Eka Kurniawan

Journal

Tag: Leo Tolstoy (page 1 of 2)

Menebus Dosa, Aman Datuk Madjoindo

Novel ini karya Aman Datuk Madjoindo berjudul Menebus Dosa (jika tak salah, terbit pertama kali 1932). Madjoindo terutama dikenal melalui novel Si Doel Anak Betawi (dalam versi cetak ulang belakangan, kata Betawi berganti menjadi Jakarta). Pembukaannya rada aneh: dibuka dengan ceramah mengenai pentingnya pakansi, terutama untuk warga kota besar di Betawi (sebesar apa sih, waktu itu?) setidaknya sebulan dalam setahun. Nah, novel diawali dengan perjalanan si narator untuk liburan ke sebuah desa di lereng Pangrango, untuk menemui seorang teman. Tapi di desa itu, ia malah bertemu dengan seorang bocah yang tinggal dengan neneknya yang menarik perhatian dia. Berikutnya, sampai akhir, merupakan kisah mengenai sejarah si nenek dan bocah itu. Bagi pembaca modern macam saya, tentu gemas dengan bab pertama yang menceritakan perjalanan narator tersebut, yang bisa dibuang dan cerita langsung diawali di bab kedua. Percayalah, kisah perjalanan narator itu tak lagi disinggung kok sampai akhir novel (jika disinggung kembali, barangkali novel ini akan menjadi karya pascamodern). Meskipun begitu, saya akhirnya bisa memaklumi mengingat latar belakang kapan novel tersebut ditulis dan terbit, terutama karena saya terhibur dengan kisah si nenek dan cucunya setelah itu. Kita bisa saja menganggap pembukaan semacam itu sebagai wujud belum canggihnya teknik menulis di masa-masa awal kesusastraan modern kita (jangan berkecil hati: kita bisa gemas ingin memangkas atau mengedit novel Dostoyevsky atau Tolstoy sekalipun, kok). Tapi saya ingin melihatnya dengan sikap positif: pembukaan itu diperlukan untuk membuat yakin pembaca bahwa kisah di novel ini “benar”. Si narator (yang dipersonifikasikan sebagai si “aku” penulis) sedang berkunjung, dan ia mendengar cerita tentang nenek dan cucunya, yang kemudian dilaporkan kembali ke pembaca. Semacam cara untuk berkata, “Saya enggak ngarang lho ya, ini cerita yang betul kejadian, saya cuma melaporkan.” Seperti kita tahu, kita menulis dan berusaha meyakinkan pembaca bahwa kisah itu benar. Bahkan dalam kisah paling fantastis dan absurd sekalipun, penting untuk meyakinkan pembaca bahwa itu benar terjadi, setidaknya secara fiktif. Pembukaan novel ini bisa dilihat sebagai upaya sederhana melakukan itu, meskipun dengan berkembangnya kesusastraan, teknik “meyakinkan pembaca” tentu telah berkembang sedemikian rupa sehingga sekarang sangat jarang (meskipun ada) penulis membocorkan narator di dalam badan novel. Kembali ke novelnya, seperti saya bilang di muka, saya menikmatinya. Kisah sederhana yang tak perlu saya bocorkan di sini, tapi jika menemukan bukunya di perpustakaan atau toko buku loak, bacalah. Selalu menyenangkan membaca karya-karya lama, dalam arti yang sebenarnya, melemparkan kita ke waktu yang berbeda. Tak hanya melalui dunia rekaannya, tapi juga melalui ejaan (yang masih lama), kertas kusamnya (hati-hati untuk yang alergi), dan sesekali menemukan kejutan dari kata-kata yang sudah tak lagi dipergunakan tapi kita tahu ada dan mengerti artinya. Dibandingkan Si Doel, mungkin tak lagi banyak yang ingat novel ini. Tapi seperti makhluk hidup, ia selalu punya cara untuk bertahan dan menghampiri pembaca baru. Yang beruntung bukanlah novel itu, tapi si pembaca yang bersua dengannya.

Tips Bahagia untuk Penulis

Saya punya cara untuk hidup lebih bahagia. Buka Goodreads, lihat buku-buku karya penulis hebat (sebut saja Orhan Pamuk, Mo Yan atau Herta Müller, yang kalibernya sekalian Nobel Kesusastraan), dan baca ulasan yang memberi buku mereka cuma satu bintang. My Name is Red disebut “membosankan”, “dibuat untuk menyenang-nyenangkan penulisnya, bukan pembacanya”, “saya kesulitan dengan kualitas rendah buku ini”, dan “apa yang disebut misteri pembunuhan itu sangat dangkal sebab kita tak benar-benar tahu siapa pembunuh dan korbannya”. Bagaimana dengan Red Sorghum? “Saya enggak lihat novel ini indah maupun menggugah”, “tak ada otensitas dalam usahanya menggambarkan kengerian perang”, “karakter-karakternya tak punya simpati terhadap kehidupan manusia”. Dan The Land of Green Plums? “Halusinasi pikiran sakit”, “Gaya puitisnya menjauhkanku dari karakter”, “kenapa sastra bikin kita mual?”, “plot dan karakternya jauh dari menyenangkan”. Bahkan One Hundred Years of Solitude aja ada yang nyebut (tentu dengan memberinya satu bintang saja) “cuma kumpulan anekdot” dan “gaya berceritanya datar”. Membahagiakan membaca ulasan-ulasan semacam itu, kan? Saya tak tahu siapa-siapa saja mereka yang memberi komentar-komentar tersebut, yang jelas saya bahagia membayangkan orang menjadikan kanon-kanon kesusastraan global tersebut sebagai barang tak berguna. Orang-orang ini mulai mempertanyakan, kenapa sih seleraku berbeda dengan ahli-ahli sastra ini? Apakah otakku bermasalah? Hahaha. Saya sendiri tak tahu jawabannya. Mungkin otak ahli sastra memang bermasalah. Mungkin otak si pembaca yang tumpul. Kadang-kadang saya sendiri bertanya-tanya, ya ampun, kayaknya novel semacam ini mungkin memang bukan seleranya. Kenapa dia maksa membaca? Terpengaruh ulasan yang hips di jurnal sastra? Terpengaruh penghargaan yang diperoleh penulisnya? Ujung-ujungnya geli melihat emosi yang meledak-ledak, barangkali karena kesal kenapa dunia memuja War and Peace sedangkan dia menganggap buku itu buruk minta ampun? Novel itu disebut “kering dan membosankan”, “berapa banyak pohon ditumbangkan untuk mencetak sampah ini?” dan “buku ini menghancurkan mitos populer bahwa jika buku itu tua dan dari Rusia, pasti bagus”. Pembaca-pembaca yang memberi satu bintang dan sedikit ngomel-ngomel ini barangkali merasa tertipu dengan reputasi buku-buku tersebut, dan siapa pun yang tertipu di depan mata, kita senang menertawakannya, dan tawa seringkali membawa kita kebahagiaan. Persis seperti acara-acara gags dan jebakan di televisi, yang menjebak dan menipu seseorang lewat kamera tersembunyi. Si korban tampak menderita, dan kita tertawa ngakak melihat penderitaannya. Hidup ini kalau cuma mencari bahagia sederhana, kan? Lihat saja penderitaan orang lain, dan kita setidaknya bisa senyum. Melihat penderitaan seorang pembaca menghadapi buku yang tidak disukainya saya rasa tidak mencederai siapa pun, juga tidak mempermalukan siapa pun. Kita bisa tertawa sendiri, dan pembaca itu juga menderita sendiri. Kita hanya mengintip penderitaannya. Baiklah. Saya ingin sedikit menambah dosis kebahagiaan saya. Apa yang dikatakan pembaca satu bintang untuk William Shakespeare, pujangga agung itu? Romeo and Juliet adalah “Cerita yang bodoh”, “kedua remaja ini baru kenal 3 hari, enggak perlu seheboh ini, lah”, dan “medioker seutuhnya”. Hahaha. Lebok tah! (Subtitle: makan tuh sastra!)

