Journal

Hidung Gogol

Kang Gogol, kumaha damang? Saya baru baca cerpen “Hidung” karya sampean. Saya kok bingung ya, ketika Kovalev kehilangan hidungnya dan hendak melapor ke polisi, eh dia malah ketemu hidung itu. Si hidung turun dari kereta kuda dan bahkan memakai seragam pejabat. Saya enggak bisa bayangin hidungnya macam apa, ya?

Ah dasar sia, belegug! Matak oge ari maca pake isi babatok. Pakai imajinasi. Masa gitu aja enggak ngerti. Hidung ya hidung. Dia kehilangan hidung dan dia melihat hidungnya. Tentu saja dia segera mengenalinya. Bukankah hidung merupakan sesuatu yang paling depan ada di wajahmu. Ketika kau bercermin, apa yang paling nampak? Hidung! Kalau kau tak mengenali hidungmu sendiri, kau tak tahu rupamu sendiri. Paham? Soal bagaimana bentuk hidung itu, hanya Kovalev dan isi kepalamu yang tahu. Kalau kau enggak bisa membayangkan itu, berhenti saja baca buku. Enggak ada gunanya baca kalau enggak punya imajinasi.

Baiklah. Hampunten simkuring, Kang. Ngomong-ngomong kok sekarang jarang nulis cerpen lagi? Maksudnya di media massa, di koran atau majalah. Enggak suka ya nulis di sana?

Siapa bilang enggak suka? Cerpen “Hidung” awalnya diterbitin di majalah. Editornya Pushkin. Kenal Pushkin, kan? Eta editor anu keren, lah, ceuk barudak zaman sekarang mah. Editor sekarang enggak ada yang sekeren itu, makanya saya teh jadi males. Geuleuh lah mun ngaku editor tapi teu nyaho mana anu alus mana anu butut. Bisa diajak duel sama Pushkin. Untunglah Pushkin udah mampus, jadi editor-editor butut bisa tetep hirup.

Ternyata Kang Gogol teh galak, nya. Soal “Hidung”, ada satu penulis muda belia yang juga menulis cerpen berjudul “Hidung”. Nama penulis itu Ryūnosuke Akutagawa. Kenal?

Tentu saja kenal. Akutagawa teh salah satu penulis muda yang moncereng. Cerpen “Hidung” miliknya sudah jelas berbeda dengan “Hidung” milik saya, meskipun ada satu hal yang menautkan kami berdua. Dalam kedua cerpen, sudah jelas betapa hidung bisa sangat mengganggu kehidupan seorang manusia. Yang satu bercerita tentang kehilangan dan penemuan hidung, yang lain bercerita tentang hidung yang kelewat panjang sampai menggelambir ke bawah dagu. Saya rasa di masa depan Akutagawa bakal menjadi penulis yang sangat diperhitungkan. Sangat segar.

Itu enggak basa-basi, kan? Biasanya penulis tua sok basa-basi muji-muji penulis muda?

Si borokokok, teh! Nya henteu. Aing mah tara basa-basi. Mun cik aing butut, nya butut. Cik aing hade nya hade. Ulah sok belegug kitu tatanya, teh.

Baiklah, Kang Gogol. Satu lagi nih. Saya baca novel sampean berjudul Tarass Boulba, terbitan Balai Pustaka. Di sampulnya ditulis “Gogol lebih baik dikenal sebagai pengarang jang berbakat humoris daripada sebagai pengarang prosa klasik.” Tanggapan Kang Gogol?

Balai Pustaka aja lo denger. Enggak tahu itu penerbit antek kolonial? Dibikin buat ngeracunin otak inlander? Mikir sia teh!



