Eka Kurniawan

Journal

Tag: Michel Houellebecq

Paris

Sejujurnya saya nyaris tak bisa pergi ke mana-mana selama tiga hari di Paris. Sejak hari pertama diisi dengan berbagai pertemuan, diskusi, dan makan malam. Meskipun begitu, di sela-sela waktu dan dengan modal peta sederhana, saya menjelajah daerah sekitar. Beruntunglah hotel tempat saya menginap, Delavigne (memperoleh kamar di loteng dengan dinding miring, mengingatkan saya pada film Ratatouille) dan kantor penerbit saya (Sabine Wespieser Editeur) berada di tengah kota. Saya sempat mengunjungi Notre Dame (tentu saja mengingatkan saya pada tokoh si bongkok karya Victor Hugo) dan Louvre, tapi satu-satunya yang ngotot ingin saya kunjungi adalah toko buku tua Shakespeare & Co. Saya sampai dua kali ke sana, mengambil selfie di depannya, dan (sedikit bikin saya malu) menemukan dua jilid buku saya dijual di dalamnya. Semua orang tahu itu toko buku yang pertama kali menerbitkan Ulysses James Joyce, juga tempat nongkrong Ernest Hemingway dan gerombolan “lost generation” Amerika yang luntang-lantung di Paris di masa itu. Sampai editor saya berkomentar, “Ya, ya, tentu saja toko buku itu penting buat penulis sepertimu.” Hahahaha. Mungkin orang Paris sudah terlalu biasa dengan toko buku itu, lagipula yang dijual di sana memang buku berbahasa Inggris. Seperti umumnya datang ke suatu tempat, mengetahui saya penulis, tentu saja kadang ada orang bertanya, di acara diskusi formal maupun sambil minum anggur atau teh, “Siapa penulis Perancis yang kamu baca atau sukai.” Itu seringkali membantu percakapan mengalir, dan saya sering bersyukur mengetahui beberapa penulis asing dan karya mereka. Saya bisa mendiskusikan Albert Camus atau Jean-Paul Sartre, atau Denis Diderot (yang novelnya, Jacques the Fatalist sangat saya sukai). Mereka senang mendengar komentar orang luar tentang penulis-penulis kebanggaan mereka. Juga penulis kontroversial mereka. Ketika saya bilang bahwa saya juga membaca Michel Houellebecq, mereka sangat antusias ingin mendengar komentar saya. Saya bilang hanya membaca dua novelnya. Caranya menulis menyenangkan. Saya tak punya masalah dengan sinisme-nya (barangkali karena saya bukan orang Perancis), tapi memang saya menangkap kesan pesimisme yang akut di karya-karyanya. Dan ketika datang ke Paris, bertemu dengan orang-orang Paris, gambaran itu berbeda seratus delapan puluh derajat. Orang-orang Paris yang saya temui sangat menyenangkan, penuh keriangan, ramah, jauh dari kesan pesimis. Mungkin Houellebecq memang pesimis melihat dunia, dan penggemarnya mungkin melihat dunia dengan cara yang sama. Dan seperti biasa, tentu saja saya juga bertemu dengan teman-teman Indonesia (ini terjadi ke mana pun saya pergi). Selalu menyenangkan (dan pasti menyenangkan juga buat mereka, bertemu “kerabat” di tempat yang jauh). Pertanyaan yang agak lucu, tapi tak terelakkan dari mereka, selalu: bagaimana bisa bukumu diterbitkan di Perancis (bahkan oleh penerbit yang secara tradisional tak pernah menerbitkan karya dari Indonesia)? Tentu saja itu cerita yang panjang, meskipun kadang saya harus menceritakannya berulang-ulang, atau penerbit saya menceritakan bagaimana ia “bertemu” karya saya. Intinya sebenarnya sama: kita cenderung menerima kenyataan bahwa karya sastra kita “dikutuk” hanya dikenal di negeri sendiri. Ketika satu atau dua karya keluar, kita sendiri bingung dan bertanya, “Kok bisa?” Mudah-mudahan di masa depan, tak ada lagi pertanyaan seperti itu dan melihat penulis Indonesia di luar sama biasanya dengan membaca penulis asing di dalam terjemahan Indonesia. Saatnya menutup koper dan kembali ke Jakarta.