The Seven Good Years, Etgar Keret

Adalah Tolstoy yang mengatakan dalam pembukaan Anna Karenina (salah satu pembukaan terbaik, meskipun dibuka dengan pernyataan narator dan bukan melalui adegan), bahwa derita manusia selalu khas melebihi kebahagiaan mereka. Saya teringat dengan paragraf tersebut ketika membaca “derita-derita” Etgar Keret dalam esai-esai ringkas (sketsa? memoar? potret?) yang secara ironi justru diberinya judul The Seven Good Years. Dan seperti di cerpen-cerpennya yang pendek dan penuh olok-olok, demikian pula esai-esai ini. Dibuka dengan tulisan mengenai kelahiran anaknya di rumah sakit, bersamaan dengan berdatangan korban serangan teroris ke sana. Seorang wartawan mengenali Keret sebagai penulis dan mengira ia salah satu korban serangan, dengan antusias bertanya, “Dimana kamu saat itu terjadi?” (Saya jadi ingat kebiasaan wartawan di sini yang bertanya langsung kepada korban sebuah peristiwa, “Bagaimana perasaanmu?”) Ketika Keret berkata ia bukan korban seerangan, tapi sedang menunggu isteri melahirkan, si wartawan kecewa. Menurutnya, keterangan korban selalu membosankan (ia sudah tujuh kali meliput serangan teroris di rumah sakit tersebut), dan berharap kalau penulis yang mengalaminya, mungkin komentarnya akan terdengar orisinal dan memiliki visi. Di akhir tulisan, anaknya kemudian lahir. Dengan penuh ledekan kepada diri sendiri yang khas dalam banyak tulisannya, Keret tak hanya berharap bahwa Timur Tengah di masa anaknya tumbuh akan penuh kedamaian, tapi juga, setidaknya jika ada bulan biru, ada yang bisa mengomentarinya secara orisinal dan dengan sedikit visi. Esai-esai pendek ini seluruhnya berisi penggalan peristiwa sehari-hari yang dialaminya. Sebagai seorang Yahudi, warga Israel, seorang ayah, dan tentu saja seorang penulis. Ada bagian di mana ia menceritakan perjalanan ke Ubud, Bali, dan duduk di restoran Indus ngobrol dengan seorang lelaki Swiss. Saya rasa itu terjadi saat Etgar Keret diundang ke Ubud Writers and Readers Festival. Ia menceritakan betapa susahnya memperoleh visa (ia harus menunggu di Bangkok, dan direktur festival harus bicara langsung dengan orang imigrasi). Juga soal ayahnya yang melarang dan ketakutan ketika tahu ia akan ke Indonesia. “Itu negeri mayoritas Muslim, anti-Israel, dan anti-Semit,” kurang-lebih begitu kata ayahnya. Si ayah tetap ketakutan meskipun Etgar bilang, mayoritas orang Bali menurut Wikipedia beragama Hindu. “Kita tak butuh suara mayoritas untuk meletakkan pelor di kepalamu.” Tentu saja ia akhirnya tetap datang, dan bertemu orang-orang yang melihatnya dengan tatapan aneh, tapi tersenyum. Humornya sangat melimpah, dan terutama caranya mengejek diri sendiri, termasuk ejekan terhadap dirinya sebagai Yahudi paranoid. Ada bagian-bagian di mana, ke mana pun ia pergi, ia merasa ketakutan bertemu para pembenci Yahudi. Di Tel Aviv, seperti semua warga Israel, mereka terus diliputi ketakutan diserang negara-negara di sekeliling mereka, yang semuanya “musuh”. Pergi ke Jerman, ia didera ketakutan bertemu neo-Nazi. Hingga satu hari di restoran, ia mendengar orang Jerman mabok dan ngoceh di dalam bahasa Jerman yang tak dimengertinya, tapi ia merasa mengerti dan yakin si orang mabok sedang menghinanya. Ia berdiri dan menantang si orang mabok. Padahal kemudian ia tahu, si orang mabok sama sekali tidak sedang menghujatnya, melainkan sedang mengomel karena mobilnya terhalang mobil lain di tempat parkir. Saya selalu percaya, penulis yang baik, dan pada dasarnya manusia-manusia yang besar hatinya, selalu punya ruang untuk mengejek diri sendiri. Humornya merupakan kritik terus-menerus terhadap diri. Seperti siapa pun, ia memiliki sifat rentannya sendiri. Kadang ia marah, kesal, membenci sesuatu, tapi pada akhirnya, ia bisa melihat di bagian mana hal tertentu bisa ditertawakan. Buku ini layak untuk disebut bacaan favorit saya tahun ini.

Tanya-Jawab: Pengaruh Sastrawan Indonesia

F Daus AR: Ini pertanyaan agak pribadi. Sejauh mana pengaruh sastrawan Indonesia terhadap karya yang Anda gubah. Nama yang saya maksud di luar sastrawan Indonesia yang sudah sering dibahas di jurnal. Misalnya saja, Kuntowijoyo, yang wafat 22 Februari 2005 silam.

