Eka Kurniawan

Journal

Tag: Milan Kundera (page 1 of 2)

The Sleepwalkers (1): The Romantic

Membaca bagian pertama (dari trilogi) The Sleepwalkers karya Hermann Broch berjudul “The Romantic”, tampak seperti membaca roman picisan saja. Tentang kisah cinta segitiga, dan kemudian segi empat dengan munculnya satu pengganggu yang kurang ajar dan menyebalkan. Milan Kundera sangat mengagumi novel ini, bahkan memberi satu bagian khusus membicarakan novel ini di buku The Art of the Novel, sementara kesusastraan Jerman menganggapnya sebagai salah satu dari tiga novel besar berbahasa Jerman di paruh pertama abad kedua puluh (dua lainnya: The Magic Mountain dan The Man Without Qualities, nama-nama penulisnya cari sendiri saja, deh. Gampang, kok). Tentu saja kita tak perlu setuju dengan mereka, juga tak perlu ikut-ikutan mengagung-agungkan karya yang enggak ada hubungannya dengan periuk nasi kita, apalagi ranjang kita, tapi penasaran baca boleh, dong. Masa penasaran saja enggak boleh. Kalau rasa penasaran saja dibunuh, apa bedanya dengan hidup di negeri fasis? Terutama kalau merasa diri dongok dan tolol, seperti saya, ya wajib menjaga rasa penasaran dan rasa ingin tahu. Saya sangat haus bacaan, dan kalau ada yang bilang: novel ini bagus, lho, tentu saja langsung napsu pengin baca. Terutama setelah nulis empat novel, dan saya mencoba menengok kembali diri saya ke belakang, dan saya merasa cuma pinter nyampur-nyampur ini-itu doang. Cerita silat dicampur sedikit horor, ditambahi pseudo-sejarah, dan sedikit komentar politik. Lain kali sok-sokan menganalisa psikologi karakter, padahal ya enggak banyak tahu soal psikologi. Nyampur-nyampur drama, kisah cinta, misteri, petualangan. Diperparah dengan bahasa yang segitu doang. Semakin memikirkan itu, semakin saya berpikir untuk jadi petani saja. Tapi karena enggak pengalaman bertani, ujung-ujungnya kembali baca buku. Pengin tahu kenapa orang lain bisa begitu pinter nulis. Kembali menyiksa diri dengan pura-pura belajar. Kembali ke novel ini, lebih tepat bagian pertamanya (habis tebel, saya bacanya nyicil sambil duduk di kakus). Ceritanya bisa diringkas begini: Joachim, seorang prajurit dan anak tuan tanah, jatuh cinta sama gadis penghibur bernama Ruzena. Kepadanya ia merasa nyambung secara rasa maupun seksual. Ngepas, bahasa anak gaulnya. Pada saat yang sama, ia dijodohkan dengan tetangganya, dari kasta yang sederajat, sesama anak tuan tanah: Elisabeth. Pinter, dan tentu secara sosial cocok. Dia bingung. Minta nasehat sama temannya, jebolan tentara juga yang memutuskan jadi pengusaha bernama Bertrand. Sialnya, selain nasehat-nasehatnya rada-rada kasar dan apa adanya, diam-diam dia menggoda kedua cewek itu. Ruzena sih ogah sama dia, tapi Elizabeth terpukau dengan keterus-terangannya. Bener, kan, kayak novel picisan sebenarnya? Saya suka dengan sosok si Bertrand, yang ganggu dan tukang manas-manasin orang dengan pikiran-pikiran bebasnya. Satu hal yang terpikir oleh saya membaca “The Romantic” (julukan ini tampaknya ditujukan kepada Joachim), kita bisa melakukan studi mengenai karakter. Meskipun ditulis dengan gaya realis yang tertib dan dingin, saya tak bisa menahan diri menangkap kesan kocak dan karikatural dari karakter-karakternya. Empat karakter yang berbeda (bisa lebih jika kita menghitung ayah Joachim, dan calon mertuanya), menghadapi berbagai macam isu yang berbeda (persahabatan, cinta, karir, pernikahan). Bahkan di akhir cerita, ketika Joachim dan Elizabeth terdampar di satu kamar hotel dalam perjalanan bulan madu mereka, keduanya tampak sangat komikal. Sangat canggung memandang apa arti perkawinan dan malam pertama mereka. Benar-benar kisah yang lucu. Cuma itu? Sementara cuma segitu yang terpikirkan, sebab cuma memikirkan itu saja kepala saya sudah nyut-nyutan dan rada panas. Tapi saya berjanji akan membaca bagian berikutnya, yang kedua dan ketiga. Tentu saja nanti di kesempatan “pup” berikutnya. Saya pakai kata “pup”, sebab konon itu kata paling sopan untuk tindakan duduk di kakus, juga untuk memperbanyak kosakata saya yang menyedihkan ini. Pup. Pup. Pup.

Buat Kamu yang Sering Merasa Tidak Dianggap Penting: The Festival of Insignificance