Standard
Journal

The Leviathan, Joseph Roth

Leviathan, menurut Perjanjian Lama, merupakan monster laut. Judul asli novela ini sebenarnya, kira-kira, “Penjual Batu Karang”, ditulis oleh Joseph Roth, penulis Yahudi Jerman yang meninggal di usia masih cukup muda, empat puluh lima. Kalau mau jujur, The Leviathan ini memang bisa dikasih judul apa saja. Untuk sebuah buku yang kurang dari enam puluh halaman, dengan cerita yang boleh dibilang sederhana menyerupai dongeng, bahkan fabel, rasanya banyak hal disinggungnya. Meskipun tidak secara langsung. Pertama, sebagai dongeng, novela ini bisa dilihat sebagai kisah mengenai kejatuhan disebabkan godaan Si Jahat (si monster laut?) yang telah mengubah manusia saleh, Nissen Piczenik si pedagang batu karang, ke keburukan. Ia yang seumur-umur tinggal di kota kecil Progrody dan hidup relatif sukses (ia bisa menabung), terobsesi dan tergila-gila untuk melihat laut, rumah dan tempat asal-usul batu karang jualannya. Hingga satu hari ia akhirnya pergi ke Odesa, kota pelabuhan terdekat, dan sejak saat itu hidupnya berubah. Hidupnya semakin berubah demi mengetahui ada cara lain untuk mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya, dengan mencampur batu karang asli dan yang palsu (yang terbuat dari seluloid). Kedua, kita juga bisa melihatnya sebagai fabel kapitalisme. Tentang sikap rakus, sikap kehendak memperoleh keuntungan berlipat-lipat, persaingan bisnis (kapitalisme seolah menciptakan persaingan yang membuat pedagang berusaha menurunkan harga sekompetitif mungkin, tapi pada dasarnya tetap dengan tujuan memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya), yang berujung kepada penipuan (mengenai batu karang palsu). Ketiga, bisa dianggap sebagai dongeng moral. Awalnya Nissen merupakan pedagang yang sangat disegani, meskipun ia berasal dari golongan minoritas. Orang-orang percaya kepadanya. Para petani yang sering membeli batu-batu karang darinya, selain untuk perhiasan, juga untuk menangkal marabahaya dan nasib buruk. Tapi begitu ia mencampur batu karang asli dan palsu (dan tanpa mengubah harga), pada saat yang bersamaan penyakit datang mewabah. Orang-orang mulai menganggap batu karangnya membawa keburukan. Mereka mulai menghindarinya, tak lagi membeli batu karang darinya, dan saat itulah kejatuhannya hanya masalah waktu. Tentu saja kita bisa melihatnya dengan berbagai cara selain yang sudah saya sebut. Seperti saya bilang, untuk novela sekecil ini, kandungannya sangat kaya untuk menjadi telaah yang mengasyikkan: moral, politik, ekonomi, bahkan agama, sosial, psikologi, gender (lihat hubungan si pedagang batu karang dengan isterinya), bahkan geografi dan kosmologi. Saya tak tahu banyak tentang penulisnya. Penelusuran kecil tentangnya memberi informasi ringkas, bahwa di awal-awal karirnya ia tampak menjanjikan melalui novel debutnya. Bisa dibilang ia memiliki jiwa para penulis besar (penerjemahnya menyebut pembukaan novela ini mengingatkan kepada Dostoyevsky dan Gogol). Tapi nasib tak bisa dielakkan. Perang Dunia II datang, Hitler berkuasa. Ia terpaksa lari, eksil, dan hidupnya tercerabut. Dan kemudian mati relatif masih muda. Kita sering berharap menulis sesuatu yang ringkas tapi bicara banyak. Kebanyakan di antara kita gagal melakukannya: bicara banyak, tapi tidak ringkas, dan akhirnya kosong tak ada isinya. Itu tak berlaku untuk novela ini, sebagaimana sering terjadi pada fabel dan dongeng yang diceritakan turun-temurun.



Standard
Cool Stuff, In English

“It may be cheating to include two novels by one author, but there is no doubt that the year’s most important revelation-in-translation is Eka Kurniawan, whose searing works of so-called magical realism set in Indonesia should not be missed by any reader, especially those who are unafraid of sex and violence. If you’re tired of rereading Gogol and Dostoevsky, turn to Kurniawan instead.”

Beauty Is a Wound and Man Tiger are among Flavorwire’s The Best Fiction 2015.