Jawabannya juga agak pribadi. Ada satu peristiwa yang pernah membuat saya sangat sedih. Seperti saya pernah mengatakannya, [Cantik Itu Luka], novel pertama saya pernah ditolak beberapa penerbit. Oh, itu bukan bagian sedihnya. Soal itu saya tak terlalu peduli, dan di masa itu saya masih cukup punya kepercayaan diri anak muda bahwa cepat atau lambat saya akan menemukan satu cara untuk menerbitkannya. Hal yang membuat saya sedih datang beberapa tahun kemudian. Akhirnya saya bertemu dengan satu editor yang pernah menolak novel tersebut (nama dan tandatangannya memang tertulis di nota kecil penolakan itu), dan dia secara terus-terang bilang membaca novel saya dan menolaknya, salah satu alasannya: novel itu tidak masuk kriteria/preferensi dia mengenai novel sastra yang bagus. Menurutnya, novel sastra yang bagus mestinya seperti novel-novel Mangunwijaya, Kuntowijoyo, Ahmad Tohari. Tentu saja saya kemudian membaca beberapa karya mereka, dan saat itulah saya merasa sangat sedih. Saya sedih karena saya tahu persis: 1) saya tak ingin menulis novel seperti mereka, 2) jika ukuran kesusastraan (Indonesia) yang bagus diukur dengan karya-karya mereka, saya merasa tak memiliki tempat di peta kesusastraan dan kemungkinan besar saya tak ingin menjadi penulis. Meskipun begitu, di tengah kesedihan itu, saya patut bersyukur bahwa saya mendengarnya setelah “telanjur” jadi penulis, di usia saya yang jauh lebih dewasa, dan apa pun yang dikatakan orang tentang “sastra Indonesia yang bagus”, saya dengan keras kepala bisa membuat patok sendiri di hamparan peta itu, untuk saya dan karya-karya sendiri. Atau jika tidak diberi tempat, saya akan membuat peta sendiri. Jadi menjawab pertanyaan di atas, saya kuatir bahwa pengaruh penulis-penulis ini atas saya bisa dikatakan kecil atau tidak langsung. Bukan karena saya tak suka atau mereka tak bagus, tapi sesederhana bahwa saya memang baru mengenalnya belakangan. Dalam hal ini, saya akan mundur ke belakang. Izinkan saya menceritakan sejarah membaca saya, yang barangkali bisa menjelaskan kenapa hanya segelintir penulis Indonesia (yang itu-itu saja) yang sering saya bicarakan, dan yang pengaruhnya banyak membekas, dan kenapa ada begitu panorama kesusastraan Indonesia yang saya “tinggalkan” dan menciptakan lubang besar. Saya jarang menceritakan hal ini, dan hanya pernah sekali menceritakannya secara lengkap kepada seorang pengamat Indonesia yang penasaran karena “tampaknya saya tak terlalu peduli dengan penulis-penulis Indonesia” (dia bilang kepada saya, ini sejenis arogansi yang juga ada pada Pramoedya, hahaha). Baiklah, saya bisa dibilang tak memiliki sejarah yang baik dengan kesusastraan Indonesia. Hingga selesai SMA, tak banyak karya “sastra” yang saya baca. Anda semua tahu bagaimana pendidikan kita di tahun 80-90an. Saya tinggal dan sekolah di sebuah kota kecil, Pangandaran. Tak ada toko buku dan tak ada perpustakaan. Saya memang senang membaca buku, tapi yang bisa saya peroleh hanyalah novel-novel “picisan”: Asmaraman S. Kho Ping Hoo, Abdullah Harahap, Bastian Tito, buku stensilan. Sebagai selingan, saya juga membaca Enid Blyton, Karl May. Lupakan kanon-kanon sastra Indonesia, saya tak pernah melihatnya. Jika di masa remaja itu saya ingin menjadi penulis novel, sudah pasti novel yang ingin saya tulis adalah novel horor atau cerita silat. Saya pernah mencobanya sebelum dibuang ibu saya karena kertas-kertas itu menumpuk dan menjadi makanan rayap. Selesai SMA, saya pindah ke Yogyakarta. Kuliah di UGM. Melanjutkan kegemaran membaca (yang tak terpuaskan di kondisi kota kecil tempat saya tinggal), saya dibuat terpana menemukan perpustakaan. Sepanjang masa kuliah, saya menghabiskan lebih banyak waktu di perpustakaan, dan favorit saya selama enam tahun itu adalah ruangan kecil di perpustakaan kampus di mana saya bertemu Toni Morrison, Salman Rushdie, Gabriel García Márquez, Leo Tolstoy, Dostoyevsky, Melville, Knut Hamsun dll (ada satu rak yang dipenuhi oleh buku-buku terbitan Everyman’s Library). Tololnya saya, bahkan saat itu saya tak sadar tengah menghadapi kanon-kanon kesusastraan dunia. Bagi pikiran anak pantai ini, saya hanya sesederhana membaca novel, melanjutkan kegemaran saya. Saya lumayan beruntung bisa membaca bahasa Inggris. Ayah saya yang mengajari sejak kecil, meskipun seperti saya, dia mengajar sambil lalu dan ogah-ogahan. Baru bertahun-tahun kemudian saya menyadari (orang lain yang kemudian mengatakannya kepada saya), masa awal 90an itu merupakan “lompatan” dalam sejarah membaca saya. Dari sastra picisan yang dibaca di masa remaja, saya kemudian “melompat” membaca kanon-kanon dunia. Di antara kedua jenis bacaan itu, saya melewatkan karya-karya “kanon” kesusastraan Indonesia, kecuali Pramoedya Ananta Toer yang saya peroleh dari beberapa teman di masa-masa kami turun ke jalan, melemparkan batu ke polisi, antara tahun 1996-1998. Saya selalu percaya, selera kita jauh lebih banyak terbentuk ketika kita masih muda. Maka jika saat ini ada yang bertanya karya sastra macam apa yang ingin saya tulis, jawaban saya kurang-lebih masih sama seperti di masa remaja: saya ingin menulis novel silat atau novel horor. Dan sastra yang bagus bagi saya, karena dipengaruhi oleh sejarah bacaan, saya tak bisa tidak merujuk ke Hamsun, Melville, Cervantes. Jika saya boleh berbagi ambisi, (mungkin sederhana, mungkin tidak), saya ingin menulis seperti Kho Ping Hoo, Abdullah Harahap, sekaligus seperti Cervantes atau Melville, atau Gogol. Saya baru membaca sastra Indonesia secara lebih banyak, dan “sadar”, justru setelah saya memutuskan untuk menjadi penulis, selepas 1999. Saya tahu, saya sangat terlambat, tapi saya tak bisa memutar ulang waktu. Dan di umur dewasa seperti sekarang, sangat sulit untuk mengubah selera. Otak kita cenderung menjadi lebih bebal dan membatu bersama dengan bertambahnya usia. Lagipula, haruskah saya mengubah selera sastra saya? Bagi saya bukan tindakan kriminal menempatkan Kho Ping Hoo, Abdullah Harahap dan Pramoedya di atas penulis-penulis Indonesia lainnya. Mereka jelas-jelas memberi arti penting tak hanya dalam karya saya, tapi juga dalam hidup saya. Tanpa sastra picisan itu, saya akan menjalani masa remaja yang membosankan. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para penulis yang telah meletakkan patok-patok dalam sejarah kesusastraan nasional kita, tak bisa tidak, selamanya saya akan berterima kasih kepada sastra picisan, melebihi kanon-kanon kesusastraan Indonesia lainnya.

