Eka Kurniawan

Journal

Tag: Ngũgĩ wa Thiong’o

Sesuatu untuk Diceritakan

“Orang-orang yang berpergian, memiliki sesuatu untuk diceritakan,” kata pepatah Jerman, yang saya kutip dari satu esai Walter Benjamin. Tentu saja, meskipun dalam kasus saya, seringkali saya terlalu malas untuk menceritakan kembali apa yang saya lihat atau alami (termasuk malas memotret). Saya termasuk jenis manusia yang lebih menikmati pengalaman jalan-jalan saat itu terjadi, membiarkan otak saya memilah mana yang penting untuk diingat dan mana yang tidak. Jika suatu ketika keluar kembali dalam bentuk tulisan, mungkin otak saya menganggap itu menarik. Tapi sesekali saya keluar dari kebiasaan itu, dan menuliskan sesuatu sementara ingatan tersebut masih segar, termasuk pengalaman perjalanan saya ke beberapa kota di Eropa akhir bulan lalu hingga awal bulan Oktober ini. Kunjungan saya ke kota-kota itu sebenarnya perkara sederhana: untuk membantu penerbit-penerbit mempromosikan novel saya yang terbit di sana. Saya bicara di depan forum atau bertemu dan menjawab pertanyaan wartawan. Itu saja. Tapi kunjungan kali ini menawari saya satu pengalaman untuk melihat gejolak politik Eropa dari sudut-sudutnya, yang meskipun jauh di sana, barangkali denyut-denyutnya bersilangan pula dengan peristiwa-peristiwa politik di negeri sendiri. Ketika tahu saya akan berpartisipasi di satu pameran buku di kota Goteberg, kota terbesar kedua di Swedia, seorang penulis kenalan memberitahu saya bahwa banyak penulis Swedia (juga internasional termasuk Ngũgĩ wa Thiong’o) memboikot pameran tersebut. Tentu ada pula yang tetap datang (seperti Arundhati Roy). Masalah utama dari aksi boikot tersebut adalah keputusan panitia pameran buku memberi tempat kepada kelompok media sayap kanan. Kenalan saya tak bertanya apa pun tentang keputusan saya dengan informasi itu. Tapi bukan penulis jika bisa melarikan diri dari tuntutan-tuntutan ekspresi politis: semua wartawan yang saya temui di Goteberg, meskipun diawali dengan “Anda tak perlu menjawab jika tak nyaman”, akan menanyakan perihal itu. Bagi saya jelas, saya tak punya masalah kelompok mana pun, termasuk sayap kanan, untuk ambil bagian di pameran buku. Itu bukan tindakan kriminal. Mengikuti Voltaire, saya bisa tak sependapat, tapi saya akan membela haknya untuk mengungkapkan hak (atau berada di pameran tersebut). Tapi tentu saja saya juga menghormati para penulis yang memutuskan untuk memboikot, yang barangkali memiliki alasan-alasan yang lebih memadai yang tidak saya ketahui. Saya kemudian bercerita kepada wartawan-wartawan itu tentang keputusan pemerintah Indonesia membubarkan organisasi yang tak sesuai dengan ideologi negara (HTI, dalam hal ini). Saya tak sependapat dengan pandangan-pandangan organisasi ini, tapi membubarkannya jelas saya juga tak sependapat. Pembubaran satu organisasi akan menjadi alasan (dan tabiat) untuk membubarkan organisasi apa pun yang tak sejalan dengan politik pemerintah di lain waktu dan tempat. Hal yang sama bisa diterapkan: melarang satu pihak ambil bagian di pameran, bisa jadi awal dari (tabiat) pelarangan pihak-pihak lain yang juga tak sejalan. Seolah menjadi ilustrasi bagi perdebatan soal boikot dan tidak boikot ini, di hari kedua pameran, kami tak bisa keluar dari hotel dan tempat pameran. Gara-garanya ada demonstrasi besar-besaran kelompok sayap kanan. Saya tak tahu isu apa yang mereka bawakan, yang jelas, demonstrasi ini memancing kelompok-kelompok anti fasis (antifa) dari berbagai kota Eropa berdatangan. Membuat demonstrasi tandingan. Polisi berjaga-jaga di setiap sudut jalan. Dari jendela hotel, saya hanya sanggup melihat kerumunan orang-orang ini. Pemandangan kecil tentang gejolak politik di Eropa. Kebangkitan sayap kanan, dan kalau mau jujur, wajah kelompok kiri yang tergagap-gagap setelah beberapa dekade barangkali lebih asyik bicara dan berdebat ketimbang membangun kekuatan nyata.



