena untuk ukuran zaman sekarang, penggandaan mekanik bisa dianggap tak persis), tapi dalam produksi digital, kesamaan itu nyaris bisa dikatakan persis. Dan bagi saya, kenapa esai ini tetap menarik di masa sekarang, karena reproduksi digital semakin menjauhkan kita (manusia, sebagai pencipta atau penikmat) dari cara produksi sebuah karya. Dunia digital memberi ilusi seolah semua orang bisa memproduksi banyak hal sendiri; sebetulnya kita semakin jauh, terpisahkan oleh mesin dan program, yang untuk sebagian besar orang semakin tak terakses. Baiklah, buku ini tak hanya berisi esai itu saja. Esainya yang saya anggap penting “The Stroyteller” juga ada di buku ini. Meskipun esai itu merupakan refleksi untuk cerita-cerita Nikolai Leskov, tapi pada dasarnya ia bicara hal yang jauh lebih luas dan barangkali masih ada hubungannya dengan apa yang dibicarakan di esai sebelumnya: reproduksi cerita dan bagaimana cerita disebar-luaskan. Ini semakin memperkuat kegandrungannya untuk melihat karya seni dan sastra (dan banyak hal fenomena kebudayaan secara umum) tak melulu dalam aspek-aspek estetiknya belaka, tapi juga bagaimana itu diproduksi dan direproduksi, dan bagaimana pengaruhnya terhadap penerimaan publik. Ia melacak bagaimana dunia berubah dari tradisi pendongeng ke tradisi “cerita” yang dibawa oleh surat kabar, membentuk apa-apa yang dianggap penting untuk disampaikan dan diterima. Hah, bukankah di masa sekarang hal itu semakin nyata? Cara “cerita” dibawakan melalui internet, sosial media, sedikit banyak memorakporandakan fondasi tradisi bagaimana cerita-cerita disampaikan dan diterima. Dalam hal ini, saya rasa esai-esai Walter Benjamin menjadi lebih penting lagi untuk ditengok dan dibaca, terutama bagaimana pengaruh alat dan cara reproduksi karya dan cerita (berita) memengaruhi struktur sosial, dan tentu pada akhirnya juga ekonomi.