Dua Novel Bohumil Hrabal

Too Loud a Solitude. Biar keren, ia memutuskan untuk memiliki sandal. Ibunya merajutkan untuknya kaus kaki. Ia pun pergi ke lapangan dengan sandal dan kaus kaki, untuk melihat daftar nama pemain utama yang akan turun bermain sepakbola. Tiba-tiba ia merasa sebelah kakinya menginjak sesuatu yang basah dan lembek. Ia tak berani melihat ke bawah, matanya tetap tajam menatap papan pengumuman. Mencari namanya. Di daftar pemain utama, kemudian di daftar pemain cadangan. Setelah menemukan namanya, ia akhirnya menunduk. Ia menginjak tai anjing. Ia buru-buru menatap kembali papan pengumuman. Kembali mencari namanya, berharap satu keajaiban terjadi. Ia menemukan namanya, dan kembali menoleh ke bawah. Kakinya tetap terbenam di kubangan tai anjing. Kita bakal menemukan fragmen-fragmen pendek semacam itu di novel ini, dan saya kira di novel-novelnya yang lain. Bohumil Hrabal tak hanya “Penulis Ceko terbesar yang masih hidup (saat ini sudah meninggal)” sebagaimana dikatakan Milan Kundera, tetapi bisa dibilang master yang mampu mengendalikan humor dan tragedi dalam satu tendangan. Kisah Hanta yang bekerja di kantor polisi sebagai penghancur kertas (banyak di antaranya buku-buku langka dan terlarang), merupakan novel politik yang cerdas. Diam-diam Hanta sering menyelamatkan buku-buku penting dari mesin penghancurnya, membawanya pulang dan membacanya di waktu luang. Tidak tanggung-tanggung ia membaca Goethe, Schiller, Nietzsche, Kant dan memiliki repro karya-karya Rembrandt, Monet, Cézanne, hingga membuatnya “tak bisa membedakan mana pikiran yang datang dariku dan mana yang datang dari buku.” Ini novel tentang sensor dan bagaimana pengetahuan diselamatkan, dengan gaya jenaka. Tentang bagaimana pengetahuan dihancurkan, tapi diselamatkan di kepala manusia. Sementara buku-buku terus dihancurkan setiap hari, di malam hari, Hanta menemukan dirinya larut dalam dunia yang lain: ia melihat Yesus berdialog dengan Lao-tze, dan para filsuf membicarakan surga, berbaur dengan kenangannya atas gadis gipsi, dan pacarnya yang selalu sial namun akhirnya malah menjadi malaikat. Gaya berceritanya yang ekspresif, di tengah alur cerita kita seperti menemukan percikan-percikan fragmen warna-warni, kadang-kadang tentang filsafat, kadang sesepele tentang bir, lain kali tinjauan ringkas mengenai kaum Gypsy, di halaman lain ulasan sekelebat mengenai Hitler. Novelnya saya kira mendekati apa yang menurut saya merupakan novel ideal: bermain-main secara serius, atau keseriusan yang main-main. Kita bisa melihat filsafat, perang, agama, pengetahuan menjadi olok-olok yang menggelikan di novelnya, tapi pada saat yang bersamaan ia bisa membicarakan kehidupan sehari-hari, hal-hal banal semacam pita yang jatuh ke tumpukan kotoran manusia menjadi sesuatu yang penting. Lebih dari itu, Hrabal melakukannya dengan sangat padat dan ringkas, tanpa membuat novelnya menjadi sejenis sinopsis. Di bawah rezim komunis Ceko (dan pendudukan Sovyet, saya kira), kisah Hanta dengan mesin penghancur bukunya menjadi sejenis paradoks menggelikan sekaligus memilukan. Hanta yang bekerja dengan penuh gairah, yang merasa dirinya adalah apa yang dia kerjakan, dengan kedatangan mesin dan teknologi baru (yang diharapkan “membebaskan” manusia), justru merasa dirinya tercerabut. Terasing. “Seperti para pendeta yang, ketika mereka mengetahui Copernicus telah menemukan satu kumpulan hukum kosmik dan bahwa bumi tak lagi menjadi pusat semesta, memutuskan bunuh diri massal karena tak mampu membayangkan sebuah semesta yang berbeda dari yang pernah mereka diami.” Bahkan untuk hal semacam itu, Hrabal menyikutnya dengan humor. Sekaligus kepedihan.

***

Saya ingin membaca Hrabal sejak lama, lebih dari setahun lalu. Tapi selama 2014 saya memutuskan untuk lebih banyak membaca karya “klasik”. Orang bisa berdebat mengenai apa itu klasik. Klasik, bagi saya sesederhana karya dari abad 19 ke belakang. Dari Dostoyevsky, Tolstoy, hingga Shakespeare bahkan Homer. Masih banyak yang tertinggal dan masih ingin saya baca, tapi tahun ini bagaimanapun saya ingin bergerak. Akan lebih banyak membaca kesusastraan dari para penulis sekitar paruh pertama abad 20. Saya tak tahu siapa saja yang bisa saya temukan, tapi membaca dua novel Bohumil Hrabal di hari pertama tahun ini saya kira merupakan awal yang bagus. Setidaknya saya mengenal penulis Ceko lain setelah Milan Kundera dan Jaroslav Hašek.

***

Closely Observed Trains. Novel ini dibuka dengan adegan pesawat Jerman yang jatuh, dan bangkainya dipreteli penduduk kota. Salah satu yang sibuk mengangkuti kepingan-kepingan pesawat itu adalah ayah si tokoh. Ia seorang kolektor barang-barang tak berguna, yang karena kemampuan teknisnya, bisa mengubah barang-barang itu menjadi hal-hal yang berguna. Yang tentu saja bikin sirik banyak orang. Lalu kisah melipir ke kakek dan kakek-buyut, yang seperti si ayah, juga disiriki banyak orang karena “keberuntungan-keberuntungan” mereka. Si kakek-buyut kehilangan kakinya di front, dan gara-gara itu ia pensiun dini dan dapat gaji pensiunan bertahun-tahun lamanya, dan memakai uang itu untuk minum-minum sambil mengejek orang-orang yang harus bekerja keras demi sesuap nasi. Si kakek-buyut sering dipukuli orang yang kesal, tapi tak juga kapok. Si kakek punya kemampuan hipnotis, dan sekali waktu mencoba menghentikan tank Jerman dengan hipnotisnya. Gagal, dan malahan ia diseruduk tank hingga kepalanya lepas dan mengganjal laju tank. Mati, tapi jadi pahlawan. Kita akan mengira novel ini mengenai sejarah keluarga sialan penuh keberuntungan ini (meliputi kakek-buyut, kakek, ayah, dan anak), tapi dengan cerdik Hrabal mengecoh kita. Itu hanyalah pembukaan untuk memperkenalkan si tokoh utama, sebelum cerita berbelok tentang kisah si tokoh itu sendiri, seorang pegawai magang di stasiun kereta api, dan di sanalah kisah sesungguhnya terjadi. Dalam hal-hal seperti ini, gaya berceritanya mengingatkan saya kepada César Aira, tapi saya tak tahu apakah Aira membaca Hrabal atau tidak. Seperti novel yang sebelumnya saya sebut, novel ini juga sangat ekspresif, dan memperlihatkan kualitas Hrabal yang lain: kejeliannya kepada segala yang visual, dan humornya yang semakin menjadi-jadi. Ada adegan “mesum” di mana satu pegawai perempuan kepergok telanjang bulat bersama seorang pegawai lelaki di satu malam. Si pegawai lelaki bahkan mengecapi sekujur tubuh si perempuan dengan stempel stasiun. Tentu saja mereka disidang, tapi bukan karena mereka telah melakukan tindakan senonoh (sebab urusan moral semacam itu merupakan urusan pribadi belaka), tapi karena stempel yang dipakai mengandung bahasa Jerman! Itu penghinaan terhadap negeri Hitler. Hrabal hampir tak pernah gagal membuat kita tersenyum. Kisah utama novel ini adalah tentang kereta penuh amunisi milik Jerman, dan dua petugas stasiun (si tokoh utama, dan lelaki yang berbuat mesum) yang berniat meledakannya. Sejenis kisah “perjuangan”, tapi jangan salah kira. Apa yang disebut “kisah utama” itu sebenarnya ia ceritakan nyaris sekilas saja, dan baru kita ketahui menjelang akhir. Sebagian besar alurnya justru ke sana-kemari, termasuk kisah si bocah tokoh utama yang berusaha menjadi “dewasa”. Yang ia maksud dewasa adalah bisa meniduri perempuan dengan selayaknya, sebab terakhir ia mencobanya, ia mengalami apa yang disebut orang Jawa sebagai “peltu” (nempel metu, baru nempel sudah keluar). Dan peristiwa “peltu” itu makin membuatnya malu (sampai ia mengiris nadinya berharap mati) karena dilakukan di studio foto dengan semboyan “Lima Menit Selesai”. Ia merasa terhina karena bahkan tak sampai lima menit. Lagi-lagi humor ala Hrabal. Menggelikan, dan pedih.

