Journal

A Heart So White, Javier Marías

Sekali waktu Raymond Carver mengatakan, “Tulislah apa yang kamu ketahui, dan apa yang kamu tahu lebih baik daripada rahasia-rahasiamu sendiri?” Tentu saja problemnya, rahasia yang diungkapkan, bukan lagi rahasia. Di sinilah saya pikir penulis menghadapi tantangan kreatifnya: di satu sisi ia membocorkan rahasia (hal yang paling diketahuinya), di sisi lain, ia tetap menyembunyikannya dengan cara tertentu. Baiklah, saya mengutip dan membicarakan soal itu hanya sebagai pembuka saja. Saya ingin membicarakan sebuah novel, novel lama yang sialnya baru saya baca, berjudul A Heart So White karya Javier Marías. Apa hubungan novel ini dengan rahasia? Sangat erat. Ini novel tentang bagaimana sebuah rahasia semestinya tetap menjadi rahasia, apa pun yang terjadi. Dalam sebuah wawancara, ada bagian di mana Javier Marías menceritakan asal-usul judul tersebut. Judul itu merupakan kutipan dari satu dialog di Macbeth, William Shakespeare. Tapi sebagaimana ia mengakuinya, judul itu muncul belakangan, di tengah proses menulis novel (ia sudah menulis delapan puluh halaman, katanya), dan dengan cara itu juga memperlihatkan salah satu cara kerja menulis novel yang misterius, karena novel yang sedang ditulis tersebut, justru memperoleh fokus ceritanya setelah jalan hampir sepertiganya. Jadi di tengah proses menulis novel tersebut, sang penulis tiba-tiba memutuskan untuk menonton televisi (yang sebenarnya jarang ia lakukan). Di TV ada tayangan Macbeth, dan ia terpaku untuk menontonnya. Ada satu adegan yang membuatnya penasaran, adegan ketika Macbeth baru saja membunuh King Duncan dan mengatakan “rahasia” itu kepada Lady Macbeth. Apa yang dikatakan oleh Lady Macbeth kemudian membentuk apa yang kelak menjadi novel ini: “My hands are of your color; but I shame/To wear a heart so white.” Pikirnya, apa maksud kalimat itu? Ia membuka edisi kritis Shakespeare, mencari bagian itu, dan tak menemukan penjelasan apa pun. Saya pikir, Marías kemudian mempergunakan otoritasnya sebagai pembaca untuk menafsir kalimat tersebut, dan tafsir lengkapnya, ya jadilah novel tersebut. Bisa dikatakan bahwa dengan mengetahui “rahasia” Macbeth yang membunuh King Duncan, Lady Macbeth sebenarnya seperti ikut menanggung dosa. Ikut berdosa karena “rahasia” yang terbuka, karena mengetahui peristiwa itu, yang membuatnya “to wear a heart so white”. Seperti kebanyakan orang, saya kadang-kadang bertanya, untuk apa kita menyimpan