Eka Kurniawan

Journal

Tag: Kim Taeyeon

Buat Kamu yang Sering Merasa Tidak Dianggap Penting: The Festival of Insignificance

Kamu merasa sudah bekerja keras dan menghasilkan karya hebat (sudah menulis beberapa buku puisi, novel, kumcer dan merasa itu dobrakan hebat dalam kesusastraan), tapi hampir tak ada orang yang menganggap apa yang kamu lakukan penting, bahkan menengok pun tidak? Kamu merasa sudah melakukan segala hal yang terbaik untuk orang yang kamu cintai, tapi cintamu terus bertepuk sebelah tangan? Kamu sudah bekerja giat, memberi keuntungan yang melimpah untuk perusahaan, tapi tak juga naik pangkat apalagi gaji, malah sepupu si presiden direktur yang bodoh dan tak tahu apa-apa melangkahimu? Rayakan saja. Saya sering berpikir, penulis yang sudah menghasilkan beberapa buku dan semuanya tidak menarik, buku-buku berikutnya tak perlu diperhatikan sama sekali. Saya juga sering menganggap karya seorang penulis di usia tua sebagai sesuatu yang tak penting, insignifikan, dan sebaiknya diabaikan saja. Saya pikir mereka tak membutuhkan apa pun lagi, dan jika mereka masih menulis, barangkali hanya sebagai upaya agar tidak pikun saja. Saya hampir mengabaikan novel Milan Kundera terbaru, The Festival of Insignificance. Tapi judulnya membuat saya terprovokasi, seolah-olah meledek, benar kamu mau menganggapku insignifikan? Baik, aku akan merayakan pengabaianmu. Sial. Saya memutuskan untuk membacanya. Kalau jelek dan menyebalkan, toh hanya 115 halaman. Kenyataannya saya tak menyesal membaca buku ini. Saya seolah menemukan kembali Kundera dari masa-masa terbaiknya. Benar, hal itu bisa dilihat dengan cara lain: tak ada hal baru dalam karyanya. Tapi bayangkan, ia meremas segala yang dia lakukan dalam The Book of Laughter and Forgetting, The Unbearable Lightness of Being dan Immortality dalam sejilid buku kompak yang padat: kita menemukan kembali dirinya dalam bentuk hampir-filsuf, merayakan novel dalam berbagai kemungkinannya. Novel sebagai alat memeriksa hal remeh-temeh dengan cara yang penuh keseriusan, dipadu-padankan dengan anekdot sejarah yang memendar ke sana-kemari sebagai prisma, dan tentu saja telaah yang selalu luar biasa kepada tindakan-tindakan kecil tokoh-tokohnya, seolah itu merupakan kunci penting untuk memahami hakikat manusia. Sebagai contoh remeh-temeh, Kundera memulai novel ini dengan tantangan yang penting tidak penting saya rasa benar: kenapa di abad ini, daya tarik seksual perempuan bergeser ke lubang kecil bernama udel? (Ehm, saya jadi membayangkan udel-udel Seohyun, Yoona dan Taeyeon, serta semua cewek k-pop). Ia memeriksa bagian-bagian tubuh perempuan lainnya, yang menjadi titik-titik penting daya tarik seksual sebelumnya (dan tentu saja masih). Paha, bokong, dan payudara. Titik-titik itu selalu bersifat personal dalam arti, paha, bokong dan payudara setiap perempuan berbeda satu sama lain. Tapi udel tidak begitu: semua udel perempuan (yang sering dipamerkan dalam sepuluh tahun terakhir ini), bisa dibilang sama. Udel barangkali mewakili titik daya tarik seksual, tapi sekaligus (karena ketidak unikannya satu sama lain) juga menggambarkan ketidak-signifikan-an. Tapi justru itulah: ketidak-signifikan-an ini kini dirayakan. Lambang hubungan biologis anak-ibu ini menjadi bahasan yang memikat, tanpa harus bertele-tele (ingat, novel ini cuma 115 halaman), berbaur dengan lelucon tentang Stalin dan para kameradnya tentang humor. Ya, Kundera kembali ke topik kegemarannya: ejekan kepada rezim Sovyet dan bagaimana mereka menghadapi humor. Humor mati di tangan Stalin, justru digambarkan dengan cara Stalin mencoba ngebanyol di hadapan para kameradnya dan tak ada satu pun yang tertawa dan menganggapnya humor. Seperti di banyak novelnya, ia kembali membagi novel ini ke dalam tujuh bagian (ia suka angka tersebut). Seperti di banyak novelnya, ia kembali menghadirkan narator yang saya rasa tak hanya berfungsi sebagai pembawa cerita, tapi terutama sebagai seorang analis, yang mempsiko-analisis segala seseuatu, atau sejenis moderator dalam perbincangan ringan (tapi seringkali tak tertanggungkan). Saya ingat sepotong esai yang ditulis Kundera mengenai “kelucuan dalam ketidak-hadiran kelucuan” The Idiot karya Dostoyevsky. Ia mengenang seorang teman sekolahnya: sekali waktu seisi kelas ribut menertawakan sesuatu, tiba-tiba seorang teman berdiri dan tertawa tapi ia tertawa tidak seperti yang lain. Ia hanya menjiplak tawa itu. Tertawa tanpa kehadiran sesuatu yang lucu, tertawa hanya untuk tetap menonjol di antara kerumunan. Novel ini bisa dilihat begitu: upaya untuk berdiri di tengah kerumunan novel-novel Kundera lain yang telah kita kenal. Jika tak ada hal serius di novel ini sebagaimana di novel-novelnya yang lain, ia telah menjawabnya di sampul buku. Ini perayaan atas ketidak-signifikan-an, kesepelean.

