Eka Kurniawan

Journal

Tag: László Krasznahorkai

Beberapa Penulis Hendak Menguasai Dunia

Bar itu sepi saja. Ada desas-desus tempat itu sudah dipesan oleh beberapa penulis yang hendak membicarakan upaya mereka menguasai dunia. Di tempat parkir, mata-mata CIA, KGB dan Mossad berkeliaran. Selain si bartender, yang menggigil ketakutan, sementara itu hanya ada dua orang duduk terpisahkan meja, sambil menonton siaran langsung El-Clasico di layar TV. Di sebelah kiri, seorang Madridista bernama Javier Marías. Di seberangnya, si orang Catalan bernama Enrique Vila-Matas. Keduanya tampak tegang melihat ke arah lapangan di TV (saya tak ingat, pertandingan itu di Santiago Bernabéu atau di Camp Nou). Sebentar lagi bakal ada adu jotos, pikir si bartender. “Sangat ironis melihat cara kedua klub bermain,” komentar si bartender untuk mencairkan suasana. “Barcelona penuh nafsu untuk menguasai bola. Fasis dan seperti Franco. Sementara Madrid liar tak jelas, anarkis dari kepala ke kaki.” Kedua penulis menoleh dan melotot ke arah si bartender, dan mengumpat bersamaan: “Tutup mulutmu!” Tak berapa lama masuk seorang lelaki dengan napas ngos-ngosan. Ia mengenakan training, sepatu jogging, dengan t-shirt bergambar The Doors. “Bartender itu benar,” kata lelaki itu menenangkan keduanya. “Lihat cara kalian menulis. Kau orang Madrid, menulis dengan gaya Madrid. A Heart So White itu benar-benar novel untuk para ningrat, untuk para penakluk. Sementara Bartleby & Co. lebih tepat dibaca para gembel yang tiduran di emper stasiun sambil mengkhayal bisa meniduri model di iklan Banana Republic.” Yang baru datang itu penulis bernama Haruki Murakami, orang Jepang yang gelisah dengan bangsanya. Yang bosan dengan apa pun yang ditinggalkan Kawabata dan Mishima. Tak hanya bosan, ia membenci mereka. Itulah alasannya ia mau datang ke bar itu, untuk bersama-sama memikirkan cara menaklukkan dunia, menciptakan tatanan dunia yang baru, yang meleburkan Barat dan Timur. “Lagipula Liga Spanyol itu membosankan,” kata Murakami lagi. “Aku lebih suka melihat Liga Inggris.” Huh, kedua penulis Spanyol mendengus (oh, salah satu dari mereka mungkin tak begitu suka disebut penulis Spanyol, meskipun menulis dalam bahasa itu). “Itu karena Liga Inggris mau memakai pemain Jepang,” kata Vila-Matas. Murakami tertawa, bagaimanapun ia tak bisa membantah itu. “Kalian selalu senang dengan Barat. Kalian senang melihat Shinji Kagawa bermain untuk Manchester United, meskipun sebenarnya ia agak payah. Orang Korea yang beberapa tahun lalu itu jauh lebih baik. Hahaha, jangan melotot, Murakami-san. Aku tahu kalian benci orang Korea. Benci semua orang Korea, kecuali, yeah, Nona Kim Taeyeon dan Im Yoona dan beberapa temannya.” Vila-Matas kembali menambahkan, “Lihat tokoh-tokohmu. Semua makan spagheti. Semua novelmu bercerita tentang spagheti.” Dan kucing, Marías menambahkan. Murakami hendak membuka mulut, tapi pintu bar terbuka dan seorang gaucho masuk. Ia mengaku gaucho, tapi tampangnya tak mirip gaucho sama sekali, meskipun benar ia orang Argentina. Ia duduk di samping mereka dan Murakami melotot ke arahnya, “Bagaimana bisa orang ini, César Aira, ada di antara kita?” Memangnya kenapa? tanya Si Catalan. “Orang ini tak bisa dipercaya. Orang yang menulis novel berjudul The Literary Conference tapi malah menceritakan kloning dan ulat raksasa, dan menulis novel berjudul How I Became a Nun tapi tak ada cerita tentang suster, tak bisa dipercaya. Ia orang pertama yang bisa menjadi pengkhianat kelompok ini.” Sabar, Ronin, kata Aira kalem. Ronin dan gaucho mestinya bersahabat. “Untuk menaklukkan dunia, kita tak hanya membutuhkan penulis-penulis berani seperti kalian, tapi juga butuh penipu licik sepertiku. Aku pewaris