Eka Kurniawan

Journal

Tag: James Joyce (page 1 of 2)

Paris

Sejujurnya saya nyaris tak bisa pergi ke mana-mana selama tiga hari di Paris. Sejak hari pertama diisi dengan berbagai pertemuan, diskusi, dan makan malam. Meskipun begitu, di sela-sela waktu dan dengan modal peta sederhana, saya menjelajah daerah sekitar. Beruntunglah hotel tempat saya menginap, Delavigne (memperoleh kamar di loteng dengan dinding miring, mengingatkan saya pada film Ratatouille) dan kantor penerbit saya (Sabine Wespieser Editeur) berada di tengah kota. Saya sempat mengunjungi Notre Dame (tentu saja mengingatkan saya pada tokoh si bongkok karya Victor Hugo) dan Louvre, tapi satu-satunya yang ngotot ingin saya kunjungi adalah toko buku tua Shakespeare & Co. Saya sampai dua kali ke sana, mengambil selfie di depannya, dan (sedikit bikin saya malu) menemukan dua jilid buku saya dijual di dalamnya. Semua orang tahu itu toko buku yang pertama kali menerbitkan Ulysses James Joyce, juga tempat nongkrong Ernest Hemingway dan gerombolan “lost generation” Amerika yang luntang-lantung di Paris di masa itu. Sampai editor saya berkomentar, “Ya, ya, tentu saja toko buku itu penting buat penulis sepertimu.” Hahahaha. Mungkin orang Paris sudah terlalu biasa dengan toko buku itu, lagipula yang dijual di sana memang buku berbahasa Inggris. Seperti umumnya datang ke suatu tempat, mengetahui saya penulis, tentu saja kadang ada orang bertanya, di acara diskusi formal maupun sambil minum anggur atau teh, “Siapa penulis Perancis yang kamu baca atau sukai.” Itu seringkali membantu percakapan mengalir, dan saya sering bersyukur mengetahui beberapa penulis asing dan karya mereka. Saya bisa mendiskusikan Albert Camus atau Jean-Paul Sartre, atau Denis Diderot (yang novelnya, Jacques the Fatalist sangat saya sukai). Mereka senang mendengar komentar orang luar tentang penulis-penulis kebanggaan mereka. Juga penulis kontroversial mereka. Ketika saya bilang bahwa saya juga membaca Michel Houellebecq, mereka sangat antusias ingin mendengar komentar saya. Saya bilang hanya membaca dua novelnya. Caranya menulis menyenangkan. Saya tak punya masalah dengan sinisme-nya (barangkali karena saya bukan orang Perancis), tapi memang saya menangkap kesan pesimisme yang akut di karya-karyanya. Dan ketika datang ke Paris, bertemu dengan orang-orang Paris, gambaran itu berbeda seratus delapan puluh derajat. Orang-orang Paris yang saya temui sangat menyenangkan, penuh keriangan, ramah, jauh dari kesan pesimis. Mungkin Houellebecq memang pesimis melihat dunia, dan penggemarnya mungkin melihat dunia dengan cara yang sama. Dan seperti biasa, tentu saja saya juga bertemu dengan teman-teman Indonesia (ini terjadi ke mana pun saya pergi). Selalu menyenangkan (dan pasti menyenangkan juga buat mereka, bertemu “kerabat” di tempat yang jauh). Pertanyaan yang agak lucu, tapi tak terelakkan dari mereka, selalu: bagaimana bisa bukumu diterbitkan di Perancis (bahkan oleh penerbit yang secara tradisional tak pernah menerbitkan karya dari Indonesia)? Tentu saja itu cerita yang panjang, meskipun kadang saya harus menceritakannya berulang-ulang, atau penerbit saya menceritakan bagaimana ia “bertemu” karya saya. Intinya sebenarnya sama: kita cenderung menerima kenyataan bahwa karya sastra kita “dikutuk” hanya dikenal di negeri sendiri. Ketika satu atau dua karya keluar, kita sendiri bingung dan bertanya, “Kok bisa?” Mudah-mudahan di masa depan, tak ada lagi pertanyaan seperti itu dan melihat penulis Indonesia di luar sama biasanya dengan membaca penulis asing di dalam terjemahan Indonesia. Saatnya menutup koper dan kembali ke Jakarta.

