Hari ini seorang teman bertanya, apa yang membuat saya menyukai karya-karya Knut Hamsun. Ia mengingatkan saya, tak banyak pengaruh Hamsun dalam karya saya, juga mengingatkan saya, bahwa Hamsun dekat dengan Nazi. Saya tak tertarik dengan Nazi-nya, jika ia memang seorang Nazi. Seorang Marxis dan komunis seperti Maxim Gorky mengagumi karya-karya Hamsun juga. Seorang Yahudi seperti Isaac Bashevis Singer juga pengagum Hamsun. Dengan mudah kita melihat pengaruh Hamsun di kedua penulis tersebut. Bagi saya, realisme Hamsun memang menarik. Metodenya seperti membalik apa yang dilakukan Dostoyevsky. Jika Dostoyevsky menceritakan manusia dengan cara menerobos masuk ke dalam diri manusia, Hamsun memakai cara yang sama mengeluarkan isi manusia ke lingkungan sekitarnya. Di Growth of the Soil, kita membaca jiwa si manusia melalui apa yang dilakukannya di tengah hutan, bagaimana ia menebang pepohonan, memelihara ternak, berkebun. Si tokoh yang bahkan tak banyak bicara ini, kita bisa mendengarnya sebagaimana kita serasa mencium aroma jerami, tai ternak, dan udara hutan. Saya bukan penggemar sastra Norwegia, juga bisa dibilang tak tahu apa-apa soal itu. Tapi di kepala saya, penulis yang memuncaki hirarki kesusastraan versi saya adalah Knut Hamsun, penulis Norwegia. Saya tak yakin saya akan menulis novel, bahkan menulis blog ini, tanpa pernah mengenal Hamsun. Saya menyinggung soal sastra Norwegia karena pernah seorang teman berkata, “Jika ada sastrawan Indonesia terkenal di dunia, dunia pasti akan memerhatikan kesusastraan Indonesia.” Sebagai warga negara yang baik, saya harus akui, impian semacam itu tentu saja indah. Tapi saya tak terlalu yakin dengan kenyataannya. Saya menyukai Gabriel García Márquez, tapi itu tidak dengan dengan serta-merta membuat saya penasaran dengan sastra Kolombia. Saya tidak yakin juga, sebagian besar orang yang menyukai Milan Kundera akan dengan serta-merta penasaran pengin tahu kesusastraan Ceko. Sebagian besar penulis terikat dengan kesusastraan negaranya, tapi dalam banyak kasus, seorang penulis dan karyanya menarik karena ia adalah dirinya, bukan karena bagian dari kesusastraan tertentu. Meskipun begitu, ketika saya menemukan dan membaca novel Out Stealing Horses karya Per Petterson, dan mengetahui ia penulis Norwegia, mau tak mau saya teringat kepada berhala saya, Hamsun. Dan semakin membaca halaman demi halaman novel tersebut, saya semakin melihat di sana-sini Hamsun seperti muncul kembali. Barangkali karena lanskap dan cara bercerita mereka yang mengingatkan satu ke yang lainnya. Hutan dan penebangan pohon di novel ini mengingatkan saya ke hutan di Growth of the Soil (meskipun saya rasa, yang satu di bagian selatan, yang lain di utara), atau lanskap hutan di Pan. Suasana pedesaan dan penghuninya (ah, termasuk gadis pemerah susu yang membuat kemaluan si tokoh menggelembung di balik celananya), mengingatkan saya pada suasana pedesaan di The Wanderer. Cara Per Petterson mendeskripsikan lanskap dan lingkungan sekitar untuk memberi suara kepada dunia dalam si tokoh, saya rasa merupakan warisan Hamsun yang sudah saya sebut di atas. Meskipun begitu, ada hal yang sangat jelas membedakan keduanya. Di sebagian besar (jika tak bisa bilang semuanya!) novel Hamsun, cerita didorong oleh motif-motif dan kehendak yang keluar dari si tokoh utama (dan biasanya, memang hanya menceritakan satu tokoh utama). Di Hunger, seluruh bangunan cerita disusun oleh motif si tokoh yang ingin menjadi penulis. Di Growth of the Soil, peristiwa demi peristiwa terjadi diawali oleh keputusan si tokoh untuk masuk hutan dan membangun “peradaban” di sana. Di The Wanderer, semuanya dimulai karena kehendak si tokoh untuk mengembara. Dalam hal ini, Per Petterson sedikit berbeda: nasib si tokoh tidak melulu ditentukan oleh pilihan dan kehendaknya, tapi boleh jadi oleh apa yang dilakukan oleh orang lain. Dalam hal ini, bagaimana si tokoh terpengaruh oleh apa yang dilakukan ayahnya dengan perempuan lain, dan oleh peristiwa penembakan seorang bocah sepuluh tahun atas saudara kembarnya. Ini dua tradisi bercerita yang sangat berbeda. Yang satu seperti efek domino di mana satu kartu dijatuhkan dan akan menjatuhkan kartu-kartu lain secara berkesinambungan, yang kedua seperti permainan karambol (atau biliard), di mana satu bola digerakkan dan membuat beragam gerakan berantai (yang sangat tak beraturan) tergantung posisi bola-bola lain. Meskipun dalam karya-karya Hamsun kita seperti melihat garis lurus, membaca Per Petterson ini membuat saya kangen membaca kembali novel-novel Hamsun. Ada yang kurang dimiliki Petterson tapi dimiliki Hamsun secara melimpah: humor.