The Best Fiction 2015, Flavorwire

Aside
Journal

Ludmilla Petrushevskaya

Membaca cerita-cerita Ludmilla Petrushevskaya seperti membaca berita koran lampu merah. Diceritakan dengan cara tutur yang dingin (tapi kocak), yang mengingatkan saya pada narator acara infotainmen di televisi. Pada dasarnya membaca kisah-kisah domestik, tapi dengan satu dan lain cara, pasti bisa membuat merah padam muka para penguasa dan pemegang kebijakan. Kisah-kisahnya berpusar pada masalah-masalah keluarga, hubungan suami-isteri, pacar dan kekasih, selingkuhan, nasib orang-orang jomblo, dan tak pernah sekali pun secara eksplisit bicara tentang politik atau bobroknya pemerintahan; tapi justru dengan cara seperti itulah ia menyodorkan cermin buram wajah politik negerinya (Sovyet dan kemudian Rusia). Petrushevskaya lahir dari tradisi kesusastraan Rusia yang panjang, yang melahirkan maestro-mastero penulis cerita pendek besar: Nikolai Gogol (saya rasa ia tak hanya bapak kesusastraan Rusia, tapi moyang bagi banyak penulis di dunia), Anton Chekhov, Nikolai Leskov (yang cerpen-cerpennya mendorong Walter Benjamin menulis esai yang sulit dilupakan itu, “The Storyteller”), hingga Isaac Babel (penulis cerpen brilian, komunis yang loyal, tapi harus mati muda karena didor Stalin). Saya yang pada dasarnya selalu menganggap setiap karya merupakan pernyataan politik, langsung atau tidak langsung, sangat menikmati cerita-ceritanya. Dalam kumpulan There Once Lived a Girl Who Seduced Her Sister’s Husband, and He Hanged Himself, kita bertemu rakyat jelata yang tinggal di apartemen-apartemen sempit dengan beragam persoalan rumah tangga mereka. Yang menarik, Petrushevskaya tak pernah mencoba meromantisir kehidupan jelata ini, malahan lebih sering Petrushevskaya mengolok-olok bahkan menyiksa tokoh-tokohnya tanpa ampun, dan dengan gaya yang sangat dingin, tanpa simpati dan empati. Tapi dengan cara seperti itulah ia membuka persoalan-persoalan negerinya, seperti seorang ilmuwan membuka fakta-fakta obyek pengetahuannya. Wangi ataupun busuk. Bagaimana ia melakukannya? Di cerpen “A Murky Fate”, misalnya, ia bercerita tentang seorang perempuan lajang yang mencoba “mengusir” ibunya semalam dari apartemen studio mereka agar bisa membawa pulang seorang lelaki. Tak lebih. Ia “hanya” menceritakan betapa susahnya bagi seorang perempuan bahkan sekadar menemukan tempat bercinta. Tapi perkaranya bukan itu, tentu saja. Secara tak langsung ia menyentil kebijakan perumahan, yang membuat ruang-ruang pribadi (di bawah rezim Sovyet) menjadi hilang atau nyaris tak ada. Hal seperti ini menjadi semakin ketara dalam cerita “Give Her to Me”, tentang dua orang seniman (aktris dan komponis), yang harus hidup di sebuah masyarakat yang tampaknya tak peduli dengan bakat-bakat seperti mereka. Sekali lagi, cerpen-cerpen ini ditulis dengan gaya koran kriminal lampu merah (meskipun ceritanya hampir tak berisi kasus-kasus kriminal). Kebanyakan kisah perempuan lajang yang mencoba mencari pasangan, dan lelaki yang beristri yang bosan dengan rumah tangganya, lalu mencari mangsa gadis-gadis muda. Mereka memiliki anak, dan seringkali nasib berputar pada anak itu. Bahkan ada kisah seorang lelaki yang diceraikan isterinya, menggelandang, dan “dipelihara” perempuan berumur tujuh puluhan yang mau mendengar ocehannya tentang filsafat, sementara perempuan tua itu memperlakukannya sebagai anaknya yang tak pernah hidup. Tak hanya bahasanya yang “nyantai”, bahkan struktur ceritanya pun dituturkan seperti dongeng ibu-ibu yang menggosip di taman. Satu cerpen bahkan ditulis dengan nomor, dari 1 hingga 45. Judul kumpulannya yang lain, juga ditulis dengan gaya koran lampu merah: There Once Lived a Mother Who Loved Her Children, Until They Moved Back In. Oh, ada satu lagi, kali ini cerita-cerita “menakutkan” (Petrushevskaya menyukai Edgar Allan Poe), There Once Lived a Woman Who Tried to Kill Her Neighbour’s Baby. Cerpen dewasa ini barangkali tidak “searus-utama” novel dalam kesusastraan, tetapi membaca cerpen-cerpen yang menyegarkan seperti karya-karya Petrushevskaya, senantiasa membuat saya jatuh cinta berkali-kali kepada kesusastraan.



