Eka Kurniawan

Journal

Tag: Maxim Gorky

Ham on Rye, Charles Bukowski

Begitu membaca halaman pertama, kemudian bab pertama, saya langsung jatuh cinta dengan caranya bercerita, terutama dengan bahasa yang dipergunakannya. Saya selalu suka dengan penulis yang mempergunakan bahasa “pasar”, bahasa sehari-hari, dalam tingkat tertentu barangkali amburadul. Apalagi jika digabung dengan humor (lelucon tentang seks, ras dan bahkan agama, serta apa pun yang selalu dianggap sebagai hal yang serius), ironi, dan kisah penuh petualangan (dengan sedikit kekerasan). Ham on Rye karya Charles Bukowski memberi saya semua itu. Sialan juga kenapa saya tak mencoba membacanya sejak lama. Jujur saya agak malu: saya mengambil buku ini karena bingung mau membeli buku apa, pada saat yang sama saya harus memecahkan uang (agar memperoleh kembalian), dan saya melihatnya tergeletak di satu rak toko buku Strand yang legendaris itu (di komputer saya ada beberapa foto, entah dari mana saya mengunduhnya, para penyair dan penulis Generasi Beat – Beatnik – berdiri di depan toko itu). Untuk banyak orang, novel ini mungkin rasis: ada dialog mengenai “Siapa yang lebih hebat antara orang Jepang dan Cina?” dan dijawab, “Jepang. Tapi masalahnya orang Cina banyak banget, setiap kali Jepang membelah mereka, satu Cina jadi dua.” Untuk kaum feminis, novel ini bisa juga seksis: beberapa adegan di mana para lelaki menonton dan membicarkan memek (“cunt”), dan seorang murid ngocok sampai orgasme, sambil melihat paha guru perempuan yang (mereka pikir sengaja) duduk di meja sedikit mengangkang. Serta imajinasi bocah-bocah itu untuk mengentoti (“to fuck”) guru mereka. Dan bagi kaum relijius, barangkali novel ini juga penistaan: si bocah suatu ketika membaptis anjing agar binatang itu juga memperoleh jalan ke surga, tapi pada saat yang sama ia berhenti mengunjungi gereja. Negara, politik, ideologi, semua menjadi bahan sinisme narator maupun tokoh-tokohnya. Tapi jika kamu bisa membebaskan diri dari beragam prasangka ideologis (ras, gender, agama, atau lainnya), saya rasa kita bisa menempatkannya sebagai pengalaman melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda-beda, termasuk cara pandang yang tidak kita sukai, melalui tokoh-tokoh yang secara alami saya yakin ada di antara kita. Saya selalu percaya, (1) jika hal-hal tertentu merupakan masalah, membicarakannya jauh lebih baik daripada membungkamnya, (2) sebuah novel tak perlu hanya berisi tokoh-tokoh yang pikirannya selalu “benar secara politik”, sebab saya tahu dunia tidak melulu dipenuhi karakter seperti itu. Secara umum, novel ini menggambarkan masyarakat bawah (proletar barangkali lebih tepat, mengingat tokohnya kadang membaca Gorky, hal yang jarang saya temukan di novel penulis Amerika, meskipun Bukowski tak menggunakan istilah itu), kaum yang tercerabut (“kayaknya nasib gue bakalan jadi pembunuh, perampok bank, santa, pemerkosa, pendeta …”), di situasi sosial-politik-politik ekonomi yang serba sulit untuk mereka: masa Depresi Besar, dan menjelang keterlibatan Amerika di Perang Dunia II. Tapi yang menarik perhatian saya sebenarnya bukan tema atau apa yang diceritakannya, melainkan bahasa yang dipergunakan Bukowski. Di satu sisi, ekspresinya bersifat sosial, tapi di sisi lain terasa individual. Seperti puisi yang sangat besar dan luas. Kalimat-kalimatnya cenderung kasar, tak teratur, pendek-ekspresif, tapi tak menghalanginya untuk menjadikannya alat pembawa cerita. Saya rasa, misi estetisnya dengan bahasa bisa dipahami melalui komentar si narator (yang juga tokoh utama) ketika selesai membaca Hemingway: “Words weren’t dull, words were things that could make your mind hum. If you read them and let yourself feel the magic, you could live without pain, with hope, no matter what happened to you.” Memikirkan bagaimana saya memperoleh buku ini, saya semakin merasa begitu banyak buku bagus yang berada di luar radar indera saya. Betapa sedikit yang saya baca selama ini. Lain kali saya perlu mengambil buku secara acak di toko dan melihat apa yang akan terjadi dengan pengalaman baca seperti itu.

