Eka Kurniawan

Journal

Tag: Mario Vargas Llosa

Kematian Budaya?

Tak heran jika banyak orang mengomentari Mario Vargas Llosa sebagai “si kakek penggerutu”, terutama setelah terbitnya buku esai Notes on the Death of Culture. Saya membaca buku itu sepanjang kunjungan ke Melbourne (udara dingin menguras banyak energi untuk membaca), dan membacanya di sela-sela aktivitas, terutama ketika bangun tidur, hendak tidur, dan sambil makan. Kemudian lanjut di Brisbane (akhirnya berada di kota yang hangat!). Bagaimanapun, si kakek penggerutu cukup membuat saya gelisah juga dengan bahasannya. Beberapa bagian saya setuju dengan pandangan-pandangannya, beberapa yang lain saya punya pikiran sendiri, tapi setidaknya buku itu memancing dialog yang segar di kepala saya, dan bukankah itu tugas terbaik sejilid buku? Bagian paling menarik dari buku ini ada di bagian tengah, ketika ia bicara tentang erotisisme. Baginya, erotisisme (di mana seks diperlakukan sebagai seni), merupakan satu-satunya pembeda manusia dengan binatang. Ketika seniman (dan manusia umumnya) melihat seks tak hanya sebagai urusan menuntaskan berahi dan apalagi tak hanya urusan reproduksi, manusia telah sampai pada tahap sebagai makhluk yang berbudaya. Tradisi kesusastraan (juga seni lainnya) memperlihatkan bagaimana kita memperlakukan seks, menemukan teknik-teknik untuk menjadikan seks sebagai kesenangan, ekspresi cinta, imajinasi, atau bahkan mencari kemungkinan-kemungkinan dari seks untuk meningkatkan kualitas hidup (kebahagiaan, misalnya). Tapi penanda kita sebagai makhluk berbudaya ini, menurut Llosa, mulai tumbang. Seks tak lagi sebagai erotisme, tapi sudah seperti pornografi di masa kini. Contoh terbaik mengenai hal ini adalah sastra “sampah” (picisan?) yang “turned into something that is the mere satisfaction of the reproductive instinct.” Baiklah, tampaknya memang ia seorang kakek penggerutu. Garis besar gerutuannya sebenarnya terletak pada tumbangnya budaya adiluhung, yang sebelumnya dijaga baik-baik oleh kelas elit di masyarakat, oleh budaya “penonton” yang tak lain merupakan budaya popular, atau budaya massa. Seks hanya salah satunya saja. Jika zaman dahulu seks dalam kebudayaan berarti kita bicara tentang Kamasutra, Freud, Picasso, bahkan Sade … di masa kini barangkali yang ada di pikiran kita tentang seks adalah para bintang porno seperti Sora Aoi, atau perkakas semacam dildo. Keindahan, pemikiran, bahkan mistisime seks digantikan semata-mata oleh tontonan seks. Tak hanya seks tentu saja, menurutnya ini terjadi di banyak hal. Sastra serius digusur oleh sastra ringan (yang dibaca kemudian dibuang, seperti makanan ringan). Musik ringan, film ringan merajalela. Bahkan pertandingan olah raga, yang pada suatu masa merupakan ekspresi religius dengan beragam ritualnya (ingat olimpiade kuno), kini tak lebih dari sekadar tontonan di akhir pekan (barangkali dengan mesin judi yang berputar kencang). Dalam hal ini, sebenarnya tak banyak hal baru dalam bukunya ini. Orang sudah banyak membicarakan ini di mana-mana, dan selama penggerutu masih ada akan ada orang yang menggerutukan hal ini. Llosa hanya membuatnya lebih fokus, dan dari sana ia memberinya sudut pandang. Di sini lah saya rasa masalahnya. Kembali ke soal seks, Llosa menyatakan bahwa erotisme terikat dengan kebebasan manusia. Tapi saya menangkap, “kebebasan manusia” dalam pandangannya lebih banyak terikat kepada kebebasan elit, yakni sekelompok kecil kelas manusia yang bisa (atau senang) memperlakukan seks dengan cara yang ia harapkan: indah, nyeni, intelek, yang kemudian disebut sebagai erotisme. Kebebasan itu tampaknya tak berlaku untuk sebagian besar masyarakat, yang barangkali hanya ingin melihatnya sebagai tontonan, sebagai pelampiasan nafsu, yang menurutnya lebih mendekatkan seks sebagai pornografi dan manusia sebagai binatang (sebenarnya bukankah benar, manusia adalah binatang?). Di satu sisi, di bagian ketika ia membahas politik dan kebudayaan, ia menentang rejim politik mengontrol budaya, tapi di sisi lain, ia merindukan kebudayaan berada di tangan yang benar (siapa? elit?). Saya rasa, meskipun pandangannya bisa dimengerti dari sudut pandangnya, pada saat yang sama, sebenarnya bisa menjadi alat untuk melegitimasi pandangan kaum konservatif juga. Setidaknya dalam hal ini mereka sama: melihat pornografi sebagai tidak berbudaya, serta memandang rendah “budaya” yang hanya bersifat ragawi (menonton, misalnya). Bagi saya sebenarnya sederhana saja. Jika kebudayaan di masa sekarang dikendalikan oleh kerumunan massa, selalu ada ruang untuk siapa pun keluar dari kerumunan. Berjalan sendiri, menemukan setapak sendiri. Itu terjadi di masa lalu, terjadi di masa sekarang, dan akan terjadi di masa yang akan datang. Perbedaan besarnya terletak pada kenyataan bahwa masyarakat kini memiliki suara yang lantang. Kaum elit mungkin risau.

