Journal

Walter Benjamin

The Origin of German Tragic Drama. Ia pernah berkata (di esai “One-Way Street”), “Karya akademik modern umumnya dimaksudkan dibaca seperti sebuah katalog.” Ia mungkin bercanda, atau meledek. Atau mungkin ia menganggap serius segenap katalog, dari daftar produk IKEA hingga daftar diskon dari minimarket depan rumah; dari katalog pameran seni rupa hingga katalog berisi daftar menu. Tentu saja ketika ia menulis buku ini, yang dimaksudkannya sebagai “karya akademik” (agar bisa menjadi dosen, meskipun akhirnya tak jadi), ia mungkin berpikir tentang katalog, meskipun saya tak merasa begitu ketika membacanya. Tapi mari berpikir secara begitu. Jika ini sebuah katalog, ia sedang menjajakan sederet gagasan mengenai drama tragedi, simbolisme, satir, dan tentu saja sosok tragis. Sosok tragis tak hanya muncul di dalam fiksi, tapi juga di kehidupan nyata. Saya sudah lama bertanya-tanya, dari mana ini berasal? Meskipun buku ini tak secara khusus untuk menjawab pertanyaan tersebut, tapi sedikit banyak memberi lanskap kilasan sejarah tragedi dan sosok-sosok tragis. Dengan kematiannya setelah minum racun demi mempertahankan apa yang dianggapnya sebagai kebenaran, Plato mengekalkan sosok tragis yang adalah gurunya: Socrates. Dan jangan dilupakan, Jesus berkorban untuk keselamatan manusia, untuk dosa-dosa mereka. Ia sosok tragis. Kedua sosok tragis ini, di kehidupan nan sekuler maupun nan religius, banyak memengaruhi sosok-sosok tragis lainnya. Fiktif maupun nyata, saya kira. Sejarahnya panjang, dan yakin akan tetap panjang ke masa depan. Sebagai orang yang lama hanya mengenal Walter Benjamin karena disebut orang di sana-sini (kelihatannya memang keren menyebut namanya dan mengutip satu-dua penggal kalimatnya), dan kemudian hanya sempat membaca satu-dua esainya (mungkin dianggap paling penting: “The Storyteller” dan “The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction”), membaca karyanya yang ini jelas merupakan tantangan yang mengasyikan, dan saya kira merupakan jendela pembuka yang sangat perlu. Terutama jika dibandingkan dengan tulisan-tulisan lainnya, yang seringkali berupa esai refleksi ringkas (meskipun tidaklah ringkas benar), dan terutama jika terbiasa hanya membaca penggalan-penggalan kalimatnya yang dikutip orang.