Standard
Journal

Philosophy in the Boudoir, Marquis de Sade

Apakah Marquis de Sade bisa dianggap sebagai anak haram Pencerahan? Setidaknya, selepas membaca novel Philosophy in the Boudoir, saya membayangkan sang penulis karya-karya pornografi ini sebagai salah satu tukang ledek paling menggigit atas Pencerahan. Pencerahan mengembalikan “akal budi” ke dalam pusat, tapi Sade melangkah lebih jauh: ia meledek sekaligus mengambil alih akal budi untuk meyakinkan kita bahwa tak ada yang lebih penting di dunia ini selain kenikmatan diri, dan jika kita memerlukan filsafat, maka itu filsafat kenikmatan atau filsafat kesenangan. Sebab akal budi, dan alam, (menurutnya) mengajarkan kita akan hal itu. Jujur saja, bahkan bagi pembaca kontemporer macam saya, gagasan-gagasan abad ke-18nya (masih dipertanyakan apakah semua gagasan di novel ini sungguh-sungguh seperti dimaksudkan Sade sebagai pribadi atau sebatas gagasan tokoh-tokoh di dalam novel) masih mencengangkan. Dan bikin merinding. Tiba-tiba saya merasa begitu konservatif. Meskipun ia terobsesi untuk menjadi orang terkenal, Sade tak pernah berharap dikenal sebagai seorang penulis karya-karya pornografi. Obsesinya adalah menjadi dramawan, penulis naskah-naskah drama terkenal (ia melakukannya, dan karya-karya itu nyaris tak ada yang dikenal). Karya-karya pornografinya diterbitkan secara anonim, selain untuk menghindari hukum, juga karena ia memang ogah dikenal sebagai tukang menulis karya pornografi. Ia menulis karya-karya pornografi ini, terutama karena didorong rasa marah terhadap moralitas korup kaum ningrat di zamannya, dan terutama kemarahan kepada ibu mertuanya. Rasa marah, dan kejujuranlah, yang pada akhirnya membuat ia dikenal melalui karya-karya pornografi ini. Ironinya, melalui karya-karya semacam inilah justru ia dikenal (dan dari namanya, Sade, kita mengenal kata “sadis”; sebagaimana kita mengenal kata “masokis” dari nama penulis Austria, Leopold von Sacher-Masoch; dan gabungan nama keduanya menghasilkan istilah “sado-masokis”). Dan filsafat macam apakah yang ada di novel ini? Dengan gaya meledeknya, novel ini dibuka dengan catatan: “Dialog yang ditujukan sebagai pendidikan untuk perempuan muda” dan “semoga setiap ibu menganjurkan anak perempuan mereka membaca buku ini.” Novel ini memang sepenuhnya berisi dialog Socratesian dalam enam bagian (seperti bisa kita temukan di karya-karya Plato), yang semakin meyakinkan saya bahwa ini memang ledekan terhadap filsafat kaum