Eka Kurniawan

Journal

Tag: Javier Marías (page 1 of 2)

Sesuatu untuk Diceritakan

“Orang-orang yang berpergian, memiliki sesuatu untuk diceritakan,” kata pepatah Jerman, yang saya kutip dari satu esai Walter Benjamin. Tentu saja, meskipun dalam kasus saya, seringkali saya terlalu malas untuk menceritakan kembali apa yang saya lihat atau alami (termasuk malas memotret). Saya termasuk jenis manusia yang lebih menikmati pengalaman jalan-jalan saat itu terjadi, membiarkan otak saya memilah mana yang penting untuk diingat dan mana yang tidak. Jika suatu ketika keluar kembali dalam bentuk tulisan, mungkin otak saya menganggap itu menarik. Tapi sesekali saya keluar dari kebiasaan itu, dan menuliskan sesuatu sementara ingatan tersebut masih segar, termasuk pengalaman perjalanan saya ke beberapa kota di Eropa akhir bulan lalu hingga awal bulan Oktober ini. Kunjungan saya ke kota-kota itu sebenarnya perkara sederhana: untuk membantu penerbit-penerbit mempromosikan novel saya yang terbit di sana. Saya bicara di depan forum atau bertemu dan menjawab pertanyaan wartawan. Itu saja. Tapi kunjungan kali ini menawari saya satu pengalaman untuk melihat gejolak politik Eropa dari sudut-sudutnya, yang meskipun jauh di sana, barangkali denyut-denyutnya bersilangan pula dengan peristiwa-peristiwa politik di negeri sendiri. Ketika tahu saya akan berpartisipasi di satu pameran buku di kota Goteberg, kota terbesar kedua di Swedia, seorang penulis kenalan memberitahu saya bahwa banyak penulis Swedia (juga internasional termasuk Ngũgĩ wa Thiong’o) memboikot pameran tersebut. Tentu ada pula yang tetap datang (seperti Arundhati Roy). Masalah utama dari aksi boikot tersebut adalah keputusan panitia pameran buku memberi tempat kepada kelompok media sayap kanan. Kenalan saya tak bertanya apa pun tentang keputusan saya dengan informasi itu. Tapi bukan penulis jika bisa melarikan diri dari tuntutan-tuntutan ekspresi politis: semua wartawan yang saya temui di Goteberg, meskipun diawali dengan “Anda tak perlu menjawab jika tak nyaman”, akan menanyakan perihal itu. Bagi saya jelas, saya tak punya masalah kelompok mana pun, termasuk sayap kanan, untuk ambil bagian di pameran buku. Itu bukan tindakan kriminal. Mengikuti Voltaire, saya bisa tak sependapat, tapi saya akan membela haknya untuk mengungkapkan hak (atau berada di pameran tersebut). Tapi tentu saja saya juga menghormati para penulis yang memutuskan untuk memboikot, yang barangkali memiliki alasan-alasan yang lebih memadai yang tidak saya ketahui. Saya kemudian bercerita kepada wartawan-wartawan itu tentang keputusan pemerintah Indonesia membubarkan organisasi yang tak sesuai dengan ideologi negara (HTI, dalam hal ini). Saya tak sependapat dengan pandangan-pandangan organisasi ini, tapi membubarkannya jelas saya juga tak sependapat. Pembubaran satu organisasi akan menjadi alasan (dan tabiat) untuk membubarkan organisasi apa pun yang tak sejalan dengan politik pemerintah di lain waktu dan tempat. Hal yang sama bisa diterapkan: melarang satu pihak ambil bagian di pameran, bisa jadi awal dari (tabiat) pelarangan pihak-pihak lain yang juga tak sejalan. Seolah menjadi ilustrasi bagi perdebatan soal boikot dan tidak boikot ini, di hari kedua pameran, kami tak bisa keluar dari hotel dan tempat pameran. Gara-garanya ada demonstrasi besar-besaran kelompok sayap kanan. Saya tak tahu isu apa yang mereka bawakan, yang jelas, demonstrasi ini memancing kelompok-kelompok anti fasis (antifa) dari berbagai kota Eropa berdatangan. Membuat demonstrasi tandingan. Polisi berjaga-jaga di setiap sudut jalan. Dari jendela hotel, saya hanya sanggup melihat kerumunan orang-orang ini. Pemandangan kecil tentang gejolak politik di Eropa. Kebangkitan sayap kanan, dan kalau mau jujur, wajah kelompok kiri yang tergagap-gagap setelah beberapa dekade barangkali lebih asyik bicara dan berdebat ketimbang membangun kekuatan nyata.



Dari Goteberg, dengan menyeret koper yang saya usahakan seringkas mungkin agar bisa dibawa ke kabin, saya melanjutkan perjalanan ke Spanyol. Di kamar kecil pesawat, saya mencopot satu lapis pakaian yang saya kenakan. Saya yakin Spanyol lebih hangat, sehingga tak perlu pakaian berlapis-lapis. Di negara itu saya akan mengunjungi dua kota: Madrid dan Barcelona. Orang yang mengatur perjalanan saya sudah mewanti-wanti, “Mungkin situasinya kurang tepat: sedang ada ketegangan politik di sini. Atau barangkali justru tepat: kamu bisa melihat apa yang sedang terjadi.” Ya, situasi politik yang “tak enak” itu adalah referendum wilayah Katalunya untuk memisahkan diri dari Spanyol. Pemungutan suara tepat terjadi di hari saya sedang terbang. Hasilnya mayoritas penduduk Katalunya ingin berpisah, dan tentu saja pemerintah pusat tak mengabulkannya. Jika mengikuti berita, kita tahu polisi nasional didatangkan ke sana (Katalunya juga memiliki polisi sendiri), dan terjadi bentrokan. Sebagai orang asing, saya mencoba memandang ketegangan politik itu secara santai. Membayangkannya sebagai perseteruan el-clasico antara Real Madrid dan Barcelona. Atau membayangkan novel-novel Javier Marias dan membandingkannya dengan novel-novel Enrique Vila-Matas. Di Madrid, orang-orang yang saya temui rata-rata menanggapi referendum itu dengan serba tidak enak. Sangat bisa dipahami. Mereka hanyalah warga biasa. Beberapa mungkin berasal dari Katalunya, atau punya kerabat dan teman di sana. Dan seperti di Swedia, dengan pengantar yang sama “Anda tak perlu menjawab jika merasa tak nyaman”, para wartawan meminta saya memberi komentar tentang situasi politik Spanyol ini. Di akhir jawaban saya, mereka akan memastikan kembali, “Boleh dikutip?” Tentu saja boleh. Pendapat saya adalah pendapat saya, bisa membuat senang orang atau sebaliknya. Saya tak lama tinggal di Madrid. Dengan mempergunakan kereta, saya pergi ke Barcelona. Perjalanan yang menyenangkan, sebab saya bisa melihat hamparan padang-padang rumput yang begitu luas melalui kaca jendela kereta, yang sebelumnya cuma bisa saya bayangkan ketika membaca Don Quixote (dan itu pun karya dari beberapa abad lampau!). Tiba di Barcelona, tentu saja keadaan sangat kontras berbeda. Hampir semua orang begitu bersemangat membicarakan referendum. Beberapa di antaranya bahkan demikian yakin bahwa mereka akan merdeka, bahwa deklarasi kemerdekaan akan diumumkan dalam waktu yang tak lama (ketika catatan ini saya tulis, deklarasi kemerdekaan itu sudah ditandatangani). Saya bisa keluar dari hotel, menonton reli pendukung kemerdekaan yang membuat kota menjadi lumpuh (kantor-kantor libur, transportasi tak bergerak, bahkan restoran cepat saji memilih tutup agar karyawannya bisa ikut ambil bagian, bukan karena takut rusuh seperti di Indonesia). Dan seperti di Madrid, wartawan setempat juga meminta pendapat saya tentang peristiwa ini. Tentu saja pendapat seorang penulis dari negeri jauh seperti saya sebenarnya tak penting-penting amat, juga tak mengubah apa pun. Tapi pada saat yang sama, barangkali ini semacam kesepakatan umum, bahwa seorang penulis sepatutnya punya pendapat tentang situasi sosial-politik tertentu, betapa pun jauhnya. Untuk urusan ini, baik untuk wartawan di Madrid maupun di Barcelona, saya menjawab dengan jawaban yang sama. Tentu saja konyol jika saya menjawabnya berbeda. Pengetahuan saya tentang hubungan Katalunya dan Spanyol tentu saja jauh dari pengetahuan seorang ahli, dan saya tak bermaksud sok tahu (meskipun umumnya penulis memang sok tahu). Untuk para wartawan ini, saya memutuskan untuk memberi analogi. “Menjawab pertanyaan Anda perkara ketegangan antara Katalunya dan Spanyol, lebih baik saya bercerita tentang negeri saya sendiri.” Saya kemudian bercerita tentang Papua. Sebuah negeri yang tanpa lelah mencoba memerdekan diri dari Indonesia. Anda bisa memiliki ungkapan yang berbeda untuk menceritakan bagaimana Papua menjadi bagian dari Indonesia, tergantung dari sisi mana Anda melihat: dicaplok, menggabungkan diri, pendudukan, merebut kembali. Satu hal yang penting, sebagai orang Indonesia, tentu saya berharap semuanya baik-baik saja. Kami bisa menjadi saudara, bergandengan tangan bersama-sama dalam sebuah komunitas bernama Indonesia. Tapi pada saat yang sama, jika mereka ingin memisahkan diri, saya bisa mengerti. Sangat mengerti. Kenapa? Situasinya sudah jelas rumit, tapi bisa juga disederhanakan: Indonesia memperlakukan mereka, tanah mereka, dengan sangat buruk. “Saya tahu ini berbeda, tapi setidaknya itu yang bisa saya bayangkan ketika Anda bertanya tentang Katalunya dan Spanyol.” Bahwa yang paling mendasar adalah, saya bisa mengerti kehendak mereka. Dan memberi dukungan jika itu sudah menjadi kehendak mereka. Apa pun afiliasi politiknya, wartawan di Madrid maupun di Barcelona tampaknya bisa menerima jawaban saya dengan senang hati. Sisi lainnya, saya belajar satu hal yang saya pikir sangat berguna. Memiliki pandangan politik itu satu hal, tapi mencari cara mengungkapkannya merupakan hal lain. Seringkali serumit menuliskan sebuah cerita, agar ia menjadi jelas sekaligus merangkum konteks jika ada.