Reflections. Ketika di akhir 1940 di perbatasan Spanyol dalam “pelarian menuju kebebasan” (sebagaimana disebut oleh sahabatnya, Gershom Scholem), ia tertangkap dan memutuskan mengakhiri hidupnya, dunia kehilangan salah satu pemikirnya yang cemerlang. Tapi sekaligus, barangkali, memberi gairah baru untuk filsafat ketika esai-esai pendeknya, alih-laih traktat filsafat tebal (meskipun ia juga meninggalkan naskah lebih dari seribu halaman tentang arkade atau deretan toko-toko yang menjamur di Paris di akhir abad 19, yang sayangnya tak terselesaikan), dikumpulkan dan diterbitkan. Para filsuf mungkin tak lagi terobsesi untuk menciptakan atau menemukan sistem besar dan kompleks, dan yang datang kemudian hanyalah menjadi catatan kaki bagi para pendahulunya: bagi Marx, Hegel, Kant (misalnya). Setidaknya saya bisa melihat itu dari tulisan-tulisan Walter Benjamin ini. Ia tak sungkan menjadi “catatan kaki” ini, terutama untuk Marx, dan justru dari sini kita bisa melihat mata tajamnya terhadap hal-hal sederhana, keseharian yang banal, dan menembus untuk melihat dasar material dari berbagai fenomena tersebut, menjadikannya salah satu penafsir marxisme yang segar. Ketika pemikiran Marx menjadi monumen yang angker dan mengintimidasi (bahkan jika mengikuti anjuran-anjuran Slavoj Žižek, untuk memahami Marx kamu harus juga memahami Hegel yang tak kalah mengintimidasi), para penafsir seperti Georg Lukács, Antonio Gramsci atau Ernst Bloch membuat gagasan-gagasan besar ini menjadi lebih tertanggungkan untuk dipahami. Walter Benjamin membuatnya lebih terjangkau lagi, melalui fragmen-fragmen pemikirannya yang memang tak sistematis, acak, dan yang tak kalah penting: membicarakan fenomena-fenomena di depan mata. Hal ini saya kira juga dipengaruhi (atau mempengaruhi) pilihan gayanya: esai-esainya ditulis dengan berbagai pendekatan, mulai dari semi-memoar, catatan perjalanan, sketsa, percakapan (dengan Brecht), meskipun ia juga tak anti melakukan ulasan dengan gaya tradisional mengenai satu tema spesifik (seperti dilakukannya di “On Language as Such and on the Language of Man”). Lebih dari seorang pemikir maupun pengamat kebudayaan, Walter Benjamin memang seorang prosais yang mengasyikkan, bisa melihat detail-detail peristiwa dan menuangkannya dalam baris-baris yang jernih. Dalam catatannya mengenai Moskow, misalnya, ia menulis bagaikan seorang novelis: “Mereka telah mengembangkan tindakan mengemis sebagai satu seni tinggi dengan seratus cara dan variasi. Mereka mengamati para pelanggan di satu kedai roti di satu jalan yang sibuk, mendekati satu di antaranya, dan menemaninya, mengeluh dan memohon, hingga si pelanggan merelakan sepotong pie panasnya.” Sekali lagi, membaca potongan semacam itu, kita serasa berhadapan dengan seorang pencerita, melebihi seorang pemikir yang tengah mencacah dan membedah sebuah peristiwa. Tentu saja gaya yang relatif ringan dan bersifat fragmen ini sudah pernah dilakukan oleh para pemikir sebelumnya. Satu yang menonjol, misalnya Nietzsche, melalui fragmen-fragmen dan aporisma-aporismanya. Hal ini, pada akhirnya, akan menjadi tantangan berat bagi pembaca yang mencoba untuk menemukan “sistem”, pola, dari semua tulisan dan pemikiran yang tercerai-berai ini, terlepas