shakespeare-co

A Heart So White, Javier Marías

Sekali waktu Raymond Carver mengatakan, “Tulislah apa yang kamu ketahui, dan apa yang kamu tahu lebih baik daripada rahasia-rahasiamu sendiri?” Tentu saja problemnya, rahasia yang diungkapkan, bukan lagi rahasia. Di sinilah saya pikir penulis menghadapi tantangan kreatifnya: di satu sisi ia membocorkan rahasia (hal yang paling diketahuinya), di sisi lain, ia tetap menyembunyikannya dengan cara tertentu. Baiklah, saya mengutip dan membicarakan soal itu hanya sebagai pembuka saja. Saya ingin membicarakan sebuah novel, novel lama yang sialnya baru saya baca, berjudul A Heart So White karya Javier Marías. Apa hubungan novel ini dengan rahasia? Sangat erat. Ini novel tentang bagaimana sebuah rahasia semestinya tetap menjadi rahasia, apa pun yang terjadi. Dalam sebuah wawancara, ada bagian di mana Javier Marías menceritakan asal-usul judul tersebut. Judul itu merupakan kutipan dari satu dialog di Macbeth, William Shakespeare. Tapi sebagaimana ia mengakuinya, judul itu muncul belakangan, di tengah proses menulis novel (ia sudah menulis delapan puluh halaman, katanya), dan dengan cara itu juga memperlihatkan salah satu cara kerja menulis novel yang misterius, karena novel yang sedang ditulis tersebut, justru memperoleh fokus ceritanya setelah jalan hampir sepertiganya. Jadi di tengah proses menulis novel tersebut, sang penulis tiba-tiba memutuskan untuk menonton televisi (yang sebenarnya jarang ia lakukan). Di TV ada tayangan Macbeth, dan ia terpaku untuk menontonnya. Ada satu adegan yang membuatnya penasaran, adegan ketika Macbeth baru saja membunuh King Duncan dan mengatakan “rahasia” itu kepada Lady Macbeth. Apa yang dikatakan oleh Lady Macbeth kemudian membentuk apa yang kelak menjadi novel ini: “My hands are of your color; but I shame/To wear a heart so white.” Pikirnya, apa maksud kalimat itu? Ia membuka edisi kritis Shakespeare, mencari bagian itu, dan tak menemukan penjelasan apa pun. Saya pikir, Marías kemudian mempergunakan otoritasnya sebagai pembaca untuk menafsir kalimat tersebut, dan tafsir lengkapnya, ya jadilah novel tersebut. Bisa dikatakan bahwa dengan mengetahui “rahasia” Macbeth yang membunuh King Duncan, Lady Macbeth sebenarnya seperti ikut menanggung dosa. Ikut berdosa karena “rahasia” yang terbuka, karena mengetahui peristiwa itu, yang membuatnya “to wear a heart so white”. Seperti kebanyakan orang, saya kadang-kadang bertanya, untuk apa kita menyimpan rahasia? Tentu saja seperti kebanyakan orang, kita selalu memiliki rahasia. Yang kecil maupun besar. Rahasia-rahasia, yang karena namanya juga rahasia, tak ingin kita bagi kepada siapa pun. Saya ingin membawanya dikubur jika saya mati. Tapi dalam banyak hal, sering kita melihat apa yang semestinya menjadi rahasia, menjadi bukan lagi rahasia. Seperti kesedihan yang kadang tak sanggup ditanggung oleh tubuh yang menanggungnya, kadang ada rahasia-rahasia yang begitu besar sehingga tak tertampung oleh tubuh yang memilikinya. Ia akan tumpah. Atau ada pikiran-pikiran di mana satu hubungan (suami-isteri? pacar? persahabatan?), mengharuskan ketiadaan rahasia. Atau kita merasa harus membuka rahasia karena suatu hubungan. A Heart So White, mengingatkan saya kembali bahwa rahasia semestinya tetap rahasia. Membocorkan sebuah rahasia, tak hanya membuatnya bukan lagi sebuah rahasia, tapi pertama-tama, akan membuat hilang satu kepercayaan dan keyakinan. Kedua, sesuatu menjadi rahasia karena kita yakin hal baik jika itu tersembunyi, maka hal buruk akan datang jika itu tak tersembunyi. Katakanlah dalam kasus Lady Macbeth, ia menjadi ikut merasa berdosa mengetahui pembunuhan yang dilakukan suaminya. Dalam kasus novel A Heart So White, mengetahui rahasia suaminya, membuat keadaan menjadi fatal: sang isteri tak hanya merasa jijik kepada suaminya, tapi jijik kepada dirinya sendiri, sehingga ia memutuskan untuk bunuh diri. Kadang-kadang kita berpikir, berbagi rahasia merupakan sesuatu yang baik. Setidaknya mengurangi beban tubuh yang menanggungnya. Satu hal yang sering dilupakan: itu juga berarti memberi beban kepada orang yang mendengar rahasia tersebut. Membagi rahasia bisa dilihat (setidaknya dari Macbeth dan A Heart So White) sebagai tindakan egois mengurangi beban diri sendiri, untuk memberi beban kepada orang lain. Jadi seperti energi dalam relativitas Einstein, barangkali beban rahasia memang tak bisa dihancurkan atau dikurangi, ia hanya bisa dialihkan. Ngomong-ngomong, jika omongan ini terkesan serius, maafkan saya. Novelnya sendiri, terus-terang lucu dan sering bikin saya senyum sendiri, meskipun di banyak bagian juga bikin sedih dan seandainya saya masih bujangan ketika membaca novel ini, mungkin bikin saya takut kawin. Novel ini memperoleh Dublin Impac Award, dan seperti beberapa novel lain peraih penghargaan yang sama yang sudah saya baca (Atomised Michel Houellebecq dan My Name is Red Orhan Pamuk), novelnya memang bagus.

