Eka Kurniawan

Journal

Tag: Picasso

Kematian Budaya?

Tak heran jika banyak orang mengomentari Mario Vargas Llosa sebagai “si kakek penggerutu”, terutama setelah terbitnya buku esai Notes on the Death of Culture. Saya membaca buku itu sepanjang kunjungan ke Melbourne (udara dingin menguras banyak energi untuk membaca), dan membacanya di sela-sela aktivitas, terutama ketika bangun tidur, hendak tidur, dan sambil makan. Kemudian lanjut di Brisbane (akhirnya berada di kota yang hangat!). Bagaimanapun, si kakek penggerutu cukup membuat saya gelisah juga dengan bahasannya. Beberapa bagian saya setuju dengan pandangan-pandangannya, beberapa yang lain saya punya pikiran sendiri, tapi setidaknya buku itu memancing dialog yang segar di kepala saya, dan bukankah itu tugas terbaik sejilid buku? Bagian paling menarik dari buku ini ada di bagian tengah, ketika ia bicara tentang erotisisme. Baginya, erotisisme (di mana seks diperlakukan sebagai seni), merupakan satu-satunya pembeda manusia dengan binatang. Ketika seniman (dan manusia umumnya) melihat seks tak hanya sebagai urusan menuntaskan berahi dan apalagi tak hanya urusan reproduksi, manusia telah sampai pada tahap sebagai makhluk yang berbudaya. Tradisi kesusastraan (juga seni lainnya) memperlihatkan bagaimana kita memperlakukan seks, menemukan teknik-teknik untuk menjadikan seks sebagai kesenangan, ekspresi cinta, imajinasi, atau bahkan mencari kemungkinan-kemungkinan dari seks untuk meningkatkan kualitas hidup (kebahagiaan, misalnya). Tapi penanda kita sebagai makhluk berbudaya ini, menurut Llosa, mulai tumbang. Seks tak lagi sebagai erotisme, tapi sudah seperti pornografi di masa kini. Contoh terbaik mengenai hal ini adalah sastra “sampah” (picisan?) yang “turned into something that is the mere satisfaction of the reproductive instinct.” Baiklah, tampaknya memang ia seorang kakek penggerutu. Garis besar gerutuannya sebenarnya terletak pada tumbangnya budaya adiluhung, yang sebelumnya dijaga baik-baik oleh kelas elit di masyarakat, oleh budaya “penonton” yang tak lain merupakan budaya popular, atau budaya massa. Seks hanya salah satunya saja. Jika zaman dahulu seks dalam kebudayaan berarti kita bicara tentang Kamasutra, Freud, Picasso, bahkan Sade … di masa kini barangkali yang ada di pikiran kita tentang seks adalah para bintang porno seperti Sora Aoi, atau perkakas semacam dildo. Keindahan, pemikiran, bahkan mistisime seks digantikan semata-mata oleh tontonan seks. Tak hanya seks tentu saja, menurutnya ini terjadi di banyak hal. Sastra serius digusur oleh sastra ringan (yang dibaca kemudian dibuang, seperti makanan ringan). Musik ringan, film ringan merajalela. Bahkan pertandingan olah raga, yang pada suatu masa merupakan ekspresi religius dengan beragam ritualnya (ingat olimpiade kuno), kini tak lebih dari sekadar tontonan di akhir pekan (barangkali dengan mesin judi yang berputar kencang). Dalam hal ini, sebenarnya tak banyak hal baru dalam bukunya ini. Orang sudah banyak membicarakan ini di mana-mana, dan selama penggerutu masih ada akan ada orang yang menggerutukan hal ini. Llosa hanya membuatnya lebih fokus, dan dari sana ia memberinya sudut pandang. Di sini lah saya rasa masalahnya. Kembali ke soal seks, Llosa menyatakan bahwa erotisme terikat dengan kebebasan manusia. Tapi saya menangkap, “kebebasan manusia” dalam pandangannya lebih banyak terikat kepada kebebasan elit, yakni sekelompok kecil kelas manusia yang bisa (atau senang) memperlakukan seks dengan cara yang ia harapkan: indah, nyeni, intelek, yang kemudian disebut sebagai erotisme. Kebebasan itu tampaknya tak berlaku untuk sebagian besar masyarakat, yang barangkali hanya ingin melihatnya sebagai tontonan, sebagai pelampiasan nafsu, yang menurutnya lebih mendekatkan seks sebagai pornografi dan manusia sebagai binatang (sebenarnya bukankah benar, manusia adalah binatang?). Di satu sisi, di bagian ketika ia membahas politik dan kebudayaan, ia menentang rejim politik mengontrol budaya, tapi di sisi lain, ia merindukan kebudayaan berada di tangan yang benar (siapa? elit?). Saya rasa, meskipun pandangannya bisa dimengerti dari sudut pandangnya, pada saat yang sama, sebenarnya bisa menjadi alat untuk melegitimasi pandangan kaum konservatif juga. Setidaknya dalam hal ini mereka sama: melihat pornografi sebagai tidak berbudaya, serta memandang rendah “budaya” yang hanya bersifat ragawi (menonton, misalnya). Bagi saya sebenarnya sederhana saja. Jika kebudayaan di masa sekarang dikendalikan oleh kerumunan massa, selalu ada ruang untuk siapa pun keluar dari kerumunan. Berjalan sendiri, menemukan setapak sendiri. Itu terjadi di masa lalu, terjadi di masa sekarang, dan akan terjadi di masa yang akan datang. Perbedaan besarnya terletak pada kenyataan bahwa masyarakat kini memiliki suara yang lantang. Kaum elit mungkin risau.