Saya akhirnya terbebas dari hingar-bingar politik setelah tiba di Paris. Dan setelah lebih dari seminggu tak bertemu, di kedutaan besar Indonesia, saya akhirnya berjumpa nasi. Tapi rupanya saya tak benar-benar terbebas dari pembicaraan politik. Di waktu makan malam, saya sendiri yang menyeret pembicaraan ke arah politik lagi, dengan bertanya, “Apa kabar Macron?” Tuan rumah yang mengundang makan malam menjawab, “Saya tak suka dia. Tapi suami saya merasa dia baik-baik saja. Macron memang enggak kanan, tapi apa bedanya? Dia kerja untuk orang kaya, bukan untuk orang-orang gembel.”

Djuna Barnes dan Bagaimana Bertahan dalam Cinta yang Menderitakan

Di Paris di antara dua perang, di antara para raksasa kesusastraan berkelamin lelaki seperti James Joyce, Ernest Hemingway, F. Scott Fitzgerald, dan Ezra Pound, ada satu perempuan penulis yang para pembaca sastra serius semestinya tak melewatkan: Djuna Barnes. Saya terpikir untuk sedikit menulis tentangnya, setelah dalam satu wawancara, saya diingatkan betapa sedikit saya membaca karya-karya para perempuan. Tentu saja saya sempat mengelak, bahwa kenyataannya kesusastraan dunia memang disesaki para lelaki dan sastra yang maskulin. Meskipun begitu, tak ada salahnya dalam beberapa jurnal ke depan, saya ingin menengok beberapa perempuan penulis yang sempat saya baca, dan barangkali menarik untuk dibagi. Novelnya yang paling terkenal, Nightwood, bukanlah jenis novel yang gampang dibaca. Disebut-sebut sebagai salah satu karya klasik dalam gerakan kesusastraan modernis (sebagaimana Finnegans Wake James Joyce), novel ini juga merupakan salah satu karya klasik dalam kesusastraan lesbian. Seperti judul yang saya pergunakan di jurnal ini, Nightwood bisa disederhanakan sebagai “bagaimana bertahan dalam cinta yang menderitakan”. Oh, tentu saja novel ini tak sesederhana itu, dan sekali lagi, ini bukan jenis bacaan yang gampang. Bercerita tentang perempuan bernama Robin Vote, yang meninggalkan seorang suami (seorang yang mengaku sebagai Baron bernama Felix, kenyataannya seorang Yahudi) setelah memberinya anak (Guido), dengan mengatakan, “Aku tak menginginkan ini.” Ini yang dimaksud adalah, ia tak menginginkan anak, tak menginginkan keluarga, tak menginginkan cinta mereka. Intinya ia tak menginginkan hidup yang dijalaninya dalam keluarga tersebut. Ia keluar rumah dan jatuh ke pelukan seorang perempuan bernama Nora, sebelum “meninggalkannya” dan berhubungan dengan perempuan lain bernama Jenny. Terlihat seperti kisah yang sederhana, dan memang kisahnya sederhana. Yang rumit (dan membuat novel ini menarik, dan saya rasa membuatnya istimewa), adalah bagaimana kisah sederhana tersebut dibawakan dengan cara yang dalam tingkat tertentu menjadi puitis. Tidak, yang saya maksud dengan “puitis” bukan dalam makna Barnes mempergunakan banyak bahasa berbunga-bunga (yang umum bisa ditemukan dalam banyak novel kita), tapi bagaimana ia memeriksa setiap peristiwa, setiap impresi, menjadi semacam epifani. Bagaimana setiap kejadian, setiap ungkapan perasaan, bisa dibawa ke satu analogi yang menurut saya tetap menyegarkan meskipun novel ini terbit pertama kali tahun 1937. Apa yang saya maksud sebagai puitis adalah, bayangkan setiap peristiwa, setiap analogi dan epifani di novel ini, sebagai baris-baris dalam puisi. Seperti yang saya suratkan dalam judul, novel ini terutama dilihat dari sudut pandang penderitaan Felix dan Nora dalam hubungan cintanya dengan Robin. Ada satu sosok yang saya pikir berada di atas mereka semua, menjadi semacam penelaah atau cermin pantul, seorang dokter bernama Matthew. Melalui monolog dan percakapan si dokter inilah, kita kemudian bisa memeriksa bagaimana kedua orang ini bertahan dalam cinta yang menderitakan. Bagaimana Felix dan Nora tetap mencintai Robin, bahkan meskipun Robin selalu meninggalkan mereka (dan sesekali bisa muncul dalam situasi yang tak bisa ditolak). “Baronin,” kata Felix, “Selalu mencari seseorang untuk memberitahu dia bahwa dirinya inosens.” Dengan kata lain, Robin (si Baronin) merupakan orang yang terus berjalan, mencari konfirmasi, dan tak mungkin ditahan di dalam rumah. Bahkan meskipun ia ditahan di rumah, saya bayangkan ia terus bertanya kepada suaminya, “Kau mencintaiku? Aku cantik? Aku baik?” dan sang suami harus bertahan dalam pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Satu analogi yang terus terbayang oleh saya diceritakan oleh Nora. Robin sekali waktu memberinya boneka. “Ketika seorang perempuan memberikan boneka kepada seorang perempuan, itu hidup yang mereka tak bisa miliki, anak mereka, suci dan profan,” kata Nora. Tapi betapa hancurnya Nora, ketika ia tahu Robin juga memberikan boneka yang sama ke perempuan lain (Jenny). Apa boleh buat, cinta dan kebahagiaan pada dasarnya bukan hal yang sama. Saya rasa si dokter menyiratkan hal itu dalam monolognya. Jangan mengharapkan kebahagiaan dalam cinta, itu tidak seperti rasa manis dalam gula. Cinta tak selalu memberi kebahagiaan, sebagaimana seseorang bisa bahagia tanpa cinta. Itu sesederhana sesuatu yang berbeda. Dan orang-orang ini, Felix dan Nora, bisa menjadi contoh bagaimana ada manusia yang terus bertahan dalam cinta yang menderitakan, bahkan berkorban untuk itu. Entahlah, apakah itu sejenis ketololan atau bukan. Selain membaca novel ini, saya pernah membaca potret singkat Barnes yang ditulis Javier Marías di Written Lives, dan saya merasa kehidupan Barnes sendiri kurang-lebih menyerupai kehidupan Robin (meskipun dalam novel ini, kita bisa melihat simpati si penulis justru ke para “korban” Robin). Dalam potret itu Marías menulis bahwa, beberapa orang yang mengunjungi dia dan menghabiskan berjam-jam percakapan, selalu berakhir dengan sakit kepala. Saya rasa, jika Anda sakit kepala membaca novel ini dan memikirkan hubungan tokoh-tokohnya, itu pun bukan hal yang mengejutkan.

