Journal

The White Castle, Orhan Pamuk

Saya belum pernah pergi ke Istanbul, kecuali transit beberapa kali di bandaranya yang super sibuk dan luas sekali. Saking sibuk dan luasnya, transit di bandara itu sudah seperti momok: waktu transit yang pendek harus membuat saya berlari-lari dari satu gerbang ke gerbang lain, sementara arus para penumpang yang juga memburu penerbangan berikut salip-menyalip. Bahkan meskipun baru bisa mengenal kota itu melalui bandaranya, saya sadar sejarah panjangnya sebagai titik pertemuan dari berbagai penjuru, yang jika dibikin lebih sederhana, itu merupakan pertemuan Timur dan Barat. Dan itu pula yang sering saya temukan di novel-novel Orhan Pamuk, yang memang banyak berkisah tentang kota ini. Salah satunya novel The White Castle, novelnya yang paling terakhir saya baca (meskipun sebenarnya novel ketiga dia, dan novel pertama yang terbit dalam bahasa Inggris), dan tampaknya bakal menjadi salah satu novel favorit saya darinya. Sebagaimana pertemuan, terutama perjumpaan dengan sesuatu yang asing, selalu merupakan hal menarik, di sana kita menemukan ada kecemasan, ada rasa ingin tahu, ada bentrokan yang bisa jadi berdarah-darah, ada pertukaran budaya dan pengetahuan, menciptakan tragedi, dan di novel ini, juga menimbulkan komedi yang bikin saya berkali-kali nyengir. Saya tak tahu banyak mengenai sejarah Turki, tapi itu tak menghalangi saya untuk menikmati novel ini, yang membawa saya ke masa Mehmet IV, ketika laut mediterania masih dilayari para bajak laut, dan orang bisa ditangkap sebelum dijadikan budak. Demikianlah seorang sarjana Italia yang sedang dalam pelayaran, mendadak disergap kapal Turki, ditangkap dan dijual sebagai budak kepada seorang pasha. Belakangan sang pasha memberikan budak ini kepada sarjana setempat bernama Hoja. Yang lucu, ini benar-benar bagian yang lucu dan menjadi pengikat sepanjang novel, Hoja dan si budak Italia ini berwajah mirip. Kebayang bukan, tuan dan budak, satu Italia dan satu Turki, tinggal serumah, dan mereka bagaikan sepasang kembar? Tentu tak hanya itu. Seperti saya bilang, novel ini tentang perjumpaan. Si orang Italia yang Kristen terpana dengan keyakinan Islam setempat, si tuan Turki penuh penasaran bertanya tentang kemajuan-kemajuan teknologi yang telah dicapai negara-negara di bagian barat. Ini juga tentang ambisi manusia: awalnya hanya disuruh untuk membuat kembang api bagi sebuah pesta, kemampuan si budak didorong untuk menciptakan senjata. Yang menyukai bagian-bagian sejarahnya, kita akan dibawa untuk melihat kehidupan kesultanan Otoman di masa itu: dengan arena perburuan sang sultan, posisi juru nujum yang sangat penting (dan diperebutkan), dan lain sebagainya. Dalam beberapa kali perjalanan ke Eropa, saya lebih sering transit di bandara lain. Meskipun begitu, sambil melihat layar kecil di kursi pesawat yang menampilkan peta dunia dan posisi pesawat, saya selalu menantikan saat pesawat berada tepat di wilayah Turki, sambil menebak-nebak di sebelah mana Istanbul dengan menjadikan selat Bosphorus sebagai penanda. Kenapa? Bagi saya sederhana: itu semacam penanda bahwa saya mulai memasuki dunia barat, atau ketika penerbangan pulang, saya merasa sudah kembali ke dunia timur. Membaca novel-novel Orhan Pamuk, sebagaimana novel yang ini, mengingatkan saya pada perasaan seperti itu. Perasaan menyeberang. Kadang seperti sebuah keberangkatan untuk menemukan hal-hal baru yang asing dan memberi rasa waswas, lain kali memberi perasaan rindu yang meluap-luap akan dunia yang begitu dikenali.

Standard
Journal

10.000 Jam Latihan (dan Mungkin Ketololan)

Menurut penelitian Malcolm Gladwell (bukunya Outliers), dibutuhkan 10.000 jam latihan yang penuh dedikasi untuk menghasilkan orang sukses. Itu bisa dipelajari dari para pemain biola hebat, pemain skate, juga The Beatles dan Bill Gates. Melebihi bakat dan keberuntungan (ya, mungkin saja ada faktor ini meskipun kecil), latihan penuh dedikasi dan komitmen melakukannya dalam rentang waktu yang lama, memberi hasil yang jauh lebih nyata. Bagaimana dengan penulis? Saya rasa tak jauh berbeda. Dibutuhkan komitmen dan dedikasi untuk berlatih, dengan cara membaca dan menulis, selama itu. Ya, tak ada yang mudah, memang. Jika kita mendedikasikan waktu 3 jam sehari (secara konsisten, setiap hari) untuk membaca dan menulis, kurang-lebih kita membutuhkan waktu 10 tahun untuk “terlatih”. Artinya, jika berharap menjadi terlatih di umur 20 tahun, seorang anak harus terus berlatih, membaca dan menulis, setiap hari sejak umur 10 tahun! Jika komitmen ini baru dimulai umur 18 tahun, keahlian itu mungkin baru didapat umur 28 tahun. Jika hanya memiliki komitmen untuk membaca dan menulis sebanyak satu jam setiap hari (sekali lagi, setiap hari tak terputus), kita membutuhkan 30 tahun. Mulai umur 10 tahun, baru terlatih di umur 40 tahun. Berat. Memang berat. Di dunia ini, dari miliaran manusia, memang hanya sedikit yang muncul ke puncak. Karena memang hanya sedikit yang punya komitmen waktu seperti itu. Hanya sedikit yang memperoleh medali emas Olimpiade. Hanya sedikit yang menjadi juara dunia. Dan di antara jutaan penulis di dunia, tentu hanya segelintir yang karyanya terus dibaca, dari generasi ke generasi. Entah berapa banyak jam dihabiskan Shakespeare untuk menulis, membaca dan berada di gedung teater setiap hari. Jelas lebih banyak daripada kebanyakan kita. Tentu saja untuk mendaki puncak itu, tak melulu mengenai 10.000 jam. Anda bisa mengikuti riset Gladwell mengenai hal ini. Tapi yang paling menohok saya adalah salah satu hal penting ini: “Jangan habiskan waktu untuk hal-hal kecil”, yang tak berguna untuk karirmu, tak berguna banyak untuk bidangmu. Dalam skema 10.000 jam berlatih, waktu memang memegang peranan penting. Waktu sangat terbatas. Menghabiskan 3 jam sehari saja, kita butuh 10 tahun. Saya tak tahu persis apa “hal-hal kecil” dalam karir menjadi seorang penulis, kalaupun kita merumuskannya, barangkali banyak orang tak bersepakat dan berakhir dengan debat tak ada ujung (dan debat ini bisa jadi “hal-hal kecil” yang tak membawa kita menjadi penulis yang lebih terampil). Tapi saya rasa kita bisa mengukurnya sendiri: fokus terhadap tujuan keterampilan yang ingin dicapai, dan lewatkan apa yang tak mendukung itu. Bayangkan jika kita ingin berlatih menulis kalimat dengan baik, kita melakukannya berkali-kali, berjam-jam, dan lupakan urusan lain yang tak ada hubungannya. Setelah mampu melakukannya, kita lakukan kembali latihan menulis dialog, yang katakanlah, kita ingin di satu sisi tertulis dengan baku tapi terdengar alamiah. Banyak hal yang bisa kita latih dalam hal menulis, dan itu membutuhkan waktu yang sengaja disediakan. Dalam hal ini, memiliki tujuan yang jelas tentang apa yang sedang kita latih, menjadi sangat penting. Memikirkan hal ini, satu hal kemudian mengemuka: apa artinya “berhasil”? Dalam bidang penulisan, seperti apa itu penulis yang berhasil? Berpengaruh besar seperti Dostoyevski atau Kafka? Memperoleh hadiah Nobel seperti Hemingway atau Orhan Pamuk? Memperoleh uang banyak seperti J.K. Rowling? Tentu saja tak semua orang terobsesi untuk “berhasil” seperti gambaran Gladwell, dan karenanya tak perlu menyiksa diri berlatih 10.000 jam (dan terus berlatih setelah itu). Ada penulis yang cukup senang melihat karyanya dicetak, sebagai misal. Atau menyisipkan ungkapan cinta tersembunyi di dalam novel, banyak yang seperti ini. Kita punya ukuran masing-masing tentang “berhasil”. Yang ajaib tentu saja kalau orang berharap memperoleh sebutir kelereng, tapi ngamuk-ngamuk karena orang lain memperoleh segenggam berlian. Atau berharap mengarungi lautan luas, tapi usaha yang dilakukannya hanya merendam kaki ke dalam air di ember. Saya? Saya pengin melihat karya saya bersanding di rak buku dengan penulis-penulis kesayangan saya. Cita-cita saya tampak dangkal dan tolol, tapi sulit melakukannya. Setiap kali saya menyandingkan buku saya di samping buku-buku itu, saya merasa buku saya tak pantas berada di sana. Mungkin saya harus mencoba meletakkan buku saya di sisi buku-buku itu, terus-menerus selama 10.000 jam? Mungkin. Mungkin. Sebab saya yakin, 10.000 jam melakukan ketololan juga bisa berhasil membuat saya lebih tolol berkali lipat, dan sejujurnya, saya sering melakukan hal itu.