apakah sang pemikir mencoba membangunnya atau tidak. Bagi saya sendiri, Walter Benjamin tampaknya tak mencoba ke arah sana. Meskipun begitu, kita dengan mudah melihat tegangan dari pemikirannya: antara sistem besar marxisme dan kecenderungannya yang tak kalah kuat dan tak terelakkan kepada anarkisme. Seperti kebanyakan intelektual sezamannya, ia mengklaim dirinya sebagai pemikir kiri, simpati dan pembelaannya terhadap marxisme harus dihadapkan kepada kenyataan Rusia di hari-hari tersebut. Ia tak menyembunyikan dukungannya, tapi juga tak sungkan memperlihatkan kegalauannya terhadap perkembangan kediktatoran proletar di bawah Stalin. “Rusia kini bukan saja sebuah kelas, tapi juga sebuah negara kasta,” katanya. Mungkin hal ini yang membuatnya terus-menerus melirik anarkisme? Lihat saja, kadang ia menukil Epicurus yang terdengar anarkis, ketika bicara tentang citra (atau saya kira tentang apa pun) yang “terus-menerus membebaskan dirinya dari benda-benda dan menentukan persepsi kita tentangnya.” Dengan kata lain, tak ada citra yang absolut atas apa pun. Tapi pada saat yang sama, persepsinya (dari telaah-telaahnya) terhadap banyak hal, memperlihatkan garis pemikiran marxisme yang juga kuat. Bicara tentang Pameran Dunia 1855 dalam esai lanskap tentang “Paris, Capital of the Nineteenth Century”, dengan jitu (sebagaimana hal ini masih tepat bahkan hingga saat ini), ia menunjukkan bahwa pameran tersebut “merupakan situs ziarah untuk pemujaan atas komoditas.” Ide pameran ini pada awalnya untuk “menghibur kelas pekerja dan menjadikan untuk mereka festival kesetaraan,” tapi dengan cepat Walter Benjamin menunjukkan bahwa yang terjadi justru “[kelas pekerja] menyerahkan dirinya untuk dimanipulasi sementara menikmati keterasingan dari dirinya sendiri dan dari orang lain.” Kemudian, ketika bicara tentang “Surrealism”, ia tak segan-segan menyatakan, “Sejak Bakunin, Eropa kekurangan satu konsep radikal mengenai kebebasan. Kaum surealis memilikinya.” Sikap anarkismenya, juga keberpihakannya kepada marxismenya, bagaimanapun telah membuatnya unik. Ia mungkin belum berhasil memadupadankannya (atau memang tak perlu), membiarkan esai-esainya bergoyang. Itu hanya memperlihatkan dirinya yang lebih dari sekadar pemikir: ia seorang pencari, penjelajah. Dalam satu foto yang pernah saya lihat, ketika ia duduk berdua bersama Bertolt Brecht saling menghadap ke papan catur, kita bisa melihat sosok manusia yang tak hanya tajam menatap bidak-bidak catur, tapi pada saat yang sama juga ada kesan menerawang. Ia tak hanya sering bermain catur atau bercakap-cakap dengan sang seniman, tapi sering datang kepadanya membawa esai yang baru ditulisnya. Meminta dibaca, menunggu komentar, lalu kembali mempertimbangkannya. Mungkin ia harus mempertimbangkan kedalaman pemikirannya, mungkin juga ia sedang mencoba memoles gaya prosanya. Ia pernah berkata bahwa menulis prosa yang baik memiliki tiga langkah: tahap musikal ketika itu disusun, tahap arsitektural ketika dibangun, dan tahap tekstil ketika ia dirajut. Esai-esainya, di luar tinjauan yang menyegarkan, tak terbantahkan juga merupakan musik, arsitektur sekaligus rajutan yang membuka ruang-ruang persepsi baru, sekaligus petualangan dan perjalanan.

