Eka Kurniawan

Journal

Tag: Jiang Rong

Gerombolan

Salah satu binatang yang senang bergerombol adalah serigala. Paling tidak, itulah yang sedikit saya ketahui. Saya bukan ahli serigala. Saya membaca sedikit mengenai serigala melalui novel Wolf Totem karya Jiang Rong. Itu novel yang bagus, saya pikir salah satu novel terbaik yang datang dari China dalam sepuluh tahun terakhir ini. Tapi saya tak hendak membicarakan novel itu, saya ingin bicara tentang gerombolan. Seperti serigala, ada orang-orang yang senang hidup dalam gerombolan. Tengok para preman yang pawai dengan motor, membawa parang dan membuat keributan. Mereka bergerombol. Mereka tak bisa hidup sendirian. Menyedihkan memang. Pemimpinnya, mereka menyebutnya alfa, tak berdaya tanpa pengikut. Para pengikutnya, hanya kerumunan yang tak bisa memikirkan apa pun. Perilaku bergerombol mengelilingi alfa (disertai beta yang menyalak paling keras) tak hanya berlaku bagi serigala dan preman, tapi juga di kelompok masyarakat lain. Contohnya? Saya bisa bilang: seniman. Lebih khusus lagi, penulis. Dengan mudah kita bisa melihat ada penulis-penulis yang senang bergerombol. Menyerang ramai-ramai, menyalak ramai-ramai, menggonggong ramai-ramai. Seperti serigala, mereka juga punya alfa, sang big boss. Penulis alfa ini barangkali pendiri komunitas, barangkali seorang patron yang memiliki akses terhadap dana, barangkali penulis berkharisma yang kata-katanya seperti mantra yang harus didengar, atau barangkali bukan itu semua tapi berada di posisi itu karena ia memiliki sedikit kekuasaan yang menentukan hidup dan karir penulis lain (paling tidak seperti itulah yang akan dilihat oleh penulis dengan mental gerombolan). Kalau kita membaca novel Roberto Bolaño The Savage Detectives (salah satu novelnya yang terpenting!), kita akan melihat mental-mental penyair dan penulis gerombolan ini di sana. Mereka berkerumun di sebuah gerakan yang mereka sebut visceral realist. Itu bukan gerakan yang penting, hanya gerakan sekelompok penyair muda yang merasa diri mereka penting. Pendiri dan pemimpin gerombolan ini dua orang penyair bernama Ulises Lima dan Arturo Belano. Mereka bisa dibilang alfa gerombolan ini. Atau alfa dan beta. Tentu saja tidak seperti gerombolan preman, gerombolan penulis tak perlu memenuhi jalanan dengan beringas, meskipun mereka juga sering terlihat datang dan pergi bergerombol di acara-acara kesenian. Tapi seperti serigala, jika ada satu penyair menyalak, temannya akan ikut menyalak, tak penting tahu atau tidak yang sedang dihardik itu apa. Jika karya satu penulis diserang, temannya akan membela. Jika salah satu dari anggota gerombolan itu menulis buku, anggota gerombolan lainnya sibuk memuji, sampai kadang-kadang melampaui akal sehat. Jika penulis alfa mengatakan sesuatu, anggota gerombolan menyetujuinya, tak peduli apa pun itu. Tak peduli sang alfa sudah pikun atau tidak. Jika mereka membuat penghargaan, anggota gerombolan memenanginya. Jika mereka membuat acara, anggota gerombolan yang menjadi pengisinya. Jika serigala harus bergerombol untuk mempertahankan diri, untuk menjamin kelangsungan hidup mereka dari serangan musuh maupun kekurangan makanan, sebenarnya itu juga terjadi pada gerombolan penulis. Mereka juga butuh mempertahankan diri, dan tentu saja butuh makan. Tentu saja tak bisa dipungkiri, manusia konon memang makhluk sosial. Manusia harus hidup bersama yang lain. Ulises Lima dan Arturo Belano tahu itu. Mereka juga tahu, kekuatan kecil jika disatukan akan menghasilkan kekuatan besar. Itulah kenapa mereka bergerombol. Tapi ada orang-orang yang harus terus bergerombol, dan ada orang yang pada satu titik akan keluar dari gerombolannya. Ulises Lima dan Arturo Belano termasuk yang kedua. Seperti yang dikatakan Manuel Maples Arce, salah satu tokoh di novel ini tentang mereka: “Semua penyair, bahkan yang paling avant-garde, butuh seorang ayah. Tapi para penyair ini memutuskan menjadi anak yatim.” Jika kamu penulis yang lemah, sejenis penulis medioker, atau masih terlalu muda untuk bisa berdiri sendiri, masuklah ke gerombolan. Di sana kamu akan banyak yang membela, dan tentu memberimu makan. Sebab hanya sedikit orang, saya rasa, bisa menjadi seperti Ogami Ittō, tokoh di komik Lone Wolf and Cub Kazuo Koike. Hanya sedikit orang yang bisa keluar dari gerombolan, dan mengembara sendirian. Ia samurai yang menuntaskan pertarungan sendirian, ia samurai yang mencari makan dengan tangannya sendiri. Tanpa tuan, tanpa pengikut. Persis seperti namanya: Lone Wolf.

