Eka Kurniawan

Journal

Tag: Karl Marx

Aib dan Martabat, Dag Solstad

Hal paling absurd dalam hidup saya adalah ketika didatangi seorang ibu dan “mengkritik” saya dengan nada pedas dan kata-kata: “Sebagai orang Indonesia, kenapa mas Eka nulis novel dalam bahasa Inggris, enggak dalam bahasa Indonesia saja?” Saya hampir mati berdiri mendengarnya. Dunia memang kejam. Ketidakpedulian itu kunci bertahan hidup, Kawan. Mari membaca penulis Norwegia yang untungnya “menulis” dalam bahasa Indonesia saja, dan semoga dia juga dimaki-maki orang se-Norwegia dengan kata-kata, “Kenapa tidak menulis dalam bahasa ibumu, yang sudah membesarkan orang dari Ibsen hingga Hamsun?” Ya, semoga ada yang memaki Dag Solstad, si penulis Aib dan Martabat seperti itu. Biar saja dia mati berdiri. Dan ketika saya membaca halaman-halaman awal novel itu, tiba-tiba terbersit deretan pertanyaan ini: Apa pentingnya ngajarin sastra untuk anak sekolah kelas terakhir (juga apa pentingnya ngajarin sastra kepada orang tua yang tak peduli)? Mau membuat mereka jadi ahli sastra yang sanggup menganalisis dengan brilian drama Itik Liar? Itu sama saja dengan menghina Henrik Ibsen! Lo pikir sang penulis susah-payah bikin karya besar semacam itu untuk dengan mudah dipahami dan dipecahkan anak SMA? (Sebagian besar pertanyaan itu sebenarnya diajukan si tokoh di novel). Saya senang dengan tokoh di novel ini, seorang guru sastra Norwegia bernama Elias Rukla. Dia hidup dalam paradoksnya sendiri. Di satu sisi, sebagai guru sastra, ia memuja intelektualitasnya. Ia melihat kesusastraan sebagai salah satu bentuk pencapaian peradaban manusia, dan hatinya bergetar hanya karena mendengar seorang guru matematika (Matematika, Sobat!) satu hari berkata, “Aku merasa agak seperti Hans Castorp hari ini.” Bayangkan, seorang guru matematika menyebut nama Hans Castorp, yang bahkan orang-orang yang sok mengaku mencintai sastra atau bahkan mengakui sebagai sastrawan pun belum tentu mengetahui siapa Hans Castrop. Itu hanya memberi satu penjelasan: orang ini pernah membaca The Magic Mountain karya Thomas Mann. Hanya orang yang tabah dan punya banyak waktu bisa melahap novel itu, dan si guru matematika mungkin melakukannya. Tapi di sisi lain, di luar antusiasmenya terhadap keluhuran peradaban yang diciptakan sastra, Elias juga merasakan kesia-siaannya. Lihat anak-anak itu: membaca drama Ibsen berulang-ulang, yang ada hanyalah tatapan penuh kebencian kepada gurunya, rasa bosan yang tak terperi. Dan jika penulis mati? Percayalah tak akan menjadi tajuk utama di halaman depan koran! Sastra itu kesia-siaan, seperti bagaimana ia menyia-nyiakan hidupnya yang puluhan tahun mengajarkan sastra dan sejarahnya kepada anak-anak SMA. Anak-anak itu dengan penuh suka cinta akan berhamburan begitu bel istirahat berbunyi. Benar, bukan? Tidakkah kita gelisah melihat bagaimana hasil budaya dan peradaban umat manusia (termasuk Itik Liar Ibsen atau apa pun) terus dielap-elap sampai mengilap, tapi pada saat yang sama mungkin tak memberi arti penting buat hidup hari ini. Tak usahlah bicara karya sastra semacam itu. Dengan agak mengolok-olok, ditampilkan juga sosok Johan Corneliussen, seorang filsuf dan marxis cemerlang. Tafsirnya atas filsafat Immanuel Kant digadang-gadang bakal menggemparkan Eropa. Tidakkah ini menggelisahkan, bahwa marxisme dari tahun ke tahun, dari dekade ke dekade, terus dielap-elap, dikutip, dibedah, dianalisis, digunting, dibongkar-pasang, padahal seperti kata Marx: yang penting mengubahnya (dunia)! Johan akhirnya takluk oleh mimpi-mimpinya, pergi meninggalkan anak dan istrinya, dan secara sarkasme berkata untuk “perjalanan dinas kapitalisme”. Untuk Elias, kesia-siaan ini menjadi sempurna: ia memiliki seorang istri yang cantik jelita dan sangat dicintai, tapi tak pernah sekalipun berkata cinta kepadanya. Saya rasa tragedi hidupnya merupakan metafora paling jitu untuk segala sampah peradaban ini. Semua karya tersebut barangkali diciptakan karena rasa cinta yang mendalam, entah untuk apa pun, yang sialnya merasa tak perlu membalas. Mungkin untuk hal ini kita juga bisa tak peduli. Kita tetap mengerjakan apa yang kita cintai. Sebab sekali lagi, ketidakpedulian itu kunci untuk bertahan hidup.