Kamu merasa sudah bekerja keras dan menghasilkan karya hebat (sudah menulis beberapa buku puisi, novel, kumcer dan merasa itu dobrakan hebat dalam kesusastraan), tapi hampir tak ada orang yang menganggap apa yang kamu lakukan penting, bahkan menengok pun tidak? Kamu merasa sudah melakukan segala hal yang terbaik untuk orang yang kamu cintai, tapi cintamu terus bertepuk sebelah tangan? Kamu sudah bekerja giat, memberi keuntungan yang melimpah untuk perusahaan, tapi tak juga naik pangkat apalagi gaji, malah sepupu si presiden direktur yang bodoh dan tak tahu apa-apa melangkahimu? Rayakan saja. Saya sering berpikir, penulis yang sudah menghasilkan beberapa buku dan semuanya tidak menarik, buku-buku berikutnya tak perlu diperhatikan sama sekali. Saya juga sering menganggap karya seorang penulis di usia tua sebagai sesuatu yang tak penting, insignifikan, dan sebaiknya diabaikan saja. Saya pikir mereka tak membutuhkan apa pun lagi, dan jika mereka masih menulis, barangkali hanya sebagai upaya agar tidak pikun saja. Saya hampir mengabaikan novel Milan Kundera terbaru, The Festival of Insignificance. Tapi judulnya membuat saya terprovokasi, seolah-olah meledek, benar kamu mau menganggapku insignifikan? Baik, aku akan merayakan pengabaianmu. Sial. Saya memutuskan untuk membacanya. Kalau jelek dan menyebalkan, toh hanya 115 halaman. Kenyataannya saya tak menyesal membaca buku ini. Saya seolah menemukan kembali Kundera dari masa-masa terbaiknya. Benar, hal itu bisa dilihat dengan cara lain: tak ada hal baru dalam karyanya. Tapi bayangkan, ia meremas segala yang dia lakukan dalam The Book of Laughter and Forgetting, The Unbearable Lightness of Being dan Immortality dalam sejilid buku kompak yang padat: kita menemukan kembali dirinya dalam bentuk hampir-filsuf, merayakan novel dalam berbagai kemungkinannya. Novel sebagai alat memeriksa hal remeh-temeh dengan cara yang penuh keseriusan, dipadu-padankan dengan anekdot sejarah yang memendar ke sana-kemari sebagai prisma, dan tentu saja telaah yang selalu luar biasa kepada tindakan-tindakan kecil tokoh-tokohnya, seolah itu merupakan kunci penting untuk memahami hakikat manusia. Sebagai contoh remeh-temeh, Kundera memulai novel ini dengan tantangan yang penting tidak penting saya rasa benar: kenapa di abad ini, daya tarik seksual perempuan bergeser ke lubang kecil bernama udel? (Ehm, saya jadi membayangkan udel-udel Seohyun, Yoona dan Taeyeon, serta semua cewek k-pop). Ia memeriksa bagian-bagian tubuh perempuan lainnya, yang menjadi titik-titik penting daya tarik seksual sebelumnya (dan tentu saja masih). Paha, bokong, dan payudara. Titik-titik itu selalu bersifat personal dalam arti, paha, bokong dan payudara setiap perempuan berbeda satu sama lain. Tapi udel tidak begitu: semua udel perempuan (yang sering dipamerkan dalam sepuluh tahun terakhir ini), bisa dibilang sama. Udel barangkali mewakili titik daya tarik seksual, tapi sekaligus (karena ketidak unikannya satu sama lain) juga menggambarkan ketidak-signifikan-an. Tapi justru itulah: ketidak-signifikan-an ini kini dirayakan. Lambang hubungan biologis anak-ibu ini menjadi bahasan yang memikat, tanpa harus bertele-tele (ingat, novel ini cuma 115 halaman), berbaur dengan lelucon tentang Stalin dan para kameradnya tentang humor. Ya, Kundera kembali ke topik kegemarannya: ejekan kepada rezim Sovyet dan bagaimana mereka menghadapi humor. Humor mati di tangan Stalin, justru digambarkan dengan cara Stalin mencoba ngebanyol di hadapan para kameradnya dan tak ada satu pun yang tertawa dan menganggapnya humor. Seperti di banyak novelnya, ia kembali membagi novel ini ke dalam tujuh bagian (ia suka angka tersebut). Seperti di banyak novelnya, ia kembali menghadirkan narator yang saya rasa tak hanya berfungsi sebagai pembawa cerita, tapi terutama sebagai seorang analis, yang mempsiko-analisis segala seseuatu, atau sejenis moderator dalam perbincangan ringan (tapi seringkali tak tertanggungkan). Saya ingat sepotong esai yang ditulis Kundera mengenai “kelucuan dalam ketidak-hadiran kelucuan” The Idiot karya Dostoyevsky. Ia mengenang seorang teman sekolahnya: sekali waktu seisi kelas ribut menertawakan sesuatu, tiba-tiba seorang teman berdiri dan tertawa tapi ia tertawa tidak seperti yang lain. Ia hanya menjiplak tawa itu. Tertawa tanpa kehadiran sesuatu yang lucu, tertawa hanya untuk tetap menonjol di antara kerumunan. Novel ini bisa dilihat begitu: upaya untuk berdiri di tengah kerumunan novel-novel Kundera lain yang telah kita kenal. Jika tak ada hal serius di novel ini sebagaimana di novel-novelnya yang lain, ia telah menjawabnya di sampul buku. Ini perayaan atas ketidak-signifikan-an, kesepelean.

PS: Saya rasa sangatlah keterlaluan jika ia tak memperoleh Nobel Kesusastraan, atau karya-karyanya dianggap sepele, insignifikan?

Novel Sebagai Motif: Jenny Erpenbeck

Adalah Milan Kundera yang pernah menyinggung perkara menulis dengan pendekatan musikal. Dalam hal ini, saya rasa Jenny Erpenbeck melakukan hal yang kurang-lebih sama, meskipun dengan cara yang berbeda bagaimana mengadopsi pendekatan musikal ini terhadap bentuk novel. Saya melihat, Kundera terutama mengambil pendekatan dramatik dan irama dari musik. Membaca novel-novelnya, kita merasa seperti membaca (dan memainkan) komposisi musik: dibuka dengan sejenis intro, dan ditutup dengan sejenis outro. Panjang-pendek babnya juga sangat memperhitungkan aspek irama ini. Atau juga perhatikan pendapatnya tentang polifoni dalam musik dan novel. Jenny Erpenbeck melakukannya dengan cara yang berbeda. Saya sering membayangkan bahwa musik pada dasarnya merupakan seni menciptakan pola atau motif. Di luar aspek-aspek dramaturginya, saya merasa musik memiliki kecenderungan untuk menciptakan motif, yang tentu saja dibentuk melalui nada-nada dan irama. Ada motif yang berulang, ada penyimpangan, ada variasi. Motif, atau pola, seperti motif atau pola yang kita kenal dalam batik, misalnya. Bayangkan novel-novel (setidaknya dua novel yang saya baca) Jenny Erpenbeck dengan cara seperti itu. Novel-novelnya dibentuk dengan kesadaran akan adanya motif atau pola ini. Mungkin belum banyak yang tahu nama Jenny Erpenbeck, terutama di sini, tapi sudah jelas ia merupakan salah satu penulis Jerman penting sekarang ini. Belum lama ia memperoleh Independen Foreign Fiction Prize, salah satu penghargaan prestisius untuk karya asing yang diterjemahkan ke bahasa Inggris (di Britania), untuk novel The End of Days yang diterjemahkan oleh Susan Bernofsky (saya sangat menyukai terjemahannya atas mahakarya Kafka, Metamorphosis). Novel ini secara sekilas saja bisa dikenali terutama karena motifnya: terdiri dari lima “buku”, yang semuanya mengisahkan tokoh yang sama. Di setiap buku itu, si tokoh selalu menemui akhir hidupnya, alias mati. Perbedaannya, di buku pertama ia mati ketika masih muda. Di buku kedua, melalui pengandaian bahwa sebenarnya ia selamat ketika bayi, si tokoh mati ketika masa remaja. Begitu seterusnya hingga si tokoh mati di usia tua, di buku terakhir. Ada motif yang diulang (soal kematian si tokoh), tapi sekaligus ada motif yang bervariasi (karena si tokoh hidup di zaman yang berbeda). Dengan cara ini, Erpenbeck mengarungi waktu, dengan konteks sejarah rasisme, Perang Dunia, Eropa selepas perang dan seterusnya dengan cara yang cantik. Hidup seolah-olah tak berakhir ketika seseorang mati. Dan masalah serta penderitaan juga tak berarti dengan mudah dihadapi sekali kita bisa melewati kemungkinan mati. Bentuknya membuat novel ini terasa jenaka, tapi sekaligus membuat kita terus-menerus awas bahwa hidup yang lama dan panjang juga tak selalu menyenangkan. Novelnya yang lain, yang terbit lebih dulu, memperlihatkan jenis motif yang lain. Visitation, judulnya. Jika ada kesamaan dengan novel pertama, kita bisa menunjuk pada lanskap sejarah yang terpapar di kedua novel. Jika di novel pertama, sejarah diarungi oleh seorang tokoh (dan keluarganya) yang diandaikan mati dan hidup, di novel kedua, kita bertemu dengan sebuah rumah di hutan, di tepi danau tak jauh dari Berlin. Ada dua belas sosok yang pernah tinggal di rumah tersebut, di waktu-waktu yang berbeda, dan mereka memiliki kisah sendiri-sendiri, mengikuti arus waktu dan konteks sosial-politik yang mengiringinya. Boleh dikatakan tokoh utamanya barangkali si rumah tersebut, dan dalam keterdiamannya, ia merekam bagaimana para penghuni ini datang dan pergi merajut kisah. Menarik, bukan? Sebuah novel, sebagaimana sering keliru dikatakan banyak orang, tak semata-mata mengenai cerita. Bagi saya jelas, selain keterampilan dan intelektualisme, empati dan keterlibatan, lebih penting lagi: semangat untuk bermain-main di sana. Karena bagi saya, novel dan seni secara umum, tak akan berkembang dan menyenangkan, tanpa semangat semacam itu. Jenny Erpenbeck merupakan suara baru yang menyenangkan. Jenaka tanpa harus menjadi konyol.

