Eka Kurniawan

Journal

Tag: Jorge Luis Borges (page 2 of 3)

Kisah Fantasi + Spekulasi Filsafat = Jorge Luis Borges

Jika boleh menyederhanakan, formula cerpen-cerpen Borges menurut saya bisa dikatakan adonan antara kisah fantasi dan spekulasi filsafat. Kalau penasaran, sila baca artikel saya “Kosmologi Borges”, tapi di sini saya terutama ingin menunjukkan bahwa kreatifitas pada dasarnya merupakan upaya membuat adonan baru dari sesuatu yang ada sebelumnya. Para ahli toh sudah banyak yang bilang bahwa tiga tahap kreatifitas itu sederhana. Pertama, kita meniru. Makanya, jangan buru-buru main hakim jika melihat seseorang meniru kreatifitas orang lain, atau memergoki anak kita mencontek. Meniru merupakan tahap awal kreatifitas. Yang harus ditanamkan adalah jangan membiasakan diri mengaku karya orang lain, apalagi memperoleh keuntungan dari pekerjaan orang lain, sebab itu sudah kriminal. Meniru bukanlah mencuri, atau mengaku, tapi sebuah usaha menempatkan diri di tempat orang lain dan mencoba melakukan hal yang sama yang telah dilakukan orang lain. Jika saya meniru lukisan Van Gogh, saya mencoba menempatkan diri di tempat Van Gogh dan mencoba melukis bunga matahari persis seperti yang dilakukannya. Biasanya tidak sama bagus, tapi setidaknya kita belajar sebuah proses kreatifitas langsung ke seorang master (meskipun secara imajiner). Ketika Borges menulis “The Story of the Two Dreamers”, saya rasa dia mencoba meletakkan dirinya di tempat Sir Richard Burton ketika menerjemahkan “The Ruined Man Who Became Rich Again Through A Dream”. Perbedaannya, Burton menerjemahkan karya itu dari Arab ke Inggris, sementara Borges membayangkan dirinya menerjemahkan ke Spanyol. Dan pada dasarnya, proses penerjemahan kurang-lebih sama seperti proses meniru, makanya banyak penulis mengawali karirnya belajar menulis melalui penerjemahan. Tahap kedua, setelah meniru, adalah memodifikasi atau mengubah karya orang lain. Di tahap ini seseorang tak lagi meniru, tapi mulai menambah atau mengurangi sesuatu secara sadar. Menyadur sebuah karya bisa dianggap merupakan proses modifikasi. Demikian pula parodi, saya kira. Sebagian besar karya awal Borges di A Universal History of Infamy, saya rasa merupakan proses modifikasi dari karya-karya atau sumber-sumber lain. Banyak penulis lain melakukan hal yang kurang sama: mengambil ide pokoknya, lalu mengembangkannya sendiri ke arah lain. Kita tahu Borges menulis buku The Book of Imaginary Beings, sejenis eksiklopedia mengenai makhluk-makhluk imajiner. Italo Calvino mencomot gagasan ini dan mengembangkannya menjadi Invisible Cities, yang kurang-lebih sama: tentang kota-kota imajiner. Roberto Bolaño saya kira juga berangkat dari gagasan yang sama dan memodifikasinya ketika ia menulis Nazi Literature in the Americas, tentang penulis-penulis dan kesusastraan sayap-kanan imajiner di dataran Amerika. Bahkan di tahap modifikasi ini pun, kreatifitas kadang menciptakan hal-hal hebat. Setelah meniru, memodifikasi, tahap terakhir kreatifitas adalah mencampur apa-apa yang telah ada sebelumnya menjadi sesuatu yang lain. Seperti buah jambu, nanas, bengkuang, dicampur gula merah, garam, cabai, asam jawa, dan jadilah “rujak”. Kita tahu di dalam rujak ada berbagai bahan, tapi kita tak lagi menyebutnya berdasarkan bahan-bahan itu. Dalam Borges, saya melihat kreatifitasnya merupakan adonan kisah-kisah fantasi ditambah spekulasi-spekulasi filsafat, yang kemudian menghasilkan cerpen-cerpen semacam “The Disk”, “The Book of Sand”, “Borges and I”, atau yang sangat terkenal, “Tlön, Uqbar, Orbis Tertius”. Dalam karya-karya Cormac McCarthy, kita menemukan adonan gaya Faulkner yang dicampur dengan kisah koboi atau “Spaghetti Western” (terutama dalam trilogi perbatasannya, serta di The Road dan No Country for Old Men). Dalam karya-karya Patrick Modiano, kita bertemu ramuan kisah detektif yang bertemu dengan tradisi Proust, serta novel-novel sosial-politik. Di Animal Farm, Orwell sudah jelas memadukan satir politik, sastra bertendens, dan fabel. Penulis Indonesia seperti Intan Paramaditha, meramu fairy tales dan dongeng gothic dengan isu-isu feminis dan politik, menghasilkan cerpen-cerpen yang orisinal. Dan puisi-puisi Joko Pinurbo, jika bisa disederhanakan, merupakan pertemuan antara kisah-kisah Alkitab dan lelucon-lelucon sufi, sertra tradisi puisi lirik. Tak ada yang baru di bawah langit, demikian kata pepatah. Tugas kita, manusia secara umum atau penulis secara khusus, hanyalah membuat rujak. Syukur jika enak dimakan. Syukur jika ada lidah yang terus mengenang rasa rujak itu dan mengingat rasa tersebut sambil mengingat siapa yang membuat adonannya.

Tanya-Jawab: Media Sastra

Arlian Buana: Saya ingin tahu bagaimana Mas Eka melihat peran media untuk kesusastraan (baik Indonesia maupun dunia), dan media sastra seperti apa yang sebaiknya hadir di tengah-tengah pembaca Indonesia di era internet ini.