Mau Ke Mana Cerita Pendek Saya?

Beberapa kali saya kembali membaca esai Bolaño berjudul “Advice on the Art of Writing Short Stories” di kumpulan esai dan artikelnya Between Parenthesis. Sejujurnya bukan esai yang cemerlang, tapi nasihat tetaplah nasihat. Seperti bisa diperhatikan, beberapa tahun terakhir saya tak lagi banyak menulis cerpen. Menerbitkan satu cerpen dalam setahun sudah cukup produktif bagi saya. Ada rasa bosan membaca cerpen-cerpen di koran, dan ada rasa bosan menuliskannya juga. Saya tak mau berpusing-pusing memikirkan keadaan cerpen dalam kesusastraan kita, meskipun tak keberatan memberikan pendapat jika ada yang bertanya, dan lebih senang melihatnya sebagai problem internal saya sendiri. Tulisan ini barangkali akan lebih menarik jika berjudul “Mau Ke Mana Cerita Pendek Kita?”, tapi saya rasa terlalu berlebihan untuk mengurusi “kita” saat ini, dan saya tahu persis sebagian besar penulis tak suka diurusi. Kebosanan ini problem internal, titik, dan menggelisahkan hal ini patut saya syukuri: setidaknya saya masih sedikit waras untuk bertanya kepada diri sendiri. Menjelang terbitnya kumcer keempat saya, [Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi], saya mencoba melihat sejauh apa yang telah saya lakukan. Hal paling gampang untuk dilihat tentu saja jumlah: lebih dari lima puluh cerpen telah saya tulis sejak tahun 1999, dan empat buku telah saya terbitkan. Bagi banyak orang, mungkin itu banyak sekali; bagi saya setidaknya itu lebih dari cukup, lebih dari itu bisa saya anggap berlebihan. Berbeda dengan cara kerja saya menulis novel, yang sering saya bayangkan seperti membangun rumah tanpa rancang-gambar, yang membuat saya begitu senang menulis ulang sebuah novel berkali-kali sebelum menerbitkannya; cerpen bagi saya seperti ruang laboratorium penulisan. Kadang-kadang saya punya gagasan kecil di kepala, bisa berupa olok-olok ringan maupun andai-andai berat, lalu saya mencobanya di “laboratorium”, dan jadilah sepotong cerpen. Bagaimana jika Thomas de Quincey, penulis Confession of an English Opium Eater ternyata penduduk Hindia Belanda di masa kolonial dan menulis dalam bahasa Melayu pasar? Hasilnya adalah cerpen “Pengakoean Seorang Pemadat Indis”. Bagaimana jika kita pergi ke satu tempat, bertemu orang-orang dan mendengar cerita mereka, lalu menuliskannya? Cerpen-cerpen seperti “Gerimis yang Sederhana”, “La Cage aux Folles” dan “Penafsir Kebahagiaan” ditulis dengan eksperimen seperti itu. “Caronang” awalnya merupakan eksperimen untuk menulis cerpen dengan pendekatan catatan perjalanan, tapi hasil akhirnya berbeda, sementara “Pengantar Tidur Panjang” merupakan memoar dengan obsesi yang berlebihan: menangkap sejarah republik melalui kacamata sebuah keluarga, tak lebih dari 2000 kata. Saya senang melakukan hal itu di cerpen karena alasan yang sederhana: bentuknya pendek, sehingga saya dengan mudah berpindah dari eksperimen satu ke eksperimen lainnya. Satu disiplin yang rasanya tak akan saya lakukan untuk novel. Sementara eksperimen-eksperimen samacam itu saya percaya layak untuk terus dilakukan, lebih dari lima puluh cerpen dan empat buku tetaplah jumlah yang banyak. Di sisi lain, saya juga percaya, sesuatu tak bisa dilakukan secara berkepanjangan. Ada satu titik di mana seseorang harus berhenti, metode dipertanyakan, dan kepercayaan diri yang berlebihan harus dihancurkan. Ini akan berat untuk saya, tapi rasanya mengurangi menulis cerpen sama sekali bukan jalan keluar yang memuaskan. Saya perlu berhenti setelah buku keempat ini. [Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi] akan menandai jeda panjang saya, hingga beberapa tahun ke depan. Dan tahun-tahun tersebut akan memberi saya banyak waktu untuk menjelajahi beragam khasanah cerita pendek. Saya menyukai penulis-penulis cerpen klasik, dari Chekhov, Gogol, Maupassant, Akutagawa, bahkan cerpen-cerpen konyol O. Henry. Bolaño menyuruh kita membaca Borges, Juan Rulfo, Edgar Allan Poe, hingga Enrique Vila-Matas dan Javíer Marias. Saya sudah membaca mereka. Di luar itu saya kira banyak penulis-penulis kontemporer, dari abad lalu maupun abad sekarang, yang patut untuk dibaca. Belum lama saya membaca cerpen-cerpen Ludmilla Petrushevskaya, yang membawa tradisi panjang kesusastraan Rusia (kapan-kapan saya akan menulis tentangnya di sini). Etgar Keret dan Hassan Blasim, semestinya dibaca sebagaimana kita membaca penulis cerpen klasik. Jangan lupa Raymond Carver. Juga Primo Levi. Dan Eileen Chang. Dan tentu saja César Aira. Saya pernah berhasil berhenti merokok, berhenti bergaul di Twitter dan Facebook (yang memberi saya waktu melimpah untuk membaca buku), rasanya saya akan sanggup melewati yang ini. Berhenti menulis cerpen untuk jangka waktu yang lama, mungkin terasa menyiksa dan menyedihkan; tapi mengetahui akan ada banyak yang bisa dibaca dan belajar kembali dari mereka sambil bertanya “Mau ke mana cerita pendek saya?”, saya rasa layak untuk dilalui. Sebab, mengutip Borges, kegiatan membaca lebih intelek daripada menulis. Dan lebih menyenangkan, tentu saja.