NB: Aib dan Martabat diterjemahkan oleh Irwan Syahrir, diterbitkan oleh Marjin Kiri.

Günter Grass, Obituari

Saya tak ingat kapan pertama kali membaca The Tin Drum. Buku itu ada di rak buku saya, ada coretan-coretan saya di dalamnya. Tapi saat ini saya sedang tak mungkin untuk mengambilnya dari rak. Saya sedang di lobi sebuah hotel di daerah Kensington, London, jam 3 dinihari. Saya terbiasa bangun sangat pagi untuk menulis, untuk mengganti kebiasaan buruk lama “begadang” (yakni tidur menjelang dinihari), dan hanya beberapa jam sebelumnya mendengar kabar meninggalnya Günter Grass (usia 87), sang penulis. Bertahun-tahun lalu ketika mengunjungi Pramoedya Ananta Toer di rumahnya di Utan Kayu, Pram pernah memperlihatkan kepada saya satu lukisan di dindingnya. “Grass yang bikin,” kata Pram. Itu memang lukisan Grass, dihadiahkan kepada Pram ketika kedua penulis bertemu di Jerman. Ada dua hal setidaknya yang sering membuat saya iri kepada Grass. Yang pertama, luasnya keterampilan seni dia. Selain menulis novel, puisi, drama, dia juga membuat patung, karya grafis dan lukisan. Di kesusastraan, saya bahkan tak bisa menulis puisi! Dan di bidang seni rupa, ingin sekali saya punya studio kecil seperti miliknya untuk keisengan saya dengan grafis. Saya selalu tergila-gila dengan cetak saring dan cukil kayu, tapi tak pernah punya waktu (alasan para pemalas) untuk benar-benar melakukannya. Sumber keirian kedua, tentu saja watak kesusastraannya. Meskipun bisa dibilang saya tak memiliki pengetahuan melimpah mengenai kesusastraan Jerman, tapi jika membandingkannya dengan beberapa penulis Jerman lain, ada hal yang unik dalam dirinya. Saya sering membayangkan kesusastraan Jerman hampir mirip dengan filsafat Jerman: analitik, kontemplatif, memiliki skala yang “grande”. Membayangkan karya-karya Thomas Mann (The Magic Mountain), Robert Musil (The Man Without Qualities), Hermann Broch (Sleepwalker), sering sama “menakutkannya” dengan menghadapi kitab-kitab filsafat Kant, Hegel, dan kemudian Marx! Seperti saya menemukan sejenis keriangan dalam filsafat Jerman melalui Nietzsche, saya merasakan hal yang sama melalui novel-novel Grass dalam kesusastraan Jerman. Jujur, saya lebih sering membayangkan karya-karya Grass berada dalam tradisi Spanyol atau Inggris daripada Jerman. Pertama kali membaca The Tin Drum, kita sadar itu merupakan novel piqaresque, satu tradisi yang banyak berkembang di Spanyol (Don Quixote), Inggris (lihat beberapa karya Dickens), dan bahkan Amerika (Huckleberry Finn). Yang cerdas dari kisah Oskar Matzerath adalah, Grass berhasil mengelola kecenderungan picaresque yang seringkali memiliki watak kritis terhadap persoalan sosial, menjadi kendaraan untuk memotret sebuah zaman: terutama cikal-bakal dan memuncaknya kekuasaan Nazi. Setelah membaca beberapa karyanya yang lain, terutama yang paling saya suka The Flounder, kita juga segera menemukan kecenderungannya yang lain, yang membuat watak picaresque Grass semakin unik: fabel. Ya, selain meminjam alusi-alusi dari fabel, karya-karyanya juga memang sering dalam tingkat tertentu merupakan fabel. Tradisi picaresque dan fabel menciptakan dalam karya-karyanya sesuatu yang riang (meksipun humornya lebih seram gelap), kekanak-kanakan, ringan (meskipun hampir selalu dalam skala epik). Jarang saya melihat kualitas-kualitas semacam itu dalam karya penulis-penulis lain. Membaca Midnight’s Children Salman Rushdie barangkali bisa sedikit mengingatkan kita ke arah sana, meskipun Rushdie lebih sering disebut-sebut sebagai penulis realisme magis (label yang juga sebenarnya kerap ditimpakan juga kepada Grass), label yang dengan gampang sering diberikan orang asal menemukan elemen-elemen magis di dalam sebuah karya (jeritan si cebol Oskar bisa membuat kaca-kaca pecah berhamburan). Tapi bukankah fabel sejak awal sering muncul juga dengan keajaiban-keajaibannya? Grass saya rasa lebih banyak berutang kepada fabel, yang di tangannya, karya-karya itu menjadi fabel-fabel politik yang unik, dan telah memberi warna kesusastraan dunia di setengah terakhir abad kedua puluh. Oskar, mari tabuh beduk kecilmu untuk kepergiannya!