Saya rasa media sastra (atau media secara umum) seharusnya lahir dari satu gagasan besar, dari satu kegelisahan, dan tentu saja kemudian lahir dari satu visi mengenai kesusastraan macam apa yang ingin kita ciptakan? Tanpa itu, beribu-ribu media (jurnal, majalah, atau apa pun) hanya akan menjadi tempat pajangan karya untuk memuaskan ego para penulis saja. Hal ini, menurut saya, tengah berlangsung dalam kesusastraan Indonesia yang apa boleh buat, masih didominasi apa yang disebut “sastra koran”. Jujur saja, saya sudah lumayan lama kehilangan selera dengan sastra (utamanya cerpen dan puisi) di koran. Kehilangan selera untuk membaca maupun menulis. Saya tak melihat ada visi maupun gagasan besar di sana. Baiklah, barangkali tak perlu besar, tapi setidaknya gagasan yang menarik: mau dibawa ke mana kesusastraan ini? Apa yang diinginkan koran-koran itu dengan kesusastraan kita? Kesusastraan macam apa yang sedang didesain di masa kini dan masa depan? Saya tak melihatnya. Saya hanya melihat koran-koran itu sebagai tempat pajangan bagi jalan pintas penulis pemula untuk “go national” atau penulis-penulis mapan untuk mengisi daftar hadir tahunan (seperti harimau mengencingi wilayah untuk mengumumkan, “Hey, gue masih ada lho!”). Padahal dengan kekuatan finansial dan jaringan yang luas, koran di Indonesia (di mana sebagian besar penulis terpenting Indonesia menulis di sana), harusnya bisa menjadi lokomotif bagi kemajuan kesusastraan. Baiklah, untuk lebih adil, saya rasa ini tak hanya terjadi di kita. Selama bertahun-tahun, saya juga mengikuti karya-karya sastra di tiga media internasional, yang bolehlah dianggap cukup “mainstream” untuk ukuran kesusastraan: Granta, New Yorker, dan The Paris Review. Dari masa sepuluh tahun lalu sampai hari ini, situasinya kurang-lebih sama (Haruki Murakami akan berkata, “Hey, cerpen gue diterbitin lagi, dan lagi, dan lagi.”). Media-media internasional itu barangkali sedikit beruntung karena ia menyaring tulisan-tulisan terbaik dari seluruh dunia. Kita menemukan Roberto Bolaño atau Cesar Aira dalam satu dekade terakhir, misalnya. Tapi yang terpenting sebenarnya bukan “menemukan”, tapi bagaimana media-media ini, internasional maupun nasional atau bahkan lokal, bisa ikut “menciptakan” kesusastraan. Tentu saja karya sastra diciptakan oleh para penulisnya. Tapi institusi semacam media, dengan kebijakan editorial (dan dalam kasus tertentu kemampuan finansial), bisa memberi rancangan besar arah kesusastraan. Saya tak bilang bahwa para penulis harus didikte oleh kemauan institusi media, tapi kenyataan sederhana, institusi media memiliki kekuatan untuk melakukan hal itu. Sebagai contoh, generasi emas kesusastraan di Argentina saya rasa tak akan muncul tanpa kehadiran majalah Sur, yang didukung antara lain oleh filsuf Spanyol José Ortega y Gasset. Majalah ini antara lain melahirkan Jorge Luis Borges, Julio Cortazar dan Adolfo Bioy Casares. Atau tengok kontribusi Les Temps Modernes bagi kesusastraan (dan filsafat) Prancis di masa Jean-Paul Sartre dan Jean Genet (termasuk memuat ulasan yang mengawali perpecahan persahabatan Sartre dan Albert Camus). Atau bagaimana Poedjangga Baroe melahirkan generasi Pujangga Baru. Tentu saja gagasan-gagasan yang melatar-belakangi majalah atau jurnal-jurnal tersebut barangkali tak lagi relevan atau menarik saat ini, dan tak selalu harus terus-menerus relevan dan menarik. Tapi bahwa ia membawa satu gagasan dan bagaimana ia ikut menciptakan kesusastraan (dan karya intelektual lainnya) di satu masa, saya rasa itu yang terpenting. Jadi sekali lagi, menurut saya media tentu saja sangat penting bagi kesusastraan. Buku sendiri merupakan media. Tapi tanpa gagasan cemerlang di belakangnya, tanpa visi dan kegelisahan, pada akhirnya ia hanya tempat pajangan. Hanya etalase. Lupakan saja menciptakan media sastra baru jika tujuannya hanya itu. Kita membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar tempat pajangan. Media bisa berbentuk jurnal, majalah, koran tercetak, atau jurnal online, atau sesederhana sebuah blog yang diterbitkan oleh perorangan, tapi yang penting adalah gagasan apa yang dibawa. Internet sendiri secara luas merupakan media. Ada penulis Irak yang (karena keadaan negaranya yang porak-poranda), menuliskan cerpen-cerpennya di internet. Hasilnya, ia salah satu penulis cerpen penting dunia saya kira. Namanya Hassan Blasim. Karya yang baik bisa lahir di mana saja. Jika kamu tertarik membuat media sastra, tanyakan kepada diri sendiri beberapa hal ini: 1) Apakah media yang ada memang tak memadai? 2) Apa yang akan membedakan karya-karya di media barumu dengan karya-karya di media lain? Dan yang terpenting sekali lagi: 3) Kesusastraan macam apa yang ingin kamu perjuangkan sehingga kamu merasa perlu menciptakan media baru karena media yang sudah ada tak memberinya tempat?