Maxim Gorky dan Saran Untuk Kamu yang Mendambakan Cinta Ideal

Beberapa tahun lalu, saat masih mahasiswa, saya iseng menerjemahkan cerpen-cerpen Maxim Gorky dari kumpulan Tales of Italy. Satu hal yang saya ingat (saya tak tahu lagi di mana buku itu, termasuk edisi terjemahannya yang diterbitkan teman saya), cerpen-cerpen itu penuh dengan cinta platonik. Cinta antara lelaki dan perempuan yang diidealisasikan. Tentu saja kebanyakan tokoh-tokohnya merupakan masyakarat kelas bawah, sebagian besar nelayan. Kehidupan mereka biasanya kasar dan keras, tapi menyangkut cinta, mereka menjadi melankoli dan lembut. Beberapa hari ini, karena kesibukan pekerjaan dan perjalanan, sementara saya tetap butuh membaca, saya memutuskan untuk membaca buku-buku tipis yang bisa saya baca di waktu luang yang sangat sedikit. Saya menemukan kumpulan cerpen Gorky lainnya berjudul Chelkash and Other Stories. Isinya cuma tiga cerita pendek, dan lagi-lagi saya menemukan pola tema seperti di cerpen-cerpen yang sebelumnya saya baca. Saya membaca buku itu dari cerpen terakhir, “Twenty Six Men and a Girl”. Itu tentang dua puluh enam bujangan yang bekerja di pabrik roti. Hidup mereka nyaris seperti perbudakan: disekap di satu ruangan, jatah istirahat yang minim, dan jatah makan yang tak mencukupi. Satu-satunya hiburan mereka adalah seorang gadis berumur enam belas tahun yang sekali sehari muncul, bernama Tanya. Mereka semua menyukainya, mencintainya. Mereka mengagungkannya seperti seorang dewi. Tak pernah ada yang berani bicara buruk tentangnya, apalagi mencoba merayunya. Cinta mereka sangat tulus, sehingga mereka tak punya keberanian bahkan untuk berpikir buruk tentangnya. Hingga muncullah karyawan baru, kepala tukang roti yang awalnya seorang prajurit. Si prajurit membanggakan kegantengannya, kemampuannya menaklukkan banyak perempuan. Bahkan membuat perempuan cakar-cakaran memperebutkannya. Kedua puluh enam buruh pabrik roti ini terpesona, dan tiba-tiba mereka ingin menguji “cinta” mereka: satu di antaranya menantang si prajurit, apakah mampu menaklukkan Tanya dalam semalam. Mereka yakin Tanya merupakan dewi mereka, yang polos dan suci, tak mudah jatuh oleh rayuan gombal … di sisi lain, melihat kemampuan si prajurit, keyakinan ini mulai tergerus. Hingga akhirnya mereka harus menelan kenyataan pahit, Tanya jatuh ke pelukan si prajurit. Kedua puluh enam budak pabrik roti ini terbakar oleh amarah cinta mereka sendiri. Cerpen kedua, merupakan bentuk lain cinta platonik yang lucu tapi juga tragis, berjudul “Makar Chudra”. Judul itu sebenarnya aneh, karena Makar Chudra di cerpen itu lebih merujuk ke si narator yang mengisahkan kisah cinta dua gypsi: seorang pemuda bernama Loiko Zobar dan seorang gadis bernama Radda. Intinya, baik Loiko Zobar maupun Radda saling mencintai, tapi mereka lebih mencintai kebebasan, dan tak mau hubungan itu mengkerangkeng mereka. Radda menuntut, jika Loiko mau menjadi suaminya, Loiko harus patuh kepadanya sebagaimana banyak lelaki takluk kepada keinginan isterinya (pendapat ini diutarakan sebagai pembuka oleh si narator, Makar Chudra). Keadaan ini membuat mereka menderita. Mereka tak bisa hidup satu sama lain tanpa merasa terpenjara, tapi juga tak bisa terpisah. Cerpen ini diakhiri dengan tragedi semacam Romeo dan Juliet, di mana si lelaki membunuh si perempuan, dan ayah si perempuan terpaksa membunuh calon menantu yang disayanginya. Baiklah, saya minta maaf karena dengan penuh semangat membocorkan isi cerita masing-masing cerpen. Bahkan meskipun kamu tahu ceritanya (saya sudah pernah membaca cerpen-cerpen ini juga sebelumnya), tetap menarik melihat bagaimana Gorky membangun sebuah konflik, yang pada dasarnya konflik dalaman. Permasalahan ada di dalam pikiran si tokoh, sebelum berakhir dalam sebuah aksi. Jujur saya jadi bertanya-tanya, apakah ini sejenis kritik atas idealisme – melalui cinta platonik? Dengan kata lain, enggak usah mengkhayal tentang cinta yang ideal, hadapi saja kenyataan sesungguhnya. Mungkin saja, toh? Ada satu cerpen lagi, yang menjadi judul buku, “Chelkash”. Tapi saya rasa catatan ini saya akhiri di sini saja, sebelum saya berkhotbah lebih banyak tentang cinta, yang saya jamin, saya tak tahu apa-apa.