rahasia? Tentu saja seperti kebanyakan orang, kita selalu memiliki rahasia. Yang kecil maupun besar. Rahasia-rahasia, yang karena namanya juga rahasia, tak ingin kita bagi kepada siapa pun. Saya ingin membawanya dikubur jika saya mati. Tapi dalam banyak hal, sering kita melihat apa yang semestinya menjadi rahasia, menjadi bukan lagi rahasia. Seperti kesedihan yang kadang tak sanggup ditanggung oleh tubuh yang menanggungnya, kadang ada rahasia-rahasia yang begitu besar sehingga tak tertampung oleh tubuh yang memilikinya. Ia akan tumpah. Atau ada pikiran-pikiran di mana satu hubungan (suami-isteri? pacar? persahabatan?), mengharuskan ketiadaan rahasia. Atau kita merasa harus membuka rahasia karena suatu hubungan. A Heart So White, mengingatkan saya kembali bahwa rahasia semestinya tetap rahasia. Membocorkan sebuah rahasia, tak hanya membuatnya bukan lagi sebuah rahasia, tapi pertama-tama, akan membuat hilang satu kepercayaan dan keyakinan. Kedua, sesuatu menjadi rahasia karena kita yakin hal baik jika itu tersembunyi, maka hal buruk akan datang jika itu tak tersembunyi. Katakanlah dalam kasus Lady Macbeth, ia menjadi ikut merasa berdosa mengetahui pembunuhan yang dilakukan suaminya. Dalam kasus novel A Heart So White, mengetahui rahasia suaminya, membuat keadaan menjadi fatal: sang isteri tak hanya merasa jijik kepada suaminya, tapi jijik kepada dirinya sendiri, sehingga ia memutuskan untuk bunuh diri. Kadang-kadang kita berpikir, berbagi rahasia merupakan sesuatu yang baik. Setidaknya mengurangi beban tubuh yang menanggungnya. Satu hal yang sering dilupakan: itu juga berarti memberi beban kepada orang yang mendengar rahasia tersebut. Membagi rahasia bisa dilihat (setidaknya dari Macbeth dan A Heart So White) sebagai tindakan egois mengurangi beban diri sendiri, untuk memberi beban kepada orang lain. Jadi seperti energi dalam relativitas Einstein, barangkali beban rahasia memang tak bisa dihancurkan atau dikurangi, ia hanya bisa dialihkan. Ngomong-ngomong, jika omongan ini terkesan serius, maafkan saya. Novelnya sendiri, terus-terang lucu dan sering bikin saya senyum sendiri, meskipun di banyak bagian juga bikin sedih dan seandainya saya masih bujangan ketika membaca novel ini, mungkin bikin saya takut kawin. Novel ini memperoleh Dublin Impac Award, dan seperti beberapa novel lain peraih penghargaan yang sama yang sudah saya baca (Atomised Michel Houellebecq dan My Name is Red Orhan Pamuk), novelnya memang bagus.