Alf Layla wa Layla dan Charlie Hebdo

“Salah satu peristiwa besar dalam sejarah Barat adalah penemuan Timur,” kata Jorge Luis Borges. Saya merinding membaca kalimat itu. Borges, saya rasa termasuk yang mengekalkan sikap orientalis yang membayangkan Timur “ditemukan”. Apa boleh buat, ia lahir dan dibesarkan dalam tradisi Eropa. Tentu saja kita tahu ia membaca literatur Timur, dari dongeng-dongeng Cina, Jepang, India, Timur Tengah, dan kita juga tahu salah satu buku favoritnya adalah Alf Layla wa Layla (Hikayat Seribu Satu Malam). Tapi bagi dia, seluruh literatur Timur itu barangkali juga “penemuan”, seolah-olah sebelum karya-karya itu dibaca oleh para intelektual Eropa, mereka sesederhana tidak ada. Jangan dilupakan bahwa perjumpaan Borges dengan The Arabian Nights (nama lain dari Hikayat Seribu Satu Malam, yang menurut Borges kurang indah tapi sama misteriusnya) datang melalui terjemahan Richard Burton, yang “mengobrak-abrik” karya tersebut sehingga mendekati bayangan Barat mengenai Timur. Edward Said dalam Orientalism bahkan menuding penerjemahan karya tersebut merupakan agen imperialisme Eropa atas Timur Tengah. Perdebatan soal ini saya kira merupakan isu lama dan panjang, dan saya tak perlu menaburkan garam ke tengah lautan. Saya memikirkan ini sambil membuka-buka halaman The Arabian Nights: An Anthology yang baru saya beli (sekaligus mengikuti berita penembakan di kantor majalah Charlie Hebdo di Prancis yang menewaskan 12 orang, yang diduga dilakukan kaum Islamis). Buku itu merupakan kompilasi cerita-cerita Hikayat Seribu Satu Malam dari berbagai penerjemah ke Bahasa Inggris (beberapa penerjemah bisa disebut: Richard Burton, Edward Lane, John Payne), diedit dan dikompilasi oleh Wen-Chin Quyang. Saya sudah memiliki beberapa versi terjemahan kitab ini, termasuk terjemahan klasik Burton yang lengkap dan terjemahan Husain Haddawy yang lebih modern dan lebih saya sukai, tapi saya selalu tak berdaya untuk memilikinya lagi. Selalu tak berdaya untuk membacanya kembali, meskipun hanya melompat dari satu cerita ke cerita lainnya. Meskipun begitu, barangkali benar “penemuan” The Arabian Nights merupakan salah satu peristiwa besar dalam kesusastraan Eropa, mungkin sama pentingnya dengan momen ketika Eropa “menemukan” terjemahan-terjemahan filsafat Yunani dari tangan para penerjemah Muslim. Meskipun latar-belakang penemuan itu tidak enak (stereotif tentang Timur dan dalam kasus sempit tentang Arab dan Islam), dan efeknya juga tidak enak (kolonialisme, imperialisme), bahkan meskipun istilah penemuan itu problematik, saya masih bisa melihat sisi indahnya: sisi kekanak-kanakan Eropa ketika bertemu dengan sesuatu yang mereka anggap misterius sekaligus seksi. Dunia yang dipenuhi jin, karpet terbang, taman penuh selir, bahkan budak yang lebih pintar daripada para alim ulama. Apa yang dipikirkan Barat tentang dunia Seribu Satu Malam di abad ke-21? Saya tak yakin mereka masih berpikir tentang jin, karpet terbang, taman penuh selir dan sejenisnya. Bayangan itu barangkali telah berganti dengan gambaran tentang bom bunuh diri, orang-orang bodoh, fanatik, pembunuh, bahkan tukang-kawin (dan lain sebagainya). Pada hakekatnya itu masih sama seperti bayangan mereka ketika membaca terjemahan Burton pertama kali: pokoknya sesuatu yang “bukan Barat”. Tentu saja orang-orang Islam (bahkan Timur secara umum) juga memiliki stereotif-stereotif mereka sendiri tentang Barat, yang tak hanya buruk, tapi juga mungkin berbahaya. Tiba-tiba saya terpikirkan kembali berita penembakan di Paris itu. Islam dan Prancis. Barangkali bukan kebetulan, Hikayat Seribu Satu Malam pertama kali diperkenalkan ke Barat melalui terjemahan ke bahasa Prancis oleh Antoine Galland (Le mille et une nuits). Jika benar asumsi para pemikir orientalisme bahwa penerjemahan kitab itu tak semata-mata penerjemahan, tapi gambaran mengenai “penaklukan” yang membawa dunia ke salah satu momen sejarah yang kelam bernama kolonialisme dan imperialisme, peristiwa di kantor Charlie Hebdo juga membuktikan bahwa kekerasan demi kekerasan tidak lahir dari ruang kosong (apa pun alasannya, kita harus mengutuk kekerasan ini), bahwa pikiran kita belum sepenuhnya menerima yang liyan, bahwa dunia kita belum pernah berhasil membereskan masalah laten berabad-abad ini. Problem laten perjumpaan. Dan problem itu ada di dalam kepala kita. Di Barat maupun di Timur.

Karakter-karakter Minor Shakespeare

Apa yang membuat Shakespeare terus dibaca, setidaknya terus disebut namanya? Kita tahu, ia memberdayakan bahasa Inggris dengan penuh gaya. Bahasa yang oleh para ilmuwan dan filsuf seringkali dianggap tak memadai (Francis Bacon lebih senang karya-karyanya diterjemahkan ke Latin), di tangan Shakespeare bahasa tersebut seolah menegaskan bahwa bahasa secara umum memang dilahirkan untuk para penyair (dan bukan untuk para filsuf). Borges menunjukkan salah satu kualitas bahasa Shakespeare adalah kecemerlangannya dalam memadukan akar Saxon (bahasa yang dianggap diciptakan para petani dan nelayan) dengan akar Latin (yang dianggap intelek) dalam bahasa Inggris menjadi bahasa pentas (baiklah, saya menulis jurnal ini gara-gara esai Borges berjudul “The Enigma of Shakespeare”, sebuah penelusuran gaya detektif mengenai benarkah karya-karya Shakespeare ditulis oleh Shakespeare “yang itu”?). Di luar perkara bahasa, saya rasa hal paling menarik dari karya-karya Shakespeare adalah karakter-karakternya. Saya lupa siapa yang mengatakan bahwa, kita bisa menemukan semua jenis karakter di karya-karya Shakespeare. Seolah-olah karya-karya itu, jika disatukan (seperti dalam Complete Works keluaran Royal Shakespeare Company yang saya pegang) merupakan ensiklopedia karakter manusia. Selain karena karyanya lumayan banyak (seringkali dikategorisasikan sebagai karya komedi, tragedi dan sejarah), hal penting dari klaim ensiklopedik ini terutama karena Shakespeare sangat memerhatikan semua karakter. Tak hanya karakter utama (Hamlet, Macbeth, Romeo, Juliet, King Lear, dan lainnya), tapi juga karakter-karakter minor yang bagi penulis lain barangkali hanya akan diperlakukan sebagai figuran yang numpang lewat saja. Tidak untuk Shakespeare. Untuknya, disebut minor hanya ditandai penampilannya yang sedikit, beberapa adegan atau beberapa halaman, tapi di luar itu mereka tetap karakter dengan beragam watak-wataknya, tak kalah penting dengan para tokoh utama. Tak ada sosok yang nyaris sia-sia, dan nyaris tak ada sosok tanpa kepribadian. Perhatikan misalnya tiga penyihir di Macbeth. Mereka selalu muncul bersamaan, dan seringkali bicara bersamaan. Sekilas dengan perlakuan semacam itu, ketiga penyihir seperti tri-tunggal: tiga orang tapi sebenarnya satu saja. Meskipun begitu, jika kita memerhatikan dialog-dialog mereka, kita bisa merasakan karakter ketiganya yang berbeda satu sama lain. Setidaknya, penyihir pertama selalu merupakan sosok yang bertanya. Ia seperti mewakili kepribadian yang gelisah, yang mendobrak. Kekacauan. Penyihir kedua, akan muncul sebagai pemberi jawaban. Sosok reaktif, perlambang konflik, dan dengan paradoks juga ketertiban. Sosok ketiga, seolah menyempurnakan dialektik di antara mereka, senantiasa muncul sebagai penengah, atau lebih tepatnya sebagai sosok bijak pembuat keputusan. Di atas kekacauan dan ketertiban. Saya membayangkan penyihir ketiga ini sebagai pemikir. Ia bicara di atas masalah dan konflik. Ia merupakan sosok yang mengatakan baris terkenal, “Fair is foul, and foul is fair.” Kita bisa menemukan contoh-contoh karakter minor lainnya di karya-karyanya yang lain. Satu hal yang jelas, bagi Shakespeare, karakter merupakan elemen terpenting yang membangun cerita-ceritanya. Setiap karakter, sekecil apa pun, ada di sana karena ia memang penting berada di sana. Dan karena penting, sekecil apa pun sebuah karakter, ia tetaplah karakter yang memiliki kepribadian, masa lalu, masa depan, kepentingan dan lain sebagainya (dan Shakespeare kadang hanya perlu membangun watak ini dalam beberapa baris dialog, karena pendeknya peran karakter-karakter minor ini). Meskipun karya-karyanya memiliki latar belakang yang beragam (baik waktu maupun tempat), keberagaman terpenting ada pada watak-watak karakternya. Dalam karya-karya sejarahnya, misal, waktu menjadi sesuatu yang tak penting-penting amat, sebab pada akhirnya watak manusialah yang utama dalam dunia Shakespeare. Dan watak manusia pulalah yang kita temui, apakah cerita tersebut berada di Verona atau Venice atau di tempat lain. Bagi saya, itulah kebiadaban Shakespeare yang mestinya paling mengintimidasi setiap penulis. Yang memberi mimpi buruk setiap kali membacanya.