With Borges, Alberto Manguel

Seorang remaja enam belas tahun, mengisi waktu luangnya sepulang sekolah dengan menjadi penjaga toko buku Pygmalion di satu sudut Buenos Aires. Toko itu terutama menjual buku-buku impor berbahasa Inggris dan Jerman. Satu sore, seorang pelanggan buta datang dan menawari si bocah, seandainya ia punya waktu untuk bekerja dengannya, sebagai pembaca buku. Ia menerimanya, dan dari 1964-1968, Alberto Manguel datang sekitar tiga kali seminggu untuk membacakan buku (atau apa pun) kepada si pelanggan buta. Ia menjadi satu dari sedikit orang yang beruntung pernah menjadi pembaca bagi seorang penulis yang kita tahu menjadi salah satu tonggak untuk cerita pendek, realisme magis, el boom: Jorge Luis Borges. Manguel menceritakan pengalaman istimewanya dalam sebuah buku tipis berjudul With Borges. Saya tak pernah tahu ada buku ini sebelumnya, menemukannya secara tak sengaja di sebuah toko buku bekas bernama Judd Books, di 82 Marchmont Street, London, ketika sedang iseng berjalan-jalan sambil memakan es krim. Sebenarnya bukan buku bekas, ada sebuah meja yang khusus memajang buku baru (setidaknya buku-buku dengan kondisi baru). Setiap judul ditumpuk ke atas, berisi beberapa kopi. Mungkin sisa gudang, mungkin juga si pemilik toko sengaja menyediakan buku baru atas pilihannya sendiri. Di meja itu, saya melihat ada satu novel Bolaño, ada satu ulasan tentang Garcia Lorca, kumcer Raymond Carver. Saya hanya mengambil With Borges, seharga 3,99 pound. Saya membacanya di dalam kereta, lalu melanjutkannya dalam penerbangan dari Heathrow menuju Changi. Buku ini berisi setengah memoar dan setengah ulasan, dan seolah menegaskan kecenderungan karya-karya Borges, Manguel merasa hanya perlu 74 halaman buku untuk menceritakan itu semua. Untuk seorang pembaca Borges, barangkali banyak hal di buku ini pernah diketahui, atau pernah dibaca di tempat lain, tapi saya rasa ini salah satu buku yang perlu dibaca tak hanya menyangkut Borges, tapi juga menyangkut kesusastraan. Seperti kristal, peristiwa-peristiwa pendek yang terjadi dalam kehidupan Borges dan kemudian diceritakan kembali oleh Manguel, memancarkan begitu banyak hal mengenai sastra sebagai keterampilan maupun jalan hidup. Salah satu yang baru saya ketahui dan mengharukan adalah, ketika Manguel pertama kali datang ke apartemen Borges dan menyadari (kontras dengan reputasi sang pengarang yang dikenal sebagai “pembaca banyak hal”), tak banyak buku di sana. Hanya ada rak kecil di ruang baca, dan rak lebih kecil di kamarnya. Sebagian besar buku-buku klasik, yang juga gampang ditemukan di tempat lain. Manguel kemudian teringat komentar Mario Vargas Llosa yang pernah berkunjung ke apartemen tersebut dan bertanya kenapa hanya sedikit buku di sana. Si tuan rumah menjawab, “Mungkin (mengumpulkan buku) itu yang kalian lakukan di Lima, di sini di Buenos Aires kami tak suka pamer.” Borges mulai membuta di akhir 30an, kebutaan yang teramalkan (ayah dan kakeknya menderita hal yang sama), dan buta total menjelang umur 60. Mengenai kebutaannya, Borges sendiri pernah menulis esai menarik berjudul “Blindness” (di buku Seven Nights). Memoar ini, sekali lagi ini memoar seorang pembaca buku untuk seorang penulis buta, juga banyak berputar mengenai kebutaannya. Untuk membaca buku, ia banyak dibantu oleh ibunya (“Saya pernah mengurus suami yang buta, sekarang saya mengurus anak saya yang juga buta”), dan beberapa teman yang membacakan buku untuknya. Di balik kebutaannya, Borges memiliki ingatan yang luar biasa. Ia menghapal banyak karya, kata per kata, kalimat per kalimat. Ia mengarang puisi dan cerpennya di dalam kepala, mengoreksinya di dalam kepala, hanya mendiktekannya ketika puisi atau cerpen itu telah tersusun rapi di kepalanya. Dan jika ia pergi ke toko buku, ia akan berjalan sepanjang rak dan tangannya meraba jilid buku, merasakannya, seolah ia tahu persis apa isi buku tersebut. Ia tak pernah sedih mengenai kebutaannya, tidak pernah menganggapnya sebagai sebuah tragedi, dan bahkan dengan bangga ia sering merujuk kepada Homer, penyair agung yang juga buta. Borges percaya tugas moral manusia adalah menjadi bahagia, dan kebahagiaannya terletak dalam membaca buku. Kebutaan tak pernah menghalanginya untuk membaca buku, untuk bahagia. Sekali lagi, buku ini sangat tipis. Tapi untuk seorang pembaca buku, atau penulis, buku ini seperti tonjokan tanpa ampun.