Beberapa Penulis Hendak Menguasai Dunia

Bar itu sepi saja. Ada desas-desus tempat itu sudah dipesan oleh beberapa penulis yang hendak membicarakan upaya mereka menguasai dunia. Di tempat parkir, mata-mata CIA, KGB dan Mossad berkeliaran. Selain si bartender, yang menggigil ketakutan, sementara itu hanya ada dua orang duduk terpisahkan meja, sambil menonton siaran langsung El-Clasico di layar TV. Di sebelah kiri, seorang Madridista bernama Javier Marías. Di seberangnya, si orang Catalan bernama Enrique Vila-Matas. Keduanya tampak tegang melihat ke arah lapangan di TV (saya tak ingat, pertandingan itu di Santiago Bernabéu atau di Camp Nou). Sebentar lagi bakal ada adu jotos, pikir si bartender. “Sangat ironis melihat cara kedua klub bermain,” komentar si bartender untuk mencairkan suasana. “Barcelona penuh nafsu untuk menguasai bola. Fasis dan seperti Franco. Sementara Madrid liar tak jelas, anarkis dari kepala ke kaki.” Kedua penulis menoleh dan melotot ke arah si bartender, dan mengumpat bersamaan: “Tutup mulutmu!” Tak berapa lama masuk seorang lelaki dengan napas ngos-ngosan. Ia mengenakan training, sepatu jogging, dengan t-shirt bergambar The Doors. “Bartender itu benar,” kata lelaki itu menenangkan keduanya. “Lihat cara kalian menulis. Kau orang Madrid, menulis dengan gaya Madrid. A Heart So White itu benar-benar novel untuk para ningrat, untuk para penakluk. Sementara Bartleby & Co. lebih tepat dibaca para gembel yang tiduran di emper stasiun sambil mengkhayal bisa meniduri model di iklan Banana Republic.” Yang baru datang itu penulis bernama Haruki Murakami, orang Jepang yang gelisah dengan bangsanya. Yang bosan dengan apa pun yang ditinggalkan Kawabata dan Mishima. Tak hanya bosan, ia membenci mereka. Itulah alasannya ia mau datang ke bar itu, untuk bersama-sama memikirkan cara menaklukkan dunia, menciptakan tatanan dunia yang baru, yang meleburkan Barat dan Timur. “Lagipula Liga Spanyol itu membosankan,” kata Murakami lagi. “Aku lebih suka melihat Liga Inggris.” Huh, kedua penulis Spanyol mendengus (oh, salah satu dari mereka mungkin tak begitu suka disebut penulis Spanyol, meskipun menulis dalam bahasa itu). “Itu karena Liga Inggris mau memakai pemain Jepang,” kata Vila-Matas. Murakami tertawa, bagaimanapun ia tak bisa membantah itu. “Kalian selalu senang dengan Barat. Kalian senang melihat Shinji Kagawa bermain untuk Manchester United, meskipun sebenarnya ia agak payah. Orang Korea yang beberapa tahun lalu itu jauh lebih baik. Hahaha, jangan melotot, Murakami-san. Aku tahu kalian benci orang Korea. Benci semua orang Korea, kecuali, yeah, Nona Kim Taeyeon dan Im Yoona dan beberapa temannya.” Vila-Matas kembali menambahkan, “Lihat tokoh-tokohmu. Semua makan spagheti. Semua novelmu bercerita tentang spagheti.” Dan kucing, Marías menambahkan. Murakami hendak membuka mulut, tapi pintu bar terbuka dan seorang gaucho masuk. Ia mengaku gaucho, tapi tampangnya tak mirip gaucho sama sekali, meskipun benar ia orang Argentina. Ia duduk di samping mereka dan Murakami melotot ke arahnya, “Bagaimana bisa orang ini, César Aira, ada di antara kita?” Memangnya kenapa? tanya Si Catalan. “Orang ini tak bisa dipercaya. Orang yang menulis novel berjudul The Literary Conference tapi malah menceritakan kloning dan ulat raksasa, dan menulis novel berjudul How I Became a Nun tapi tak ada cerita tentang suster, tak bisa dipercaya. Ia orang pertama yang bisa menjadi pengkhianat kelompok ini.” Sabar, Ronin, kata Aira kalem. Ronin dan gaucho mestinya bersahabat. “Untuk menaklukkan dunia, kita tak hanya membutuhkan penulis-penulis berani seperti kalian, tapi juga butuh penipu licik sepertiku. Aku pewaris sejati penipu licik sejati. Borges.” Semakin malam, bar mulai sedikit ramai. Berturut-turut muncul Orhan Pamuk dan Michel Houellebecq. Pamuk serta merta mengambil remote TV dan memindahkan saluran, yang segera mengundang protes Vila-Matas dan Marías. “Aku mau menonton Fenerbahçe melawan Galatasaray,” kata Pamuk. Tapi ia tak menemukan satu pun saluran yang menayangkan pertandingan itu. Marías tertawa dan berkata, “Hahaha, Liga Turki tak ditayangkan di TV sini. Hanya Liga Eropa ditayangkan di TV.” Pamuk protes, “Tapi aku kan juga Eropa?” Kali ini Vila-Matas yang tertawa, juga Houellebecq. “Ya, ya, Eropa. Separo Eropa. Makanya siaran sepakbolanya cuma siaran separo saja, nyangkut di satelit.” Mereka semua tertawa dan Pamuk kesal, mengambil telepon genggam dan mengirim pesan singkat untuk pacarnya, Kiran Desai, “Orang-orang Eropa ini menyebalkan, Sayang. Aku lebih suka berteman dengan orang Asia. Maksudku, pacaran dengan orang Asia.” Akhirnya Houellebecq yang mengambil alih TV, mengeluarkan DVD dan memasukkan satu cakram sambil berkata, “Sudah, kita mulai saja. Sebagaimana kujanjikan, aku akan presentasi bagaimana cara kita menguasai dunia.” Seseorang entah siapa terdengar bergumam, Dasar orang Prancis, senangnya presentasi. Ketika DVD itu menyala, ternyata itu video porno. Seorang perempuan tengah digauli dua lelaki. Mereka semua terkejut. Houellebecq buru-buru mematikannya. “Maaf, maaf, salah DVD. Itu tadi …” Jangan bilang itu bahan risetmu. Bilang saja kamu doyan nonton video porno, kata Vila-Matas. “Atomised dan Platform itu isinya seks doang. Semua tentang seks,” kata Pamuk. Houellebecq berdiri, mencoba membela diri. “Itu bukan seks. Itu tentang cinta. Aku menulis tentang cinta dengan cara Dostoyevsky menulis tentang Tuhan di novel-novelnya.” Murakami nyeletuk, “Seperti judul novelmu, Whatever!” Bartenderlah yang kemudian mencoba menenangkan keributan kecil ini. Houellebecq mengganti cakram DVD dan siap meneruskan presentasinya, tapi tiba-tiba terdengar seseorang berkata dari sudut bar yang remang, “Tunggu, kita masih menunggu satu orang.” Semua menoleh. Entah sejak kapan ia ada di sana. Mereka berbisik satu sama lain, “Si Orang Hungaria. László Krasznahorkai.” Kehadiran lelaki ini membuat bar seketika menjadi dingin, dan udara terasa pekat. Semua kata-kata seperti tertahan di kepala. Keadaan yang kurang lebih sama seperti jika pemimpin gangster masuk ke ruangan. Yeah, pikir Murakami. Hungaria satu ini memang seperti gangster. Sosok maupun tulisannya. Tapi akhirnya mereka setuju untuk menunggu satu anggota lagi, sambil minum bir dan kentang goreng. Ia berdiri di pintu bar dengan sedikit kebingungan, lalu mencoba tersenyum menghampiri mereka sambil berkata, “I am sorry, I am late. I am from Indonesia. Writer Indonesia, eh, Indonesian writer. My name is …” Seseorang berkata, “Pakai saja bahasamu sendiri. Kita semua punya peradaban yang bernama penerjemahan.” Si penulis Indonesia mengangguk-angguk, duduk di salah satu kursi dan kembali memperkenalkan namanya. Eka Kurniawan. Yang lain saling pandang. “Enggak pernah dengar namanya,” gumam mereka. Si penulis Indonesia tersenyum dan kembali berkata, “Maaf, saya memang belum dikenal. Kalau boleh tahu, kalian siapa?” Maka masing-masing memperkenalkan nama: “Enrique Vila-Matas,” “Javier Marías”, “Haruki Murakami”, “Michel Houellebecq”, “László Krasznahorkai”, “dan aku César Aira.” Si penulis Indonesia mengangguk-angguk dan kembali bergumam, “Wah, sama. Kalian juga belum terkenal, ya? Saya juga belum pernah dengar nama kalian.” Sialan, gumam Houellebecq, aku selebriti tapi ternyata ada orang di kolong dunia belum mengenal namaku. Ia ingin mencekiknya. Dan si gangster László ingin menembak kepalanya.