sejati penipu licik sejati. Borges.” Semakin malam, bar mulai sedikit ramai. Berturut-turut muncul Orhan Pamuk dan Michel Houellebecq. Pamuk serta merta mengambil remote TV dan memindahkan saluran, yang segera mengundang protes Vila-Matas dan Marías. “Aku mau menonton Fenerbahçe melawan Galatasaray,” kata Pamuk. Tapi ia tak menemukan satu pun saluran yang menayangkan pertandingan itu. Marías tertawa dan berkata, “Hahaha, Liga Turki tak ditayangkan di TV sini. Hanya Liga Eropa ditayangkan di TV.” Pamuk protes, “Tapi aku kan juga Eropa?” Kali ini Vila-Matas yang tertawa, juga Houellebecq. “Ya, ya, Eropa. Separo Eropa. Makanya siaran sepakbolanya cuma siaran separo saja, nyangkut di satelit.” Mereka semua tertawa dan Pamuk kesal, mengambil telepon genggam dan mengirim pesan singkat untuk pacarnya, Kiran Desai, “Orang-orang Eropa ini menyebalkan, Sayang. Aku lebih suka berteman dengan orang Asia. Maksudku, pacaran dengan orang Asia.” Akhirnya Houellebecq yang mengambil alih TV, mengeluarkan DVD dan memasukkan satu cakram sambil berkata, “Sudah, kita mulai saja. Sebagaimana kujanjikan, aku akan presentasi bagaimana cara kita menguasai dunia.” Seseorang entah siapa terdengar bergumam, Dasar orang Prancis, senangnya presentasi. Ketika DVD itu menyala, ternyata itu video porno. Seorang perempuan tengah digauli dua lelaki. Mereka semua terkejut. Houellebecq buru-buru mematikannya. “Maaf, maaf, salah DVD. Itu tadi …” Jangan bilang itu bahan risetmu. Bilang saja kamu doyan nonton video porno, kata Vila-Matas. “Atomised dan Platform itu isinya seks doang. Semua tentang seks,” kata Pamuk. Houellebecq berdiri, mencoba membela diri. “Itu bukan seks. Itu tentang cinta. Aku menulis tentang cinta dengan cara Dostoyevsky menulis tentang Tuhan di novel-novelnya.” Murakami nyeletuk, “Seperti judul novelmu, Whatever!” Bartenderlah yang kemudian mencoba menenangkan keributan kecil ini. Houellebecq mengganti cakram DVD dan siap meneruskan presentasinya, tapi tiba-tiba terdengar seseorang berkata dari sudut bar yang remang, “Tunggu, kita masih menunggu satu orang.” Semua menoleh. Entah sejak kapan ia ada di sana. Mereka berbisik satu sama lain, “Si Orang Hungaria. László Krasznahorkai.” Kehadiran lelaki ini membuat bar seketika menjadi dingin, dan udara terasa pekat. Semua kata-kata seperti tertahan di kepala. Keadaan yang kurang lebih sama seperti jika pemimpin gangster masuk ke ruangan. Yeah, pikir Murakami. Hungaria satu ini memang seperti gangster. Sosok maupun tulisannya. Tapi akhirnya mereka setuju untuk menunggu satu anggota lagi, sambil minum bir dan kentang goreng. Ia berdiri di pintu bar dengan sedikit kebingungan, lalu mencoba tersenyum menghampiri mereka sambil berkata, “I am sorry, I am late. I am from Indonesia. Writer Indonesia, eh, Indonesian writer. My name is …” Seseorang berkata, “Pakai saja bahasamu sendiri. Kita semua punya peradaban yang bernama penerjemahan.” Si penulis Indonesia mengangguk-angguk, duduk di salah satu kursi dan kembali memperkenalkan namanya. Eka Kurniawan. Yang lain saling pandang. “Enggak pernah dengar namanya,” gumam mereka. Si penulis Indonesia tersenyum dan kembali berkata, “Maaf, saya memang belum dikenal. Kalau boleh tahu, kalian siapa?” Maka masing-masing memperkenalkan nama: “Enrique Vila-Matas,” “Javier Marías”, “Haruki Murakami”, “Michel Houellebecq”, “László Krasznahorkai”, “dan aku César Aira.” Si penulis Indonesia mengangguk-angguk dan kembali bergumam, “Wah, sama. Kalian juga belum terkenal, ya? Saya juga belum pernah dengar nama kalian.” Sialan, gumam Houellebecq, aku selebriti tapi ternyata ada orang di kolong dunia belum mengenal namaku. Ia ingin mencekiknya. Dan si gangster László ingin menembak kepalanya.

