Eka Kurniawan

Journal

Tag: Patrick Modiano

Kisah Fantasi + Spekulasi Filsafat = Jorge Luis Borges

Jika boleh menyederhanakan, formula cerpen-cerpen Borges menurut saya bisa dikatakan adonan antara kisah fantasi dan spekulasi filsafat. Kalau penasaran, sila baca artikel saya “Kosmologi Borges”, tapi di sini saya terutama ingin menunjukkan bahwa kreatifitas pada dasarnya merupakan upaya membuat adonan baru dari sesuatu yang ada sebelumnya. Para ahli toh sudah banyak yang bilang bahwa tiga tahap kreatifitas itu sederhana. Pertama, kita meniru. Makanya, jangan buru-buru main hakim jika melihat seseorang meniru kreatifitas orang lain, atau memergoki anak kita mencontek. Meniru merupakan tahap awal kreatifitas. Yang harus ditanamkan adalah jangan membiasakan diri mengaku karya orang lain, apalagi memperoleh keuntungan dari pekerjaan orang lain, sebab itu sudah kriminal. Meniru bukanlah mencuri, atau mengaku, tapi sebuah usaha menempatkan diri di tempat orang lain dan mencoba melakukan hal yang sama yang telah dilakukan orang lain. Jika saya meniru lukisan Van Gogh, saya mencoba menempatkan diri di tempat Van Gogh dan mencoba melukis bunga matahari persis seperti yang dilakukannya. Biasanya tidak sama bagus, tapi setidaknya kita belajar sebuah proses kreatifitas langsung ke seorang master (meskipun secara imajiner). Ketika Borges menulis “The Story of the Two Dreamers”, saya rasa dia mencoba meletakkan dirinya di tempat Sir Richard Burton ketika menerjemahkan “The Ruined Man Who Became Rich Again Through A Dream”. Perbedaannya, Burton menerjemahkan karya itu dari Arab ke Inggris, sementara Borges membayangkan dirinya menerjemahkan ke Spanyol. Dan pada dasarnya, proses penerjemahan kurang-lebih sama seperti proses meniru, makanya banyak penulis mengawali karirnya belajar menulis melalui penerjemahan. Tahap kedua, setelah meniru, adalah memodifikasi atau mengubah karya orang lain. Di tahap ini seseorang tak lagi meniru, tapi mulai menambah atau mengurangi sesuatu secara sadar. Menyadur sebuah karya bisa dianggap merupakan proses modifikasi. Demikian pula parodi, saya kira. Sebagian besar karya awal Borges di A Universal History of Infamy, saya rasa merupakan proses modifikasi dari karya-karya atau sumber-sumber lain. Banyak penulis lain melakukan hal yang kurang sama: mengambil ide pokoknya, lalu mengembangkannya sendiri ke arah lain. Kita tahu Borges menulis buku The Book of Imaginary Beings, sejenis eksiklopedia mengenai makhluk-makhluk imajiner. Italo Calvino mencomot gagasan ini dan mengembangkannya menjadi Invisible Cities, yang kurang-lebih sama: tentang kota-kota imajiner. Roberto Bolaño saya kira juga berangkat dari gagasan yang sama dan memodifikasinya ketika ia menulis Nazi Literature in the Americas, tentang penulis-penulis dan kesusastraan sayap-kanan imajiner di dataran Amerika. Bahkan di tahap modifikasi ini pun, kreatifitas kadang menciptakan hal-hal hebat. Setelah meniru, memodifikasi, tahap terakhir kreatifitas adalah mencampur apa-apa yang telah ada sebelumnya menjadi sesuatu yang lain. Seperti buah jambu, nanas, bengkuang, dicampur gula merah, garam, cabai, asam jawa, dan jadilah “rujak”. Kita tahu di dalam rujak ada berbagai bahan, tapi kita tak lagi menyebutnya berdasarkan bahan-bahan itu. Dalam Borges, saya melihat kreatifitasnya merupakan adonan kisah-kisah fantasi ditambah spekulasi-spekulasi filsafat, yang kemudian menghasilkan cerpen-cerpen semacam “The Disk”, “The Book of Sand”, “Borges and I”, atau yang sangat terkenal, “Tlön, Uqbar, Orbis Tertius”. Dalam karya-karya Cormac McCarthy, kita menemukan adonan gaya Faulkner yang dicampur dengan kisah koboi atau “Spaghetti Western” (terutama dalam trilogi perbatasannya, serta di The Road dan No Country for Old Men). Dalam karya-karya Patrick Modiano, kita bertemu ramuan kisah detektif yang bertemu dengan tradisi Proust, serta novel-novel sosial-politik. Di Animal Farm, Orwell sudah jelas memadukan satir politik, sastra bertendens, dan fabel. Penulis Indonesia seperti Intan Paramaditha, meramu fairy tales dan dongeng gothic dengan isu-isu feminis dan politik, menghasilkan cerpen-cerpen yang orisinal. Dan puisi-puisi Joko Pinurbo, jika bisa disederhanakan, merupakan pertemuan antara kisah-kisah Alkitab dan lelucon-lelucon sufi, sertra tradisi puisi lirik. Tak ada yang baru di bawah langit, demikian kata pepatah. Tugas kita, manusia secara umum atau penulis secara khusus, hanyalah membuat rujak. Syukur jika enak dimakan. Syukur jika ada lidah yang terus mengenang rasa rujak itu dan mengingat rasa tersebut sambil mengingat siapa yang membuat adonannya.