Standard
Journal

Mau Ke Mana Cerita Pendek Saya?

Beberapa kali saya kembali membaca esai Bolaño berjudul “Advice on the Art of Writing Short Stories” di kumpulan esai dan artikelnya Between Parenthesis. Sejujurnya bukan esai yang cemerlang, tapi nasihat tetaplah nasihat. Seperti bisa diperhatikan, beberapa tahun terakhir saya tak lagi banyak menulis cerpen. Menerbitkan satu cerpen dalam setahun sudah cukup produktif bagi saya. Ada rasa bosan membaca cerpen-cerpen di koran, dan ada rasa bosan menuliskannya juga. Saya tak mau berpusing-pusing memikirkan keadaan cerpen dalam kesusastraan kita, meskipun tak keberatan memberikan pendapat jika ada yang bertanya, dan lebih senang melihatnya sebagai problem internal saya sendiri. Tulisan ini barangkali akan lebih menarik jika berjudul “Mau Ke Mana Cerita Pendek Kita?”, tapi saya rasa terlalu berlebihan untuk mengurusi “kita” saat ini, dan saya tahu persis sebagian besar penulis tak suka diurusi. Kebosanan ini problem internal, titik, dan menggelisahkan hal ini patut saya syukuri: setidaknya saya masih sedikit waras untuk bertanya kepada diri sendiri. Menjelang terbitnya kumcer keempat saya, [Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi], saya mencoba melihat sejauh apa yang telah saya lakukan. Hal paling gampang untuk dilihat tentu saja jumlah: lebih dari lima puluh cerpen telah saya tulis sejak tahun 1999, dan empat buku telah saya terbitkan. Bagi banyak orang, mungkin itu banyak sekali; bagi saya setidaknya itu lebih dari cukup, lebih dari itu bisa saya anggap berlebihan. Berbeda dengan cara kerja saya menulis novel, yang sering saya bayangkan seperti membangun rumah tanpa rancang-gambar, yang membuat saya begitu senang menulis ulang sebuah novel berkali-kali sebelum menerbitkannya; cerpen bagi saya seperti ruang laboratorium penulisan. Kadang-kadang saya punya gagasan kecil di kepala, bisa berupa olok-olok ringan maupun andai-andai berat, lalu saya mencobanya di “laboratorium”, dan jadilah sepotong cerpen. Bagaimana jika Thomas de Quincey, penulis Confession of an English Opium Eater ternyata penduduk Hindia Belanda di masa kolonial dan menulis dalam bahasa Melayu pasar? Hasilnya adalah cerpen “Pengakoean Seorang Pemadat Indis”. Bagaimana jika kita pergi ke satu tempat, bertemu orang-orang dan mendengar cerita mereka, lalu menuliskannya? Cerpen-cerpen seperti “Gerimis yang Sederhana”, “La Cage aux Folles” dan “Penafsir Kebahagiaan” ditulis dengan eksperimen seperti itu. “Caronang” awalnya merupakan eksperimen untuk