Eka Kurniawan

Journal

Tag: Miguel de Cervantes (page 1 of 2)

Karakter Datar dan Karakter Bulat

Sebagai penulis yang cenderung “memungkinkan segala cara”, saya sering berpikir-pikir ketika ditawari untuk memberikan semacam bengkel kerja penulisan. Kecenderungan memungkinkan segala cara lahir dari ketidakpercayaan saya kepada otoritas apa pun dalam menulis: saya tak percaya ada aturan tunggal untuk menyampaikan gagasan dalam bentuk tertulis, sebagaimana saya tak percaya ada otoritas tunggal yang menentukan makna hasil tulisan. Saya percaya beragam kemungkinan bisa dilakukan, yang penting penulisnya nyaman. Setelah itu, pembacanya semoga juga nyaman. Kenapa semoga? Sebab tak ada yang bisa menjamin penerimaan pembaca bisa seragam. Karya paling hebat di dunia pun tak akan mungkin membuat nyaman apalagi senang semua pembaca. Lah, jika saya tak memercayai satu otoritas, satu jenis “school” (itulah kenapa disebut “school”, saya rasa!), bagaimana saya menyampaikan pelatihan menulis? Banyak teman suka mengingatkan, penulis pemula akan pusing mengikutinya (beberapa juga suka pusing mengikuti jurnal saya ini). Mereka berkeyakinan bahwa satu paradigma tertentu harus dipilih, satu jenis “aliran” (“school”) harus diterapkan. Baiklah. Paradigma saya tentu saja bersifat anarki, dan “aliran” saya sudah jelas: pergunakan segala kemungkinan yang paling cocok untuk dirimu. Buat saya sangat penting bahwa setiap penulis harus menemukan cara mereka sendiri untuk menulis; demikian pula, sangat penting bagi pembaca memiliki kemerdekaan untuk bebas membaca dengan cara mereka. Otoritas (siapa pun yang teriak-teriak “harus begini, harus begitu”) sudah saatnya istirahat di lubang kakus. Teriakan mereka tak membuktikan kepala mereka ada isinya, hanya membuktikan mereka punya bacot dan berisik (ini berlaku di sastra maupun di kehidupan politik). Kita bisa mengikuti jalan setapak yang pernah dirintis oleh pendahulu kita (kalau mau), sebagaimana kita juga boleh membuat jalan setapak baru (kalau mau), atau menimbun semua jalan setapak (juga kalau mau), atau apa pun. Mari membuat ilustrasi: selama beberapa dekade, E.M. Forster (melalui bukunya Aspects of the Novel) menjadi sejenis otoritas dalam membangun karakter. Menurutnya, karakter yang baik di dalam novel haruslah bulat (dengan begitu, karakter yang datar berarti buruk, atau setidaknya kelas dua). Kenapa begitu? Tentu karena karakter yang bulat konon dekat dengan kehidupan. Juga memiliki aspek-aspek mengejutkan (yang dibutuhkan oleh drama. Drama, saudara-saudara!), karena karakter bisa terlihat dari berbagai sudut. Beberapa ditampilkan, beberapa yang lain tersembunyi, atau samar-samar, sebelum muncul di belakang. Karakter yang bulat juga memungkinkan mereka berkembang, berubah, mengikuti alur cerita atau problem-problem yang dihadapinya. Sekali lagi, seperti dalam kehidupan manusia. Pertanyaannya: benarkah itu seperti kehidupan? Semua orang juga tahu novel, tulisan, teks, tak pernah bisa menggambarkan kehidupan ini dengan sempurna. Itu kan hanya ilusi kaum realis ortodoks saja. Coba kita lihat argumen ini dari sisi sebaliknya, mengenai karakter yang datar. Benarkah karakter yang datar tidak menarik? Karakter datar biasanya dikritik karena ia hanya memperlihatkan bentuk yang mudah dikenali, tetap begitu dari awal sampai akhir. Komik. Seperti kartun. Nah, itu! Apa salahnya seperti komik, dan kartun? Banyak karakter seperti itu dalam kesusastraan (yang adiluhung sekalipun), dan tetap menarik. Don Quixote? Dia tak ada bedanya dengan Donal Bebek, sayangku! Dijungkir-balikkan seperti apa pun, Don Quixote akan tetap seperti itu, dan bagi saya tetap menarik. Pangeran Myshkin dalam The Idiot Dostoyevsky juga mendekati datar. Kita belum bicara tentang karakter-karakter minor. Yang tolol adalah menilai Don Quixote seperti kamu menilai Mrs. Dalloway atau Madame Bovary (meskipun tak dilarang, tapi saya tetap akan menganggapnya tolol). Dalam hal ini, Cervantes mungkin akan bilang, “Ngentot dulu lah, biar otak seger dikit!” Itu hanya satu contoh bahwa sejenis otoritas yang telah lama berkuasa memang perlu dipertanyakan dan ditantang (Poetic Aristoteles, juga). Lantas, jika saya tak memercayai satu jenis pilihan tertentu, apa yang bisa saya sampaikan di bengkel kerja penulisan? Jawabannya sederhana: memberi pilihan-pilihan itu, kemungkinan-kemungkinan itu. Anda tak perlu mengikuti jalan setapak yang ada (termasuk setapak yang saya lampahi); juga boleh mengubur setapak yang ada (termasuk mengubur gagasan saya tentang menulis ini). Tapi penting untuk memilih sesuatu dan merasa nyaman dengan itu, dan jika ada yang menganggap pilihanmu salah, punya nyali untuk mengacungkan jari tengahmu (kalau perlu, berilah sedikit orgasme). Pelajaran menulis, pada akhirnya merupakan pelajaran berpolitik.

“The Best Books I Never Wrote” (published by Stuff) is about 5 books I admire.

Tanya-Jawab: Pengaruh Sastrawan Indonesia

F Daus AR: Ini pertanyaan agak pribadi. Sejauh mana pengaruh sastrawan Indonesia terhadap karya yang Anda gubah. Nama yang saya maksud di luar sastrawan Indonesia yang sudah sering dibahas di jurnal. Misalnya saja, Kuntowijoyo, yang wafat 22 Februari 2005 silam.