Standard
Journal

The Naive and the Sentimental Novelist

Saya senang membaca buku-buku tentang “teori” novel. Oh, bukan. Bukan jenis buku yang mengajari saya menulis novel penuh berisi tips dan trik. Tidak, saya tak tertarik membaca buku panduan semacam itu. Buku “teori” novel yang saya maksud, yakni buku-buku yang ditulis dalam rangka menjawab apa itu novel? Kenapa novel ditulis, dan terutama kenapa novel dibaca? Ya, meskipun ketika menulis novel, sudah hampir pasti saya lupa dengan semua teori-teori dan pemikiran tersebut. Saya yakin, siapa pun yang menulisnya, juga segera melupakan teori-teori ciptaannya ketika mereka menulis. Tapi paling tidak, buku-buku semacam ini, ketika ditulis maupun dibaca, membantu pikiran kita untuk terus bersikap kritis terhadap novel, terus bertanya, meskipun tak pernah ada jawaban pasti. Buku pertama, yang bisa dibilang klasik, tentu saja Aspects of the Novel karya E.M. Forster. Buku favorit saya yang kedua, buku kembar karya Milan Kundera: The Art of the Novel dan The Curtain. Dalam banyak hal, kedua buku itu bersinggungan satu sama lain. Jika Forster banyak bicara mengenai elemen-elemen novel, dalam beberapa tingkat nyaris teknis, kedua buku Kundera lebih bersifat filosofis, terutama menyangkut novel modern. Mario Vargas Llosa pernah menulis A Letter to a Young Novelist, buku kecil yang juga menarik. Gagasan-gagasannya mengenai novel mungkin akan lebih kaya jika kita membaca ulasannya mengenai novel Seratus Tahun Kesunyian dan Madame Bovary. Ia memang rada-rada akademis. Tapi sebagai pengantar terhadap pemikirannya mengenai novel, buku yang saya sebut sebelumnya barangkali sudah sangat memadai. Jujur saja, novel sebagai “seni novel” memang masih jarang dibicarakan, apalagi jika bicara tingkat kesusastraan Indonesia. Terutama jika dibandingkan dengan saudaranya: puisi. Padahal di abad 20 dan 21 ini, saya kira novel merupakan genre kesusastraan yang bisa dibilang sangat populer, terutama jika dilihat dari kuantitas penulis maupun pembacanya, serta buku yang beredar. Hal ini barangkali disumbang oleh menjamurnya novel-novel, yang katakanlah merupakan “novel ringan” atau “novel hiburan”, meskipun istilah itu pasti sangat bisa diperdebatkan. Tapi kita tak bisa menutup mata, barangkali banyak di antara penulis novel sendiri (apalagi pembaca?) yang tak pernah peduli, tak pernah mempertanyakan, apa itu novel? Kenapa novel ditulis? Kenapa novel dibaca? (Sebagaimana orang menjalani hidup malas bertanya apa itu hidup? Kenapa ada kehidupan?) Untuk saya, itu pertanyaan penting. Tanpa pertanyaan-pertanyaan itu, saya barangkali kehilangan gairah untuk menulis novel. Jika ada buku semacam ini yang ditulis oleh bukan penulis novel, tapi pastinya ia pembaca novel yang tekun, saya bisa menyebut satu yang sangat penting: The Theory of the Novel, karya filsuf Hungaria, Georg Lukács. Jika selama ini novel modern dan filsafat modern tampak seperti dua rel yang berjejeran, buku-buku semacam ini merupakan upaya segar mempertemukan keduanya, di mana kedua tradisi saling meminjam metode dan upaya kreatif mereka. Nah, untuk yang keranjingan buku-buku semacam ini, saya juga akan memasukkan buku kecil karya Italo Calvino, Six Memos for the Next Millenium, yang berisi enam catatan mengenai seni novel. Sayang karena keburu meninggal, buku tersebut hanya berisi lima catatan saja, meskipun judulnya tetap dipertahankan sebagai Six Memos …. Dan sekarang, di hadapan saya, dari salah satu penulis kontemporer, tergeletak buku berjudul The Naive and the Sentimental Novelist, karya Orhan Pamuk. Mengikuti tradisi Friedrich Schiller (dengan esai cemerlangnya berjudul “Über naive und sentimentalische Dichtung”, atau “On Naive and Sentimental Poetry”, atau “Tentang Puisi Naif dan Sentimental”), Pamuk membagi dua jenis novelis (dan pembaca novel): naif dan sentimentil. Naif dalam makna, para novelis yang mengarang apa adanya, yang membaca novel apa adanya: kekanak-kanakan. Sentimentil dalam makna, analitik. Ketika menulis novel, ia juga memikirkan mengenai banyak aspek, termasuk barangkali bertanya, apa gunanya menulis novel? Nah, karena saya senang membaca buku-buku semacam ini, boleh jadi saya termasuk yang sentimentil. Tapi karena saya sering menulis dan membaca tanpa memikirkan apa-apa, bisa juga saya naif. Entahlah. Menurut Pamuk sendiri, keadaan ideal untuk seorang novelis, tentu saja menjadi naif sekaligus sentimentil di waktu yang bersamaan. Saya rasa sulit untuk tidak sepakat dengannya.

