Eka Kurniawan

Journal

Tag: John Steinbeck

What a beautiful book cover of John Steinbeck’s Cannery Row Indonesian edition. I translated it a long time ago, just published by Bentang Pustaka.

Bajingan di Dua Novel Picaresque Spanyol

[1]

“Menjadi seorang pencuri bukanlah sekadar pekerjaan, itu merupakan profesi liberal,” demikian kata ayah si tokoh utama dalam novel The Swindler (Historia de la Vida del Buscón Don Pablos, 1626) karya Francisco de Quevedo, salah satu karya picaresque klasik Spanyol. Kutipan tersebut seolah menjadi manifesto, tak hanya untuk novel ini, tapi barangkali di seluruh novel dalam genre ini: Kita hanya perlu mengganti “pencuri” dengan beragam profesi kriminal lainnya, atau dengan kata lain, menggantinya dengan bajingan. Pada awalnya, genre ini identik dengan kisah anak kecil/remaja (pícaro) dengan petualangan dan kemalangan, humor dan kebijaksanaan, dan umumnya mereka selalu merupakan anggota masyarakat kelas bawah dan cenderung kriminal. Pada perkembangannya, karakteristik ini bisa lebih berkembang (misalnya orangtua gila di Don Quixote, atau yang lebih kini para pemuda pemalas di novel John Steinbeck, Tortilla Flat, dan prajurit di novel Jaroslav Hašek, The Good Soldier Švejk ). Meskipun begitu ada yang senantiasa tetap bertahan: karakter yang cenderung di luar norma sosial atau kesepakatan umum. Menjadi bajingan di satu sisi, tapi digambarkan memiliki hati yang bersih dan tanpa dosa di sisi lain, merupakan hal yang umum kita temukan di genre ini. Saya rasa itu bukan kebetulan. Kita bisa melihatnya di satu novel lain, sering dianggap sebagai cikal-bakal novel picaresque dalam pengertian yang umum dipakai sekarang ini. Novel tersebut berjudul Lazarillo de Tormes (La Vida de Lazarillo de Tormes), yang diterbitkan tahun 1554 secara anonim.

[2]

Lazarillo de Tormes berpusat pada sosok si bocah Lazarillo yang bertualang dari satu tuan ke tuan lain. Ambisi utamanya sederhana saja: mengganjal perutnya yang selalu lapar dengan roti atau anggur. Sialnya ia hampir selalu memperoleh tuan yang rakus dan pelit, seringkali membuatnya tak hanya kelaparan tapi juga sekarat. Novel ini memperlihatkan salah satu aspek paling penting dalam tradisi picaresque, bahwa ia juga bisa berfungsi sebagai kritik sosial, dengan gaya yang cenderung satir menyindir. Membaca novel ini mengingatkan kita bahwa rasa lapar tak melulu disebabkan bahwa perut seseorang tak terisi dengan baik, tapi lebih sering terjadi karena seseorang yang lain begitu rakus dan korup. Bisa dikatakan Lazarillo telah mencoba menjadi pelayan yang baik untuk tuan-tuannya, tapi sebagai balasannya, ia nyaris tak pernah memperoleh apa pun dari bagian yang diperoleh tuannya, yang menjadi haknya. Meskipun begitu, “Lapar merupakan cahaya penunjukku,” seperti dikatakan Lazarillo. Lapar mengajarinya untuk mencuri dari tuan pertamanya yang buta tapi sangat jeli menghitung setiap kekayaan yang dimilikinya, yang dibawanya selalu di dalam buntalan. Bahkan Lazarillo selalu menemukan akal untuk mencuri anggur dari kendinya. Jika tuannya yang pertama selalu membuatnya lapar, tuannya yang kedua membuatnya lebih dekat ke kuburan (seperti itulah ia mengatakannya), dan itu membuat pikirannya semakin tajam. Dari tuannya yang kedua, seorang pendeta, yang menyimpan untuk dirinya sendiri setiap roti persembahan, ia belajar berpura-pura menjadi tikus pencuri, lalu ular pencuri, sebelum dihajar oleh sang pendeta karena kunci peti yang disembunyikan di dalam mulutnya berbunyi serupa desis ular. Kita tahu, Lazarillo melakukan semua keculasan itu karena rasa lapar. Kita tahu, seorang bocah yang sesederhana mencari tuan dan mencari sesuatu untuk isi perutnya, dibikin menjadi bajingan di masyarakat di mana orang-orang yang tampaknya baik justru hidup lebih brengsek dari mereka. Di dunia di mana tuan, para pendeta, para pedagang adalah pencuri besar dan bajingan yang sesungguhnya, maka menjadi pencuri kecil seperti Lazarillo seperti keniscayaan alamiah. Itu bukan aib. Itu tak mengotori kepolosan hatinya. Itu tak membuatnya tampak berlepot dosa. Setidaknya demikian yang diajarkan novel-novel picaresque semacam ini.

Apa Sih, yang Dilakukan Para Penulis Hebat?