Standard
Journal

Membayangkan Enny Arrow Sebagai Tonggak Kesusastraan Indonesia

Saya sedang membaca The Strangeness in My Mind di sebuah kedai kopi, ketika seseorang datang menghampiri. “Wah, kamu membaca Orhan Pamuk!” katanya. Saya menoleh. Mungkin dia orang Turki, atau seseorang yang merasa tahu banyak tentang Turki. Ia kemudian bertanya, apa pendapat saya tentang novel(-novel) Orhan Pamuk. Saya pun ngoceh sebagai pembaca, komentar apa adanya mengenai kesan-kesan saya. Beberapa pendapat itu sejujurnya saya comot dari pendapat orang lain juga, mungkin di ulasan surat kabar, atau di halaman belakang bukunya. Yang penting bisa ngoceh. Tiba-tiba dia sedikit kesal dan berkata, “Kamu enggak bisa begitu saja menganggap Pamuk sebagai wujud kesusastraan Turki. Kesusastraan Turki jauh lebih kaya dari itu. Kamu harus baca penulis-penulis terdahulu Turki, yang sangat keren, beberapa lebih keren dari dia. Juga harus baca penulis-penulis muda mereka. Pamuk hanyalah sebutir debu dari kesusastraan Tur …” Sampai di sini saya memotong dengan menggebrak meja. Dia hampir membuka mulut lagi, tapi saya bersiap menyumpal mulutnya dengan gulungan tisu. Dia akhirnya mingkem. “Siapa yang lagi belajar kesusastraan Turki?” tanya saya. “Dengar, Bung. Saya enggak peduli kesusastraan Turki seperti yang kamu katakan. Saya saat ini hanya membaca Pamuk. Mengerti?” Hal yang sama juga terjadi dengan penulis lain dan kesusastraan nasional yang lain. Sebagai orang yang tak pernah ke Norwegia, bayangan saya tentang negara (dan kesusastraannya) dibentuk oleh bacaan saya atas buku-buku Knut Hamsun. Bayangan saya tentang kesusastraan Argentina (yang saya puja tim sepakbola nasionalnya), juga dibentuk oleh bacaan saya atas karya-karya Borges, Cortazar dan belakangan mungkin oleh Ernesto Sábato. Apakah kesusastraan Argentina cukup dipahami hanya dengan membaca tiga penulis itu? Orang tolol di neraka juga tahu itu tidak mungkin. Mereka hanya tiga dari (barangkali) ribuan penulis yang membentuk kesusastraan Argentina. Tapi memangnya saya membaca karya-karya mereka dalam rangka memahami kesusastraan Argentina secara utuh? Ya enggak. Icip-icip sedikit, mungkin iya. Tapi utamanya ya, tetap untuk membaca mereka, sebagai diri mereka sendiri. Apakah Mo Yan mewakili kesusastraan Cina secara umum? Tidak. Tapi jangan salahkan pembaca asing yang membaca karyanya, jika ia membangun imajinasi sendiri mengenai kesusastraan dan negeri Cina, meskipun hanya membaca Mo Yan. Kadang-kadang saya tersesat ke artikel-artikel di internet mengenai ambisi-ambisi untuk memperkenalkan kesusastraan nasional negeri tertentu (biasanya negeri-negeri yang kesusastraannya memang tak terlalu dikenal) ke masyarakat dunia. Kadang-kadang tersirat ambisi konyol: mereka berharap dunia memahami kesusastraan nasional seperti mereka memahami kesusastraan nasional mereka sendiri. Lengkap dengan sejarah dan kanon-kanonnya. Ingin dunia memahami kesusastraan Korea seperti orang Korea memahami kesusastraan Korea, misalnya. Persis seperti orang di kedai kopi, yang ngomel-ngomel karena saya tak paham kesusastraan Turki, seperti bagaimana dia memahaminya. Ngomel dan jengkel karena saya cuma (merasa) kenal Pamuk (dan belakangan Ahmet Hamdi Tanpinar), sementara ada ribuan penulis di Turki. “Orang macam begini enggak selow,” pikir saya. Tapi saya juga bisa berempati, kok. Bisa memahami perasaannya. Bayangkan jika kita menerjemahkan karya-karya Enny Arrow. Bayangkan jika novela-novelanya yang tipis itu, terbit di The Paris Review atau Granta. Bayangkan jika orang-orang di luar negeri suatu saat membaca terjemahan karya-karya Enny Arrow itu, dan berpikir tentang Indonesia dan kesusastraannya melalui karya-karya itu. Pasti banyak orang Indonesia yang jengkel, sambil siap sedia ceramah tentang sejarah dan peta kesusastraan Indonesia. Dari Raja Ali Haji hingga penulis paling kekinian. Mereka juga bersiap membuat telaah-telaah kritis bahwa karya-karya itu tak hanya mesum, tapi juga tak ada nilai sastranya. Nulisnya aja ngawur. Karakternya datar. Tak ada alur cerita. Bla bla bla. Tapi sebagian besar dari pembaca asing itu mungkin tak peduli. Mereka kadung senang dan hanya mau baca Enny Arrow. Titik. Saya sih enggak bakalan jengkel. Saya malah rada berharap itu bisa terjadi. Seru. Sudah jelas saya sendiri enggak ada apa-apanya dibandingkan penulis satu ini. Pasti menyenangkan membayangkan orang asing membaca Enny Arrow lalu mereka membayangkan sastra Indonesia seperti novel-novel itu. Barangkali ada pembaca yang lebih gila: membayangkan Enny Arrow sebagai tonggak kesusastraan Indonesia. Mereka akan bilang: jika tujuan novel porno adalah untuk bikin pembaca terangsang, novel-novelnya berhasil secara sempurna. Mahakarya tak terbantah. Sastra kelas satu yang dihasilkan anak bangsamu! Penulis terbaik Indonesia dalam tujuh dekade! Dan seperti orang di kedai kopi, orang Indonesia jengkel. Presiden, menteri, kritikus, guru sastra, penulis, pemandu sorak kesusastraan, semua jengkel. Jengkel dan enggak selow. Beberapa jengkel mungkin karena pernah bikin novel porno tapi gagal bikin orang terangsang. Sebagian mewek di belakang meja. Mewek dalam arti sebenarnya, sebab memang banyak yang cengeng. Meraung-raung meminta tulung dan menghimpun kumpulan. Beberapa mulai membuat teori konspirasi tentang usaha-usaha asing menghancurkan kesusastraan dan kebudayaan Indonesia. Hahaha. Hail Enny Arrow!