Dari Goteberg, dengan menyeret koper yang saya usahakan seringkas mungkin agar bisa dibawa ke kabin, saya melanjutkan perjalanan ke Spanyol. Di kamar kecil pesawat, saya mencopot satu lapis pakaian yang saya kenakan. Saya yakin Spanyol lebih hangat, sehingga tak perlu pakaian berlapis-lapis. Di negara itu saya akan mengunjungi dua kota: Madrid dan Barcelona. Orang yang mengatur perjalanan saya sudah mewanti-wanti, “Mungkin situasinya kurang tepat: sedang ada ketegangan politik di sini. Atau barangkali justru tepat: kamu bisa melihat apa yang sedang terjadi.” Ya, situasi politik yang “tak enak” itu adalah referendum wilayah Katalunya untuk memisahkan diri dari Spanyol. Pemungutan suara tepat terjadi di hari saya sedang terbang. Hasilnya mayoritas penduduk Katalunya ingin berpisah, dan tentu saja pemerintah pusat tak mengabulkannya. Jika mengikuti berita, kita tahu polisi nasional didatangkan ke sana (Katalunya juga memiliki polisi sendiri), dan terjadi bentrokan. Sebagai orang asing, saya mencoba memandang ketegangan politik itu secara santai. Membayangkannya sebagai perseteruan el-clasico antara Real Madrid dan Barcelona. Atau membayangkan novel-novel Javier Marias dan membandingkannya dengan novel-novel Enrique Vila-Matas. Di Madrid, orang-orang yang saya temui rata-rata menanggapi referendum itu dengan serba tidak enak. Sangat bisa dipahami. Mereka hanyalah warga biasa. Beberapa mungkin berasal dari Katalunya, atau punya kerabat dan teman di sana. Dan seperti di Swedia, dengan pengantar yang sama “Anda tak perlu menjawab jika merasa tak nyaman”, para wartawan meminta saya memberi komentar tentang situasi politik Spanyol ini. Di akhir jawaban saya, mereka akan memastikan kembali, “Boleh dikutip?” Tentu saja boleh. Pendapat saya adalah pendapat saya, bisa membuat senang orang atau sebaliknya. Saya tak lama tinggal di Madrid. Dengan mempergunakan kereta, saya pergi ke Barcelona. Perjalanan yang menyenangkan, sebab saya bisa melihat hamparan padang-padang rumput yang begitu luas melalui kaca jendela kereta, yang sebelumnya cuma bisa saya bayangkan ketika membaca Don Quixote (dan itu pun karya dari beberapa abad lampau!). Tiba di Barcelona, tentu saja keadaan sangat kontras berbeda. Hampir semua orang begitu bersemangat membicarakan referendum. Beberapa di antaranya bahkan demikian yakin bahwa mereka akan merdeka, bahwa deklarasi kemerdekaan akan diumumkan dalam waktu yang tak lama (ketika catatan ini saya tulis, deklarasi kemerdekaan itu sudah ditandatangani). Saya bisa keluar dari hotel, menonton reli pendukung