Standard
Journal

Beberapa Penulis Hendak Menguasai Dunia

Bar itu sepi saja. Ada desas-desus tempat itu sudah dipesan oleh beberapa penulis yang hendak membicarakan upaya mereka menguasai dunia. Di tempat parkir, mata-mata CIA, KGB dan Mossad berkeliaran. Selain si bartender, yang menggigil ketakutan, sementara itu hanya ada dua orang duduk terpisahkan meja, sambil menonton siaran langsung El-Clasico di layar TV. Di sebelah kiri, seorang Madridista bernama Javier Marías. Di seberangnya, si orang Catalan bernama Enrique Vila-Matas. Keduanya tampak tegang melihat ke arah lapangan di TV (saya tak ingat, pertandingan itu di Santiago Bernabéu atau di Camp Nou). Sebentar lagi bakal ada adu jotos, pikir si bartender. “Sangat ironis melihat cara kedua klub bermain,” komentar si bartender untuk mencairkan suasana. “Barcelona penuh nafsu untuk menguasai bola. Fasis dan seperti Franco. Sementara Madrid liar tak jelas, anarkis dari kepala ke kaki.” Kedua penulis menoleh dan melotot ke arah si bartender, dan mengumpat bersamaan: “Tutup mulutmu!” Tak berapa lama masuk seorang lelaki dengan napas ngos-ngosan. Ia mengenakan training, sepatu jogging, dengan t-shirt bergambar The Doors. “Bartender itu benar,” kata lelaki itu menenangkan keduanya. “Lihat cara kalian menulis. Kau orang Madrid, menulis dengan gaya Madrid. A Heart So White itu benar-benar novel untuk para ningrat, untuk para penakluk. Sementara Bartleby & Co. lebih tepat dibaca para gembel yang tiduran di emper stasiun sambil mengkhayal bisa meniduri model di iklan Banana Republic.” Yang baru datang itu penulis bernama Haruki Murakami, orang Jepang yang gelisah dengan bangsanya. Yang bosan dengan apa pun yang ditinggalkan Kawabata dan Mishima. Tak hanya bosan, ia membenci mereka. Itulah alasannya ia mau datang ke bar itu, untuk bersama-sama memikirkan cara menaklukkan dunia, menciptakan tatanan dunia yang baru, yang meleburkan Barat dan Timur. “Lagipula Liga Spanyol itu membosankan,” kata Murakami lagi. “Aku lebih suka melihat Liga Inggris.” Huh, kedua penulis Spanyol mendengus (oh, salah satu dari mereka mungkin tak begitu suka disebut penulis Spanyol, meskipun menulis dalam bahasa itu). “Itu karena Liga Inggris mau memakai pemain Jepang,” kata Vila-Matas. Murakami tertawa, bagaimanapun ia tak bisa membantah itu. “Kalian selalu senang dengan Barat. Kalian senang melihat Shinji Kagawa bermain untuk Manchester United, meskipun sebenarnya ia agak payah. Orang Korea yang beberapa tahun lalu itu jauh lebih baik. Hahaha, jangan melotot, Murakami-san. Aku tahu kalian benci orang Korea. Benci semua orang Korea, kecuali, yeah, Nona Kim Taeyeon dan Im Yoona dan beberapa temannya.” Vila-Matas kembali menambahkan, “Lihat tokoh-tokohmu. Semua makan spagheti. Semua novelmu bercerita tentang spagheti.” Dan kucing, Marías menambahkan. Murakami hendak membuka mulut, tapi pintu bar terbuka dan seorang gaucho masuk. Ia mengaku gaucho, tapi tampangnya tak mirip gaucho sama sekali, meskipun benar ia orang Argentina. Ia duduk di samping mereka dan Murakami melotot ke arahnya, “Bagaimana bisa orang ini, César Aira, ada di antara kita?” Memangnya kenapa? tanya Si Catalan. “Orang ini tak bisa dipercaya. Orang yang menulis novel berjudul The Literary Conference tapi malah menceritakan kloning dan ulat raksasa, dan menulis novel berjudul How I Became a Nun tapi tak ada cerita tentang suster, tak bisa dipercaya. Ia orang pertama yang bisa menjadi pengkhianat kelompok ini.” Sabar, Ronin, kata Aira kalem. Ronin dan gaucho mestinya bersahabat. “Untuk menaklukkan dunia, kita tak hanya membutuhkan penulis-penulis berani seperti kalian, tapi juga butuh penipu licik sepertiku. Aku pewaris sejati penipu licik