menulis cerpen dengan pendekatan catatan perjalanan, tapi hasil akhirnya berbeda, sementara “Pengantar Tidur Panjang” merupakan memoar dengan obsesi yang berlebihan: menangkap sejarah republik melalui kacamata sebuah keluarga, tak lebih dari 2000 kata. Saya senang melakukan hal itu di cerpen karena alasan yang sederhana: bentuknya pendek, sehingga saya dengan mudah berpindah dari eksperimen satu ke eksperimen lainnya. Satu disiplin yang rasanya tak akan saya lakukan untuk novel. Sementara eksperimen-eksperimen samacam itu saya percaya layak untuk terus dilakukan, lebih dari lima puluh cerpen dan empat buku tetaplah jumlah yang banyak. Di sisi lain, saya juga percaya, sesuatu tak bisa dilakukan secara berkepanjangan. Ada satu titik di mana seseorang harus berhenti, metode dipertanyakan, dan kepercayaan diri yang berlebihan harus dihancurkan. Ini akan berat untuk saya, tapi rasanya mengurangi menulis cerpen sama sekali bukan jalan keluar yang memuaskan. Saya perlu berhenti setelah buku keempat ini. [Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi] akan menandai jeda panjang saya, hingga beberapa tahun ke depan. Dan tahun-tahun tersebut akan memberi saya banyak waktu untuk menjelajahi beragam khasanah cerita pendek. Saya menyukai penulis-penulis cerpen klasik, dari Chekhov, Gogol, Maupassant, Akutagawa, bahkan cerpen-cerpen konyol O. Henry. Bolaño menyuruh kita membaca Borges, Juan Rulfo, Edgar Allan Poe, hingga Enrique Vila-Matas dan Javíer Marias. Saya sudah membaca mereka. Di luar itu saya kira banyak penulis-penulis kontemporer, dari abad lalu maupun abad sekarang, yang patut untuk dibaca. Belum lama saya membaca cerpen-cerpen Ludmilla Petrushevskaya, yang membawa tradisi panjang kesusastraan Rusia (kapan-kapan saya akan menulis tentangnya di sini). Etgar Keret dan Hassan Blasim, semestinya dibaca sebagaimana kita membaca penulis cerpen klasik. Jangan lupa Raymond Carver. Juga Primo Levi. Dan Eileen Chang. Dan tentu saja César Aira. Saya pernah berhasil berhenti merokok, berhenti bergaul di Twitter dan Facebook (yang memberi saya waktu melimpah untuk membaca buku), rasanya saya akan sanggup melewati yang ini. Berhenti menulis cerpen untuk jangka waktu yang lama, mungkin terasa menyiksa dan menyedihkan; tapi mengetahui akan ada banyak yang bisa dibaca dan belajar kembali dari mereka sambil bertanya “Mau ke mana cerita pendek saya?”, saya rasa layak untuk dilalui. Sebab, mengutip Borges, kegiatan membaca lebih intelek daripada menulis. Dan lebih menyenangkan, tentu saja.