Written Lives

Pentingkah membaca riwayat hidup penulis? Orang bisa berdebat soal ini, tapi bagi saya, tulisan tentang apa pun asal ditulis dengan baik layak untuk dibaca. Jika kita bisa menikmati riwayat hidup seorang jenderal atau pemilik pabrik jamu, kenapa kita tak bisa menikmati riwayat hidup seorang penulis? Bahkan tanpa harus mengenal karya-karyanya sekali pun. Sayang sekali “biografi” sebagai sebuah genre sastra merupakan barang yang langka di Indonesia. Coba tengok, apakah sudah ada biografi otoritatif mengenai Pramoedya Ananta Toer? Saya yakin sampai lima tahun ke depan atau lebih, belum ada. Jangan sebut penulis-penulis lainnya. Oh, memang akhir-akhir ini ada banyak “biografi” di pasaran, tapi saya tak yakin saya minat membacanya. Kebanyakan dari pseudo-biografi ini isinya tak lebih dari omongan si tokohnya, sedikit mirip memoar tapi ditulis orang lain. Begini. Bagi saya, biografi yang baik pertama-tama harus menempatkan apa pun yang dikatakan si tokoh sebagai sumber sekunder, atau bahkan sumber kesekian. Sumber yang kebenarannya paling layak diragukan. Bukan lagi rahasia, tokoh apa pun cenderung bias bicara tentang dirinya. Yang kecil bisa dibesar-besarkan, yang memalukan bisa disembunyikan. Apa pun yang keluar dari si tokoh, hanya bisa dipegang jika bisa diverifikasi ke sumber lain. Ini yang jarang saya dapatkan di buku-buku pseudo-biografi. Saya memikirkan ini sambil membaca buku berjudul Written Lives karya Javier Marías. Buku yang menyenangkan, yang saya rasa memberi cakrawala tambahan mengenai genre biografi. Berisi riwayat hidup 20 penulis (plus dua tulisan tambahan mengenai beberapa penulis), yang disusun sedemikian rupa sehingga seolah-olah menjadi cerita tersendiri, meskipun Marías meyakinkan kita bahwa tak ada apa pun di tulisannya yang dikarang-karang, dan semua yang ada di sana bisa dilacak sumbernya di tempat lain. Tentu saja ini bukan “biografi” yang ideal, dan sang penulis juga tidak bermaksud seperti itu, melainkan lebih menyerupai potret. Ya, potret: sekelumit bagian hidup seorang penulis, seringkali dalam bentuk close-up. Dengan mengacu sumber-sumber tertulis, ia “menciptakan” sosok-sosok para penulis ini dalam sudut pandang dia, dan hasilnya merupakan potret-potret penuh ironi dan kelucuan. Sebut misalnya potret mengenai Mishima dalam “Yukio Mishima in Death”. Ada bagian di mana pada tahun 1967 terdengar rumor bahwa seorang penulis Jepang akan memperoleh Nobel. Mishima, yang terkenal sangat narsis dan percaya diri, yang saat itu sedang berpergian, memutuskan pulang dan mengaturnya agar saat mendarat persis beberapa saat setelah pengumuman Nobel. Bahkan ia sudah menyewa ruangan VIP, mungkin untuk konferensi pers. Ketika pesawat mendarat, ia keluar dengan senyum mengembang. Ya, tentu saja tak ada wartawan atau fans yang menunggu dan mengelu-elukannya, sebab tahun itu yang memperoleh Nobel adalah penulis Guatemala (Miguel Ángel Asturias). Dari tulisan yang lain, “William Faulkner on Horseback” saya baru tahu bahwa Faulkner, salah satu penulis yang terkenal melarat (As I Lay Dying ditulis selama enam minggu di waktu istirahat saat ia harus kerja malam memasukkan batu-bara ke tungku), ternyata punya hasrat belanja yang agak tak terkendali untuk: pakaian mahal dan kuda! (Ehm, saya akan mengingat dia jika saya tak bisa menahan diri membeli t-shirt mahal). Sekali lagi ini bukan buku biografi seperti yang saya idealkan, dan lebih menyerupai potret. Tapi bahkan melalui potret-potret seperti ini, kita tahu ada hal-hal yang tak mungkin keluar dari mulut si tokoh. Senorak-noraknya Mishima, dia pasti berkilah soal menyewa ruang VIP di hari pengumuman Nobel. Meskipun mengaku gemar membeli kuda mahal, Faulkner diam-diam saja soal kecenderungan membeli baju mahal. Begitu pula James Joyce saya rasa (di tulisan “James Joyce in His Poses”), tak bakal terus-terang mengaku ia depresi selama dua tahun terakhir hidupnya, karena novel Finnegans Wake tak memperoleh sambutan meriah sebagaimana diharapkannya. Masih perlukah membaca riwayat hidup para penulis? Menurut saya perlu. Bagaimanapun mereka manusia yang pernah hidup dan cerita tentang mereka barangkali berguna untuk hidup kita. Terutama jika itu ditulis dengan baik, dan tidak berisi bualan-bualan membesar-besarkan diri si tokoh.

Apa yang (Asyiknya) Dibicarakan Penulis?

Tak ada yang melarang seorang penulis bicara tentang politik, etika, moral, sebagaimana petani dan sopir taksi juga boleh membicarakannya. Tapi bagi saya, kapasitas seorang penulis terutama diukur oleh kualitasnya ketika bicara tentang dunianya: penulisan atau kesusastraan secara khusus. Sama seperti kita menghormati tukang kayu yang mengerti perbedaan satu kayu dengan lainnya, karakter dan fungsinya, bahkan harganya, juga mengerti kenapa kayu tertentu lebih baik untuk pintu dan yang lain lebih baik untuk bingkai foto. Sama seperti petani yang mengetahui rahasia musim dan bau tanah. Belum lama ini saya menonton video wawancara Javier Marías, dan bagi saya ia salah satu contoh penulis dengan karya-karya hebat dan kapasitas intelektual yang juga hebat ketika bicara tentang dunianya, dari mulai soal penerjemahan, bahasa, penyimpangan di novel-novelnya yang ia hubungkan dengan konsep waktu, serta lainnya (video tersebut bisa dilihat di YouTube). Saya memang senang mendengar wawancara para penulis. Awalnya cuma sekadar untuk memperbaiki kemampuan bahasa Inggris. Biasanya saya belajar melalui lagu atau film, tapi dengan begitu banyak video wawancara penulis di internet, kenapa tidak sekali jalan dua pulau terlalui? Belajar mendengarkan bahasa Inggris (sambil belajar mengucapkannya), sekaligus menambah wawasan mengenai kesusastraan. Javier Marías bukan penulis dengan bahasa Inggris sebagai bahasa ibu, jadi bolehlah untuk tidak merasa terintimidasi (hehehe, ia bahkan salah menyebut “english” dengan “england”, meksipun segera meralatnya). Kembali ke topik awal, saya menganggap bahwa sastra merupakan pertemuan ideal antara seni dan pengetahuan. Perjumpaan menyenangkan antara kreativitas dan keterampilan teknis. Pertemuan itu sendiri merupakan topik yang selalu menarik dan tak habis-habisnya, dan kita bisa menemukan begitu beragam pendapat dan gagasan para penulis mengenai hal ini. Tapi satu hal jelas, disiplin ilmu pengetahuan senantiasa memberi panduan bagi para penulis ini bahwa seluruh pendapat mereka mesti bisa dipertanggungjawabkan, diuji kesalahannya, ditelusuri sumbernya; sekaligus sebagai kerja seni, penulis juga tahu bahwa selalu ada sudut pandang yang berbeda untuk satu hal, dan terutama tentu saja sentuhan yang berbeda. Kembali ke Javier Marías: “Anda menikmati membaca obituari?” “Tidak. Maksud saya, tergantung sebagus apa ditulis.” “Tapi Anda membacanya?” “Kadang-kadang. Tergantung siapa yang mati.” Satu hal lain yang saya pelajari dari wawancara dengan penulis, seringkali kualitas wawancara sangat tergantung kepada kualitas penanya. Seringkali saya membaca wawancara yang menyedihkan, karena penanya (wartawan?) tak mengetahui benar kepenulisan, atau setidaknya tak mengetahui benar penulis yang dihadapinya, sehingga yang keluar hanyalah pertanyaan basa-basi, dan jawaban yang juga akhirnya basa-basi. Bayangkan, di wawancara Javier Marías ini, penanya bisa tiba-tiba bertanya tentang obituari sebagai salah satu genre penulisan. Benar, tak semua orang harus mengerti atau mengetahui hal-ihwal kesusastraan dan penulisan, tapi satu hal jelas: menyenangkan bila bertemu dengan orang yang memiliki tak hanya hasrat meluap-luap tapi juga wawasan dan gagasan yang luas mengenai hal ini, sebagaimana selalu menyenangkan bertemu petani yang mencintai tanah dan tanaman sebagaimana ia memiliki pengetahuan melimpah tentang yang dicintainya.

