Eka Kurniawan

Journal

Tag: Linda Christanty

Saudara Seperguruan atau “Literary Brothers”

Dalam satu wawancara, Enrique Vila-Matas ditanya mengenai persahabatannya dengan Roberto Bolaño dan ia menjawabnya: “Bertemu dengannya pada tahun 1996, saya merasa tak lagi sendirian sebagai penulis.” Ia melihat dalam diri Bolaño seseorang yang bisa disebut, dalam kata-katanya, “literary brother”. Saya bayangkan istilah itu semacam “saudara seperguruan” dalam konteks dunia persilatan yang sering saya baca di novel atau komik silat. Saya bisa mengerti perasaan Vila-Matas. Di tengah kerumunan para penulis, bukanlah hal mudah menemukan satu atau segelintir penulis yang kamu bisa merasa nyaman, nyambung, tak hanya dalam konteks keseharian tapi juga dalam konteks kesusastraan, sehingga kamu bisa menyebutnya sebagai “saudara”. Saya beruntung punya teman-teman semacam itu. Para penulis yang ketika dalam satu wawancara saya ditanya, siapa penulis Indonesia yang karya barunya akan saya tunggu, dengan jelas saya menjawab: para penulis dari generasi saya. Yang sebagian sekali waktu adalah teman-teman bermain saya. Jika orang bertanya, siapa penulis terbaik di Indonesia saat ini, saya akan menjawab dengan jawaban yang sama. Generasi saya, teman-teman saya. Akhir-akhir ini saya berhubungan dengan orang luar, dari editor, wartawan hingga agensi, dan jika mereka bertanya siapa penulis-penulis Indonesia yang perlu diperhatikan? Jawaban saya tetap sama. Generasi saya, teman-teman saya. Saya tak pernah pusing dengan orang-orang yang semangat mempromosikan teman-teman atau karya teman-temannya. Saya akan melakukan hal yang sama, selama saya melakukannya atas nama saya pribadi. Semalam saya bertemu denan Ugoran Prasad dan Intan Paramaditha. Mereka dua di antara penulis yang jelas masuk kategori “generasi saya, teman-teman saya” itu. Kami jarang bertemu sejujurnya, tapi apa pentingnya bergerombol terus-menerus seperti kawanan serigala? Maka pertemuan-pertemuan itu selalu terus mengingatkan saya tentang motivasi-motivasi dan gairah kami atas kesusastraan, dan merasakan kembali keberadaan “saudara seperguruan” semacam “literary brother”-nya Vila-Matas itu. Teman kepada siapa kami bisa dengan kekanak-kanakan berkata, ingin seperti “Adolfo Bioy Casares yang diterbitkan nyrb classics”. Teman yang saya bisa bilang di depan muka mereka, “Masalah kalian adalah cerpen-cerpen kalian. Jangan menerbitkan cerpen kecuali setara Borges. Setidaknya setara Etgar Keret atau Hassan Blasim.” Tapi obrolan-obrolan kami seringkali mengingatkan saya betapa saya mencintai cerpen-cerpen teman-teman saya, tanpa mereka harus menjadi Borges. Pergi ke Toko Wayang merupakan buku terbaru yang saya baca, yang ditulis oleh teman saya yang lain, salah satu yang penting untuk dibaca. Satu-satunya Gunawan Maryanto. Satu-satunya di antara kami yang paham literatur klasik Jawa (juga literatur pasar macam Gareng dan Petruk), yang kami semua selalu mencemburuinya. Sebagai penulis, saya tumbuh bersama mereka. Saya kenal Ugo, Chindil (itu panggilan Gunawan Maryanto di antara teman-temannya), Puthut EA bahkan ketika kami belum benar-benar mulai menulis. Kami sama-sama kuliah di kampus yang sama, meskipun di jurusan atau angkatan yang berbeda-beda. Kegiatan atau sekadar kantin bisa mempertemukan kami, tapi terutama hasrat pada kesusastraan yang akhirnya membuat kami saling kenal. Kampus kami berdekatan dengan IKIP (sekarang UNY), dan dari sana kami mengenal “saudara seperguruan” yang lain: Muhidin M. Dahlan, Zen R.S. (yang esai-esai-nya tentang sepakbola sangat saya kagumi), dua di antaranya. Pertemanan juga seringkali tak hanya ditentukan oleh ruang. Saya kenal Linda Christanty sejak akhir 90an. Dia aktivis PRD, saya senang nongkrong dengan segerombolan anarkis. Beberapa teman saya kenal dengan