Journal

Everything I Don’t Remember, Jonas Hassen Khemiri

Ada bagian-bagian yang begitu lucu di novel ini membuat saya tergelak atau nyengir sendiri. Misalnya ketika menceritakan si nenek yang sudah pikun dan melupakan banyak hal. Si cucu meneleponnya tapi ketika terhubung, pembicaraan mereka terganggu suara TV yang kencang sekali. Si nenek mematikan TV, dan si nenek melanjutkan pembicaraan dengan si cucu. Bukan lewat telepon, tapi lewat remot TV. Dan makin lucu mendengar komentar si cucu, “Sebenernya itu lucu kalau saja itu tak begitu tragis.” Demikian juga ketika kadang si nenek tak mengenali si cucu dan menganggapnya orang asing. Si cucu punya trik untuk mengembalikan sedikit ingatannya dan mau bersikap kooperatif. Ia memakai topi bulu tua yang pernah jadi milik kakeknya. “Tapi kamu jangan terlalu dekat dengannya, sebab kadang ia ingin menggelendot dan minta cium.” Novel ini berkisah tentang seorang penulis (narator), yang ingin melacak kembali kisah hidup Samuel terutama di hari kematiannya. Samuel adalah si cucu yang tadi diceritakan. Baiklah, melihat judulnya, Everything I Don’t Remember, novel penulis muda asal Swedia ini bisa dianggap sebagai novel tentang kenangan, tentang ingatan. Itu tak salah, meskipun tentu saja juga terlalu menyederhanakan. Seperti menerawang ke balik permukaan air yang jernih dan tenang, sebab seperti itulah novel ini ditulis, kita dibawa untuk melihat begitu banyak hal di dalamnya: tentang ras, perpindahan, penerimaan, prasangka, rasa frustasi sosial, juga rasa frustasi atas politik, dan banyak hal lainnya. “… Samuel berkata bahwa ayahnya ingin ia bernama Samuel sebab ia mulai membayangkan reaksi atasan atau induk semang jika kau memperoleh nama asing. Ayahnya tak ingin si anak mengalami problem yang sama.” Kita tahu prasangka semacam itu, di mana-mana, di berbagai negeri. Jonas Hassen Khemiri menceritakannya dengan ringan, seringkali lucu, tapi pada saat yang sama kita merasakan kepedihannya, rasa sakit yang tak terperi di dalam masyarakat yang bisa juga sama sakitnya. Karena novel ini ditulis dengan sejenis penelusuran tentang kehidupan Samuel sebelum kematiannya, maka kita akan bertemu berbagai sudut pandang (dari penjaga panti jompo tempat nenek Samuel tinggal, ibunya, temannya, pacarnya, dll). Mungkin ini akan sedikit mengingatkan kita kepada cerpen Akutagawa, “In a Bamboo Grove”, terutama di bagian si orang mati juga memaparkan versi kisahnya. Yang membedakan, cerpen Akutagawa memperlihatkan betapa sebuah peristiwa bisa dilihat atau dipersepsi dengan cara yang berbeda-beda oleh saksi yang berbeda, sementara di novel ini, berbagai variasi sudut pandang lebih merupakan kepingan-kepingan puzzle yang mencoba saling melengkapi. Pusat kisahnya sendiri terutama berpusing di antara hubungan asmara Samuel dan Leide, serta persahabatan Samuel dan Vandad (dan tentu saja sikap saling mencurigai antara Vandad dan Leide dalam “memperebutkan” Samuel). Ya, di permukaan ini tampak seperti kisah asmara yang sulit, hubungan yang rawan, dan persahabatan, tapi sekali lagi, di balik itu tak bisa dienyahkan berbagai problem politik kontemporer. Sesuatu yang sulit saya rasa dicapai, kecuali oleh penulis yang demikian lihai. Bahkan keretakan hubungan Samuel dan Leide, menurut saya, memiliki latar belakang yang sangat politis. Cara pandang mereka yang berbeda terhadap persoalan, jelas tak bisa diselamatkan sesederhana oleh apa yang namanya cinta, sebesar apa pun gejolak dan saling tarik-menarik yang diciptakan oleh perasaan itu. Cara pandang yang berbeda menghasilkan rasa ketidakpercayaan, terutama ketika kita tak mampu untuk melihat dari sisi orang lain, dan rasa tak percaya merupakan racun untuk hubungan asmara, bukan? Terapkan hal ini dalam hubungan sosial, saya rasa jawabannya mungkin sama.