Panduan Membaca Knut Hamsun

Saya sering membaca seseorang membuat sejenis panduan dari mana harus membaca karya-karya seorang penulis yang meninggalkan begitu banyak karya, dan tampaknya semua karya itu penting untuk dibaca. Karena beberapa hari lalu saya menulis tentang Knut Hamsun, izinkan saya berbagi panduan (menurut saya) untuk memasuki dunia penulis Norwegia ini.

Sangat Penting Dibaca

Kategori pertama, tentu saja buku-buku yang menurut saya penting untuk dibaca. Untuk para pembaca yang baru mengenalnya maupun untuk para pembaca yang tak berminat membaca seluruh karyanya. Di kategori ini saya cenderung meletakkan novel-novel awalnya, terutama yang terbit di akhir abad ke-19, sebab di masa-masa itulah puncak kreativitasnya meledak. Ada banyak karya di masa ini (apa boleh buat, ia sangat produktif, dan panjang umur), Anda bisa membolak-balik urutannya. Saya hanya akan memilih tiga judul saja yang benar-benar harus dibaca: Hunger, Pan, dan Mysteries. Untuk dua novel pertama, ada terjemahan bahasa Indonesia karya Marianne Katoppo. Jika orang membayangkan karakter penulisan Knut Hamsun, bisa dipastikan sebenarnya datang dari novel-novel ini. Saya membayangkan novel-novel ini merayakan apa yang disebut oleh Milan Kundera sebagai “the lyric age”. Sebagai perayaan atas “aku”, atas keragu-raguan Cartesian, dan terutama perayaan atas usia muda. Membaca karya-karya ini kita akan merasakan pengaruh yang kuat dari Dostoyevsky, tapi perbedaannya sebagaimana kelak ditunjukkan oleh Isaac Bashevis Singer (fans paling berat), dalam karya-karya Hamsun, kita melihat tokoh-tokoh yang tak berakar (tak peduli ia menggelandang di jalanan Christiania) sementara di karya Dostoyevsky akar masyarakat Rusia sangat erat merekat ke tokoh-tokohnya.

Penting Dibaca

Jika masih punya hasrat untuk mengenalnya lebih jauh, tentu saja saya sarankan untuk membaca Growth of the Soil. Di waktu saya masih pengangguran dan hidup terasa lebih membosankan, saya pernah mencoba menerjemahkan novel ini. Hanya sanggup sampai bab 11, tapi saya masih menyimpan arsip terjemahan itu sampai sekarang. Novel inilah yang menjadi alasan Akademi Swedia menganugerahi sang penulis dengan Nobel Kesusastraan. Novel ini merupakan titik perubahan kepengarangan Hamsun. Jika di karya-karya awalnya ia menampilkan sejenis lirisisme, perayaan atas aku, melalui novel ini Hamsun mulai melirik ke arah novel epik. Kita melihat tokoh-tokoh yang memiliki relasi dalam tatanan sosial, dan semakin sedikit penjelajahan ruang dalam jiwa manusia. Saya tak menganggap novel ini sebagai karya terbaiknya (meskipun banyak yang mengatakan begitu), tapi di antara novel-novel epiknya (dan yang tebal-tebal), tentu saja ini yang terbaik.

Untuk Pencinta Sastra

Untuk sebagian besar orang, membaca empat novel Hamsun di atas saya rasa cukup. Tapi jika Anda seorang pencinta sastra, memiliki banyak waktu luang dan menghendaki karya yang baik, saya akan melanjutkan daftar rekomendasi di kategori ini. Daftar ini akan berisi beberapa novel yang sama bagusnya dengan novel-novel di atas, atau setidaknya nyaris berada di level yang sama. Tapi karena dalam banyak hal novel-novel ini memiliki kemiripan (tema, gaya), maka saya simpan di sini. Membaca novel seperti Victoria dan Dreamers, kita akan menemukan kualitas-kulitas yang kita temukan di karya-karya awalnya. Bahkan novel-novel ini, dalam banyak hal mengingatkan kita kepada Pan.

Untuk Penggemar Hamsun

Jika Anda memantapkan diri sebagai penggemar Hamsun, tentu saja Anda harus terus melaju membaca karya-karya “minor” lainnya. Sebagai salah satu penggemar Hamsun, saya sudah melewati bagian ini. Bahkan melalui novel-novel minornya, kita bisa belajar banyak hal. The Wanderer, merupakan salah satu novelnya di kategori ini yang sering saya baca ulang hanya karena satu hal: ia mengajari saya menulis deskripsi dengan indah dan tak membosankan. Salah satu harta-karun untuk menulis dengan pendekatan “to show”. Tentu ada karya-karya lain, kebanyakan dari tradisi epik yang lahir di awal abad ke-20, seperti The Women at the Pump, The Wayfarers, dan The Ring is Closed. Selain itu ada satu kumpulan cerita pendek (sesuatu yang langka, karena Hamsun tampaknya lebih senang menulis novel), Tales of Love and Loss.

Untuk yang Sinting

Seperti saya bilang di atas, Knut Hamsun berumur panjang (lewat 90 tahun) dan produktif menulis. Jadi ada banyak karyanya di luar yang sudah saya sebut di atas. Jika karya-karya tersebut telah diterjemahkan ke bahasa Inggris, sudah pasti susah menemukannya. Dalam hal ini termasuk dua jilid kumpulan surat-suratnya. Apakah Anda cukup sinting untuk memburu karya-karya yang tersisa ini?

