Eka Kurniawan

Journal

Tag: Juan Rulfo

Mau Ke Mana Cerita Pendek Saya?

Beberapa kali saya kembali membaca esai Bolaño berjudul “Advice on the Art of Writing Short Stories” di kumpulan esai dan artikelnya Between Parenthesis. Sejujurnya bukan esai yang cemerlang, tapi nasihat tetaplah nasihat. Seperti bisa diperhatikan, beberapa tahun terakhir saya tak lagi banyak menulis cerpen. Menerbitkan satu cerpen dalam setahun sudah cukup produktif bagi saya. Ada rasa bosan membaca cerpen-cerpen di koran, dan ada rasa bosan menuliskannya juga. Saya tak mau berpusing-pusing memikirkan keadaan cerpen dalam kesusastraan kita, meskipun tak keberatan memberikan pendapat jika ada yang bertanya, dan lebih senang melihatnya sebagai problem internal saya sendiri. Tulisan ini barangkali akan lebih menarik jika berjudul “Mau Ke Mana Cerita Pendek Kita?”, tapi saya rasa terlalu berlebihan untuk mengurusi “kita” saat ini, dan saya tahu persis sebagian besar penulis tak suka diurusi. Kebosanan ini problem internal, titik, dan menggelisahkan hal ini patut saya syukuri: setidaknya saya masih sedikit waras untuk bertanya kepada diri sendiri. Menjelang terbitnya kumcer keempat saya, [Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi], saya mencoba melihat sejauh apa yang telah saya lakukan. Hal paling gampang untuk dilihat tentu saja jumlah: lebih dari lima puluh cerpen telah saya tulis sejak tahun 1999, dan empat buku telah saya terbitkan. Bagi banyak orang, mungkin itu banyak sekali; bagi saya setidaknya itu lebih dari cukup, lebih dari itu bisa saya anggap berlebihan. Berbeda dengan cara kerja saya menulis novel, yang sering saya bayangkan seperti membangun rumah tanpa rancang-gambar, yang membuat saya begitu senang menulis ulang sebuah novel berkali-kali sebelum menerbitkannya; cerpen bagi saya seperti ruang laboratorium penulisan. Kadang-kadang saya punya gagasan kecil di kepala, bisa berupa olok-olok ringan maupun andai-andai berat, lalu saya mencobanya di “laboratorium”, dan jadilah sepotong cerpen. Bagaimana jika Thomas de Quincey, penulis Confession of an English Opium Eater ternyata penduduk Hindia Belanda di masa kolonial dan menulis dalam bahasa Melayu pasar? Hasilnya adalah cerpen “Pengakoean Seorang Pemadat Indis”. Bagaimana jika kita pergi ke satu tempat, bertemu orang-orang dan mendengar cerita mereka, lalu menuliskannya? Cerpen-cerpen seperti “Gerimis yang Sederhana”, “La Cage aux Folles” dan “Penafsir Kebahagiaan” ditulis dengan eksperimen seperti itu. “Caronang” awalnya merupakan eksperimen untuk menulis cerpen dengan pendekatan catatan perjalanan, tapi hasil akhirnya berbeda, sementara “Pengantar Tidur Panjang” merupakan memoar dengan obsesi yang berlebihan: menangkap sejarah republik melalui kacamata sebuah keluarga, tak lebih dari 2000 kata. Saya senang melakukan hal itu di cerpen karena alasan yang sederhana: bentuknya pendek, sehingga saya dengan mudah berpindah dari eksperimen satu ke eksperimen lainnya. Satu disiplin yang rasanya tak akan saya lakukan untuk novel. Sementara eksperimen-eksperimen samacam itu saya percaya layak untuk terus dilakukan, lebih dari lima puluh cerpen dan empat buku tetaplah jumlah yang banyak. Di sisi lain, saya juga percaya, sesuatu tak bisa dilakukan secara berkepanjangan. Ada satu titik di mana seseorang harus berhenti, metode dipertanyakan, dan kepercayaan diri yang berlebihan harus dihancurkan. Ini akan berat untuk saya, tapi rasanya mengurangi menulis cerpen sama sekali bukan jalan keluar yang memuaskan. Saya perlu berhenti setelah buku keempat ini. [Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi] akan menandai jeda panjang saya, hingga beberapa tahun ke depan. Dan tahun-tahun tersebut akan memberi saya banyak waktu untuk menjelajahi beragam khasanah cerita pendek. Saya menyukai penulis-penulis cerpen klasik, dari Chekhov, Gogol, Maupassant, Akutagawa, bahkan cerpen-cerpen konyol O. Henry. Bolaño menyuruh kita membaca Borges, Juan Rulfo, Edgar Allan Poe, hingga Enrique Vila-Matas dan Javíer Marias. Saya sudah membaca mereka. Di luar itu saya kira banyak penulis-penulis kontemporer, dari abad lalu maupun abad sekarang, yang patut untuk dibaca. Belum lama saya membaca cerpen-cerpen Ludmilla Petrushevskaya, yang membawa tradisi panjang kesusastraan Rusia (kapan-kapan saya akan menulis tentangnya di sini). Etgar Keret dan Hassan Blasim, semestinya dibaca sebagaimana kita membaca penulis cerpen klasik. Jangan lupa Raymond Carver. Juga Primo Levi. Dan Eileen Chang. Dan tentu saja César Aira. Saya pernah berhasil berhenti merokok, berhenti bergaul di Twitter dan Facebook (yang memberi saya waktu melimpah untuk membaca buku), rasanya saya akan sanggup melewati yang ini. Berhenti menulis cerpen untuk jangka waktu yang lama, mungkin terasa menyiksa dan menyedihkan; tapi mengetahui akan ada banyak yang bisa dibaca dan belajar kembali dari mereka sambil bertanya “Mau ke mana cerita pendek saya?”, saya rasa layak untuk dilalui. Sebab, mengutip Borges, kegiatan membaca lebih intelek daripada menulis. Dan lebih menyenangkan, tentu saja.

