Leviathan, menurut Perjanjian Lama, merupakan monster laut. Judul asli novela ini sebenarnya, kira-kira, “Penjual Batu Karang”, ditulis oleh Joseph Roth, penulis Yahudi Jerman yang meninggal di usia masih cukup muda, empat puluh lima. Kalau mau jujur, The Leviathan ini memang bisa dikasih judul apa saja. Untuk sebuah buku yang kurang dari enam puluh halaman, dengan cerita yang boleh dibilang sederhana menyerupai dongeng, bahkan fabel, rasanya banyak hal disinggungnya. Meskipun tidak secara langsung. Pertama, sebagai dongeng, novela ini bisa dilihat sebagai kisah mengenai kejatuhan disebabkan godaan Si Jahat (si monster laut?) yang telah mengubah manusia saleh, Nissen Piczenik si pedagang batu karang, ke keburukan. Ia yang seumur-umur tinggal di kota kecil Progrody dan hidup relatif sukses (ia bisa menabung), terobsesi dan tergila-gila untuk melihat laut, rumah dan tempat asal-usul batu karang jualannya. Hingga satu hari ia akhirnya pergi ke Odesa, kota pelabuhan terdekat, dan sejak saat itu hidupnya berubah. Hidupnya semakin berubah demi mengetahui ada cara lain untuk mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya, dengan mencampur batu karang asli dan yang palsu (yang terbuat dari seluloid). Kedua, kita juga bisa melihatnya sebagai fabel kapitalisme. Tentang sikap rakus, sikap kehendak memperoleh keuntungan berlipat-lipat, persaingan bisnis (kapitalisme seolah menciptakan persaingan yang membuat pedagang berusaha menurunkan harga sekompetitif mungkin, tapi pada dasarnya tetap dengan tujuan memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya), yang berujung kepada penipuan (mengenai batu karang palsu). Ketiga, bisa dianggap sebagai dongeng moral. Awalnya Nissen merupakan pedagang yang sangat disegani, meskipun ia berasal dari golongan minoritas. Orang-orang percaya kepadanya. Para petani yang sering membeli batu-batu karang darinya, selain untuk perhiasan, juga untuk menangkal marabahaya dan nasib buruk. Tapi begitu ia mencampur batu karang asli dan palsu (dan tanpa mengubah harga), pada saat yang bersamaan penyakit datang mewabah. Orang-orang mulai menganggap batu karangnya membawa keburukan. Mereka mulai menghindarinya, tak lagi membeli batu karang darinya, dan saat itulah kejatuhannya hanya masalah waktu. Tentu saja kita bisa melihatnya dengan berbagai cara selain yang sudah saya sebut. Seperti saya bilang, untuk novela sekecil ini, kandungannya sangat kaya untuk menjadi telaah yang mengasyikkan: moral, politik, ekonomi, bahkan agama, sosial, psikologi, gender (lihat hubungan si pedagang batu karang dengan isterinya), bahkan geografi dan kosmologi. Saya tak tahu banyak tentang penulisnya. Penelusuran kecil tentangnya memberi informasi ringkas, bahwa di awal-awal karirnya ia tampak menjanjikan melalui novel debutnya. Bisa dibilang ia memiliki jiwa para penulis besar (penerjemahnya menyebut pembukaan novela ini mengingatkan kepada Dostoyevsky dan Gogol). Tapi nasib tak bisa dielakkan. Perang Dunia II datang, Hitler berkuasa. Ia terpaksa lari, eksil, dan hidupnya tercerabut. Dan kemudian mati relatif masih muda. Kita sering berharap menulis sesuatu yang ringkas tapi bicara banyak. Kebanyakan di antara kita gagal melakukannya: bicara banyak, tapi tidak ringkas, dan akhirnya kosong tak ada isinya. Itu tak berlaku untuk novela ini, sebagaimana sering terjadi pada fabel dan dongeng yang diceritakan turun-temurun.