The Time Regulation Institute, Ahmet Hamdi Tanpinar

Nuri Efendi, si tukang memperbaiki jam, sering membeli jam bekas dari pedagang jalanan. Setelah diperbaiki, ia akan memberikannya kepada orang miskin sambil berkata, “Setidaknya kini kau akan menjadi tuan atas waktumu.” Jam, dengan cara yang aneh, telah membagi-bagi waktu, dan dengan cara itulah manusia mencoba menaklukkannya, meskipun yang terjadi akhirnya manusia terperangkap dalam kerangkeng waktu tersebut. Persis seperti yang dikatakan Nuri Efendi yang ironinya, jika ada yang datang kepadanya untuk memperbaiki jam milik mereka, si tukang jam akan mewanti-wanti, “Jangan tanya kapan selesai.” Ia tak mau diburu-buru. Ia tak mau terkungkung waktu. Sudah lama saya curiga waktu bisa dipergunakan untuk mengontrol manusia. Kendalikan waktu, maka kita akan mengendalikan manusia. Sebabnya sederhana, sebagaimana diingatkan Nuri Efendi, bahwa manusia memang terpenjara oleh waktu. Coba bayangkan, bukankah Tuhan pun “mengendalikan” ketaatan manusia salah satunya melalui waktu? Saya tak tahu bagaimana praktek ibadah di agama lain, tapi di Islam, sebagian besar ibadah pokok terikat dengan waktu. Salat lima kali sehari, di waktu yang telah ditentukan. Jumatan seminggu sekali. Berpuasa selama sebulan, setahun sekali. Dunia sekuler pun mengendalikan manusia melalui waktu. Kantor mengendalikan karyawannya melalui jam kerja dan hari kerja. Sekolah mengendalikan murid melalui jam belajar. Bahkan ada adegan di mana seorang karyawan, di jam kerja, harus berperan menjadi diri yang lain dan baru mau bicara sebagai dirinya ketika jam kerja selesai. The Time Regulation Institute, sekilas merupakan novel gagasan tentang waktu, tapi sebenarnya jauh lebih dari itu: ini merupakan novel tentang Turki, sejarahnya, obsesinya untuk menjadi modern sekaligus sekuler, pertentangan Barat dan Timur, bahkan agama, yang dengan cemerlang digambarkan oleh Ahmet Hamdi Tanpinar melalui parabel tentang jam, waktu, tukang reparasi dan sebuah institut yang memastikan masyarakat selalu punya jam yang menunjukkan waktu dengan tepat (jika tidak, mereka akan didenda!). Novel ini bisa dibilang berisi lima hal besar: wacana mengenai waktu, birokrasi, sejarah, psikoanalisis, dan mengikat semuanya adalah kisah hidup (lebih tepat kisah kemalangan) si tokoh utama bernama Hayri Irdal. Kisah dibuka dengan nasib malang keluarga Hayri yang harus mewarisi jam bandul besar, yang sebenarnya direncanakan untuk perangkat di masjid. Tapi karena keluarganya (sejak kakek) tak juga memperoleh kekayaan yang cukup untuk membangun masjid, jam bandul itu terus-menerus diwariskan dengan beban berat berupa wasiat untuk membangun masjid jika ada uang. Nasib sial yang dibawa si jam bandul membawa Hayri dari satu nasib buruk satu ke buruk lain, hingga berakhir dengan kesuksesan mendirikan Institut Regulasi Waktu. Kisah yang pada dasarnya sederhana menjadi tidak sederhana. Melalui waktu, kita bisa melihat watak asli birokrasi (yang digambarkan melalui pendirian institut tersebut), dan melalui jam bandul kita masuk ke diskusi mengenai psikoanalisis yang lucu dan penuh ejekan. Bagian paling lucu, tentu saja bagaimana Hayri, untuk memberi legitimasi terhadap lembaganya, menciptakan tokoh rekaan bernama Ahmet Sang Waktu, sebagai seorang pelopor keahlian menciptakan jam, bahkan menulis biografinya. Jika sebelumnya saya berkenalan dengan Bohumil Hrabal melalui Milan Kundera, maka perkenalan saya dengan Ahmet Hamdi Tanpinar datang melalui penulis Turki yang lain, Orhan Pamuk, yang menyebut Tanpinar sebagai, “Tak meragukan merupakan pengarang paling cemerlang dalam kesusastraan Turki modern.” Kurang lebih sama seperti pujian Kundera untuk Hrabal dalam khasanah kesusastraan Ceko. Sayang sekali baik Hrabal maupun Tanpinar sudah keburu meninggal, jauh sebelum karya-karya mereka bisa memperoleh pembaca di luar bahasa mereka, sebagaimana yang kemudian dinikmati oleh Kundera maupun Pamuk. Tapi satu hal yang saya pelajari dari mereka, membaca karya seorang penulis yang baik selalu membawa saya kepada karya penulis baik yang lain. Itu tak pernah terjadi di karya-karya buruk. Karya-karya buruk selalu tak membawa saya ke mana-mana. Karya buruk tidak membuat saya bergumam, “Sialan, penulisnya membaca buku apa, ya?”

Dua Novel Bohumil Hrabal

Too Loud a Solitude. Biar keren, ia memutuskan untuk memiliki sandal. Ibunya merajutkan untuknya kaus kaki. Ia pun pergi ke lapangan dengan sandal dan kaus kaki, untuk melihat daftar nama pemain utama yang akan turun bermain sepakbola. Tiba-tiba ia merasa sebelah kakinya menginjak sesuatu yang basah dan lembek. Ia tak berani melihat ke bawah, matanya tetap tajam menatap papan pengumuman. Mencari namanya. Di daftar pemain utama, kemudian di daftar pemain cadangan. Setelah menemukan namanya, ia akhirnya menunduk. Ia menginjak tai anjing. Ia buru-buru menatap kembali papan pengumuman. Kembali mencari namanya, berharap satu keajaiban terjadi. Ia menemukan namanya, dan kembali menoleh ke bawah. Kakinya tetap terbenam di kubangan tai anjing. Kita bakal menemukan fragmen-fragmen pendek semacam itu di novel ini, dan saya kira di novel-novelnya yang lain. Bohumil Hrabal tak hanya “Penulis Ceko terbesar yang masih hidup (saat ini sudah meninggal)” sebagaimana dikatakan Milan Kundera, tetapi bisa dibilang master yang mampu mengendalikan humor dan tragedi dalam satu tendangan. Kisah Hanta yang bekerja di kantor polisi sebagai penghancur kertas (banyak di antaranya buku-buku langka dan terlarang), merupakan novel politik yang cerdas. Diam-diam Hanta sering menyelamatkan buku-buku penting dari mesin penghancurnya, membawanya pulang dan membacanya di waktu luang. Tidak tanggung-tanggung ia membaca Goethe, Schiller, Nietzsche, Kant dan memiliki repro karya-karya Rembrandt, Monet, Cézanne, hingga membuatnya “tak bisa membedakan mana pikiran yang datang dariku dan mana yang datang dari buku.” Ini novel tentang sensor dan bagaimana pengetahuan diselamatkan, dengan gaya jenaka. Tentang bagaimana pengetahuan dihancurkan, tapi diselamatkan di kepala manusia. Sementara buku-buku terus dihancurkan setiap hari, di malam hari, Hanta menemukan dirinya larut dalam dunia yang lain: ia melihat Yesus berdialog dengan Lao-tze, dan para filsuf membicarakan surga, berbaur dengan kenangannya atas gadis gipsi, dan pacarnya yang selalu sial namun akhirnya malah menjadi malaikat. Gaya berceritanya yang ekspresif, di tengah alur cerita kita seperti menemukan percikan-percikan fragmen warna-warni, kadang-kadang tentang filsafat, kadang sesepele tentang bir, lain kali tinjauan ringkas mengenai kaum Gypsy, di halaman lain ulasan sekelebat mengenai Hitler. Novelnya saya kira mendekati apa yang menurut saya merupakan novel ideal: bermain-main secara serius, atau keseriusan yang main-main. Kita bisa melihat filsafat, perang, agama, pengetahuan menjadi olok-olok yang menggelikan di novelnya, tapi pada saat yang bersamaan ia bisa membicarakan kehidupan sehari-hari, hal-hal banal semacam pita yang jatuh ke tumpukan kotoran manusia menjadi sesuatu yang penting. Lebih dari itu, Hrabal melakukannya dengan sangat padat dan ringkas, tanpa membuat novelnya menjadi sejenis sinopsis. Di bawah rezim komunis Ceko (dan pendudukan Sovyet, saya kira), kisah Hanta dengan mesin penghancur bukunya menjadi sejenis paradoks menggelikan sekaligus memilukan. Hanta yang bekerja dengan penuh gairah, yang merasa dirinya adalah apa yang dia kerjakan, dengan kedatangan mesin dan teknologi baru (yang diharapkan “membebaskan” manusia), justru merasa dirinya tercerabut. Terasing. “Seperti para pendeta yang, ketika mereka mengetahui Copernicus telah menemukan satu kumpulan hukum kosmik dan bahwa bumi tak lagi menjadi pusat semesta, memutuskan bunuh diri massal karena tak mampu membayangkan sebuah semesta yang berbeda dari yang pernah mereka diami.” Bahkan untuk hal semacam itu, Hrabal menyikutnya dengan humor. Sekaligus kepedihan.