Apakah Bacaan Kita Tumbuh?

Pernahkah kita bertanya pada diri sendiri, apakah bacaan kita tumbuh dengan semestinya? Tentu saja untuk sebagian besar orang, bacaan kita pastinya tumbuh. Apa yang kita baca ketika sekolah dasar akan berbeda dengan apa yang kita baca ketika berumah tangga. Tapi pertanyaan pentingnya, apakah ia tumbuh dengan semestinya? Apakah bacaan kita selaras dengan usia kita? Jujur, tak jarang saya melihat anak-anak kuliahan, berarti berumur sektar 20an awal, masih membaca novel-novel remaja. Saya tak bermaksud mengecilkan arti novel remaja. Novel-novel yang baik, termasuk bahkan novel anak-anak atau remaja, masih bisa dinikmati oleh semua kelompok umur. Tapi bagaimanapun, novel remaja adalah novel remaja. Industri (terutama penulis dan penerbitnya) mempersiapkan novel-novel tersebut untuk dibaca remaja (dengan memperhitungkan pengalaman hidup, biologis maupun intelektual). Jika kita telah berumur 20an, atau bahkan 30an, atau bahkan lebih tua dari itu, hanya mampu menelan atau bahkan hanya mampu dihibur oleh bacaan untuk anak belasan tahun, berarti ada masalah dengan bacaan kita. Ada yang tak tumbuh. Ada yang terlambat tumbuh. Ada yang sengaja atau tidak sengaja, telah menjadi bonsai. Terlambat tumbuh barangkali masih bisa diterima. Keadaan sosial dan sistem pendidikan kita memungkinkan kita menjadi pembaca-pembaca yang terlambat tumbuh. Saya tak akan heran bertemu dengan anak yang lulus sekolah menengah dan tak pernah membaca satu novel pun. Bahkan bisa bertemu dengan anak sekolahan di kota, yang tak bisa membedakan antara “buku” dan “novel”. Serius, saya bertemu dengan anak semacam itu beberapa kali. Bahkan bisa bertemu dengan orang dewasa, yang pada dasarnya memiliki kapasitas intelektual yang lumayan, masih melihat novel semata-mata sebagai bacaan hiburan belaka. Baiklah, bahkan apa yang disebut sebagai bacaan dewasa pun memiliki jebakannya sendiri. Barangkali ada pembaca tertentu yang merasa telah tumbuh, telah meninggalkan masa-masa membaca kesusastraan anak-anak dan remaja, dan masuk ke kesusastraan yang dewasa, tapi sebenarnya mungkin berhenti pula di satu titik. Itu seperti pernah mimpi basah dan merasa dewasa, padahal tak banyak berubah daripada sebelum mimpi basah. Problemnya, bacaan dewasa merupakan alam liar. Saya rasa tak ada orang yang mampu menyusun grafis pertumbuhan mana yang perlu dibaca oleh orang berumur 21 dan mana yang perlu dibaca oleh pembaca 50an tahun. Saya rasa setiap orang bisa menyusun untuk dirinya sendiri, tapi bahwa ia harus tumbuh saya rasa merupakan keniscayaan. Itu jika kita tak sayang pada kapasitas biologis dan intelektual kita. Sekali waktu saya membaca wawancara Javier Marías dan si pewawancara bertanya, apa yang ia baca di hari-hari ini? Ia menjawab, ia sudah lama tak membaca karya-karya kontemporer. Ia lebih banyak membaca karya-karya klasik, membaca mereka berulang-ulang. Bagi Marías, saya yakin itu merupakan pertumbuhan bacaannya, dengan ukuran-ukurannya sendiri. Sekali lagi, ukuran-ukuran itu barangkali personal. Tak ada yang bisa membuat penyamarataan, mana yang harus kita baca lebih dulu: Tolstoy atau Dostoyevsky? Membaca Flaubuert lebuh dulu atau Albert Camus dulu? Menjadi dewasa, saya rasa tak hanya ditentukan oleh bacaan apa yang kita pegang, tapi juga terutama berarti kemampuan untuk menentukan, ke arah mana kita ingin berkembang. Dan jika kita tahu ke arah mana kita ingin berkembang, kita juga mestinya tahu bagaimana kita menyusun tahapan-tahapan perkembangan itu. Yang artinya, begitu kita menginjak masa dewasa, kita tahu apa yang mestinya kita baca, dan ke mana kita ingin mengembangkan bacaan kita secara sadar. Dengan cara seperti itulah, kita bisa terus menjadi anak-anak dan remaja tanpa harus berhenti di bacaan milik mereka: terus-menerus menemukan hal-hal baru dan terkejut-kejut menguak rahasia dunia. Sebab pembaca yang tumbuh, pembaca yang dewasa, merupakan pembaca yang memelihara roh anak-anak di dalam kepalanya. Roh rasa ingin tahu.