Esai

Selain membaca novel, cerpen, buku-buku sejarah dan filsafat, saya senang membaca esai. Esai tentang apa saja, meskipun esai filsafat dan sastra lebih sering menarik minat saya. Bagi saya, esai merupakan perkawinan unik antara disiplin berpikir, keberanian berspekulasi, dan gaya menulis. Banyak penulis kontemporer merupakan esais-esais cemerlang. Roberto Bolaño bagi saya tak hanya diingat sebagai penulis The Savage Detectives atau Amulet, tapi juga sebagai penulis esai keren “Literature+Ilness=Ilness”. Jorge Luis Borges, selain dikenal sebagai cerpenis penting abad kedua puluh (pengaruh puisi-puisinya juga tak bisa dianggap remeh), juga dikenal sebagai “profesor” karena esai-esai sastranya (salah satu buku esainya yang saya sukai berjudul Seven Nights). Seperti cerpen-cerpennya, esai-esai Borges sering memperlihatkan spekulasi-spekulasi filosofis dengan obyek karya sastra. Misalnya dalam esai berjudul “The Labyrinths of the Detective Story and Chesterton”, ia tanpa sungkan membuka esainya dengan satu spekulasi: bahwa orang Inggris hidup dengan dua hasrat yang tak nyambung, yakni gairah aneh untuk bertualang dan gairah aneh untuk legalitas. Saya rasa, esai semacam itu tak hanya membutuhkan ketekunan membaca, ketelitian mencerna dan menganalisa, tapi juga keberanian menarik kesimpulan. Bentuk esai yang cenderung bebas, tentu menarik minat banyak penulis sastra untuk merambah genre ini, di mana mereka bisa mengguratkan gaya mereka di sana. Tapi tentu saja gaya tak hanya melulu monopoli para penulis sastra. Banyak filsuf juga menulis esai-esai mereka dengan gaya. Sudah lama kita kenal filsuf macam Marx maupun Nietzsche juga sebagai para penggaya dalam menulis. Lebih dari itu, esai juga menarik karena kadang-kadang ia merambah tema-tema yang tak umum, yang barangkali terlalu biasa untuk dijadikan bahan traktat filsafat yang tebal dan berat. Dalam esai, misalnya, Borges bisa menulis hubungan antara dinding raksasa Cina dan pembakaran buku oleh kaisar yang sama dalam “The Wall and the Books”. Beberapa waktu lalu, saya membeli buku tipis Arthur Schopenhauer hanya karena tema dan judulnya: The Horrors and Absurdities of Religion. Isinya beberapa esai mengenai agama, tentu dengan horor dan keabsurdannya. Coba bayangkan judul-judul lainnya yang menurut saya sama gokil, dan kecil kemungkinan ditemukan di buku-buku filsafat yang lebih “serius”, tebal dan berat: Fear and Trembling (Søren Kierkagaard), atau Of the Abuse of Words (John Locke). Apa sih untungnya membaca esai-esai semacam ini? Bagi saya, selain karena tema-temanya cenderung lebih sederhana dan unik, di sisi lain esai (yang baik) tak pernah kehilangan daya untuk merangsang nalar kita. Seperti membaca cerpen-cerpen yang bagus kita merasa yakin bahwa segala sesuatu bisa menjadi cerita yang menarik, membaca esai-esai yang keren cenderung membuat kita yakin bisa memikirkan segala sesuatu dan memberinya makna. Esai bisa membebaskan kita dari cengkeraman karya-karya akademik yang cenderung garing, yang meneror kita dengan judul-judul super semacam: “Wacana Pascakolonial dalam Karya Pramoedya Ananta Toer”, atau “Perspektif Feminis dalam Novel Madame Bovary”, atau “Kehendak Bebas Menurut Franz Kafka”, yang barangkali isinya tak secerdas dan semenggairahkan esai “The Storyteller” Walter Benjamin yang mengupas cerpen-cerpen Nikolai Leskov. Esai merupakan wilayah kreatif, wilayah main-main tanpa harus kehilangan hasrat intelektual. Wilayah penulisan penuh gaya tanpa kehilangan bobot. Ah, tiba-tiba saya membayangkan esai-esai gokil semacam, “Apa yang Dipikirkan Kucing Ketika Kucing Memikirkan Murakami?”, atau “Apa yang Terjadi Jika Suatu Pagi Seekor Kecoa Terbangun dan Menemukan Dirinya Berubah Menjadi Franz Kafka?”, atau “Hemingway Membunuh Hemingway”. Esai. Hal-hal seperti itu bisa ditulis dalam bentuk esai.