Jawabannya juga agak pribadi. Ada satu peristiwa yang pernah membuat saya sangat sedih. Seperti saya pernah mengatakannya, [Cantik Itu Luka], novel pertama saya pernah ditolak beberapa penerbit. Oh, itu bukan bagian sedihnya. Soal itu saya tak terlalu peduli, dan di masa itu saya masih cukup punya kepercayaan diri anak muda bahwa cepat atau lambat saya akan menemukan satu cara untuk menerbitkannya. Hal yang membuat saya sedih datang beberapa tahun kemudian. Akhirnya saya bertemu dengan satu editor yang pernah menolak novel tersebut (nama dan tandatangannya memang tertulis di nota kecil penolakan itu), dan dia secara terus-terang bilang membaca novel saya dan menolaknya, salah satu alasannya: novel itu tidak masuk kriteria/preferensi dia mengenai novel sastra yang bagus. Menurutnya, novel sastra yang bagus mestinya seperti novel-novel Mangunwijaya, Kuntowijoyo, Ahmad Tohari. Tentu saja saya kemudian membaca beberapa karya mereka, dan saat itulah saya merasa sangat sedih. Saya sedih karena saya tahu persis: 1) saya tak ingin menulis novel seperti mereka, 2) jika ukuran kesusastraan (Indonesia) yang bagus diukur dengan karya-karya mereka, saya merasa tak memiliki tempat di peta kesusastraan dan kemungkinan besar saya tak ingin menjadi penulis. Meskipun begitu, di tengah kesedihan itu, saya patut bersyukur bahwa saya mendengarnya setelah “telanjur” jadi penulis, di usia saya yang jauh lebih dewasa, dan apa pun yang dikatakan orang tentang “sastra Indonesia yang bagus”, saya dengan keras kepala bisa membuat patok sendiri di hamparan peta itu, untuk saya dan karya-karya sendiri. Atau jika tidak diberi tempat, saya akan membuat peta sendiri. Jadi menjawab pertanyaan di atas, saya kuatir bahwa pengaruh penulis-penulis ini atas saya bisa dikatakan kecil atau tidak langsung. Bukan karena saya tak suka atau mereka tak bagus, tapi sesederhana bahwa saya memang baru mengenalnya belakangan. Dalam hal ini, saya akan mundur ke belakang. Izinkan saya menceritakan sejarah membaca saya, yang barangkali bisa menjelaskan kenapa hanya segelintir penulis Indonesia (yang itu-itu saja) yang sering saya bicarakan, dan yang pengaruhnya banyak membekas, dan kenapa ada begitu panorama kesusastraan Indonesia yang saya “tinggalkan” dan menciptakan lubang besar. Saya jarang menceritakan hal ini, dan hanya pernah sekali menceritakannya secara lengkap kepada seorang pengamat Indonesia yang penasaran karena “tampaknya saya tak terlalu peduli dengan penulis-penulis Indonesia” (dia bilang kepada saya, ini sejenis arogansi yang juga ada pada Pramoedya, hahaha). Baiklah, saya bisa dibilang tak memiliki sejarah yang baik dengan kesusastraan Indonesia. Hingga selesai SMA, tak banyak karya “sastra” yang saya baca. Anda semua tahu bagaimana pendidikan kita di tahun 80-90an. Saya tinggal dan sekolah di sebuah kota kecil, Pangandaran. Tak ada toko buku dan tak ada perpustakaan. Saya memang senang membaca buku, tapi yang bisa saya peroleh hanyalah novel-novel “picisan”: Asmaraman S. Kho Ping Hoo, Abdullah Harahap, Bastian Tito, buku stensilan. Sebagai selingan, saya juga membaca Enid Blyton, Karl May. Lupakan kanon-kanon sastra Indonesia, saya tak pernah melihatnya. Jika di masa remaja itu saya ingin menjadi penulis novel, sudah pasti novel yang ingin saya tulis adalah novel horor atau cerita silat. Saya pernah mencobanya sebelum dibuang ibu saya karena kertas-kertas itu menumpuk dan menjadi makanan rayap. Selesai SMA, saya pindah ke Yogyakarta. Kuliah di UGM. Melanjutkan kegemaran membaca (yang tak terpuaskan di kondisi kota kecil tempat saya tinggal), saya dibuat terpana menemukan perpustakaan. Sepanjang masa kuliah, saya menghabiskan lebih banyak waktu di perpustakaan, dan favorit saya selama enam tahun itu adalah ruangan kecil di perpustakaan kampus di mana saya bertemu Toni Morrison, Salman Rushdie, Gabriel García Márquez, Leo Tolstoy, Dostoyevsky, Melville, Knut Hamsun dll (ada satu rak yang dipenuhi oleh buku-buku terbitan Everyman’s Library). Tololnya saya, bahkan saat itu saya tak sadar tengah menghadapi kanon-kanon kesusastraan dunia. Bagi pikiran anak pantai ini, saya hanya sesederhana membaca novel, melanjutkan kegemaran saya. Saya lumayan beruntung bisa membaca bahasa Inggris. Ayah saya yang mengajari sejak kecil, meskipun seperti saya, dia mengajar sambil lalu dan ogah-ogahan. Baru bertahun-tahun kemudian saya menyadari (orang lain yang kemudian mengatakannya kepada saya), masa awal 90an itu merupakan “lompatan” dalam sejarah membaca saya. Dari sastra picisan yang dibaca di masa remaja, saya kemudian “melompat” membaca kanon-kanon dunia. Di antara kedua jenis bacaan itu, saya melewatkan karya-karya “kanon” kesusastraan Indonesia, kecuali Pramoedya Ananta Toer yang saya peroleh dari beberapa teman di masa-masa kami turun ke jalan, melemparkan batu ke polisi, antara tahun 1996-1998. Saya selalu percaya, selera kita jauh lebih banyak terbentuk ketika kita masih muda. Maka jika saat ini ada yang bertanya karya sastra macam apa yang ingin saya tulis, jawaban saya kurang-lebih masih sama seperti di masa remaja: saya ingin menulis novel silat atau novel horor. Dan sastra yang bagus bagi saya, karena dipengaruhi oleh sejarah bacaan, saya tak bisa tidak merujuk ke Hamsun, Melville, Cervantes. Jika saya boleh berbagi ambisi, (mungkin sederhana, mungkin tidak), saya ingin menulis seperti Kho Ping Hoo, Abdullah Harahap, sekaligus seperti Cervantes atau Melville, atau Gogol. Saya baru membaca sastra Indonesia secara lebih banyak, dan “sadar”, justru setelah saya memutuskan untuk menjadi penulis, selepas 1999. Saya tahu, saya sangat terlambat, tapi saya tak bisa memutar ulang waktu. Dan di umur dewasa seperti sekarang, sangat sulit untuk mengubah selera. Otak kita cenderung menjadi lebih bebal dan membatu bersama dengan bertambahnya usia. Lagipula, haruskah saya mengubah selera sastra saya? Bagi saya bukan tindakan kriminal menempatkan Kho Ping Hoo, Abdullah Harahap dan Pramoedya di atas penulis-penulis Indonesia lainnya. Mereka jelas-jelas memberi arti penting tak hanya dalam karya saya, tapi juga dalam hidup saya. Tanpa sastra picisan itu, saya akan menjalani masa remaja yang membosankan. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para penulis yang telah meletakkan patok-patok dalam sejarah kesusastraan nasional kita, tak bisa tidak, selamanya saya akan berterima kasih kepada sastra picisan, melebihi kanon-kanon kesusastraan Indonesia lainnya.