Esai

Selain membaca novel, cerpen, buku-buku sejarah dan filsafat, saya senang membaca esai. Esai tentang apa saja, meskipun esai filsafat dan sastra lebih sering menarik minat saya. Bagi saya, esai merupakan perkawinan unik antara disiplin berpikir, keberanian berspekulasi, dan gaya menulis. Banyak penulis kontemporer merupakan esais-esais cemerlang. Roberto Bolaño bagi saya tak hanya diingat sebagai penulis The Savage Detectives atau Amulet, tapi juga sebagai penulis esai keren “Literature+Ilness=Ilness”. Jorge Luis Borges, selain dikenal sebagai cerpenis penting abad kedua puluh (pengaruh puisi-puisinya juga tak bisa dianggap remeh), juga dikenal sebagai “profesor” karena esai-esai sastranya (salah satu buku esainya yang saya sukai berjudul Seven Nights). Seperti cerpen-cerpennya, esai-esai Borges sering memperlihatkan spekulasi-spekulasi filosofis dengan obyek karya sastra. Misalnya dalam esai berjudul “The Labyrinths of the Detective Story and Chesterton”, ia tanpa sungkan membuka esainya dengan satu spekulasi: bahwa orang Inggris hidup dengan dua hasrat yang tak nyambung, yakni gairah aneh untuk bertualang dan gairah aneh untuk legalitas. Saya rasa, esai semacam itu tak hanya membutuhkan ketekunan membaca, ketelitian mencerna dan menganalisa, tapi juga keberanian menarik kesimpulan. Bentuk esai yang cenderung bebas, tentu menarik minat banyak penulis sastra untuk merambah genre ini, di mana mereka bisa mengguratkan gaya mereka di sana. Tapi tentu saja gaya tak hanya melulu monopoli para penulis sastra. Banyak filsuf juga menulis esai-esai mereka dengan gaya. Sudah lama kita kenal filsuf macam Marx maupun Nietzsche juga sebagai para penggaya dalam menulis. Lebih dari itu, esai juga menarik karena kadang-kadang ia merambah tema-tema yang tak umum, yang barangkali terlalu biasa untuk dijadikan bahan traktat filsafat yang tebal dan berat. Dalam esai, misalnya, Borges bisa menulis hubungan antara dinding raksasa Cina dan pembakaran buku oleh kaisar yang sama dalam “The Wall and the Books”. Beberapa waktu lalu, saya membeli buku tipis Arthur Schopenhauer hanya karena tema dan judulnya: The Horrors and Absurdities of Religion. Isinya beberapa esai mengenai agama, tentu dengan horor dan keabsurdannya. Coba bayangkan judul-judul lainnya yang menurut saya sama gokil, dan kecil kemungkinan ditemukan di buku-buku filsafat yang lebih “serius”, tebal dan berat: Fear and Trembling (Søren Kierkagaard), atau Of the Abuse of Words (John Locke). Apa sih untungnya membaca esai-esai semacam ini? Bagi saya, selain karena tema-temanya cenderung lebih sederhana dan unik, di sisi lain esai (yang baik) tak pernah kehilangan daya untuk merangsang nalar kita. Seperti membaca cerpen-cerpen yang bagus kita merasa yakin bahwa segala sesuatu bisa menjadi cerita yang menarik, membaca esai-esai yang keren cenderung membuat kita yakin bisa memikirkan segala sesuatu dan memberinya makna. Esai bisa membebaskan kita dari cengkeraman karya-karya akademik yang cenderung garing, yang meneror kita dengan judul-judul super semacam: “Wacana Pascakolonial dalam Karya Pramoedya Ananta Toer”, atau “Perspektif Feminis dalam Novel Madame Bovary”, atau “Kehendak Bebas Menurut Franz Kafka”, yang barangkali isinya tak secerdas dan semenggairahkan esai “The Storyteller” Walter Benjamin yang mengupas cerpen-cerpen Nikolai Leskov. Esai merupakan wilayah kreatif, wilayah main-main tanpa harus kehilangan hasrat intelektual. Wilayah penulisan penuh gaya tanpa kehilangan bobot. Ah, tiba-tiba saya membayangkan esai-esai gokil semacam, “Apa yang Dipikirkan Kucing Ketika Kucing Memikirkan Murakami?”, atau “Apa yang Terjadi Jika Suatu Pagi Seekor Kecoa Terbangun dan Menemukan Dirinya Berubah Menjadi Franz Kafka?”, atau “Hemingway Membunuh Hemingway”. Esai. Hal-hal seperti itu bisa ditulis dalam bentuk esai.