beberapa temannya, dan akhirnya kami berkenalan. Ternyata ia suka sastra, dan saya juga, dan kami sama-sama punya teman yang sama: seorang penjual buku bekas di belakang Malioboro bernama Mahdi, yang dengan semangat sering menyuplai kami dengan bacaan sastra dunia (kalau kami tidak bisa membeli, dia berbaik hati memfotokopikan). Tentu saja beberapa teman dekat saya, dari generasi saya, juga ada yang saya kenal setelah kami sama-sama menerbitkan karya. Perkenalan saya dengan Dinar Rahayu dan A.S. Lakana terjadi dengan cara yang aneh: bertemu di Belanda dalam keadaan sama-sama baru pertama kali ke luar negeri. Pertemanan yang selalu bersifat alamiah: kami merasa nyambung, merasa nyaman, untuk mengatakan apa pun. Buat saya hal seperti ini rada-rada penting, di luar urusan estetik kesusastraan. Seperti yang dikatakan Vila-Matas, itu membuat kita “tidak merasa sendirian.” Tidak merasa sendirian karena seringkali kita bertemu dengan cara pandang terhadap kesusastraan yang kurang-lebih mirip, yang saya yakin hal seperti itulah yang membuat sebuah generasi sebagai “generasi”. Sebagai contoh, saya selalu mengingat apa yang sering kami katakan jauh hari, ketika kami masih segerombolan mahasiswa gembel yang tak yakin bisa lulus (beberapa di antara kami benar-benar tidak lulus). Kami punya sejenis manifesto-manifestoan. Saya katakan begitu, karena manifesto itu tak pernah dituliskan. Juga karena manifesto itu bisa ditambah-kurangkan sesuka hati kami sendiri. Tapi kurang-lebih manifesto itu berbunyi: 1) Kami ingin menjadi penulis, jika tak ada yang menerbitkan, kami akan menerbitkannya sendiri. Kami belajar bagaimana memproduksi buku, bagaimana menjualnya. Bahkan belajar melayout dan mendesain sampul. 2) Kalau media besar tak menerima karya kami, kami akan membuat media sendiri. Ya, meskipun kecil. Puthut membuat On/Off, sebelumnya jika ada yang iseng mau mencari, ia satu-satunya orang di belakang “jurnal” Ajaib. Ugo dan beberapa temannya menerbitkan Konblok. 3) Kalau komunitas kesusastraan tak ada yang menerima kami, kami akan buat komunitas sendiri. Kami membuatnya. Beberapa berumur pendek, beberapa berumur pendek sekali. Yang penting kami membuatnya untuk mendukung diri kami sendiri. Saya selalu percaya komunitas seharusnya dibangun untuk mendukung anggotanya, dan bukan sebaliknya. Seperti negara ada untuk rakyat, dan bukan sebaliknya. 4) Jika para kritikus tak ada yang peduli kepada karya kami, atau menghina-dina, kami akan menjadi kritikus untuk karya teman-teman sendiri. Saya selalu ingat, Muhidin M. Dahlan merupakan “yang paling marah” ketika novel pertama saya Cantik Itu Luka, “dihancurkan” oleh seorang kritikus. Muhidin menulis balasan yang tak kalah sengitnya. Manifesto-manifestoan ini bisa dibikin lebih panjang, dengan pola yang tetap sama. Saya tak ingat siapa yang mencetuskannya, tapi itu hidup di pikiran kami. Buat saya: itu tetap berlaku sampai hari ini. Dan jika saya bisa menyimpulkannya dengan lebih pendek, itu bisa berbunyi: “Jika kesusastraan Indonesia tak memberi tempat untuk kami, kami akan menciptakan ruangan untuk diri kami sendiri.” Saya tak tahu apakah itu sesuatu yang aneh atau tidak. Tapi teman-teman saya mengerti hal ini. Mungkin itulah yang membuat kami merasa nyambung dan nyaman. Di dunia persilatan ada begitu banyak pendekar, tapi hanya segelintir yang bisa dipanggil “saudara seperguruan”. Lebih sering bukan karena jurus yang sama, tapi karena saling memahami bagaimana melihat dunia. Jadi siapa para penulis Indonesia terbaik saat ini? Tentu saja para penulis dari generasi saya. Generasi yang juga bukannya tanpa kelemahan. Kami berisik dan agak pemalas. Tapi: 5) Jika tak ada perahu untuk kami, kami akan belajar membuat rakit, atau cara berenang. Kalau harus tenggelam, kami tenggelam dengan sedikit keangkuhan.