Standard
Journal

Tips Bahagia untuk Penulis

Saya punya cara untuk hidup lebih bahagia. Buka Goodreads, lihat buku-buku karya penulis hebat (sebut saja Orhan Pamuk, Mo Yan atau Herta Müller, yang kalibernya sekalian Nobel Kesusastraan), dan baca ulasan yang memberi buku mereka cuma satu bintang. My Name is Red disebut “membosankan”, “dibuat untuk menyenang-nyenangkan penulisnya, bukan pembacanya”, “saya kesulitan dengan kualitas rendah buku ini”, dan “apa yang disebut misteri pembunuhan itu sangat dangkal sebab kita tak benar-benar tahu siapa pembunuh dan korbannya”. Bagaimana dengan Red Sorghum? “Saya enggak lihat novel ini indah maupun menggugah”, “tak ada otensitas dalam usahanya menggambarkan kengerian perang”, “karakter-karakternya tak punya simpati terhadap kehidupan manusia”. Dan The Land of Green Plums? “Halusinasi pikiran sakit”, “Gaya puitisnya menjauhkanku dari karakter”, “kenapa sastra bikin kita mual?”, “plot dan karakternya jauh dari menyenangkan”. Bahkan One Hundred Years of Solitude aja ada yang nyebut (tentu dengan memberinya satu bintang saja) “cuma kumpulan anekdot” dan “gaya berceritanya datar”. Membahagiakan membaca ulasan-ulasan semacam itu, kan? Saya tak tahu siapa-siapa saja mereka yang memberi komentar-komentar tersebut, yang jelas saya bahagia membayangkan orang menjadikan kanon-kanon kesusastraan global tersebut sebagai barang tak berguna. Orang-orang ini mulai mempertanyakan, kenapa sih seleraku berbeda dengan ahli-ahli sastra ini? Apakah otakku bermasalah? Hahaha. Saya sendiri tak tahu jawabannya. Mungkin otak ahli sastra memang bermasalah. Mungkin otak si pembaca yang tumpul. Kadang-kadang saya sendiri bertanya-tanya, ya ampun, kayaknya novel semacam ini mungkin memang bukan seleranya. Kenapa dia maksa membaca? Terpengaruh ulasan yang hips di jurnal sastra? Terpengaruh penghargaan yang diperoleh penulisnya? Ujung-ujungnya geli melihat emosi yang meledak-ledak, barangkali karena kesal kenapa dunia memuja War and Peace sedangkan dia menganggap buku itu buruk minta ampun? Novel itu disebut “kering dan membosankan”, “berapa banyak pohon ditumbangkan untuk mencetak sampah ini?” dan “buku ini menghancurkan mitos populer bahwa jika buku itu tua dan dari Rusia, pasti bagus”. Pembaca-pembaca yang memberi satu bintang dan sedikit ngomel-ngomel ini barangkali merasa tertipu dengan reputasi buku-buku tersebut, dan siapa pun yang tertipu di depan mata, kita senang menertawakannya, dan tawa seringkali membawa kita kebahagiaan. Persis seperti acara-acara gags dan jebakan di televisi, yang menjebak dan menipu seseorang lewat kamera tersembunyi. Si korban tampak menderita, dan kita tertawa ngakak melihat penderitaannya. Hidup ini kalau cuma mencari bahagia sederhana, kan? Lihat saja penderitaan orang lain, dan kita setidaknya bisa senyum. Melihat penderitaan seorang pembaca menghadapi buku yang tidak disukainya saya rasa tidak mencederai siapa pun, juga tidak mempermalukan siapa pun. Kita bisa tertawa sendiri, dan pembaca itu juga menderita sendiri. Kita hanya mengintip penderitaannya. Baiklah. Saya ingin sedikit menambah dosis kebahagiaan saya. Apa yang dikatakan pembaca satu bintang untuk William Shakespeare, pujangga agung itu? Romeo and Juliet adalah “Cerita yang bodoh”, “kedua remaja ini baru kenal 3 hari, enggak perlu seheboh ini, lah”, dan “medioker seutuhnya”. Hahaha. Lebok tah! (Subtitle: makan tuh sastra!)

Standard
Journal, Tanya dan Jawab

Tanya-Jawab: Apakah Kemampuan Menulis Saja Tidak Cukup untuk Menciptakan Karya Penting?

Bernard Batubara: Naguib Mahfouz adalah novelis yang karyanya dianggap kontroversial dan masuk daftar buruan kelompok Islam fundamentalis di negaranya. Orhan Pamuk sangat kritis dan diperkarakan oleh kelompok nasionalis di Turki ke meja persidangan gara-gara di sebuah wawancara sempat berbicara tentang pembantaian kaum Armenia pada masa pemerintahan Ottoman. Pramoedya Ananta Toer ditangkap dan dibuang ke Pulau Buru karena karya-karyanya ditentang oleh pemerintah Orde Baru. Pertanyaan saya: Apakah hanya dengan menjadi ‘berbahaya’ seseorang dapat menjadi pengarang besar? Apakah kemampuan menulis saja tidak cukup untuk menciptakan karya penting dan meletakkan nama kita di dalam sejarah kesustraan, baik dalam negeri maupun dunia? Apakah tidak ada tempat di dunia kesusastraan bagi penulis yang ingin hidup biasa-biasa saja dan tenang-tenang saja?

