Eka Kurniawan

Journal

Tag: O

Mustikowati: Buku pertama yg saya baca adalah Cantik itu Luka. I’m so impressed. Saya lanjutkan dengan Lelaki Harimau, S.D.R.H.D.T, dan O. Satu yg terasa beda adalah penggunaan kata “tidak” pada C.I.L anda ubah menjadi “enggak” pada novel-novel selanjutnya. Mengapa? (because I prever the first one?). Terima kasih.

Bagi saya sesederhana itu merupakan bagian dari perubahan luas antara era Cantik Itu Luka/Lelaki Harimau (sila perhatikan kembali novel ini) ke era Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas/O yang terentang hingga 10 tahun. Mengapa? Karena itu hanya satu persoalan dari banyak hal yang menarik hati dan pikiran saya, pembicaraannya akan luas sekali. Tapi bisa kita persempit di kata “tidak” dan “enggak” saja, sesuatu yang sebenarnya pernah saya bicarakan di jurnal ini: sementara pada dasarnya saya masih mempergunakan kata “tidak” di sana-sini, pada saat yang sama saya enggak mau membunuh “enggak”. Ini sejenis diplomasi kecil, tentang kata-kata yang seringkali harus dibunuh hanya karena kebakuan, aturan, atau bahkan sopan-santun.

(dari Tanya dan Jawab)

“With remarkable skill, Eka tells a story about animals and human beings arguing about the existence of God, religion and our fate.” O review from The Jakarta Post by Elysa Ng.

resensi_o_kompas

Sila baca “Antitesis Cinta Monyet”, resensi Tenni Purwanti untuk novel O, di Kompas hari ini, 2 Juli 2016. Foto oleh: @sastragpu.

Juga resensi Cantik Itu Luka (Schoonheid is een vloek) untuk edisi Belanda: “Schoonheid is een vloek heeft een speciale gekruidheid” di harian pagi de Volkskrant.

Hadiah Lebaran juga meliputi hak terjemahan Cantik Itu Luka ke bahasa Ibrani, akan diterbitkan oleh Shocken Publishers.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