Eka Kurniawan

Journal

Tag: Ludmilla Petrushevskaya

Ludmilla Petrushevskaya

Membaca cerita-cerita Ludmilla Petrushevskaya seperti membaca berita koran lampu merah. Diceritakan dengan cara tutur yang dingin (tapi kocak), yang mengingatkan saya pada narator acara infotainmen di televisi. Pada dasarnya membaca kisah-kisah domestik, tapi dengan satu dan lain cara, pasti bisa membuat merah padam muka para penguasa dan pemegang kebijakan. Kisah-kisahnya berpusar pada masalah-masalah keluarga, hubungan suami-isteri, pacar dan kekasih, selingkuhan, nasib orang-orang jomblo, dan tak pernah sekali pun secara eksplisit bicara tentang politik atau bobroknya pemerintahan; tapi justru dengan cara seperti itulah ia menyodorkan cermin buram wajah politik negerinya (Sovyet dan kemudian Rusia). Petrushevskaya lahir dari tradisi kesusastraan Rusia yang panjang, yang melahirkan maestro-mastero penulis cerita pendek besar: Nikolai Gogol (saya rasa ia tak hanya bapak kesusastraan Rusia, tapi moyang bagi banyak penulis di dunia), Anton Chekhov, Nikolai Leskov (yang cerpen-cerpennya mendorong Walter Benjamin menulis esai yang sulit dilupakan itu, “The Storyteller”), hingga Isaac Babel (penulis cerpen brilian, komunis yang loyal, tapi harus mati muda karena didor Stalin). Saya yang pada dasarnya selalu menganggap setiap karya merupakan pernyataan politik, langsung atau tidak langsung, sangat menikmati cerita-ceritanya. Dalam kumpulan There Once Lived a Girl Who Seduced Her Sister’s Husband, and He Hanged Himself, kita bertemu rakyat jelata yang tinggal di apartemen-apartemen sempit dengan beragam persoalan rumah tangga mereka. Yang menarik, Petrushevskaya tak pernah mencoba meromantisir kehidupan jelata ini, malahan lebih sering Petrushevskaya mengolok-olok bahkan menyiksa tokoh-tokohnya tanpa ampun, dan dengan gaya yang sangat dingin, tanpa simpati dan empati. Tapi dengan cara seperti itulah ia membuka persoalan-persoalan negerinya, seperti seorang ilmuwan membuka fakta-fakta obyek pengetahuannya. Wangi ataupun busuk. Bagaimana ia melakukannya? Di cerpen “A Murky Fate”, misalnya, ia bercerita tentang seorang perempuan lajang yang mencoba “mengusir” ibunya semalam dari apartemen studio mereka agar bisa membawa pulang seorang lelaki. Tak lebih. Ia “hanya” menceritakan betapa susahnya bagi seorang perempuan bahkan sekadar menemukan tempat bercinta. Tapi perkaranya bukan itu, tentu saja. Secara tak langsung ia menyentil kebijakan perumahan, yang membuat ruang-ruang pribadi (di bawah rezim Sovyet) menjadi hilang atau nyaris tak ada. Hal seperti ini menjadi semakin ketara dalam cerita “Give Her to Me”, tentang dua orang seniman (aktris dan komponis), yang harus hidup di sebuah masyarakat yang tampaknya tak peduli dengan bakat-bakat seperti mereka. Sekali lagi, cerpen-cerpen ini ditulis dengan gaya koran kriminal lampu merah (meskipun ceritanya hampir tak berisi kasus-kasus kriminal). Kebanyakan kisah perempuan lajang yang mencoba mencari pasangan, dan lelaki yang beristri yang bosan dengan rumah tangganya, lalu mencari mangsa gadis-gadis muda. Mereka memiliki anak, dan seringkali nasib berputar pada anak itu. Bahkan ada kisah seorang lelaki yang diceraikan isterinya, menggelandang, dan “dipelihara” perempuan berumur tujuh puluhan yang mau mendengar ocehannya tentang filsafat, sementara perempuan tua itu memperlakukannya sebagai anaknya yang tak pernah hidup. Tak hanya bahasanya yang “nyantai”, bahkan struktur ceritanya pun dituturkan seperti dongeng ibu-ibu yang menggosip di taman. Satu cerpen bahkan ditulis dengan nomor, dari 1 hingga 45. Judul kumpulannya yang lain, juga ditulis dengan gaya koran lampu merah: There Once Lived a Mother Who Loved Her Children, Until They Moved Back In. Oh, ada satu lagi, kali ini cerita-cerita “menakutkan” (Petrushevskaya menyukai Edgar Allan Poe), There Once Lived a Woman Who Tried to Kill Her Neighbour’s Baby. Cerpen dewasa ini barangkali tidak “searus-utama” novel dalam kesusastraan, tetapi membaca cerpen-cerpen yang menyegarkan seperti karya-karya Petrushevskaya, senantiasa membuat saya jatuh cinta berkali-kali kepada kesusastraan.

Mau Ke Mana Cerita Pendek Saya?