Lukács

Tesis terakhir Marx tentang Feurbach mengatakan, “Para filsuf hanya memahami dunia dengan berbagai cara, padahal yang terpenting adalah mengubahnya.” Menurut Georg Lukács, di antara sekian penerus Marx, Lenin lah yang paling sempurna mengikuti tesis tersebut. Sebelum ini saya lebih banyak membaca karya-karya kritik sastra Lukács (The Theory of the Novel, Soul and Form), tapi tinjauannya tentang Lenin di buku tipis berjudul Lenin (A Study on the Unity of His Thought), saya pikir merupakan studi yang tak kalah menariknya. Ditulis tak lama selepas kematian Lenin, setahun setelah ia menerbitkan karya terbesarnya, History and Class Consciousness, kita boleh tercengang: saat itu Lukács baru berusia sekitar 38 tahun (usia yang sama dengan saya saat ini!). Banyak buku tentang Lenin, membicarakan kisah hidup maupun pemikirannya, tapi saya rasa Lenin merupakan salah satu studi yang sangat penting. Bukan hanya karena ditulis oleh salah satu Marxis terbesar (menurut saya: setelah Marx, Engels dan Lenin), tapi karena telaah ini ditulis dengan cara seolah-olah sebagai “biografi pemikiran”. Pandangan-pandangan Lenin ditulis secara kronologis, tak hanya mengikuti urutan waktu tapi juga problem-problem yang melatarbelakangi pemikiran-pemikiran itu, dan lebih penting lagi sebenarnya: keputusan-keputusan praksis yang dilakukannya. Dibuka dengan studi bagaimana Lenin harus menerjemahkan materialisme historis Marx menjadi agenda revolusi proletar dan bagaimana kelas proletar bisa terbentuk di Rusia yang feodal dengan kapitalisme yang masih setengah berkembang. Dan tentu saja penemuan terbesar Lenin: organisasi, tentang bagaimana kelas proletar harus memperkuat diri dalam bentuk organisasi yang diwujudkan dalam bentuk partai politik, serta apa peran negara setelah perebutan kekuasaan berhasil dimenangi? Bagi para pembaca sejarah Marxisme ataupun Sovyet, tentu itu bukan hal yang baru, termasuk pandangan Lenin yang bisa dibilang sebagai inti telaah Lukács ini: tak ada aturan umum yang bisa diterapkan untuk semua kasus. ‘Kebenaran’ muncul melalui satu analisa konkret atas situasi konkret berdasarkan pendekatan dialektika atas sejarah. Dengan cara seperti itulah segala bias utopia atas sosialisme terus-menerus