shakespeare-co

Woolf

Menjadi seorang penulis pada dasarnya menjadi sosok-sosok dalam novel Mrs Dalloway, yakni orang-orang yang lebih sering berada dan bicara di dalam pikirannya. Mungkin saya salah (dalam arti tak semua penulis berbuat begitu), tapi setidaknya itu terjadi pada saya. Minggu ini saya berada di Australia, untuk dua festival dan terutama memperkenalkan novel saya dalam edisi bahasa Inggris. Sebagai penulis, saya pernah beberapa kali menghadiri acara serupa itu, tapi saat ini saya merasa berbeda. Di acara-acara sebelumnya, sering saya merasa kehadiran saya di acara-acara ini dan itu sesederhana karena saya “penulis Indonesia”. Mereka mencari seorang penulis dari Indonesia, mungkin karena quota mengatakan begitu, mungkin ada sesuatu yang menarik perhatian dengan negeri itu, lalu mereka memilih satu atau beberapa dari “penulis Indonesia” tersebut. Untuk kali pertama saya tak perlu merasa demikian. Sekali lagi situasinya mungkin tidak persis seperti itu, tapi seperti bisa kita mengerti dari novel Virginia Woolf ini (atau novel-novel sejenisnya), apa yang ada di pikiran, perbincangan di kepala kita, seringkali menjadi hal yang lebih penting dalam cara kita memandang dunia. Membaca Woolf dalam Mrs Dalloway adalah membaca pergeseran narator yang terus bergerak. Kadang-kadang naratornya berdiri dari satu jarak, memandang karakter-karakternya (sebagaimana kita bisa melihat Mrs Dalloway melakukan perjalanan dari rumah ke toko untuk membeli bunga), tapi kemudian ia mendekat dan dengan ajaib masuk ke dalam si karakter dan serta-merta kita menemukan Mrs Dalloway lah yang menjadi pencerita. Ia tak hanya mengamati sekitarnya, tapi juga mulai melantur ke banyak hal. Pikirannya bekerja lebih cepat daripada waktu aktual yang dialaminya, terulur ke waktu yang melompat dari kini ke masa lalu sebelum melompat ke masa kini kembali. Daripada pengembaraan “kesadaran” tokoh-tokohnya, yang semua orang tahu dilakukannya setelah membaca Ulysses James Joyce, hal paling menarik dari Virginia Woolf bagi saya terutama bagaimana ia menggeser dan mengganti-ganti narator, dari yang obyektif ke subyektif, narator yang memandang ke luar menjadi narator yang memandang ke dalam diri, bahkan narator subyektif satu berganti ke narator subyektif yang lain. Di bab yang paling panjang, di bagian tengah misalnya, dibuka dengan narator memperkenalkan keadaan Peter Walsh, dan masuk ke dalam pikirannya (“It was awful, he cried, awful, awful!”). Tapi tak berapa lama, di paragraf berikutnya, sang narator malah masuk ke pikiran karakter lain, seorang perempuan bernama Lucrezia Warren Smith (“was saying to herself, It’s wicked; why should I suffer?”). Dan terus berganti. Seperti pesta di novel itu, malam pertama saya di Melbourne adalah menghadiri pesta kecil yang diadakan penerbit saya. Sejujurnya saya bukan “anak pesta”. Saya bukan tipe yang senang bicara dengan banyak orang, apalagi orang asing, dan berlama-lama. Perbincangan saya lebih banyak di dalam kepala. Tapi sesekali saya tak keberatan untuk acara semacam itu, dan jika beruntung bisa berkenalan dengan orang yang menyenangkan. Saya yakin, seperti di pesta Dalloway, di pesta kecil itu juga banyak orang, di antara kerumunan dan percakapan, membangun sendiri dunia mereka di dalam kepala. Jika ada seorang super narator yang memperhatikan pesta kecil itu, ia pasti bisa mengorek pikiran-pikiran kami, berpindah dari satu sosok ke sosok lain, seperti dilakukan Woolf. Malam itu saya berkenalan dengan satu sosok, yang saya yakin banyak orang mengenalnya: Jonathan Galassi. Saya sampai terdiam selama beberapa saat. Ia seorang penyair (Left Handed: Poems), seorang penerjemah (puisi-puisi Giacomo Leopardi), belum lama ini jadi novelis (Muse), dan bos penerbit (Farrar, Straus and Giroux). “Bagaimana rasanya sekarang menjadi ‘dikenal’?” Kurang-lebih seperti itu ia iseng bertanya. Seperti biasanya, saya berbalik ke kapala dan mencari jawaban itu di sana. Saya tak menemukannya. Saya tak memiliki pertanyaan itu dan tak berpikir dengan cara seperti itu. Dengan agak malu-malu saya bilang, “Tidak tahu. Ini heboh karena diterbitkan dalam bahasa Inggris aja.” Ia tersenyum lalu termenung. Saya juga larut dalam pikiran sendiri. Banyak orang punya dunia yang lebih luas di dalam pikirannya. Sambil bercakap-cakap hal lain, beberapa di antaranya gosip yang membuat saya tersenyum, kami terus asyik dengan pikiran sendiri. Dia pamit sebelum pesta berakhir, saya juga. Pesta selalu menyenangkan, tentu saja. Tapi seperti Mrs. Dalloway, banyak orang memiliki pesta yang lebih seru di dalam kepalanya.