Beberapa kali saya kembali membaca esai Bolaño berjudul “Advice on the Art of Writing Short Stories” di kumpulan esai dan artikelnya Between Parenthesis. Sejujurnya bukan esai yang cemerlang, tapi nasihat tetaplah nasihat. Seperti bisa diperhatikan, beberapa tahun terakhir saya tak lagi banyak menulis cerpen. Menerbitkan satu cerpen dalam setahun sudah cukup produktif bagi saya. Ada rasa bosan membaca cerpen-cerpen di koran, dan ada rasa bosan menuliskannya juga. Saya tak mau berpusing-pusing memikirkan keadaan cerpen dalam kesusastraan kita, meskipun tak keberatan memberikan pendapat jika ada yang bertanya, dan lebih senang melihatnya sebagai problem internal saya sendiri. Tulisan ini barangkali akan lebih menarik jika berjudul “Mau Ke Mana Cerita Pendek Kita?”, tapi saya rasa terlalu berlebihan untuk mengurusi “kita” saat ini, dan saya tahu persis sebagian besar penulis tak suka diurusi. Kebosanan ini problem internal, titik, dan menggelisahkan hal ini patut saya syukuri: setidaknya saya masih sedikit waras untuk bertanya kepada diri sendiri. Menjelang terbitnya kumcer keempat saya, [Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi], saya mencoba melihat sejauh apa yang telah saya lakukan. Hal paling gampang untuk dilihat tentu saja jumlah: lebih dari lima puluh cerpen telah saya tulis sejak tahun 1999, dan empat buku telah saya terbitkan. Bagi banyak orang, mungkin itu banyak sekali; bagi saya setidaknya itu lebih dari cukup, lebih dari itu bisa saya anggap berlebihan. Berbeda dengan cara kerja saya menulis novel, yang sering saya bayangkan seperti membangun rumah tanpa rancang-gambar, yang membuat saya begitu senang menulis ulang sebuah novel berkali-kali sebelum menerbitkannya; cerpen bagi saya seperti ruang laboratorium penulisan. Kadang-kadang saya punya gagasan kecil di kepala, bisa berupa olok-olok ringan maupun andai-andai berat, lalu saya mencobanya di “laboratorium”, dan jadilah sepotong cerpen. Bagaimana jika Thomas de Quincey, penulis Confession of an English Opium Eater ternyata penduduk Hindia Belanda di masa kolonial dan menulis dalam bahasa Melayu pasar? Hasilnya adalah cerpen “Pengakoean Seorang Pemadat Indis”. Bagaimana jika kita pergi ke satu tempat, bertemu orang-orang dan mendengar cerita mereka, lalu menuliskannya? Cerpen-cerpen seperti “Gerimis yang Sederhana”, “La Cage aux Folles” dan “Penafsir Kebahagiaan” ditulis dengan eksperimen seperti itu. “Caronang” awalnya merupakan eksperimen untuk menulis cerpen dengan pendekatan catatan perjalanan, tapi hasil akhirnya berbeda, sementara “Pengantar Tidur Panjang” merupakan memoar dengan obsesi yang berlebihan: menangkap sejarah republik melalui kacamata sebuah keluarga, tak lebih dari 2000 kata. Saya senang melakukan hal itu di cerpen karena alasan yang sederhana: bentuknya pendek, sehingga saya dengan mudah berpindah dari eksperimen satu ke eksperimen lainnya. Satu disiplin yang rasanya tak akan saya lakukan untuk novel. Sementara eksperimen-eksperimen samacam itu saya percaya layak untuk terus dilakukan, lebih dari lima puluh cerpen dan empat buku tetaplah jumlah yang banyak. Di sisi lain, saya juga percaya, sesuatu tak bisa dilakukan secara berkepanjangan. Ada satu titik di mana seseorang harus berhenti, metode dipertanyakan, dan kepercayaan diri yang berlebihan harus dihancurkan. Ini akan berat untuk saya, tapi rasanya mengurangi menulis cerpen sama sekali bukan jalan keluar yang memuaskan. Saya perlu berhenti setelah buku keempat ini. [Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi] akan menandai jeda panjang saya, hingga beberapa tahun ke depan. Dan tahun-tahun tersebut akan memberi saya banyak waktu untuk menjelajahi beragam khasanah cerita pendek. Saya menyukai penulis-penulis cerpen klasik, dari Chekhov, Gogol, Maupassant, Akutagawa, bahkan cerpen-cerpen konyol O. Henry. Bolaño menyuruh kita membaca Borges, Juan Rulfo, Edgar Allan Poe, hingga Enrique Vila-Matas dan Javíer Marias. Saya sudah membaca mereka. Di luar itu saya kira banyak penulis-penulis kontemporer, dari abad lalu maupun abad sekarang, yang patut untuk dibaca. Belum lama saya membaca cerpen-cerpen Ludmilla Petrushevskaya, yang membawa tradisi panjang kesusastraan Rusia (kapan-kapan saya akan menulis tentangnya di sini). Etgar Keret dan Hassan Blasim, semestinya dibaca sebagaimana kita membaca penulis cerpen klasik. Jangan lupa Raymond Carver. Juga Primo Levi. Dan Eileen Chang. Dan tentu saja César Aira. Saya pernah berhasil berhenti merokok, berhenti bergaul di Twitter dan Facebook (yang memberi saya waktu melimpah untuk membaca buku), rasanya saya akan sanggup melewati yang ini. Berhenti menulis cerpen untuk jangka waktu yang lama, mungkin terasa menyiksa dan menyedihkan; tapi mengetahui akan ada banyak yang bisa dibaca dan belajar kembali dari mereka sambil bertanya “Mau ke mana cerita pendek saya?”, saya rasa layak untuk dilalui. Sebab, mengutip Borges, kegiatan membaca lebih intelek daripada menulis. Dan lebih menyenangkan, tentu saja.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