Tujuh Alasan untuk Tidak Membaca Novel

Javier Marías pernah menulis esai menarik mengenai tujuh alasannya untuk tidak menulis novel. Sekarang izinkan saya setidaknya membuat daftar yang sama untuk tidak membaca novel. 1) Terlalu banyak bacaan yang barangkali lebih menarik daripada novel. Berita-berita di koran lebih sering mencengangkan daripada fiksi paling gila yang ditulis para novelis. Membaca apa yang ditulis teman di media sosial saya rasa lebih memberi keintiman daripada apa yang ditulis para novelis yang sama sekali tidak dikenal, tentang dunia yang juga tidak kita kenali. 2) Pepatah mengatakan, tak ada yang baru di bawah langit, saya rasa itu juga berlaku untuk novel. Kita pernah membaca beberapa novel, kenapa harus membaca lagi. Kenapa harus membaca kisah-kisah percintaan yang mengharu biru jika kita pernah membacanya di karya Jane Austen? Benar, seharusnya kopi yang dibuat di satu warung rasanya berbeda dengan kopi di warung lain meskipun sama-sama kopi, tapi di dunia ini terlalu banyak kopi yang rasanya sama saja: ini juga berlaku untuk novel. Seharusnya, ya seharusnya, kita merasakan kisah cinta, dendam, kemarahan atau lainnya secara berbeda dari satu novel ke novel lain, tapi lebih banyak kita merasakan hal yang sama serupa kopi yang diseduh alakadarnya. 3) Novel sendiri, tanpa memperhitungkan bacaan yang lain, diproduksi secara gila-gilaan banyaknya. Kita tak perlu menghitung karya-karya klasik yang bertahan selama puluhan atau ratusan tahun, yang konon sebaiknya dibaca, tapi lihatlah berapa novel yang diproduksi setiap bulan? Tak perlu di dunia, cukup di negara kita? Kuantitas yang seperti air bah ini saya rasa mengindikasikan bahwa novel tak lagi mengandung sesuatu yang mendalam yang layak ditengok. Ia sudah seperti donat yang keluar dari penggorengan. 4) Membaca novel, tentu saja selain mengeluarkan biaya (jika kamu membelinya), juga menyita waktu (yang bisa kamu pergunakan secara produktif untuk melakukan hal lain). Berbeda dengan menonton film (yang bisa kamu perhitungkan sekitar 100 menit), dan mendengarkan musik (satu lagu sekitar 3 menit, satu album sekitar 45 menit dan bisa kamu lakukan sambil mengerjakan hal lain), membaca novel menyita waktu berjam-jam, berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Dan kamu tak bisa melakukannya sambil melakukan hal lain (kecuali mendengarkan musik, barangkali). 5) Membaca novel jelas tidak menghasilkan uang. Hanya editor, dan barangkali penulis resensi novel, yang membaca novel dan menghasilkan uang, itu pun tak seberapa. 6) Membaca novel juga barangkali tidak membuatmu lebih pintar. Jika kamu perlu membaca buku agar kamu mengetahui teknik tertentu, kamu lebih baik membaca buku-buku “how to” dan bukan novel, bahkan termasuk jika kamu ingin tahu bagaimana caranya bercinta, bagaimana caranya memahami kepribadian orang, atau sekadar ingin tahu bagaimana membuat kursi. Jika kamu ingin memahami dunia lebih mendalam, barangkali sebaiknya membaca karya filsafat. Ensiklopedia, kamus, buku referensi, barangkali memberi pengetahuan yang kamu butuhkan melebihi yang bisa diberikan sebuah novel. 7) Pikirkan juga bahwa para novelis seringkali mencoba, kadang memaksa, menyodorkan gagasan-gagasan mereka. Seringkali gagasan ini hanya membuat kita tambah sakit kepala, beberapa bahkan memprovokasi kemarahan kita, yang lain membuat kita menjadi kelabu dan frustasi, tanpa kita berkesempatan mendebatnya karena bukan hal yang umum pembaca berhadapan langsung dengan penulis novel. Demikianlah setidaknya saya memiliki tujuh alasan untuk tidak membaca novel. Tapi seperti Marías memiliki satu alasan, cukup satu alasan saja, untuk menulis novel, saya pun memiliki satu alasan, cukup satu alasan saja, untuk membaca novel. Membaca novel membawa saya ke satu dunia dan kehidupan, yang saya sadar saya memasukinya, bahkan memilihnya. Dan setiap orang saya rasa, hanya perlu satu alasan, yang bisa berbeda-beda, untuk tetap membaca novel.

Apakah Bacaan Kita Tumbuh?