Apa Sih, yang Dilakukan Para Penulis Hebat?

Saya kadang-kadang bertanya seperti itu. Apa sih, yang membuat mereka hebat? Apa yang bisa kita lakukan jika ingin seperti mereka? Saya tak memiliki kesempatan untuk bertanya kepada para penulis hebat favorit saya: Hamsun, Gogol, Melville, Kawabata, Borges, dan lain-lain. Bahkan sekiranya mereka masih hidup dan saya berkesempatan bertanya, saya mungkin terlalu jengah untuk bertanya. Jadi apa yang bisa saya lakukan hanyalah sedikit menduga-duga, ya, dengan cara mencari tahu apa yang mereka lakukan dalam hidupnya. Tentu saja selain menulis karya-karya hebat itu. Pertama, tentu saja karena mereka banyak membaca. Mereka pembaca-pembaca kelas berat. Tengok Borges: saya curiga ia membaca hampir semua buku di perpustakaan tempatnya bekerja, hingga di masa tua matanya nyaris buta. Yang jelas, ia membaca karya-karya klasik Inggris. Sebenarnya tak cuma Inggris. Jika kita membaca cerpen-cerpennya, kita tahu ia membaca sastra dari mana-mana. Salah satu buku favoritnya adalah Alf Layla wa Layla, atau kita mengenalnya sebagai Hikayat Seribu Satu Malam. Atau coba baca wawancara beberapa penulis di The Paris Review. Saya sering terbengong-bengong melihat luasnya bacaan mereka. Atau baca buku kumpulan esai Roberto Bolaño, Between Parenthesis, ia membaca tak hanya sesama penulis (berbahasa) Spanyol, tapi juga membaca Cormac McCarthy, misalnya. Berapa banyak buku yang sudah kamu baca? Klasik dan kontemporer? Tak hanya dari kesusastraan negerimu sendiri? Jika ingin sehebat Borges atau yang lainnya, saya rasa kamu harus membaca segila mereka. Kedua, menerjemahkan. Menerjemahkan, tak hanya membuat pengetahuanmu atas bahasa lain bertambah, tapi sekaligus mengajarimu menulis secara langsung dari penulis yang kamu terjemahkan. Kamu mengikuti jejak sang penulis, kata per kata, kalimat per kalimat, dengan bahasamu sendiri. Pada saat yang sama, kamu tengah mengasah kemampuan menulismu, ya, dalam bahasa yang kamu pergunakan. Murakami merupakan seorang penerjemah yang tekun. Ia menerjemahkan novel Raymond Chandler ke Bahasa Jepang, salah satunya. Juga menerjemahkan novel The Great Gatsby karya F. Scott Fitzgerald. César Aira, yang novel-novelnya belakangan saya gemari, juga seorang penerjemah (sampai satu titik, bisa dibilang profesinya). Kembali ke Borges: novela Metamorfosa Kafka yang dibaca pertama kali oleh García Márquez merupakan edisi Spanyol yang diterjemahkan oleh Borges. Tak usah jauh-jauh, novelis terbaik kita, Pramoedya Ananta Toer, juga menerjemahkan banyak karya penulis luar: Steinbeck, Tolstoy, Saroyan. Ketiga, tak hanya menulis cerita, novel atau puisi, tapi tulis juga pandangan-pandanganmu tentang penulis lain, karya lain, dan kesusastraan secara umum. Sampai saat ini, salah satu esai terbaik tentang teknik menulis dua raksasa sastra Amerika saya temukan di esai pendek Gabriel García Márquez berjudul “Gabriel García Márquez Berjumpa dengan Ernest Hemingway”. Di esai itu, ia menulis tentang Hemingway dan Faulkner, dan bagaimana kedua raksasa itu berbeda secara teknik. Ngomong-ngomong soal García Márquez, jangan lupakan buku ulasan serius Mario Vargas Llosa mengenai novel Cién Anos de Soledad. Vargas Llosa juga menulis buku serius mengenai Madame Bovary dan Gustave Flaubert (Perpetual Orgy: Flaubert and Madame Bovary). Mau contoh yang lain? Michel Houellebecq menulis biografi kritis mengenai penulis cult Amerika, H.P. Lovecraft. Saya rasa, menulis esai tentang penulis dan karyanya membantu kita untuk belajar menganalisa, belajar melihat sudut-sudut pandang yang berbeda, dan dengan tanpa sadar, kita menciptakan cara berpikir sendiri, dan sudut pandang yang barangkali unik. Keempat, yang ini tak perlu dijelaskan panjang-lebar: terus menulis. Anda bisa menambahkan beberapa hal lain, yang boleh ditiru atau tidak: maraton (Murakami), mabuk (Faulkner), berburu (Hemingway), dan lain-lain. Jadi jika ada yang bertanya kepada saya bagaimana caranya menjadi penulis hebat, barangkali saya akan menjawab terutama empat perkara di atas. Jujur saja, itu bukan jaminan juga. Saya hanya berusaha menjawab dengan belajar dari penulis-penulis ini. Tapi setidaknya, mencoba melakukan apa yang mereka lakukan, saya rasa bukanlah hal buruk. Juga bukan kejahatan. Itu hal-hal baik yang layah dicoba. Setidaknya, belajar dari mereka, saya tahu bukanlah hal mudah untuk menjadi penulis yang baik, apalagi penulis yang hebat. Sebagaimana bukan hal yang mudah mengalahkan Usain Bolt dalam adu cepat lari di lintasan seratus meter.