Corat-coret di Toilet dan Hal-hal Lain Tentang Cerpen

Selain menerbitkan novel baru, hal paling membahagiakan untuk saya adalah melihat kembali Corat-coret di Toilet terbit. Bagaimanapun itu buku tipis saya yang istimewa: buku fiksi pertama saya (setahun sebelumnya saya menerbitkan skripsi saya di UGM tentang Pramoedya). Saya jarang membaca ulang karya-karya saya (kecuali terpaksa untuk beberapa kebutuhan, seperti ngedit dan mencocokkan terjemahan), tapi hal ini tak berlaku untuk Corat-coret di Toilet. Saya harus mengakui: buku itu sering saya baca kembali, untuk mengingatkan saya kenapa saya memutuskan untuk menjadi penulis, kenapa menulis merupakan sesuatu yang menyenangkan. Di luar itu, jujur saja, saya menganggap penulis-penulis lain dari generasi saya, melakukan debut karya fiksi mereka (kebanyakan kumpulan cerpen), jauh lebih baik daripada saya. Saya bisa menyebut beberapa kumpulan cerpen debut penulis-penulis yang saya kenal, yang saya rasa sangat istimewa: Kuda Terbang Maria Pinto Linda Christanty, Sihir Perempuan Intan Paramaditha, Perempuan Pala Azhari, Bidadari yang Mengembara A.S. Laksana. Meskipun bukan debut, Filosofi Kopi Dee juga salah satu yang menarik. Dibandingkan karya-karya itu, Corat-coret di Toilet terlihat terlalu sederhana, dengan cerita yang gampang ditebak, ditulis dengan main-main, dengan teknik yang secara sembrono dicuri dari sana-sini (kadang-kadang membacanya kembali saya suka tersenyum lebar dan bergumam, “Ini sangat Dickens, seharusnya aku tak mencuri terlalu terang-terangan, lah.”). Sebenarnya, seperti apa sih kumpulan cerita pendek ideal saya? Sejujurnya saya tak memiliki kriteria khusus, tapi ada beberapa kumpulan cerpen Indonesia, selain judul-judul di atas, yang saya anggap istimewa. Misalnya, Saksi Mata Seno Gumira Ajidarma. Barangkali karena tema dan gayanya, serta tekniknya, yang utuh dalam satu kumpulan. Saya tak pernah melihat yang seperti ini lagi di kumpulan cerpen Seno lainnya. Saya juga ingin merujuk kumpulan cerpen Asrul Sani, Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat. Tak ada tema besar yang mengikat erat cerpen-cerpen itu, tapi kesederhanaan dan leluconnya menyenangkan, bahkan dibaca saat ini pun. Godlob Danarto, barangkali memenuhi hasrat saya mengenai kumpulan cerpen yang utuh, dengan gaya dan teknik yang menyatu. Dengan alasan yang sama, saya juga merujuk ke Cerita dari Blora, Pramoedya Ananta Toer. Ada yang saya lewatkan? Debut Joni Ariadinata, Kali Mati, saya rasa harus dimasukkan ke dalam daftar ini, daftar kumpulan cerpen yang saya sukai dan saya rekomendasikan. Saya tak pernah melihat Joni menulis cerpen-cerpen, atau menerbitkan kumpula cerpen, seberkarakter debutnya ini. Problem utama Joni, saya kira adalah, ia mencoba meniru dirinya sendiri. Itu hal terburuk yang bisa terjadi pada seorang penulis, dan ini banyak terjadi pada penulis lain di sini. Mungkin saya salah, saya tak lagi mengikuti karyanya dalam beberapa tahun terakhir, tapi saya tetap menganggap Kali Mati salah satu kumpulan cerpen terbaik di negeri ini. Ada yang lain? Saya kira ada beberapa yang lain, yang saya lewatkan atau saya lupakan ketika menulis ini. Kembali ke Corat-coret di Toilet, dengan segala kesederhanaan teknik seorang penulis pemula, ditambah kenaifan dan kenekatannya, saya selalu kembali ke buku itu. Sebab hanya di buku itu saya bisa melihat benih-benih hasrat-hasrat kesusastraan saya, yang tak akan pernah saya temukan di karya saya yang lain. Saya tak bisa membayangkan akan menulis lebih bagus dari itu di masa itu. Jika waktu di ulang, saya yakin, saya akan menulis hal yang sama, barangkali dengan ketololan yang sama. Saat ini, bertahun-tahun kemudian (14 tahun tepatnya), saya sudah sangat senang jika seseorang menyukai cerita-cerita itu, dan saya senang melihatnya kembali terbit. Seseorang bilang, itu buku yang bagus. Bahkan ada yang bilang, itu buku kumpulan cerpen terbaik yang pernah dibacanya. Saya rasa ia belum membaca banyak kumpulan cerpen, bahkan untuk ukuran cerpen Indonesia. Ada banyak kumpulan cerpen bagus di kesusastraan kita. Masalahnya, saya pikir, kesusastraan Indonesia tak lagi membutuhkan karya yang bagus. Sudah banyak. Yang benar-benar kita butuhkan adalah karya yang hebat, sebab sekadar bagus sudah tak lagi mencukupi.