moralis. Dialog pertama dibuka antara Madame de Saint-Ange, sang tuan rumah dan adiknya, Chavalier de Mirvel. Sang adik hendak memperkenalkan seorang tutor kesenangan bernama Dolmancé, untuk mengajari seorang gadis perawan bernama Eugénie. Demikianlah mereka bertiga mengajari Eugénie, hal-hal praktis, teoritis bahkan filosofis mengenai kenikmatan tubuh, sekaligus mempraktekkannya, hingga si gadis diperawani. Termasuk akhirnya memanggil seorang pelayan untuk menyempurnakan praktek mereka, karena memiliki kemaluan yang super besar. “Alam senang membantu kita meraih kenikmatan hanya melalui penderitaan,” demikian kata Madame de Saint-Ange, di dialog ketiga, seolah-olah semacam pembuka bagi apa yang akan kita temukan di sepanjang novel ini. Ya, bagaimanapun ini novel porno, penuh adegan (dalam bentuk dialog, sekali lagi) seks, yang seringkali brutal, tapi dengan sejumlah argumen-argumen filosofis (dengan gaya Pencerahan yang menyandarkan diri kepada akal budi) serta referensi-referensi sejarah. Dialog terakhir merupakan bagian yang paling mengerikan, ketika ibu Eugénie yang moralis dan takut anaknya berada dalam pengaruh buruk kelompok ini datang ke rumah itu. Saya tak akan menceritakan bagian itu, tapi jelas itu merupakan puncak sempurna bagi “filsafat” ala Sade di novel ini. Jujur, saya tak pernah membayangkan bahwa novel porno bisa dibangun dengan cara seperti ini, dengan gaya menulis dan argumen-argumen panjang yang sangat serius (termasuk ada pamflet sepanjang 45 halaman berjudul “Orang Prancis, Beberapa Usaha Lagi Jika Anda Berharap Menjadi Kaum Republikan”, yang merangkum sebagian besar gagasan filosofis novel ini). Pembaca dengan mudah diombang-ambing antara dibikin terangsang (ala novel porno) dan dibikin tercenung (seperti membaca traktat filsafat). Jika Sade tak berharap dirinya dikenal sebagai penulis karya-karya pornografi ini, saya rasa ia telah salah sejak awal: ia menulis selain dengan penuh kemarahan dan kreativitas, juga melakukannya dengan serius dan intelek. Dan itulah yang membuat novel ini terus bertahan hingga hari ini, terus diterjemahkan, terus diterbitkan, dan memperoleh pembaca-pembaca baru. Seperti sebagian besar karya klasik, ada sesuatu yang terus dibawanya untuk generasi-generasi yang berbeda-beda. Saya yakin, bahkan kaum puritan pun, membaca novel ini akan segera sadar: novel ini bukan semata-mata karya pornografi. Ini novel gagasan, tak peduli kita bisa menerima gagasan novel ini atau tidak.