Merdeka Memilih Sejarah

Kita tak mungkin memilih ayah dan ibu biologis kita, tapi saya yakin kita bisa memilih ayah dan ibu, dan bahkan leluhur spiritual kita. Buat saya itu jauh lebih penting, dan kita seharusnya merdeka memilih sejarah kita sendiri. Sejarah kesusastraan merupakan contoh paling nyata bahwa kita bisa memilih sejarah kita sendiri, tanpa terkungkung oleh wilayah geografis, oleh keyakinan, bahkan oleh waktu. Bayangkan, salah satu novel penting Prancis, Jacques the Fatalist, beribu novel dari tanah Inggris, Tristram Shandy. Dan novel babon yang ditulis dalam Bahasa Inggris, Ulysses, berayah pada novel Prancis yang sungguh tak dikenal We’ll to the Wood No More. Gabriel García Márquez barangkali tak akan menulis One Hundred Years of Solitude tanpa ia membaca novel terpenting Meksiko, Pedro Paramo; dan apakah Nyai Ontosoroh ciptaan Pramoedya Ananta Toer akan memiliki karakter seperti yang kita kenal, seandainya Pram tak membaca Mother dari Maxim Gorky? Lantas apa gunanya sejarah kesusastraan yang kita kenal di sekolah, yang disebut sebagai sejarah kesusastraan nasional? Entahlah. Sejarah kesusastraan yang dibagi-bagi dalam periode-periode dan tahun-tahun, bagi saya merupakan gagasan paling absurd; siapa pun yang menuliskannya, yang menciptakannya, tak mengerti dengan baik bagaimana kesusastraan secara alamiah bekerja, demikian juga pemikiran yang melatarbelakanginya. Sejarah yang disusun berdasarkan periode-periode, barangkali hanya berguna bagi pengamat di luar, yang ingin tahu apa yang ditulis dan dipikirkan sebuah bangsa di satu waktu dan waktu lainnya, yang bahkan sebenarnya mereka harus sadar bahwa hubungan karya yang ditulis di waktu-waktu yang berbeda itu tidak selurus yang mereka bayangkan. Bagi penulis, setidaknya untuk saya, itu tak banyak membantu. Sebab seperti masa depan, masa lalu seharusnya merupakan pilihan. Seperti kita menciptakan peta jalan untuk masa depan kita, semestinya kita merdeka memilih peta jalan masa lalu, dan itu besar kemungkinan tidak merupakan jalan lurus yang membentang. Sebab mustahil menentukan masa depan tertentu tanpa kita memilih masa lalu tertentu. Memilih sejarah sendiri, bagi saya seperti meramu makanan di meja dapur. Artinya, kita tak hanya memerdekakan diri dari selera makan yang diam-diam terbentuk, tapi membayangkan rasa yang akan didapat, bahkan mungkin juga bersiap dengan kemungkinan-kemungkinan baru yang tak terbayangkan, rasa yang tak disangka-sangka. Bayangkan jika kita bisa menciptakan novel yang beribu dari novel-novel horor-fantasi H.P. Lovecraft dan berayah novel horor-politik Geroge Orwell, serta diselingkuhi oleh novel horor lokal ala S.B. Chandra, kira-kira akan menghasilkan novel horor macam apa? Sudah jelas hasilnya sangat absurd jika kemudian kita letakkan novel (dan penulisnya) dalam sejarah kesusastraan dalam kerangka periode tertentu, katakan saja sastra angkatan 2014; sementara rekan segenerasinya menciptakan novel yang berayah Serat Centhini dan beribu novel-novel Barbara Cartland. Baiklah, yang jauh lebih penting dari kemerdekaan memilih sejarah kesusastraan sendiri, karena kemerdekaan semacam ini hanyalah buah turunan, adalah kemerdekaan pikiranmu dari segala yang mengungkung. Sejarah sebagaimana yang lainnya selalu merupakan pisau bermata dua: mengikatmu atau membebaskanmu. Sebab sebagaimana tubuhmu, pikiran juga sangat mudah untuk terpenjara. Dan lebih berbahaya daripada penjara untuk tubuh, penjara untuk pikiran seringkali tak terlihat. Dan lebih sialnya: penjara pikiran besar kemungkinan tak tersadari.