Senyap yang Lebih Nyaring

Tugas seorang penulis, dan intelektual secara umum, adalah bersuara. Tapi sejarah memperlihatkan, ada kalanya penulis memilih pesan bisu. Satu waktu, Gabriel García Márquez dan Mario Vargas Llosa pergi menonton film di bioskop. Entah apa yang terjadi di dalam, keduanya terlibat adu jotos. Kita hanya tahu melalui satu foto terkenal di mana Márquez keluar dari bioskop sudah dalam keadaan mata membengkak. Sampai akhir hayatnya, Márquez memilih bisu tentang apa yang terjadi, demikian pula Llosa sampai hari ini. Ada yang bilang itu menyangkut pilihan politik mereka (Márquez dikenal sebagai orang kiri, Llosa dari kiri kemudian menjadi kanan-liberal), tapi ada juga yang bilang itu urusan perempuan belaka. Tak ada yang tahu. Kedua peraih Nobel itu memilih bisu. Seumur hidup mungkin tak akan ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan barangkali itu lebih baik. Kebisuan yang paling “mengharukan” bagi saya tentu saja kebisuan Albert Camus di tahun-tahun terakhir hidupnya, terutama menyangkut perseteruan dan pertengkarannya dengan Jean-Paul Sartre, orang yang pernah menjadi sahabat dekatnya. Camus tak hanya berhenti bicara dengan Sartre, juga berhenti menulis tanggapan secara langsung, dan tak juga bicara tentang Sartre dengan orang lain secara terang-terangan. Kita tahu pertengkaran mereka dipicu oleh dua hal: perang Alzajair dan dukungan Sartre untuk Uni Sovyet. Kita tahu, Sartre yang pada dasarnya “intelektual belakang meja”, dari keluarga borjuis Paris, merupakan pendukung komunisme Sovyet dan perjuangan Aljazair membebaskan diri dari koloni Prancis (dengan kekerasan). Di lain pihak, ironinya, Camus yang merupakan orang lapangan, yang bergerilya dan menerbitkan pamflet bawah tanah, si anak kere proletar, tidak mendukung Sovyet dan perang Aljazair dianggapnya hanya membuat rakyat Aljazair lebih sengsara (ia lahir di sana). Kita tahu pertengkaran mereka demikian meruncing hingga akhirnya Camus “ngambek” dan tak mau bicara lagi dengan Sartre. Jika bermain Facebook dan Twitter, pasti mereka sudah unfriend dan unfollow. Ada tulisan Sartre yang mengharukan mengenai kebisuan Camus, yang ditulisnya sebagai obituari setelah Camus meninggal dalam kecelakaan mobil. “Enam bulan lalu, atau bahkan kemarin, kami bertanya-tanya, ‘Apa yang akan ia lakukan?’” tulis Sartre. Ia mengakui mereka bertengkar, dan menghormati kebisuan Camus. Tapi itu tak menghalangi Sartre untuk terus bertanya-tanya, buku apa yang sedang dibaca Camus. Jika ia membaca koran, ia bertanya kepada diri sendiri, apa komentar Camus mengenai topik ini? Kadang ia juga mengaku, kebisuan Camus menyakitkan. Ia yakin suatu hari Camus akan bicara, akan berubah sebagaimana dunia berubah. Tapi Sartre salah. Camus tetap membisu hingga kecelakaan mobil menghentikan hidupnya. Kebisuannya terdengar menjadi sesuatu yang nyaring, dan saya rasa menggema panjang bahkan hingga hari ini. Saya baru membaca sepotong biografi, sejenis kesenyapan dan kebisuan lain dari seorang penulis bernama Djuna Barnes. Tinggal di Paris, di lingkaran para penulis semacam Joyce dan Pound dan Hemingway dan Fitzgerald, ia dikenal sebagai orang yang selalu diam di kerumunan, meskipun mereka juga mengakuinya sebagai “perempuan paling brilian di masanya”. Pamornya yang cemerlang, tapi kebisuannya yang misterius, bahkan membuat dua perempuan penulis yang memujanya “menderita”: Anaïs Nin dan Carson McCullers. “Senyap membuat pengalaman melangkah lebih jauh, dan, ketika itu mati, memberinya martabat sebagaimana terhadap sesuatu yang kita sentuh dan tak lenyap.” Saya suka kutipannya, dan membaca biografi dialah yang membuat saya teringat kebisuan-kebisuan lain dari penulis lain. Saya juga jadi teringat jurnal yang saya tulis beberapa bulan lalu: di tengah kebisingan, ketika semua orang bisa bersuara, apa tugas penulis? Jawaban saya saat itu dan saat ini tetap: diam. Ada kalanya kita memang harus diam. Tutup mulut dan berpikir lebih panjang. Sebab senyap seringkali memberi pesan yang lebih nyaring dari apa pun. Selamat Natal.