Exemplary Stories, Cervantes

Saya rasa, Cervantes seorang master karakter. Untuk mahakaryanya, Don Quixote, Milan Kundera pernah bilang, “Don Quixote sejatinya tak terbayangkan sebagai manusia hidup, tapi, dalam kenangan kita, karakter mana (lagi) yang lebih hidup (daripada Don Quixote)?” Demikian kuatnya karakter si lelaki tua yang merasa dirinya sebagai ksatria pengembara, yang gila karena kelewat banyak membaca novel-novel kepahlawanan, kebesarannya bahkan melampaui nama penulisnya sendiri (saya yakin di dunia ini lebih banyak yang mengenal Don Quixote daripada Cervantes). Keyakinan saya atas ini, bahwa Cervantes merupakan master pencipta karakter, diperkuat setelah membaca cerita-cerita dalam Exemplary Stories, yang terbit di antara bagian satu dan bagian dua Don Quixote. Kita tahu, seluruh cerita pada dasarnya bisa disederhanakan dalam satu formula sederhana, “Apa yang terjadi jika …” Bagian titik-titiknya akan diisi oleh para penulis, dan setiap penulis saya rasa punya kecenderungan tertentu yang tentu saja berbeda-beda. Ada yang mengisi titik-titik itu dengan spekulasi peristiwa, ada yang mengisinya dengan karakter dan situasi yang dihadapinya. Saya ingin memberi contoh, dalam kebanyakan novel-novel José Saramago, kita menghadapi situasi di mana ada skenario yang tak lumrah. Apa yang terjadi jika Ricardo Reis bertemu dengan hantu Fernando Pessoa (dalam The Year of the Death of Ricardo Reis), sebab sebagaimana kita tahu, Ricardo Reis dan Fernando Pessoa tak lain merupakan orang yang sama (meskipun bisa dibilang penyair yang berbeda). Apa yang terjadi jika seseorang melihat manusia lain yang mirip dirinya di dalam sebuah video (dalam The Double); atau apa yang terjadi jika satu kota tiba-tiba terjangkit wabah buta (dalam Blindness). Cervantes, pada dasarnya juga bekerja dengan formula sederhana itu, tapi ia membangun ceritanya di seputar karakter. Karakter-karakter Cervantes sebenarnya tidak bisa dibilang tak lumrah. Mereka karakter-karakter yang mudah dikenali. Yang membuatnya menjadi menarik, karakter-karakter ini seperti dilihat dengan kaca pembesar. Mereka menjadi hiperbola, dan seperti orang yang mabok jamur kotoran sapi, melihat dunia dengan cara juga berlebihan. Kita tahu, seperti itulah Don Quixote. Dalam cerita-cerita di Exemplary Stories, kita akan menemukan manusia-manusia semacam itu juga. Dalam cerita “The Glass Graduate”, Cervantes mengisahkan seorang sarjana hukum yang dipelet (ya, diberi ramuan cinta) oleh seorang perempuan yang tergila-gila kepadanya. Pelet itu tak manjur, tapi malah memberi efek samping. Selain membuat si sarjana hampir mati, ramuan itu juga membuatnya gila: ia merasa tubuhnya terbuat dari kaca. Rapuh. Bayangkan manusia macam apa yang harus hidup dengan pikiran bahwa tubuhnya bisa hancur berkeping-keping hanya karena tersenggol! Di cerita yang lain, “The Jealous Extremaduran”, kita bertemu dengan lelaki setengah baya yang pencemburu berat. Ketika ia menikah dengan gadis muda, ia mulai terjangkit penyakit cemburu ini. Ia takut isterinya bertemu pemuda lain, ia takut ada pemuda lain melihat isterinya. Ia memutuskan mengurung isterinya di rumah, dengan pintu berlapis-lapis, dan satu-satunya jendela hanya menghadap langit. Familiar dengan karakter-karakter ini? Ya, jika kita mengenal istilah “quixotic”, saya rasa cerita-cerita ini memiliki sifat dan situasi yang sama. Membaca cerita-cerita Cervantes ini membuat saya teringat satu penulis lain. Saya rasa salah satu “murid” Cervantes yang hadir beberapa abad kemudian: Italo Calvino. Saya membaca tiga novelanya yang kemudian disatukan dalam buku Our Ancestors. Dengan bertumpu pada karakter dan situasi tak lazim yang dihadapinya, saya rasa Calvino juga menciptakan dunia yang quixotic ini. Dalam The Cloven Viscount, kita berhadapan dengan seorang bangsawan yang pergi berperang dan tubuhnya terbelah menjadi dua. Sialnya, kedua tubuh itu tetap hidup dengan masing-masing membawa sifat yang bertolak-belakang; yang satu jahat, yang lain baik. Di Baron in the Trees, kita bertemu dengan seorang anak keras kepala, yang karena sumpahnya (setelah bertengkar dengan ayahnya di meja makan), memutuskan untuk hidup di atas pohon. Di novela terakhir, The Non-Existent Knight, kita bertemu dengan karakter ksatria berbaju jirah yang tak ada isinya, sebab ia memang ksatria yang “tidak ada”. Saya yakin, kita bisa menemukan karakter quixtotic ini semakin banyak di penulis-penulis lain yang muncul selepas Cervantes, untuk memperlihatkan betapa besar pengaruhnya. Jika Anda tak punya banyak waktu untuk membaca Don Quixote, saya rasa Anda bisa membaca Exemplary Stories ini sebagai permulaan mengetahui dunia rekaan Cervantes. Di sana Anda bisa menemukan Don Quixote dalam bayang-bayang.