Pembaca Kreatif

Jujur saya sering bengong selesai membaca sebuah atau beberapa buku. Bengong dalam arti tak tahu harus bereaksi apa selain bengong. Tak penting apakah bukunya bagus atau sampah, menggugah saya atau hambar. Padahal obsesi saya, melebihi harapan menjadi penulis yang hebat, adalah menjadi pembaca yang kreatif. Beberapa waktu lalu saya menyelesaikan Candide karya Voltaire, dan saya malah bengong. Lalu saya membaca ulang Si Lugu (L’Ingenu, terjemahan Ida Sundari Husen), berharap otak saya sedikit hidup. Eh, tetap tidak membantu. Kedua novel itu sama sekali tidak jelek. Saya bahkan menikmatinya, dan beberapa kali membuat saya tersenyum geli sendirian (saya membacanya sambil menunggu anak saya “sekolah” di taman bermain). Masalahnya saya ingin menjadi pembaca kreatif. Sialan sekali. Obsesi semacam itu seringkali membuat saya mati kutu. Saya kemudian membaca pengantar-pengantar untuk kedua buku itu (biasanya saya melewatkan pengantar macam begitu), dan terkagum-kagum bagaimana orang (penulis pengantar) bisa “membaca” karya tersebut dengan cara mereka. Saya semakin menyalahkan diri sendiri karena ketidakkreatifan saya. Saya merasa bodoh, hanya bisa membaca sesuatu yang tersurat. Padahal kata Borges, “Membaca merupakan tindakan yang lebih intelek daripada menulis.” Tapi saya merasa sebagai pembaca yang payah, hanya bisa membaca huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat, dan tak mampu mengembangkan imajinasi liar dari sana. Payah. Payah. Beberapa malam setelah membaca buku itu, saya masih membuka-buka halaman keduanya. Berharap bisa melompat dari sekadar petualangan Candide dan Si Lugu, berharap bisa memperoleh gagasan kreatif, memperoleh cara membaca baru yang keren. Sempat terpikirkan untuk mencoba menyusun trik-trik nyinyir ala Voltaire. Tak bisa dielakkan bagi saya untuk menangkap kesan nyinyir dari penulis ini di kedua novel tersebut, jadi kenapa tidak belajar nyinyir darinya? Saya membayangkan beberapa trik, seperti titik pijak yang kokoh. Jika penulis tak punya titik pijak yang kokoh dalam hal moral, ideologi, politik atau agama, bagaimana ia bisa nyinyir terhadap dunia? Kalaupun ia memaksakan, nyinyirnya akan melebar ke sana-sini tak jelas ditujukan untuk siapa. Trik lainnya adalah menciptakan tokoh yang polos. Anak-anak atau sosok kekanak-kanakan. Ini hal lumrah dalam tradisi novel picaresque. Kepolosan ini (seperti halnya Candide atau Si Lugu), bisa menjadi kontras untuk masyarakat (dewasa) yang penuh kepentingan, korup dan secara umur menyimpang dari akal budi. Saya memikirkan trik-trik lain, yang tentu semuanya saya coba temukan dari kedua novel tersebut, tapi kemudian balik bertanya kepada diri sendiri: apa kerennya trik-trik itu? Pembaca lain pasti dengan mudah memikirkan dan menemukannya. Saya mulai merasa menjadi pembaca yang gagal (bukan lagi payah), dan biasanya itu berlanjut dengan mood yang buruk. Menjalani hidup dengan mood yang naik-turun dengan gampang sangatlah tidak menyenangkan, dan saya harus berusaha mengembalikan gairah saya. Soal ini saya jarang menggantungkan diri kepada orang lain. Satu-satunya cara adalah kembali membaca dan menantang diri kembali untuk menjadi pembaca kreatif. Tentu saja saya akhirnya membaca beberapa buku lain, tapi ingatan terhadap Candide dan Si Lugu tetap tak mau pergi. Saya kembali memikirkannya. Seperti punya utang yang belum tuntas. Saya membaca kembali secara acak Candide dan menemukan episode Eldorado yang bagi saya sangat lucu. Ada satu pertanyaan Candide yang sangat menohok di bagian itu: Bagaimana penduduk Eldorado berdoa kepada Tuhan? Jawaban mereka: “Kami tidak berdoa kepada Tuhan, sebab kami tak memiliki apa pun untuk diminta. Tuhan sudah memberi semua yang kami butuhkan.” Tonjokan keras untuk kaum beragama, bukan? Bahwa orang-orang Eldorado ini, yang tak pernah berdoa, justru mengagungkan Tuhan seagung-agungnya sebagai “memberi semua yang kami butuhkan”. Saya berpikir untuk membaca novel itu, dan novel satunya lagi, sebagai komentar Voltaire mengenai perilaku beragama kita. Ya, Voltaire banyak menyindir orang-orang beragama di sana. Katolik, Kristen, bahkan Islam. Saya rasa keren membaca pandangan Voltaire mengenai ini. Apa? Keren? Sudah banyak yang melakukannya kali … Baiklah, saya menyerah untuk sementara ini.