Gabriel García Márquez, Obituari

Bangun tidur dan melihat berita ringkas: raksasa kesusastraan abad 20, Gabriel García Márquez wafat pada umur 87 tahun (17 April 2014). Seharusnya itu tak mengejutkan. Ia sudah uzur, dan beberapa hari lalu masuk rumah sakit, dan alam semesta seperti juga manusia menciptakan segala sesuatu tidak untuk terus hidup abadi. Tapi bahkan dengan kesadaran seperti itu, serasa ada lubang menganga dalam peta kesusastraan di benak saya. Bagi saya, ia melebihi apa yang sering disematkan kepadanya: peraih Nobel Kesusastraan, patriarch fenomena el-boom, maskot realisme magis. Bagi saya, ia sesederhana raksasa kesusastraan abad 20 dengan sedikit pesimisme, barangkali kesusastraan dunia tak akan pernah menghasilkan manusia semacam ini lagi. Bagi saya, hanya sedikit raksasa pernah dilahirkan dan dikenal. William Shakespeare dan Miguel de Cervantes merupakan raksasa yang menandai suatu era kesusastraan modern. Setelah itu, saya ingin menyebut Herman Melville, yang terlihat seperti anak kandung dari perkawinan tak sah Shakespeare dan Cervantes. Abad 19 merupakan abad yang barangkali paling gegap-gempita, manusia mulai menengok wilayah yang selama ini seringkali diabaikan: di dalam dirinya. Era ini ditandai dua raksasa dari Rusia: Tolstoy dan Dostoyevsky. Di luar nama-nama itu, ada nama-nama penulis, ratusan atau bahkan ribuan. Mereka penulis-penulis hebat, besar, mengagumkan, tapi saya rasa kesusastraan dunia sebelum abad 20 hanya perlu dipatoki oleh lima nama itu saja. Anda bisa berdebat soal ini, tapi saya yakin kelima nama tersebut tak akan ke mana-mana. Mereka dengan penuh kepongahan telah mengencingi hampir seluruh karya kesusastraan yang diciptakan umat manusia. Abad 20 datang, dengan sisa-sisa kolonialisme yang renta, dua perang dunia, revolusi di mana-mana, negera-negara baru diciptakan, globalisasi merekatkan mereka. Penulis lahir di setiap sudut dunia, mereka hebat dan melahirkan karya-karya besar; tapi seperti sebelumnya, semua itu hanya perlu diberi tanda sederhana: abad ini melahirkan raksasa tunggal. Gabriel García Márquez. Gurunya orang-orang hebat, yang menyiapkan bahu mereka untuk pijakan raksasa ini dengan kerendahan hati: Hemingway, Faulkner, Kawabata, Kafka. Baru beberapa hari lalu saya membicarakannya dengan seorang teman, terutama mengenai esainya, yang saya rasa merupakan esai paling cemerlang tentang teknik menulis berjudul “Gabriel García Márquez Berjumpa dengan Hemingway”. Esai itu pendek saja, bercerita tentang pertemuan Márquez muda di jalanan Paris bersama Hemingway dan isterinya. Sebenarnya bukan pertemuan: si penulis melihat Hemingway di seberang jalan dan berteriak serta melambaikan tangan ke arahnya. Teman saya berkomentar pendek, sesuatu yang saya rasa sangat penting untuk diperhatikan sebab ini merupakan sedikit kunci untuk mengenali cara kerja menulisnya. “Bisa saja pertemuan dengan Hemingway itu bohong, tapi ia menuliskannya seolah-olah itu benar terjadi.” Jujur, komentar teman saya membuat saya sedikit terpaku. Selama bertahun-tahun membaca dan mengagumi esai itu, saya tak pernah terpikir oleh kemungkinan tersebut. Seluruh klaim pertemuan Márquez dengan Hemingway itu hanya datang dari si penulis sendiri, tapi peduli setan, esai itu tak banyak membicarakan pertemuan tersebut. Esai itu kemudian lebih banyak bicara tentang perbedaan cara menulis Hemingway dan Faulkner, yang saya rasa pendapatnya benar. Ia sendiri pernah berkata, satu fakta meyakinkan dari sebuah cerita, akan membuat seluruh cerita tersebut meyakinkan. Di esainya, ia membuktikan hal itu. Kecemerlangan gagasannya mengenai kepenulisan Hemingway dan Faulkner, membuat klaim pertemuan dirinya dengan sang maestro di jalanan Paris membuat itu juga tampak demikian meyakinkan. Kita tak lagi peduli benar atau salah. Seperti kebanyakan fans, saya membaca hampir seluruh karyanya. Juga wawancara dan biografi tentangnya. Juga ulasan orang tentang karya-karyanya. Satu yang saya ingat, Salman Rushdie pernah bicara tentang karya-karyanya, yang saya lupa di esai mana. Tapi saya ingat, Rushdie bicara tentang pola. Márquez selalu memulai cerita dari tengah, kemudian maju, lalu mundur, maju lagi, mundur lagi. Tapi bagi saya, itu tak sesederhana plot yang dibuka di tengah lalu maju lalu mundur. Márquez, ia seorang jurnalis dan belajar banyak dari dunianya, sadar sekali bahwa hakikat dari para pendongeng adalah memuaskan rasa ingin tahu pembaca. Dalam jurnalisme, pembaca ingin tahu terhadap satu peristiwa dan reporter atau penulis berita menyuguhkan apa yang ingin diketahui itu. Dalam penulisan fiksi, sebagaimana dalam dongeng, si penulis menciptakan sendiri rasa ingin tahu tersebut. Di sinilah, menurut saya, Márquez mempergunakan teknik yang akan membuatnya banyak dikenang: foreshadow, peramalan, pembocoran cerita. Jauh sebelum terjadi, ia sudah membocorkan mengenai Kolonel Aureliano Buendia akan berdiri di depan sederet regu tembak, bahkan sejak di kalimat pertama novel One Hundred Years of Solitude. Dan puncak teknik ini, bagi saya terletak di karya pendeknya, Chronicle of a Death Foretold. Peramalan ini tak hanya ia lakukan di pembukaan cerita, tapi terus ia lakukan di sepanjang cerita. Itulah kenapa, seperti Rushdie bilang, ada kesan bahwa alur plotnya maju-mundur. Tidak. Saya merasa ia melakukan cara bercerita yang relatif konvensional dengan alur maju, tapi dengan sisipan foreshadow. Sekali lagi, Anda bisa memperdebatkan ini. Dan saya yakin, perdebatan apa pun hanya akan menegaskan ia sebagai penulis jauh melampaui para penulis dari generasinya. Ia raksasa tak hanya untuk Amerika Latin. Ia telah mengencingi hampir seluruh karya di belahan dunia mana-mana. Saya tak tahu di abad 21, atau setidaknya di masa kita hidup, kita akan menyaksikan kelahiran raksasa lain atau tidak. Dan karya-karyanya, hampir sebagian besar, akan berada di rak dengan label pasti. Klasik. Selamat jalan, Patriarch.

PS: Ini beberapa tulisan saya tentang Gabo di arsip, barangkali tertarik juga membaca:

Apa Sih, yang Dilakukan Para Penulis Hebat?