Aristoteles, Novel Sebagai Kehidupan Potensial

Apakah novel yang baik merupakan novel yang membuat pembacanya percaya pada isinya? Apakah kualitas Don Quixote terletak pada kemampuannya meyakinkan kita bahwa sang tokoh memang gila karena membaca kisah-kisah para ksatria? Apakah kualitas Alf Layla wa Layla ditentukan oleh kemampuannya meyakinkan kita bahwa melalui dongeng-dongengnya, Syahrazad bisa mengulur hasrat suaminya untuk membunuh dirinya? Beberapa tahun lalu, saya akan mengatakan iya; tapi lama-kelamaan saya menjadi ragu. Berkali-kali membaca kedua karya tersebut justru membuat saya tak perlu memercayai apa pun yang ada di sana untuk membuat karya-karya tersebut bagus (atau menghibur saya). Bagaimanapun, kisah seorang perempuan yang terbebas dari pancung hanya melalui dongeng yang diulur bermalam-malam, sebenarnya terdengar konyol dan tak meyakinkan. Tak masuk akal. Beberapa bagian dari pemikiran Aristoteles di Poetic barangkali memberi dasar bagi keragu-raguan saya. Tentu saja Aristoteles tak pernah bicara tentang novel. Di masanya, novel belum juga dilahirkan. Meskipun begitu, seni bercerita melalui seni pertunjukan di atas panggung, yang kemudian kita kenal sebagai drama atau teater, tengah mencapai puncaknya dalam kehidupan orang Yunani, terutama di Athena. Apa yang kita kenal sebagai Tragedi Yunani dilahirkan di masa-masa itu, dan Aristoteles merupakan salah satu komentatornya yang paling cemerlang. Tak hanya tragedi, tentu saja, mereka juga melahirkan komedi. Intinya, mereka melahirkan suatu seni bercerita dan Aristoteles merupakan salah seorang pemikir yang mencoba merumuskan apa itu seni bercerita. Mundur sedikit ke belakang, Plato menganggap bahwa seni pada dasarnya merupakan tiruan (mimesis) kehidupan. Pandangannya ini berasal dari gagasan idealismenya: kehidupan ini sendiri merupakan tiruan dari dunia ide. Ada akibat yang sangat jelas dari gagasan Plato ini: seperti tas Louis Vuitton tiruan, kehidupan ini selalu bersifat tidak sempurna, rapuh, buruk dan segala hal negatif lainnya. Demikian pula seni berarti barang yang lebih tidak sempurna, rapuh dan buruk. Aristoteles, sebagai murid Plato, mengaimini pandangan tersebut tapi dengan perubahan yang sangat mendasar dan bisa dibilang mendekati gagasan modern mengenai “fiksi”. Ia sepakat bahwa seni merupakan tiruan dari kehidupan, tapi ia menjabarkannya lebih lanjut bahwa ada tiga pembeda karya seni yang satu dengan yang lainnya dilihat dari peniruannya. Pertama, medium peniruan. Itu bisa lukisan, musik, kesusastraan. Kedua, obyek tiruan. Itu bisa berarti kita meniru melodi di musik, meniru perilaku orang di pertunjukan drama, meniru gerakan dalam tari, dan lain sebagainya. Ketiga, bagaimana cara kita meniru. Saya kira bagian ketiga ini merupakan bagian yang sangat menantang dalam pemikiran Aristoteles. Ia tak banyak menjelaskannya (hanya menyebut misalkan dengan cara dramatik, naratif atau lirik), barangkali karena sederhananya bentuk-bentuk ekspresi kesenian di masanya. Dalam novel modern, kita tahu ada begitu banyak (bisa dibilang setiap novel memiliki caranya sendiri, atau setidaknya setiap novelis) bentuk dan cara. Bayangkan, setiap penulis bisa memilih media yang sama (novel), tentang hal yang sama (misal tentang Perang Troya), tapi akan melakukannya dengan cara yang berbeda. Dengan cara itulah, seni (secara khusus novel) merupakan tiruan kehidupan, tapi sekaligus bukan tiruan sebab dengan sadar ada aspek-aspek pembeda yang disisipkan ke dalam dirinya. Inilah saya kira inti pemikiran Aristoteles. Artinya? Cervantes tidak semata-mata meniru kehidupan manusia gila pembaca novel-novel ksatria, tapi juga sebuah dunia yang secara potensial ada karena berbeda. Kembali ke permasalahan awal, apakah novel yang baik harus mampu meyakinkan kita bahwa dunia potensial ini bisa dipercaya? Saya meragukannya. Kehidupan potensial ini bagi saya selalu merupakan hipotesis. Hal yang mengasyikan dari kesusastraan bukanlah karena ia menciptakan dunia alternatif yang kokoh di mana kita bisa melarikan diri dari dunia nyata, tapi karena ia menciptakan dunia potensial yang bisa kita (pembaca) bawa ke mana pun sesuka kita. Lagipula, mungkinkah seorang penulis meyakinkan seluruh pembaca? Omong kosong. Tak ada penulis di dunia ini mampu melakukannya.