Standard
Journal

Aristoteles, Novel Sebagai Kehidupan Potensial

Apakah novel yang baik merupakan novel yang membuat pembacanya percaya pada isinya? Apakah kualitas Don Quixote terletak pada kemampuannya meyakinkan kita bahwa sang tokoh memang gila karena membaca kisah-kisah para ksatria? Apakah kualitas Alf Layla wa Layla ditentukan oleh kemampuannya meyakinkan kita bahwa melalui dongeng-dongengnya, Syahrazad bisa mengulur hasrat suaminya untuk membunuh dirinya? Beberapa tahun lalu, saya akan mengatakan iya; tapi lama-kelamaan saya menjadi ragu. Berkali-kali membaca kedua karya tersebut justru membuat saya tak perlu memercayai apa pun yang ada di sana untuk membuat karya-karya tersebut bagus (atau menghibur saya). Bagaimanapun, kisah seorang perempuan yang terbebas dari pancung hanya melalui dongeng yang diulur bermalam-malam, sebenarnya terdengar konyol dan tak meyakinkan. Tak masuk akal. Beberapa bagian dari pemikiran Aristoteles di Poetic barangkali memberi dasar bagi keragu-raguan saya. Tentu saja Aristoteles tak pernah bicara tentang novel. Di masanya, novel belum juga dilahirkan. Meskipun begitu, seni bercerita melalui seni pertunjukan di atas panggung, yang kemudian kita kenal sebagai drama atau teater, tengah mencapai puncaknya dalam kehidupan orang Yunani, terutama di Athena. Apa yang kita kenal sebagai Tragedi Yunani dilahirkan di masa-masa itu, dan Aristoteles merupakan salah satu komentatornya yang paling cemerlang. Tak hanya tragedi, tentu saja, mereka juga melahirkan komedi. Intinya, mereka melahirkan suatu seni bercerita dan Aristoteles merupakan salah seorang pemikir yang mencoba merumuskan apa itu seni bercerita. Mundur sedikit ke belakang, Plato menganggap bahwa seni pada dasarnya merupakan tiruan (mimesis) kehidupan. Pandangannya ini berasal dari gagasan idealismenya: kehidupan ini sendiri merupakan tiruan dari dunia ide. Ada akibat yang sangat jelas dari gagasan Plato ini: seperti tas Louis Vuitton tiruan, kehidupan ini selalu bersifat tidak sempurna, rapuh, buruk dan segala hal negatif lainnya. Demikian pula seni berarti barang yang lebih tidak sempurna, rapuh dan buruk. Aristoteles, sebagai murid Plato, mengaimini pandangan tersebut tapi dengan perubahan yang sangat mendasar dan bisa dibilang mendekati gagasan modern mengenai “fiksi”. Ia sepakat bahwa seni merupakan tiruan dari kehidupan, tapi ia menjabarkannya lebih lanjut bahwa ada tiga pembeda karya seni yang satu dengan yang lainnya dilihat dari peniruannya. Pertama, medium peniruan. Itu bisa lukisan, musik, kesusastraan. Kedua, obyek tiruan. Itu bisa berarti kita meniru melodi di musik, meniru perilaku orang di pertunjukan drama, meniru gerakan dalam tari, dan lain sebagainya. Ketiga, bagaimana cara kita meniru. Saya kira bagian ketiga ini merupakan bagian yang sangat menantang dalam pemikiran Aristoteles. Ia tak banyak menjelaskannya (hanya menyebut misalkan dengan cara dramatik, naratif atau lirik), barangkali karena sederhananya bentuk-bentuk ekspresi kesenian di masanya. Dalam novel modern, kita tahu ada begitu banyak (bisa dibilang setiap novel memiliki caranya sendiri, atau setidaknya setiap novelis) bentuk dan cara. Bayangkan, setiap penulis bisa memilih media yang sama (novel), tentang hal yang sama (misal tentang Perang Troya), tapi akan melakukannya dengan cara yang berbeda. Dengan cara itulah, seni (secara khusus novel) merupakan tiruan kehidupan, tapi sekaligus bukan tiruan sebab dengan sadar ada aspek-aspek pembeda yang disisipkan ke dalam dirinya. Inilah saya kira inti pemikiran Aristoteles. Artinya? Cervantes tidak semata-mata meniru kehidupan manusia gila pembaca novel-novel ksatria, tapi juga sebuah dunia yang secara potensial ada karena berbeda. Kembali ke permasalahan awal, apakah novel yang baik harus mampu meyakinkan kita bahwa dunia potensial ini bisa dipercaya? Saya meragukannya. Kehidupan potensial ini bagi saya selalu merupakan hipotesis. Hal yang mengasyikan dari kesusastraan bukanlah karena ia menciptakan dunia alternatif yang kokoh di mana kita bisa melarikan diri dari dunia nyata, tapi karena ia menciptakan dunia potensial yang bisa kita (pembaca) bawa ke mana pun sesuka kita. Lagipula, mungkinkah seorang penulis meyakinkan seluruh pembaca? Omong kosong. Tak ada penulis di dunia ini mampu melakukannya.