Illuminations. Membaca esai macam “The Works of Art in the Age of Mechanical Reproduction” di zaman sekarang mungkin terasa menggelikan. Meskipun tentu saja masih mudah menemukan berbagai karya yang direproduksi secara mekanik (buku, foto konvensional, piringan hitam masih diproduksi), tapi serbuan reproduksi digital (buku elektronik, musik, film, foto digital) dengan segala kemudahan dan kecepatannya telah membuat reproduksi mekanik tampak tak hanya ketinggalan zaman, tapi terutama pemborosan waktu dan biaya. Walter Benjamin tak menikmati umur panjang, memilih mati daripada hidup di bawah fasisme Nazi, dan karenanya tak pernah melihat zaman digital ini. Tapi saya kira, apa yang dibicarakannya di esai tersebut tetap akan relevan, sebab yang diperbincangkannya bukan semata-mata alat, cara dan hasil reproduksi (yang merupakan salah satu fokus kritik Marx atas sistem produksi kapitalisme), tapi terutama apa pengaruhnya bagi pencipta, penikmat dan karya itu sendiri. Kegelisahannya berkelindan dimulai dari pertanyaan-pertanyaan tentang otentisitas atau keunikan. Tentu saja, seperti dikatakannya, semua karya seni pada dasarnya bisa direproduksi. Di zaman dulu, lukisan seorang master bisa dijiplak oleh murid-muridnya. Demikian pula pementasan teater, bisa diproduksi berkali-kali oleh kelompok yang sama atau kelompok yang berbeda. Dalam konteks seperti itu, reproduksi masih memiliki keunikan masing-masing. Goresan tangan si master berbeda dengan tangan si murid. Bahkan produksi teater dari kelompok yang sama di hari berbeda memiliki keunikannya masing-masing. Tapi bagaimana dengan karya yang diproduksi secara mekanik, seperti fotografi atau film? Semua hasil reproduksi bisa dikatakan sama. Apakah tetap ada otentisitas dan keunikan? Apakah mereka memiliki “aura”? Saya rasa pertanyaan-pertanyaan itu semakin tajam jika ditujukan kepada reproduksi digital. Dalam reproduksi mekanik, perbedaan antara satu kopi dengan kopi lain masih bisa dilacak (karena untuk ukuran zaman sekarang, penggandaan mekanik bisa dianggap tak persis), tapi dalam produksi digital, kesamaan itu nyaris bisa dikatakan persis. Dan bagi saya, kenapa esai ini tetap menarik di masa sekarang, karena reproduksi digital semakin menjauhkan kita (manusia, sebagai pencipta atau penikmat) dari cara produksi sebuah karya. Dunia digital memberi ilusi seolah semua orang bisa memproduksi banyak hal sendiri; sebetulnya kita semakin jauh, terpisahkan oleh mesin dan program, yang untuk sebagian besar orang semakin tak terakses. Baiklah, buku ini tak hanya berisi esai itu saja. Esainya yang saya anggap penting “The Stroyteller” juga ada di buku ini. Meskipun esai itu merupakan refleksi untuk cerita-cerita Nikolai Leskov, tapi pada dasarnya ia bicara hal yang jauh lebih luas dan barangkali masih ada hubungannya dengan apa yang dibicarakan di esai sebelumnya: reproduksi cerita dan bagaimana cerita disebar-luaskan. Ini semakin memperkuat kegandrungannya untuk melihat karya seni dan sastra (dan banyak hal fenomena kebudayaan secara umum) tak melulu dalam aspek-aspek estetiknya belaka, tapi juga bagaimana itu diproduksi dan direproduksi, dan bagaimana pengaruhnya terhadap penerimaan publik. Ia melacak bagaimana dunia berubah dari tradisi pendongeng ke tradisi “cerita” yang dibawa oleh surat kabar, membentuk apa-apa yang dianggap penting untuk disampaikan dan diterima. Hah, bukankah di masa sekarang hal itu semakin nyata? Cara “cerita” dibawakan melalui internet, sosial media, sedikit banyak memorakporandakan fondasi tradisi bagaimana cerita-cerita disampaikan dan diterima. Dalam hal ini, saya rasa esai-esai Walter Benjamin menjadi lebih penting lagi untuk ditengok dan dibaca, terutama bagaimana pengaruh alat dan cara reproduksi karya dan cerita (berita) memengaruhi struktur sosial, dan tentu pada akhirnya juga ekonomi.