Grotesque

Seperti kebanyakan orang, dulu waktu masih remaja saya menganggap seni yang baik itu tentu saja yang “indah”. Maksudnya, jika itu lukisan, tentu itu lukisan pemandangan yang memperlihatkan tanah subur, hijau oleh dedaunan dengan gunung membiru di kejauhan; jika lukisan orang, isinya perempuan cantik dan lelaki ganteng. Tentu juga dilukis dengan semirip mungkin. Jika itu karya sastra, saya membayangkan kata-katanya harus puitis, penuh umpama dan kiasan. Tokoh-tokohnya dengan cepat mengundang simpati. Jika ia menderita, ia akan berjuang keras untuk menggapai impiannya. Ditulis rapi, dengan plot yang terukur, perkembangan karakter yang dinamis. Jangan lupa pesan moral. Itu dulu, sebelum saya berjumpa dengan seni-seni yang “tidak indah”. Sebelum saya tahu Marc Chagall melukis petani-petani degan gaya lucu, dan Picasso melukis kuda yang plantat-plentut. Di kesusastraan, saya akhirnya bertemu tokoh konyol semacam Don Quixote. Bukan pahlawan hebat, tapi juga bukan penjahat menyebalkan. Bertemu Tristram Shandy. Saya juga membaca kata-kata yang tidak puitis: coretan di toilet, grafiti di badan truk. Hingga akhirnya bertemu dengan istilah itu. Grotesque. Sesuatu yang aneh, sangat tidak alamiah (dalam konteks kita tidak terbiasa), dan tentu saja secara sederhana: buruk. Si Bongkok dalam novel The Hunchback of Notre-Dame karya Victor Hugo tentu saja grotesque. Demikian pula monster yang diciptakan Dr. Frankenstein. Dalam tradisi pewayangan, di luar para pangeran gagah dan puteri-puteri yang cantik, kita juga tahu ada Semar. Ada Gareng dan Petruk. Togog dan Bagong. Mereka grotesque. Menghadapi karakter-karakter semacam itu barangkali lama-kelamaan kita bisa terbiasa, meskipun tetap saja dalam alam bawah sadar, semua yang jelek dan buruk ini hanya ada untuk bahan olok-olok, dan sama sekali tidak untuk wilayah romantis maupun keksatriaan. Rasanya tak mungkin kan, membayangkan sosok buruk rupa, dengan wajah tidak proporsional, terlibat kisah asmara ala Harlequin? Tapi grotesque tentu saja tak hanya berurusan dengan karakter. Jika kita menengok kepada tradisi seni rupa atau arsitektur, dalam kesusastraan ia juga mestinya merasuk kepada gaya maupun tradisi. Menulis novel tanpa plot, tanpa karakter, dan hanya menampilkan berbagai lema dalam susunan macam ensiklopedia (Nazi Literature in Americas, misalnya, atau dengan cara yang sama saya membayangkan ada novel berjudul Makanan Tak Enak dari Pelosok Nusantara yang barangkali akan mengolok-olok selera kuliner kita) karena tampak aneh dan tidak biasa, dan dalam cita rasa tertentu jadi terlihat buruk, tentu saja bisa disebut grotesque. Sekarang bayangkan beragam kemungkinan-kemungkinan lain: novel yang tak punya konsistensi, tak punya koherensi. Bahkan novel yang ditulis dengan susunan kalimat yang berantakan. Logika yang payah. Pokoknya segala sesuatu yang keluar dari aturan pokok novel yang baik (dan cantik). Menurut saya, sudah pasti itu novel grotesque. Jadi, kalau suatu hari tanpa sengaja bertemu novel yang buruknya minta ampun (bahkan jika dibaca bisa membuat perut mual dan ingin muntah), jangan dulu menghakiminya sebagai novel yang buruk. Siapa tahu itu novel grotesque. Novel yang hadir untuk menggedor-gedor selera borjuis kita, yang terlalu nyaman dengan segala yang indah dan cantik. Setidaknya, jika novel itu memang buruk, kita tak perlu menyakiti penulisnya dengan kejujuran semacam itu. Anggap saja dia sedang berusaha menciptakan rute baru dalam kesusastraan, penjelajahan baru dalam tradisi grotesque. Penulisnya pasti senang, dan membuat orang lain senang saya yakin ada pahalanya. Ya, ya, meskipun kesusastraan tak pernah ambil pusing sesuatu ada pahalanya atau tidak.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