Berbagi Mengenai Penerjemahan

30 September merupakan Hari Penerjemahan Internasional. Mari bicara tentang ini. Tak bisa disangkal, banyak penulis berharap karyanya diterjemahkan ke bahasa asing. Tak hanya membuka ruang pembaca baru, tapi terutama tentu saja sedikit gengsi: karya yang diterjemahkan setidaknya mengindikasikan karya tersebut memiliki nilai atau kualitas tertentu. Beberapa orang barangkali beruntung menguasai lebih dari satu bahasa sehingga bisa melakukannya sendiri. Isaac Bashevis Singer, salah satu yang saya tahu menerjemahkan karyanya sendiri (sebagian) ke bahasa lain. Tapi tentu tak semua orang seberuntung itu. Bahkan meskipun bisa melakukannya, atau nekat melakukannya, juga bukan hal yang gampang menerbitkan karya terjemahan. Banyak orang buta mengenai hal ini. Saya salah satunya. Sekarang sedikit bisa melihat, meskipun boleh dibilang masih rabun. Saya ingin berbagi sedikit mengenai pengalaman saya, siapa tahu berguna bagi penulis lain. Saya tahu banyak penulis dan karya dalam kesusastraan kita, yang layak untuk dibaca di luar teritori bahasa kita. Baiklah, sekali lagi, seperti kebanyakan penulis di sini, saya buta soal penerjemahan karya ke bahasa asing. Saya tak kenal penerjemah, tak kenal penerbit di luar, atau intinya, saya tak punya kenalan siapa-siapa. Diperparah oleh kenyataan saya punya kecenderungan bekerja sendiri, tak punya komunitas dengan jaringan luas dan kemampuan keuangan yang mampu mengirim anggotanya ke berbagai acara kesusastraan di luar, hanya memiliki sekelompok teman yang nasibnya kurang-lebih sama seperti saya. Satu-satunya yang bisa saya lakukan hanyalah menulis sebaik mungkin, menerbitkannya di sini, dan berharap ada orang yang menyukainya. Dalam keadaan seperti itu, ketika Cantik Itu Luka diterjemahkan dan terbit dalam Bahasa Jepang (2006), bisa dibilang itu kebetulan. Ibu Ribeka Ota (ia menerjemahkan karya Murakami ke bahasa Indonesia juga), orang Jepang yang tinggal di Semarang, kebetulan membaca novel itu dan menyukainya. Atas inisiatifnya sendiri, ia menerjemahkan novel itu. Entah berapa lama. Saya rasa ia melakukannya karena hobi, sebab ia tak menghubungi saya maupun penerbit saya pada awalnya. Hingga satu hari, sebuah agen (literary agent) yang bermarkas di Tokyo menghubungi saya, bilang ada penerbit Jepang ingin menerbitkan novel itu. Saya senang dan kaget, tentu saja. Semakin kaget ketika tahu, naskahnya sudah siap dan tinggal terbit. Dari merekalah saya kemudian berkenalan dengan Ibu Ribeka Ota. Ia masih memperbaiki naskah novel tersebut dengan berkonsultasi ke saya (saya ingat mengiriminya foto-foto pohon untuk menunjukkan nama pohon yang tidak dimengertinya), sebelum terbit. Itu buku pertama saya yang terbit dalam bahasa asing. Saya rasa, nasib saya sangat baik. Hal itu juga terjadi dengan edisi Malaysia untuk novel yang sama. Bahkan bisa dibilang, saya sama sekali tak berhubungan dengan penerbit maupun penerjemahnya. Kami diperantarai pihak ketiga, hingga buku itu akhirnya terbit. Hal yang sama terjadi dengan novel Lelaki Harimau. Ada sebuah penerbit dari Italia yang mengirim orang ke Indonesia untuk mencari karya-karya lokal untuk diterjemahkan dan terbit di sana. Saya tahu ia mengambil beberapa karya penulis Indonesia lainnya. Saya tak tahu bagaimana ia kemudian memutuskan mengambil novel saya juga (L’Uomo Tigre, dari informasi penerbitnya, akan terbit awal tahun depan). Tiga kasus itu hanya menunjukkan betapa pasifnya saya. Saya yakin, tak hanya saya, tapi sebagian besar penulis Indonesia juga sepasif itu. Sebagian besar karena saya buta soal urusan ini. Lagipula menunjukkan hasrat agar karya diterjemahkan ke bahasa asing, untuk standar moral saya, agak memalukan (meskipun sebenarnya sah-sah saja). Hal ini sedikit berubah setelah saya bertemu dua sahabat baik: Ben Anderson dan Tariq Ali. Dalam beberapa pertemuan, Ben sedikit mengkritik sikap pasif saya. Saya sadar, seambisius apa pun kita, kita cenderung menyembunyikannya. Saya termasuk, tentu saja. Tapi Ben mengingatkan satu hal yang sangat penting: terjemahan yang buruk akan memberi kesan yang buruk terhadap karyamu. Itulah kenapa ia menyarankan saya lebih aktif. Ia menyarankan saya untuk memulai memikirkan penerjemahan karya saya ke Bahasa Inggris dan Perancis sebagai awalan. Kedua bahasa itu bisa dibilang lingua franca. Pintu gerbang untuk ke seluruh dunia. Meskipun saya mengerti, saya toh tak bisa berbuat apa-apa juga. Memang apa yang bisa saya lakukan? Selama bertahun-tahun sejak obrolan itu, bisa dibilang saya tak melakukan apa pun. Hingga satu hari saya bertemu dengan Tariq Ali, makan siang bersama di satu restoran Jepang di Kemang. Ia galak. Tentu saja galak, sebab ia memang aktivis. Dia orang yang diceritakan oleh The Rolling Stones dalam lagu “Street Fighting Man”. Dia yang muncul di satu episode novel Bad Girl Mario Vargas Llosa sedang teriak-teriak di jalanan London. Dia bilang, “Karyamu harus dibaca pembaca