Standard
Journal

Ludmilla Petrushevskaya

Membaca cerita-cerita Ludmilla Petrushevskaya seperti membaca berita koran lampu merah. Diceritakan dengan cara tutur yang dingin (tapi kocak), yang mengingatkan saya pada narator acara infotainmen di televisi. Pada dasarnya membaca kisah-kisah domestik, tapi dengan satu dan lain cara, pasti bisa membuat merah padam muka para penguasa dan pemegang kebijakan. Kisah-kisahnya berpusar pada masalah-masalah keluarga, hubungan suami-isteri, pacar dan kekasih, selingkuhan, nasib orang-orang jomblo, dan tak pernah sekali pun secara eksplisit bicara tentang politik atau bobroknya pemerintahan; tapi justru dengan cara seperti itulah ia menyodorkan cermin buram wajah politik negerinya (Sovyet dan kemudian Rusia). Petrushevskaya lahir dari tradisi kesusastraan Rusia yang panjang, yang melahirkan maestro-mastero penulis cerita pendek besar: Nikolai Gogol (saya rasa ia tak hanya bapak kesusastraan Rusia, tapi moyang bagi banyak penulis di dunia), Anton Chekhov, Nikolai Leskov (yang cerpen-cerpennya mendorong Walter Benjamin menulis esai yang sulit dilupakan itu, “The Storyteller”), hingga Isaac Babel (penulis cerpen brilian, komunis yang loyal, tapi harus mati muda karena didor Stalin). Saya yang pada dasarnya selalu menganggap setiap karya merupakan pernyataan politik, langsung atau tidak langsung, sangat menikmati cerita-ceritanya. Dalam kumpulan There Once Lived a Girl Who Seduced Her Sister’s Husband, and He Hanged Himself, kita bertemu rakyat jelata yang tinggal di apartemen-apartemen sempit dengan beragam persoalan rumah tangga mereka. Yang menarik, Petrushevskaya tak pernah mencoba meromantisir kehidupan jelata ini, malahan lebih sering Petrushevskaya mengolok-olok bahkan menyiksa tokoh-tokohnya tanpa ampun, dan dengan gaya yang sangat dingin, tanpa simpati dan empati. Tapi dengan cara seperti itulah ia membuka persoalan-persoalan negerinya, seperti seorang ilmuwan membuka fakta-fakta obyek pengetahuannya. Wangi ataupun busuk. Bagaimana ia melakukannya? Di cerpen “A Murky Fate”, misalnya, ia bercerita tentang seorang perempuan lajang yang mencoba “mengusir” ibunya semalam dari apartemen studio mereka agar bisa membawa pulang seorang lelaki. Tak lebih. Ia “hanya” menceritakan betapa susahnya bagi seorang perempuan bahkan sekadar menemukan tempat bercinta. Tapi perkaranya bukan itu, tentu saja. Secara tak langsung ia menyentil kebijakan perumahan, yang membuat ruang-ruang pribadi (di bawah rezim Sovyet) menjadi hilang atau nyaris tak ada. Hal seperti ini menjadi semakin ketara dalam cerita “Give Her to Me”, tentang dua orang seniman (aktris dan komponis), yang harus hidup di sebuah masyarakat yang tampaknya tak peduli dengan bakat-bakat seperti mereka. Sekali lagi, cerpen-cerpen ini ditulis dengan gaya koran kriminal lampu merah (meskipun ceritanya hampir tak berisi kasus-kasus kriminal). Kebanyakan kisah perempuan lajang yang mencoba mencari pasangan, dan lelaki yang beristri yang bosan dengan rumah tangganya, lalu mencari mangsa gadis-gadis muda. Mereka memiliki anak, dan seringkali nasib berputar pada anak itu. Bahkan ada kisah seorang lelaki yang diceraikan isterinya, menggelandang, dan “dipelihara” perempuan berumur tujuh puluhan yang mau mendengar ocehannya tentang filsafat, sementara perempuan tua itu memperlakukannya sebagai anaknya yang tak pernah hidup. Tak hanya bahasanya yang “nyantai”, bahkan struktur ceritanya pun dituturkan seperti dongeng ibu-ibu yang menggosip di taman. Satu cerpen bahkan ditulis dengan nomor, dari 1 hingga 45. Judul kumpulannya yang lain, juga ditulis dengan gaya koran lampu merah: There Once Lived a Mother Who Loved Her Children, Until They Moved Back In. Oh, ada satu lagi, kali ini cerita-cerita “menakutkan” (Petrushevskaya menyukai Edgar Allan Poe), There Once Lived a Woman Who Tried to Kill Her Neighbour’s Baby. Cerpen dewasa ini barangkali tidak “searus-utama” novel dalam kesusastraan, tetapi membaca cerpen-cerpen yang menyegarkan seperti karya-karya Petrushevskaya, senantiasa membuat saya jatuh cinta berkali-kali kepada kesusastraan.