Identitas

Seperti saya telah tulis sebelumnya, atas undangan British Council saat ini saya tengah mengikuti Cooler Lumpur Festival, di Kuala Lumpur. Karena sedikit kecerobohan, saya hampir melewatkan satu program di mana saya mestinya membacakan sebuah karya. Untunglah saya menemukan satu terjemahan “Kutukan Dapur” (festival ini hampir seluruhnya dalam Bahasa Inggris) di blog dan bisa membacanya melalu telepon genggam. Setelah itu, bersama Miguel Syjuco (jika ada yang masih ingat, tahun lalu saya menulis tentang novelnya, Ilustrado, di jurnal ini) dan Adam Foulds bicara mengenai identitas di satu panel. Saya ingin sedikit membagi pandangan saya mengenai hal itu di sini, beberapa saya tulis ulang dari apa yang saya bicarakan di acara tersebut, dan sebagian saya tambahkan di sini. Kita sadar dalam banyak hal, dengan dunia yang semakin terbuka dan jejaring (terutama internet) menghubungkan komunitas budaya satu dan yang lainnya, dalam banyak hal kita merupakan konsumen budaya. Ini tentu saja pada akhirnya membentuk apa yang barangkali bisa disebut sebagai identitas budaya. Tapi saya rasa itu tak hanya terjadi di kita (Indonesia), tapi juga terjadi di mana-mana. Saya ingin memberi dua contoh yang tak ada hubungannya dengan sastra (minat utama saya): di dunia yang terhubung satu sama lain, dengan klub maupun tim nasionalnya masing-masing, orang di seluruh dunia menonton liga sepakbola Eropa. Kita semua merupakan konsumen liga-liga Eropa. Bahkan bisa dikatakan, fans liga Eropa sebagian besar berada di luar Eropa sendiri. Sebagai contoh: Liga Spanyol, menurut laman fans klub Barcelona di Facebook, penggemar Barcelona terbesar berada di Indonesia. Contoh lain, tengok musik apa yang didengar para remaja di Kuala Lumpur, Jakarta, Singapura, bahkan Tokyo dan Shanghai? Saya hampir yakin generasi belia ini sama mendengarkan musik yang kita sebut sebagai K-Pop, dengan nama-nama seperti Super Junior dan Girls’ Generation. Menurut saya, sepakbola Spanyol dan musik pop Korea telah menjelma menjadi sejenis “bahasa” yang dimengerti banyak orang. Mereka sadar, “identitas” yang mereka ciptakan ini bisa mereka jual, bisa menjadi semacam “brand”. Jadi apa itu identitas? Saya sebenarnya lebih membayangkannya sebagai sebuah piksel dari gambar raksasa. Titik piksel ini tentu saja kecil saja, tapi karena kita tak akan pernah mampu mengenali gambar raksasa, kita lebih banyak mengenali sesuatu melalui piksel-piksel ini. Seperti kita hanya mengingat seorang teman karena potongan rambutnya, atau aksen bicaranya. Identitas merupakan cara kita mengenali yang lain, dan bagaimana yang lain mengenali kita. Dengan kesadaran semacam itu, identitas bisa diciptakan, dan di sisi lain dipertahankan bahkan seringkali dengan cara brutal seolah tanpa itu kita kehilangan diri kita. Kita bisa mengambil sesuatu dari yang lain, mengakuinya sebagai milik sendiri dan menjadi sejenis identitas, sebelum kehilangan. Lihat sepakbola Spanyol (atau Barcelona) yang dikenal sebagai tiki-taka. Semua penggemar sepakbola tahu mereka mengambilnya dari sepakbola Belanda. Selama beberapa tahun terakhir, mereka memeliharanya dan menjadikannya sejenis identitas sepakbola mereka, dan beberapa malam lalu, Belanda kembali merampasnya seolah berkata, “Sepakbola seperti itu milik kami!” Dan apa yang kita kenal sebagai musik pop Korea pada dasarnya merupakan industri musik global: lagu diciptakan seniman dari satu negara Skandinavia, dinyanyikan penyanyi Korea, dan ketika tampil di panggung, kareografi dirancang oleh seniman Jepang. Tapi kita dengan sederhana menyebutnya sebagai “musik pop Korea”. Jika ada yang bertanya kepada saya apa yang saya ketahui tentang Spanyol, barangkali saya akan mengingat Cervantes, atau novel-novel Javier Marías dan Enrique Vila-Matas. Tapi penggemar sepakbola barangkali akan mengingat Spanyol dengan nama-nama seperti Andres Iniesta, atau Xavi. Atau penggemar balap akan mengingat Marc Marquez, manusia tercepat yang menunggangi motor Honda. Apa yang saya ingat dengan Korea? Karena saya tak banyak mengenal kesusastraan mereka, apa boleh buat, identitas Korea di benak saya dibangun oleh gadis-gadis cantik anggota Girls’ Generation. Sekali lagi, mereka sadar “identitas” budaya tersebut bisa dijual, dan kita di mana-mana menjadi konsumen kebudayaan ini. Salahkah menjadi konsumen? Apakah menjadi konsumen kebudayaan bisa mengikis identitas kebudayaan sendiri? Menurut saya, identitas bisa muncul dari mana saja, diciptakan maupun tidak. Tapi jika kita berharap memiliki identitas budaya yang baik, tak ada hal lain yang bisa kita lakukan kecuali menjadi produktif. Menjadi pencipta yang aktif. Bukan hal memalukan menjadi konsumen, yang memalukan adalah jika kita tidak memproduksi apa pun. Seperti kata para leluhur kita di tahun 45-an, “Kita ahli waris kebudayaan dunia”, tapi sekali lagi, jangan lupa untuk mewariskan sesuatu juga kepada dunia.

Dua Tradisi

Saya selalu membayangkan ada dua tradisi besar dalam bercerita/menulis novel (saya rasa sebenarnya dalam kesusastraan secara umum). Pertama, tradisi menulis dengan wadah; kedua tradisi menulis yang bebas mengalir. Saya tak yakin apakah istilah itu tepat atau tidak, tapi mari kita membayangkannya. Tradisi pertama, berawal atau berkembang dipengaruhi oleh tradisi panggung. Tradisi kedua, tentu saja berawal atau berkembang melalui tradisi mendongeng. Penyebutan pertama dan kedua ini bisa kita bolak-balik. Saya tak mengasumsikan yang satu lebih utama dari yang lain. Kenapa tradisi dari panggung ini saya bayangkan sebagai tradisi menulis dengan wadah? Ya bayangkan saja panggung sebagai wadah. Ada ruang terbatas sebesar panggung. Ada durasi waktu sebuah cerita akan dipentaskan. Jangan lupa, penonton juga dikondisikan di situasi tertentu: duduk di tempat penonton, memandang panggung dari sudut pandang yang tetap. Artinya, ada ruang-waktu yang secara ketat membatasi sejauh mana cerita akan disajikan. Keadaan ini secara langsung tentu saja sangat berpengaruh terhadap cara dan teknik bercerita. Saya melihatnya, tradisi ini menciptakan satu aturan-aturan dramatik yang sangat ketat. Jika kamu pernah dengar dari editormu, buang bagian yang tidak mengganggu cerita jika ia menghilang, maka saya yakin, editormu merupakan bagian dari aliran ini. Aliran yang menjunjung tinggi efisiensi. Aliran ini memerhatikan dengan ketat kapan sebuah karakter harus muncul, kapan permasalahan ditampilkan, di bagian mana konflik memuncak. Tentu saja dalam menulis novel, kita tidak membayangkan panggung. Meskipun begitu, bukan berarti tradisi ini, tradisi bercerita dengan wadah, tak terasa di novel. Bahkan saya melihat, pengaruhnya sangat kuat sekali. Saya bisa menyebut, Hemingway berada di tradisi ini. Kebanyakan sekolah menulis, akan mengajarkan aliran ini. Kita tak memerlukan panggung untuk membuat batasan-batasan ruang dan waktu, karena kita menciptakannya sendiri. Tentu saja bapak dari aliran ini, saya akan membayangkannya: Shakespeare. Aliran kedua, yang bersumber dari mendongeng, tentu bersifat sebaliknya. Ia mengasumsikan bebas ruang dan waktu (meskipun ya sebenarnya tidak). Sebagaimana layaknya dongeng, ia bisa diceritakan di mana dan kapan saja. Nyaris tak ada batasan durasi (bisa bersambung bermalam-malam layaknya Syahrazad di Hikayat Serbu Satu Malam). Pendengar dongeng juga bisa mendengarkan dongeng dengan cara apa saja, sambil tiduran, duduk di belakang pendongeng, atau di mana pun. Tak ada ruang dan waktu yang mengungkung, karena itu aturan-aturan ketat tangga dramatik tidak dikembangkan di sini. Yang berkembang adalah justru teknik “hipnotis”, teknik mencengkeram minat pendengar dongeng dengan apa pun tergantung situasi (karena situasinya tidak bisa dikendalikan, sebagaimana keadaan di ruang pertunjukan). Kadang-kadang pendongeng mengambil teknik dramatik panggung, tapi lain kali ia mungkin menyanyi untuk membuat pendengarnya betah, lain kali ia melantur dulu ke cerita yang lain. Disgresi, permainan kata, bunyi, berkembang di aliran ini yang bebas-merdeka selama pendongeng yakin bisa mempertahankan pendengarnya. Di aliran ini kita bisa menemukan kisah yang semena-mena, novel yang tak ke mana-mana (bayangkan If On A Winter’s Night A Traveler Italo Calvino), alur yang maju-mundur bertumpuk-tumpuk (bayangkan novel-novel Faulkner). Ada kesan aliran ini seenak udel sendiri, tapi saya rasa kesusastraan tak akan berkembang banyak tanpa mereka. Saya bayangkan editor harus bekerja keras melihat novel-novel seperti ini (dan mereka kadang tetap memakai ukuran “wadah” untuk mengatasinya). Aliran ini juga berkembang pesat. Ada Marquez. Ada Salman Rushdie. Ada James Joyce. Bapak dari semua penulis ini, tentu saja saya akan menyebut: Cervantes penulis Don Quixote. Saya menaruh hormat pada kedua kecenderungan ini (eh, jangan dilupakan para penulis yang kadang berada di area abu-abu keduanya), dan jauh di dalam hati kecil saya, saya selalu berpikir kondisi ideal menjadi penulis adalah menjadi Shakespeare dan Cervantes di waktu yang bersamaan. Berpikir tentang wadah sekaligus merasa mengalir bebas, atau sebaliknya. Itulah kenapa kita sering berpikir tentang aturan-aturan dalam menulis (seolah kita membayangkan menulis untuk ruang-waktu tertentu seperti panggung), sekaligus punya hasrat besar untuk melanggarnya (membebaskan diri sebagaimana pendongeng).