***

Saya ingin membaca Hrabal sejak lama, lebih dari setahun lalu. Tapi selama 2014 saya memutuskan untuk lebih banyak membaca karya “klasik”. Orang bisa berdebat mengenai apa itu klasik. Klasik, bagi saya sesederhana karya dari abad 19 ke belakang. Dari Dostoyevsky, Tolstoy, hingga Shakespeare bahkan Homer. Masih banyak yang tertinggal dan masih ingin saya baca, tapi tahun ini bagaimanapun saya ingin bergerak. Akan lebih banyak membaca kesusastraan dari para penulis sekitar paruh pertama abad 20. Saya tak tahu siapa saja yang bisa saya temukan, tapi membaca dua novel Bohumil Hrabal di hari pertama tahun ini saya kira merupakan awal yang bagus. Setidaknya saya mengenal penulis Ceko lain setelah Milan Kundera dan Jaroslav Hašek.

***

Closely Observed Trains. Novel ini dibuka dengan adegan pesawat Jerman yang jatuh, dan bangkainya dipreteli penduduk kota. Salah satu yang sibuk mengangkuti kepingan-kepingan pesawat itu adalah ayah si tokoh. Ia seorang kolektor barang-barang tak berguna, yang karena kemampuan teknisnya, bisa mengubah barang-barang itu menjadi hal-hal yang berguna. Yang tentu saja bikin sirik banyak orang. Lalu kisah melipir ke kakek dan kakek-buyut, yang seperti si ayah, juga disiriki banyak orang karena “keberuntungan-keberuntungan” mereka. Si kakek-buyut kehilangan kakinya di front, dan gara-gara itu ia pensiun dini dan dapat gaji pensiunan bertahun-tahun lamanya, dan memakai uang itu untuk minum-minum sambil mengejek orang-orang yang harus bekerja keras demi sesuap nasi. Si kakek-buyut sering dipukuli orang yang kesal, tapi tak juga kapok. Si kakek punya kemampuan hipnotis, dan sekali waktu mencoba menghentikan tank Jerman dengan hipnotisnya. Gagal, dan malahan ia diseruduk tank hingga kepalanya lepas dan mengganjal laju tank. Mati, tapi jadi pahlawan. Kita akan mengira novel ini mengenai sejarah keluarga sialan penuh keberuntungan ini (meliputi kakek-buyut, kakek, ayah, dan anak), tapi dengan cerdik Hrabal mengecoh kita. Itu hanyalah pembukaan untuk memperkenalkan si tokoh utama, sebelum cerita berbelok tentang kisah si tokoh itu sendiri, seorang pegawai magang di stasiun kereta api, dan di sanalah kisah sesungguhnya terjadi. Dalam hal-hal seperti ini, gaya berceritanya mengingatkan saya kepada César Aira, tapi saya tak tahu apakah Aira membaca Hrabal atau tidak. Seperti novel yang sebelumnya saya sebut, novel ini juga sangat ekspresif, dan memperlihatkan kualitas Hrabal yang lain: kejeliannya kepada segala yang visual, dan humornya yang semakin menjadi-jadi. Ada adegan “mesum” di mana satu pegawai perempuan kepergok telanjang bulat bersama seorang pegawai lelaki di satu malam. Si pegawai lelaki bahkan mengecapi sekujur tubuh si perempuan dengan stempel stasiun. Tentu saja mereka disidang, tapi bukan karena mereka telah melakukan tindakan senonoh (sebab urusan moral semacam itu merupakan urusan pribadi belaka), tapi karena stempel yang dipakai mengandung bahasa Jerman! Itu penghinaan terhadap negeri Hitler. Hrabal hampir tak pernah gagal membuat kita tersenyum. Kisah utama novel ini adalah tentang kereta penuh amunisi milik Jerman, dan dua petugas stasiun (si tokoh utama, dan lelaki yang berbuat mesum) yang berniat meledakannya. Sejenis kisah “perjuangan”, tapi jangan salah kira. Apa yang disebut “kisah utama” itu sebenarnya ia ceritakan nyaris sekilas saja, dan baru kita ketahui menjelang akhir. Sebagian besar alurnya justru ke sana-kemari, termasuk kisah si bocah tokoh utama yang berusaha menjadi “dewasa”. Yang ia maksud dewasa adalah bisa meniduri perempuan dengan selayaknya, sebab terakhir ia mencobanya, ia mengalami apa yang disebut orang Jawa sebagai “peltu” (nempel metu, baru nempel sudah keluar). Dan peristiwa “peltu” itu makin membuatnya malu (sampai ia mengiris nadinya berharap mati) karena dilakukan di studio foto dengan semboyan “Lima Menit Selesai”. Ia merasa terhina karena bahkan tak sampai lima menit. Lagi-lagi humor ala Hrabal. Menggelikan, dan pedih.