Saya kadang-kadang bertanya seperti itu. Apa sih, yang membuat mereka hebat? Apa yang bisa kita lakukan jika ingin seperti mereka? Saya tak memiliki kesempatan untuk bertanya kepada para penulis hebat favorit saya: Hamsun, Gogol, Melville, Kawabata, Borges, dan lain-lain. Bahkan sekiranya mereka masih hidup dan saya berkesempatan bertanya, saya mungkin terlalu jengah untuk bertanya. Jadi apa yang bisa saya lakukan hanyalah sedikit menduga-duga, ya, dengan cara mencari tahu apa yang mereka lakukan dalam hidupnya. Tentu saja selain menulis karya-karya hebat itu. Pertama, tentu saja karena mereka banyak membaca. Mereka pembaca-pembaca kelas berat. Tengok Borges: saya curiga ia membaca hampir semua buku di perpustakaan tempatnya bekerja, hingga di masa tua matanya nyaris buta. Yang jelas, ia membaca karya-karya klasik Inggris. Sebenarnya tak cuma Inggris. Jika kita membaca cerpen-cerpennya, kita tahu ia membaca sastra dari mana-mana. Salah satu buku favoritnya adalah Alf Layla wa Layla, atau kita mengenalnya sebagai Hikayat Seribu Satu Malam. Atau coba baca wawancara beberapa penulis di The Paris Review. Saya sering terbengong-bengong melihat luasnya bacaan mereka. Atau baca buku kumpulan esai Roberto Bolaño, Between Parenthesis, ia membaca tak hanya sesama penulis (berbahasa) Spanyol, tapi juga membaca Cormac McCarthy, misalnya. Berapa banyak buku yang sudah kamu baca? Klasik dan kontemporer? Tak hanya dari kesusastraan negerimu sendiri? Jika ingin sehebat Borges atau yang lainnya, saya rasa kamu harus membaca segila mereka. Kedua, menerjemahkan. Menerjemahkan, tak hanya membuat pengetahuanmu atas bahasa lain bertambah, tapi sekaligus mengajarimu menulis secara langsung dari penulis yang kamu terjemahkan. Kamu mengikuti jejak sang penulis, kata per kata, kalimat per kalimat, dengan bahasamu sendiri. Pada saat yang sama, kamu tengah mengasah kemampuan menulismu, ya, dalam bahasa yang kamu pergunakan. Murakami merupakan seorang penerjemah yang tekun. Ia menerjemahkan novel Raymond Chandler ke Bahasa Jepang, salah satunya. Juga menerjemahkan novel The Great Gatsby karya F. Scott Fitzgerald. César Aira, yang novel-novelnya belakangan saya gemari, juga seorang penerjemah (sampai satu titik, bisa dibilang profesinya). Kembali ke Borges: novela Metamorfosa Kafka yang dibaca pertama kali oleh García Márquez merupakan edisi Spanyol yang diterjemahkan oleh Borges. Tak usah jauh-jauh, novelis terbaik kita, Pramoedya Ananta Toer, juga menerjemahkan banyak karya penulis luar: Steinbeck, Tolstoy, Saroyan. Ketiga, tak hanya menulis cerita, novel atau puisi, tapi tulis juga pandangan-pandanganmu tentang penulis lain, karya lain, dan kesusastraan secara umum. Sampai saat ini, salah satu esai terbaik tentang teknik menulis dua raksasa sastra Amerika saya temukan di esai pendek Gabriel García Márquez berjudul “Gabriel García Márquez Berjumpa dengan Ernest Hemingway”. Di esai itu, ia menulis tentang Hemingway dan Faulkner, dan bagaimana kedua raksasa itu berbeda secara teknik. Ngomong-ngomong soal García Márquez, jangan lupakan buku ulasan serius Mario Vargas Llosa mengenai novel Cién Anos de Soledad. Vargas Llosa juga menulis buku serius mengenai Madame Bovary dan Gustave Flaubert (Perpetual Orgy: Flaubert and Madame Bovary). Mau contoh yang lain? Michel Houellebecq menulis biografi kritis mengenai penulis cult Amerika, H.P. Lovecraft. Saya rasa, menulis esai tentang penulis dan karyanya membantu kita untuk belajar menganalisa, belajar melihat sudut-sudut pandang yang berbeda, dan dengan tanpa sadar, kita menciptakan cara berpikir sendiri, dan sudut pandang yang barangkali unik. Keempat, yang ini tak perlu dijelaskan panjang-lebar: terus menulis. Anda bisa menambahkan beberapa hal lain, yang boleh ditiru atau tidak: maraton (Murakami), mabuk (Faulkner), berburu (Hemingway), dan lain-lain. Jadi jika ada yang bertanya kepada saya bagaimana caranya menjadi penulis hebat, barangkali saya akan menjawab terutama empat perkara di atas. Jujur saja, itu bukan jaminan juga. Saya hanya berusaha menjawab dengan belajar dari penulis-penulis ini. Tapi setidaknya, mencoba melakukan apa yang mereka lakukan, saya rasa bukanlah hal buruk. Juga bukan kejahatan. Itu hal-hal baik yang layah dicoba. Setidaknya, belajar dari mereka, saya tahu bukanlah hal mudah untuk menjadi penulis yang baik, apalagi penulis yang hebat. Sebagaimana bukan hal yang mudah mengalahkan Usain Bolt dalam adu cepat lari di lintasan seratus meter.

Hak untuk Disebut

Seorang penulis pemula menulis cerita pendek yang secara gagasan, kerangka alur cerita, bahkan beberapa potong kalimat, sama dengan cerita pendek penulis lain yang lebih dulu terbit. Karena soal itu, saya berdiskusi dengan teman di satu penerbit mengenai “attribution right”. Saya belum tahu apa padanannya dalam Bahasa Indonesia, tapi gampangnya kita sebut “Hak untuk Disebut”. Hak ini sangat mendasar. Saya melihat, jika tak salah, pembela copyright maupun pendukung copyleft, sama-sama menghormati hak ini. Bahkan meskipun sebuah karya sudah memasuki domain publik, sang pengarang masih berhak atas hak ini, meskipun hak ekonominya mungkin telah lenyap. Nama Herman Melville akan terus ditulis sebagai penulis Moby Dick, misalnya. Demikian pula jika kita menulis sebuah karya, dan karya itu berdasarkan karya lain, atau mengutip karya orang lain, hak ini pun muncul. Kita harus menyebutnya, misalnya dengan cara: “Karya ini berdasarkan …”, “Kalimat ini dikutip dari …” Mengabaikan hak ini tak hanya berpeluang melanggar moral, bisa pula melintasi rambu-rambu hukum. Saya tak ingin membahas aspek hukum atau definisi mengenai hal ini, saya pikir persoalan ini dengan mudah dicari untuk diketahui. Tiba-tiba saya lebih tertarik melihatnya dari sudut tantangan estetik. Adakah? Tentu saja. Saya memikirkan ini sudah agak lama, ketika membaca kumpulan cerita pendek Carlos Fuentes berjudul Happy Families. Di bagian muka, kita berhadapan dengan satu kutipan dari Anna Karenina: “Semua keluarga bahagia, bahagia dengan …” (kita tahu kelanjutan pembukaan novel yang sangat terkenal tersebut). Tentu kita bisa mengatakan meletakkan kutipan tersebut di muka buku sebagai salah satu bentuk “penyebutan” Fuentes terhadap Tolstoy, seolah-olah mengatakan, seluruh cerita pendek di buku ini, meminjam pijakan dari novel Anna Karenina. Saya menjadi tertarik pada penyebutan kutipan tersebut terutama karena fakta bahwa judul buku tersebut “Keluarga Bahagia” sementara dalam bayangan saya, Anna Karenina lebih banyak menceritakan keluarga yang tak bahagia. Tentu ada satu paradoks yang ingin dipermainkan oleh Fuentes di sini, dan dengan cara itulah, ia ingin kita membaca kumpulan cerpennya sambil membayangkan (atau jika sempat, membaca ulang) Anna Karenina. Menyertakan satu kutipan dari karya orang lain di karya kita, saya pikir mestinya memang jauh-jauh dari sekadar “gaya-gayaan”. Selain ditempatkan sebagai “penyebutan”, satu sikap kerendahan hati bahwa “karya ini terinspirasi atau didasarkan pada karya itu”, bagi saya juga membawa konsekuensi tantangan estetik: dengan satu dan lain cara, karya kita akan diperbandingkan langsung dengan karya yang beberapa potong kalimatnya kita kutip. Pertarungan macam apa yang ingin ditawarkan seorang penulis dengan memperhadapkan karyanya dengan karya (mestinya) pendahulunya? Di luar soal kutipan, saya menemukan bentuk lain “penyebutan” ini, yang di satu sisi tampak tersamar, tapi di sisi lain juga sangat mencolok. Tidak terang-terangan mengatakan bahwa “karya ini terinspirasi atau didasarkan karya itu”, tapi di sisi lain jelas-jelas merujuk ke karya yang lain. Kita tahu novel James Joyce yang mengisahkan perjalanan Leopold Bloom mengelilingi Dublin diberi judul Ulysses tentu bukan tanpa sebab. Novel itu secara terang-terangan mengakui berdiri di atas pijakan karya Homer berjudul Odyssey (yang dilatinkan menjadi Ulysses). Joyce tak perlu mengatakan apa pun lagi, judul tersebut sudah mengatakan jauh lebih banyak dari apa yang perlu dikatakan. Tentu kita bisa saja membaca novel itu tanpa perlu membaca perjalanan Odyssey, tapi sekaligus novel itu seperti “meminta” untuk dibaca bersandingan dengan epik tersebut. Di sini Joyce jelas tak hanya memberi “hak penyebutan” terhadap Homer (siapa pun itu), ia membawanya ke petualangan estetik. Hal yang hampir sama kita temui di novel 1Q84 Haruki Murakami. Dalam Bahasa Jepang, “Q” dibaca sama dengan angka “9”. Mau tak mau, novel itu juga seperti meminta dibaca beriringan dengan 1984 George Orwell. Bersifat rendah hati bahwa karya kita berdiri di atas pijakan karya orang lain, saya percaya tak akan menghancurkan reputasi kita. Itu tak semata-mata penghormatan kepada penulis dan karyanya. Bagi saya jelas: itu juga merupakan tantangan estetik. Apa yang ingin kita tawarkan ketika mengolah karya orang lain dan membentuknya menjadi karya milik kita sendiri?