Jika yang kamu maksud ‘berbahaya’ adalah bermasalah dengan penguasa atau masyarakat, ya jelas tidak harus begitu. Banyak penulis besar, dengan karya besar, hidup relatif biasa-biasa saja. Franz Kafka, jika kita membaca biografinya, lebih sering bermasalah dengan ayahnya, pekerjaannya, dan tunangannya, daripada dengan negara maupun masyarakat, tapi kita tahu pengaruhnya terhadap kesusastraan dunia bisa dikatakan sangat besar. Shakespeare dalam tingkat tertentu bahkan menikmati hidupnya sebagai penulis sekaligus selebritas, bisa dibilang kaya-raya dan diakui oleh kerajaan sehingga ia memperoleh gelar kebangsawanan. Hidupnya baik-baik dan tenang-tenang saja. Dan kita bisa sebut bahwa separuh penulis di dunia ini bernenek-moyang kepadanya. Dan Mo Yan, yang belum lama ini memperoleh Nobel Kesusastraan, saya kira juga menikmati hidup yang tenang-tenang saja. Memang ada karyanya yang pernah dilarang (The Garlic Ballads diterjemahkan melalui edisi Taiwan yang tidak disensor, seingat saya), tapi tetap saja ia bisa dibilang hidup tenang-tenang saja. Sebab kita tahu dia “pejabat” pemerintah dan hubungannya dengan kekuasaan cukup akrab. Daftar ini bisa sangat panjang, tentu. Hubungan tidak mesra antara penulis (dan intelektual secara umum) dengan kekuasaan dan masyarakat, selain itu, saya kira ada kaitan yang erat juga dengan faktor penerimaan lingkungan tertentu terhadap gagasan-gagasan baru ataupun yang berbeda. Ketika Jose Saramago menerbitkan The Gospel According to Jesus Christ, sudah jelas menimbulkan reaksi yang keras dari umat Katolik, tapi saya tak pernah mendengar ada “fatwa mati” ditujukan kepadanya, dan novel itu beredar dengan bebasnya. Hal ini berbeda ketika Salman Rushdie menerbitkan The Satanic Verses, yang kita tahu telah membuat penulisnya harus bersembunyi bertahun-tahun. Sebagai seorang muslim, saya menikmati novel itu, menganggapnya sebagai “inside joke” (sesuatu yang hanya bisa dinikmati oleh sesama muslim yang mengerti) tentang insiden ayat palsu yang diturunkan oleh setan, tanpa harus mengikis rasa hormat kepada Rasul (bahkan meskipun Rushdie bermaksud menghina, saya tak akan membiarkan diri saya terhasut olehnya). Jika semua muslim bisa menerima dengan cara seperti itu, ya barangkali Rushdie tak harus sembunyi ke mana-mana. Dan mari kita berandai-andai tentang Pamuk: seandainya ia penulis Amerika dan ia bilang, “Kaum kulit putih Amerika telah membantai orang-orang Indian hingga banyak suku-suku mereka punah,” apa yang akan terjadi? Saya yakin tak ada yang menggiringnya ke pengadilan. Saya tak bermaksud mengagung-agungkan orang Amerika, toh di bagian lain, mereka juga punya kekonyolannya sendiri. Dan tentang Pramoedya, dia relatif hidup tenang-tenang saja sebelum Soeharto berkuasa, dan baik-baik saja setelah Soeharto tumbang. Kita perlu bersyukur bahwa saat ini kita relatif bisa mengatakan banyak hal. Kita bisa bilang negara bertanggung jawab terhadap ratusan ribu (atau jutaan) simpatisan komunis yang dibantai. Kita juga bisa bilang, rakyat Papua berhak menentukan nasibnya sendiri. Meskipun ya, tampaknya kita masih tak akan aman sentosa berkeliaran di jalan dengan kaus bergambar palu dan arit. Yang perlu diingat, ada banyak penulis dibuang ke Pulau Buru bersama Pramoedya, tapi kenyataannya bisa dibilang hanya Pramoedya yang “dibaca”. Tapi mari kita bicara sesuatu yang lebih mendasar. Menurut saya, pada dasarnya semua penulis bisa dianggap berbahaya. Kenapa? Sebab tugas utama seorang penulis adalah menularkan gagasan dari dirinya ke orang lain. Dan gagasan yang tertanam ke pikiran orang lain, seringkali lebih permanen dan membahayakan melebihi virus yang menyusup ke tubuh. Tentu saja ini terlepas dari fakta bahwa ada gagasan yang sederhana dan ada gagasan yang kompleks, besar, revolusioner, aneh, dan macam-macam lainnya. Sebuah novel barangkali bisa mengubah seorang yang rasis menjadi toleran, sebuah puisi barangkali bisa mengubah sebaliknya, yang toleran menjadi homofobia, misalnya. Adakah yang lebih berbahaya daripada virus pikiran? Virus pikiran ini bisa berkembang dengan wajar di masyarakat yang bisa menerima gagasan baru dan perbedaan, dan menciptakan dialog yang sehat. Tapi di masyarakat atau komunitas yang tak siap, seringkali menciptakan benturan dan tak jarang menimbulkan kekerasan (penulis terpaksa eksil, dipenjara, dibunuh, karena gagasan mereka tak bisa diterima). Ketika benturan-benturan ini terjadi, hanya ada dua hal bisa dilakukan seorang penulis: tetap tegak dengan keyakinannya, atau merunduk dan menyerah kepada tekanan. Perbedaan keduanya akan menujukkan perbedaan kepribadian mereka, yang barangkali sedikit banyak juga memengaruhi kepada etos dan karya mereka. Sekali lagi, tentu saja seorang penulis bisa hidup biasa-biasa dan tenang-tenang saja, dan banyak contoh kehidupan seperti itu. Tapi di saat-saat tertentu, kita juga melihat ada penulis (dan kaum intelektual) menempuh tradisi Socrates, ketika ada yang harus dikatakan, mereka memilih untuk mengatakannya apa pun risikonya. Sekarang untuk pertanyaan tersisa, Apakah kemampuan menulis saja tidak cukup untuk menciptakan karya penting dan meletakkan nama kita di dalam sejarah kesustraan, baik dalam negeri maupun dunia? Saya ingin menjawabnya melalui analogi. Apakah kemampuan berenang saja tidak cukup untuk seekor ikan mencatatkan namanya di sejarah kelautan? Saya tak ingin menjawab dengan cukup atau tidak cukup, tapi satu hal jelas: ada miliaran ikan pandai berenang, seekor ikan harus “stand-out” untuk membuatnya terlihat. Dan percayalah, di dunia ini ada jutaan penulis yang bisa menulis bagus, mungkin jutaan yang lebih bagus dari kita. Dan ada jutaan karya yang bagus juga. Ini logika sederhana saja: di antara jutaan penulis yang bagus kemampuan menulisnya, apa yang bisa membuat seseorang dilihat/didengar? Saya rasa perbedaan mencoloknya terletak pada gagasan dan visi (termasuk gagasan/visi bagaimana sebuah cerita seharusnya ditulis), yang apa boleh buat, kadang-kadang membuat mereka terpaksa meletakkan dirinya dalam keadaan, yang kamu sebut “berbahaya”. Lagipula ujung-ujungnya, apa sih tujuanmu menulis? Ingin mencatat atau dicatat?