Gabriel García Márquez, Obituari

Bangun tidur dan melihat berita ringkas: raksasa kesusastraan abad 20, Gabriel García Márquez wafat pada umur 87 tahun (17 April 2014). Seharusnya itu tak mengejutkan. Ia sudah uzur, dan beberapa hari lalu masuk rumah sakit, dan alam semesta seperti juga manusia menciptakan segala sesuatu tidak untuk terus hidup abadi. Tapi bahkan dengan kesadaran seperti itu, serasa ada lubang menganga dalam peta kesusastraan di benak saya. Bagi saya, ia melebihi apa yang sering disematkan kepadanya: peraih Nobel Kesusastraan, patriarch fenomena el-boom, maskot realisme magis. Bagi saya, ia sesederhana raksasa kesusastraan abad 20 dengan sedikit pesimisme, barangkali kesusastraan dunia tak akan pernah menghasilkan manusia semacam ini lagi. Bagi saya, hanya sedikit raksasa pernah dilahirkan dan dikenal. William Shakespeare dan Miguel de Cervantes merupakan raksasa yang menandai suatu era kesusastraan modern. Setelah itu, saya ingin menyebut Herman Melville, yang terlihat seperti anak kandung dari perkawinan tak sah Shakespeare dan Cervantes. Abad 19 merupakan abad yang barangkali paling gegap-gempita, manusia mulai menengok wilayah yang selama ini seringkali diabaikan: di dalam dirinya. Era ini ditandai dua raksasa dari Rusia: Tolstoy dan Dostoyevsky. Di luar nama-nama itu, ada nama-nama penulis, ratusan atau bahkan ribuan. Mereka penulis-penulis hebat, besar, mengagumkan, tapi saya rasa kesusastraan dunia sebelum abad 20 hanya perlu dipatoki oleh lima nama itu saja. Anda bisa berdebat soal ini, tapi saya yakin kelima nama tersebut tak akan ke mana-mana. Mereka dengan penuh kepongahan telah mengencingi hampir seluruh karya kesusastraan yang diciptakan umat manusia. Abad 20 datang, dengan sisa-sisa kolonialisme yang renta, dua perang dunia, revolusi di mana-mana, negera-negara baru diciptakan, globalisasi merekatkan mereka. Penulis lahir di setiap sudut dunia, mereka hebat dan melahirkan karya-karya besar; tapi seperti sebelumnya, semua itu hanya perlu diberi tanda sederhana: abad ini melahirkan raksasa tunggal. Gabriel García Márquez. Gurunya orang-orang hebat, yang menyiapkan bahu mereka untuk pijakan raksasa ini dengan kerendahan hati: Hemingway, Faulkner, Kawabata, Kafka. Baru beberapa hari lalu saya membicarakannya dengan seorang teman, terutama mengenai esainya, yang saya rasa merupakan esai paling cemerlang tentang teknik menulis berjudul “Gabriel García Márquez Berjumpa dengan Hemingway”. Esai itu pendek saja, bercerita tentang pertemuan Márquez muda di jalanan Paris bersama Hemingway dan isterinya. Sebenarnya bukan pertemuan: si penulis melihat Hemingway di seberang jalan dan berteriak serta melambaikan tangan ke arahnya. Teman saya berkomentar pendek, sesuatu yang saya rasa sangat penting untuk diperhatikan sebab ini merupakan sedikit kunci untuk mengenali cara kerja menulisnya. “Bisa saja pertemuan dengan Hemingway itu bohong, tapi ia menuliskannya seolah-olah itu benar terjadi.” Jujur, komentar teman saya membuat saya sedikit terpaku. Selama bertahun-tahun membaca dan mengagumi esai itu, saya tak pernah terpikir oleh kemungkinan tersebut. Seluruh klaim pertemuan Márquez dengan Hemingway itu hanya datang dari si penulis sendiri, tapi peduli setan, esai itu tak banyak membicarakan pertemuan tersebut. Esai itu kemudian lebih banyak bicara tentang perbedaan cara menulis Hemingway dan Faulkner, yang saya rasa pendapatnya benar. Ia sendiri pernah berkata, satu fakta meyakinkan dari sebuah cerita, akan membuat seluruh cerita tersebut meyakinkan. Di esainya, ia membuktikan hal itu. Kecemerlangan gagasannya mengenai kepenulisan Hemingway dan Faulkner, membuat klaim pertemuan dirinya dengan sang maestro di jalanan Paris membuat itu juga tampak demikian meyakinkan. Kita tak lagi peduli benar atau salah. Seperti kebanyakan fans, saya membaca hampir seluruh karyanya. Juga wawancara dan biografi tentangnya. Juga ulasan orang tentang karya-karyanya. Satu yang saya ingat, Salman Rushdie pernah bicara tentang karya-karyanya, yang saya lupa di esai mana. Tapi saya ingat, Rushdie bicara tentang pola. Márquez selalu memulai cerita dari tengah, kemudian maju, lalu mundur, maju lagi, mundur lagi. Tapi bagi saya, itu tak sesederhana plot yang dibuka di tengah lalu maju lalu mundur. Márquez, ia seorang jurnalis dan belajar banyak dari dunianya, sadar sekali bahwa hakikat dari para pendongeng adalah memuaskan rasa ingin tahu pembaca. Dalam jurnalisme, pembaca ingin tahu terhadap satu peristiwa dan reporter atau penulis berita menyuguhkan apa yang ingin diketahui itu. Dalam penulisan fiksi, sebagaimana dalam dongeng, si penulis menciptakan sendiri rasa ingin tahu tersebut. Di sinilah, menurut saya, Márquez mempergunakan teknik yang akan membuatnya banyak dikenang: foreshadow, peramalan, pembocoran cerita. Jauh sebelum terjadi, ia sudah membocorkan mengenai Kolonel Aureliano Buendia akan berdiri di depan sederet regu tembak, bahkan sejak di kalimat pertama novel One Hundred Years of Solitude. Dan puncak teknik ini, bagi saya terletak di karya pendeknya, Chronicle of a Death Foretold. Peramalan ini tak hanya ia lakukan di pembukaan cerita, tapi terus ia lakukan di sepanjang cerita. Itulah kenapa, seperti Rushdie bilang, ada kesan bahwa alur plotnya maju-mundur. Tidak. Saya merasa ia melakukan cara bercerita yang relatif konvensional dengan alur maju, tapi dengan sisipan foreshadow. Sekali lagi, Anda bisa memperdebatkan ini. Dan saya yakin, perdebatan apa pun hanya akan menegaskan ia sebagai penulis jauh melampaui para penulis dari generasinya. Ia raksasa tak hanya untuk Amerika Latin. Ia telah mengencingi hampir seluruh karya di belahan dunia mana-mana. Saya tak tahu di abad 21, atau setidaknya di masa kita hidup, kita akan menyaksikan kelahiran raksasa lain atau tidak. Dan karya-karyanya, hampir sebagian besar, akan berada di rak dengan label pasti. Klasik. Selamat jalan, Patriarch.