The Corpse Exhibition, Hassan Blasim

Di dunia yang brutal, yang lebih aneh daripada fiksi, masih diperlukankah cerita? Hari-hari ini kita melihat pembantaian penduduk Gaza oleh tentara Israel disiarkan secara langsung oleh televisi, dan para penjahat perang dengan santai duduk di sofa menjawab wawancara. Peristiwa penghancuran sebuah bangsa menjadi sama banalnya dengan kisah anak kampung memenangkan kontes menyanyi. Adakah yang tersisa untuk dituliskan sebagai sebuah cerita? Membaca kumpulan cerpen The Corpse Exhibition karya penulis Irak Hassan Blasim memberi keyakinan, tak hanya selalu ada ruang untuk cerita, tapi bahwa cerita merupakan bagian peradaban manusia yang penting untuk menghadapi penciptaan dan penggunaan senjata untuk menghancurkan peradaban. Ia salah satu penulis muda yang lahir dari rahim tradisi panjang kesusastraan Arab. Umurnya masih 40an (kelahiran 1973). Ia tumbuh di negeri yang dihajar perang tak berkesudahan (melawan Iran, menginvasi Kuwait, digempur pasukan Sekutu, perang saudara, dan yang terbaru: dikoyak-koyak gerombolan ISIS – Islamic State of Iraq and Syria). Di usia muda ia harus tercerabut dari negerinya karena perang (Perang Irak melawan Sekutu, jika saya tak salah ingat, merupakan yang pertama disiarkan langsung televisi di tahun 90an). Hassan Blasim terpaksa eksil dan menuliskan cerpen-cerpennya terutama di internet, saya rasa dengan satu kesadaran, apa pun yang bisa dilakukan jurnalisme, dongeng tetap dibutuhkan. Yang luar biasa darinya adalah, ia tak mencoba meromantisir perang apalagi penderitaan. Humornya meluap-luap, meskipun gelap dan menyayat-nyayat. Ia juga tak semata-mata menjadi saksi mata, tapi membawa dalam dirinya tradisi kesusastraan dari mana-mana. Dalam cerpen “The Corpse Exhibition”, ia menceritakan satu organisasi rahasia yang merekrut pembunuh yang harus membunuh manusia dengan penuh kreatifitas lalu memajangnya di ruang publik seolah sebagai karya seni. Tapi dengan gaya nyindir, bos organisasi ini berkata, “Kita bukan teroris dengan tujuan menjatuhkan korban sebanyak mungkin untuk mengintimidasi orang lain, atau pembunuh gila yang bekerja untuk uang. Kita juga bukan anggota Islamis fanatik atau agen rahasia …” Kita melihat humor gelap gaya Gogol dalam kisah-kisahnya, tapi juga dengan sikap iseng dan main-main ala Borges. Beberapa pengamat membandingkan gaya “visceral realism”-nya kepada Roberto Bolaño, yang saya rasa tak berlebihan. Dalam “The Killers and the Compass”, ia menceritakan seorang anak bernama Mahdi, yang di tengah kebrutalan zaman, diinisiasi oleh kakaknya untuk melihat satu pembunuhan. Dengan melihat sendiri seseorang mati dibunuh, Mahdi ditasbihkan sebagai, “Kini kau Tuhan.” Juga bisa dilihat gaya Kafka, sebagaimana kita bisa melihat pengaruh itu dalam cerpen-cerpen penulis Israel, Etgar Keret. “Setiap orang di pusat penerimaan pengungsi memiliki dua cerita – yang nyata dan yang untuk dicatat,” begitulah pembukaan cerpen “The Reality and the Record”. Tapi juga jangan dilupakan tradisi kesusastraan Arab dan Persia. Saya dongeng yang penuh pertanyaan sekaligus mengibur, misalnya dalam “A Thousand and One Kives” yang dari judulnya tentu saja mengingatkan kita pada dongeng-dongeng Syahrazad dalam Hikayat Seribu Satu Malam. Apa yang kita saksikan di Irak melalui televisi atau berita yang berseliweran, barangkali lebih brutal dan lebih tak masuk akal. Tapi dongeng tetaplah dongeng: ia mengirim kepada kita perih, tapi sekaligus memberi kita penghiburan. Dongeng barangkali mengguncang keyakinan kita, tapi dengan tulus mengulurkan tangan memberi kita pegangan. Cerpen-cerpen Hassan Blasim, meskipun secara nyata berdiri di atas puing-puing kekacauan bangsanya, memberi sejenis hiburan semacam itu, sekaligus semacam tantangan intelek. Kita sadar, kadang-kadang seorang jenius memang bisa dilahirkan dari mana saja, bahkan dari tempat-tempat yang kita pikir nyaris mustahil.

Beberapa Tesis Tentang Pu Songling (1)

(1) Para pendongeng, sejatinya merupakan pengumpul kisah. Ia mendengar sebuah kisah dari orang lain, yang mungkin mengalami peristiwa di dalam kisah tersebut, atau mendengarnya dari orang lain lagi yang mengalaminya, lalu si pendongeng menyampaikan kisah tersebut dengan caranya sendiri. Kadang-kadang si pendongeng mencampurkan kisah dari satu orang dengan kisah dari orang lain, yang mungkin tak berhubungan sama sekali, sehingga menjadi satu kisah yang lain. Walter Benjamin pernah menyinggung soal ini ketika bicara mengenai penulis Rusia, Nikolai Leskov, dalam esai terkenal berjudul “The Storyteller”. Hal ini benar pula menyangkut Pu Songling, penulis Strange Tales from a Chinese Studio (1766). (2) Apa yang disebut cerita aneh adalah, kisah dimana hal-hal yang tidak wajar, hal-hal yang asing, menunggangi hal-hal yang kita anggap wajar atau kita akrabi. Misalnya dalam kisah mengenai lelaki bangsawan yang mata-ke-ranjang, “Talking Pupils”, yang karena menggoda seorang calon pengantin, disembur debu yang telah dijampi-jampi. Sejak saat itu, matanya jadi tak bisa melihat. Tapi di dalam matanya tinggal dua makhluk asing, yang ngomel-ngomel karena mereka juga tak bisa keluar melihat dunia. Akhirnya kedua mahkluk itu tinggal di satu mata dan membuat jendela, atau pintu, agar bisa jalan-jalan keluar. Si sosok bangsawan akhirnya bisa melihat kembali dan tobat. Makhluk kecil di dalam mata merupakan elemen yang tidak wajar, apalagi sampai bicara. Tapi membuat jendela atau pintu dari selaput yang menutupi merupakan elemen yang mudah dimengerti. Jika hal-hal tidak wajar melakukan tindakan-tindakan yang juga tidak wajar, itu tak akan menjadi kisah aneh, sebab kita dengan sadar menempatkan diri ke dunia yang berbeda. (3) Teori-teori cerita-rekaan modern seringkali memperumit masalah dengan menuntut banyak hal: perkembangan karakter, dramatisasi, sudut pandang, dan lain sebagainya. Pu Songling menunjukan betapa bercerita bisa sangat sederhana. Betapa cerita bisa disampaikan dalam beberapa paragraf, dengan karakter yang datar (hanya disebutkan siapa dan bagaimana tokoh tersebut). Yang terpenting adalah apa yang terjadi, mengapa terjadi, dan bagaimana akhirnya. Plot. Ini berlaku untuk banyak cerita Jorge Luis Borges, dan kita tak heran mengapa penulis Argentina ini merupakan salah satu penggemar garis keras Pu Songling. (4) Cerita yang baik, saya rasa merupakan peristiwa, atau beberapa peristiwa, yang bisa dilihat dengan lebih dari satu cara pandang. Dalam kisah “The Painted Wall”, Zhu terpesona oleh gambar bidadari di dinding kuil sehingga ia terperosok masuk ke kahyangan dan bercinta dengan bidadari itu. Selama kepergiannya ke kahyangan, ia menghilang dari hadapan temannya di dunia nyata, yang mencari-carinya. Setelah biksu di kuil tersebut mengetuk dinding kuil, kembalilah Zhu ke dunia nyata. Ia menceritakan pengalaman anehnya kepada biksu dan temannya, dan bertanya sebenarnya apa yang sesungguhnya terjadi. Sang biksu hanya berkata: “Sumber ilusi berada di dalam manusia sendiri. Siapa aku untuk menerangkan hal seperti ini?” Setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda atas peristiwa, itulah mengapa peristiwa menjadi cerita. (5) Yang aneh, seringkali sekaligus merupakan sesuatu yang lucu. Kisah “A Fatal Joke” merupakan contoh terbaik mengenai hal ini. Seorang lelaki bernama ‘X’, terbunuh oleh gerombolan bandit. Tapi ketika keluarga hendak menguburnya, lelaki itu masih memperlihatkan tanda-tanda kehidupan. Keluarga akhirnya menutup luka sayatan pedang di tubuhnya dan merawatnya hingga sembuh. Sepuluh tahun kemudian, seorang temannya menceritakan kisah lucu, dan ia tertawa terbahak-bahak, hingga bekas lukanya terbuka kembali. Darah menyembur deras dan ia mati. Ayahnya memutuskan untuk menuntut si pembuat lelucon atas pembunuhan itu. (6) Seringkali plot pun bahkan sama sekali tak perlu. Yang kita perlukan hanyalah menggambarkan saja apa yang terlihat. Seorang pendongeng kadangkala hanyalah seorang pelapor satu pemandangan. Misalnya ia pernah melihat seorang pengamen dengan kodok-kodoknya yang bisa memainkan bunyi layaknya orkestra, dan ia hanya menuliskan bagaimana pengamen itu membuat kodok-kodoknya berbunyi. Ini mengajarkan kita satu hal: kekuatan suatu karya sastra, pertama dan terutama, ada di elemen paling mendasar. Kata dan bagaimana kita mempergunakan kata-kata.