Standard
Journal

The Time Regulation Institute, Ahmet Hamdi Tanpinar

Nuri Efendi, si tukang memperbaiki jam, sering membeli jam bekas dari pedagang jalanan. Setelah diperbaiki, ia akan memberikannya kepada orang miskin sambil berkata, “Setidaknya kini kau akan menjadi tuan atas waktumu.” Jam, dengan cara yang aneh, telah membagi-bagi waktu, dan dengan cara itulah manusia mencoba menaklukkannya, meskipun yang terjadi akhirnya manusia terperangkap dalam kerangkeng waktu tersebut. Persis seperti yang dikatakan Nuri Efendi yang ironinya, jika ada yang datang kepadanya untuk memperbaiki jam milik mereka, si tukang jam akan mewanti-wanti, “Jangan tanya kapan selesai.” Ia tak mau diburu-buru. Ia tak mau terkungkung waktu. Sudah lama saya curiga waktu bisa dipergunakan untuk mengontrol manusia. Kendalikan waktu, maka kita akan mengendalikan manusia. Sebabnya sederhana, sebagaimana diingatkan Nuri Efendi, bahwa manusia memang terpenjara oleh waktu. Coba bayangkan, bukankah Tuhan pun “mengendalikan” ketaatan manusia salah satunya melalui waktu? Saya tak tahu bagaimana praktek ibadah di agama lain, tapi di Islam, sebagian besar ibadah pokok terikat dengan waktu. Salat lima kali sehari, di waktu yang telah ditentukan. Jumatan seminggu sekali. Berpuasa selama sebulan, setahun sekali. Dunia sekuler pun mengendalikan manusia melalui waktu. Kantor mengendalikan karyawannya melalui jam kerja dan hari kerja. Sekolah mengendalikan murid melalui jam belajar. Bahkan ada adegan di mana seorang karyawan, di jam kerja, harus berperan menjadi diri yang lain dan baru mau bicara sebagai dirinya ketika jam kerja selesai. The Time Regulation Institute, sekilas merupakan novel gagasan tentang waktu, tapi sebenarnya jauh lebih dari itu: ini merupakan novel tentang Turki, sejarahnya, obsesinya untuk menjadi modern sekaligus sekuler, pertentangan Barat dan Timur, bahkan agama, yang dengan cemerlang digambarkan oleh Ahmet Hamdi Tanpinar melalui parabel tentang jam, waktu, tukang reparasi dan sebuah institut yang memastikan masyarakat selalu punya jam yang menunjukkan waktu dengan tepat (jika tidak, mereka akan didenda!). Novel ini bisa dibilang berisi lima hal besar: wacana mengenai waktu, birokrasi, sejarah, psikoanalisis, dan mengikat semuanya adalah kisah hidup (lebih tepat kisah kemalangan) si tokoh utama bernama Hayri Irdal. Kisah dibuka dengan nasib malang keluarga Hayri yang harus mewarisi jam bandul besar, yang sebenarnya direncanakan untuk perangkat di masjid. Tapi karena keluarganya (sejak kakek) tak juga memperoleh kekayaan yang cukup untuk membangun masjid, jam bandul itu terus-menerus diwariskan dengan beban berat berupa wasiat untuk membangun masjid jika ada uang. Nasib sial yang dibawa si jam bandul membawa Hayri dari satu nasib buruk satu ke buruk lain, hingga berakhir dengan kesuksesan mendirikan Institut Regulasi Waktu. Kisah yang pada dasarnya sederhana menjadi tidak sederhana. Melalui waktu, kita bisa melihat watak asli birokrasi (yang digambarkan melalui pendirian institut tersebut), dan melalui jam bandul kita masuk ke diskusi mengenai psikoanalisis yang lucu dan penuh ejekan. Bagian paling lucu, tentu saja bagaimana Hayri, untuk memberi legitimasi terhadap lembaganya, menciptakan tokoh rekaan bernama Ahmet Sang Waktu, sebagai seorang pelopor keahlian menciptakan jam, bahkan menulis biografinya. Jika sebelumnya saya berkenalan dengan Bohumil Hrabal melalui Milan Kundera, maka perkenalan saya dengan Ahmet Hamdi Tanpinar datang melalui penulis Turki yang lain, Orhan Pamuk, yang menyebut Tanpinar sebagai, “Tak meragukan merupakan pengarang paling cemerlang dalam kesusastraan Turki modern.” Kurang lebih sama seperti pujian Kundera untuk Hrabal dalam khasanah kesusastraan Ceko. Sayang sekali baik Hrabal maupun Tanpinar sudah keburu meninggal, jauh sebelum karya-karya mereka bisa memperoleh pembaca di luar bahasa mereka, sebagaimana yang kemudian dinikmati oleh Kundera maupun Pamuk. Tapi satu hal yang saya pelajari dari mereka, membaca karya seorang penulis yang baik selalu membawa saya kepada karya penulis baik yang lain. Itu tak pernah terjadi di karya-karya buruk. Karya-karya buruk selalu tak membawa saya ke mana-mana. Karya buruk tidak membuat saya bergumam, “Sialan, penulisnya membaca buku apa, ya?”