Atomised atawa The Elementary Particles

Saya sering kagum dengan penulis yang membuat judul untuk novelnya dengan satu frasa yang tampak … tidak komersil? Tidak cantik? Paling tidak untuk ukuran selera pembaca Indonesia. Michel Houellebecq salah satunya. Novelnya yang pertama kali saya baca berjudul The Map and the Territory. Bayangkan, dengan judul seperti itu, saya ragu bukunya akan diletakkan di rak novel di toko buku (mungkin akan berjejer bersama buku-buku Lonely Planet). Atau barangkali editor di penerbit akan mengernyitkan dahi? Dan tengok judul novelnya yang lain, dalam Bahasa Perancis Les Particules élémentaires. Ketika terbit dalam Bahasa Inggris di London, judulnya jadi Atomised. Diterbitkan kembali di New York lebih sesuai judul aslinya: The Elementary Particles. Di Indonesia? Jika diterbitkan di sini dengan judul (kira-kira) Partikel-partikel Dasar, tampaknya akan berakhir di rak buku pelajaran fisika di toko buku (dan saya sungguh ragu ada penerbit lokal di sini mau menerbitkan novel dengan judul seperti itu). Baiklah, meskipun saya menyebut judul novel itu tampak tidak komersil, jelas saya salah besar: novel itu sangat laku di negeri asalnya, dan merupakan salah satu novel terbaik di awal milenium ini. Bagaimanapun, mengenai judul itu, novel ini berkisah tentang seorang peneliti, yang bisa dibilang tercerabut dari masyarakat, dari hubungan-hubungan personal, demi mempelajari perilaku partikel di laboratorium. Tapi lebih jauh dari itu, seperti di novel yang saya baca sebelumnya, Houellebecq senang untuk membongkar kisahnya, partikel-partikelnya, hingga hal mendasar di balik penampakannya. Seperti Descartes (saya kira mereka berbagi tradisi Perancis), ia mengiris setiap bagian cerita, mengirisnya terus hingga sulit untuk diiris lagi. Partikel pertama yang menonjol di novel ini, tentu saja seks. Seks dalam kerangka modern, dalam konteks generasi bunga di tahun 60-70an, seks di masyarakat Eropa selepas perang besar. Dimulai dua bersaudara (tiri): Michel yang memiliki kesempatan untuk meniduri gadis cantik yang jatuh cinta kepadanya, tapi ia tak pernah punya dorongan untuk melakukan itu; sementara Bruno selalu dipenuhi bayangan meniduri cewek ini dan cewek itu, bahkan masturbasi di kereta, tapi tak juga menemukan perempuan yang mau tidur dengannya. Kisah mereka seperti kontras untuk seks di masa itu yang menjadikan erotisme melulu sebagai barang konsumsi, dengan slogan “pleasure is a right”. Dari seks, kita dibawa ke partikel kedua: spiritual. Novel ini juga berkisah tentang sebuah tempat bernama Lieu du Changement, tempat orang seperti Bruno mencari cewek yang mau diajak tidur (meskipun lebih sering cuma masturbasi di hadapan satu majalah porno). Selain itu, tempat tersebut juga merupakan titik berbagi antusias segala yang berbau timur (di tengah rasa jenuh kepada budaya barat). Maka secara konyol mereka mengadakan kursus semacam Zen and the Art of Tango, atau bahkan Tantric Accounting. Tapi sebenarnya, sebelum masalah seks dan spiritual, kita dihadapkan pada partikel lain, ketiga: keluarga. Di atas semuanya, saya rasa ini partikel yang juga muncul di The Map and the Territory, kita dihadapkan pada: kematian. Atau lebih tepatnya, hidup dan mati. Sekali waktu Gabriel García Márquez pernah bilang, bahwa seorang penulis pada dasarnya hanya menulis satu novel seumur hidupnya (ia bilang, seluruh novelnya bisa diringkas menjadi satu novel tentang kesunyian). Soal ini ada di buku wawancara Plinio Apuleyo Medoza dengan Márquez di The Fragrance of Guava. Mengatakan hal yang kurang-lebih sama, Milan Kundera juga pernah bilang, seluruh novelnya bisa diberi judul yang sama: The Unbearable Lightness of Being. Jika saya tak salah, ia mengatakan itu di salah satu edisi wawancara jurnal The Paris Review. Saya baru membaca dua novel Houellebecq, tapi saya kira kedua novel itu bisa diberi judul satu saja: Les Particules élémentaires. Untuk membuktikannya, saya akan mencoba membaca novel pertamanya, yang dalam terjemahan Bahasa Inggris berjudul Whatever, dan mungkin novelnya yang lain lagi.