berbahasa Inggris” dengan nada seolah saya tak punya pilihan lain. “Cari penerjemah sekarang juga.” Sejujurnya saya agak terteror waktu itu. Hampir setiap bulan dia bertanya, sejauh mana prosesnya? Saya hanya membalas dengan basa-basi, sebab kemajuan saya bisa dibilang sangat lambat. Atau tak bergerak sama sekali. Bagaimana bisa bergerak, saya bahkan tak kenal penerjemah? Hingga akhirnya, setelah memperoleh kepastian dari Verso bahwa mereka akan menerbitkan karya saya (Lelaki Harimau/Man Tiger), saya memberanikan diri menghubungi beberapa penerjemah, untuk memberi contoh terjemahan 1-2 halaman. Contoh-contoh itu dikirim ke London (untuk Tariq) dan Los Angeles (untuk Ben). Kami akhirnya memilih Labodalih Sembiring untuk menerjemahkan karya tersebut (hampir dua tahun prosesnya, dan novel itu rencananya terbit 19 Mei 2015). Di hari yang sama ketika bertemu Dalih untuk membicarakan proyek tersebut, di Yogya, saya juga bertemu dengan Annie Tucker. Itu terjadi di awal 2012. Saya sudah berhubungan dengannya melalui surel selama beberapa minggu sebelumnya. Intinya, ia ingin menerjemahkan Cantik Itu Luka. Jujur saja, ini kebetulan. Kebetulan ada yang menyukai novel itu dan tertarik menerjemahkannya. Terjemahannya bagus dan saya suka. Tapi saya tak ingin proyek Annie berjalan seperti kasus-kasus sebelumnya, di mana proyek itu berjalan sendiri tanpa keterlibatan saya. Saya sudah sedikit mempelajari seluk-beluk soal penerjemahan dan penerbitan sehingga saya setidaknya tahu apa yang saya inginkan. Setidaknya, novel itu bisa saya bawa ke Verso juga, tapi jika ada kesempatan lain kenapa tidak diusahakan. Sebelum saya memberi izin Annie meneruskan terjemahan itu, saya meminta bertemu dengannya. Kami kemudian membuat kesepakatan. Saya ingin membagi kesepakatan saya di sini, karena saya pikir ini sangat penting dan siapa tahu bisa menjadi masukan untuk penulis lain. Ada dua syarat yang saya minta ke Annie: 1) Ia harus menyelesaikan terjemahan itu, tak peduli ia memperoleh dana (entah dari mana) atau tidak. 2) Saya tak ingin buku itu terbit di Indonesia. Saya hanya mau itu terbit di negara Berbahasa Inggris. Saya sadar, itu syarat berat. Annie merupakan penerjemah baru. Syarat pertama barangkali bisa dilakukannya, karena rasa senang dan hobi. Tapi syarat kedua? Seperti saya, ia juga tak kenal penerbit di luar. Termasuk di Amerika, tempat tinggalnya. Saya sendiri tak punya pilihan lain. Saya tak ingin karya saya diterbitkan dalam terjemahan, tapi tak dibaca. Saya ingin lebih serius soal ini. Tapi Annie ternyata menyanggupinya. Ia mengerjakannya di antara waktu luang mengerjakan desertasi. Ia mengajukan dana beasiswa untuk penerjemahan itu, dan beberapa ada yang lolos. Yang paling penting adalah ketika proyek itu memperoleh bantuan dana dari PEN Center Amerika. Draft terjemahan saya di sana dibaca salah satu orang penting di penerbitan sastra Amerika, Barbara Epler. Dia pemimpin New Directions. Dia editor yang mengakuisisi penulis-penulis seperti Roberto Bolaño dan Cesar Aira. Ketika ia menghubungi saya dan menyatakan minat untuk menerbitkan Beauty is a Wound, saya tahu saya tak mungkin menolaknya. Buku ini direncanakan terbit tahun depan. New Directions menginginkan buku itu terbit berdekatan dengan Indonesia sebagai tamu kehormatan di Frankfurt Bookfair, meskipun saya tak tahu, apa urusan buku saya, saya, dan acara itu. Pada saat yang sama, manuskrip Man Tiger rupanya beredar di beberapa editor penerbit Eropa. Salah satunya Sabine Wespieser Editeur dari Perancis, yang segera menghubungi saya dan berminat menerbitkan novel itu ke dalam bahasa Perancis (akan disusul dengan Cantik Itu Luka). Tak ada alasan untuk saya menolak, kan? Saya hanya memastikan bahwa saya ingin berkomunikasi dengan penerjemahnya. Nasihat Ben terus terngiang-ngiang, “Penerjemahan yang buruk akan meninggalkan kesan yang buruk tentang karyamu.” Selama hampir setahun proses penerjemahan, saya tak hanya berhubungan melalui surel dengan Pak Etienne Naveau, sang penerjemah, tapi juga telah bertemu dua kali di Jakarta. Saya tak tahu proses ini akan membawa saya (dan karya saya) ke mana. Jujur, sebenarnya saya hanya ingin menulis dan membaca saja, tapi urusan-urusan semacam ini pada akhirnya tak terelakkan. Dan tentu sama seriusnya. Dan naluri saya yang kemudian mengatakan: saatnya berhenti sejenak. Saya tak lagi membicarakan prospek menerjemahkan karya saya ke bahasa lain untuk sementara, setidaknya sampai edisi Inggris dan Perancis terbit. Mungkin saya salah. Tapi saya merasa dua bahasa itu merupakan salah dua pintu gerbang, yang harus dibuka lebih dulu sebelum membuka pintu-pintu yang lain. Semoga catatan saya bermanfaat untuk penulis-penulis lain. Saya akan senang sekali jika bisa melihat karya-karya penulis Indonesia beredar di rak toko-toko buku berbahasa asing, dan mereka dibicarakan bukan karena mereka penulis Indonesia, tapi sesederhana karena mereka penulis yang bagus.

