Eka Kurniawan

Journal

Tag: Muhammad

Kawin Silang

Saya ingin bicara tentang kawin silang, tapi saya ingin melipir dulu. Ketika iseng membaca kembali wawancara Orhan Pamuk tentang sepakbola, saya memperoleh pernyataan Pamuk mengenai identitas Turki: “Jika Presiden Prancis menolak Turki sebagai bagian dari Eropa, sepakbola kami telah menjadi bagian dari Eropa selama 50 tahun.” Pada saat saya membaca itu, ironisnya, karya pertama Pamuk yang baru diterbitkan dalam terjemahan Bahasa Inggris, Silent House, menjadi nominasi untuk Man Asian Literary Prize. Apa boleh buat, sebagaimana di novel-novelnya, Turki memang menjadi tempat dimana Asia dan Eropa menjadi sesuatu yang gamang untuk dipilih. Memikirkan itu, tiba-tiba saya bertanya-tanya, apa sebenarnya Asia? Oh, tentu saja saya merasa diri sebagai orang Asia. Tapi apa yang membuat saya merasa sama dengan orang-orang Jepang, Cina, bahkan Iran dan Turkmenistan? Tentu saja kalau dicari-cari, kita bisa menemukan sejenis persamaan-persamaan (meskipun perbedaan-perbedaannya juga sangat banyak). Saya cuma ingin melihat bahwa, jika di novel-novel Pamuk urusan Barat dan Timur (ke Barat dari Turki berarti Eropa, ke timur berarti Asia) merupakan sejenis kegamangan, pada dasarnya kita yang berada di Asia mungkin juga merasakan kegamangan yang sama dengan identitas tersebut. Dari berbagai sudut, saya tak bisa melihat apa yang bisa menyamakan orang-orang Arab Saudi dengan Korea, misalnya. Tidak secara ras, tidak agama, tidak juga budaya. Ide tentang benua ini terasa absurd jika dipikirkan. Itu baru bicara tentang Asia Timur dan Asia Barat, atau dari sudut pandang orang Eropa: Timur Tengah dan Timur Jauh. Kita masih memiliki wilayah Asia Selatan, juga Asia Tenggara, dan jangan lupa wilayah pecahan Uni Sovyet yang saya pikir merupakan wilayah asing yang sama berbedanya lagi. Kita tahu sedang berada dalam masalah besar jika menyangkut soal identitas. Kembali ke soal Asia, tentu saja memikirkan wilayah (benua) ini secara geo-politik memang membingungkan, tapi perhatian saya tentu saja ujung-ujungnya ke urusan kesusastraan. Jika kita memerhatikan novel-novel klasik Asia, kita tahu benua ini, dengan segala perbedaan-perbedaan di dalamnya, pada dasarnya memang sebuah arena dialog yang sangat besar. Jika kita membaca Journey to the West (salah satu dari empat atau lima novel klasik terbesar Cina), kita dengan sadar tak sadar melihat ada hubungan erat antara si monyet bandel Sun Gokong dengan Hanuman dalam Ramayana India. Demikian pula kisah-kisah dalam The Arabian Nights, menghimpun banyak sumber yang dipercaya berasal dari Persia bahkan India. Saya ingin menyebut salah satu karya klasik kita, Manikmaya (aslinya tentu dalam Bahasa Jawa dan saya membacanya dalam terjemahan Bahasa