Honeymoon, Patrick Modiano

Seperti saya tulis dalam satu esai dua minggu lalu, banyak orang bertanya “Siapa dia?” ketika Patrick Modiano memperoleh Nobel Kesusastraan 2014. Saya tak akan membahas lagi soal kenapa namanya tak dikenal di “dunia”, lebih tepatnya di dunia anglophone (dan negara-negara yang terpengaruh olehnya). Saya hanya akan bercerita, betapa beberapa teman saya tak hanya bergumam “Siapa dia?”, tapi juga kesal karena jagoannya tidak menang. Terlepas dari nama-nama populer yang beberapa di antaranya layak untuk menang, saya justru selalu senang jika Nobel memilih nama-nama yang asing. Bagi saya itu artinya satu: rekomendasi bacaan baru, petualangan baru. Demikianlah, ketika nama Patrick Modiano muncul, saya memutuskan untuk setidaknya membaca satu bukunya. Barangkali karena judulnya menarik, saya memilih buku ini. Honeymoon. Di luar yang saya duga, prosanya sangat enak dibaca. Tak hanya enak, tapi juga mudah. Yang menyulitkan barangkali lompatan-lompatan waktunya yang bergerak cepat, ke depan, ke belakang. Tapi saya yakin, pembaca yang terbiasa membaca dengan konsentrasi tak akan kesulitan soal ini, apalagi bukunya hanya 120 halaman. Itu membuat saya semakin bingung, kenapa dia tidak begitu populer di Amerika (buku-bukunya konon numpuk di gudang penerbit bertahun-tahun, tak laku, tapi saya yakin hal ini pasti berubah setelah kemenangannya). Tapi baiklah, selera orang beda-beda. Tak usah bicara Amerika, menerjemahkan Modiano di Indonesia hari ini pun belum tentu laris seperti kacang goreng (mudah-mudahan saya salah). Baiklah, mengenai waktu dalam novel ini, saya rasa itu merupakan serabut yang mengasyikkan. Ia tak hanya menjadi penanda peristiwa-peristiwa yang berbeda, tapi bahkan menjadi semacam lanskap. Honeymoon merupakan dua kisah paralel mengenai Jean (si aku narator), yang memutuskan lari dari isterinya (yang selingkuh dengan teman mereka, dan kemudian belakangan juga ia tahu, selingkuh pula dengan kolega mereka yang lebih muda). Tapi perselingkuhan itu bukan motif utama pelariannya (bagaimanapun Jean sudah tahu itu lama), ia menghilang (dengan harapan dianggap mati) untuk menulis biografi seorang perempuan bernama Ingrid. Keputusannya ini dipicu oleh satu peristiwa ketika mengunjungi Milan dan dari seorang pelayan bar memperoleh cerita tentang perempuan yang bunuh diri. Ia mengenal perempuan itu, Ingrid, sebab satu hari ketika Jean masih berumur 20 tahun, Ingrid dan suaminya pernah memberi Jean tumpangan mobil. Kisah mengenai Ingrid merupakan kisah kedua dari novel ini. Cara Modiano membuat kedua kisah ini berlari sejajar sangatlah unik. Ketika Jean mengenang masa-masa umur 20annya, ia juga bisa lari ke masa-masa Ingrid berumur sekitar itu. Bahkan cara ini ia sudah lakukan sejak pembukaan novel ketika Jean masih di Milan, berjalan sepanjang trotoar, naik taksi. Ia membayangkan (ya, meskipun hanya membayangkan), di waktu yang berbeda Ingrid melakukan hal yang sama sebelum memutuskan mengambil nyawanya. “Kami sedang bulan madu”, kata suami Ingrid, di waktu yang lain. Saat itu masih perang. Mereka mengungsi di sebuah hotel yang disebut dengan kode “perfumed getho” oleh mata-mata. Mereka masih akhir belasan tahun. “Bulan madu” itu sebenarnya pelarian. Dan seolah untuk memahami pelarian itulah, saya kira, bertahun-tahun kemudian Jean juga harus melakukan pelarian, dari hidupnya, dari pekerjaannya, dari keluarganya. “Di atas segalanya, ini masalah kebutuhan untuk melarikan diri,” tulis Modiano di bagian awal novel, dan menambahkan di bagian lain, “Terlepas dari segala hal.” Novel yang sedih sebenarnya, bagaimana perang (juga kehidupan masa damai), bisa mendorong manusia ke kesepian yang mendalam dan tak melihat apa lagi guna dunia dan kehidupan. Ditulis dengan bahasa sederhana (nyaris tanpa ornamen, pun jejalan metafor), penuh adegan yang tidak sederhana, di mana adegan-adegan tertentu seperti cermin, bahkan pendar adegan lain di waktu yang lain. Saya yakin, buku-bukunya sangat layak keluar dari gudang, dan menemui pembacanya.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