PS: Saya rasa sangatlah keterlaluan jika ia tak memperoleh Nobel Kesusastraan, atau karya-karyanya dianggap sepele, insignifikan?

Beberapa Penulis Hendak Menguasai Dunia

Bar itu sepi saja. Ada desas-desus tempat itu sudah dipesan oleh beberapa penulis yang hendak membicarakan upaya mereka menguasai dunia. Di tempat parkir, mata-mata CIA, KGB dan Mossad berkeliaran. Selain si bartender, yang menggigil ketakutan, sementara itu hanya ada dua orang duduk terpisahkan meja, sambil menonton siaran langsung El-Clasico di layar TV. Di sebelah kiri, seorang Madridista bernama Javier Marías. Di seberangnya, si orang Catalan bernama Enrique Vila-Matas. Keduanya tampak tegang melihat ke arah lapangan di TV (saya tak ingat, pertandingan itu di Santiago Bernabéu atau di Camp Nou). Sebentar lagi bakal ada adu jotos, pikir si bartender. “Sangat ironis melihat cara kedua klub bermain,” komentar si bartender untuk mencairkan suasana. “Barcelona penuh nafsu untuk menguasai bola. Fasis dan seperti Franco. Sementara Madrid liar tak jelas, anarkis dari kepala ke kaki.” Kedua penulis menoleh dan melotot ke arah si bartender, dan mengumpat bersamaan: “Tutup mulutmu!” Tak berapa lama masuk seorang lelaki dengan napas ngos-ngosan. Ia mengenakan training, sepatu jogging, dengan t-shirt bergambar The Doors. “Bartender itu benar,” kata lelaki itu menenangkan keduanya. “Lihat cara kalian menulis. Kau orang Madrid, menulis dengan gaya Madrid. A Heart So White itu benar-benar novel untuk para ningrat, untuk para penakluk. Sementara Bartleby & Co. lebih tepat dibaca para gembel yang tiduran di emper stasiun sambil mengkhayal bisa meniduri model di iklan Banana Republic.” Yang baru datang itu penulis bernama Haruki Murakami, orang Jepang yang gelisah dengan bangsanya. Yang bosan dengan apa pun yang ditinggalkan Kawabata dan Mishima. Tak hanya bosan, ia membenci mereka. Itulah alasannya ia mau datang ke bar itu, untuk bersama-sama memikirkan cara menaklukkan dunia, menciptakan tatanan dunia yang baru, yang meleburkan Barat dan Timur. “Lagipula Liga Spanyol itu membosankan,” kata Murakami lagi. “Aku lebih suka melihat Liga Inggris.” Huh, kedua penulis Spanyol mendengus (oh, salah satu dari mereka mungkin tak begitu suka disebut penulis Spanyol, meskipun menulis dalam bahasa itu). “Itu karena Liga Inggris mau memakai pemain Jepang,” kata Vila-Matas. Murakami tertawa, bagaimanapun ia tak bisa membantah itu. “Kalian selalu senang dengan Barat. Kalian senang melihat Shinji Kagawa bermain untuk Manchester United, meskipun sebenarnya ia agak payah. Orang Korea yang beberapa tahun lalu itu jauh lebih baik. Hahaha, jangan melotot, Murakami-san. Aku tahu kalian benci orang Korea. Benci semua orang Korea, kecuali, yeah, Nona Kim Taeyeon dan Im Yoona dan beberapa temannya.” Vila-Matas kembali menambahkan, “Lihat tokoh-tokohmu. Semua makan spagheti. Semua novelmu bercerita tentang spagheti.” Dan kucing, Marías menambahkan. Murakami hendak membuka mulut, tapi pintu bar terbuka dan seorang gaucho masuk. Ia mengaku gaucho, tapi tampangnya tak mirip gaucho sama sekali, meskipun benar ia orang Argentina. Ia duduk di samping mereka dan Murakami melotot ke arahnya, “Bagaimana bisa orang ini, César Aira, ada di antara kita?” Memangnya kenapa? tanya Si Catalan. “Orang ini tak bisa dipercaya. Orang yang menulis novel berjudul The Literary Conference tapi malah menceritakan kloning dan ulat raksasa, dan menulis novel berjudul How I Became a Nun tapi tak ada cerita tentang suster, tak bisa dipercaya. Ia orang pertama yang bisa menjadi pengkhianat kelompok ini.” Sabar, Ronin, kata Aira kalem. Ronin dan gaucho mestinya bersahabat. “Untuk menaklukkan dunia, kita tak hanya membutuhkan penulis-penulis berani seperti kalian, tapi juga butuh penipu licik sepertiku. Aku