Standard
Journal

Selera

Saya hanya ingin mengingatkan, ada lho yang namanya ilmu sastra. Sekali lagi: ilmu sastra. Banyak perguruan tinggi di negeri ini memiliki fakultas sastra. Ilmu sastra dipelajari di situ. Artinya? Seperti semua ilmu, sastra memiliki ukuran-ukuran. Memiliki epistemologi dan metodologi. Sastra bukan tahayul. Saya bukan lulusan fakultas sastra, tapi saya tahu ada ilmu sastra, dan saya menghormati sastra tak hanya sebagai seni, sebagai kerajinan, tapi juga sebagai ilmu. Sekali lagi, sastra bukan tahayul. Jadi? Jadi seperti ilmu-ilmu yang lain, sastra bisa dinilai dan dipejarai berdasarkan ukuran tertentu, berdasarkan metodologi tertentu. Tapi, masa seni diukur seperti itu? Ya, banyak sastrawan mungkin tak mempergunakan ukuran-ukuran tersebut. Sastrawan bisa menciptakan karya sastra seenak udelnya sendiri. Itu hak mereka. Dan pembaca? Pembaca memiliki selera. Ia boleh dan bisa memilih karya sastra menurut seleranya. Saya membaca novel-novel yang sebagian besar mengikuti selera saya (beberapa jelek menurut ukuran yang saya pakai, tapi tetap saya baca karena saya menyukainya). Bisakah karya sastra dilombakan? Bisa. Sangat bisa. Tapi mestinya tak bisa seenak udel (seperti kelakuan pengarang), dan mestinya tak bisa tergantung pada selera (seperti kelakuan pembaca). Itulah gunanya ada ilmu sastra. Agar sastra memiliki epistemologi. Memiliki metodologi. Memiliki ukuran-ukuran dan standar-standar. Lomba yang satu dengan lomba yang lain, sayembara yang satu dan sayembara yang lain, hasilnya bisa berbeda-beda. Bukan karena perbedaan selera, tapi tergantung metodologi dan ukuran yang dipakai. Metodologi dan ukuran ini yang harus dibuka, diberitakan kepada khalayak. Metodologi dan ukuran ini harus bisa dipertanggungjawabkan. Dan bisa diverifikasi, mestinya. Artinya, dengan metodologi dan ukuran tertentu, diulang berkali-kali pun, pemenangnya (mestinya) akan sama. Kenapa? Sebab metodologi dan ukurannya tetap. Terukur. Itulah ilmu. Saya tak mempelajari sastra di ruang kuliah, tapi saya tahu persis bahwa ada yang namanya ilmu sastra. Sejarah ilmu sastra (dan seni secara umum) bukan sejarah yang pendek. Sejak masa Yunani Kuno, Aristoteles bahkan sudah menulis Poetic. Gurunya, Plato, memiliki ukuran sendiri tentang seni (juga sastra) yang bagus itu seperti apa. Kalau kita mengikuti ukuran Plato (seni itu mimesis kehidupan), pemenangnya sudah pasti harus novel realis. Tak bisa tidak. Orang tak bisa protes jika ada yang bilang novel Italo Calvino tentang ksatria yang tubuhnya terbelah dua sebagai novel jelek, jika ukurannya Plato. Seluruh puisi Chairil Anwar bisa dianggap gagal, jika ukurannya haiku. Kebanyakan penulis tak nyaman menghadapi fakta bahwa sastra merupakan ilmu, dengan segambreng teori, dengan segunung pendekatan. Kebanyakan pembaca juga tak nyaman menghadapi fakta, bahwa sastra ada ilmunya. Tak apa. Teori-teori ini barangkali bukan untuk kebanyakan sastrawan, juga bukan untuk pembaca. Para sastrawan, menulis saja. Jika Anda tahu apa yang sedang ditulis dan kenapa menulisnya demikian, itu sangat bagus. Para pembaca, ikuti saja selera Anda. Tak ada yang memaksa. Tapi sekali Anda menilai karya sastra (sebenarnya menilai apa saja), Anda seharusnya punya ukuran. Anda harus mempertanggungjawabkan metode apa yang dipakai, sudut pandang apa yang dipakai, sehingga orang lain bisa memverifikasinya. Ini akan menghindarkan kita dari debat kusir yang tak ada ujungnya. Belajarlah berpendapat dan mempertanggungjawabkan pendapat itu, dan tak semena-mena berkata, “Kan selera gue?” Terutama mulailah memiliki argumen yang semua orang bisa memverifikasinya (mengecek dan membuktikannya sendiri). Saya misal menyebut novel The Old Man and The Sea Ernest Hemingway bagus. Kenapa? Ia berhasil mengeluarkan bagian dalam manusia melalui apa yang nampak di luar. Apa pijakan saya? Immanuel Kant tentang nomena dan fenomena. Anda bisa memverifikasinya. Anda baca Immanuel Kant, baca Hemingway, lalu bandingkan. Jika Anda menemukan penjelasan lain, Anda bisa membantahnya. Perbantahan kita akan menjadi sehat. Seperti bidang ilmu lainnya, siapa pun bisa salah. Kita akan diskusi tentang Kant dan Hemingway. Anda juga bisa menilai novel yang sama dengan pijakan yang berbeda, dan hasilnya mungkin novel itu jelek. Tak masalah. Asal kita tahu apa pijakannya. Suka tidak suka, itu soal selera. Tapi soal bagus dan jelek, anda harus punya ukuran. Belajarlah bertanggung jawab pada apa yang dikerjakan oleh otak Anda. Dan dengan cara seperti itu, kita tak dengan gampang berkata, “Soal selera kan bisa berbeda?”