Bartleby & Co.

Biasanya saya tak terlalu suka membaca novel dengan tokoh seorang penulis, atau novel yang membicarakan kesusastraan. Bagi saya, itu terasa seperti mengeksploitasi kehidupan pribadi penulisnya. Atau barangkali karena saya hidup di dunia itu, hal ini menjadi tak lagi menarik. Tentu saja ada beberapa novel seperti itu yang saya suka. Novel-novel Roberto Bolaño, yang hampir semuanya menceritakan para penulis dan penyair, saya suka. Tapi di antara yang lain-lain, yang paling bangsat dan membuat saya tersenyum kegirangan adalah novel Enrique Vila-Matas berjudul Bartleby & Co. Disebut-sebut sebagai penulis Spanyol (berdarah Catalan) terdepan saat ini, saya bisa sebut lagi bahwa ia salah satu pengejek nyaris sempurna bagi kesusastraan. Terutama bagi penulis jenis Arthur Rimbaud. Para penulis yang menulis satu-dua buku dan dikenal karena itu, tapi setelahnya tak pernah menghasilkan atau menerbitkan apa pun lagi, yang menurutnya menderita “sindrom Bartleby”. Sejenis penyakit yang membuat seorang penulis berkata “tidak” dalam arti “tidak lagi menulis”. Novel ini merupakan sejenis penjelajahan untuk menemukan penulis-penulis macam begini. Beberapa merupakan penulis-penulis yang saya kenal baik nama maupun karya mereka, beberapa yang lain terdengar asing. Yang asing ini bisa jadi memang saya belum pernah mendengarnya, bisa pula memang fiktif belaka, tapi apa bedanya? Entah kebetulan atau tidak, sebelum membaca buku ini saya baru saja selesai membaca novel Juan Rulfo, Pedro Páramo. Novel yang disebut-sebut sebagai salah satu karya terbesar kesusastraan Meksiko, dan pembuka jalan bagi lahirnya novel-novel besar Amerika Latin setelahnya (jika kamu membaca banyak sastra Amerika Latin, kamu akan sadar betapa One Hundred Years of Solitude berutang banyak kepada Pedro Páramo). Seumur hidupnya Rulfo hanya menerbitkan satu kumpulan cerita pendek, satu novel, dan tak pernah menerbitkan karya sastra apa pun lagi setelah itu. Sempat diberitakan ia menulis novel kedua, yang ditulisnya selama bertahun-tahun, tapi sebagaimana kemudian menjadi rumor, naskah itu dihancurkannya hanya beberapa saat sebelum ia meninggal. Jelas sekali, Juan Rulfo sangat layak dimasukkan ke dalam daftar penderita sindrom Bartleby ini. Alasan seorang penulis tidak (lagi) menulis bisa macam-macam. Trik paling populer tentu saja karena mereka tak memperoleh ilham. Saya pribadi bisa membuat banyak daftar alasan macam begini, yang seringkali membangkitkan kemalasan dalam diri saya. Dalam kasus Juan Rulfo, paling tidak sebagaimana diceritakan di novel ini, ia berhenti menulis karena pamannya meninggal. Apa hubungannya? Rulfo mengaku semua cerita di cerpen dan novelnya, tak lain merupakan cerita pamannya. Membaca Bartleby & Co. mau tak mau membuat saya teringat kepada beberapa teman. Mereka pintar dan banyak membaca buku. Mereka juga memiliki ambisi untuk menulis, terutama menulis novel. Tapi selama bertahun-tahun, hingga hari ini, tak satu pun novel mereka hasilkan. Saya tak tahu alasan mereka, tapi sebagaimana ditunjukkan novel ini, kita bisa menemukan banyak alasan untuk berkata “tidak”. Yang paling sialan tentu saja alasan bahwa semua buku pada dasarnya hanyalah catatan kaki, jadi tak perlulah menulis kecuali menulis catatan kaki. Alasan yang barangkali paling menyedihkan, kita terlalu sibuk mencari uang untuk memberi makan anak dan istri, hingga tak ada waktu untuk menulis satu halaman sehari. Atau sedikit arogansi yang diucapkan Jaime Gil di catatan no 13 (novel ini berbentuk jurnal bernomor, sebanyak 86 catatan), “Aku percaya, aku ingin menjadi penyair, tapi jauh di dalam hati aku ingin menjadi puisi.” Sekali lagi, tentu banyak alasan bagi seorang penulis untuk kemudian berhenti menulis, atau tak pernah menulis sama sekali (dalam hal ini, maksudnya tidak menerbitkan apa pun sama sekali). Tapi yang paling mengejutkan, tentu saja ketika Marcelo (narator novel ini), mencoba menanyakan hal ini kepada masyarakat umum, yang memang bukan penulis atau bercita-cita menjadi penulis. Tepatnya kepada istri penjual koran: kenapa ia tidak menulis? Jawaban si perempuan adalah pertanyaan balik, “Beritahu aku, kenapa aku harus menulis?”

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