Standard
Journal

Esai

Selain membaca novel, cerpen, buku-buku sejarah dan filsafat, saya senang membaca esai. Esai tentang apa saja, meskipun esai filsafat dan sastra lebih sering menarik minat saya. Bagi saya, esai merupakan perkawinan unik antara disiplin berpikir, keberanian berspekulasi, dan gaya menulis. Banyak penulis kontemporer merupakan esais-esais cemerlang. Roberto Bolaño bagi saya tak hanya diingat sebagai penulis The Savage Detectives atau Amulet, tapi juga sebagai penulis esai keren “Literature+Ilness=Ilness”. Jorge Luis Borges, selain dikenal sebagai cerpenis penting abad kedua puluh (pengaruh puisi-puisinya juga tak bisa dianggap remeh), juga dikenal sebagai “profesor” karena esai-esai sastranya (salah satu buku esainya yang saya sukai berjudul Seven Nights). Seperti cerpen-cerpennya, esai-esai Borges sering memperlihatkan spekulasi-spekulasi filosofis dengan obyek karya sastra. Misalnya dalam esai berjudul “The Labyrinths of the Detective Story and Chesterton”, ia tanpa sungkan membuka esainya dengan satu spekulasi: bahwa orang Inggris hidup dengan dua hasrat yang tak nyambung, yakni gairah aneh untuk bertualang dan gairah aneh untuk legalitas. Saya rasa, esai semacam itu tak hanya membutuhkan ketekunan membaca, ketelitian mencerna dan menganalisa, tapi juga keberanian menarik kesimpulan. Bentuk esai yang cenderung bebas, tentu menarik minat banyak penulis sastra untuk merambah genre ini, di mana mereka bisa mengguratkan gaya mereka di sana. Tapi tentu saja gaya tak hanya melulu monopoli para penulis sastra. Banyak filsuf juga menulis esai-esai mereka dengan gaya. Sudah lama kita kenal filsuf macam Marx maupun Nietzsche juga sebagai para penggaya dalam menulis. Lebih dari itu, esai juga menarik karena kadang-kadang ia merambah tema-tema yang tak umum, yang barangkali terlalu biasa untuk dijadikan bahan traktat filsafat yang tebal dan berat. Dalam esai, misalnya, Borges bisa menulis hubungan antara dinding raksasa Cina dan pembakaran buku oleh kaisar yang sama dalam “The Wall and the Books”. Beberapa waktu lalu, saya membeli buku tipis Arthur Schopenhauer hanya karena tema dan judulnya: The Horrors and Absurdities of Religion. Isinya beberapa esai mengenai agama, tentu dengan horor dan keabsurdannya. Coba bayangkan judul-judul lainnya yang menurut saya sama gokil, dan kecil kemungkinan ditemukan di buku-buku filsafat yang lebih “serius”, tebal dan berat: Fear and Trembling (Søren Kierkagaard), atau Of the Abuse of Words (John Locke). Apa sih untungnya membaca esai-esai semacam ini? Bagi saya, selain karena tema-temanya cenderung lebih sederhana dan unik, di sisi lain esai (yang baik) tak pernah kehilangan daya untuk merangsang nalar kita. Seperti membaca cerpen-cerpen yang bagus kita merasa yakin bahwa segala sesuatu bisa menjadi cerita yang menarik, membaca esai-esai yang keren cenderung membuat kita yakin bisa memikirkan segala sesuatu dan memberinya makna. Esai bisa membebaskan kita dari cengkeraman karya-karya akademik yang cenderung garing, yang meneror kita dengan judul-judul super semacam: “Wacana Pascakolonial dalam Karya Pramoedya Ananta Toer”, atau “Perspektif Feminis dalam Novel Madame Bovary”, atau “Kehendak Bebas Menurut Franz Kafka”, yang barangkali isinya tak secerdas dan semenggairahkan esai “The Storyteller” Walter Benjamin yang mengupas cerpen-cerpen Nikolai Leskov. Esai merupakan wilayah kreatif, wilayah main-main tanpa harus kehilangan hasrat intelektual. Wilayah penulisan penuh gaya tanpa kehilangan bobot. Ah, tiba-tiba saya membayangkan esai-esai gokil semacam, “Apa yang Dipikirkan Kucing Ketika Kucing Memikirkan Murakami?”, atau “Apa yang Terjadi Jika Suatu Pagi Seekor Kecoa Terbangun dan Menemukan Dirinya Berubah Menjadi Franz Kafka?”, atau “Hemingway Membunuh Hemingway”. Esai. Hal-hal seperti itu bisa ditulis dalam bentuk esai.