pewaris sejati penipu licik sejati. Borges.” Semakin malam, bar mulai sedikit ramai. Berturut-turut muncul Orhan Pamuk dan Michel Houellebecq. Pamuk serta merta mengambil remote TV dan memindahkan saluran, yang segera mengundang protes Vila-Matas dan Marías. “Aku mau menonton Fenerbahçe melawan Galatasaray,” kata Pamuk. Tapi ia tak menemukan satu pun saluran yang menayangkan pertandingan itu. Marías tertawa dan berkata, “Hahaha, Liga Turki tak ditayangkan di TV sini. Hanya Liga Eropa ditayangkan di TV.” Pamuk protes, “Tapi aku kan juga Eropa?” Kali ini Vila-Matas yang tertawa, juga Houellebecq. “Ya, ya, Eropa. Separo Eropa. Makanya siaran sepakbolanya cuma siaran separo saja, nyangkut di satelit.” Mereka semua tertawa dan Pamuk kesal, mengambil telepon genggam dan mengirim pesan singkat untuk pacarnya, Kiran Desai, “Orang-orang Eropa ini menyebalkan, Sayang. Aku lebih suka berteman dengan orang Asia. Maksudku, pacaran dengan orang Asia.” Akhirnya Houellebecq yang mengambil alih TV, mengeluarkan DVD dan memasukkan satu cakram sambil berkata, “Sudah, kita mulai saja. Sebagaimana kujanjikan, aku akan presentasi bagaimana cara kita menguasai dunia.” Seseorang entah siapa terdengar bergumam, Dasar orang Prancis, senangnya presentasi. Ketika DVD itu menyala, ternyata itu video porno. Seorang perempuan tengah digauli dua lelaki. Mereka semua terkejut. Houellebecq buru-buru mematikannya. “Maaf, maaf, salah DVD. Itu tadi …” Jangan bilang itu bahan risetmu. Bilang saja kamu doyan nonton video porno, kata Vila-Matas. “Atomised dan Platform itu isinya seks doang. Semua tentang seks,” kata Pamuk. Houellebecq berdiri, mencoba membela diri. “Itu bukan seks. Itu tentang cinta. Aku menulis tentang cinta dengan cara Dostoyevsky menulis tentang Tuhan di novel-novelnya.” Murakami nyeletuk, “Seperti judul novelmu, Whatever!” Bartenderlah yang kemudian mencoba menenangkan keributan kecil ini. Houellebecq mengganti cakram DVD dan siap meneruskan presentasinya, tapi tiba-tiba terdengar seseorang berkata dari sudut bar yang remang, “Tunggu, kita masih menunggu satu orang.” Semua menoleh. Entah sejak kapan ia ada di sana. Mereka berbisik satu sama lain, “Si Orang Hungaria. László Krasznahorkai.” Kehadiran lelaki ini membuat bar seketika menjadi dingin, dan udara terasa pekat. Semua kata-kata seperti tertahan di kepala. Keadaan yang kurang lebih sama seperti jika pemimpin gangster masuk ke ruangan. Yeah, pikir Murakami. Hungaria satu ini memang seperti gangster. Sosok maupun tulisannya. Tapi akhirnya mereka setuju untuk menunggu satu anggota lagi, sambil minum bir dan kentang goreng. Ia berdiri di pintu bar dengan sedikit kebingungan, lalu mencoba tersenyum menghampiri mereka sambil berkata, “I am sorry, I am late. I am from Indonesia. Writer Indonesia, eh, Indonesian writer. My name is …” Seseorang berkata, “Pakai saja bahasamu sendiri. Kita semua punya peradaban yang bernama penerjemahan.” Si penulis Indonesia mengangguk-angguk, duduk di salah satu kursi dan kembali memperkenalkan namanya. Eka Kurniawan. Yang lain saling pandang. “Enggak pernah dengar namanya,” gumam mereka. Si penulis Indonesia tersenyum dan kembali berkata, “Maaf, saya memang belum dikenal. Kalau boleh tahu, kalian siapa?” Maka masing-masing memperkenalkan nama: “Enrique Vila-Matas,” “Javier Marías”, “Haruki Murakami”, “Michel Houellebecq”, “László Krasznahorkai”, “dan aku César Aira.” Si penulis Indonesia mengangguk-angguk dan kembali bergumam, “Wah, sama. Kalian juga belum terkenal, ya? Saya juga belum pernah dengar nama kalian.” Sialan, gumam Houellebecq, aku selebriti tapi ternyata ada orang di kolong dunia belum mengenal namaku. Ia ingin mencekiknya. Dan si gangster László ingin menembak kepalanya.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