PS: Ini beberapa tulisan saya tentang Gabo di arsip, barangkali tertarik juga membaca:

Yang Berguna Sekaligus Omong-Kosong

Seperti apa kesusastraan ideal untuk saya? Saya akan menjawabnya: kesusastraan yang berguna sekaligus omong-kosong. Saya tahu, itu terdengar kontradiktif dan membingungkan, dan memang begitu. Saya tak akan menyangkalnya. Jika Anda mengikuti jurnal saya, memeriksa dengan teliti, Anda bisa menyadari kecenderungan saya tersebut dengan segera. Pertama. Saya mungkin tak terlalu percaya bahwa karya sastra bisa mengubah dunia (meminjam ungkapan Don DeLillo, bom bunuh diri, atau dua pesawat yang menabrak menara kembar barangkali bisa mengubah dunia lebih dahsyat). Satu-dua karya sastra barangkali pernah mengubah dunia, tapi saya tak terlalu yakin itu tujuan seluruh karya sastra. Meskipun begitu, saya percaya karya sastra bisa mengubah cara orang memandang dunia (dan dengan cara seperti itulah barangkali dunia bisa berubah). Saya percaya, sastra yang baik seharusnya merupakan medan pertarungan gagasan, tempat virus-virus kecil cara kita melihat dunia disebarkan dari satu kepala manusia ke kepala manusia yang lain. Gagasan itu merupakan sesuatu yang besar dan kompleks atau kecil dan sederhana, itu perkara lain. Saya berkali-kali mengatakan, membayangkan genre sastra seperti filsafat. Saya tak terlalu suka karya sastra yang penuh khotbah dan penuh pesan moral. Bukan saya anti khotbah dan moral, tapi saya menyukai karya sastra yang berkhotbah dan menyodorkan pesan moral tanpa saya sadar karya itu tengah berkhotbah dan menggelontorkan pesan moral. Anda harus menjadi penulis hebat untuk membuat karya sastra semacam itu. Kedua. Tapi di sisi lain, saya juga menyukai karya sastra yang omong-kosong. Nonsens. Tentu saja kita bisa berdebat, benarkah di dunia ini ada hal-hal yang benar-benar kosong? Mungkin sebenarnya tidak ada. Jika saya mengatakan sastra yang omong-kosong, itu semata-mata saya merujuk ke sastra yang ditulis seolah-olah untuk main-main saja. Sekali waktu saya pernah mengatakan, kesenian (juga kesusastraan), bagi saya ibarat permainan untuk anak-anak. Kadang-kadang kita tak memerlukan tujuan apa pun, seperti anak-anak dengan bola yang ditendang-tendang sesuka kaki mereka. Kita melakukannya hanya karena kita senang. Kita melakukannya karena sadar, betapa kelabunya kehidupan kita tanpa itu, sekelabu anak-anak yang tak pernah bermain. Begitulah, jika saya melihat diri saya sendiri, saya selalu merasa berada dalam ketegangan antara dua sudut itu: berpikir tentang sastra sebagai sesuatu yang berguna, sesuatu dimana saya ingin menyampaikan gagasan saya, tapi di sisi lain, juga tentang sastra yang sekadar omong-kosong belaka, semata-mata sejenis permainan. Kesusastraan saya, saya bayangkan, sebagai sebuah ketegangan untuk menjadikan ini sebagai suatu proses bermain-main yang serius, atau keseriusan yang main-main. Sekali lagi, itu terdengar kontradiktif, memang. Barangkali seperti itulah, saya. Saya tak tahu apakah saya mampu mengatasi ketegangan kreatif semacam itu atau tidak. Saya tak berusaha menghindarinya, dan memilih untuk selalu berada di tengah ketegangan tersebut. Demikian pula bacaan-bacaan saya. Saya, barangkali seperti kebanyakan pembaca, selalu mencoba “menebak” apa yang ada di pikiran penulis, dan mencoba mengujinya dengan pikiran sendiri. Saya mencoba menafsir Don Quixote, seolah saya bicara dengan Cervantes. Mencoba merasakan amarah Moby Dick, seolah tengah berdebat dengan Melville. Tapi adakalanya saya membaca karya-karya tertentu, yang saya perlakukan sebagai omong-kosong belaka, hanya untuk membuat saya tertawa atau mengernyitkan dahi. Misalnya saya membaca Strange Tales from a Chinese Studio, karya Pu Songling (1640-1715), yang isinya hanya kisah-kisah konyol yang saya tak perlu pusing memikirkan apakah ada maknanya atau tidak. Bayangkan saja sebuah kisah tentang seorang yang sedang semadi, kemudian mulai mendengar suara-suara aneh. Suara-suara yang kurang-lebih mengatakan sesuatu akan terbentuk. Ia penasaran dan terus semadi, untuk melihat sesuatu itu membentuk. Hingga muncullah makhluk-makhluk kecil. Ia kaget dan mengamati makhluk-makhluk itu, penasaran ingin tahu apa. Tapi pada saat yang sama, pintu diketuk tetangganya. Si makhluk-makhluk kecil panik dan berlarian (seperti tikus mencari lubang untuk kabur), dan menghilang. Cerita selesai. Pikirkan saja, cerita macam apa itu? Nyaris tanpa makna sama sekali. Seperti anak-anak bermain kelereng, kadang-kadang saya membaca cerita omong-kosong semacam itu sesederhana hanya karena itu menyenangkan. Jika harus disederhanakan kembali, kesusastraan ideal saya barangkali ini: omong-kosong yang bisa mengganggu isi kepala Anda. Atau: usaha mengganggu isi kepala Anda dengan cara yang penuh omong-kosong. Sebagaimana segala sesuatu yang ideal, kesusastraan macam begitu jauh membumbung di atas langit. Mari kita kembali menginjakkan kaki ke tanah dan menghadapi problem besar setiap penulis: mewujudkan apa yang ada di kepala ke dalam kata-kata.