Standard
Journal

Beberapa Tesis Tentang Pu Songling (1)

(1) Para pendongeng, sejatinya merupakan pengumpul kisah. Ia mendengar sebuah kisah dari orang lain, yang mungkin mengalami peristiwa di dalam kisah tersebut, atau mendengarnya dari orang lain lagi yang mengalaminya, lalu si pendongeng menyampaikan kisah tersebut dengan caranya sendiri. Kadang-kadang si pendongeng mencampurkan kisah dari satu orang dengan kisah dari orang lain, yang mungkin tak berhubungan sama sekali, sehingga menjadi satu kisah yang lain. Walter Benjamin pernah menyinggung soal ini ketika bicara mengenai penulis Rusia, Nikolai Leskov, dalam esai terkenal berjudul “The Storyteller”. Hal ini benar pula menyangkut Pu Songling, penulis Strange Tales from a Chinese Studio (1766). (2) Apa yang disebut cerita aneh adalah, kisah dimana hal-hal yang tidak wajar, hal-hal yang asing, menunggangi hal-hal yang kita anggap wajar atau kita akrabi. Misalnya dalam kisah mengenai lelaki bangsawan yang mata-ke-ranjang, “Talking Pupils”, yang karena menggoda seorang calon pengantin, disembur debu yang telah dijampi-jampi. Sejak saat itu, matanya jadi tak bisa melihat. Tapi di dalam matanya tinggal dua makhluk asing, yang ngomel-ngomel karena mereka juga tak bisa keluar melihat dunia. Akhirnya kedua mahkluk itu tinggal di satu mata dan membuat jendela, atau pintu, agar bisa jalan-jalan keluar. Si sosok bangsawan akhirnya bisa melihat kembali dan tobat. Makhluk kecil di dalam mata merupakan elemen yang tidak wajar, apalagi sampai bicara. Tapi membuat jendela atau pintu dari selaput yang menutupi merupakan elemen yang mudah dimengerti. Jika hal-hal tidak wajar melakukan tindakan-tindakan yang juga tidak wajar, itu tak akan menjadi kisah aneh, sebab kita dengan sadar menempatkan diri ke dunia yang berbeda. (3) Teori-teori cerita-rekaan modern seringkali memperumit masalah dengan menuntut banyak hal: perkembangan karakter, dramatisasi, sudut pandang, dan lain sebagainya. Pu Songling menunjukan betapa bercerita bisa sangat sederhana. Betapa cerita bisa disampaikan dalam beberapa paragraf, dengan karakter yang datar (hanya disebutkan siapa dan bagaimana tokoh tersebut). Yang terpenting adalah apa yang terjadi, mengapa terjadi, dan bagaimana akhirnya. Plot. Ini berlaku untuk banyak cerita Jorge Luis Borges, dan kita tak heran mengapa penulis Argentina ini merupakan salah satu penggemar garis keras Pu Songling. (4) Cerita yang baik, saya rasa merupakan peristiwa, atau beberapa peristiwa, yang bisa dilihat dengan lebih dari satu cara pandang. Dalam kisah “The Painted Wall”, Zhu terpesona oleh gambar bidadari di dinding kuil sehingga ia terperosok masuk ke kahyangan dan bercinta dengan bidadari itu. Selama kepergiannya ke kahyangan, ia menghilang dari hadapan temannya di dunia nyata, yang mencari-carinya. Setelah biksu di kuil tersebut mengetuk dinding kuil, kembalilah Zhu ke dunia nyata. Ia menceritakan pengalaman anehnya kepada biksu dan temannya, dan bertanya sebenarnya apa yang sesungguhnya terjadi. Sang biksu hanya berkata: “Sumber ilusi berada di dalam manusia sendiri. Siapa aku untuk menerangkan hal seperti ini?” Setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda atas peristiwa, itulah mengapa peristiwa menjadi cerita. (5) Yang aneh, seringkali sekaligus merupakan sesuatu yang lucu. Kisah “A Fatal Joke” merupakan contoh terbaik mengenai hal ini. Seorang lelaki bernama ‘X’, terbunuh oleh gerombolan bandit. Tapi ketika keluarga hendak menguburnya, lelaki itu masih memperlihatkan tanda-tanda kehidupan. Keluarga akhirnya menutup luka sayatan pedang di tubuhnya dan merawatnya hingga sembuh. Sepuluh tahun kemudian, seorang temannya menceritakan kisah lucu, dan ia tertawa terbahak-bahak, hingga bekas lukanya terbuka kembali. Darah menyembur deras dan ia mati. Ayahnya memutuskan untuk menuntut si pembuat lelucon atas pembunuhan itu. (6) Seringkali plot pun bahkan sama sekali tak perlu. Yang kita perlukan hanyalah menggambarkan saja apa yang terlihat. Seorang pendongeng kadangkala hanyalah seorang pelapor satu pemandangan. Misalnya ia pernah melihat seorang pengamen dengan kodok-kodoknya yang bisa memainkan bunyi layaknya orkestra, dan ia hanya menuliskan bagaimana pengamen itu membuat kodok-kodoknya berbunyi. Ini mengajarkan kita satu hal: kekuatan suatu karya sastra, pertama dan terutama, ada di elemen paling mendasar. Kata dan bagaimana kita mempergunakan kata-kata.