Dimana Individu?

Seperti saya tulis akhir tahun lalu di jurnal ini, sepanjang tahun ini saya ingin membaca lebih banyak penulis “muda”. Muda dalam hal ini ialah lahir sekitar tahun 1950 atau lebih muda lagi. Saya telah membaca beberapa penulis hebat dari generasi ini. Lupakan Roberto Bolaño, semua orang hampir mengenalnya sekarang, dan tengok nama-nama lainnya: César Aira (Argentina, novelnya How I Became a Nun benar-benar ejekan untuk tradisi novel yang terlalu kaku menempatkan narator); Enrique Vila-Matas (Spanyol, saya baru membaca dua dari beberapa novelnya, Dublinesque dan Bartleby & Co.); Michel Houellebecq (Prancis kembali menempatkan salah satu penulisnya di radar kesusastraan dunia, saya sangat menikmati The Map and the Territory dan Atomised); dan jangan lupa László Krasznahorkai (Hungaria, bagi yang tak tahan membaca cara menulis Jose Saramago, kemungkinan besar tak akan berhasil membaca novelnya Satantango). Itu hanya beberapa nama saja. Sementara saya menikmati novel-novel yang dihasilkan generasi ini, di sisi lain saya mulai merasakan sesuatu yang “hilang”. Apa itu? Dengan mudah saya bisa menemukan apa yang hilang dari novel-novel kontemporer ini: individu. Tentu saja itu tak membuat novel-novel ini menjadi buruk atau gagal, bagi saya ini hanyalah merupakan kecenderungan dari satu generasi, satu zaman. Sebenarnya tanda-tanda menghilangnya individu dari novel-novel “besar” ini saya rasakan telah dimulai sejak generasi setelah Perang Dunia II. Seperti kita tahu, pengagungan terhadap individu merupakan sesuatu yang sangat kuat di novel-novel modern, sebab pengagungan individu merupakan anak sah dari modernisme ini, dan bagi saya itu sangat terasa sejak kemunculan novel modern: Don Quixote. Membaca novel ini mau tak mau kita “membaca” sosok sang ksatria. Demikian juga ketika kita membaca Moby Dick (novel terbesar yang berhasilkan oleh Amerika, dan rasanya mereka tak pernah menghasilkan yang seperti ini lagi setelah itu), kita membaca mengenai Ishmael dan Kapten Ahab. The Idiot Dostoevsky? Kita membaca Pangeran Mishkin. Anna Karenina? Tentu saja itu tentang Anna Karenina (dan sosok-sosok lainnya, tentu). Novel-novel modern berputar di sosok-sosok individu dan nasibnya. Tapi modernisme memang tak hanya mengagungkan individu, di sisi lain, modernisme juga bisa dianggap bertanggung jawab atas lahirnya kolonialisme, yang secara umum berakhir setelah Perang Dunia II. Analisa saya mungkin salah, mungkin terlalu sembrono, tapi saya merasa para penulis dari negara-negara koloni ini (yang kemudian melahirkan kesusastraan pascakolonial, dan di negara Dunia Pertama barangkali melahirkan posmodern), mulai mengikis individu di novel-novel mereka. Demikianlah ketika kita membaca Bumi Manusia, saya merasa Minke di sana bukan Minke, tapi Jawa/negeri jajahan. Demikian juga Saleem Sinai di Midnight’s Children adalah India. Keluarga Buendia? Mereka bukan hanya Kolombia, tapi dianggap sebagai Amerika Latin. Individu di novel-novel pascakolonial tak lagi sekadar mewakili dirinya, ia lebih merupakan metafor generasi, bangsa, atau kaumnya. Sekali lagi itu mungkin kecenderungan. Beberapa mungkin sadar melakukannya, beberapa yang lain mungkin tidak sadar. Tentu butuh penelitian yang lebih seksama, dan menyeluruh, untuk mengamati perkembangan ini. Dan tentu saja perubahan ini, saya yakin, tidak bisa serempak. Masih banyak novel-novel berwawasan modern di abad kedua puluh satu, sebagaimana pasti ada cikal-bakal novel posmodern di abad kesembilan belas atau dua puluh. Kini kembali ke sastra kontemporer, ditulis oleh sebagian besar penulis yang sama sekali tak mengalami trauma kolonialisme. Penulis-penulis yang saya sebut di atas, bisa dibilang merupakan anak kandung globalisasi. Bahkan bisa dibilang generasi internet. Jika individu semakin menghilang di novel-novel mereka, bisa jadi itu merupakan perkembangan lebih lanjut dari era pascakolonial ini. Di novel-novel Vila-Matas, misalnya, individu hanyalah antek-antek untuk menyampaikan gagasan. Mereka menjadi semen dan batubata untuk sebuah bangunan. Jika di kesusastraan pascakolonial bangsa dan identitas merupakan perkara yang penting, di novel-novel kontemporer ini, arsitektur gagasan terasa seperti sesuatu yang mahautama. Sekali lagi, mungkin itu perasaan saya. Saya mungkin harus membaca lebih banyak lagi generasi ini, meskipun diam-diam, kerinduan saya pada individu membuat saya ingin menengok kembali Moby Dick dan cerpen-cerpen Gogol sebagai selingan yang pasti menyenangkan. Dan seperti apa novel-novel di masa mendatang? Itu akan berada di tangan Anda semua, penulis-penulis masa kini.