Standard
Journal

Menulis Aku

Semalam di forum kecil yang menghadirkan tiga orang penulis pemenang sebuah sayembara menulis novel, tiga orang juri yang memilih karya-karya mereka sebagai pemenang, dan beberapa teman bengis yang dengan cuek menimpali pembicaraan meskipun belum membaca karya-karya tersebut, kami ngobrol selama berjam-jam (ditemani soto dan kopi). Khusus saya, bahkan obrolan itu dilanjutkan di mobil selama hampir dua jam (karena kemacetan malam Sabtu di Jakarta yang sangat epik) bersama si pemenang pertama. Entah kenapa, satu hal yang menarik perhatian saya (mungkin juga kami), adalah tentang bagaimana menuliskan “aku”. Ya, yang saya maksud adalah menulis dengan sudut pandang orang pertama. Kita tahu tantangannya: dunia menjadi sempit, karena pengetahuan dan tangkapan inderawi si aku pasti terbatas. Juga tantangan yang lain: si aku bisa bicara apa saja yang dipikirkan, dan bagaimana kita harus mengendalikannya agar ia selaras dengan wataknya. Tantangan terbesar, dan saya rasa banyak novelis sangat tergoda melakukannya, adalah mengadirkan beberapa “aku” di dalam satu novel. Artinya, novel yang dibangun dengan beragam sudut pandang tokoh-tokoh yang berbeda, di mana mereka bicara masing-masing dengan sudut pandang pertama. Saya tak tahu siapa yang memulai cara seperti ini, tapi saya pertama kali membaca novel dengan pendekatan ini melalui karya William Faulkner, As I Lay Dying. Terakhir membaca novel semacam ini beberapa bulan lalu, Talking to Ourselves karya Andrés Neuman. Saya tak pernah menulis dengan cara seperti itu, dan rasanya tak berniat melakukannya di masa depan, tapi bukan berarti saya tak berniat untuk mengetahui triknya. Setidaknya, itu pasti berguna untuk dipergunakan di teknik yang lain. Menurut saya, tantangan terbesar dari menghadirkan beragam narator di satu karya tentu saja adalah bagaimana membedakan satu suara dengan suara lain. Realisme yang ekstrem akan mencoba menciptakan bangunan bahasa yang unik untuk masing-masing karakter, dengan asumsi, setiap watak tentu memiliki cara ungkap bahasa tersendiri. Hasrat untuk menjadikan setiap suara unik (penggunaan tatabahasa, diksi, bahkan dialek), sekaligus mempertahankan agar itu tetap konsisten sepanjang novel bukanlah pekerjaan mudah. Banyak penulis pemula berambisi mencapai realisme yang ekstrem ini dan banyak yang gagal (saya bercanda, mungkin novel tersebut perlu disisipi berkas audio untuk mendengar dialek si tokoh). As I Lay Dying saya rasa ditulis dengan pendekatan ini, meskipun saya rasa tidaklah ekstrem. Faulkner membedakan gaya atau pilihan kata satu tokoh dengan tokoh lain. Pendekatan yang gampang-gampang susah, menurut saya tentu saja mengambil risiko nekat dengan menghadirkan “suara” tunggal, suara si super-narator (yakni narator yang menceritakan para narator, sebab tokoh-tokoh yang tengah menceritakan diri mereka sendiri ini juga bisa dianggap sebagai narator untuk bagian mereka). Di novel Orhan Pamuk yang terkenal, My Name is Red, saya rasa Pamuk memakai pendekatan ini. Tak banyak perbedaan gaya dari satu tokoh ke tokoh lain (termasuk sosok anjing dan mayat), tapi tentu saja tak sesederhana ini. Yang membuat satu tokoh dengan tokoh lain berbeda, adalah cara dan kerangka mereka berpikir, serta tentu saja pandang dunia mereka. Kita tahu yang bicara si mayat karena cara berpikir dan pandangan dunia-nya tipikal si mayat, misalnya, meskipun bagian dia ditulis dengan cara yang sama dengan bagian tokoh-tokoh lain. Gampang-gampang susah: terasa gampang jika kita pikirkan bahwa itu bisa ditulis dengan cara yang sama, tapi jelas susah karena kita justru harus masuk ke bagian yang dalam dari sekadar susunan kalimat, yakni kerangka berpikir, psikologi dan pandang dunia si tokoh. Di novel Talking to Ourselves, saya menemukan gagasan yang saya rasa segar untuk memakai teknik ini dengan pendekatan yang berbeda. Ada usaha untuk membedakan gaya menulis dan kerangka berpikir tokoh-tokohnya, tentu saja, tapi bagian terbesar membedakan aku yang satu dan aku yang lain justru hadir melalui medium para aku ini bicara. Si ayah di cerita itu, bercerita ke alat perekam. Alat perekam ini menjadi sangat fungsional untuk memberi keunikan narasi si ayah, sekaligus penanda bagi pembaca. Si anak lebih bersifat monolog, seolah bicara dengan orang lain tapi pada dasarnya sendiri. Sementara si ibu menulis catatan harian. Yang pertama memiliki karakter lisan. Yang kedua, monolog-interior. Yang ketiga, bahasa tertulis. Tentu kita bisa menemukan strategi-strategi lain. Apa yang saya sebut bisa dibilang sebagai penyederhanaan juga. Itu teknik yang tidak gampang. Tapi siapa bilang menulis itu gampang?

Standard
Journal

Umur Berapa Seorang Penulis Menghasilkan Karya Pentingnya?

Gara-gara ada yang bercanda soal umur, saya jadi ingin menulis soal umur berapa seorang penulis menerbitkan karya pentingnya. Ya, ini salah satu keisengan saya. Pertama, mari kita ngobrol soal Günter Grass. Seperti kita tahu, ia bagian dari kelompok penulis/seniman Gruppe 47, kelompok penulis muda (sebenarnya tidak muda, kecuali ukurannya peraturan ormas kepemudaan di Indonesia, hehehe) Jerman yang baru pulang dari perang. Novel pertama Grass, dan saya rasa yang terpenting, The Tin Drum diterbitkan tahun 1959, ketika ia berumur 32 tahun. Berapa umurmu sekarang? Jika hampir atau telah lewat 40 dan belum menghasilkan karya sekelas The Tin Drum, lupakan saja untuk bersaing dengannya. Setelah itu, karya terpenting lainnya menurut saya adalah The Flounder yang terbit ketika ia berumur 50 tahun. Baiklah, jangan terlalu pesimis. Sekarang kita tengok penulis lain, misalnya Gabriel García Márquez. Ia memang menulis cerpen dan novela sejak awal umur dua puluhan, tapi awalnya tak ada yang memerhatikan. Hingga akhirnya, kita tahu, ia merilis One Hundred Years of Solitude. Kapan novel itu pertama kali terbit? 1967, ketika ia berumur 40. Nah, sekali lagi berapa umurmu sekarang? Jika masih 30-an, apalagi 20-an, sila mulai berhitung. Bisakah menghasilkan novel sekelas itu ketika mencapai umur 40? Sejak saat itu, Márquez relatif konstan menerbitkan karya-karya yang unggul. Mungkin aneh menghubung-hubungkan umur penulis dengan karya pentingnya, tapi saya rasa, itu bisa menjadi ukuran informal untuk melihat karir di dunia kesusastraan.Untuk mengukur daya tahan penulis, mengukur perkembangan mental sekaligus intelektual, dan juga keterampilan. Tapi bagaimana jika Anda baru berminat secara serius menulis ketika umur sudah berlipat? Jangan kuatir. Saya punya contoh yang baik: Jose Saramago. Ia baru menulis serius justru setelah lewat umur 40-an. Dan tahun berapa karya penting pertamanya, Baltazar and Blimunda terbit? Tahun 1982, ketika ia berumur 60 tahun! Ada harapan untuk Anda yang telah berumur setengah abad untuk mengikuti jejaknya. Tapi jangan lupa, Saramago juga sebenarnya telah menulis sejak umur 20-an. Ia menerbitkan beberapa karya, bahkan ada yang baru terbit setelah ia meninggal. Yang pati, ia tak buru-buru serius menjadi penulis karena ia bekerja sebagai jurnalis. Juga sebagai aktivis. Setelah Baltazar and Blimunda, ia secara gila menulis sangat produktif dan semuanya karya yang bagus, bahkan sampai hari-hari terakhir hidupnya. Novelnya yang paling saya suka, The Year of the Death of Ricrado Reis terbit ketika ia berumur 62. Sementara itu Toni Morrison baru menerbitkan novel pertamanya, The Bluest Eye tahun 1970, ketika ia berumur 39. Meskipun begitu, baru melalui Song of Solomon ia menarik perhatiakn para pengamat sastra, yang terbit tahun 1977 ketika ia berumur 46. Dan Beloved terbit sepuluh tahun kemudian setelah itu. Artinya? Memang tak ada patokan umur kapan seorang penulis melahirkan karya yang menjadi titik-tolak karirnya. Karya penting pertama yang dihasilkannya. Seorang penulis bisa saja menghasilkan karya penting di usia muda, tapi seperti kita lihat, ada yang baru merilis karya pentingnya di umur 40, bahkan 60. Meskipun begitu, saya rasa tetap saja ada satu pola. Karya-karya penting itu secara umum ditulis atau diterbitkan di usia muda “karir menulis” mereka. Günter Grass langsung melahirkan The Tin Drum setelah ia pulang dari perang dan memutuskan menjadi penulis. Márquez menerbitkan One Hundred Years of Solitude setelah ia mencoba menulis Leaf Storm dan In Evil Hour (yang tak bisa dibilang buruk). Saramago dan Morrison mungkin baru menghasilkan karya penting di usia tua, tapi harus dicatat, mereka juga memulainya di usia tua. Bagaimana dengan penulis yang lebih muda? Novel Orhan Pamuk yang pertama kali menarik perhatian, The White Castle terbit tahun 1985, ketika ia berumur 33 tahun (novel pertamanya terbit di umur 30). Setelah itu, bisa dibilang novelnya penting semua (semuanya hanya delapan novel) termasuk My Name is Red yang terbit ketika ia berumur 46. Baiklah, sekali lagi tulisan ini barangkali tidak penting. Anda bisa menulis kapan pun, dan menghasilkan karya penting kapan pun. Tak ada yang mengharuskan Anda menulis sehebat karya-karya itu. Tentu kecuali jika Anda termasuk yang berhitung tak akan adu lari cepat di Olimpiade kecuali yakin memiliki kecepatan mendekati Usain Bolt.