Tristram Shandy

Kebanyakan orang yang baru pertama kali membaca Tristram Shandy, saya rasa akan bergumam, “Cerita apaan sih, ini?” Ngalor-ngidul, menceritakan kejadian-kejadian kecil, karakter orang-orang, bahkan referensi-referensi terhadap pandangan-pandangan filosofis tertentu. Bagi pembaca modern (seperti saya), lebih memusingkan lagi karena referensi ini merujuk ke karya-karya yang jauh lebih tua lagi (ia mengolok-oloknya, membuat simile, alusi, atau bahkan “menjiplak”nya untuk membuat efek baru). Tapi satu baris penting di bagian 1 bab 22 saya rasa menjelaskan banyak hal (saya tak akan menerjemahkannya): “Digressions, incontestably, are the sunshine, – they are the life, the soul of reading! ” Saya rasa, Laurence Sterne salah satunya merayakan digresi, penyimpangan, dalam novel ini, sesuatu yang seringkali dihindari dalam kebanyakan novel arus-utama yang memuja keutuhan dan efisiensi. Sebenarnya kelakuan macam begini tentu saja tidak asing. Banyak penulis modern melakukannya (tentu saja terpengaruh oleh novel ini), dan kita membacanya dengan baik-baik saja. Milan Kundera melakukannya. Salman Rushdie melakukannya. Roberto Bolaño juga melakukannya. Tapi di karya-karya penulis belakangan ini, saya rasa kita menemukan penyimpangan yang halus, yang tertanggungkan. Semacam jalan-jalan tapi sesekali melipir ke dalam toko melihat barang-barang, sebelum melanjutkan perjalanan lagi. Penulis-penulis ini seolah menghadirkan teknik penyimpangan yang lebih ramah-baca, seperti masakan padang yang telah disesuaikan untuk lidah orang Jawa di rumah-rumah makan padang di Jakarta. Kontras dengan karya-karya mereka, Tristram Shandy yang terbit di abad 18 merupakan kesemrawutan, perayaan gila-gilaan atas ini, seolah tak peduli dengan ketumpulan cara baca manusia modern yang akan lahir berabad-abad kemudian (termasuk otak saya, yang mulai sering ditumpulkan oleh novel-novel “lurus”, penuh aksi dan sedikit refleksi). Novel ini bukan sejenis perjalanan, tapi seperti masuk ke museum dan kita disibukkan mendengar pemandu yang menceritakan tentang kemaluan yang tak sengaja tersunat, Paman Toby, raksasa-raksasa Rabelais, dan lainnya. Dari mana kesemrawutan ini berawal? Seperti disiratkan oleh judulnya (aslinya berbunyi The Life and Opinions of Tristram Shandy, Gentleman), ini kisah mengenai Tristram yang mencoba menceritakan dirinya sendiri. Tapi alih-alih menceritakan dirinya secara langsung, ia harus menceritakan konteks di setiap momen atau bagian dari yang ceritakannya. Konteks-konteks inilah yang membuat setiap momen akan berjalan ke sana-kemari, karena untuk mengisahkan sesuatu, ia harus menceritakan sesuatu yang lain, untuk menjelaskan sesuatu, ia harus menjelaskan hal-hal lain. Hasilnya, ini novel semacam jaring laba-laba. Novel ini seperti mengingatkan saya kembali apa yang berkali-kali disinggung Kundera, bahwa novel merupakan “seni”. Dan seperti genre seni lainnya, ia merupakan kesempatan terbuka untuk kemungkinan-kemungkinan baru. Kemungkinan-kemungkinan yang seringkali dibunuh oleh paradigma “novel seharusnya begini, begini”. Saya jadi ingat sebelum pengumuman Nobel tahun ini, salah satu juri berkata, “Kesusastraan barat telah dibunuh oleh tradisi grant dan kursus menulis kreatif.” Kursus menulis kreatif? Jangan-jangan yang ia maksud persis seperti yang saya curigai: kita perlahan-lahan menjadi robot yang kebetulan bisa menulis. Berkarya mengikuti cara-cara yang telah diformulasikan, dan tak memiliki nyali keluar dari sana. Dan untuk mengumpulkan nyali semacam ini, hanya untuk menyadari bahwa kita bisa menyimpang segila-gilanya, saya bahkan harus belajar dari sebuah novel dari masa 3 abad yang lampau. Mungkin saatnya kita menulis dengan satu sikap seperti dikatakan oleh Sterne sendiri: “I begin with writing the first sentence – and trusting Almighty God for the second.” Sebab sebagaimana pernah dikatakan Cortazar (salah seorang eksperimentalis paling gila dalam kesusastraan modern), kerja menulis novel merupakan kerja anarkis. Tapi ingat, itu bukan formula. Sekali sesuatu telah menjadi formula, itu tak layak lagi disebut anarkis.

Exemplary Stories, Cervantes

Saya rasa, Cervantes seorang master karakter. Untuk mahakaryanya, Don Quixote, Milan Kundera pernah bilang, “Don Quixote sejatinya tak terbayangkan sebagai manusia hidup, tapi, dalam kenangan kita, karakter mana (lagi) yang lebih hidup (daripada Don Quixote)?” Demikian kuatnya karakter si lelaki tua yang merasa dirinya sebagai ksatria pengembara, yang gila karena kelewat banyak membaca novel-novel kepahlawanan, kebesarannya bahkan melampaui nama penulisnya sendiri (saya yakin di dunia ini lebih banyak yang mengenal Don Quixote daripada Cervantes). Keyakinan saya atas ini, bahwa Cervantes merupakan master pencipta karakter, diperkuat setelah membaca cerita-cerita dalam Exemplary Stories, yang terbit di antara bagian satu dan bagian dua Don Quixote. Kita tahu, seluruh cerita pada dasarnya bisa disederhanakan dalam satu formula sederhana, “Apa yang terjadi jika …” Bagian titik-titiknya akan diisi oleh para penulis, dan setiap penulis saya rasa punya kecenderungan tertentu yang tentu saja berbeda-beda. Ada yang mengisi titik-titik itu dengan spekulasi peristiwa, ada yang mengisinya dengan karakter dan situasi yang dihadapinya. Saya ingin memberi contoh, dalam kebanyakan novel-novel José Saramago, kita menghadapi situasi di mana ada skenario yang tak lumrah. Apa yang terjadi jika Ricardo Reis bertemu dengan hantu Fernando Pessoa (dalam The Year of the Death of Ricardo Reis), sebab sebagaimana kita tahu, Ricardo Reis dan Fernando Pessoa tak lain merupakan orang yang sama (meskipun bisa dibilang penyair yang berbeda). Apa yang terjadi jika seseorang melihat manusia lain yang mirip dirinya di dalam sebuah video (dalam The Double); atau apa yang terjadi jika satu kota tiba-tiba terjangkit wabah buta (dalam Blindness). Cervantes, pada dasarnya juga bekerja dengan formula sederhana itu, tapi ia membangun ceritanya di seputar karakter. Karakter-karakter Cervantes sebenarnya tidak bisa dibilang tak lumrah. Mereka karakter-karakter yang mudah dikenali. Yang membuatnya menjadi menarik, karakter-karakter ini seperti dilihat dengan kaca pembesar. Mereka menjadi hiperbola, dan seperti orang yang mabok jamur kotoran sapi, melihat dunia dengan cara juga berlebihan. Kita tahu, seperti itulah Don Quixote. Dalam cerita-cerita di Exemplary Stories, kita akan menemukan manusia-manusia semacam itu juga. Dalam cerita “The Glass Graduate”, Cervantes mengisahkan seorang sarjana hukum yang dipelet (ya, diberi ramuan cinta) oleh seorang perempuan yang tergila-gila kepadanya. Pelet itu tak manjur, tapi malah memberi efek samping. Selain membuat si sarjana hampir mati, ramuan itu juga membuatnya gila: ia merasa tubuhnya terbuat dari kaca. Rapuh. Bayangkan manusia macam apa yang harus hidup dengan pikiran bahwa tubuhnya bisa hancur berkeping-keping hanya karena tersenggol! Di cerita yang lain, “The Jealous Extremaduran”, kita bertemu dengan lelaki setengah baya yang pencemburu berat. Ketika ia menikah dengan gadis muda, ia mulai terjangkit penyakit cemburu ini. Ia takut isterinya bertemu pemuda lain, ia takut ada pemuda lain melihat isterinya. Ia memutuskan mengurung isterinya di rumah, dengan pintu berlapis-lapis, dan satu-satunya jendela hanya menghadap langit. Familiar dengan karakter-karakter ini? Ya, jika kita mengenal istilah “quixotic”, saya rasa cerita-cerita ini memiliki sifat dan situasi yang sama. Membaca cerita-cerita Cervantes ini membuat saya teringat satu penulis lain. Saya rasa salah satu “murid” Cervantes yang hadir beberapa abad kemudian: Italo Calvino. Saya membaca tiga novelanya yang kemudian disatukan dalam buku Our Ancestors. Dengan bertumpu pada karakter dan situasi tak lazim yang dihadapinya, saya rasa Calvino juga menciptakan dunia yang quixotic ini. Dalam The Cloven Viscount, kita berhadapan dengan seorang bangsawan yang pergi berperang dan tubuhnya terbelah menjadi dua. Sialnya, kedua tubuh itu tetap hidup dengan masing-masing membawa sifat yang bertolak-belakang; yang satu jahat, yang lain baik. Di Baron in the Trees, kita bertemu dengan seorang anak keras kepala, yang karena sumpahnya (setelah bertengkar dengan ayahnya di meja makan), memutuskan untuk hidup di atas pohon. Di novela terakhir, The Non-Existent Knight, kita bertemu dengan karakter ksatria berbaju jirah yang tak ada isinya, sebab ia memang ksatria yang “tidak ada”. Saya yakin, kita bisa menemukan karakter quixtotic ini semakin banyak di penulis-penulis lain yang muncul selepas Cervantes, untuk memperlihatkan betapa besar pengaruhnya. Jika Anda tak punya banyak waktu untuk membaca Don Quixote, saya rasa Anda bisa membaca Exemplary Stories ini sebagai permulaan mengetahui dunia rekaan Cervantes. Di sana Anda bisa menemukan Don Quixote dalam bayang-bayang.