Apa Itu Klasik? Apa Itu Cult?

Akhir-akhir ini saya sering menemukan atau mendengar orang menyebut “novel cult” atau “penulis cult”. Di sampul belakang novel Atomised Michel Houellebecq, Observer menulis “ditakdirkan sebagai buku cult.” Beberapa waktu sebelumnya, pernah membaca Chuck Palahniuk merupakan salah seorang penulis cult. Sebenarnya apa itu novel atau penulis cult? Ah, tentu saja dengan gampang kita bisa membuka internet dan mencari tahu definisinya. Dan sebagaimana bisa diduga, sebenarnya tak ada kesepakatan mengenai hal itu. Di satu sisi, itu menyiratkan penulis-penulis atau novel-novel yang memiliki penggemar (yang tak banyak tapi) kuat, yang membicarakannya dengan gila, menunggu karya-karyanya dengan fanatik (saya rasa itulah kenapa disebut cult, persis sama seperti tradisi dalam kelompok pemujaan lainnya). Haruki Murakami sekali waktu sempat bilang, kira-kira begini: “Jika aku tak menulis Norwegian Wood, aku akan menjadi penulis cult.” Dengan kata lain, gara-gara novel itu, bukunya dibaca oleh pembaca di luar pembaca tradisionalnya (yang mungkin menikmati karya-karyanya yang lain melebihi buku paling larisnya itu, atau bahkan membenci Norwegian Wood). Dengan kata lain, itu merujuk ke karya-karya yang bagus, bermutu, tapi tak terlalu populer (bahkan di kalangan kesusastraan yang jumlahnya sedikit sekalipun). Di sisi lain, ungkapan cult tampaknya juga menyiratkan novel-novel atau penulis yang tak laku (itulah kenapa pembacanya sedikit), tapi bagian pemasaran penerbit menyebutnya cult untuk memancing minat segerombolan pembaca menjadi pembaca fanatik. Apa pun itu, ini membuat saya berpikir-pikir, siapa kiranya di Indonesia yang layak disebut sebagai penulis cult? Mungkin Abdullah Harahap dan Asmaraman S. Kho Ping Hoo (keduanya penulis favorit saya)? Tapi di masa kejayaan mereka, karya-karya keduanya bisa dibilang arus-utama bacaan orang Indonesia. Bandingkan dengan H.P. Lovecraft, yang di masa hidupnya tak banyak orang membaca, tapi sekarang memancing minat pembaca baru yang keranjingan (Houellebecq bahkan sampai menulis buku tentangnya, dan Stephen King menulis esai). Saya pikir, saya ingin menyebut Manusia Harimau S.B. Chandra sebagai novel cult. Saya bertemu beberapa orang yang tergila-gila novel itu, memujanya, dan saya sendiri merasa bangga luar biasa karena memiliki novel itu dalam keadaan baik. Sekali lagi, istilah itu bisa saja sebenarnya akal-akalan bagian pemasaran penerbit saja. Jangankan cult, definisi tentang “klasik” pun tak pernah benar-benar ada kesepakatan. Saya punya definisi sederhana untuk klasik ini: karya-karya yang dibaca dan akan terus dibaca dari generasi ke generasi. Tentu saja itu juga problematik, siapa yang membaca dan terus membaca? Pada akhirnya, sebuah karya akan menjadi klasik untuk kebanyakan orang, dan sebagian lagi menjadi klasik untuk sekelompok orang tertentu. Saya bayangkan, novel-novel Pramoedya Ananta Toer akan menjadi klasik. Dulu kita membacanya, sekarang kita membacanya, dan saya yakin akan tetap dibaca beberapa generasi ke depan. Hal yang sama akan terjadi pada novel-novel dari masa Balai Pustaka: Siti Noerbaja, Salah Asoehan, Atheis. Sebagian besar mungkin karena peran para guru, dinas pendidikan, para kritikus dan sastrawan. Saya sendiri bukan penggemar novel-novel era Balai Pustaka, saya menganggapnya membosankan (beberapa saya baca sekali, dan yakin tak ingin membacanya lagi). Jadi bagi saya (mungkin minoritas), itu bukan novel klasik. Saya lebih memilih novel-novel berbahasa Melayu-Pasar dari era yang sama atau lebih tua, misal novel-novel penulis Cina Peranakan. Atau novel-novel yang ditulis oleh penulis-aktivis seperti Marco Kartodikromo. Sekali lagi, definisi ini memang tak kokoh, tapi seseorang harus memiliki pegangan, bukan? Sebuah novel bisa menjadi klasik bahkan jika Anda tak membacanya berulang-ulang, demikian pula sebaliknya. Apa boleh buat, setiap negara memerlukan deretan karya klasik ini, untuk menjadi pegangan bagi warganya apa yang sekiranya perlu dibaca. Sebagaimana sekelompok orang merasa perlu memberi cap penulis kegemarannya sebagai cult, paling tidak agar mengetahui apa yang bisa mempersatukan sekelompok kecil orang dalam bacaan dan antusiasme yang sama.