The Naive and the Sentimental Novelist

Saya senang membaca buku-buku tentang “teori” novel. Oh, bukan. Bukan jenis buku yang mengajari saya menulis novel penuh berisi tips dan trik. Tidak, saya tak tertarik membaca buku panduan semacam itu. Buku “teori” novel yang saya maksud, yakni buku-buku yang ditulis dalam rangka menjawab apa itu novel? Kenapa novel ditulis, dan terutama kenapa novel dibaca? Ya, meskipun ketika menulis novel, sudah hampir pasti saya lupa dengan semua teori-teori dan pemikiran tersebut. Saya yakin, siapa pun yang menulisnya, juga segera melupakan teori-teori ciptaannya ketika mereka menulis. Tapi paling tidak, buku-buku semacam ini, ketika ditulis maupun dibaca, membantu pikiran kita untuk terus bersikap kritis terhadap novel, terus bertanya, meskipun tak pernah ada jawaban pasti. Buku pertama, yang bisa dibilang klasik, tentu saja Aspects of the Novel karya E.M. Forster. Buku favorit saya yang kedua, buku kembar karya Milan Kundera: The Art of the Novel dan The Curtain. Dalam banyak hal, kedua buku itu bersinggungan satu sama lain. Jika Forster banyak bicara mengenai elemen-elemen novel, dalam beberapa tingkat nyaris teknis, kedua buku Kundera lebih bersifat filosofis, terutama menyangkut novel modern. Mario Vargas Llosa pernah menulis A Letter to a Young Novelist, buku kecil yang juga menarik. Gagasan-gagasannya mengenai novel mungkin akan lebih kaya jika kita membaca ulasannya mengenai novel Seratus Tahun Kesunyian dan Madame Bovary. Ia memang rada-rada akademis. Tapi sebagai pengantar terhadap pemikirannya mengenai novel, buku yang saya sebut sebelumnya barangkali sudah sangat memadai. Jujur saja, novel sebagai “seni novel” memang masih jarang dibicarakan, apalagi jika bicara tingkat kesusastraan Indonesia. Terutama jika dibandingkan dengan saudaranya: puisi. Padahal di abad 20 dan 21 ini, saya kira novel merupakan genre kesusastraan yang bisa dibilang sangat populer, terutama jika dilihat dari kuantitas penulis maupun pembacanya, serta buku yang beredar. Hal ini barangkali disumbang oleh menjamurnya novel-novel, yang katakanlah merupakan “novel ringan” atau “novel hiburan”, meskipun istilah itu pasti sangat bisa diperdebatkan. Tapi kita tak bisa menutup mata, barangkali banyak di antara penulis novel sendiri (apalagi pembaca?) yang tak pernah peduli, tak pernah mempertanyakan, apa itu novel? Kenapa novel ditulis? Kenapa novel dibaca? (Sebagaimana orang menjalani hidup malas bertanya apa itu hidup? Kenapa ada kehidupan?) Untuk saya, itu pertanyaan penting. Tanpa pertanyaan-pertanyaan itu, saya barangkali kehilangan gairah untuk menulis novel. Jika ada buku semacam ini yang ditulis oleh bukan penulis novel, tapi pastinya ia pembaca novel yang tekun, saya bisa menyebut satu yang sangat penting: The Theory of the Novel, karya filsuf Hungaria, Georg Lukács. Jika selama ini novel modern dan filsafat modern tampak seperti dua rel yang berjejeran, buku-buku semacam ini merupakan upaya segar mempertemukan keduanya, di mana kedua tradisi saling meminjam metode dan upaya kreatif mereka. Nah, untuk yang keranjingan buku-buku semacam ini, saya juga akan memasukkan buku kecil karya Italo Calvino, Six Memos for the Next Millenium, yang berisi enam catatan mengenai seni novel. Sayang karena keburu meninggal, buku tersebut hanya berisi lima catatan saja, meskipun judulnya tetap dipertahankan sebagai Six Memos …. Dan sekarang, di hadapan saya, dari salah satu penulis kontemporer, tergeletak buku berjudul The Naive and the Sentimental Novelist, karya Orhan Pamuk. Mengikuti tradisi Friedrich Schiller (dengan esai cemerlangnya berjudul “Über naive und sentimentalische Dichtung”, atau “On Naive and Sentimental Poetry”, atau “Tentang Puisi Naif dan Sentimental”), Pamuk membagi dua jenis novelis (dan pembaca novel): naif dan sentimentil. Naif dalam makna, para novelis yang mengarang apa adanya, yang membaca novel apa adanya: kekanak-kanakan. Sentimentil dalam makna, analitik. Ketika menulis novel, ia juga memikirkan mengenai banyak aspek, termasuk barangkali bertanya, apa gunanya menulis novel? Nah, karena saya senang membaca buku-buku semacam ini, boleh jadi saya termasuk yang sentimentil. Tapi karena saya sering menulis dan membaca tanpa memikirkan apa-apa, bisa juga saya naif. Entahlah. Menurut Pamuk sendiri, keadaan ideal untuk seorang novelis, tentu saja menjadi naif sekaligus sentimentil di waktu yang bersamaan. Saya rasa sulit untuk tidak sepakat dengannya.

Apa Sih, yang Dilakukan Para Penulis Hebat?

Saya kadang-kadang bertanya seperti itu. Apa sih, yang membuat mereka hebat? Apa yang bisa kita lakukan jika ingin seperti mereka? Saya tak memiliki kesempatan untuk bertanya kepada para penulis hebat favorit saya: Hamsun, Gogol, Melville, Kawabata, Borges, dan lain-lain. Bahkan sekiranya mereka masih hidup dan saya berkesempatan bertanya, saya mungkin terlalu jengah untuk bertanya. Jadi apa yang bisa saya lakukan hanyalah sedikit menduga-duga, ya, dengan cara mencari tahu apa yang mereka lakukan dalam hidupnya. Tentu saja selain menulis karya-karya hebat itu. Pertama, tentu saja karena mereka banyak membaca. Mereka pembaca-pembaca kelas berat. Tengok Borges: saya curiga ia membaca hampir semua buku di perpustakaan tempatnya bekerja, hingga di masa tua matanya nyaris buta. Yang jelas, ia membaca karya-karya klasik Inggris. Sebenarnya tak cuma Inggris. Jika kita membaca cerpen-cerpennya, kita tahu ia membaca sastra dari mana-mana. Salah satu buku favoritnya adalah Alf Layla wa Layla, atau kita mengenalnya sebagai Hikayat Seribu Satu Malam. Atau coba baca wawancara beberapa penulis di The Paris Review. Saya sering terbengong-bengong melihat luasnya bacaan mereka. Atau baca buku kumpulan esai Roberto Bolaño, Between Parenthesis, ia membaca tak hanya sesama penulis (berbahasa) Spanyol, tapi juga membaca Cormac McCarthy, misalnya. Berapa banyak buku yang sudah kamu baca? Klasik dan kontemporer? Tak hanya dari kesusastraan negerimu sendiri? Jika ingin sehebat Borges atau yang lainnya, saya rasa kamu harus membaca segila mereka. Kedua, menerjemahkan. Menerjemahkan, tak hanya membuat pengetahuanmu atas bahasa lain bertambah, tapi sekaligus mengajarimu menulis secara langsung dari penulis yang kamu terjemahkan. Kamu mengikuti jejak sang penulis, kata per kata, kalimat per kalimat, dengan bahasamu sendiri. Pada saat yang sama, kamu tengah mengasah kemampuan menulismu, ya, dalam bahasa yang kamu pergunakan. Murakami merupakan seorang penerjemah yang tekun. Ia menerjemahkan novel Raymond Chandler ke Bahasa Jepang, salah satunya. Juga menerjemahkan novel The Great Gatsby karya F. Scott Fitzgerald. César Aira, yang novel-novelnya belakangan saya gemari, juga seorang penerjemah (sampai satu titik, bisa dibilang profesinya). Kembali ke Borges: novela Metamorfosa Kafka yang dibaca pertama kali oleh García Márquez merupakan edisi Spanyol yang diterjemahkan oleh Borges. Tak usah jauh-jauh, novelis terbaik kita, Pramoedya Ananta Toer, juga menerjemahkan banyak karya penulis luar: Steinbeck, Tolstoy, Saroyan. Ketiga, tak hanya menulis cerita, novel atau puisi, tapi tulis juga pandangan-pandanganmu tentang penulis lain, karya lain, dan kesusastraan secara umum. Sampai saat ini, salah satu esai terbaik tentang teknik menulis dua raksasa sastra Amerika saya temukan di esai pendek Gabriel García Márquez berjudul “Gabriel García Márquez Berjumpa dengan Ernest Hemingway”. Di esai itu, ia menulis tentang Hemingway dan Faulkner, dan bagaimana kedua raksasa itu berbeda secara teknik. Ngomong-ngomong soal García Márquez, jangan lupakan buku ulasan serius Mario Vargas Llosa mengenai novel Cién Anos de Soledad. Vargas Llosa juga menulis buku serius mengenai Madame Bovary dan Gustave Flaubert (Perpetual Orgy: Flaubert and Madame Bovary). Mau contoh yang lain? Michel Houellebecq menulis biografi kritis mengenai penulis cult Amerika, H.P. Lovecraft. Saya rasa, menulis esai tentang penulis dan karyanya membantu kita untuk belajar menganalisa, belajar melihat sudut-sudut pandang yang berbeda, dan dengan tanpa sadar, kita menciptakan cara berpikir sendiri, dan sudut pandang yang barangkali unik. Keempat, yang ini tak perlu dijelaskan panjang-lebar: terus menulis. Anda bisa menambahkan beberapa hal lain, yang boleh ditiru atau tidak: maraton (Murakami), mabuk (Faulkner), berburu (Hemingway), dan lain-lain. Jadi jika ada yang bertanya kepada saya bagaimana caranya menjadi penulis hebat, barangkali saya akan menjawab terutama empat perkara di atas. Jujur saja, itu bukan jaminan juga. Saya hanya berusaha menjawab dengan belajar dari penulis-penulis ini. Tapi setidaknya, mencoba melakukan apa yang mereka lakukan, saya rasa bukanlah hal buruk. Juga bukan kejahatan. Itu hal-hal baik yang layah dicoba. Setidaknya, belajar dari mereka, saya tahu bukanlah hal mudah untuk menjadi penulis yang baik, apalagi penulis yang hebat. Sebagaimana bukan hal yang mudah mengalahkan Usain Bolt dalam adu cepat lari di lintasan seratus meter.