Kritik

Kemarin sore, saya ngobrol dengan Maman S. Mahayana. Ia akademisi, kadang orang menyebutnya juga sebagai kritikus. Ia yang saya sebut menganjurkan “kritik sastra khas Indonesia” di tulisan saya sebelumnya di jurnal ini. Saya membaca soal itu di esainya, yang bisa ditemukan di internet dengan mudah. Dalam obrolan kami (ada Linda Christanty juga di antara kami), saya mencoba menangkap gagasan besarnya mengenai hal ini. Menurutnya, kritik sastra “barat” (sejujurnya saya tak terlalu suka istilah “barat” ini) seringkali tak cocok untuk menelaah karya sastra timur. Ia bercerita tentang kesusastraan Korea, tentang cerpen-cerpen mereka, yang tampak “berbeda”. Tak ada konflik, hampir tak ada fokus, dan kegemaran untuk menyimpang (digresi), tapi tetap saja sebuah cerita (saya tak paham kesusastraan Korea, jadi tak bisa berkomentar banyak). Juga pengaruh tradisi lisan yang sangat kuat. Baiklah, sementara mencoba memahami argumen dan gagasannya, saya perlu mengungkapkan pendapat saya sedikit lebih jelas. Pertama, membedakan barat dan timur dalam dikotomi tradisi tulis dan tradisi lisan, bagi saya merupakan penyederhanaan berlebihan. Meskipun perlu diperdebatkan, novel pertama yang kita kenal selamat sampai hari ini berasal dari Jepang: Tales of Genji, dari abad ke-11. Don Quixote (dari Spanyol) saja baru muncul beberapa abad kemudian. Dan ingat: kertas ditemukan di Cina. Dan tradisi lyric di barat, jelas menunjukkan karya yang akan dinyanyikan, artinya diucapkan, bukan dituliskan. Jadi siapa pemilik tradisi tulis dan lisan? Barat atau timur? Kedua, mengenai gaya bercerita yang nyaris tanpa konflik, senang melakukan digresi (yang mungkin dipengaruhi tradisi lisan, sekadar mengobrol), benarkah merupakan “kekhasan” sastra timur? (Saya sambil mengingat Kawabata, Murakami, dan tentu saja karya-karya klasik kita). Itu juga penyederhanaan berlebihan. Sangat mudah menemukan karya-karya “barat” yang melakukan hal itu. Memangnya apa konflik di novel One Hundred Years of Solitude? Novel itu cuma menceritakan sejarah sebuah keluarga saja, kok. Dan digresi? Bahkan Jacques the Fatalist, bisa disebut novel yang sangat merayakan digresi, melantur kemana-mana. Dan bagaimana dengan Tristram Shandy? Ketiga, selalu ada jurang antara teori dan kenyataan. “Teori sastra barat” saya yakin, jika urusannya cocok atau tidak cocok, juga tak selalu cocok untuk sastra barat sendiri. Maka demikian pula, jika kita ngotot menciptakan “teori sastra timur”, atau apa pun istilahnya. Teori, bagaimanapun, alat untuk mencoba memahami subyek. Seperti kita memilih kapak untuk membelah kayu dan pisau untuk memotong tomat. Kita menciptakan teori baru, karena merasa teori lama tak lagi memadai untuk memahami subyek. Dengan premis-premis saya di atas, bukan “kritik (atau bahkan teori) sastra khas Indonesia” yang kita butuhkan, melainkan “kritik (atau teori) sastra”. Jika teori yang ada itu tak memadai, kita coba membuat teori baru. Jika masalahnya kita merasa “ilmuwan barat” gagal memahami pantun, misalnya, maka kita sodorkan cara baru untuk memahaminya. Bukan karena kita orang Indonesia dan dengan begitu mengerti lebih baik tentang pantun, tapi karena argumen kita lebih kuat. Dan jika masalahnya kita terlalu terlena mempergunakan Strukturalisme (Prancis?) untuk menelaah karya sastra (Indonesia?), kita bisa mempergunakan alat lain, kok. Itu perkara memilih kapak atau pisau, memilih melempar pakai batu atau pakai botol. Nah, dengan asumsi itu, sebelum benar-benar menciptakan sebuah teori baru, pertama-tama kita harus melakukan hal yang sangat penting: kritik atas teori. Saya percaya, tradisi menciptakan teori tentu saja harus dibangun. Ini satu tradisi yang tak sekadar milik dunia sastra: itu merupakan bagian dari tradisi berpikir. Saya tak keberatan mengenai diciptakannya teori baru. Pada dasarnya kita harus membiasakan diri berpikir. Tapi pertama-tama, kita harus kritis terhadap latar-belakangnya. Dan tradisi menciptakan teori ini, sekali lagi saya kira harus dibangun melalui tradisi kritik atas teori. Nah, sebelum benar-benar menciptakan teori baru, pernahkan kita benar-benar melakukan kritik atas Strukturalisme Prancis, misalnya? Pernah melakukan kritik atas Formalisme Rusia? Pernah melakukan kritik atas Orientalisme? Poskolonialisme? Jangan cuma memakai teori-teori yang sudah ada, tapi kritik juga teori-teori itu, siapa tahu teori-teori tersebut hanya sampah buangan saja? Itu saya rasa pertanyaan mendasar yang muncul dari perdebatan pendek ini, pertanyaan mendasar untuk tradisi berpikir kita. Dan yang paling penting: kita menciptakan teori, bukan karena kita “timur” (atau Indonesia) dan mereka “barat”, tapi karena kita merasa memiliki argumen yang lebih baik, itu saja soalnya. Dan argumen ini, tentu saja tak hanya bisa meyakinkan orang-orang Indonesia saja, tapi semestinya bisa meyakinkan orang Ghana atau Eskimo sekalipun.