Baca: Beberapa Tesis Tentang Pu Songling (2)

Gagasan Kecil Tentang Penerjemahan dari dan ke Bahasa yang Sama

Karena memutuskan untuk lebih banyak membaca karya-karya klasik yang telah berumur paling tidak lebih dari satu abad, saya mulai menemukan buku-buku dengan berbagai versi terjemahan. Tentu saja ini menguntungkan sebagai pembaca, saya bisa memilih dengan berbagai pertimbangan. Meskipun begitu, kadang-kadang saya malah membaca lebih dari satu versi. Misalnya Don Quixote. Pertama kalinya saya membaca terjemahan Bahasa Inggris karya Pierre Antoine Motteux (meskipun terbit pertama kali sekitar 1700, banyak diterbitkan dan karenanya murah. Itu alasan saya dulu membelinya). Beberapa tahun yang lalu, terbit terjemahan baru Don Quixote karya Edith Grossman. Bagi pembaca sastra Amerika Latin, siapa yang tak kenal Edith Grossman? Ia melanjutkan kerja Gregory Rabassa untuk menerjemahkan karya-karya Márquez yang lebih baru, belum termasuk karya-karya penulis Latin lainnya. Saya tak bisa menahan diri untuk tak membaca kembali Don Quixote dalam terjemahan baru. Hal yang sama terjadi pada Arabian Nights (atau kita kenal sebagai Hikayat Seribu Satu Malam). Ada satu terjemahan klasik karya Richard F. Burton (pertama kali terbit tahun 1885, sangat disukai oleh Borges). Hampir sebagian besar penulis Barat membaca Arabian Nights dari versi Burton ini, yang juga merupakan versi yang saya baca (bukan yang pertama, sebab saya pernah membaca versi sederhana dalam Bahasa Indonesia, yang saya lupa terbitan mana). Sebenarnya versi ini sangat lemah dalam aspek orisinalitas. Burton memakai sumber yang berbeda-beda untuk terjemahannya. Beberapa dekade yang lalu, muncul edisi “kritis” (melalui penelitian akademis yang ketat), yang dikenal sebagai “versi teks Leiden” yang dikurasi oleh Muhsin Mahdi. Terjemahan Bahasa Inggris versi ini dilakukan oleh Husain Haddawy (saya rasa terjemahan Bahasa Indonesia ada juga yang mendasarkan versi ini). Saya menyukai versi Husain Haddawy (Volume 1 bisa dibilang yang asli, Volume 2, bisa dibilang untuk menyenangkan hasrat pembaca meskipun cerita-cerita di dalamnya bukan bagian dari Arabian Nights, seperti dongeng tentang Sinbad, dll). Bahasa Inggris Haddawy terasa lebih enak dibaca, tentu karena lebih modern, daripada Burton. Tapi saya masih sering membaca Burton juga karena alasan sederhana: ada cerita-cerita yang ada di Burton tapi tak ada di Haddawy (karena metodologi Burton lemah, sering memasukkan cerita yang bukan Arabian Nights, tapi malah membuatnya jadi menarik), seperti kisah yang saya sukai “The Ruined Man Who Became Rich Again Through a Dream”. Baru-baru ini penerjemah penting Bahasa Jerman ke Inggris, Susan Bernofsky merilis versi baru The Metamorphosis Franz Kafka. Saya lupa sudah baca berapa versi novela ini. Saya bahkan pernah menerjemahkannya (yang saya rasa kualitasnya menyedihkan). Saya tak bisa menahan diri, saya pasti akan membaca versi ini begitu bukunya beredar di pasar. Untuk karya-karya dari Rusia, pasangan penerjemah Richard Pevear dan Larissa Volokhonsky menjadi bintang terjemahan Bahasa Inggris versi baru dalam belasan tahun terakhir. Saya membaca beberapa karya Gogol dan Nikolai Leskov melalui terjemahan baru mereka (saya menunggu dan berharap mereka mau menerjemahkan kembali Gorky). Dari pengalaman kecil ini saya berpikir, enak sekali ya, jadi pembaca karya-karya terjemahan (terutama Bahasa Inggris, sebenarnya). Ada banyak pilihan dan untuk karya-karya agung, selalu ada versi terjemahan yang segar dalam bahasa yang modern. Tentu selain faktor-faktor kesalahan terjemahan, salah metodologi atau salah sumber, faktor “keusangan” bahasa menjadi sangat penting. Bahasa selalu tumbuh dan berkembang, dengan begitu karya terjemahan juga seringkali memerlukan pembaharuan untuk mengikuti target pembacanya. Bahkan penulis-penulis yang masih hidup pun, beberapa di antaranya memperbaharui terjemahan karyanya (dengan beragam alasan). Misalnya Milan Kundera pernah menyibukkan diri dengan merevisi hampir seluruh karyanya dalam terjemahan Bahasa Inggris. Orhan Pamuk juga mengeluarkan The Black Book dalam versi terjemahan baru. Sekali lagi, kita sebagai pembaca dimanjakan dalam perkara ini. Saya misalnya tak perlu membaca The Divine Comedy dalam terjemahan kuno, sebab ada terjemahan baru yang segar karya Clive James. Atau karya Ryūnosuke Akutagawa (Rashomon and Seventeen Other Stories) yang diterjemahkan kembali oleh salah satu penerjemah Murakami, Jay Rubin. Sialnya, kemewahan ini tak berlaku justru untuk pembaca bahasa asli karya tersebut ditulis. Orang Spanyol, misalnya, tetap membaca Don Quixote dalam Bahasa Spanyol Cervantes abad ke-17, sebagaimana orang Prancis membaca Pantagruel François Rabelais dengan Bahasa Prancis abad ke-18. Dalam kasus kita, kita tetap akan membaca Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat Asrul Sani dalam Bahasa Indonesia generasi 45 (yang untuk banyak anak muda, terasa jadul dan menjadi tembok penghalang). Saya jadi memikirkan gagasan sinting ini: bagaimana jika karya-karya klasik itu diterjemahkan ke bahasa yang sama tapi lebih modern? Tentu kita tahu, banyak beredar karya-karya klasik yang ditulis ulang (dalam bahasa yang sama) agar lebih mudah dibaca. Tapi biasanya itu versi ringkas, atau versi “enak dibaca” untuk para pemula (anak sekolah yang sedang belajar), atau bahkan versi penyederhanaan. Bukan. Maksud saya bukan itu. Maksud saya tetap terjemahan, yang ketat, dengan kualitas yang tinggi, tapi modern. Tidak boleh disadur. Proses yang sama seperti menerjemahkan dari Prancis ke Inggris atau dari Rusia ke Spanyol, tapi kali ini dari Spanyol ke Spanyol atau dari Rusia ke Rusia. Bayangkan saja suatu ketika ada edisi Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat yang “diterjemahkan ke Bahasa Indonesia modern oleh A.S. Laksana”, misalnya. Atau, Don Quixote yang “diterjemahkan ke Bahasa Spanyol modern oleh Javier Marías”. Sekali lagi, gagasan ini mungkin tidak baru, dan terdengar seperti melecehkan karya-karya agung, tapi kenapa tidak? Paling tidak, bagi saya, itu terdengar menyenangkan dan sedikit menantang. UPDATE: Baru membaca soal ini, bahwa novel (konon novel pertama di dunia) Tales of Genji karya Murasaki Shikibu dari abad 11, “diterjemahkan” ke Bahasa Jepang abad 20 oleh penyair Akiko Yosano.