Standard
Journal

Kawin Silang

Saya ingin bicara tentang kawin silang, tapi saya ingin melipir dulu. Ketika iseng membaca kembali wawancara Orhan Pamuk tentang sepakbola, saya memperoleh pernyataan Pamuk mengenai identitas Turki: “Jika Presiden Prancis menolak Turki sebagai bagian dari Eropa, sepakbola kami telah menjadi bagian dari Eropa selama 50 tahun.” Pada saat saya membaca itu, ironisnya, karya pertama Pamuk yang baru diterbitkan dalam terjemahan Bahasa Inggris, Silent House, menjadi nominasi untuk Man Asian Literary Prize. Apa boleh buat, sebagaimana di novel-novelnya, Turki memang menjadi tempat dimana Asia dan Eropa menjadi sesuatu yang gamang untuk dipilih. Memikirkan itu, tiba-tiba saya bertanya-tanya, apa sebenarnya Asia? Oh, tentu saja saya merasa diri sebagai orang Asia. Tapi apa yang membuat saya merasa sama dengan orang-orang Jepang, Cina, bahkan Iran dan Turkmenistan? Tentu saja kalau dicari-cari, kita bisa menemukan sejenis persamaan-persamaan (meskipun perbedaan-perbedaannya juga sangat banyak). Saya cuma ingin melihat bahwa, jika di novel-novel Pamuk urusan Barat dan Timur (ke Barat dari Turki berarti Eropa, ke timur berarti Asia) merupakan sejenis kegamangan, pada dasarnya kita yang berada di Asia mungkin juga merasakan kegamangan yang sama dengan identitas tersebut. Dari berbagai sudut, saya tak bisa melihat apa yang bisa menyamakan orang-orang Arab Saudi dengan Korea, misalnya. Tidak secara ras, tidak agama, tidak juga budaya. Ide tentang benua ini terasa absurd jika dipikirkan. Itu baru bicara tentang Asia Timur dan Asia Barat, atau dari sudut pandang orang Eropa: Timur Tengah dan Timur Jauh. Kita masih memiliki wilayah Asia Selatan, juga Asia Tenggara, dan jangan lupa wilayah pecahan Uni Sovyet yang saya pikir merupakan wilayah asing yang sama berbedanya lagi. Kita tahu sedang berada dalam masalah besar jika menyangkut soal identitas. Kembali ke soal Asia, tentu saja memikirkan wilayah (benua) ini secara geo-politik memang membingungkan, tapi perhatian saya tentu saja ujung-ujungnya ke urusan kesusastraan. Jika kita memerhatikan novel-novel klasik Asia, kita tahu benua ini, dengan segala perbedaan-perbedaan di dalamnya, pada dasarnya memang sebuah arena dialog yang sangat besar. Jika kita membaca Journey to the West (salah satu dari empat atau lima novel klasik terbesar Cina), kita dengan sadar tak sadar melihat ada hubungan erat antara si monyet bandel Sun Gokong dengan Hanuman dalam Ramayana India. Demikian pula kisah-kisah dalam The Arabian Nights, menghimpun banyak sumber yang dipercaya berasal dari Persia bahkan India. Saya ingin menyebut salah satu karya klasik kita, Manikmaya (aslinya tentu dalam Bahasa Jawa dan saya membacanya dalam terjemahan Bahasa Indonesia), yang dengan santai merupakan kritik terhadap Arabisasi di Jawa. Ada satu dialog dari tokoh di karya itu, Ajisaka, yang membuat saya tertawa-tawa, yang kurang-lebih begini: “Jika Muhammad bisa menyebarkan aksara dan kepercayaannya, kenapa aku tak bisa?” Ajisaka pun berguru kepada musuh Muhammad. Yakni: iblis. Maka setelah lama belajar, lahirlah aksara Jawa dengan segenap kepercayaannya. Terlepas apakah Anda suka dengan cara pandang itu atau tidak, itulah dialog. Kita bisa menderet banyak contoh bagaimana benua ini, sebagaimana tetangga kita di Eropa, merupakan wilayah dimana kebudayaan dan bahkan kepercayaan merupakan hasil interaksi satu-sama lain yang sangat intens. Kesusastraan memperlihatkan hal itu dengan sangat jelas. Tapi bagaimana dengan keadaan hari ini? Bahkan memutuskan diri untuk lebih banyak membaca karya asing saja, seperti yang saya lakukan lebih dari setahun ini, dianggap sebagai wujud mentalitas inferior. Menyedihkan. Akhir tahun lalu, dari sebuah pertemuan para cerpenis di kantor salah satu koran terbesar, saya dapat bocoran percakapan: kesusastraan Indonesia masih terbaik di Asia Tenggara. Saya jadi ingin tertawa terbahak-bahak, keras sekali. Sombong itu sesekali memang perlu, tapi pakailah bukti. Berhentilah menjadi katak dalam tempurung. Penulis cerpen di Kompas (atau Koran Tempo) belajar dari penulis lain yang diterbitkan Kompas (atau Koran Tempo), bagi saya seperti mengawini saudara kandung. Inses! Jika Anda tak percaya dosa, paling tidak Anda percaya hal ini: perkawinan sedarah cenderung menguatkan penyakit bawaan. Dalam ranah pemikiran, perkawinan sedarah bisa menguatkan kebodohan. Percayalah. Anda butuh kawin silang. Anda setidaknya mulai membaca karya sastra dari Malaysia, dari Vietnam atau Filipina. Syukur-syukur mulai menjelajah kesusastraan Asia, bahkan dunia, sebagaimana dilakukan nenek-moyang kita, yang tak pernah rendah diri untuk bertukar gagasan dengan siapa pun sesama manusia. Jangan karena tak sanggup melawan raksasa-raksasa kesusastraan lalu kita berlindung di balik kekhasan “sastra Indonesia”. Saya membaca tulisan seorang kritikus yang mengusulkan perlunya menciptakan “kritik sastra yang khas Indonesia”. Anda sama buruknya dengan politisi yang melindungi kecurangan dan korupsi dengan istilah “demokrasi khas Indonesia”. Bagi saya, bicara soal inferioritas, itulah wujud yang sesungguhnya. Saya membayangkan, karena sepabkola kita tak juga berhasil lolos ke Piala Dunia, bagaimana jika kita menciptakan “sepakbola yang khas Indonesia”? Percayalah, sepakbola kita akan juara terus, karena kita tak perlu bertanding dengan siapa pun. Demikian pula sastra kita, akan selalu hebat, jika kita tak perlu bertegur-sapa, beradu-tonjok, dengan kesusastraan lain. Anda mau yang seperti itu?