Ini atau Itu?

“Nike atau Adidas?” Sekali waktu mungkin pernah mendengar pertanyaan semacam itu. Ini sejenis permainan dimana kita memilih satu di antara dua pilihan (seringkali keduanya mewakili sejenis persaingan di bidang tertentu), menjawabnya dengan cepat tanpa memikirkannya lebih dulu, dan konon dari situ bisa ditebak kepribadian atau selera kita. Pertanyaan itu akan berlanjut dengan, “Pepsi atau Coca-Cola?”, “Honda atau Toyota?”, “Airbus atau Boeing?” dan seterusnya. Saya tak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu (kecuali mungkin jika salah satu di antara mereka membayar saya). Tapi jika kepada saya diajukan pertanyaan-pertanyaan sejenis dalam bidang kesusastraan, dengan senang hati saya akan menjawabnya. Saya akan memberanikan diri memilih, bahkan meskipun saya tak punya alasan yang memadai kenapa memilih. Hemingway atau Faulkner? Sudah jelas saya akan memilih Faulkner. Saya senang dengan sosoknya yang lebih kalem, tapi novel-novelnya memperlihatkan keliaran yang seringkali malah susah dipahami. Kawabata atau Mishima? Saya akan memilih Kawabata. Mishima seringkali terlalu mengerikan buat saya. Membaca Kawabata seperti duduk di taman selama berjam-jam hanya untuk melihat bunga-bunga sakura, tanpa kehilangan perasaan menderita dan sedih. Cervantes atau Shakespeare? Saya memilih Cervantes, meskipun saya cuma membaca satu novelnya, dibandingkan beberapa naskah drama Shakespeare yang saya baca. Saya merasa Cervantes lebih banyak menertawakan diri sendiri, sementara Shakespeare menertawakan dunia. Camus atau Sartre? Saya akan memilih Camus. Camus tampak lebih mendekati sosok novelis, sementara Sartre lebih mendekati sosok filsuf. Camus juga (sosok maupun karyanya) memberi saya gambaran mengenai pembangkang yang senyap. Gabriel García Márquez atau Mario Vargas Llosa? Jika pertanyaan ini diajukan sepuluh tahun lalu, saya akan memilih García Márquez; jika pertanyaan ini diajukan sekarang, saya memilih Vargas Llosa. Vargas Llosa terasa lebih modern bagi saya daripada García Márquez. Tolstoy atau Dostoyevsky? Saya memilih Dostoyevsky. Saya lebih suka penulis yang hampir mati dieksekusi, penuh utang karena judi dan doyan mabuk daripada penulis yang arif-bijaksana hingga nyaris menjadi sejenis nabi. Haruki Murakami atau Don DeLillo? Tentu Haruki Murakami. Saya lebih suka sastra Jepang daripada sastra Amerika. Miss Marple atau Poirot? Saya lebih suka Miss Marple, karena saya pikir, perempuan tua yang lebih banyak tinggal di rumah dan memecahkan banyak kasus kriminal terasa lebih keren daripada detektif swasta yang berkeliaran ke sana-kemari seperti Poirot. Agatha Christie atau Sir Arthur Conan Doyle? Saya memilih Sir Arthur Conan Doyle, dengan sedikit rasa humornya, yang hampir bisa dibilang tak ada di karya-karya Agatha Christie. The Strange Case of Dr Jekyll and Mr Hyde atau The Curios Case of Benjamin Button? Sudah tentu saya memilih The Curious Case of Benjamin Button, sebab saya lebih suka cerita yang lebih ke arah fantasi daripada ke arah fiksi sains, meskipun kedua genre bisa sangat bersinggungan satu sama lain. Michael Crichton atau Sydney Sheldon? Saya memilih Sydney Sheldon, dengan plotnya yang seringkali rumit dan karakter-karakternya yang mencengangkan. Novel-novel silat China atau novel-novel koboi Amerika? Mungkin saya akan menyukai kedua-duanya, tapi sayang sekali saya jarang membaca novel koboi, sementara novel silat China banyak disadur ke dalam Bahasa Indonesia, sehingga dengan mudah saya memilih novel silat. Times New Roman atau Arial? Saya lebih senang menulis dengan Times New Roman, dan bisa dibilang tak pernah menulis dengan jenis huruf lainnya.