Pernahkah kita bertanya pada diri sendiri, apakah bacaan kita tumbuh dengan semestinya? Tentu saja untuk sebagian besar orang, bacaan kita pastinya tumbuh. Apa yang kita baca ketika sekolah dasar akan berbeda dengan apa yang kita baca ketika berumah tangga. Tapi pertanyaan pentingnya, apakah ia tumbuh dengan semestinya? Apakah bacaan kita selaras dengan usia kita? Jujur, tak jarang saya melihat anak-anak kuliahan, berarti berumur sektar 20an awal, masih membaca novel-novel remaja. Saya tak bermaksud mengecilkan arti novel remaja. Novel-novel yang baik, termasuk bahkan novel anak-anak atau remaja, masih bisa dinikmati oleh semua kelompok umur. Tapi bagaimanapun, novel remaja adalah novel remaja. Industri (terutama penulis dan penerbitnya) mempersiapkan novel-novel tersebut untuk dibaca remaja (dengan memperhitungkan pengalaman hidup, biologis maupun intelektual). Jika kita telah berumur 20an, atau bahkan 30an, atau bahkan lebih tua dari itu, hanya mampu menelan atau bahkan hanya mampu dihibur oleh bacaan untuk anak belasan tahun, berarti ada masalah dengan bacaan kita. Ada yang tak tumbuh. Ada yang terlambat tumbuh. Ada yang sengaja atau tidak sengaja, telah menjadi bonsai. Terlambat tumbuh barangkali masih bisa diterima. Keadaan sosial dan sistem pendidikan kita memungkinkan kita menjadi pembaca-pembaca yang terlambat tumbuh. Saya tak akan heran bertemu dengan anak yang lulus sekolah menengah dan tak pernah membaca satu novel pun. Bahkan bisa bertemu dengan anak sekolahan di kota, yang tak bisa membedakan antara “buku” dan “novel”. Serius, saya bertemu dengan anak semacam itu beberapa kali. Bahkan bisa bertemu dengan orang dewasa, yang pada dasarnya memiliki kapasitas intelektual yang lumayan, masih melihat novel semata-mata sebagai bacaan hiburan belaka. Baiklah, bahkan apa yang disebut sebagai bacaan dewasa pun memiliki jebakannya sendiri. Barangkali ada pembaca tertentu yang merasa telah tumbuh, telah meninggalkan masa-masa membaca kesusastraan anak-anak dan remaja, dan masuk ke kesusastraan yang dewasa, tapi sebenarnya mungkin berhenti pula di satu titik. Itu seperti pernah mimpi basah dan merasa dewasa, padahal tak banyak berubah daripada sebelum mimpi basah. Problemnya, bacaan dewasa merupakan alam liar. Saya rasa tak ada orang yang mampu menyusun grafis pertumbuhan mana yang perlu dibaca oleh orang berumur 21 dan mana yang perlu dibaca oleh pembaca 50an tahun. Saya rasa setiap orang bisa menyusun untuk dirinya sendiri, tapi bahwa ia harus tumbuh saya rasa merupakan keniscayaan. Itu jika kita tak sayang pada kapasitas biologis dan intelektual kita. Sekali waktu saya membaca wawancara Javier Marías dan si pewawancara bertanya, apa yang ia baca di hari-hari ini? Ia menjawab, ia sudah lama tak membaca karya-karya kontemporer. Ia lebih banyak membaca karya-karya klasik, membaca mereka berulang-ulang. Bagi Marías, saya yakin itu merupakan pertumbuhan bacaannya, dengan ukuran-ukurannya sendiri. Sekali lagi, ukuran-ukuran itu barangkali personal. Tak ada yang bisa membuat penyamarataan, mana yang harus kita baca lebih dulu: Tolstoy atau Dostoyevsky? Membaca Flaubuert lebuh dulu atau Albert Camus dulu? Menjadi dewasa, saya rasa tak hanya ditentukan oleh bacaan apa yang kita pegang, tapi juga terutama berarti kemampuan untuk menentukan, ke arah mana kita ingin berkembang. Dan jika kita tahu ke arah mana kita ingin berkembang, kita juga mestinya tahu bagaimana kita menyusun tahapan-tahapan perkembangan itu. Yang artinya, begitu kita menginjak masa dewasa, kita tahu apa yang mestinya kita baca, dan ke mana kita ingin mengembangkan bacaan kita secara sadar. Dengan cara seperti itulah, kita bisa terus menjadi anak-anak dan remaja tanpa harus berhenti di bacaan milik mereka: terus-menerus menemukan hal-hal baru dan terkejut-kejut menguak rahasia dunia. Sebab pembaca yang tumbuh, pembaca yang dewasa, merupakan pembaca yang memelihara roh anak-anak di dalam kepalanya. Roh rasa ingin tahu.

Identitas

Seperti saya telah tulis sebelumnya, atas undangan British Council saat ini saya tengah mengikuti Cooler Lumpur Festival, di Kuala Lumpur. Karena sedikit kecerobohan, saya hampir melewatkan satu program di mana saya mestinya membacakan sebuah karya. Untunglah saya menemukan satu terjemahan “Kutukan Dapur” (festival ini hampir seluruhnya dalam Bahasa Inggris) di blog dan bisa membacanya melalu telepon genggam. Setelah itu, bersama Miguel Syjuco (jika ada yang masih ingat, tahun lalu saya menulis tentang novelnya, Ilustrado, di jurnal ini) dan Adam Foulds bicara mengenai identitas di satu panel. Saya ingin sedikit membagi pandangan saya mengenai hal itu di sini, beberapa saya tulis ulang dari apa yang saya bicarakan di acara tersebut, dan sebagian saya tambahkan di sini. Kita sadar dalam banyak hal, dengan dunia yang semakin terbuka dan jejaring (terutama internet) menghubungkan komunitas budaya satu dan yang lainnya, dalam banyak hal kita merupakan konsumen budaya. Ini tentu saja pada akhirnya membentuk apa yang barangkali bisa disebut sebagai identitas budaya. Tapi saya rasa itu tak hanya terjadi di kita (Indonesia), tapi juga terjadi di mana-mana. Saya ingin memberi dua contoh yang tak ada hubungannya dengan sastra (minat utama saya): di dunia yang terhubung satu sama lain, dengan klub maupun tim nasionalnya masing-masing, orang di seluruh dunia menonton liga sepakbola Eropa. Kita semua merupakan konsumen liga-liga Eropa. Bahkan bisa dikatakan, fans liga Eropa sebagian besar berada di luar Eropa sendiri. Sebagai contoh: Liga Spanyol, menurut laman fans klub Barcelona di Facebook, penggemar Barcelona terbesar berada di Indonesia. Contoh lain, tengok musik apa yang didengar para remaja di Kuala Lumpur, Jakarta, Singapura, bahkan Tokyo dan Shanghai? Saya hampir yakin generasi belia ini sama mendengarkan musik yang kita sebut sebagai K-Pop, dengan nama-nama seperti Super Junior dan Girls’ Generation. Menurut saya, sepakbola Spanyol dan musik pop Korea telah menjelma menjadi sejenis “bahasa” yang dimengerti banyak orang. Mereka sadar, “identitas” yang mereka ciptakan ini bisa mereka jual, bisa menjadi semacam “brand”. Jadi apa itu identitas? Saya sebenarnya lebih membayangkannya sebagai sebuah piksel dari gambar raksasa. Titik piksel ini tentu saja kecil saja, tapi karena kita tak akan pernah mampu mengenali gambar raksasa, kita lebih banyak mengenali sesuatu melalui piksel-piksel ini. Seperti kita hanya mengingat seorang teman karena potongan rambutnya, atau aksen bicaranya. Identitas merupakan cara kita mengenali yang lain, dan bagaimana yang lain mengenali kita. Dengan kesadaran semacam itu, identitas bisa diciptakan, dan di sisi lain dipertahankan bahkan seringkali dengan cara brutal seolah tanpa itu kita kehilangan diri kita. Kita bisa mengambil sesuatu dari yang lain, mengakuinya sebagai milik sendiri dan menjadi sejenis identitas, sebelum kehilangan. Lihat sepakbola Spanyol (atau Barcelona) yang dikenal sebagai tiki-taka. Semua penggemar sepakbola tahu mereka mengambilnya dari sepakbola Belanda. Selama beberapa tahun terakhir, mereka memeliharanya dan menjadikannya sejenis identitas sepakbola mereka, dan beberapa malam lalu, Belanda kembali merampasnya seolah berkata, “Sepakbola seperti itu milik kami!” Dan apa yang kita kenal sebagai musik pop Korea pada dasarnya merupakan industri musik global: lagu diciptakan seniman dari satu negara Skandinavia, dinyanyikan penyanyi Korea, dan ketika tampil di panggung, kareografi dirancang oleh seniman Jepang. Tapi kita dengan sederhana menyebutnya sebagai “musik pop Korea”. Jika ada yang bertanya kepada saya apa yang saya ketahui tentang Spanyol, barangkali saya akan mengingat Cervantes, atau novel-novel Javier Marías dan Enrique Vila-Matas. Tapi penggemar sepakbola barangkali akan mengingat Spanyol dengan nama-nama seperti Andres Iniesta, atau Xavi. Atau penggemar balap akan mengingat Marc Marquez, manusia tercepat yang menunggangi motor Honda. Apa yang saya ingat dengan Korea? Karena saya tak banyak mengenal kesusastraan mereka, apa boleh buat, identitas Korea di benak saya dibangun oleh gadis-gadis cantik anggota Girls’ Generation. Sekali lagi, mereka sadar “identitas” budaya tersebut bisa dijual, dan kita di mana-mana menjadi konsumen kebudayaan ini. Salahkah menjadi konsumen? Apakah menjadi konsumen kebudayaan bisa mengikis identitas kebudayaan sendiri? Menurut saya, identitas bisa muncul dari mana saja, diciptakan maupun tidak. Tapi jika kita berharap memiliki identitas budaya yang baik, tak ada hal lain yang bisa kita lakukan kecuali menjadi produktif. Menjadi pencipta yang aktif. Bukan hal memalukan menjadi konsumen, yang memalukan adalah jika kita tidak memproduksi apa pun. Seperti kata para leluhur kita di tahun 45-an, “Kita ahli waris kebudayaan dunia”, tapi sekali lagi, jangan lupa untuk mewariskan sesuatu juga kepada dunia.