Standard
Journal, Tanya dan Jawab

Tanya-Jawab: Pengaruh Sastrawan Indonesia

F Daus AR: Ini pertanyaan agak pribadi. Sejauh mana pengaruh sastrawan Indonesia terhadap karya yang Anda gubah. Nama yang saya maksud di luar sastrawan Indonesia yang sudah sering dibahas di jurnal. Misalnya saja, Kuntowijoyo, yang wafat 22 Februari 2005 silam.

Jawabannya juga agak pribadi. Ada satu peristiwa yang pernah membuat saya sangat sedih. Seperti saya pernah mengatakannya, [Cantik Itu Luka], novel pertama saya pernah ditolak beberapa penerbit. Oh, itu bukan bagian sedihnya. Soal itu saya tak terlalu peduli, dan di masa itu saya masih cukup punya kepercayaan diri anak muda bahwa cepat atau lambat saya akan menemukan satu cara untuk menerbitkannya. Hal yang membuat saya sedih datang beberapa tahun kemudian. Akhirnya saya bertemu dengan satu editor yang pernah menolak novel tersebut (nama dan tandatangannya memang tertulis di nota kecil penolakan itu), dan dia secara terus-terang bilang membaca novel saya dan menolaknya, salah satu alasannya: novel itu tidak masuk kriteria/preferensi dia mengenai novel sastra yang bagus. Menurutnya, novel sastra yang bagus mestinya seperti novel-novel Mangunwijaya, Kuntowijoyo, Ahmad Tohari. Tentu saja saya kemudian membaca beberapa karya mereka, dan saat itulah saya merasa sangat sedih. Saya sedih karena saya tahu persis: 1) saya tak ingin menulis novel seperti mereka, 2) jika ukuran kesusastraan (Indonesia) yang bagus diukur dengan karya-karya mereka, saya merasa tak memiliki tempat di peta kesusastraan dan kemungkinan besar saya tak ingin menjadi penulis. Meskipun begitu, di tengah kesedihan itu, saya patut bersyukur bahwa saya mendengarnya setelah “telanjur” jadi penulis, di usia saya yang jauh lebih dewasa, dan apa pun yang dikatakan orang tentang “sastra Indonesia yang bagus”, saya dengan keras kepala bisa membuat patok sendiri di hamparan peta itu, untuk saya dan karya-karya sendiri. Atau jika tidak diberi tempat, saya akan membuat peta sendiri. Jadi menjawab pertanyaan di atas, saya kuatir bahwa pengaruh penulis-penulis ini atas saya bisa dikatakan kecil atau tidak langsung. Bukan karena saya tak suka atau mereka tak bagus, tapi sesederhana bahwa saya memang baru mengenalnya belakangan. Dalam hal ini, saya akan mundur ke belakang. Izinkan saya menceritakan sejarah membaca saya, yang barangkali bisa menjelaskan kenapa hanya segelintir penulis Indonesia (yang itu-itu saja) yang sering saya bicarakan, dan yang pengaruhnya banyak membekas, dan kenapa ada begitu panorama kesusastraan Indonesia yang saya “tinggalkan” dan menciptakan lubang besar. Saya jarang menceritakan hal ini, dan hanya pernah sekali menceritakannya secara lengkap kepada seorang pengamat Indonesia yang penasaran karena “tampaknya saya tak terlalu peduli dengan penulis-penulis Indonesia” (dia bilang kepada saya, ini sejenis arogansi yang juga ada pada Pramoedya, hahaha). Baiklah, saya bisa dibilang tak memiliki sejarah yang baik dengan kesusastraan Indonesia. Hingga selesai SMA, tak banyak karya “sastra” yang saya baca. Anda semua tahu bagaimana pendidikan kita di tahun 80-90an. Saya tinggal dan sekolah di sebuah kota kecil, Pangandaran. Tak ada toko buku dan tak ada perpustakaan. Saya memang senang membaca buku, tapi yang bisa saya peroleh hanyalah novel-novel “picisan”: Asmaraman S. Kho Ping Hoo, Abdullah Harahap, Bastian Tito, buku