Linda Christanty menulis profil saya untuk majalah Dewi. Tulisan itu bisa dibaca di laman Facebooknya, “Narasi Hidup Eka Kurniawan”.

Apa yang Saya Katakan Ketika Saya Bicara Sastra Indonesia?

Sudah sering saya mendengar seseorang bertanya, kenapa sastra Indonesia belum dikenal di dunia? Belum lama, saya membaca tulisan pendek Linda Christanty di Facebook, kurang lebih mengatakan, untuk apa memperkenalkan sastra Indonesia ke dunia, jika kualitasnya masih memalukan? Kurang lebih saya akan sepakat dengannya. Tapi mari kita lihat sudut pandang lain. Sekali waktu saya pernah ditanya mengenai hal itu (jika dicari di internet, saya rasa akan ditemukan arsipnya), dan jawaban saya kurang lebih: apa yang disebut dunia itu dalam kasus kesusastraan hampir bisa dibilang berarti terjemahan dalam Bahasa Inggris diterbitkan di negara berbahasa Inggris (terutama Amerika dan UK). Dan perkara ini, Anda boleh merisetnya, hanya 3% dari penerbitan di dunia berbahasa Inggris (Amerika, UK, Australia), yang merupakan terjemahan. Dan kurang dari 1% berupa karya fiksi. Entah berapa nol koma persen yang merupakan fiksi sastra. Untuk menjadi bagian dari yang sangat sedikit itu, Anda harus menjadi salah satu penulis terbaik di antara terbaik (atau mungkin: sangat beruntung). Sastra Indonesia? Saya rasa belum menjadi hitungan. Oh, tentu saja jika Anda bertemu dengan kaum romantik (dan nasionalis buta), mereka akan mengatakan, “Kualitas kesusastraan kita sudah bagus, kok. Kita punya Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, Rendra, dll (saya sebut yang sudah meninggal saja, biar penulis yang masih hidup tak terlalu berang, atau terlalu senang).” Saya juga menyukai mereka, dan akan mengatakan mereka beberapa di antara penulis terbaik yang kita miliki. Tapi mari kita sedikit lupakan bias nasionalisme ini. Mari kita lihat dengan cara berbeda. Saya bisa menyebut beberapa penulis sastra Norwegia. Saya bisa bikin daftar 10 penulis terbaik (menurut saya) Jepang. Jika ada yang meminta saya menyebut nama penulis Israel, paling tidak saya bisa menyebut dua nama. Sekarang mari kita balik: tanyakan kepada seorang penduduk Norwegia, yang doyan sastra: apa yang ia ketahui tentang sastra Indonesia? Oh, sebenarnya tak perlu sejauh itu. Anda cukup membuka jurnal-jurnal sastra, esai-esai sastra yang ditulis para penulis asing, dan lihat, apakah mereka pernah menyinggung tentang sastra atau nama penulis Indonesia? Saya belum pernah membacanya. Karya dan nama penulis Indonesia melulu muncul di artikel tentang Indonesia, ditulis oleh pengamat Indonesia. Itu fakta. Saya pribadi tak terlalu suka membungkus fakta itu dengan apa pun yang akan membuatnya lebih menarik. Terus, bagaimana cara kita menembus 1% kesusastraan itu? Beberapa akan mengatakan: kita