kemerdekaan yang membuat kota menjadi lumpuh (kantor-kantor libur, transportasi tak bergerak, bahkan restoran cepat saji memilih tutup agar karyawannya bisa ikut ambil bagian, bukan karena takut rusuh seperti di Indonesia). Dan seperti di Madrid, wartawan setempat juga meminta pendapat saya tentang peristiwa ini. Tentu saja pendapat seorang penulis dari negeri jauh seperti saya sebenarnya tak penting-penting amat, juga tak mengubah apa pun. Tapi pada saat yang sama, barangkali ini semacam kesepakatan umum, bahwa seorang penulis sepatutnya punya pendapat tentang situasi sosial-politik tertentu, betapa pun jauhnya. Untuk urusan ini, baik untuk wartawan di Madrid maupun di Barcelona, saya menjawab dengan jawaban yang sama. Tentu saja konyol jika saya menjawabnya berbeda. Pengetahuan saya tentang hubungan Katalunya dan Spanyol tentu saja jauh dari pengetahuan seorang ahli, dan saya tak bermaksud sok tahu (meskipun umumnya penulis memang sok tahu). Untuk para wartawan ini, saya memutuskan untuk memberi analogi. “Menjawab pertanyaan Anda perkara ketegangan antara Katalunya dan Spanyol, lebih baik saya bercerita tentang negeri saya sendiri.” Saya kemudian bercerita tentang Papua. Sebuah negeri yang tanpa lelah mencoba memerdekan diri dari Indonesia. Anda bisa memiliki ungkapan yang berbeda untuk menceritakan bagaimana Papua menjadi bagian dari Indonesia, tergantung dari sisi mana Anda melihat: dicaplok, menggabungkan diri, pendudukan, merebut kembali. Satu hal yang penting, sebagai orang Indonesia, tentu saya berharap semuanya baik-baik saja. Kami bisa menjadi saudara, bergandengan tangan bersama-sama dalam sebuah komunitas bernama Indonesia. Tapi pada saat yang sama, jika mereka ingin memisahkan diri, saya bisa mengerti. Sangat mengerti. Kenapa? Situasinya sudah jelas rumit, tapi bisa juga disederhanakan: Indonesia memperlakukan mereka, tanah mereka, dengan sangat buruk. “Saya tahu ini berbeda, tapi setidaknya itu yang bisa saya bayangkan ketika Anda bertanya tentang Katalunya dan Spanyol.” Bahwa yang paling mendasar adalah, saya bisa mengerti kehendak mereka. Dan memberi dukungan jika itu sudah menjadi kehendak mereka. Apa pun afiliasi politiknya, wartawan di Madrid maupun di Barcelona tampaknya bisa menerima jawaban saya dengan senang hati. Sisi lainnya, saya belajar satu hal yang saya pikir sangat berguna. Memiliki pandangan politik itu satu hal, tapi mencari cara mengungkapkannya merupakan hal lain. Seringkali serumit menuliskan sebuah cerita, agar ia menjadi jelas sekaligus merangkum konteks jika ada.