sejati. Borges.” Semakin malam, bar mulai sedikit ramai. Berturut-turut muncul Orhan Pamuk dan Michel Houellebecq. Pamuk serta merta mengambil remote TV dan memindahkan saluran, yang segera mengundang protes Vila-Matas dan Marías. “Aku mau menonton Fenerbahçe melawan Galatasaray,” kata Pamuk. Tapi ia tak menemukan satu pun saluran yang menayangkan pertandingan itu. Marías tertawa dan berkata, “Hahaha, Liga Turki tak ditayangkan di TV sini. Hanya Liga Eropa ditayangkan di TV.” Pamuk protes, “Tapi aku kan juga Eropa?” Kali ini Vila-Matas yang tertawa, juga Houellebecq. “Ya, ya, Eropa. Separo Eropa. Makanya siaran sepakbolanya cuma siaran separo saja, nyangkut di satelit.” Mereka semua tertawa dan Pamuk kesal, mengambil telepon genggam dan mengirim pesan singkat untuk pacarnya, Kiran Desai, “Orang-orang Eropa ini menyebalkan, Sayang. Aku lebih suka berteman dengan orang Asia. Maksudku, pacaran dengan orang Asia.” Akhirnya Houellebecq yang mengambil alih TV, mengeluarkan DVD dan memasukkan satu cakram sambil berkata, “Sudah, kita mulai saja. Sebagaimana kujanjikan, aku akan presentasi bagaimana cara kita menguasai dunia.” Seseorang entah siapa terdengar bergumam, Dasar orang Prancis, senangnya presentasi. Ketika DVD itu menyala, ternyata itu video porno. Seorang perempuan tengah digauli dua lelaki. Mereka semua terkejut. Houellebecq buru-buru mematikannya. “Maaf, maaf, salah DVD. Itu tadi …” Jangan bilang itu bahan risetmu. Bilang saja kamu doyan nonton video porno, kata Vila-Matas. “Atomised dan Platform itu isinya seks doang. Semua tentang seks,” kata Pamuk. Houellebecq berdiri, mencoba membela diri. “Itu bukan seks. Itu tentang cinta. Aku menulis tentang cinta dengan cara Dostoyevsky menulis tentang Tuhan di novel-novelnya.” Murakami nyeletuk, “Seperti judul novelmu, Whatever!” Bartenderlah yang kemudian mencoba menenangkan keributan kecil ini. Houellebecq mengganti cakram DVD dan siap meneruskan presentasinya, tapi tiba-tiba terdengar seseorang berkata dari sudut bar yang remang, “Tunggu, kita masih menunggu satu orang.” Semua menoleh. Entah sejak kapan ia ada di sana. Mereka berbisik satu sama lain, “Si Orang Hungaria. László Krasznahorkai.” Kehadiran lelaki ini membuat bar seketika menjadi dingin, dan udara terasa pekat. Semua kata-kata seperti tertahan di kepala. Keadaan yang kurang lebih sama seperti jika pemimpin gangster masuk ke ruangan. Yeah, pikir Murakami. Hungaria satu ini memang seperti gangster. Sosok maupun tulisannya. Tapi akhirnya mereka setuju untuk menunggu satu anggota lagi, sambil minum bir dan kentang goreng. Ia berdiri di pintu bar dengan sedikit kebingungan, lalu mencoba tersenyum menghampiri mereka sambil berkata, “I am sorry, I am late. I am from Indonesia. Writer Indonesia, eh, Indonesian writer. My name is …” Seseorang berkata, “Pakai saja bahasamu sendiri. Kita semua punya peradaban yang bernama penerjemahan.” Si penulis Indonesia mengangguk-angguk, duduk di salah satu kursi dan kembali memperkenalkan namanya. Eka Kurniawan. Yang lain saling pandang. “Enggak pernah dengar namanya,” gumam mereka. Si penulis Indonesia tersenyum dan kembali berkata, “Maaf, saya memang belum dikenal. Kalau boleh tahu, kalian siapa?” Maka masing-masing memperkenalkan nama: “Enrique Vila-Matas,” “Javier Marías”, “Haruki Murakami”, “Michel Houellebecq”, “László Krasznahorkai”, “dan aku César Aira.” Si penulis Indonesia mengangguk-angguk dan kembali bergumam, “Wah, sama. Kalian juga belum terkenal, ya? Saya juga belum pernah dengar nama kalian.” Sialan, gumam Houellebecq, aku selebriti tapi ternyata ada orang di kolong dunia belum mengenal namaku. Ia ingin mencekiknya. Dan si gangster László ingin menembak kepalanya.