Sepuluh Cara Meninggalkan Pacar yang Menjengkelkan Menurut César Aira

Lebih dari tiga tahun lalu (sebab ia ingat saat itu belum punya anak dan masih tinggal di tempat tinggal yang lama), ia membaca sebuah novel yang diberi temannya. Tak perlu lama ia membaca novel itu. Mungkin sekitar tiga atau empat jam. Ia bahkan sempat ngetwit isi novel itu, bab per bab (di saat itu, ia masih punya twitter). Dan dengan tololnya, setelah selesai membaca, ia memasukkan novel tersebut ke kardus sambil bergumam, “Novel apaan, sih? Enggak jelas banget.” Si tolol ini kena karma. Ia tak pernah melupakan isi novel tersebut. Beberapa tahun kemudian, ia menemukan tiga novel lain dari penulis yang sama. Kemudian dua novel lagi. Dan ia mulai keranjingan. Si tolol itu saya, dan penulis yang dibicarakannya bernama César Aira. Jelas itu hanya salah satu dari banyak ketololan saya. Otak saya sering tumpul, sering baru bisa melihat sesuatu yang sebenarnya keren lama setelahnya, atau karena ditunjukkan oleh orang lain. Kembali mengenai César Aira: salah satu penerjemahnya (Chris Andrews) berkata mengenainya: “Lebih baik dibikin kecewa olehnya daripada dibikin puas oleh banyak penulis lain.” Saya sepakat, hal terbaik dari novel-novel (sebagian besar bentuknya novelet) Aira adalah, bahwa mereka ditulis dengan cara yang menjengkelkan, seolah tak mau tunduk terhadap kehendak dan asumsi pembaca, yang tolol seperti saya maupun yang cerdas. Novel-novelnya seperti keluar dari konvensi umum tentang novel, itu jika kita percaya ada yang namanya konvensi. Kenyelenehannya, bagi saya, terlihat sangat “Argentina”. Maksud saya mengatakan “Argentina”, tentu merujuk kepada Jorge Luis Borges dan Julio Cortazar. Saya tak tahu banyak sastra Argentina (sebagaimana saya tak tahu banyak sastra Indonesia), tapi menyebut ketiga penulis ini, saya memang membayangkan kesusastraan yang tidak konvensional dan tidak tradisional (ah, apa pula ini?). Tapi dari kenyelenehannya inilah, setelah membaca beberapa karyanya, saya rasa kita bisa belajar banyak hal tentang menulis dari Aira. Pertama, Anda bisa membuat judul secara suka-suka, bahkan tak perlu ada hubungannya dengan isi cerita. Yang penting menarik, dan orang pengin membaca. Terdengar tidak akrab, kan? Saya ingat zaman sekolah, di pelajaran mengarang, guru mengajari kami bahwa judul harus mencerminkan isi karangan, kalau perlu, pokok karangan. Aira jelas mengabaikan saran itu secara terang-terangan, dan ia baik-baik saja. Ia tidak mati atau keracunan gara-gara membuat judul sesuka-suka. Contohnya? How I Became a Nun sama sekali tak menceritakan bagaimana si “saya” menjadi suster. Bahkan si “saya” sebenarnya mati di akhir novel, dan ia mati masih kecil. Novel yang lain, The Literary Conference, memang tokohnya menghadiri konferensi sastra, tapi hanya disinggung sebentar, dan tak diceritakan sama sekali soal konferensi itu. Ia malahan menceritakan upaya si tokoh mengkloning Carlos Fuentes untuk menguasai dunia, dan bagaimana mesin kloningnya gagal. Pelajaran lainnya, kedua, cerita tak harus utuh-bulat. Lihat kembali The Literary Conference: bagian akhir novel tersebut malah berisi petualangan untuk membinasakan ulat-ulat raksasa yang mengepung kota. Bagi yang mengharapkan novel sebagai “totalitas” gagasan dan cerita, siap-siap saja kecewa. Di novelnya yang berjudul Ghosts, yang menurut saya paling konvensional, memang ada cerita tentang hantu. Tapi dengan cuek Aira bercerita ngalor-ngidul soal arsitektur, soal perbedaan orang Chili dan Argentina, bahkan cerita panjang tentang urusan ngantri di supermarket. Ia tak cuma master soal melipir, tapi memang melipir ke mana-mana. Belajar dari karya-karyanya, saya percaya, memegang erat perhatian pembaca tak selalu harus melalui keutuh-bulatan, tapi juga melalui singgah sini singgah sana seperti pejalan kaki yang lirik kiri-kanan untuk melihat-lihat pemandangan tanpa harus terpaku kepada tujuan perjalanannya. Pelajaran ketiga, Aira mengingatkan saya bahwa saya bukan makhluk yang cukup cerdas. Maka sebaiknya saya menghentikan tulisan ini di sini, atau saya akan berlarat-larat menjadi makhluk sok tahu.

Older posts Newer posts

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