Ini mungkin agak egois, tapi untuk Pak Jokowi presiden Indonesia ketujuh, boleh dong saya minta sesuatu: majukan kesusastraan Indonesia. Ya, saya tahu, banyak masalah bangsa Indonesia yang perlu diprioritaskan. Tapi saya ingatkan satu hal: pidato kemenangan Bapak dilakukan di atas kapal. Bapak seolah memberi pesan kepada bangsa ini bahwa kita adalah bangsa maritim! Salah satu orang yang secara gigih mengungkapkan gagasan untuk kembali menjadi bangsa maritim adalah sastrawan besar kita, Pramoedya Ananta Toer. Jika kita berkaca kepada tradisi teater kuno Yunani, dan pemikiran Aristoteles (saya pernah menulisnya) bahwa kesusastraan merupakan kehidupan potensial, kita bisa belajar banyak dari kesusastraan, tentu saja, sebagaimana kita terinspirasi mengenai bangsa maritim melalui novel Arus Balik. Baiklah, saya tak akan bertele-tele. Saya mau mengusulkan beberapa hal untuk memajukan kesusastraan kita (dan dengan majunya kesusastraan, saya harap maju pula bidang-bidang yang lain, meskipun kata Marx, dasar kehidupan itu ekonomi alias perut, bodo deh!). Pertama, selain kesehatan dan pendidikan gratis melalui kartu sehat dan kartu pintar, saya yakin kita juga membutuhkan akses yang baik dan mudah terhadap perpustakaan. Bayangkan kalau kita punya perpustakaan umum di setiap kecamatan, Pak! Apa gunanya gembar-gembor menumbuhkan minat baca jika tak ada buku yang bisa dibaca? Perpustakaan tak hanya ruang tempat kita bertemu dengan gagasan-gagasan dari mana-mana (ruang dan waktu), tapi juga memungkinkan pembaca satu berjumpa dengan pembaca lain. Kesusastraan yang hebat, Pak, hanya mungkin lahir dari tradisi membaca yang juga hebat. Kedua, ini masalah pendidikan. Saya sering menghadiri diskusi atau seminar dan memperoleh fakta menyebalkan ini: ketika giliran sesi tanya-jawab, peserta yang ratusan itu seringkali bungkam. Malu-malu dan takut-takut untuk bertanya atau beradu pendapat. Bagaimana kita bisa membangun tradisi intelektual kalau bertanya saja malu dan takut? Masalah ini saya rasa sudah bermula dari sekolah-sekolah kita, deh. Kita harus mengajari mereka untuk berani bertanya, berani berpendapat, bahkan terhadap guru mereka sendiri. Oh ya, kadang-kadang ada sih yang rajin bertanya di diskusi-diskusi. Tapi ya ampun, bukannya bertanya, malah sering curhat. Kita kadang tak mampu mengajukan pertanyaan dalam satu kalimat yang jelas. Bayangkan, Pak, jika anak sekolah kita berani bertanya dan berpendapat, dan pintar mengajukan pertanyaan secara jelas tanpa curhat ini-itu, lulus SD pun mereka pasti pintar menulis. Tak perlu juga kalau sudah besar mereka menjadi penulis, setidaknya kalau mereka menjadi presiden seperti Bapak, mereka bisa lho menuliskan pemikiran sendiri. Jangan mau kalah dong sama presiden pertama kita, Soekarno, yang rajin menulis dan jago. Ketiga, galakkan penerjemahan. Kalau Bapak ikut mengamati, sekarang sedang heboh-hebohnya karya-karya sastra Indonesia diterjemahkan (ke Inggris atau Jerman) demi acara Frankfurt Bookfair tahun depan. Entah berapa triliun duit yang digelontorkan pemerintah untuk itu. Tentu saja ini penting, untuk memperkenalkan sastra kita ke dunia, untuk membuat orang asing mengenali kita (siapa tahu kemudian tertarik pelesir kemari membawa devisa), dan terutama untuk menyenang-nyenangkan ego para penulis yang ingin menaklukkan dunia (kalau bisa memperoleh Nobel, Pak). Tapi yang jauh lebih penting menurut saya: menerjemahkan karya-karya asing ke bahasa Indonesia. Tujuannya sederhana: agar kita makin pintar dan punya lawan tanding yang lebih luas. Dan jangan dilupakan bahwa tradisi kesusastraan kita yang panjang, diawali justru dari kesusastraan bahasa daerah. Bahasa-bahasa ini di sisi lain juga menjadi “asing”. Penting banget, Pak, menerjemahkan kekayaan kesusastraan Nusantara ke dalam Bahasa Indonesia. Keempat, ini soal harga buku yang mahal. Tentu bisa diatasi dengan usulan pertama, perpustakaan umum yang tersedia di mana-mana. Tapi jika harga buku lebih murah, akan mendorong masyarakat secara mandiri membangun perpustakaan mereka sendiri. Toko buku hidup, penerbit hidup, penulis juga makin rajin. Sangat baik untuk industri. Salah satu kendala dengan harga buku yang murah adalah pajak di perbukuan yang bertingkat-tingkat. Kita tahu, kertas, tinta dan lem sudah kena pajak. Begitu juga mesin cetak dan percetakan. Ketika itu semua digabung menjadi buku, kena pajak lagi. PPN, alias pajak pertambahan nilai. Pajak yang juga dikenakan kepada telepon genggam atau sandal jepit. Jangan lupa, masuk toko buku, juga toko bukunya kena pajak. Oh ya, honor penulis juga kena pajak. Baiklah, negara hidup dari pajak warga negara. Usul saya sih, negara jangan terlalu rakus mengambil pajak dari buku, atau, bagaimana jika pajak itu dikembalikan ke dunia perbukuan dalam bentuk subsidi, penghargaan atau kemudahan insfrastruktur? Kelima, ini mungkin tak ada hubungannya dengan kesusastraan secara langsung. Bapak sudah mencalonkan diri menjadi presiden dan menang. Selamat, Pak, dan semoga bisa mengemban amanah tersebut. Sekadar info, seumur hidup saya golput, Pak. Tapi kali ini saya memutuskan berepot-repot pulang kampung dan mencoblos. Tentu saja saya memilih Bapak. 10% karena saya menyukai Bapak, tapi 90% karena saya tak ingin Prabowo jadi presiden. Nah, boleh saya usul hal yang saya pikir lebih sulit dari menjadi presiden Republik Indonesia? Bagaimana jika Bapak juga mencalonkan diri menjadi Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)? Masa Megawati terus, Pak? Ya, ya, ini enggak ada hubungannya dengan kesusastraan. Maaf. Salam metal, deh!