stensilan. Sebagai selingan, saya juga membaca Enid Blyton, Karl May. Lupakan kanon-kanon sastra Indonesia, saya tak pernah melihatnya. Jika di masa remaja itu saya ingin menjadi penulis novel, sudah pasti novel yang ingin saya tulis adalah novel horor atau cerita silat. Saya pernah mencobanya sebelum dibuang ibu saya karena kertas-kertas itu menumpuk dan menjadi makanan rayap. Selesai SMA, saya pindah ke Yogyakarta. Kuliah di UGM. Melanjutkan kegemaran membaca (yang tak terpuaskan di kondisi kota kecil tempat saya tinggal), saya dibuat terpana menemukan perpustakaan. Sepanjang masa kuliah, saya menghabiskan lebih banyak waktu di perpustakaan, dan favorit saya selama enam tahun itu adalah ruangan kecil di perpustakaan kampus di mana saya bertemu Toni Morrison, Salman Rushdie, Gabriel García Márquez, Leo Tolstoy, Dostoyevsky, Melville, Knut Hamsun dll (ada satu rak yang dipenuhi oleh buku-buku terbitan Everyman’s Library). Tololnya saya, bahkan saat itu saya tak sadar tengah menghadapi kanon-kanon kesusastraan dunia. Bagi pikiran anak pantai ini, saya hanya sesederhana membaca novel, melanjutkan kegemaran saya. Saya lumayan beruntung bisa membaca bahasa Inggris. Ayah saya yang mengajari sejak kecil, meskipun seperti saya, dia mengajar sambil lalu dan ogah-ogahan. Baru bertahun-tahun kemudian saya menyadari (orang lain yang kemudian mengatakannya kepada saya), masa awal 90an itu merupakan “lompatan” dalam sejarah membaca saya. Dari sastra picisan yang dibaca di masa remaja, saya kemudian “melompat” membaca kanon-kanon dunia. Di antara kedua jenis bacaan itu, saya melewatkan karya-karya “kanon” kesusastraan Indonesia, kecuali Pramoedya Ananta Toer yang saya peroleh dari beberapa teman di masa-masa kami turun ke jalan, melemparkan batu ke polisi, antara tahun 1996-1998. Saya selalu percaya, selera kita jauh lebih banyak terbentuk ketika kita masih muda. Maka jika saat ini ada yang bertanya karya sastra macam apa yang ingin saya tulis, jawaban saya kurang-lebih masih sama seperti di masa remaja: saya ingin menulis novel silat atau novel horor. Dan sastra yang bagus bagi saya, karena dipengaruhi oleh sejarah bacaan, saya tak bisa tidak merujuk ke Hamsun, Melville, Cervantes. Jika saya boleh berbagi ambisi, (mungkin sederhana, mungkin tidak), saya ingin menulis seperti Kho Ping Hoo, Abdullah Harahap, sekaligus seperti Cervantes atau Melville, atau Gogol. Saya baru membaca sastra Indonesia secara lebih banyak, dan “sadar”, justru setelah saya memutuskan untuk menjadi penulis, selepas 1999. Saya tahu, saya sangat terlambat, tapi saya tak bisa memutar ulang waktu. Dan di umur dewasa seperti sekarang, sangat sulit untuk mengubah selera. Otak kita cenderung menjadi lebih bebal dan membatu bersama dengan bertambahnya usia. Lagipula, haruskah saya mengubah selera sastra saya? Bagi saya bukan tindakan kriminal menempatkan Kho Ping Hoo, Abdullah Harahap dan Pramoedya di atas penulis-penulis Indonesia lainnya. Mereka jelas-jelas memberi arti penting tak hanya dalam karya saya, tapi juga dalam hidup saya. Tanpa sastra picisan itu, saya akan menjalani masa remaja yang membosankan. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para penulis yang telah meletakkan patok-patok dalam sejarah kesusastraan nasional kita, tak bisa tidak, selamanya saya akan berterima kasih kepada sastra picisan, melebihi kanon-kanon kesusastraan Indonesia lainnya.



