Seperti judulnya, In Praise of Shadows, buku esai tipis ini bicara tentang bayangan. Tentang terang dan gelap, dan terutama tentang kekaguman sang penulis, Junichirō Tanizaki, terhadap bayangan. Terhadap aspek gelap dari dunia. Sekaligus memperlihatkan sikap enggan terhadap yang terang benderang, cahaya yang menyilaukan, yang menurutnya, membuang-buang enerji (memang benar kalau kita melihat lampu-lampu neon di pusat-pusat perbelanjaan, di jalanan kota, yang sebagian besar lebih sering sia-sia dan pemborosan). Mulai bicara tentang letak kakus di rumah-rumah tradisional Jepang, yang umumnya terpisah dari rumah utama, dengan pencahayaan yang biasanya remang-remang. Tempat, yang menurutnya, “Para penyair haiku selama berabad-abad menghasilkan karya-karya besar mereka.” Ia kemudian beralih kepada arsitektur rumah Jepang tradisional secara umum di mana, “Para leluhur kami memangkas keterang-benderangan di permukaan tanah dari atas dan menciptakan sebuah dunia bayang-bayang.” Saya selalu suka membaca buku-buku esai semacam ini, yang membicarakan hal-hal yang barangkali di permukaan tampak sepele, tapi sangat kaya. Terutama jika ditulis oleh seorang novelis, dengan alur pemikiran laksana membaca novel. Maka ketika seorang teman, seorang jurnalis dan penyair, Nezar Patria membicarakan buku ini di satu pertemuan kami, saya langsung mencari dan membacanya. Buku tipis ini tak hanya bicara tentang estetika bayang-bayang, tapi juga bisa untuk melihat bagaimana seorang penulis Jepang ternama memandang kontras kebudayaan Barat dan Timur, juga di mana posisi perempuan dalam estetika bayang-bayang ini. Intinya, jika saya boleh menyimpulkan, berbeda dengan estetika yang memuja keterang-benderangan (cahaya yang melimpah) di mana keindahan terletak pada segala yang tampak, estetika bayang-bayang ini justru lebih bermain pada hal-hal apa yang disembunyikan (dan karenanya akan tampak apa yang muncul). Di luar masalah arsitektur, esai ini juga dibawa ke makanan, cara penyajian makanan, bahkan tentang istilah “putih” untuk kulit, di mana putih untuk ras Eropa tidak sama dengan putih yang dibayangkan lelaki Jepang atas kulit perempuan mereka. Di luar usahanya untuk menelisik, dan terutama untuk membangun dasar atas kekagumannya terhadap segala yang berupa bayang-bayang serta kebudayaan tradisional Jepang, dalam beberapa hal pemikiran-pemikirannya sedikit mengganggu, jika tak bisa dibilang cukup bikin gemes. Misalnya, usaha Tanizaki yang sangat kontras membedakan Barat dan Timur. Bagi dia, estetika terang-benderang ini merupakan warisan kebudayaan Barat (dan masuknya ke Jepang, tentu juga merupakan pengaruh kebudayaan Barat). Tentu saja menurut saya ini agak meragukan, atau menyederhanakan. Cukup melihat lukisan-lukisannya Rembrandt, kita tahu ada sebagian Barat yang juga memuja bayang-bayang dan warna gelap. Pandangan semacam ini hanya mengekalkan sejenis orientalisme, seperti sering terjadi di kita juga. Misalnya, Timur penuh tahayul sementara Barat rasional (hah, belum lihat Conjuring?). Saya malah mengira-ngira perbedaan estetika bayang-bayang dan terang-benderang ini ada kaitannya dengan epistemologi. Keterang-benderangan, bisa jadi lahir bersamaan dengan pencerahan. Arsitektur yang membiarkan cahaya matahari masuk ke rumah secara melimpah, bisa jadi ada kaitannya erat dengan rasionalitas (Tanizaki sama sekali tak menyinggung kemungkinan-kemungkinan ini). Kita bisa mendebat argumen-argumen Tanizaki di buku ini tentu saja, apalagi bagi orang-orang yang paham kebudayaan Jepang (saya tidak termasuk), termasuk estetika mengenai kecantikan perempuan. Meskipun begitu, penjelajahannya mengenai dunia bayang-bayang ini tentu saja tetap mengasyikan, membuka ruang-ruang tafsir baru terutama di banyak hal (rasa yang samar-samar di makanan, kesunyian di dalam musik, bagian-bagian tubuh yang disembunyikan di dalam fashion, dan lain sebagainya). Saya rasa penulis harus lebih banyak menghasilkan karya semacam ini, menjelajahi satu tema dalam satu buku utuh, jangan cuma riang dan merasa cukup dengan bunga rampai esai dan pikiran sejengkal-dua jengkal.