Standard
Journal

Jonas Hassen Khemiri

Bagaimana seorang pembaca menemukan penulis atau buku baru untuk dibaca? Di bandara udara Keflavik, jauh di luar kota Reykjavik, saya menunggu penjemput. Sudah hampir setengah jam dan tak ada tanda-tanda penjemput saya datang. Saya hanya bisa mengirim surel, tapi tak juga memperoleh balas. Telepon genggam tak berfungsi, dan saya terlalu malas untuk menukar dengan nomor setempat. Kalau tak ada yang juga menjemput, saya bisa tidur di bandara, atau mencari cara lain pergi ke kota dan langsung menuju hotel yang sudah disediakan. Saya sudah membiasakan diri untuk tidak panik pada hal-hal semacam itu. Nyatanya kemudian saya bertemu wajah yang saya kenal, seseorang dari penerbit di mana kami pernah bertemu sebelumnya di Frankfurt. Dan ternyata di ruang tunggu, juga ada segerombol penulis yang sama menunggu. Gerombolan penulis itu dibagi dua. Saya bersama dua penulis, cowok dan tampaknya seusia, mengikuti orang dari penerbit itu, yang tahun ini sedang cuti untuk mengurus festival. Satu dari teman perjalanan saya itu menarik perhatian saya karena ia jangkung banget. Mungkin antara 185-200 centimeter. Entahlah. Jangkung banget, sehingga kami mempersilakannya duduk di depan, menemani pengemudi, agar kakinya bisa leluasa. Ketiga penulis (saya satu di antaranya), rupa-rupanya sama pendiam. Kami hanya sempat berkenalan nama secara ringkas, dan dengan cepat lupa nama-nama itu. Selama beberapa saat tak ada yang bicara. Saya sebenarnya senang saja kalau tak harus bicara dengan orang asing. Saya memang tak terlalu suka banyak ngomong, kecuali dengan orang-orang yang saya kenal baik. Tapi karena perjalanan kami panjang, saya rasa jaraknya lebih jauh dari Ciputat ke bandara Soekarno-Hatta karena jalanan lengang, sesekali toh kami ngobrol juga. Dari pembicaraan sekilas-sekilas itu saya tahu juga bahwa Si Jangkung ini penulis dari Swedia. Ini bukan kunjungan pertamanya ke Islandia, dan pertama kali datang adalah sepuluh tahun lalu. Saya bayangkan saat itu mungkin ia hanya seorang penulis pemula, mungkin hanya dikenal di Swedia atau setidaknya di negara-negara Nordic, lebih pemalu dari saat ini. Hanya itu saja yang saya ketahui dari pembicaraan ringkas kami di dalam mobil. Meskipun kami tinggal di hotel yang sama, saya hampir tak pernah bertemu atau bicara dengannya lagi di sana. Pikir saya, saya akan lihat di buku katalog untuk mengetahui namanya, juga karyanya. Biasanya dengan cara seperti itulah saya memburu penulis-penulis baru dan karya mereka untuk dibaca. Tapi karena berbagai acara, dan tur ke daerah glacier yang mendadak saya ambil, saya lupa membaca-baca katalog festival. Mungkin saya terlalu malas, atau terlalu asyik dengan kota, negeri dan cuaca yang menyenangkan di sana. Saya pun lupa dengan Si Jangkung ini, sampai saya meninggalkan Reykjavik untuk pindah ke Italia. Saya punya jadwal berikutnya di pertengahan September itu, yakni berpartisipasi di festival sastra kota Mantova. Sebuah kota kecil di Italia, dengan bangunan-bangunan tua, tapi festivalnya konon merupakan yang paling seru di Eropa (setelah saya melihatnya sendiri, saya bisa bilang, memang seru). Hari pertama saya tak punya acara, dan saya pakai untuk berjalan sedikit melihat-lihat kota, hingga ke stasiun kota. Kota kecil itu dijejali turis, yang berjalan atau nongkrong di cafe. Dan ketika saya tanya, apakah setiap hari kota kecil itu dipenuhi turis, seseorang menjawab, memang banyak turis, tapi biasanya tak sesesak ini. “Mereka datang untuk festival.” Festival sastra? Ya. Puji Tuhan! Dan memang di sana-sini, di ruangan terbuka (pindah ke dalam ruangan jika cuaca memburuk), ada diskusi dan pembacaan. Tak heran bahwa