Gagasan Kecil Tentang Penerjemahan dari dan ke Bahasa yang Sama

Karena memutuskan untuk lebih banyak membaca karya-karya klasik yang telah berumur paling tidak lebih dari satu abad, saya mulai menemukan buku-buku dengan berbagai versi terjemahan. Tentu saja ini menguntungkan sebagai pembaca, saya bisa memilih dengan berbagai pertimbangan. Meskipun begitu, kadang-kadang saya malah membaca lebih dari satu versi. Misalnya Don Quixote. Pertama kalinya saya membaca terjemahan Bahasa Inggris karya Pierre Antoine Motteux (meskipun terbit pertama kali sekitar 1700, banyak diterbitkan dan karenanya murah. Itu alasan saya dulu membelinya). Beberapa tahun yang lalu, terbit terjemahan baru Don Quixote karya Edith Grossman. Bagi pembaca sastra Amerika Latin, siapa yang tak kenal Edith Grossman? Ia melanjutkan kerja Gregory Rabassa untuk menerjemahkan karya-karya Márquez yang lebih baru, belum termasuk karya-karya penulis Latin lainnya. Saya tak bisa menahan diri untuk tak membaca kembali Don Quixote dalam terjemahan baru. Hal yang sama terjadi pada Arabian Nights (atau kita kenal sebagai Hikayat Seribu Satu Malam). Ada satu terjemahan klasik karya Richard F. Burton (pertama kali terbit tahun 1885, sangat disukai oleh Borges). Hampir sebagian besar penulis Barat membaca Arabian Nights dari versi Burton ini, yang juga merupakan versi yang saya baca (bukan yang pertama, sebab saya pernah membaca versi sederhana dalam Bahasa Indonesia, yang saya lupa terbitan mana). Sebenarnya versi ini sangat lemah dalam aspek orisinalitas. Burton memakai sumber yang berbeda-beda untuk terjemahannya. Beberapa dekade yang lalu, muncul edisi “kritis” (melalui penelitian akademis yang ketat), yang dikenal sebagai “versi teks Leiden” yang dikurasi oleh Muhsin Mahdi. Terjemahan Bahasa Inggris versi ini dilakukan oleh Husain Haddawy (saya rasa terjemahan Bahasa Indonesia ada juga yang mendasarkan versi ini). Saya menyukai versi Husain Haddawy (Volume 1 bisa dibilang yang asli, Volume 2, bisa dibilang untuk menyenangkan hasrat pembaca meskipun cerita-cerita di dalamnya bukan bagian dari Arabian Nights, seperti dongeng tentang Sinbad, dll). Bahasa Inggris Haddawy terasa lebih enak dibaca, tentu karena lebih modern, daripada Burton. Tapi saya masih sering membaca Burton juga karena alasan sederhana: ada cerita-cerita yang ada di Burton tapi tak ada di Haddawy (karena metodologi Burton lemah, sering memasukkan cerita yang bukan Arabian Nights, tapi malah membuatnya jadi menarik), seperti kisah yang saya sukai “The Ruined Man Who Became Rich Again Through a Dream”. Baru-baru ini penerjemah penting Bahasa Jerman ke Inggris, Susan Bernofsky merilis versi baru The Metamorphosis Franz Kafka. Saya lupa sudah baca berapa versi novela ini. Saya bahkan pernah menerjemahkannya (yang saya rasa kualitasnya menyedihkan). Saya tak bisa menahan diri, saya pasti akan membaca versi ini begitu bukunya beredar di pasar. Untuk karya-karya dari Rusia, pasangan penerjemah Richard Pevear dan Larissa Volokhonsky menjadi bintang terjemahan Bahasa Inggris versi baru dalam belasan tahun terakhir. Saya membaca beberapa karya Gogol dan