Standard
Journal

Gagasan Kecil Tentang Penerjemahan dari dan ke Bahasa yang Sama

Karena memutuskan untuk lebih banyak membaca karya-karya klasik yang telah berumur paling tidak lebih dari satu abad, saya mulai menemukan buku-buku dengan berbagai versi terjemahan. Tentu saja ini menguntungkan sebagai pembaca, saya bisa memilih dengan berbagai pertimbangan. Meskipun begitu, kadang-kadang saya malah membaca lebih dari satu versi. Misalnya Don Quixote. Pertama kalinya saya membaca terjemahan Bahasa Inggris karya Pierre Antoine Motteux (meskipun terbit pertama kali sekitar 1700, banyak diterbitkan dan karenanya murah. Itu alasan saya dulu membelinya). Beberapa tahun yang lalu, terbit terjemahan baru Don Quixote karya Edith Grossman. Bagi pembaca sastra Amerika Latin, siapa yang tak kenal Edith Grossman? Ia melanjutkan kerja Gregory Rabassa untuk menerjemahkan karya-karya Márquez yang lebih baru, belum termasuk karya-karya penulis Latin lainnya. Saya tak bisa menahan diri untuk tak membaca kembali Don Quixote dalam terjemahan baru. Hal yang sama terjadi pada Arabian Nights (atau kita kenal sebagai Hikayat Seribu Satu Malam). Ada satu terjemahan klasik karya Richard F. Burton (pertama kali terbit tahun 1885, sangat disukai oleh Borges). Hampir sebagian besar penulis Barat membaca Arabian Nights dari versi Burton ini, yang juga merupakan versi yang saya baca (bukan yang pertama, sebab saya pernah membaca versi sederhana dalam Bahasa Indonesia, yang saya lupa terbitan mana). Sebenarnya versi ini sangat lemah dalam aspek orisinalitas. Burton memakai sumber yang berbeda-beda untuk terjemahannya. Beberapa dekade yang lalu, muncul edisi “kritis” (melalui penelitian akademis yang ketat), yang dikenal sebagai “versi teks Leiden” yang dikurasi oleh Muhsin Mahdi. Terjemahan Bahasa Inggris versi ini dilakukan oleh Husain Haddawy (saya rasa terjemahan Bahasa Indonesia ada juga yang mendasarkan versi ini). Saya menyukai versi Husain Haddawy (Volume 1 bisa dibilang yang asli, Volume 2, bisa dibilang untuk menyenangkan hasrat pembaca meskipun cerita-cerita di dalamnya bukan bagian dari Arabian Nights, seperti dongeng tentang Sinbad, dll). Bahasa Inggris Haddawy terasa lebih enak dibaca, tentu karena lebih modern, daripada Burton. Tapi saya masih sering membaca Burton juga karena alasan sederhana: ada cerita-cerita yang ada di Burton tapi tak ada di Haddawy (karena metodologi Burton lemah, sering memasukkan cerita yang bukan Arabian Nights, tapi malah membuatnya jadi menarik), seperti kisah yang saya sukai “The Ruined Man Who Became Rich Again Through a Dream”. Baru-baru ini penerjemah penting Bahasa Jerman ke Inggris, Susan Bernofsky merilis versi baru The Metamorphosis Franz Kafka. Saya lupa sudah baca berapa versi novela ini. Saya bahkan pernah menerjemahkannya (yang saya rasa kualitasnya menyedihkan). Saya tak bisa menahan diri, saya pasti akan membaca versi ini begitu bukunya beredar di pasar. Untuk karya-karya dari Rusia, pasangan penerjemah Richard Pevear dan Larissa Volokhonsky menjadi bintang terjemahan Bahasa Inggris versi baru dalam belasan tahun terakhir. Saya membaca beberapa karya Gogol dan Nikolai Leskov melalui terjemahan baru mereka (saya menunggu dan berharap mereka mau menerjemahkan kembali Gorky). Dari pengalaman kecil ini saya berpikir, enak sekali ya, jadi pembaca karya-karya terjemahan (terutama Bahasa Inggris, sebenarnya). Ada banyak pilihan dan untuk karya-karya agung, selalu ada versi terjemahan yang segar dalam bahasa yang modern. Tentu selain faktor-faktor kesalahan terjemahan, salah metodologi atau salah sumber, faktor “keusangan” bahasa menjadi sangat penting. Bahasa selalu tumbuh dan berkembang, dengan begitu karya terjemahan juga seringkali memerlukan pembaharuan untuk mengikuti target pembacanya. Bahkan penulis-penulis yang masih hidup pun, beberapa di antaranya memperbaharui terjemahan karyanya (dengan beragam alasan). Misalnya Milan Kundera pernah menyibukkan diri dengan merevisi hampir seluruh karyanya dalam terjemahan Bahasa Inggris. Orhan Pamuk juga mengeluarkan The Black Book dalam versi terjemahan baru. Sekali lagi, kita sebagai pembaca dimanjakan dalam perkara ini. Saya misalnya tak perlu membaca The Divine Comedy dalam terjemahan kuno, sebab ada terjemahan baru yang segar karya Clive James. Atau karya Ryūnosuke Akutagawa (Rashomon and Seventeen Other Stories) yang diterjemahkan kembali oleh salah satu penerjemah Murakami, Jay Rubin. Sialnya, kemewahan ini tak berlaku justru untuk pembaca bahasa asli karya tersebut ditulis. Orang Spanyol, misalnya, tetap membaca Don Quixote dalam Bahasa Spanyol Cervantes abad ke-17, sebagaimana orang Prancis membaca Pantagruel François Rabelais dengan Bahasa Prancis abad ke-18. Dalam kasus kita, kita tetap akan membaca Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat Asrul Sani dalam Bahasa Indonesia generasi 45 (yang untuk banyak anak muda, terasa jadul dan menjadi tembok penghalang). Saya jadi memikirkan gagasan sinting ini: bagaimana jika karya-karya klasik itu diterjemahkan ke bahasa yang sama tapi lebih modern? Tentu kita tahu, banyak beredar karya-karya klasik yang ditulis ulang (dalam bahasa yang sama) agar lebih mudah dibaca. Tapi biasanya itu versi ringkas, atau versi “enak dibaca” untuk para pemula (anak sekolah yang sedang belajar), atau bahkan versi penyederhanaan. Bukan. Maksud saya bukan itu. Maksud saya tetap terjemahan, yang ketat, dengan kualitas yang tinggi, tapi modern. Tidak boleh disadur. Proses yang sama seperti menerjemahkan dari Prancis ke Inggris atau dari Rusia ke Spanyol, tapi kali ini dari Spanyol ke Spanyol atau dari Rusia ke Rusia. Bayangkan saja suatu ketika ada edisi Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat yang “diterjemahkan ke Bahasa Indonesia modern oleh A.S. Laksana”, misalnya. Atau, Don Quixote yang “diterjemahkan ke Bahasa Spanyol modern oleh Javier Marías”. Sekali lagi, gagasan ini mungkin tidak baru, dan terdengar seperti melecehkan karya-karya agung, tapi kenapa tidak? Paling tidak, bagi saya, itu terdengar menyenangkan dan sedikit menantang. UPDATE: Baru membaca soal ini, bahwa novel (konon novel pertama di dunia) Tales of Genji karya Murasaki Shikibu dari abad 11, “diterjemahkan” ke Bahasa Jepang abad 20 oleh penyair Akiko Yosano.

Standard