Baca: Beberapa Tesis Tentang Pu Songling (2)

Standard
Journal

Gagasan Kecil Tentang Penerjemahan dari dan ke Bahasa yang Sama

Karena memutuskan untuk lebih banyak membaca karya-karya klasik yang telah berumur paling tidak lebih dari satu abad, saya mulai menemukan buku-buku dengan berbagai versi terjemahan. Tentu saja ini menguntungkan sebagai pembaca, saya bisa memilih dengan berbagai pertimbangan. Meskipun begitu, kadang-kadang saya malah membaca lebih dari satu versi. Misalnya Don Quixote. Pertama kalinya saya membaca terjemahan Bahasa Inggris karya Pierre Antoine Motteux (meskipun terbit pertama kali sekitar 1700, banyak diterbitkan dan karenanya murah. Itu alasan saya dulu membelinya). Beberapa tahun yang lalu, terbit terjemahan baru Don Quixote karya Edith Grossman. Bagi pembaca sastra Amerika Latin, siapa yang tak kenal Edith Grossman? Ia melanjutkan kerja Gregory Rabassa untuk menerjemahkan karya-karya Márquez yang lebih baru, belum termasuk karya-karya penulis Latin lainnya. Saya tak bisa menahan diri untuk tak membaca kembali Don Quixote dalam terjemahan baru. Hal yang sama terjadi pada Arabian Nights (atau kita kenal sebagai Hikayat Seribu Satu Malam). Ada satu terjemahan klasik karya Richard F. Burton (pertama kali terbit tahun 1885, sangat disukai oleh Borges). Hampir sebagian besar penulis Barat membaca Arabian Nights dari versi Burton ini, yang juga merupakan versi yang saya baca (bukan yang pertama, sebab saya pernah membaca versi sederhana dalam Bahasa Indonesia, yang saya lupa terbitan mana). Sebenarnya versi ini sangat lemah dalam aspek orisinalitas. Burton memakai sumber yang berbeda-beda untuk terjemahannya. Beberapa dekade yang lalu, muncul edisi “kritis” (melalui penelitian akademis yang ketat), yang dikenal sebagai “versi teks Leiden” yang dikurasi oleh Muhsin Mahdi. Terjemahan Bahasa Inggris versi ini dilakukan oleh Husain Haddawy (saya rasa terjemahan Bahasa Indonesia ada juga yang mendasarkan versi ini). Saya menyukai versi Husain Haddawy (Volume 1 bisa dibilang yang asli, Volume 2, bisa dibilang untuk menyenangkan hasrat pembaca meskipun cerita-cerita di dalamnya bukan bagian dari Arabian Nights, seperti dongeng tentang Sinbad, dll). Bahasa Inggris Haddawy terasa lebih enak dibaca, tentu karena lebih modern, daripada Burton. Tapi saya masih sering membaca Burton juga karena alasan sederhana: ada cerita-cerita yang ada di Burton tapi tak ada di Haddawy (karena metodologi Burton lemah, sering memasukkan cerita yang bukan Arabian Nights, tapi malah membuatnya jadi menarik), seperti kisah yang saya sukai “The Ruined Man Who Became Rich Again Through a Dream”. Baru-baru ini penerjemah penting Bahasa Jerman ke Inggris, Susan Bernofsky merilis versi baru The Metamorphosis Franz Kafka. Saya lupa sudah baca berapa versi novela ini. Saya bahkan pernah menerjemahkannya (yang saya rasa kualitasnya menyedihkan). Saya tak bisa menahan diri, saya pasti akan membaca versi ini begitu bukunya beredar di pasar. Untuk karya-karya dari Rusia, pasangan penerjemah Richard Pevear dan Larissa Volokhonsky menjadi bintang terjemahan Bahasa Inggris versi baru dalam belasan tahun terakhir. Saya membaca beberapa karya Gogol dan Nikolai Leskov melalui terjemahan baru mereka (saya menunggu dan berharap mereka mau menerjemahkan kembali Gorky). Dari pengalaman kecil ini saya berpikir, enak sekali ya, jadi pembaca karya-karya terjemahan (terutama Bahasa Inggris, sebenarnya). Ada banyak pilihan dan untuk karya-karya agung, selalu ada versi terjemahan yang segar dalam bahasa yang modern. Tentu selain faktor-faktor kesalahan terjemahan, salah metodologi atau salah sumber, faktor “keusangan” bahasa menjadi sangat penting. Bahasa selalu tumbuh dan berkembang, dengan begitu karya terjemahan juga seringkali memerlukan pembaharuan untuk mengikuti target pembacanya. Bahkan penulis-penulis yang masih hidup pun, beberapa di antaranya memperbaharui terjemahan karyanya (dengan beragam alasan). Misalnya Milan Kundera pernah menyibukkan diri dengan merevisi hampir seluruh karyanya dalam terjemahan Bahasa Inggris. Orhan Pamuk juga mengeluarkan The Black Book dalam versi terjemahan baru. Sekali lagi, kita sebagai pembaca dimanjakan dalam perkara ini. Saya misalnya tak perlu membaca The Divine Comedy dalam terjemahan kuno, sebab ada terjemahan baru yang segar karya Clive James. Atau karya Ryūnosuke Akutagawa (Rashomon and Seventeen Other Stories) yang diterjemahkan kembali oleh salah satu penerjemah Murakami, Jay Rubin. Sialnya, kemewahan ini tak berlaku justru untuk pembaca bahasa asli karya tersebut ditulis. Orang Spanyol, misalnya, tetap membaca Don Quixote dalam Bahasa Spanyol Cervantes abad ke-17, sebagaimana orang Prancis membaca Pantagruel François Rabelais dengan Bahasa Prancis abad ke-18. Dalam kasus kita, kita tetap akan membaca Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat Asrul Sani dalam Bahasa Indonesia generasi 45 (yang untuk banyak anak muda, terasa jadul dan menjadi tembok penghalang). Saya jadi memikirkan gagasan sinting ini: bagaimana jika karya-karya klasik itu diterjemahkan ke bahasa yang sama tapi lebih modern? Tentu kita tahu, banyak beredar karya-karya klasik yang ditulis ulang (dalam bahasa yang sama) agar lebih mudah dibaca. Tapi biasanya itu versi ringkas, atau versi “enak dibaca” untuk para pemula (anak sekolah yang sedang belajar), atau bahkan versi penyederhanaan. Bukan. Maksud saya bukan itu. Maksud saya tetap terjemahan, yang ketat, dengan kualitas yang tinggi, tapi modern. Tidak boleh disadur. Proses yang sama seperti menerjemahkan dari Prancis ke Inggris atau dari Rusia ke Spanyol, tapi kali ini dari Spanyol ke Spanyol atau dari Rusia ke Rusia. Bayangkan saja suatu ketika ada edisi Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat yang “diterjemahkan ke Bahasa Indonesia modern oleh A.S. Laksana”, misalnya. Atau, Don Quixote yang “diterjemahkan ke Bahasa Spanyol modern oleh Javier Marías”. Sekali lagi, gagasan ini mungkin tidak baru, dan terdengar seperti melecehkan karya-karya agung, tapi kenapa tidak? Paling tidak, bagi saya, itu terdengar menyenangkan dan sedikit menantang. UPDATE: Baru membaca soal ini, bahwa novel (konon novel pertama di dunia) Tales of Genji karya Murasaki Shikibu dari abad 11, “diterjemahkan” ke Bahasa Jepang abad 20 oleh penyair Akiko Yosano.

Standard