dieliminasi. Kecenderungan filsafat untuk selalu “menjawab” pada satu titik sering membuat saya (yang pernah belajar Filsafat secara formal) merasa bosan. Bandingkan dengan kesusastraan (yang saya geluti selepas lulus kuliah) yang menurut saya merupakan wilayah “pertanyaan”. Para filsuf melulu mencoba menjawab, sementara para sastrawan asyik dalam bertanya tanpa akhir. Dan jawaban para filsuf, seringkali mengasumsikan bahwa selalu ada kebenaran, jawaban tunggal, yang mengatasi banyak masalah. Waham ini bahkan memengaruhi fisika spekulatif, misalnya Hawking yang mencoba menemukan “teori segala hal”. Tapi membaca Lenin ini, Lukács menunjukkan bahwa filsafat, terlepas dari usaha-usaha para filsuf untuk “menjawab” masalah dunia, memperlihatkan bahwa jawaban-jawaban itu tak pernah berlaku untuk segala kasus. Filsafat merupakan usaha untuk menjawab, tapi dengan kesadaran bahwa jawaban itu merupakan proses dialektika sejarah yang terus bergerak. Dan ini muncul dari seorang Marxis, ditelaah oleh Marxis lain, yang sering dianggap oleh umum justru menganut filsafat yang dogmatis. Tentu saja tantangannya adalah untuk selalu siap sedia menjawab pertanyaan yang berubah-ubah. Atau sebagaimana kemudian Lukács mengutip Shakespeare: “Readiness is all.” Bagi saya, tak ada yang lebih menyenangkan daripada sifat filsafat yang spekulatif, sebagaimana karakter sastra yang “bertanya”. Meskipun buku ini sedikit beraroma “pemujaan” atas Lenin, yang diakui sendiri oleh Lukács di catatan akhirnya, telaahnya menunjukkan karakter tulisan Lukács yang terstruktur, fokus, tapi dengan satu dan lain cara mampu memberi sudut pandang yang sedikit beragam. Ia memberi sedikit kontras pada pemikiran-pemikiran dan keputusan-keputusan Lenin dengan menyodorkan pandangan yang berbeda dari Rosa Luxemburg, misalnya, yang kemudian diakuinya dalam bidang ekonomi pemikiran Lenin seringkali inferior dibandingkan Rosa. Terakhir, bagi yang berminat membaca karya-karya filsafat Lukács (yang lebih berat) seperti History and Class Consciousness, buku ini bisa dipergunakan sebagai pengantar ringkas, meskipun tentu memiliki ruang lingkup yang berlainan jika ingin membaca kritik-kritik sastranya.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