Manis Agak Pahit

Cerita seperti apa yang saya suka? Yang jelas, saya tak terlalu suka melodrama. Saya suka nangis oleh melodrama, dan saya benci keadaan seperti itu. Sesekali saya terjebak di bioskop menonton film semacam itu. Diam-diam saya berkaca-kaca, dan tak akan pernah melupakan filmnya. The Notebook, misalnya. Tapi sekaligus saya berjanji tak akan menonton film apa pun lagi yang diangkat dari novel-novel Nicholas Sparks (saya malas dan tak pernah membaca novel-novelnya). Tak apa-apa ada melodrama, tapi sedikit saja. Beberapa waktu terakhir ini saya menyelesaikan dua novel Mario Vargas Llosa. Pertama, Bad Girl, atas saran Intan Paramaditha (entah kenapa ia mendorong saya untuk membacanya, mungkin tahu saya akan suka). Setelah membaca novel itu, saya mencoba mengambil novel lain dari Vargas Llosa, Aunt Julia and the Scriptwriter. Jika ada yang bertanya cerita atau novel seperti apa yang saya suka, sekarang saya akan menyebut kedua novel itu. Ada beberapa novel dari penulis lain yang barangkali akan saya gabung dengan keduanya. Saya bisa menyebut salah satunya: Museum of Innocence Orhan Pamuk. Siapa pun yang pernah membaca ketiga novel itu, pasti bisa mengerti apa yang menyamakan ketiganya, dan mungkin bisa sedikit menebak selera bacaan saya. Bad Girl bercerita tentang seorang bocah yang jatuh cinta kepada seorang anak perempuan. Sialnya si anak perempuan selalu menolak cintanya, dan lebih sialnya lagi, si bocah selalu mencintainya. Itu berlangsung hingga si bocah menginjak remaja, menginjak masa dewasa, menginjak masa tua, bahkan menjelang mati. Aunt Julia and the Scriptwriter berkisah tentang seorang remaja yang jatuh cinta kepada bibinya. Bukan bibi sedarah, memang. Ia seorang janda, adik dari istri pamannya. Si bibi jelas beberapa tahun lebih tua, dan si remaja masih dikategorikan di bawah umur menurut undang-undang. Mereka saling jatuh cinta. Tapi orang tua, keluarga besar, bahkan pemerintah (melalui peraturan mereka) menentang hubungan asmara ini. Museum of Innocence berkisah tentang seorang pemuda yang hampir menikah dengan tunangannya, tiba-tiba bertemu dengan sepupunya yang cantik dan jatuh cinta (bahkan menidurinya). Si pemuda berasal dari keluarga kaya raya, si gadis berasal dari keluarga miskin dan pernah berbuat aib karena mengikuti kontes kecantikan. Keluarga si pemuda tak akan menerima hubungan ini. Si gadis kecewa dengan si pemuda yang tak kunjung melamarnya dan memutuskan menghilang, di tengah keruwetan kota Istambul. Si pemuda memutuskan tunangannya dan mencari si gadis. Sedikit ringkasan cerita ketiganya barangkali bisa membuat sesuatu berdering di kepala. Ada kesamaan? Tentu. Semuanya merupakan kisah cinta. Ah, hampir semua novel merupakan kisah cinta. Lebih khusus lagi, ketiganya merupakan romans. Tentang cinta yang “terlarang” atau “terhalang” dan bagaimana mereka berjuang memperoleh cinta. Romeo and Juliet. Laila Majnun. Kita bisa membuat daftar kisah-kisah semacam itu. Seri novel populer Harlequin bahkan mengkhususkan diri di cerita-cerita semacam begini. Selera saya terlihat agak kacangan, tapi percayalah ketiga novel di atas sama sekali tidak kacangan. Saya tak akan mengomentari kualitas-kualitas literer novel-novel itu. Biarlah itu urusan kritikus atau pembaca sastra yang budiman. Saya hanya ingin mengomentari kisah cinta mereka, sebab itu yang menarik perhatian saya. Seperti seharusnya romans yang baik, kisah cinta mereka harus berakhir bahagia. Saya tak terlalu suka pada kenyataan Romeo dan Juliet tidak berakhir bahagia. Saya ingin, setiap kisah cinta yang terhalang oleh apa pun, setelah perjuangan para kekasih, akhirnya mereka bisa memperoleh cinta mereka. Tapi sekaligus saya benci menemukan kalimat “dan mereka bahagia selama-lamanya”. Seperti roti, saya suka roti yang manis, tapi tak suka roti yang terlalu manis atau hanya memberi rasa manis. Membuat mual. Saya menyukai kisah cinta yang manis, dengan serpihan rasa pahit di dalamnya. Bahkan mungkin yang tersisa justru rasa pahit, yang abadi tertancap di ingatan. Seperti itulah ketiga novel di atas. Semuanya berakhir bahagia untuk pasangan-pasangan tersebut, tapi sekaligus tidak bahagia. Ada rasa pahit yang tersisa di ujung cerita, yang saya rasa tak perlu menceritakannya. Sebab hal yang membahagiakan hanya bisa diukur jika kita tahu ada hal yang tidak membahagiakan.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