“Marry You”

Setelah menonton satu video Girl’s Generation menyanyikan lagu Bruno Mars, “Marry You”, saya jadi memikirkan ide tentang pernikahan. Lihat gadis-gadis itu. Gadis-gadis yang saya kagumi, karena kecantikan dan bakatnya, tampak berbinar-binar menyanyikan baris “I think I wanna marry you.” (Baiklah, yang menyanyikan lagu itu sebenarnya hanya tiga orang: Yoona, Sunny dan Sooyoung, tapi saya membayangkan semuanya menyanyikan itu). Seperti kebanyakan orang (terutama mereka yang belum menikah), pernikahan di mata mereka tampak seperti “tanah yang dijanjikan”, sebuah surga, sebuah bangunan utopia di mana segalanya indah. Bahkan kadang-kadang, tujuan orang jatuh cinta dan menjalin hubungan, tak lain adalah pernikahan. Sebagian besar yang kita peroleh dari kesusastraan juga seringkali menjadikan pernikahan menjadi tujuan pamungkas cerita. Coba kita kenang, berapa banyak dongeng yang berakhir dengan kalimat, “Akhirnya pangeran dan putri menikah dan hidup bahagia selamanya.” Seolah-olah pernikahan merupakan gerbang kebahagiaan. Seolah-olah sebelum menikah merupakan ketiadaan kebahagiaan dan setelah menikah tak ada penderitaan. Romeo dan Juliet berakhir dengan kematian, juga karena mereka ingin menikah. Saya sering membayangkan menulis ulang Romeo and Juliet, dan dalam versi saya, saya membayangkan Romeo dan Juliet tak keras kepala dengan keinginan mereka untuk menikah. Juliet bisa menikah dengan Paris (pilihan orangtuanya). Romeo bisa menikahi siapa pun yang direstui orangtuanya (bukan Juliet, juga bukan Rosaline, karena keduanya Capulet). Di antara kedua keluarga dan pernikahan, Romeo dan Juliet masih bisa bertemu. Diam-diam tentu saja. Dan memadu kasih. Semua bahagia. Orang tua mereka bahagia, suami/istri mereka bahagia, dan keduanya juga bahagia. Mereka tak perlu mati. Tapi seperti kita tahu, cerita ini menjadi tragedi karena kedua tokoh kita menginginkan pernikahan di antara mereka. Mereka membayangkan pernikahan akan membuat mereka bahagia. Padahal pernikahan yang mereka idamkan membawa mereka kepada kematian. Lihat pula Sitti Noerbaja, salah satu novel klasik kita. Tujuan utamanya juga pernikahan. Oh, bukan, bukan pernikahan Siti Noerbaja dengan Datuk Meringgih, tapi justru untuk menggagalkan pernikahan tersebut. Novel ini menyadari aspek buruk pernikahan (yang direncanakan) untuk sang tokoh, tapi bukan untuk menolak pernikahan sebagai gagasan, melainkan hanya untuk menggantikan pernikahan lain (yang diidamkan), yakni pernikahannya dengan Samsul Bahri. Jika kesusastraan bisa hanya dibagi dua, barangkali saya akan membaginya dalam kategori 1) yang menjadikan pernikahan sebagai tujuan kebahagiaan, 2) yang menjadikan pernikahan sebagai sumber penderitaan. Oh, tentu saja pada akhirnya ada novel-novel yang memperlihatkan tokoh-tokoh yang tak berbahagia dalam pernikahan mereka. Anna Karenina salah satu yang terbesar, barangkali penderitaannya paling berat, dalam pernikahan. Bagaimanapun, kedua kategori menyimpulkan hal yang sama. Kategori pertama tak menunjukkan pernikahan sebagai sesuatu yang membahagiakan, tetapi lebih sebagai kebahagiaan yang dibayangkan. Belum terjadi. Masih sebagai gagasan. Kategori kedua sudah jelas, pernikahan tak memperlihatkan kebahagiaan. Saya bahkan belum pernah membaca kisah tentang pernikahan yang bahagia (tentu saja, yang membahagiakan tak membuat hidup menjadi masalah, dan tanpa masalah tak ada cerita). Seperti kata Tolstoy dalam pembukaan Anna Karenina, seluruh keluarga bahagia, bahagia dengan cara yang sama; keluarga tak bahagia, tak bahagia dengan cara masing-masing. Dari sudut pandang penulis, hanya keluarga tak bahagia yang menarik ditulis. Dengan kata lain, keluarga bahagia pada dasarnya “tak ada”. Dalam kategori filsafat bisa dibilang “non-exist-thing”. Bahkan meskipun itu “tak ada”, tetap saja kita sering membaca penutup kisah, “dan mereka bahagia selamanya dalam pernikahan”. Barangkali begitulah nasib manusia. Kita membutuhkan tujuan (sebagaimana cerita butuh tujuan), tak peduli seilusif apa tujuan itu. Sebab tanpa tujuan, mungkin kita akan menjadi makhluk yang lebih menyedihkan dan mengerikan. Maka tersenyumlah lebar para kekasih, yang membayangkan pernikahan mereka. Yang membuat hidup selalu layak dijalani adalah, sebab kita selalu percaya ada (pernikahan, misalnya) yang membahagiakan.

Older posts

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