Gagasan Kecil Tentang Penerjemahan dari dan ke Bahasa yang Sama

Karena memutuskan untuk lebih banyak membaca karya-karya klasik yang telah berumur paling tidak lebih dari satu abad, saya mulai menemukan buku-buku dengan berbagai versi terjemahan. Tentu saja ini menguntungkan sebagai pembaca, saya bisa memilih dengan berbagai pertimbangan. Meskipun begitu, kadang-kadang saya malah membaca lebih dari satu versi. Misalnya Don Quixote. Pertama kalinya saya membaca terjemahan Bahasa Inggris karya Pierre Antoine Motteux (meskipun terbit pertama kali sekitar 1700, banyak diterbitkan dan karenanya murah. Itu alasan saya dulu membelinya). Beberapa tahun yang lalu, terbit terjemahan baru Don Quixote karya Edith Grossman. Bagi pembaca sastra Amerika Latin, siapa yang tak kenal Edith Grossman? Ia melanjutkan kerja Gregory Rabassa untuk menerjemahkan karya-karya Márquez yang lebih baru, belum termasuk karya-karya penulis Latin lainnya. Saya tak bisa menahan diri untuk tak membaca kembali Don Quixote dalam terjemahan baru. Hal yang sama terjadi pada Arabian Nights (atau kita kenal sebagai Hikayat Seribu Satu Malam). Ada satu terjemahan klasik karya Richard F. Burton (pertama kali terbit tahun 1885, sangat disukai oleh Borges). Hampir sebagian besar penulis Barat membaca Arabian Nights dari versi Burton ini, yang juga merupakan versi yang saya baca (bukan yang pertama, sebab saya pernah membaca versi sederhana dalam Bahasa Indonesia, yang saya lupa terbitan mana). Sebenarnya versi ini sangat lemah dalam aspek orisinalitas. Burton memakai sumber yang berbeda-beda untuk terjemahannya. Beberapa dekade yang lalu, muncul edisi “kritis” (melalui penelitian akademis yang ketat), yang dikenal sebagai “versi teks Leiden” yang dikurasi oleh Muhsin Mahdi. Terjemahan Bahasa Inggris versi ini dilakukan oleh Husain Haddawy (saya rasa terjemahan Bahasa Indonesia ada juga yang mendasarkan versi ini). Saya menyukai versi Husain Haddawy (Volume 1 bisa dibilang yang asli, Volume 2, bisa dibilang untuk menyenangkan hasrat pembaca meskipun cerita-cerita di dalamnya bukan bagian dari Arabian Nights, seperti dongeng tentang Sinbad, dll). Bahasa Inggris Haddawy terasa lebih enak dibaca, tentu karena lebih modern, daripada Burton. Tapi saya masih sering membaca Burton juga karena alasan sederhana: ada cerita-cerita yang ada di Burton tapi tak ada di Haddawy (karena metodologi Burton lemah, sering memasukkan cerita yang bukan Arabian Nights, tapi malah membuatnya jadi menarik), seperti kisah yang saya sukai “The Ruined Man Who Became Rich Again Through a Dream”. Baru-baru ini penerjemah penting Bahasa Jerman ke Inggris, Susan Bernofsky merilis versi baru The Metamorphosis Franz Kafka. Saya lupa sudah baca berapa versi novela ini. Saya bahkan pernah menerjemahkannya (yang saya rasa kualitasnya menyedihkan). Saya tak bisa menahan diri, saya pasti akan membaca versi ini begitu bukunya beredar di pasar. Untuk karya-karya dari Rusia, pasangan penerjemah Richard Pevear dan Larissa Volokhonsky menjadi bintang terjemahan Bahasa Inggris versi baru dalam belasan tahun terakhir. Saya membaca beberapa karya Gogol dan Nikolai Leskov melalui terjemahan baru mereka (saya menunggu dan berharap mereka mau menerjemahkan kembali Gorky). Dari pengalaman kecil ini saya berpikir, enak sekali ya, jadi pembaca karya-karya terjemahan (terutama Bahasa Inggris, sebenarnya). Ada banyak pilihan dan untuk karya-karya agung, selalu ada versi terjemahan yang segar dalam bahasa yang modern. Tentu selain faktor-faktor kesalahan terjemahan, salah metodologi atau salah sumber, faktor “keusangan” bahasa menjadi sangat penting. Bahasa selalu tumbuh dan berkembang, dengan begitu karya terjemahan juga seringkali memerlukan pembaharuan untuk mengikuti target pembacanya. Bahkan penulis-penulis yang masih hidup pun, beberapa di antaranya memperbaharui terjemahan karyanya (dengan beragam alasan). Misalnya Milan Kundera pernah menyibukkan diri dengan merevisi hampir seluruh karyanya dalam terjemahan Bahasa Inggris. Orhan Pamuk juga mengeluarkan The Black Book dalam versi terjemahan baru. Sekali lagi, kita sebagai pembaca dimanjakan dalam perkara ini. Saya misalnya tak perlu membaca The Divine Comedy dalam terjemahan kuno, sebab ada terjemahan baru yang segar karya Clive James. Atau karya Ryūnosuke Akutagawa (Rashomon and Seventeen Other Stories) yang diterjemahkan kembali oleh salah satu penerjemah Murakami, Jay Rubin. Sialnya, kemewahan ini tak berlaku justru untuk pembaca bahasa asli karya tersebut ditulis. Orang Spanyol, misalnya, tetap membaca Don Quixote dalam Bahasa Spanyol Cervantes abad ke-17, sebagaimana orang Prancis membaca Pantagruel François Rabelais dengan Bahasa Prancis abad ke-18. Dalam kasus kita, kita tetap akan membaca Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat Asrul Sani dalam Bahasa Indonesia generasi 45 (yang untuk banyak anak muda, terasa jadul dan menjadi tembok penghalang). Saya jadi memikirkan gagasan sinting ini: bagaimana jika karya-karya klasik itu diterjemahkan ke bahasa yang sama tapi lebih modern? Tentu kita tahu, banyak beredar karya-karya klasik yang ditulis ulang (dalam bahasa yang sama) agar lebih mudah dibaca. Tapi biasanya itu versi ringkas, atau versi “enak dibaca” untuk para pemula (anak sekolah yang sedang belajar), atau bahkan versi penyederhanaan. Bukan. Maksud saya bukan itu. Maksud saya tetap terjemahan, yang ketat, dengan kualitas yang tinggi, tapi modern. Tidak boleh disadur. Proses yang sama seperti menerjemahkan dari Prancis ke Inggris atau dari Rusia ke Spanyol, tapi kali ini dari Spanyol ke Spanyol atau dari Rusia ke Rusia. Bayangkan saja suatu ketika ada edisi Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat yang “diterjemahkan ke Bahasa Indonesia modern oleh A.S. Laksana”, misalnya. Atau, Don Quixote yang “diterjemahkan ke Bahasa Spanyol modern oleh Javier Marías”. Sekali lagi, gagasan ini mungkin tidak baru, dan terdengar seperti melecehkan karya-karya agung, tapi kenapa tidak? Paling tidak, bagi saya, itu terdengar menyenangkan dan sedikit menantang. UPDATE: Baru membaca soal ini, bahwa novel (konon novel pertama di dunia) Tales of Genji karya Murasaki Shikibu dari abad 11, “diterjemahkan” ke Bahasa Jepang abad 20 oleh penyair Akiko Yosano.