Standard
Journal

Sepakbola

Ketika Malam Rabu kemarin saya terpaksa harus melakukan perjalanan malam ke luar kota, saya sedikit cemberut. Saya pikir, saya akan kehilangan kesempatan menonton salah satu pertandingan penting Liga Champions antara Barcelona melawan AC Milan. Seperti kita tahu, di leg pertama Barcelona kalah dari AC Milan 2-0 di San Siro. Barcelona tak hanya butuh keajaiban untuk membalas kekalahan tersebut, tapi juga butuh mengembalikan kepercayaan diri mereka: di luar kekalahan tersebut, mereka beruntun kalah dari Real Madrid di Liga dan Piala Raja. Semua orang sudah meramalkan, pertandingan enam belas besar itu akan menjadi salah satu pertandingan dramatik. Kegiatan mingguan saya memang menonton siaran langsung sepakbola di televisi. Saya mengikuti Liga Inggris dan Liga Spanyol, Liga Champions, serta beberapa pertandingan dari liga lain jika sempat. Sebenarnya tak ada satu pun dari tim-tim itu yang secara tradisional saya dukung. Saya cenderung pragmatis: ingin menonton sepakbola yang asyik. Kadang saya mendukung tim yang ini, musim berikutnya mungkin mendukung tim yang itu. Hingga akhirnya saya cenderung menonton hampir semua pertandingan klub besar. Di musim ini, saya senang menonton Barcelona, Atletico Madrid, Manchester City, dan Totenham Hotspur. Jika sempat, saya menonton Real Madrid, Manchester United, Chelsea dan Arsenal. Klub tradisional yang saya dukung dalam keadaan menang atau kalah, dalam kejayaan maupun keterpurukan cuma satu: Persib Bandung. Kenapa Persib? Saya bisa mencontek jawaban Orhan Pamuk ketika ia ditanya kenapa menyukai (klub sepakbola Turki) Fenerbahçe: “Ini seperti agama. Tak ada ‘kenapa’.” (wawancara di Spiegel, menjelang Euro 2008). Meskipun begitu, saya bukan tipe suporter yang tiap akhir pekan berbondong-bondong ke stadion. Saya juga tak memakai jersey bola, dan tak pernah tertarik mengenakannya. Saya tipe penonton yang duduk sendirian di depan televisi. Sepakbola merupakan hiburan saya yang menyenangkan, di luar membaca novel atau cerita pendek serta komik yang bagus. Barangkali karena saya menyukai sepakbola diawali melalui siaran radio, saya merasa hal terpenting dari sepakbola adalah aspek dramatik, aspek imajinatif, bahkan aspek puitik. Ketika masih kecil, bersama paman-paman, saudara dan tetangga, kami berkumpul mengelilingi radio untuk mendengarkan siaran pertandingan Persib. Dengan cara seperti itu, satu-satunya cara menikmati sepakbola adalah dengan kekuatan imajinasi. Saya hanya bisa membayangkan bagaimana Yusuf Bachtiar (gelandang serang Persib di masa itu) menggiring bola, meliuk di antara para pemain lawan, dan mengirimkan bola ke penyerang. Saya membayangkan pertandingan sepakbola dengan cara yang sama saya membayangkan pertarungan antara Mantili dan Lasmini di sandiwara radio favorit saya, Saur Sepuh. Bagi saya, sepakbola merupakan “cerita”, dan keseluruhan budaya sepakbola ini sejenis sebagai wilayah kesusastraan lain. Barangkali karena melihatnya dengan cara seperti itulah, saya cenderung menonton sepakbola dalam kesendirian. Bahkan meskipun menonton beramai-ramai, saya melihatnya seperti seorang penonton di bioskop: asyik dengan pikiran dan imajinasi sendiri. Sering saya menonton pertandingan Barcelona, dan beberapa hari kemudian menontonnya kembali berulang-ulang di Youtube. Saya juga menonton pertandingan terakhir Manchester City berulang-ulang ketika mereka menjuarai Liga Inggris tahun lalu, dan membayangkannya seperti membaca novel yang menarik secara berulang-ulang. Saya melihat kembali momen-momen paling menarik dari pertandingan mereka, seperti membaca kutipan-kutipan mencengangkan dari seorang penulis. Dalam sepakbola, sebagaimana dalam novel, sebenarnya bukan kemenangan dan kekalahan yang menjadi begitu penting: tapi bagaimana kemenangan dan kekalahan itu terjadi. Dan itulah yang akan diceritakan para fans terus-menerus selama bertahun-tahun, bahkan beberapa generasi, sebagaimana novel terus-menerus dikutip. Bahkan di situasi di mana sepakbola modern demikian korup, dimana hasil pertandingan barangkali bisa diatur, dimana uang dan kontrak sponsor merupakan hal paling penting, barangkali memang yang tersisa untuk fans hanyalah aspek cerita ini. Dan menutup catatan ini, saya beruntung tiba di tempat tujuan pukul setengah tiga dinihari. Saya langsung meminta dinyalakan televisi. Pertandingan Barcelona melawan AC Milan hampir dimulai. Seperti kita tahu, itu salah satu pertandingan dramatik tahun ini dimana Barcelona balik mengalahkan AC Milan 4-0 dan melaju ke delapan besar. Di sepanjang jalan saya cuma bisa membaca novel beberapa halaman karena lampu yang mati, tapi syukurlah malam itu saya bisa terhibur oleh “novel” mengasyikan yang lain. Dibuka dengan kalimat pembuka yang mencengangkan berupa gol Lionel Messi dengan dikurung lima pemain lawan, dan ditutup oleh klimaks berupa gol Jordi Alba ketika lawan berharap membuat satu gol saja untuk menjadikan tiga gol Barcelona sebagai kesia-siaan. Kisah hebat macam apa lagi yang saya harapkan?