Saya akhirnya terbebas dari hingar-bingar politik setelah tiba di Paris. Dan setelah lebih dari seminggu tak bertemu, di kedutaan besar Indonesia, saya akhirnya berjumpa nasi. Tapi rupanya saya tak benar-benar terbebas dari pembicaraan politik. Di waktu makan malam, saya sendiri yang menyeret pembicaraan ke arah politik lagi, dengan bertanya, “Apa kabar Macron?” Tuan rumah yang mengundang makan malam menjawab, “Saya tak suka dia. Tapi suami saya merasa dia baik-baik saja. Macron memang enggak kanan, tapi apa bedanya? Dia kerja untuk orang kaya, bukan untuk orang-orang gembel.”

A Grain of Wheat, Ngũgĩ wa Thiong’o

“Kami pergi ke gereja. Mubia, dengan jubah putih, membuka Injil. Ia berkata, berlututlah untuk berdoa. Kami berlutut. Mubia berkata: Pejamkan mata. Kami melakukannya. Kau tahu, ia tetap membuka mata sehingga ia bisa tetap membaca. Ketika kami membuka mata, tanah kami telah lenyap dan pedang api berdiri berjaga.” Saya tak menemukan ungkapan sesederhana sekaligus tepat ke jantungnya tentang kolonialisme, melebihi apa yang saya baca di novel Ngũgĩ wa Thiong’o, penulis Kenya, A Grain of Wheat. Seseorang pernah mengingatkan saya bahwa agama, uang dan negara (bangsa, kerajaan, dan segala ide tentang komunitas-bangsa) merupakan tiga kekuatan yang sering menyatukan umat manusia. Saya bisa menambahkan: tiga hal itu juga yang sering menghancur-leburkan manusia dan peradabannya. Persekutuan agama dan hasrat menyebarkan peradaban dan nilai-nilai serta kerakusan yang didorong oleh uang telah menyebabkan kolonialisme, salah satu kebrutalan dalam sejarah dunia modern, dan ide tentang negara-bangsa berkelindan di sana membuatnya semakin rumit. Jelas ini novel politik, dalam tradisi yang sangat gamblang tentang perjuangan kaum tertindas melawan kaum penindas. Kisahnya sendiri berkelindan di sekitar hari-hari menjelang kemerdekaan Kenya dari pendudukan Britania, melibatkan beberapa tokoh yang tak hanya membuat novel ini sebagai sebuah novel sejarah, tapi juga sebuah epik sosial dalam sebuah pertanyaan besar, “Apa artinya menjadi bebas, menjadi merdeka?” Kita dihadapkan kepada aksi-aksi heroik, tapi sekaligus dihajar oleh pertanyaan mendasar, apa artinya menjadi pahlawan? Siapa sebenarnya pahlawan? Setelah membaca novel ini, saya rasa hal terbaik untuk membicarakannya adalah dengan mengambil satu-dua kutipan darinya dan melihat kembali apa yang terpancar dari sana. “Pengecut hidup untuk melihat ibunya sementara sang pemberani mati di medan pertarungan,” begitu novel ini berkata di satu tempat. Perjuangan kaum tertindas melawan para penindas, kita tahu tak sesederhana satu pihak lemah melawan pihak yang kuat. Novel ini menunjukkan hal yang lebih rumit dari itu: adalah perjuangan melawan ambisi-ambisi pribadi, baik di kalangan kaum tertindas maupun penindasnya sendiri. Aksi paling heroik justru bukanlah ketika seorang pahlawan berdiri menghadapi musuh dan menembaknya dengan dingin, atau bertahan dalam interogasi yang membawanya pada penyiksaan fisik; tapi justru ketika kita menghadapi manusia-manusia yang mengakui kelemahan-kelemahannya, kebusukannya, bahkan pengkhianatan-pengkhianatannya. Tak hanya pengkhianatan kepada kawan-kawan seperjuangan, tapi terutama pengkhianatan kepada tanah air dan bangsanya. Seluruh sosok di novel ini, dengan cara yang menyakitkan, pahlawan di hari kemerdekaan sekaligus pengkhianat dan pengecut yang menyedihkan, dan mereka menyambut hari tersebut dalam kabut ketidakpastian [dan bukan ironi: pejuang yang dipuji-puji di novel ini, yang kemudian menjadi penguasa Kenya, di kemudian hari mengirim penulis novel ini ke penjara]. Penuh kebrutalan tapi juga kejujuran, Ngũgĩ tak hanya melucuti watak-watak kolonial yang bengis, rakus, juga menelanjangi watak-watak budak yang menyerah dan menerima keadaan. Ada satu episode kecil tentang sebuah keluarga. Si ayah sering menyiksa si ibu, hingga akhirnya si anak lelaki datang melawan ayahnya. Tapi apa yang terjadi? Si ibu datang dan membela si ayah, menyerang si anak. “Baru belakangan ia melihat begitu banyak orang Kenya dengan bangga mempertahankan perbudakannya di mana ia bisa mengerti reaksi ibunya,” demikian si anak menyadari. Seperti kebanyakan novel politik, kisah ini juga memperlihatkan arsitektur tentang kekuasaan yang tak selalu bersikap dikotomis penindas dan tertindas. Sebagian kaum tertindas bersekutu dengan penindasnya, memperoleh sedikit kekuasaan, untuk menindas yang jauh lebih lemah. Kaum tertindas mengkhianati kawannya sendiri, untuk memperoleh sedikit kekuasaan, agar bisa bertahan di dunia yang menghancur-leburkan segala. Dan bahkan di antara pejabat-pejabat kolonial, mereka saling sikut, untuk mempertahankan kuasa masing-masing, sehingga bolehlah kita tengok apa yang dikatakan novel ini di bagian nyaris akhir: “Belakangan, kesadaran akan kuasa, kemampuan untuk menghancurkan kehidupan manusia hanya dengan menarik pelatuk, begitu memberi obsesi kepadanya sehingga menjadi kebutuhan.”

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