Standard
Journal

The Double, Dostoyevsky

Ketika pertama kali memutuskan pindah ke Jakarta (dari Yogya) tahun 2003, saya cuma berbekal beberapa potong pakaian yang bisa saya jejalkan ke tas punggung saya, serta dua novel dan satu buku tulis (yang kemudian saya pakai untuk menulis Lelaki Harimau). Salah satu novel itu berjudul The Idiot, karya Fyodor Dostoyevsky, novel pertama dia yang saya baca. Alasan saya membawa buku itu sebenarnya sederhana saja: bukunya tebal, sehingga saya tak perlu kuatir kehabisan bacaan di minggu-minggu pertama di ibukota. Bahkan sejak itu, meskipun gaya naratifnya senantiasa lurus dan dalam banyak hal berirama lambat, novel-novel Dostoyevsky selalu memberi rasa yang campur-aduk. Saya merasakan itu kembali di hari-hari ini ketika membaca The Double, yang sebenarnya saya baca sambil lalu: sebelum atau sejenak setelah tidur, duduk di kakus, di jeda setengah main siaran langsung sepakbola, sambil makan, sebelum akhirnya saya selesaikan sambil minum kopi di café. Dua bab pertama membawa saya ke dunia Gogolian (Gogolesque?): St. Petersburg dan sosok seorang pegawai yang tampak menyedihkan (tidak semiskin tokoh dalam “The Overcoat” Gogol, tapi kita tak bisa menahan diri untuk tak bersimpati kepada keduanya dengan cara yang sama). Murung dan cenderung depresif. Tapi berikutnya kita menemukan sesuatu yang Kafkaesque (tentu saja ketika novel ini terbit, 1846, belum ada Kafka): di bawah hujan badai, Golyadkin si tokoh utama, bertemu dengan seseorang yang sosok-perawakannya persis seperti dia, bahkan juga nama panggilan maupun nama lengkapnya! (Saya sampai bergumam menirukan gaya narasi Kafka: “Sesuatu yang aneh pasti telah terjadi, Mr Golyadkin bertemu dengan seorang bernama Mr Golyadkin.”) Misterius dan pada saat yang sama mengancam. Keadaan Golyadkin sendiri sebagai bujang dan pegawai menengah, dan simpati kita kepadanya, sejak awal berkali-kali bisa membuat kita ikut marah. Ia ditolak mengikuti pesta dansa, sementara teman-teman kantornya berkumpul di sana penuh kegembiraan. Ia tak cuma introvert, tapi juga berkomunikasi dengan buruk, istilah anak sekarang: tidak gaul. Ia selalu tak mampu mengutarakan maksudnya dengan baik, kepada atasan maupun bawahan. Ini membuatnya seringkali menjadi obyek olok-olok dan tertawaan, dan ujung-ujungnya membuat dia tersingkir dari pergaulan. Dan ketika ia mencoba mengubah dirinya, para birokrat itu dengan kejam menolaknya. Meskipun begitu, di sisi lain, novel ini juga komikal. Tanpa mencoba melucu, banyak hal bisa membuat kita tertawa, meskipun dengan getir. Beberapa kali si Mr Golyadkin yang baru (sering disebut junior, atau bayangkan saja sebagai Mr Golyadkin palsu) mengerjainya. Ketika si tokoh asli makan di restoran, diam-diam si palsu juga makan. Kasir restoran menganggap mereka orang yang sama, dan si asli harus membayar lebih (dengan kebingungan, karena ia merasa makan sedikit). Tapi yang paling lucu adalah ketika ia menyuruh pelayannya untuk pergi ke kantornya, menanyakan alamat Mr Golyadkin, dan mengantarkan surat untuknya. Bahkan meskipun kita bisa menebak si pelayan akhirnya balik ke rumah tuannya, si Mr Golyadkin yang asli, tak bisa tidak saya tertawa. Dan seperti kata pepatah, dari kemalangan akan membawa ke kemalangan yang lain. Sekali bikin kekacauan, akan bertemu dengan keadaan yang lebih kacau. Itulah yang terjadi pada tokoh kita ini. Itu bagian paling menyedihkan. Ia merasa ada yang salah dengan hidupnya, terutama setelah kemunculan si kembarannya itu. Tapi tak ada orang yang tahu masalahnya, atau tak ada yang mau tahu. Dan jika ia mencoba bicara dengan siapa pun, mereka tak mau mendengar, atau lebih menyedihkan: ia tak mampu menjelaskan apa masalahnya. Seperti saya bilang, novel ini benar-benar mengaduk-aduk perasaan. Sedih, lucu, penasaran, tapi akhir dari semua itu adalah: horor. Saya tak tahu bagaimana para kritikus melihat novel ini, tapi saya melihat di novel ini seorang manusia gagal mempertahankan dirinya sebagai manusia individu, maupun sebagai manusia secara sosial. Dan bagian horornya adalah: ia tak tahu kenapa itu terjadi pada dirinya, tapi ia melihat itu terjadi pada dirinya, merasakannya, perlahan demi perlahan.



Standard