Nikolai Leskov melalui terjemahan baru mereka (saya menunggu dan berharap mereka mau menerjemahkan kembali Gorky). Dari pengalaman kecil ini saya berpikir, enak sekali ya, jadi pembaca karya-karya terjemahan (terutama Bahasa Inggris, sebenarnya). Ada banyak pilihan dan untuk karya-karya agung, selalu ada versi terjemahan yang segar dalam bahasa yang modern. Tentu selain faktor-faktor kesalahan terjemahan, salah metodologi atau salah sumber, faktor “keusangan” bahasa menjadi sangat penting. Bahasa selalu tumbuh dan berkembang, dengan begitu karya terjemahan juga seringkali memerlukan pembaharuan untuk mengikuti target pembacanya. Bahkan penulis-penulis yang masih hidup pun, beberapa di antaranya memperbaharui terjemahan karyanya (dengan beragam alasan). Misalnya Milan Kundera pernah menyibukkan diri dengan merevisi hampir seluruh karyanya dalam terjemahan Bahasa Inggris. Orhan Pamuk juga mengeluarkan The Black Book dalam versi terjemahan baru. Sekali lagi, kita sebagai pembaca dimanjakan dalam perkara ini. Saya misalnya tak perlu membaca The Divine Comedy dalam terjemahan kuno, sebab ada terjemahan baru yang segar karya Clive James. Atau karya Ryūnosuke Akutagawa (Rashomon and Seventeen Other Stories) yang diterjemahkan kembali oleh salah satu penerjemah Murakami, Jay Rubin. Sialnya, kemewahan ini tak berlaku justru untuk pembaca bahasa asli karya tersebut ditulis. Orang Spanyol, misalnya, tetap membaca Don Quixote dalam Bahasa Spanyol Cervantes abad ke-17, sebagaimana orang Prancis membaca Pantagruel François Rabelais dengan Bahasa Prancis abad ke-18. Dalam kasus kita, kita tetap akan membaca Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat Asrul Sani dalam Bahasa Indonesia generasi 45 (yang untuk banyak anak muda, terasa jadul dan menjadi tembok penghalang). Saya jadi memikirkan gagasan sinting ini: bagaimana jika karya-karya klasik itu diterjemahkan ke bahasa yang sama tapi lebih modern? Tentu kita tahu, banyak beredar karya-karya klasik yang ditulis ulang (dalam bahasa yang sama) agar lebih mudah dibaca. Tapi biasanya itu versi ringkas, atau versi “enak dibaca” untuk para pemula (anak sekolah yang sedang belajar), atau bahkan versi penyederhanaan. Bukan. Maksud saya bukan itu. Maksud saya tetap terjemahan, yang ketat, dengan kualitas yang tinggi, tapi modern. Tidak boleh disadur. Proses yang sama seperti menerjemahkan dari Prancis ke Inggris atau dari Rusia ke Spanyol, tapi kali ini dari Spanyol ke Spanyol atau dari Rusia ke Rusia. Bayangkan saja suatu ketika ada edisi Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat yang “diterjemahkan ke Bahasa Indonesia modern oleh A.S. Laksana”, misalnya. Atau, Don Quixote yang “diterjemahkan ke Bahasa Spanyol modern oleh Javier Marías”. Sekali lagi, gagasan ini mungkin tidak baru, dan terdengar seperti melecehkan karya-karya agung, tapi kenapa tidak? Paling tidak, bagi saya, itu terdengar menyenangkan dan sedikit menantang. UPDATE: Baru membaca soal ini, bahwa novel (konon novel pertama di dunia) Tales of Genji karya Murasaki Shikibu dari abad 11, “diterjemahkan” ke Bahasa Jepang abad 20 oleh penyair Akiko Yosano.