Out Stealing Horses, Per Petterson

Hari ini seorang teman bertanya, apa yang membuat saya menyukai karya-karya Knut Hamsun. Ia mengingatkan saya, tak banyak pengaruh Hamsun dalam karya saya, juga mengingatkan saya, bahwa Hamsun dekat dengan Nazi. Saya tak tertarik dengan Nazi-nya, jika ia memang seorang Nazi. Seorang Marxis dan komunis seperti Maxim Gorky mengagumi karya-karya Hamsun juga. Seorang Yahudi seperti Isaac Bashevis Singer juga pengagum Hamsun. Dengan mudah kita melihat pengaruh Hamsun di kedua penulis tersebut. Bagi saya, realisme Hamsun memang menarik. Metodenya seperti membalik apa yang dilakukan Dostoyevsky. Jika Dostoyevsky menceritakan manusia dengan cara menerobos masuk ke dalam diri manusia, Hamsun memakai cara yang sama mengeluarkan isi manusia ke lingkungan sekitarnya. Di Growth of the Soil, kita membaca jiwa si manusia melalui apa yang dilakukannya di tengah hutan, bagaimana ia menebang pepohonan, memelihara ternak, berkebun. Si tokoh yang bahkan tak banyak bicara ini, kita bisa mendengarnya sebagaimana kita serasa mencium aroma jerami, tai ternak, dan udara hutan. Saya bukan penggemar sastra Norwegia, juga bisa dibilang tak tahu apa-apa soal itu. Tapi di kepala saya, penulis yang memuncaki hirarki kesusastraan versi saya adalah Knut Hamsun, penulis Norwegia. Saya tak yakin saya akan menulis novel, bahkan menulis blog ini, tanpa pernah mengenal Hamsun. Saya menyinggung soal sastra Norwegia karena pernah seorang teman berkata, “Jika ada sastrawan Indonesia terkenal di dunia, dunia pasti akan memerhatikan kesusastraan Indonesia.” Sebagai warga negara yang baik, saya harus akui, impian semacam itu tentu saja indah. Tapi saya tak terlalu yakin dengan kenyataannya. Saya menyukai Gabriel García Márquez, tapi itu tidak dengan dengan serta-merta membuat saya penasaran dengan sastra Kolombia. Saya tidak yakin juga, sebagian besar orang yang menyukai Milan Kundera akan dengan serta-merta penasaran pengin tahu kesusastraan Ceko. Sebagian besar penulis terikat dengan kesusastraan negaranya, tapi dalam banyak kasus, seorang penulis dan karyanya menarik karena ia adalah dirinya, bukan karena bagian dari kesusastraan tertentu. Meskipun begitu, ketika saya menemukan dan membaca novel Out Stealing Horses karya Per Petterson, dan mengetahui ia penulis Norwegia, mau tak mau saya teringat kepada berhala saya, Hamsun. Dan semakin membaca halaman demi halaman novel tersebut, saya semakin melihat di sana-sini Hamsun seperti muncul kembali. Barangkali karena lanskap dan cara bercerita mereka yang mengingatkan satu ke yang lainnya. Hutan dan penebangan pohon di novel ini mengingatkan saya ke hutan di Growth of the Soil (meskipun saya rasa, yang satu di bagian selatan, yang lain di utara), atau lanskap hutan di Pan. Suasana pedesaan dan penghuninya (ah, termasuk gadis pemerah susu yang membuat kemaluan si tokoh menggelembung di balik celananya), mengingatkan saya pada suasana pedesaan di The Wanderer. Cara Per Petterson mendeskripsikan lanskap dan lingkungan sekitar untuk memberi suara kepada dunia dalam si tokoh, saya rasa merupakan warisan Hamsun yang sudah saya sebut di atas. Meskipun begitu, ada hal yang sangat jelas membedakan keduanya. Di sebagian besar (jika tak bisa bilang semuanya!) novel Hamsun, cerita didorong oleh motif-motif dan kehendak yang keluar dari si tokoh utama (dan biasanya, memang hanya menceritakan satu tokoh utama). Di Hunger, seluruh bangunan cerita disusun oleh motif si tokoh yang ingin menjadi penulis. Di Growth of the Soil, peristiwa demi peristiwa terjadi diawali oleh keputusan si tokoh untuk masuk hutan dan membangun “peradaban” di sana. Di The Wanderer, semuanya dimulai karena kehendak si tokoh untuk mengembara. Dalam hal ini, Per Petterson sedikit berbeda: nasib si tokoh tidak melulu ditentukan oleh pilihan dan kehendaknya, tapi boleh jadi oleh apa yang dilakukan oleh orang lain. Dalam hal ini, bagaimana si tokoh terpengaruh oleh apa yang dilakukan ayahnya dengan perempuan lain, dan oleh peristiwa penembakan seorang bocah sepuluh tahun atas saudara kembarnya. Ini dua tradisi bercerita yang sangat berbeda. Yang satu seperti efek domino di mana satu kartu dijatuhkan dan akan menjatuhkan kartu-kartu lain secara berkesinambungan, yang kedua seperti permainan karambol (atau biliard), di mana satu bola digerakkan dan membuat beragam gerakan berantai (yang sangat tak beraturan) tergantung posisi bola-bola lain. Meskipun dalam karya-karya Hamsun kita seperti melihat garis lurus, membaca Per Petterson ini membuat saya kangen membaca kembali novel-novel Hamsun. Ada yang kurang dimiliki Petterson tapi dimiliki Hamsun secara melimpah: humor.

Older posts

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