Saya kadang-kadang bertanya seperti itu. Apa sih, yang membuat mereka hebat? Apa yang bisa kita lakukan jika ingin seperti mereka? Saya tak memiliki kesempatan untuk bertanya kepada para penulis hebat favorit saya: Hamsun, Gogol, Melville, Kawabata, Borges, dan lain-lain. Bahkan sekiranya mereka masih hidup dan saya berkesempatan bertanya, saya mungkin terlalu jengah untuk bertanya. Jadi apa yang bisa saya lakukan hanyalah sedikit menduga-duga, ya, dengan cara mencari tahu apa yang mereka lakukan dalam hidupnya. Tentu saja selain menulis karya-karya hebat itu. Pertama, tentu saja karena mereka banyak membaca. Mereka pembaca-pembaca kelas berat. Tengok Borges: saya curiga ia membaca hampir semua buku di perpustakaan tempatnya bekerja, hingga di masa tua matanya nyaris buta. Yang jelas, ia membaca karya-karya klasik Inggris. Sebenarnya tak cuma Inggris. Jika kita membaca cerpen-cerpennya, kita tahu ia membaca sastra dari mana-mana. Salah satu buku favoritnya adalah Alf Layla wa Layla, atau kita mengenalnya sebagai Hikayat Seribu Satu Malam. Atau coba baca wawancara beberapa penulis di The Paris Review. Saya sering terbengong-bengong melihat luasnya bacaan mereka. Atau baca buku kumpulan esai Roberto Bolaño, Between Parenthesis, ia membaca tak hanya sesama penulis (berbahasa) Spanyol, tapi juga membaca Cormac McCarthy, misalnya. Berapa banyak buku yang sudah kamu baca? Klasik dan kontemporer? Tak hanya dari kesusastraan negerimu sendiri? Jika ingin sehebat Borges atau yang lainnya, saya rasa kamu harus membaca segila mereka. Kedua, menerjemahkan. Menerjemahkan, tak hanya membuat pengetahuanmu atas bahasa lain bertambah, tapi sekaligus mengajarimu menulis secara langsung dari penulis yang kamu terjemahkan. Kamu mengikuti jejak sang penulis, kata per kata, kalimat per kalimat, dengan bahasamu sendiri. Pada saat yang sama, kamu tengah mengasah kemampuan menulismu, ya, dalam bahasa yang kamu pergunakan. Murakami merupakan seorang penerjemah yang tekun. Ia menerjemahkan novel Raymond Chandler ke Bahasa Jepang, salah satunya. Juga menerjemahkan novel The Great Gatsby karya F. Scott Fitzgerald. César Aira, yang novel-novelnya belakangan saya gemari, juga seorang penerjemah (sampai satu titik, bisa dibilang profesinya). Kembali ke Borges: novela Metamorfosa Kafka yang dibaca pertama kali oleh García Márquez merupakan edisi Spanyol yang diterjemahkan oleh Borges. Tak usah jauh-jauh, novelis terbaik kita, Pramoedya Ananta Toer, juga menerjemahkan banyak karya penulis luar: Steinbeck, Tolstoy, Saroyan. Ketiga, tak hanya menulis cerita, novel atau puisi, tapi tulis juga pandangan-pandanganmu tentang penulis lain, karya lain, dan kesusastraan secara umum. Sampai saat ini, salah satu esai terbaik tentang teknik menulis dua raksasa sastra Amerika saya temukan di esai pendek Gabriel García Márquez berjudul “Gabriel García Márquez Berjumpa dengan Ernest Hemingway”. Di esai itu, ia menulis tentang Hemingway dan Faulkner, dan bagaimana kedua raksasa itu berbeda secara teknik. Ngomong-ngomong soal García Márquez, jangan lupakan buku ulasan serius Mario Vargas Llosa mengenai novel Cién Anos de Soledad. Vargas Llosa juga menulis buku serius mengenai Madame Bovary dan Gustave Flaubert (Perpetual Orgy: Flaubert and Madame Bovary). Mau contoh yang lain? Michel Houellebecq menulis biografi kritis mengenai penulis cult Amerika, H.P. Lovecraft. Saya rasa, menulis esai tentang penulis dan karyanya membantu kita untuk belajar menganalisa, belajar melihat sudut-sudut pandang yang berbeda, dan dengan tanpa sadar, kita menciptakan cara berpikir sendiri, dan sudut pandang yang barangkali unik. Keempat, yang ini tak perlu dijelaskan panjang-lebar: terus menulis. Anda bisa menambahkan beberapa hal lain, yang boleh ditiru atau tidak: maraton (Murakami), mabuk (Faulkner), berburu (Hemingway), dan lain-lain. Jadi jika ada yang bertanya kepada saya bagaimana caranya menjadi penulis hebat, barangkali saya akan menjawab terutama empat perkara di atas. Jujur saja, itu bukan jaminan juga. Saya hanya berusaha menjawab dengan belajar dari penulis-penulis ini. Tapi setidaknya, mencoba melakukan apa yang mereka lakukan, saya rasa bukanlah hal buruk. Juga bukan kejahatan. Itu hal-hal baik yang layah dicoba. Setidaknya, belajar dari mereka, saya tahu bukanlah hal mudah untuk menjadi penulis yang baik, apalagi penulis yang hebat. Sebagaimana bukan hal yang mudah mengalahkan Usain Bolt dalam adu cepat lari di lintasan seratus meter.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