Jacques the Fatalist, Denis Diderot

Bisakah kita menceritakan sesuatu apa adanya? Tidak bisa, kata Jacques. Sebab seorang pencerita memiliki personalitas, sudut pandang, standar dan hasratnya sendiri. Karya yang besar, tetap terasa berdering, bahkan tetap terasa mengganggu, bertahun-tahun, bahkan puluhan hingga ratusan tahun kemudian. Ini berlaku untuk novel sejenis Jacques the Fatalist (1780), karya penulis Prancis Denis Diderot (jika Anda lupa siapa penulis ini, Diderot merupakan salah satu yang mengawali pembuatan ensiklopedia). Awalnya terasa seperti parodi Don Quixote dimana seorang tuan pergi berkelana diiringi pelayannya. Bedanya, jika di Don Quixote yang menjadi tokoh utama dengan segala kegilaannya adalah sang tuan, di novel ini, si pelayanlah (Jacques) yang mengambil alih peran itu. Novel ini didasari satu pertanyaan besar, yang saya pikir masih terus menghantui bahkan manusia-manusia modern (baik filsuf maupun orang awam, para pendosa maupun orang saleh): apa jadinya kehidupan kita jika segala sesuatu yang telah, sedang dan akan terjadi sebenarnya sudah tercatat di atas sana oleh Dia-yang-Mengarang? Kita hanya aktor-aktor yang menjalankan kehendak Dia-yang-Mengarang? Apakah manusia masih memiliki “kehendak bebas”? Adakah masa depan? Jacques, atas pengaruh Sang Kapten ketika ia masih bertugas sebagai prajurit, memiliki keyakinan filosofis semacam itu, bahwa segala sesuatu sebenarnya sudah tercatat di atas sana. Jika mereka dirampok, menurutnya karena mereka memang sudah ditakdirkan akan dirampok, bukan karena pintu losmen tidak dikunci. Jika ia sedih karena barang-barang tuannya dirampok, ya karena di catatan langit ia sudah ditakdirkan untuk sedih. Seperti Sancho Panza yang harus menjadi kontras bagi kegilaan Don Quixote, Sang Tuan cenderung pragmatis tapi juga tak berdaya menghadapi argumen dan keyakinan filosofis Jacques. Saya membandingkannya dengan Don Quixote bukan tanpa sebab. Novel ini bisa juga dilihat sebagai jawaban atas novel Cervantes mengenai tema yang sangat penting: membaca. Ya, kedua novel sebenarnya bercerita tentang manusia-manusia yang “membaca”, dengan cara yang sangat berbeda satu sama lain. Jika dalam Don Quixote kita melihat “membaca” sebagai tindakan memilih, di Jacques “membaca” merupakan tindakan menyerah (terhadap takdir). Di novel Cervantes, kita berhadapan dengan orang gila yang terpengaruh oleh bacaan-bacaannya, terutama oleh novel-novel keksatriaan. Ia mencoba menafsirkan bacaan-bacaan tersebut dan menerapkannya dalam kehidupannya, dalam petualangannya. Di Jacques, kita berhadapan dengan filsuf yang tak hanya terpengaruh, tapi yakin bahwa hidupnya merupakan tafsir langsung atas “bacaan” yang ditulis di langit. Sebenarnya salah membayangkan dunia Jacques dengan mengatakan manusia, kita, sebagai aktor-aktor yang memerankan kisah yang ditulis di langit. Juga keliru membayangkan Don Quixote menempatkan diri sebagai aktor, yang memerankan ksatria rekaannya. Ia tampak mencoba meniru, dalam keyakinannya sebenarnya “menjadi”, kstaria-ksatria yang diteketahuinya melalui novel-novel bacaannya, dan dengan cara itulah ia tak bisa disebut aktor, sebab ia merasa dirinya ksatria yang hidup dalam dongeng itu sendiri. Di dunia Jacques, juga tak ada aktor: kita, manusia, adalah penjelmaan kata-kata itu sendiri. Ia bahkan bukan tafsir. Ini menarik. Meskipun kedua tokoh di kedua novel melihat hidup dengan cara yang sedikit berbeda, mereka tiba di sifat fatalis yang hampir sama: keyakinan bahwa hidup hanyalah penjelmaan kata-kata. Yang satu kata-kata dari langit, yang lain kata-kata dari novel-novel yang di tingkat tertentu, juga diyakini kebenarannya. Lantas, jika segalanya telah tercatat, masih perlukah kita berpikir dan memimpikan kehidupan? Ah, bahkan keragu-raguan mengenai hal ini pun, Jacques akan berkata, sudah tercatat di langit. Untuk apa kita berbuat baik jika di catatan langit ujung-ujungnya kita masuk neraka? Tidak untuk apa-apa, suka-suka yang membuat cerita, dong. Satu hal ingin saya catat mengenai novel ini: ia merupakan seni melipir yang sangat tinggi, perayaan atas digresi, sebab barangkali memang sesuai dengan niat filosofisnya. Mari kita bayangkan catatan di langit tersebut, dengan gaya seperti apa Dia Yang Mahapengarang menuliskannya? Entahlah. Satu-satunya yang pasti, hidup kita merupakan sekumpulan digresi, cecabang plot yang lebih banyak tak pentingnya daripada penting, dan kita tak tahu seperti apa ujungnya. Seperti perjalanan Jacques dan tuannya, yang tanpa arah itu, kita tetap mengikutinya, meskipun kita tak tahu kemana arah tujuan mereka. Bukankah tujuan hidup manusia juga terasa samar-samar? Bahkan meskipun ujungnya tak menarik, kita tetap menunggunya. Hanya karena kita ingin tahu, dan perasaan ingin tahu ini pun, sialnya, telah tercatat juga jauh di atas sana.

Older posts

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