Out Stealing Horses, Per Petterson

Hari ini seorang teman bertanya, apa yang membuat saya menyukai karya-karya Knut Hamsun. Ia mengingatkan saya, tak banyak pengaruh Hamsun dalam karya saya, juga mengingatkan saya, bahwa Hamsun dekat dengan Nazi. Saya tak tertarik dengan Nazi-nya, jika ia memang seorang Nazi. Seorang Marxis dan komunis seperti Maxim Gorky mengagumi karya-karya Hamsun juga. Seorang Yahudi seperti Isaac Bashevis Singer juga pengagum Hamsun. Dengan mudah kita melihat pengaruh Hamsun di kedua penulis tersebut. Bagi saya, realisme Hamsun memang menarik. Metodenya seperti membalik apa yang dilakukan Dostoyevsky. Jika Dostoyevsky menceritakan manusia dengan cara menerobos masuk ke dalam diri manusia, Hamsun memakai cara yang sama mengeluarkan isi manusia ke lingkungan sekitarnya. Di Growth of the Soil, kita membaca jiwa si manusia melalui apa yang dilakukannya di tengah hutan, bagaimana ia menebang pepohonan, memelihara ternak, berkebun. Si tokoh yang bahkan tak banyak bicara ini, kita bisa mendengarnya sebagaimana kita serasa mencium aroma jerami, tai ternak, dan udara hutan. Saya bukan penggemar sastra Norwegia, juga bisa dibilang tak tahu apa-apa soal itu. Tapi di kepala saya, penulis yang memuncaki hirarki kesusastraan versi saya adalah Knut Hamsun, penulis Norwegia. Saya tak yakin saya akan menulis novel, bahkan menulis blog ini, tanpa pernah mengenal Hamsun. Saya menyinggung soal sastra Norwegia karena pernah seorang teman berkata, “Jika ada sastrawan Indonesia terkenal di dunia, dunia pasti akan memerhatikan kesusastraan Indonesia.” Sebagai warga negara yang baik, saya harus akui, impian semacam itu tentu saja indah. Tapi saya tak terlalu yakin dengan kenyataannya. Saya menyukai Gabriel García Márquez, tapi itu tidak dengan dengan serta-merta membuat saya penasaran dengan sastra Kolombia. Saya tidak yakin juga, sebagian besar orang yang menyukai Milan Kundera akan dengan serta-merta penasaran pengin tahu kesusastraan Ceko. Sebagian besar penulis terikat dengan kesusastraan negaranya, tapi dalam banyak kasus, seorang penulis dan karyanya menarik karena ia adalah dirinya, bukan karena bagian dari kesusastraan tertentu. Meskipun begitu, ketika saya menemukan dan membaca novel Out Stealing Horses karya Per Petterson, dan mengetahui ia penulis Norwegia, mau tak mau saya teringat kepada berhala saya, Hamsun. Dan semakin membaca halaman demi halaman novel tersebut, saya semakin melihat di sana-sini Hamsun seperti muncul kembali. Barangkali karena lanskap dan cara bercerita mereka yang mengingatkan satu ke yang lainnya. Hutan dan penebangan pohon di novel ini mengingatkan saya ke hutan di Growth of the Soil (meskipun saya rasa, yang satu di bagian selatan, yang lain di utara), atau lanskap hutan di Pan. Suasana pedesaan dan penghuninya (ah, termasuk gadis pemerah susu yang membuat kemaluan si tokoh menggelembung di balik celananya), mengingatkan saya pada suasana pedesaan di The Wanderer. Cara Per Petterson mendeskripsikan lanskap dan lingkungan sekitar untuk memberi suara kepada dunia dalam si tokoh, saya rasa merupakan warisan Hamsun yang sudah saya sebut di atas. Meskipun begitu, ada hal yang sangat jelas membedakan keduanya. Di sebagian besar (jika tak bisa bilang semuanya!) novel Hamsun, cerita didorong oleh motif-motif dan kehendak yang keluar dari si tokoh utama (dan biasanya, memang hanya menceritakan satu tokoh utama). Di Hunger, seluruh bangunan cerita disusun oleh motif si tokoh yang ingin menjadi penulis. Di Growth of the Soil, peristiwa demi peristiwa terjadi diawali oleh keputusan si tokoh untuk masuk hutan dan membangun “peradaban” di sana. Di The Wanderer, semuanya dimulai karena kehendak si tokoh untuk mengembara. Dalam hal ini, Per Petterson sedikit berbeda: nasib si tokoh tidak melulu ditentukan oleh pilihan dan kehendaknya, tapi boleh jadi oleh apa yang dilakukan oleh orang lain. Dalam hal ini, bagaimana si tokoh terpengaruh oleh apa yang dilakukan ayahnya dengan perempuan lain, dan oleh peristiwa penembakan seorang bocah sepuluh tahun atas saudara kembarnya. Ini dua tradisi bercerita yang sangat berbeda. Yang satu seperti efek domino di mana satu kartu dijatuhkan dan akan menjatuhkan kartu-kartu lain secara berkesinambungan, yang kedua seperti permainan karambol (atau biliard), di mana satu bola digerakkan dan membuat beragam gerakan berantai (yang sangat tak beraturan) tergantung posisi bola-bola lain. Meskipun dalam karya-karya Hamsun kita seperti melihat garis lurus, membaca Per Petterson ini membuat saya kangen membaca kembali novel-novel Hamsun. Ada yang kurang dimiliki Petterson tapi dimiliki Hamsun secara melimpah: humor.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