Saya sering mendengar seorang penulis mengomel karena seseorang telah menilai bukunya tanpa membaca buku itu. Sama seperti pembuat film yang mengomeli orang yang menilai filmnya tanpa menonton. Kenyataannya, sebagian besar dari kita menilai buku tanpa membacanya lebih dulu. Pikirkan hal ini: seberapa sering membeli buku setelah selesai membaca buku itu? Seumur hidup saya, bisa dihitung dengan jari saya membeli buku yang sudah saya baca sebelumnya. Padahal bukankah tindakan membeli menyertakan unsur penilaian (tidak hanya penilaian, kami bahkan mempertaruhkan uang untuk sesuatu yang belum tentu berguna dan menyenangkan)? Barangkali kita melakukan penilaian hanya bermodal sedikit komentar di sampul belakang, atau judul yang menarik, atau sampul yang indah. Saya bahkan sering menilai sebuah novel hanya dengan mambaca nama penulisnya. Jika di sampul buku tertulis nama Paulo Coelho, besar kemungkinan saya tidak membeli dan tidak membacanya, misalnya (saya pernah membaca The Alchemist, setelah itu saya merasa yakin apa pun yang ditulisnya bukan untuk saya). Dalam tindakan membeli buku (atau menonton film di bioskop), berlaku, “Pokoknya itu bagus, sampai terbukti sebaliknya.” Atau, “Pokoknya ini jelek, sampai terbukti sebaliknya.” Penulis-penulis yang namanya sudah masuk “black list” di kepala saya, apa boleh buat mungkin tak pernah bisa saya buktikan menulis karya yang menarik untuk saya baca, sebab mungkin saya tak akan melewati halaman pertama karyanya. Penulis-penulis yang saya kategorikan “Pokoknya itu bagus, sampai terbukti sebaliknya,” meskipun karyanya kemudian mengecewakan saya, biasanya cukup beruntung selesai saya baca. Misalnya Gabriel García Márquez dengan Memories of My Melancholy Whore masuk kategori itu. Demikian juga Haruki Murakami dengan After Dark. Baiklah, kita bisa menyebut itu asumsi. Tapi tetap saja itu penilaian. Kita menarik asumsi berdasarkan apa yang pernah kita alami, atau pengetahuan yang kita miliki mengenai obyek yang kita nilai. Atau bisa pula karena pengaruh lingkungan (dan ini yang biasanya direkayasa para ahli pemasaran). Membeli novel (atau buku apa pun, atau menonton film apa pun), pada dasarnya seperti membeli kucing dalam karung. Yang sering terjadi, kita percaya saja kepada penjual kucing itu (dalam hal ini nama penulisnya). Jika kita tak kenal dengan penjualnya (yakni penulisnya), kita bisa menyandarkan diri pada rekomendasi orang lain. Apa pun, kita tak bisa membuka karung itu untuk melihat seperti apa kucingnya. Dalam perjalanan saya sebagai pembaca, saya banyak membaca buku karena rekomendasi teman, atau orang-orang yang saya percaya rekomendasinya. Sering terjadi karya yang direkomendasikan oleh ratusan ribu (bahkan jutaan), kemungkinan tak menarik hati saya karena mereka direkomendasikan oleh orang-orang yang tidak saya percayai seleranya. Tapi cukup satu orang yang saya percayai, merekomendasikan satu buku, maka saya bisa berbulan-bulan mencari buku tersebut dan membacanya. Saya butuh penilaian, butuh keyakinan, sebelum melakukan usaha mencari dan membeli buku tertentu. Membeli buku dan membacanya menghabiskan uang dan waktu, sangat tolol kalau kita tidak melakukan penilaian. Atau asumsi nilai. Maka jika ada penulis yang masih ngotot meminta pembaca melakukan penilaian atas karyanya setelah selesai membaca, sebagai pembaca kita bisa menuntut balik: izinkan membaca buku sampai selesai, jika suka saya bayar buku itu, jika tidak saya kembalikan ke toko buku. Sebagai penonton film: izinkan pula saya masuk bioskop tanpa tiket dan menonton, kalau kemudian saya suka, saya bayar tiketnya, jika tidak, saya ngeloyor saja pulang. Tentu saja tuntutan pembaca semacam itu tidak sehat untuk bisnis. Sebagai pembaca saya tahu itu. Tapi sebagai pembaca, saya juga ingin mengingatkan: pencipta karya tak bisa mendikte pembacanya, termasuk jika mereka mau melakukan penilaian sebelum membaca. Membeli buku itu seperti membeli kucing dalam karung, kami mengeluarkan uang untuk sesuatu yang kami bahkan belum tahu apa isinya.