butuh pemasaran yang baik, kita butuh penerjemahan karya-karya terbaik kita dan mendistribusikannya dengan baik. Itu benar. Tapi saya ingin melihatnya dengan cara yang sederhana: banyak yang sudah dilakukan mengenai hal itu, bahkan bisa dibilang setua umur kesusastraan modern kita, tapi hasilnya jauh dari menggembirakan. Seperti dalam berbagai bidang, mata rantai kesusastraan bisa disederhanakan dalam rangkaian produksi-distribusi-konsumsi. Selama ini saya melihat usaha kita untuk memperkenalkan karya kesusastraan Indonesia selalu dititik-beratkan di bagian distribusi-konsumsi. Saya yakin telah ratusan karya sastra Indonesia diterjemahkan, tak hanya ke Bahasa Inggris, tapi bahkan bahasa asing lainnya. Lebih dari 25 tahun, ada lembaga semacam Lontar yang “memperkenalkan kesusastraan Indonesia ke dunia” melalui upaya penerjemahan ini. Setiap tahun, banyak penerbit, atau ikatan penerbit, mengikuti pameran-pameran buku internasional (termasuk yang bakal bikin heboh: Frankfurt Bookfair 2015, di mana Indonesia konon akan jadi tamu, dan membuat penerbit kalang-kabut dan membabi-buta menerjemahkan produk-produk mereka). Hasilnya? Saya tak terlalu terkesan. Bagi saya, permasalahan besar kesusastraan Indonesia bukan karena kita kurang rajin menerjemahkan dan kurang rajin mempromosikannya. Bagi saya, permasalahan terbesar ada di hulu: produksi. Untuk menembus 1% elit kesusastraan di muka bumi ini, untuk memperbaiki keadaan kesusastraan Indonesia hari ini, saya hanya percaya satu hal terpenting: perbaiki kualitas penulis. Kirim anak-anak kita, remaja kita, anak-anak sekolah, ke kamp konsentrasi yang bernama perpustakaan, suruh mereka membaca, membaca dan membaca, 365 buku setahun jika perlu, kesusastraan dari penjuru planet, dari masa klasik hingga kontemporer, kalau perlu mereka bisa membaca dalam tiga atau empat bahasa, sebab memperbaiki kualitas manusia dewasa (penulis setua kita), percayalah akan sesulit mengajak setan berbuat kebaikan. Cara lain (untuk penggemar analisis hegemoni Dunia Pertama), dan ini jauh lebih susah lagi: ubah pola pikir masyarakat dunia (terutama Dunia Pertama!) sehingga mereka menganggap kesusastraan terbaik di dunia adalah apa yang dihasilkan para penulis Indonesia. Cara lain yang lebih gampang, dan ini sering saya lakukan karena memang gampang: bersikap tak peduli (anggap saja kesusastraan kita hidup di dunia tersendiri). Cara pandang saya atas kesusastraan Indonesia mungkin agak sedikit kelabu. Tapi jangan kuatir. Saya seorang Sagitarian, yang konon “bisa melihat keindahan dalam ketidaksempurnaan.” Dengan semua masalahnya, saya tetap mencintai kesusastraan Indonesia, dan menikmatinya. Tentu saja termasuk menikmati karya-karya lugu dan bodoh kita.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