Satantango, László Krasznahorkai

Novel ini dibuka dengan satu kutipan: “In that case, I’ll miss the thing by waiting for it. – FK”. Tentu saja FK merupakan inisial Franz Kafka. Kutipan itu, meskipun tak disebutkan, berasal dari The Castle. Menunggu merupakan pusat novel ini: sekelompok penduduk desa (mungkin lebih tepatnya komunal) di tengah badai kehancuran tengah menantikan juru selamat mereka, yang kita tak tahu apakah benar ia sejenis nabi, sejenis pemimpin, atau hanya bangsat penipu. Dalam beberapa bagian, novel ini sering merujuk ke laba-laba. Bar tempat penduduk desa itu nongkrong dan menunggu, dijejali laba-laba. Bahkan dua bab sengaja diberi judul “The Work of Spider”. Hey, bukankah laba-laba merupakan binatang penunggu? Mereka salah satu binatang yang paling sabar menunggu. Menunggu juru selamat untuk perut mereka. Baiklah, novel ini bukan sesuatu yang gampang untuk dibaca, bahkan sejak bab pertama. Ini bukan jenis novel yang kita baca dari halaman pertama hingga halaman terakhir dan kita mengangguk, oh begitu ceritanya. Saya bahkan tak yakin bisa menyusun ulang kronologi ceritanya. Satantango, seperti tersirat dari judulnya, lebih seperti tarian. Bergerak ke sana-kemari, dan kita (saya, setelah mencoba membaca berulang-ulang) menikmati gerakannya. Berharap menemukan alur kisah yang lurus dan terpola, meminjam kutipan Kafka di awal, hanya akan membuat kita kehilangan bagian-bagian penting dari novel ini. Tengok misalnya bab pertama. Dibuka oleh tokoh bernama Futuki yang terbangun oleh bunyi bel misterius: gereja terdekat berjarak empat kilometer dan menaranya sudah lama rubuh dan yang jelas tak memiliki bel. Sesuatu akan terjadi, pikirnya. Tapi kemudian kita tahu, bel itu seperti pintu masuk untuk adegan lain: Futuki tidur dengan Nyonya Schmidt, isteri tetangganya yang tengah menggiring ternak dimana mereka bisa memperoleh upah seharga delapan bulan kerja keras (dan butuh beberapa jam lagi untuk pulang). Apakah bab ini akan mengisahkan hubungan rahasia Futuki dan Nyonya Schmidt? Tidak. Setelah itu mereka membicarakan uang hasil kerja mereka, bagaimana pembagiannya, dan berlanjut ke pertengkaran kecil karena Tuan Schmidt ingin meminjam bagian Futuki. Oh, setelah itu terkuak rencana kepindahan mereka dari desa tersebut, dan seterusnya dan seterusnya. Seperti tarian, setiap halaman, setiap fragmen cerita, merupakan gerakan untuk menguak gerakan-gerakan lainnya. Saya tak akan menceritakan ringkasan cerita novel ini lebih lanjut. Selain nyaris mustahil, tentu saja bukan pada tempatnya membocorkan hal seperti itu di sini, meskipun saya percaya karya yang baik tetap asyik dinikmati meskipun kita sudah tahu apa yang diceritakan, sebab karya yang baik nyatanya selalu menuntut untuk dibaca dan dibaca kembali. Meskipun begitu, saya ingin mengatakan bahwa novel ini sangat menekan. Menekan dari sana-sini, dari caranya ditulis, dari alur kisahnya, dari tokoh-tokohnya, bahkan dari bahasanya. Ini kisah tentang sebuah desa diambang kehancurannya, tapi bagaikan kita dihadapkan pada kehancuran dunia itu sendiri. Di akhir dunia seperti itu, semua makhluk seperti bergerak sendiri-sendiri, meskipun tak bisa kemana-mana. Jika