Ilustrado, Miguel Syjuco

Melarang orang berkunjung ke Filipina karena ledakan bom di Moro, sama saja dengan melarang orang piknik ke Disneyland karena KKK bikin ulah di Alabama. Saya tersenyum membaca baris-baris kalimat semacam itu di novel Ilustrado karya Miguel Syjuco. Saya mengambil stabilo dan dengan riang mencorat-coret buku itu di kalimat-kalimat yang menarik hati saya. “Jatuh cinta,” kata Syjuco di tempat lain, “tak lain tentang membuat rencana-rencana.” Di tempat lain ia menulis, “Menjadi politikus, aku akan menjadi korup karena terpaksa harus kompromi, atau aku akan mati karena mempertahankan idealisme.” Tentu saja tujuan membaca buku, terutama novel, bukanlah untuk menemukan pesan-pesan pendek yang “layak-kutip”, tapi selalu menyenangkan menemukan baris-baris semacam itu di tengah-tengah sejilid buku. Selama beberapa bulan terakhir, saya mencoba memegang janji untuk membaca karya-karya sastra dari penulis “muda”, yakni penulis yang lahir tahun 50-an hingga kemari, serta jika memungkinkan, juga membaca penulis-penulis dari Asia, lebih khusus lagi Asia Tenggara. Janji pertama tampaknya tak terlalu sulit untuk dipenuhi, tapi janji untuk membaca penulis-penulis dari negara-negara tetangga tampaknya bakal berat. Asia Tenggara, kita tahu meskipun berbagi kebudayaan yang kurang-lebih sama, sosial-politik dan pengalaman kolonial yang kurang-lebih sama, sialnya terpecah-pecah dalam berbahasa. Satu-satunya harapan, tentu membaca dalam bentuk terjemahan, yang juga sialnya, tak banyak karya sastra dari wilayah ini diterjemahkan. Di antara yang sedikit itu, kita cukup beruntung menemukan Ilustrado (bukan terjemahan, ditulis dalam Bahasa Inggris), yang disebut-sebut (di dalam novel itu sendiri) tentang pengalaman pascakolonial dan pasca-pascakolonial. Bercerita tentang seorang penulis Filipina Crispin Salvador yang mayatnya ditemukan di Sungai Hudson sebagai kisah mengenai pengalaman pascakolonial, dan cerita tentang si aku (Miguel Syjuco) yang kembali ke Filipina untuk menulis biografi sang penulis, sebagai kisah pengalaman pasca-pascakolonial. Si aku ini, saya rasa ia lahir di tahun 70an, mengingat referensi budaya yang disebut-sebutnya (ia mendengarkan New Kids on the Block, berkomentar tentang Curt Cobain, dll). Novel ini memperoleh Asian Literary Prize tahun 2008 lalu, satu penghargaan yang belakangan pamornya naik untuk para penulis Asia, dengan beberapa nama lain pernah memenanginya: Su Tong, Jiang Rong (keduanya dari China), serta tahun ini dimenangi oleh Tan Twan Eng, seorang penulis Malaysia. Mengisahkan dua generasi intelektual dan situasi politik yang melingkupinya, Ilustrado mengambil cara yang saya pikir brilian. Ketika ia bicara tentang Crispin Salvador, novel ini muncul dalam bentuk potongan-potongan kliping karya-karya Salvador, wawancara, dan tentu saja dari “biography in progress” yang sedang ditulis Syjuco. Sisanya, si aku menceritakan perjalanan dirinya menelusuri segala hal mengenai Salvador, karya terakhirnya yang misterius, serta kisah mengenai keluarganya. Juga ada potongan-potongan dari blog serta papan-pesan. Selain dihubungkan oleh hubungan penulis biografi dan subyek yang ditulisnya, kedua generasi juga dihubungkan oleh latar belakang keduanya yang kurang-lebih sama. Baik Salvador maupun si aku berasal dari keluarga “politikus”, maka dengan satu dan lain cara, kita juga seperti melihat novel ini sebagai biografi politik Filipina. Sedikit bedanya, jika Salvador, selain minat intelektualnya sebagai penulis, ia juga sesekali menjadi komentator politik, si aku mencoba menghindari dirinya dari dunia itu meskipun keluarganya sangat berharap ia mengikuti jejak mereka, terutama ketika pada umur tujuh belas tahun ia menghamili pacarnya. Membaca Ilustrado, saya menjadi sedikit yakin. Beberapa tahun ke depan, kita akan melihat penulis-penulis hebat dari kawasan ini. Mereka akan menulis diri mereka sendiri. Mungkin bukan hal-hal indah dan baik tentang negeri mereka, seperti ditanyakan oleh nenek si aku, “Kenapa kamu tidak menulis hal yang menyenangkan? Kenapa kamu tidak menulis yang bikin orang membaca karyamu dan ingin mengunjungi negaramu?” Si aku menjawab, “Seorang penulis harus mengatakan hal-hal yang tak terkatakan.” Seolah-olah hendak mengatakan: jika niatnya untuk mendatangkan turis, kita tak perlu menulis sastra, kita bisa membuat brosur pariwisata saja.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