Takashi Hiraide, Andrés Neuman, Sjón

Saya sadar, terus-terusan membaca karya klasik nan tua, meskipun saya menikmatinya, lama-kelamaan juga membosankan. Karya-karya itu, demikian tuanya, kadang-kadang tak ada hubungan apa-apa lagi dengan kehidupan kita sekarang. Tapi tentu saja, banyak di antara karya-karya itu masih asyik dinikmati. Dan jika mau mencari-cari pelajaran moral, mereka mengajarkan banyak hal. Hal paling waras, tentu saja menyelingi bacaan klasik tersebut dengan karya-karya baru. Karya-karya penulis yang masih hidup, beberapa di antaranya bahkan seumuran dengan saya. Buku pertama, The Guest Cat karya Takashi Hiraide, yang memang saya incar bahkan sejak buku itu masih “rencana terbit”. Pertama, saya selalu penasaran dengan penulis Jepang. Kedua, ini tentang kucing. Saya selalu senang membaca novel bagus tentang manusia dan binatang. Komentar saya? Manusia memiliki banyak bahasa untuk menjelaskan hubungan mereka dengan binatang: memelihara, melindungi, bahkan memiliki, atau kadang sekadar berteman. Lihat sepasang tokoh utama di novel ini: awalnya mereka menyebut Chibi (si kucing tetangga) sebagai “tamu”. Tapi di akhir cerita, kita tahu, Chibi bukan lagi sebagai tamu. Meskipun bagi Chibi, yang tak mengenali teriroti manusia (kecuali teritori binatangnya), gagasan tentang tamu atau tuan rumah itu sudah jelas pasti absurd (dan kontrasnya semakin menarik dengan kerumitan status si pemilik rumah, yang menyewa dan harus berpindah rumah). Menarik bahwa novel ini, selain menceritakan hubungan mereka dengan Chibi yang berubah bersama waktu, juga mencoba menjelaskan perilaku mereka (kucing, manusia dan kucing-manusia) dalam bentuk sejenis esai ringan yang terselip di sana-sini. Takashi Hiraide aslinya seorang penyair. Saya belum membaca puisinya, tapi yakin ia penyair yang hebat, sebab hanya penyair yang bagus bisa menulis novel seperti ini. Novel berikutnya adalah Talking to Ourselves, karya Andrés Neuman. Saya pernah membaca novel Neuman sebelumnya, Traveller of the Century, yang saya anggap sebagai novel terbaik yang saya baca tahun lalu. Kali ini ia muncul dengan novel yang lebih sederhana, lebih tipis, dengan hanya tiga tokoh yang berbicara bergantian dengan cara seperti Faulkner dalam As I Lay Dying. Seperti novel sebelumnya, ini novel gagasan. Neuman (ia lebih muda dari saya, lahir 1977), saya kira merupakan master dalam novel mengenai gagasan. Kelebihannya adalah, ia mampu meramu novel tentang gagasan dengan banalitas secara kontras, sehingga novel itu tak melulu merupakan perdebatan mengenai gagasan-gagasan (dalam hal ini, ia mengadu dan mempertemukan banyak gagasan penulis mengenai rasa sakit, dari Virginia Wolf hingga Roberto Bolaño, dari Kenzaburō Ōe hingga Javier Marías), tapi juga mengenai usia tua dan tubuh yang memburuk serta dorongan seksual yang malah membara. Meskipun tipis, seperti pendahulunya, saya beranggapan novel ini hanya diperuntukan untuk pembaca yang sabar. Novel ini diterbitkan oleh Pushkin Press, satu penerbit Inggris yang sedang merajalela dengan terjemahan-terjemahan sastra kelas satu dari berbagai tempat. Buku berikutnya berjudul The Whispering Muse, karya Sjón. Siapa Sjón? Jika melacak di internet, ia lebih banyak dihubung-hubungkan dengan Björk, karena ia banyak menulis lirik lagu untuk penyanyi tersebut. Tapi sebenarnya ia, selain penyair, juga novelis ngetop di negaranya, Islandia. Novel ini berkisah tentang Valdimar Haraldsson, seorang penulis jurnal (ya, jurnal dalam pengertian jurnal ilmiah, tapi isinya ia tulis sendiri di setiap edisi) mengenai “ikan dan kebudayaan”. Intinya, itu jurnal mengenai pengaruh konsumsi ikan atas superioritas ras Nordic. Gara-gara jurnalnya ini, ia direkomendasikan seorang temannya untuk mengikuti pelayaran kapal dagang milik ayah si teman. Di kapal, ia bertemu seorang pendongeng. Sepanjang novel, selain menceritakan pengalaman berlayarnya, perjalanan itu juga menjadi bingkai bagi dongeng-dongeng yang didengarnya di atas kapal. Sekilas, juga mengingatkan pada tujuh petualangan ajaib Sinbad sang pelaut. Dengan kata lain, ini dongeng versi modern (settingnya selepas Perang Dunia). Dan tentu saja si penulis juga memberi kontribusi di kapal itu: memberi ceramah mengenai ikan dan kebudayaan. Intinya, menurut si tokoh, kehidupan manusia berasal dari laut. Dan secara biologi, termasuk susunan gigi manusia, dirancang untuk mengkonsumsi nutrisi dari laut. Secara pribadi, karena saya suka seafood, saya setuju. Saya jadi ingat, sewaktu kecil ibu saya selalu berkata, makan ikan agar pintar. Sampai sekarang, jika disuruh memilih dari berbagai macam makanan, saya akan menengok ke ikan. Tapi pertanyaan seriusnya, di negara kepulauan yang dikepung laut ini, benarkah laut atau ikan menjadi sumber pengaruh kebudayaan kita yang terbesar. Anehnya, saya sangsi. Indonesia merupakan negara yang dikepung laut tapi tak banyak memberi kontribusi terhadap kebudayaan ikan. Lihat saja menu makan kita. Berapa banyak variasi jenis makanan kita yang berasal dari ikan atau laut? Ikan hanya digoreng dan dibakar, atau dipepes. Menyedihkan, bukan? Saya rasa novel ini bisa dibaca sebagai ejekan untuk kita. Itu jika Anda sudi mengejek diri sendiri.