The Map and the Territory, Michel Houellebecq

Rapuh, barangkali itulah yang ingin disampaikan novel ini. Segala hal di dunia ini rapuh belaka. “Kecantikan bunga-bunga itu menyedihkan sebab mereka rapuh, dan ditakdirkan untuk mati, seperti segala sesuatu di dunia tentu saja, tapi bunga-bunga khususnya memang rapuh,” demikian komentar Jed Martin, tokoh utama The Map and the Territory ini, yang memulai karir melukisnya (ketika masih kecil) dengan menggambar bunga. Novel ini dibuka dengan usaha Jed memperbaiki mesin pemanas ruangan yang rusak, menjelang Natal yang dingin. Mesin pemanas ruangan yang rapuh, yang bisa diperbaiki hanya untuk kemudian memperlihatkan tanda-tanda kerusakan lagi. Sangat mengejutkan bahwa penulisnya, Michel Houellebecq dalam wawancara dengan The Paris Review mengatakan bahwa ia menganut (atau bagian dari keluarga) romantik. Yang artinya, ia percaya ada kebahagiaan abadi, percaya hidup bisa begitu indah. Sementara novel ini memperlihatkan situasi yang sebaliknya, murung, dan tanpa harapan. Plato pernah mengatakan bahwa karya seni itu tak lebih dari mimesis (tiruan) dari kehidupan (ya, sebagaimana ia percaya kehidupan itu sendiri mimesis dari ide). Barangkali dengan cara pandang platonis semacam itulah, kehidupan dilihat di novel ini melalui karya seni dan dari kacamata seorang seniman. Dan sebagaimana kita tahu betapa rapuhnya karya seni (secara nilai estetik maupun nilai benda), maka kita bisa membayangkan betapa rapuhnya juga kehidupan. Tapi dengan kesadaran akan segala yang rapuh inilah, dunia menjadi layak dinikmati dalam kefanaannya, sebagaimana menikmati bunga mekar yang hanya sekelebat. Dorongan untuk menikmati kefanaan ini, saya rasa menciptakan dualisme yang saling bertolak-belakang. Kesadaran akan kerapuhan barangkali akan membuat kita rendah hati, bahwa segala sesuatu tak perlu diperlakukan berlebihan. Sebab segalanya akan mati, punah. Tapi bisa juga disikapi dengan sikap rakus yang mengeksploitasi. Seperti penjaja bunga yang mencoba mengeruk untung dari riwayat singkat kehidupan bunga-bunga. Lihatlah dunia seni rupa, sebagaimana yang dipertunjukkan melalui tokoh Jed Martin ini. Karya-karya fotografinya (kemudian lukisannya), yang dicetak dengan kertas dan tinta yang pasti akan hancur dan pudar dalam beberapa waktu ke depan (demikian juga cat dan kanvas), dikapitalisasi oleh (tak hanya galeri) tapi juga perusahaan multinasional, dan dijadikan investasi oleh para orang kaya dunia. Sebab mereka sadar, jika mereka tak mengeksploitasinya sekarang, segalanya akan lenyap dalam kerapuhan. Bukankah kehidupan manusia juga serupa? Manusia tak akan hidup selamanya. Manusia tak hanya rapuh menghadapi usia, tapi juga rentan oleh penyakit. Di sela-sela itu, selama kehidupan belum hancur oleh kerapuhannya, kita mencoba mengeksploitasi kehidupan kita sendiri. Dalam hal ini, doa orang Kristen yang meminta untuk bersyukur untuk roti hari ini tampak seperti tak memadai: orang ingin rejeki yang melampaui usianya sendiri, melintasi batas-batas kerapuhannya. Bayangkan pula dengan kehidupan seksual. Kita, manusia, telah menemukan seks tak lagi dalam fungsi reproduksi. Seks berarti kesenangan, bahkan pada titik tertentu mungkin komoditas. Kita tak ingin membiarkan seks, yang singkat itu, berlalu begitu saja tanpa memperoleh “nilai lebih”. Sebab, seperti novel ini mengatakannya juga, “Seksualitas merupakan sesuatu yang rapuh: susah dimasuki dan gampang ditinggalkan.” Dua tokoh di novel ini bereaksi berbeda terhadap kerapuhan. Ayah Jed memilih pergi ke luar negeri untuk memperoleh layanan eutanasia. Membayar dokter untuk membunuh dirinya. Ia memutuskan untuk memilih sendiri akhir kerapuhan hidupnya. Jed, sang anak yang kemudian menderita kanker, memilih tak mengobati penyakitnya. Membiarkan kanker menggerogoti tubuhnya, dan hanya mengonsumsi obat pereda sakit. Ia membiarkan kehidupan yang rapuh menguasai dirinya, menghancurkannya perlahan-lahan. Ini novel distopia, dan sebagaimana sering terjadi pada novel yang bagus, sangat mengganggu.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