para orangtua disibukkan oleh rencana kepindahan, mengikuti Irimiás si juru selamat, di sisi lain kita dihadapkan pada gadis-gadis remaja yang menjual tubuh mereka untuk kesenangan kecil, dihadapkan pada gadis cilik yang membunuh kucingnya, dan dihadapkan pada dokter jompo yang tak bisa berbuat apa-apa melihat segalanya pudar di hadapannya, dan dengan sendirinya menjadi satu-satunya pengamat yang telaten. Saya yakin banyak hal bisa dicatat dari novel karya László Krasznahorkai ini, tapi tiba-tiba saya menyadari satu fakta kecil yang sekonyong merebut perhatian: novel ini ditulis oleh penulis Hungaria. Beberapa tahun lalu saya kenal baik dengan Duta Besar Hungaria untuk Indonesia (sekarang ia sudah pensiun). Negara itu kecil saja, dengan bahasa yang juga dipergunakan sedikit orang. Tapi satu hal jelas: mereka menghasilkan penulis-penulis kelas dunia, dan karya-karya kelas dunia: Imre Kertész (meraih Nobel Kesusastraan 2002) dan Péter Nadas, misalnya. Tapi saya tak heran. Saya yakin negara itu, tak peduli berapa jumlah penduduknya (tak lebih dari 10 juta, lebih kecil dari jumlah penduduk Jakarta di siang hari), memang memiliki akar kesusastraan yang kuat. Perkenalan saya dengan Pak Mihaly Illes cukup menjadi bukti untuk saya: di tengah kesibukannya sebagai duta besar, ia selalu meluangkan waktu untuk membaca cerita pendek Indonesia yang terbit di koran hari Minggu. Ia bahkan menerjemahkan beberapa di antaranya ke Bahasa Hungaria, cerpen saya salah satunya, dan itulah latar belakang perkenalan kami. Di negara yang bahkan diplomatnya menerjemahkan sastra, penulis hebat saya rasa sesuatu yang tak terelakkan. László Krasznahorkai salah satunya saja.

Dimana Individu?

Seperti saya tulis akhir tahun lalu di jurnal ini, sepanjang tahun ini saya ingin membaca lebih banyak penulis “muda”. Muda dalam hal ini ialah lahir sekitar tahun 1950 atau lebih muda lagi. Saya telah membaca beberapa penulis hebat dari generasi ini. Lupakan Roberto Bolaño, semua orang hampir mengenalnya sekarang, dan tengok nama-nama lainnya: César Aira (Argentina, novelnya How I Became a Nun benar-benar ejekan untuk tradisi novel yang terlalu kaku menempatkan narator); Enrique Vila-Matas (Spanyol, saya baru membaca dua dari beberapa novelnya, Dublinesque dan Bartleby & Co.); Michel Houellebecq (Prancis kembali menempatkan salah satu penulisnya di radar kesusastraan dunia, saya sangat menikmati The Map and the Territory dan Atomised); dan jangan lupa László Krasznahorkai (Hungaria, bagi yang tak tahan membaca cara menulis Jose Saramago, kemungkinan besar tak akan berhasil membaca novelnya Satantango). Itu hanya beberapa nama saja. Sementara saya menikmati novel-novel yang dihasilkan generasi ini, di sisi lain saya mulai merasakan sesuatu yang “hilang”. Apa itu? Dengan mudah saya bisa menemukan apa yang hilang dari novel-novel kontemporer ini: individu. Tentu saja itu tak membuat novel-novel ini menjadi buruk atau gagal, bagi saya ini hanyalah merupakan kecenderungan dari satu generasi, satu zaman. Sebenarnya tanda-tanda menghilangnya individu dari novel-novel “besar” ini saya rasakan telah dimulai sejak generasi setelah Perang Dunia II. Seperti