Gagasan Kecil Tentang Penerjemahan dari dan ke Bahasa yang Sama

Karena memutuskan untuk lebih banyak membaca karya-karya klasik yang telah berumur paling tidak lebih dari satu abad, saya mulai menemukan buku-buku dengan berbagai versi terjemahan. Tentu saja ini menguntungkan sebagai pembaca, saya bisa memilih dengan berbagai pertimbangan. Meskipun begitu, kadang-kadang saya malah membaca lebih dari satu versi. Misalnya Don Quixote. Pertama kalinya saya membaca terjemahan Bahasa Inggris karya Pierre Antoine Motteux (meskipun terbit pertama kali sekitar 1700, banyak diterbitkan dan karenanya murah. Itu alasan saya dulu membelinya). Beberapa tahun yang lalu, terbit terjemahan baru Don Quixote karya Edith Grossman. Bagi pembaca sastra Amerika Latin, siapa yang tak kenal Edith Grossman? Ia melanjutkan kerja Gregory Rabassa untuk menerjemahkan karya-karya Márquez yang lebih baru, belum termasuk karya-karya penulis Latin lainnya. Saya tak bisa menahan diri untuk tak membaca kembali Don Quixote dalam terjemahan baru. Hal yang sama terjadi pada Arabian Nights (atau kita kenal sebagai Hikayat Seribu Satu Malam). Ada satu terjemahan klasik karya Richard F. Burton (pertama kali terbit tahun 1885, sangat disukai oleh Borges). Hampir sebagian besar penulis Barat membaca Arabian Nights dari versi Burton ini, yang juga merupakan versi yang saya baca (bukan yang pertama, sebab saya pernah membaca versi sederhana dalam Bahasa Indonesia, yang saya lupa terbitan mana). Sebenarnya versi ini sangat lemah dalam aspek orisinalitas. Burton memakai sumber yang berbeda-beda untuk terjemahannya. Beberapa dekade yang lalu, muncul edisi “kritis” (melalui penelitian akademis yang ketat), yang dikenal sebagai “versi teks Leiden” yang dikurasi oleh Muhsin Mahdi. Terjemahan Bahasa Inggris versi ini dilakukan oleh Husain Haddawy (saya rasa terjemahan Bahasa Indonesia ada juga yang mendasarkan versi ini). Saya menyukai versi Husain Haddawy (Volume 1 bisa dibilang yang asli, Volume 2, bisa dibilang untuk menyenangkan hasrat pembaca meskipun cerita-cerita di dalamnya bukan bagian dari Arabian Nights, seperti dongeng tentang Sinbad, dll). Bahasa Inggris Haddawy terasa lebih enak dibaca, tentu karena lebih modern, daripada Burton. Tapi saya masih sering membaca Burton juga karena alasan sederhana: ada cerita-cerita yang ada di Burton tapi tak ada di Haddawy (karena metodologi Burton lemah, sering memasukkan cerita yang bukan Arabian Nights, tapi malah membuatnya jadi menarik), seperti kisah yang saya sukai “The Ruined Man Who Became Rich Again Through a Dream”. Baru-baru ini penerjemah penting Bahasa Jerman ke Inggris, Susan Bernofsky merilis versi baru The Metamorphosis Franz Kafka. Saya lupa sudah baca berapa versi novela ini. Saya bahkan pernah menerjemahkannya (yang saya rasa kualitasnya menyedihkan). Saya tak bisa menahan diri, saya pasti akan membaca versi ini begitu bukunya beredar di pasar. Untuk karya-karya dari Rusia, pasangan penerjemah Richard Pevear dan Larissa Volokhonsky menjadi bintang terjemahan Bahasa Inggris versi baru dalam belasan tahun terakhir. Saya membaca beberapa karya Gogol dan Nikolai Leskov melalui terjemahan baru mereka (saya menunggu dan berharap mereka mau menerjemahkan kembali Gorky). Dari pengalaman kecil ini saya berpikir, enak sekali ya, jadi pembaca karya-karya terjemahan (terutama Bahasa Inggris, sebenarnya). Ada banyak pilihan dan untuk karya-karya agung, selalu ada versi terjemahan yang segar dalam bahasa yang modern. Tentu selain faktor-faktor kesalahan terjemahan, salah metodologi atau salah sumber, faktor “keusangan” bahasa menjadi sangat penting. Bahasa selalu tumbuh dan berkembang, dengan begitu karya terjemahan juga seringkali memerlukan pembaharuan untuk mengikuti target pembacanya. Bahkan penulis-penulis yang masih hidup pun, beberapa di antaranya memperbaharui terjemahan karyanya (dengan beragam alasan). Misalnya Milan Kundera pernah menyibukkan diri dengan merevisi hampir seluruh karyanya dalam terjemahan Bahasa Inggris. Orhan Pamuk juga mengeluarkan The Black Book dalam versi terjemahan baru. Sekali lagi, kita sebagai pembaca dimanjakan dalam perkara ini. Saya misalnya tak perlu membaca The Divine Comedy dalam terjemahan kuno, sebab ada terjemahan baru yang segar karya Clive James. Atau karya Ryūnosuke Akutagawa (Rashomon and Seventeen Other Stories) yang diterjemahkan kembali oleh salah satu penerjemah Murakami, Jay Rubin. Sialnya, kemewahan ini tak berlaku justru untuk pembaca bahasa asli karya tersebut ditulis. Orang Spanyol, misalnya, tetap membaca Don Quixote dalam Bahasa Spanyol Cervantes abad ke-17, sebagaimana orang Prancis membaca Pantagruel François Rabelais dengan Bahasa Prancis abad ke-18. Dalam kasus kita, kita tetap akan membaca Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat Asrul Sani dalam Bahasa Indonesia generasi 45 (yang untuk banyak anak muda, terasa jadul dan menjadi tembok penghalang). Saya jadi memikirkan gagasan sinting ini: bagaimana jika karya-karya klasik itu diterjemahkan ke bahasa yang sama tapi lebih modern? Tentu kita tahu, banyak beredar karya-karya klasik yang ditulis ulang (dalam bahasa yang sama) agar lebih mudah dibaca. Tapi biasanya itu versi ringkas, atau versi “enak dibaca” untuk para pemula (anak sekolah yang sedang belajar), atau bahkan versi penyederhanaan. Bukan. Maksud saya bukan itu. Maksud saya tetap terjemahan, yang ketat, dengan kualitas yang tinggi, tapi modern. Tidak boleh disadur. Proses yang sama seperti menerjemahkan dari Prancis ke Inggris atau dari Rusia ke Spanyol, tapi kali ini dari Spanyol ke Spanyol atau dari Rusia ke Rusia. Bayangkan saja suatu ketika ada edisi Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat yang “diterjemahkan ke Bahasa Indonesia modern oleh A.S. Laksana”, misalnya. Atau, Don Quixote yang “diterjemahkan ke Bahasa Spanyol modern oleh Javier Marías”. Sekali lagi, gagasan ini mungkin tidak baru, dan terdengar seperti melecehkan karya-karya agung, tapi kenapa tidak? Paling tidak, bagi saya, itu terdengar menyenangkan dan sedikit menantang. UPDATE: Baru membaca soal ini, bahwa novel (konon novel pertama di dunia) Tales of Genji karya Murasaki Shikibu dari abad 11, “diterjemahkan” ke Bahasa Jepang abad 20 oleh penyair Akiko Yosano.

Older posts

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