Standard
Journal

Manis Agak Pahit

Cerita seperti apa yang saya suka? Yang jelas, saya tak terlalu suka melodrama. Saya suka nangis oleh melodrama, dan saya benci keadaan seperti itu. Sesekali saya terjebak di bioskop menonton film semacam itu. Diam-diam saya berkaca-kaca, dan tak akan pernah melupakan filmnya. The Notebook, misalnya. Tapi sekaligus saya berjanji tak akan menonton film apa pun lagi yang diangkat dari novel-novel Nicholas Sparks (saya malas dan tak pernah membaca novel-novelnya). Tak apa-apa ada melodrama, tapi sedikit saja. Beberapa waktu terakhir ini saya menyelesaikan dua novel Mario Vargas Llosa. Pertama, Bad Girl, atas saran Intan Paramaditha (entah kenapa ia mendorong saya untuk membacanya, mungkin tahu saya akan suka). Setelah membaca novel itu, saya mencoba mengambil novel lain dari Vargas Llosa, Aunt Julia and the Scriptwriter. Jika ada yang bertanya cerita atau novel seperti apa yang saya suka, sekarang saya akan menyebut kedua novel itu. Ada beberapa novel dari penulis lain yang barangkali akan saya gabung dengan keduanya. Saya bisa menyebut salah satunya: Museum of Innocence Orhan Pamuk. Siapa pun yang pernah membaca ketiga novel itu, pasti bisa mengerti apa yang menyamakan ketiganya, dan mungkin bisa sedikit menebak selera bacaan saya. Bad Girl bercerita tentang seorang bocah yang jatuh cinta kepada seorang anak perempuan. Sialnya si anak perempuan selalu menolak cintanya, dan lebih sialnya lagi, si bocah selalu mencintainya. Itu berlangsung hingga si bocah menginjak remaja, menginjak masa dewasa, menginjak masa tua, bahkan menjelang mati. Aunt Julia and the Scriptwriter berkisah tentang seorang remaja yang jatuh cinta kepada bibinya. Bukan bibi sedarah, memang. Ia seorang janda, adik dari istri pamannya. Si bibi jelas beberapa tahun lebih tua, dan si remaja masih dikategorikan di bawah umur menurut undang-undang. Mereka saling jatuh cinta. Tapi orang tua, keluarga besar, bahkan pemerintah (melalui peraturan mereka) menentang hubungan asmara ini. Museum of Innocence berkisah tentang seorang pemuda yang hampir menikah dengan tunangannya, tiba-tiba bertemu dengan sepupunya yang cantik dan jatuh cinta (bahkan menidurinya). Si pemuda berasal dari keluarga kaya raya, si gadis berasal dari keluarga miskin dan pernah berbuat aib karena mengikuti kontes kecantikan. Keluarga si pemuda tak akan menerima hubungan ini. Si gadis kecewa dengan si pemuda yang tak kunjung melamarnya dan memutuskan menghilang, di tengah keruwetan kota Istambul. Si pemuda memutuskan tunangannya dan mencari si gadis. Sedikit ringkasan cerita ketiganya barangkali bisa membuat sesuatu berdering di kepala. Ada kesamaan? Tentu. Semuanya merupakan kisah cinta. Ah, hampir semua novel merupakan kisah cinta. Lebih khusus lagi, ketiganya merupakan romans. Tentang cinta yang “terlarang” atau “terhalang” dan bagaimana mereka berjuang memperoleh cinta. Romeo and Juliet. Laila Majnun. Kita bisa membuat daftar kisah-kisah semacam itu. Seri novel populer Harlequin bahkan mengkhususkan diri di cerita-cerita semacam begini. Selera saya terlihat agak kacangan, tapi percayalah ketiga novel di atas sama sekali tidak kacangan. Saya tak akan mengomentari kualitas-kualitas literer novel-novel itu. Biarlah itu urusan kritikus atau pembaca sastra yang budiman. Saya hanya ingin mengomentari kisah cinta mereka, sebab itu yang menarik perhatian saya. Seperti seharusnya romans yang baik, kisah cinta mereka harus berakhir bahagia. Saya tak terlalu suka pada kenyataan Romeo dan Juliet tidak berakhir bahagia. Saya ingin, setiap kisah cinta yang terhalang oleh apa pun, setelah perjuangan para kekasih, akhirnya mereka bisa memperoleh cinta mereka. Tapi sekaligus saya benci menemukan kalimat “dan mereka bahagia selama-lamanya”. Seperti roti, saya suka roti yang manis, tapi tak suka roti yang terlalu manis atau hanya memberi rasa manis. Membuat mual. Saya menyukai kisah cinta yang manis, dengan serpihan rasa pahit di dalamnya. Bahkan mungkin yang tersisa justru rasa pahit, yang abadi tertancap di ingatan. Seperti itulah ketiga novel di atas. Semuanya berakhir bahagia untuk pasangan-pasangan tersebut, tapi sekaligus tidak bahagia. Ada rasa pahit yang tersisa di ujung cerita, yang saya rasa tak perlu menceritakannya. Sebab hal yang membahagiakan hanya bisa diukur jika kita tahu ada hal yang tidak membahagiakan.

Standard
Journal

Seberapa Tua Penulis di Rak Buku Saya?