Indonesia), yang dengan santai merupakan kritik terhadap Arabisasi di Jawa. Ada satu dialog dari tokoh di karya itu, Ajisaka, yang membuat saya tertawa-tawa, yang kurang-lebih begini: “Jika Muhammad bisa menyebarkan aksara dan kepercayaannya, kenapa aku tak bisa?” Ajisaka pun berguru kepada musuh Muhammad. Yakni: iblis. Maka setelah lama belajar, lahirlah aksara Jawa dengan segenap kepercayaannya. Terlepas apakah Anda suka dengan cara pandang itu atau tidak, itulah dialog. Kita bisa menderet banyak contoh bagaimana benua ini, sebagaimana tetangga kita di Eropa, merupakan wilayah dimana kebudayaan dan bahkan kepercayaan merupakan hasil interaksi satu-sama lain yang sangat intens. Kesusastraan memperlihatkan hal itu dengan sangat jelas. Tapi bagaimana dengan keadaan hari ini? Bahkan memutuskan diri untuk lebih banyak membaca karya asing saja, seperti yang saya lakukan lebih dari setahun ini, dianggap sebagai wujud mentalitas inferior. Menyedihkan. Akhir tahun lalu, dari sebuah pertemuan para cerpenis di kantor salah satu koran terbesar, saya dapat bocoran percakapan: kesusastraan Indonesia masih terbaik di Asia Tenggara. Saya jadi ingin tertawa terbahak-bahak, keras sekali. Sombong itu sesekali memang perlu, tapi pakailah bukti. Berhentilah menjadi katak dalam tempurung. Penulis cerpen di Kompas (atau Koran Tempo) belajar dari penulis lain yang diterbitkan Kompas (atau Koran Tempo), bagi saya seperti mengawini saudara kandung. Inses! Jika Anda tak percaya dosa, paling tidak Anda percaya hal ini: perkawinan sedarah cenderung menguatkan penyakit bawaan. Dalam ranah pemikiran, perkawinan sedarah bisa menguatkan kebodohan. Percayalah. Anda butuh kawin silang. Anda setidaknya mulai membaca karya sastra dari Malaysia, dari Vietnam atau Filipina. Syukur-syukur mulai menjelajah kesusastraan Asia, bahkan dunia, sebagaimana dilakukan nenek-moyang kita, yang tak pernah rendah diri untuk bertukar gagasan dengan siapa pun sesama manusia. Jangan karena tak sanggup melawan raksasa-raksasa kesusastraan lalu kita berlindung di balik kekhasan “sastra Indonesia”. Saya membaca tulisan seorang kritikus yang mengusulkan perlunya menciptakan “kritik sastra yang khas Indonesia”. Anda sama buruknya dengan politisi yang melindungi kecurangan dan korupsi dengan istilah “demokrasi khas Indonesia”. Bagi saya, bicara soal inferioritas, itulah wujud yang sesungguhnya. Saya membayangkan, karena sepabkola kita tak juga berhasil lolos ke Piala Dunia, bagaimana jika kita menciptakan “sepakbola yang khas Indonesia”? Percayalah, sepakbola kita akan juara terus, karena kita tak perlu bertanding dengan siapa pun. Demikian pula sastra kita, akan selalu hebat, jika kita tak perlu bertegur-sapa, beradu-tonjok, dengan kesusastraan lain. Anda mau yang seperti itu?