Janet, direktur Ubud Writers and Readers Festival juga datang (saya bertemu dengannya di malam kedua). Mungkin untuk studi banding, mungkin berburu penulis. Siapa tahu? Satu hal yang tak bisa saya lupakan dari Mantova adalah makan malam pertama saya. Publisis dari penerbit lokal saya mengajak makan malam di satu restoran. Saya tak akan menceritakan menu atau suasana restorannya, tapi ketika kami terburu-buru menuju ke sana karena gerimis (di lorong-lorong yang sempit), di pintu masuk restoran itu saya bertemu dengan seseorang yang saya merasa akrab. Ia baru saja makan di sana. Si Jangkung! Hah, ternyata kami memiliki rute perjalanan yang sama. Reykjavik-Mantova. Sebenarnya ketika di Reykjavik saya bertemu dengan Yaa Gyasi yang juga akan pergi ke Mantova, tapi di Mantova saya tak lagi bertemu dengannya. Saya pun ber-hai-hai dengan Si Jangkung ini. Sok akrab, tentu saja, karena tampaknya dia juga tak punya banyak teman di Italia ini. Karena rasanya tak sopan untuk bertanya siapa namanya, saya berjanji pada diri sendiri untuk melihat katalog festival Mantova. Tapi lagi-lagi saya tak sempat buka-buka katalog itu, apalagi melihat acara-acara yang melibatkan penulis lain. Selalu begitu, memang (lagipula, kalau waktunya sudah luang, saya bisa membuka-buka katalog tersebut belakangan). Hingga akhirnya di malam terakhir, semua partisipan dan relawan festival menghadiri pesta penutupan (berupa makan malam yang konon dimasak oleh para mahasiswa tataboga). Saya kembali melihat Si Jangkung di satu meja yang agak jauh. Awalnya ia sendirian, tapi makin lama, kursi di sekitarnya pun terisi. Akan aneh rasanya untuk mendekatinya hanya untuk sekadar ngobrol. Karena teman yang menemani saya hotelnya dekat dengan tempat makan malam, saya memutuskan pulang sendiri ke hotel. “Jangan kuatir, saya tahu jalan pulang.” Sebenarnya saya tak tahu, tapi saya merasa bisa mengandalkan Google. Atau setidaknya bertanya ke orang, karena hotel saya kebetulan tepat di dekat plasa tengah kota. Ketika sedang berjalan itulah, menjelang tengah malam dan kota mulai senyap, saya melihat sosok Si Jangkung di depan. Saya tak bisa memanggilnya, karena tak tahu namanya. Saya mempercepat langkah, menjejerinya, dan menyapa, “Hai!” Kami berjalan bersama, dan saya tak memerlukan Google, karena dia akrab dengan kota tersebut dan kami menginap di tempat yang tak berjauhan. Ini bukan pertama kali ia ke Mantova. Setelah ngobrol ngalor-ngidul sambil jalan, saya akhirnya bertanya, “Apakah bukumu sudah ada dalam bahasa Inggris? Saya mau mencari dan membacanya.” Dia bilang sudah. Dia lupa apakah bukunya (dalam terjemahan Inggris) ada di koper atau tidak, tapi kalau ada, dia mau memberikannya kepada saya besok pagi. “Tak usah repot-repot, saya pasti bisa menemukannya.” Saya pun memberinya alamat surel, sebab dia janji mau memberitahu judul bukunya. Malam itu saya sampai hotel langsung beres-beres, kemudian tidur, karena paginya saya harus segera pergi. Jam 7.30 saya harus pergi ke stasiun, tapi di waktu yang mepet itu, saya menyempatkan diri untuk ambil sarapan pagi. Syukurlah saya melakukan itu, karena ketika saya sedang sarapan, resepsionis menghampiri saya dan meletakkan sejilid buku berjudul Everything I Don’t Remember. Di dalamnya ada tulisan tangan bertuliskan nama saya dan “lovely to meet up in first Iceland and then Italy”. Menemukan penulis atau buku baru untuk dibaca kadang merupakan pengalaman ajaib sendiri. Saat itu barulah saya tahu nama Si Jangkung dengan pasti dari buku tersebut: Jonas Hassen Khemiri.

Jika hendak berkenalan lebih lanjut, sila tengok cerpennya “As You Would Have Told It To Me (Sort Of) If We Know Each Other Before You Die”.



Standard