Hal pertama yang terpikirkan ketika membaca novel-novel Roberto Bolaño adalah, betapa sedikitnya saya membaca karya para penulis dari generasinya. Ia lahir 1953. Saya membaca esai-esainya, yang dikumpulkan di buku berjudul Between Parentheses, dan terkejut oleh kenyataan ia membaca karya-karya penulis yang selama ini kurang-lebih (lebih banyak) saya baca. Oh, tentu banyak penyair dan penulis berbahasa Spanyol yang saya tak akrab, tapi lupakan bagian itu. Ia bicara tentang Borges, tentang Cortazar, dan beberapa yang juga saya baca. Tapi ia lahir 1953, dan saya lahir 1975. Jarak 22 tahun di antara dua pembaca, saya rasa seperti ribuan tahun cahaya. Seharusnya bacaan saya jauh lebih segar daripadanya. Seharusnya saya membaca lebih banyak Bolaño dan segenerasinya. Saya pergi ke rak buku, membuka halaman biografi singkat di beberapa novel, mencari siapa saja yang lahir di tahun 50an. Saya berharap bacaan segar saya tak sekering yang saya duga. Apa boleh buat, di sana lebih banyak mumi-mumi tua. Hemingway, Faulkner, Kawabata, Hamsun. Lebih bangkotan lagi, ada Tolstoy, Dostoyevsky, Chekhov. Bahkan Shakespeare dan Cervantes. Seharusnya nama-nama itu sudah selesai dibaca sebelum lulus sekolah menengah, sehingga di umur menjelang 40, barangkali bacaan saya jauh lebih segar. Saya kembali memeriksa tahun-tahun kelahiran penulis-penulis yang ada di rak buku saya, paling tidak yang saya suka. Syukurlah, saya menemukan bahwa Haruki Murakami lahir 1949. Mo Yan 1956. Herta Muller 1953. Orhan Pamuk 1952. Bahkan saya menemukan yang lebih muda dari tahun-tahun itu. Tak banyak memang, tapi saya pikir tak terlalu menyedihkan. Yang perlu saya lakukan barangkali berkunjung lebih sering ke toko buku. Saya tak terlalu yakin apakah ada gunanya pergi ke perpustakaan untuk tujuan semacam ini. Perpustakaan di sini lebih sering seperti museum berisi hantu-hantu penulis, daripada galeri cantik penuh nama-nama kontemporer. Saya mungkin perlu memberi perhatian pada nama-nama yang lebih muda. Saya pikir tak akan banyak yang bisa saya peroleh dari penulis generasi saya. Mereka belum banyak menerbitkan buku, dan di antara yang belum banyak itu, lebih sedikit yang menonjol, dan lebih sedikit lagi yang diterjemahkan (jika ia penulis dari bahasa yang asing untuk saya). Tapi mungkin saya bisa memperoleh banyak dari generasi penulis yang lahir tahun 50an. Akhir 40an paling tidak. Sangat bagus jika 60an. Oh, tak ada maksud aneh dari omongan saya tentang ini. Saya hanya merasa perlu bacaan yang lebih segar. Karya-karya yang memberi kejutan-kejutan kecil sebagaimana telah dilakukan karya-karya yang lebih tua. Seperti Bolaño bilang, dan saya setuju sehingga saya merasa perlu mengutipnya dan menjadikannya kata-kata saya sendiri, “Saya lebih menikmati membaca daripada menulis.” Dan di atas generasi saya, ada banyak buku-buku yang berangkali perlu ditengok. Buku-buku yang tak lagi membicarakan Perang Dunia II. Buku-buku yang tak lagi membicarakan jamuan teh di rumah tradisional Jepang. Tapi buku-buku yang mengisahkan orang-orang yang mungkin mampir ke 7Eleven, yang mendengarkan musik melalui iPod (ah, bahkan mendengarkan musik lewat Walkman pun terasa sudah usang sekarang ini). Tapi sambil memikirkan hal ini, sambil tergila-gila dengan apa pun yang ditulis Bolaño, rasanya saya tak bisa meninggalkan apa-apa yang telah ditulis oleh para pendahulu Bolaño. Para penulis yang lahir di tahun 30an, atau 20an, atau bahkan beribu tahun cahaya lebih tua dari itu. Karya-karya mereka, orang-orang pintar akan mengatakannya sebagai, klasik. Dan seperti dikatakan Italo Calvino di Why Read the Classics?, “Membaca karya-karya klasik itu lebih baik daripada tidak membacanya sama sekali.” Saya rasa itu alasan yang sangat bagus, sebagaimana membaca karya-karya kontemporer juga lebih baik daripada tidak membacanya sama sekali.

Standard