Joseph Anton, oleh Salman Rushdie

Buku ini berjudul Joseph Anton, ditulis oleh Salman Rushdie. Atau bisa juga berjudul Salman Rushdie, ditulis oleh Joseph Anton. Saya pikir tak ada bedanya. Kenyataannya, buku ini bercerita tentang Salman Rushdie. Sekaligus bercerita tentang Joseph Anton. Ditulis oleh Salman Rushdie, dan bisa dibilang juga ditulis oleh Joseph Anton. Intinya, di satu titik dalam hidupnya, Salman Rushdie pernah menjadi seorang lelaki bernama Joseph Anton, nama yang diambil dari dua penulis favoritnya: Joseph Conrad dan Anton Chekhov. Ini buku memoar Salman Rushdie, alias Joseph Anton. Diawali hari ketika ia memperoleh telepon, seseorang yang bertanya, apakah ia sudah mendengar bahwa dirinya telah difatwa mati oleh Ayatullah Khomeini karena novelnya, The Satanic Verses? Novel itu pada dasarnya merupakan sejenis tribut untuk ayahnya, Anis Rushdie, seorang sarjana Islam, yang mengagumi kelahiran Islam yang disebutnya sebagai “satu-satunya agama besar di dunia yang dilahirkan di masa sejarah.” Artinya, sejarah Islam, sejarah Muhammad, memiliki konteks. Tercatat di waktu yang bersamaan, bukan ratusan tahun setelah kejadian sesungguhnya terjadi. Ayahnya, mengambil nama keluarga “Rushdie” sebagai ungkapan kekaguman terhadap salah satu filsuf Islam yang berasal dari Andalusia, Ibnu Rushd. Salman Rushdie mewarisi antusiasme ini. Antusiasme ini kemudian membawanya mengambil satu mata kuliah sejarah Islam, satu-satunya mahasiswa yang mengambil mata kuliah di semester itu, dan berkenalan dengan episode “ayat-ayat setan” dalam kehidupan Nabi. Itu ayat yang (bisa dibilang) memperbolehkan berhala-berhala orang Mekah disembah, yang kemudian dianulir sebab ayat-ayat itu ternyata bisikan setan (ayat-ayat penggantinya kemudian menjadi ayat 53:19-22). Bertahun-tahun kemudian, itu memberinya inspirasi menulis The Satanic Verses. Dan antusiasme ini juga membawanya berhadapan dengan fatwa mati, dari para antusias Islam di sisi lain. Itulah saat hidupnya mulai berada di bawah bayang-bayang, dalam perlindungan pengawal rahasia, dan membuatnya mengambil identitas baru. Ia sebagai Joseph Anton. Dalam pembukaan The Satanic Verses, baris ini barangkali terus berbisik di kepala siapa pun yang membaca novel itu: “Untuk dilahirkan kembali, seseorang harus mati.” Buku ini seperti merayakan kelahiran baru dirinya, setelah mati oleh sebuah fatwa. Dalam kelahirannya yang baru ini, setelah bertahun-tahun berlalu, ia memutuskan membela diri. Meskipun memoar ini bercerita banyak tentang kehidupan personalnya, semua buku-bukunya, tapi sesungguhnya terutama tentang kenapa ia menulis The Satanic Verses. Pandangan-pandangannya tentang Islam. Dan ia mengaku, novel ini pada dasarnya bentuk penghormatannya kepada Muhammad. Ia memperlakukannya sebagaimana Nabi menginginkan dirinya dipandang: sebagai manusia, dan bukan sebagai sosok ilahiah. Tapi karena itulah, ia difatwa mati, dan ia harus menjadi Joseph Anton. Bagi saya pribadi, The Satanic Verses merupakan karya terbaiknya. Saya bukan penggemar Midnight’s Children, yang terlalu India (dan format novelnya mengingatkan saya pada The Tin Drum Günter Grass). Novel-novelnya yang lain juga terasa terlalu lokal: Pakistan, Kashmir. Membaca The Satanic Verses, saya merasa membaca sesuatu yang mudah dikenali (karena berbagi latar tradisi agama yang sama): Islam, dengan kekayaan sejarah dan budayanya. Dan tentu saja juga karena betapa imajinatifnya tema itu diangkat di novel ini. Campur-aduk antara mimpi (yang bisa ditafsir sebagai wahyu), ejekan pascakolonial, realisme magis. Hingga kontroversi itu meledak. Dan Joseph Anton harus bersembunyi. Yang saya kagum, di dalam persembunyiannya ia terus menulis. Salah satu yang terbaik, buku anak-anak Haroun and the Sea of Stories, yang merupakan hadiah untuk anaknya (yang mengomel, “Kenapa kamu tak menulis buku untukku?”), ditulis di masa itu. Para penerbit ketakutan, editor berusaha menyensor karyanya (dengan blak-blakan ia memperlihatkan borok di dapur penerbit-penerbit besar, juga para penulis, yang sebagian berusaha mencuci tangan). Ia bersikeras, terbitkan atau tidak sama sekali. Tak ada batas-batas mutlak kebebasan (berkarya), memang. Tapi kebebasan (berkarya) yang tak diperjuangkan, sudah pasti akan dikalahkan. Tanpa fatwa hukuman mati pun, suatu hari Salman Rushdie (atau Joseph Anton) akan mati. Tapi saya percaya bahwa, “Apa yang kutulis, tetap tertulis” (Yohanes 19:22). The Satanic Verses telah tertulis, dan akan begitu. Dan perlawanan sesungguhnya adalah: ia terus menulis, meskipun bagi saya, belum ada lagi yang sebaik novel ini. Dan memoar ini, boleh saya akui, merupakan salah satu memoar penulis terbaik yang pernah saya baca.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