kita tahu, pengagungan terhadap individu merupakan sesuatu yang sangat kuat di novel-novel modern, sebab pengagungan individu merupakan anak sah dari modernisme ini, dan bagi saya itu sangat terasa sejak kemunculan novel modern: Don Quixote. Membaca novel ini mau tak mau kita “membaca” sosok sang ksatria. Demikian juga ketika kita membaca Moby Dick (novel terbesar yang berhasilkan oleh Amerika, dan rasanya mereka tak pernah menghasilkan yang seperti ini lagi setelah itu), kita membaca mengenai Ishmael dan Kapten Ahab. The Idiot Dostoevsky? Kita membaca Pangeran Mishkin. Anna Karenina? Tentu saja itu tentang Anna Karenina (dan sosok-sosok lainnya, tentu). Novel-novel modern berputar di sosok-sosok individu dan nasibnya. Tapi modernisme memang tak hanya mengagungkan individu, di sisi lain, modernisme juga bisa dianggap bertanggung jawab atas lahirnya kolonialisme, yang secara umum berakhir setelah Perang Dunia II. Analisa saya mungkin salah, mungkin terlalu sembrono, tapi saya merasa para penulis dari negara-negara koloni ini (yang kemudian melahirkan kesusastraan pascakolonial, dan di negara Dunia Pertama barangkali melahirkan posmodern), mulai mengikis individu di novel-novel mereka. Demikianlah ketika kita membaca Bumi Manusia, saya merasa Minke di sana bukan Minke, tapi Jawa/negeri jajahan. Demikian juga Saleem Sinai di Midnight’s Children adalah India. Keluarga Buendia? Mereka bukan hanya Kolombia, tapi dianggap sebagai Amerika Latin. Individu di novel-novel pascakolonial tak lagi sekadar mewakili dirinya, ia lebih merupakan metafor generasi, bangsa, atau kaumnya. Sekali lagi itu mungkin kecenderungan. Beberapa mungkin sadar melakukannya, beberapa yang lain mungkin tidak sadar. Tentu butuh penelitian yang lebih seksama, dan menyeluruh, untuk mengamati perkembangan ini. Dan tentu saja perubahan ini, saya yakin, tidak bisa serempak. Masih banyak novel-novel berwawasan modern di abad kedua puluh satu, sebagaimana pasti ada cikal-bakal novel posmodern di abad kesembilan belas atau dua puluh. Kini kembali ke sastra kontemporer, ditulis oleh sebagian besar penulis yang sama sekali tak mengalami trauma kolonialisme. Penulis-penulis yang saya sebut di atas, bisa dibilang merupakan anak kandung globalisasi. Bahkan bisa dibilang generasi internet. Jika individu semakin menghilang di novel-novel mereka, bisa jadi itu merupakan perkembangan lebih lanjut dari era pascakolonial ini. Di novel-novel Vila-Matas, misalnya, individu hanyalah antek-antek untuk menyampaikan gagasan. Mereka menjadi semen dan batubata untuk sebuah bangunan. Jika di kesusastraan pascakolonial bangsa dan identitas merupakan perkara yang penting, di novel-novel kontemporer ini, arsitektur gagasan terasa seperti sesuatu yang mahautama. Sekali lagi, mungkin itu perasaan saya. Saya mungkin harus membaca lebih banyak lagi generasi ini, meskipun diam-diam, kerinduan saya pada individu membuat saya ingin menengok kembali Moby Dick dan cerpen-cerpen Gogol sebagai selingan yang pasti menyenangkan. Dan seperti apa novel-novel di masa mendatang? Itu akan berada di tangan Anda semua, penulis-penulis masa kini.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