Standard
Journal

The Map and the Territory, Michel Houellebecq

Rapuh, barangkali itulah yang ingin disampaikan novel ini. Segala hal di dunia ini rapuh belaka. “Kecantikan bunga-bunga itu menyedihkan sebab mereka rapuh, dan ditakdirkan untuk mati, seperti segala sesuatu di dunia tentu saja, tapi bunga-bunga khususnya memang rapuh,” demikian komentar Jed Martin, tokoh utama The Map and the Territory ini, yang memulai karir melukisnya (ketika masih kecil) dengan menggambar bunga. Novel ini dibuka dengan usaha Jed memperbaiki mesin pemanas ruangan yang rusak, menjelang Natal yang dingin. Mesin pemanas ruangan yang rapuh, yang bisa diperbaiki hanya untuk kemudian memperlihatkan tanda-tanda kerusakan lagi. Sangat mengejutkan bahwa penulisnya, Michel Houellebecq dalam wawancara dengan The Paris Review mengatakan bahwa ia menganut (atau bagian dari keluarga) romantik. Yang artinya, ia percaya ada kebahagiaan abadi, percaya hidup bisa begitu indah. Sementara novel ini memperlihatkan situasi yang sebaliknya, murung, dan tanpa harapan. Plato pernah mengatakan bahwa karya seni itu tak lebih dari mimesis (tiruan) dari kehidupan (ya, sebagaimana ia percaya kehidupan itu sendiri mimesis dari ide). Barangkali dengan cara pandang platonis semacam itulah, kehidupan dilihat di novel ini melalui karya seni dan dari kacamata seorang seniman. Dan sebagaimana kita tahu betapa rapuhnya karya seni (secara nilai estetik maupun nilai benda), maka kita bisa membayangkan betapa rapuhnya juga kehidupan. Tapi dengan kesadaran akan segala yang rapuh inilah, dunia menjadi layak dinikmati dalam kefanaannya, sebagaimana menikmati bunga mekar yang hanya sekelebat. Dorongan untuk menikmati kefanaan ini, saya rasa menciptakan dualisme yang saling bertolak-belakang. Kesadaran akan kerapuhan barangkali akan membuat kita rendah hati, bahwa segala sesuatu tak perlu diperlakukan berlebihan. Sebab segalanya akan mati, punah. Tapi bisa juga disikapi dengan sikap rakus yang mengeksploitasi. Seperti penjaja bunga yang mencoba mengeruk untung dari riwayat singkat kehidupan bunga-bunga. Lihatlah dunia seni rupa, sebagaimana yang dipertunjukkan melalui tokoh Jed Martin ini. Karya-karya fotografinya (kemudian lukisannya), yang dicetak dengan kertas dan tinta yang pasti akan hancur dan pudar dalam beberapa waktu ke depan (demikian juga cat dan kanvas), dikapitalisasi oleh (tak hanya galeri) tapi juga perusahaan multinasional, dan dijadikan investasi oleh para orang kaya dunia. Sebab mereka sadar, jika mereka tak mengeksploitasinya sekarang, segalanya akan lenyap dalam kerapuhan. Bukankah kehidupan manusia juga serupa? Manusia tak akan hidup selamanya. Manusia tak hanya rapuh menghadapi usia, tapi juga rentan oleh penyakit. Di sela-sela itu, selama kehidupan belum hancur oleh kerapuhannya, kita mencoba mengeksploitasi kehidupan kita sendiri. Dalam hal ini, doa orang Kristen yang meminta untuk bersyukur untuk roti hari ini tampak seperti tak memadai: orang ingin rejeki yang melampaui usianya sendiri, melintasi batas-batas kerapuhannya. Bayangkan pula dengan kehidupan seksual. Kita, manusia, telah menemukan seks tak lagi dalam fungsi reproduksi. Seks berarti kesenangan, bahkan pada titik tertentu mungkin komoditas. Kita tak ingin membiarkan seks, yang singkat itu, berlalu begitu saja tanpa memperoleh “nilai lebih”. Sebab, seperti novel ini mengatakannya juga, “Seksualitas merupakan sesuatu yang rapuh: susah dimasuki dan gampang ditinggalkan.” Dua tokoh di novel ini bereaksi berbeda terhadap kerapuhan. Ayah Jed memilih pergi ke luar negeri untuk memperoleh layanan eutanasia. Membayar dokter untuk membunuh dirinya. Ia memutuskan untuk memilih sendiri akhir kerapuhan hidupnya. Jed, sang anak yang kemudian menderita kanker, memilih tak mengobati penyakitnya. Membiarkan kanker menggerogoti tubuhnya, dan hanya mengonsumsi obat pereda sakit. Ia membiarkan kehidupan yang rapuh menguasai dirinya, menghancurkannya perlahan-lahan. Ini novel distopia, dan sebagaimana sering terjadi pada novel yang bagus, sangat mengganggu.



Standard