Djuna Barnes dan Bagaimana Bertahan dalam Cinta yang Menderitakan

Di Paris di antara dua perang, di antara para raksasa kesusastraan berkelamin lelaki seperti James Joyce, Ernest Hemingway, F. Scott Fitzgerald, dan Ezra Pound, ada satu perempuan penulis yang para pembaca sastra serius semestinya tak melewatkan: Djuna Barnes. Saya terpikir untuk sedikit menulis tentangnya, setelah dalam satu wawancara, saya diingatkan betapa sedikit saya membaca karya-karya para perempuan. Tentu saja saya sempat mengelak, bahwa kenyataannya kesusastraan dunia memang disesaki para lelaki dan sastra yang maskulin. Meskipun begitu, tak ada salahnya dalam beberapa jurnal ke depan, saya ingin menengok beberapa perempuan penulis yang sempat saya baca, dan barangkali menarik untuk dibagi. Novelnya yang paling terkenal, Nightwood, bukanlah jenis novel yang gampang dibaca. Disebut-sebut sebagai salah satu karya klasik dalam gerakan kesusastraan modernis (sebagaimana Finnegans Wake James Joyce), novel ini juga merupakan salah satu karya klasik dalam kesusastraan lesbian. Seperti judul yang saya pergunakan di jurnal ini, Nightwood bisa disederhanakan sebagai “bagaimana bertahan dalam cinta yang menderitakan”. Oh, tentu saja novel ini tak sesederhana itu, dan sekali lagi, ini bukan jenis bacaan yang gampang. Bercerita tentang perempuan bernama Robin Vote, yang meninggalkan seorang suami (seorang yang mengaku sebagai Baron bernama Felix, kenyataannya seorang Yahudi) setelah memberinya anak (Guido), dengan mengatakan, “Aku tak menginginkan ini.” Ini yang dimaksud adalah, ia tak menginginkan anak, tak menginginkan keluarga, tak menginginkan cinta mereka. Intinya ia tak menginginkan hidup yang dijalaninya dalam keluarga tersebut. Ia keluar rumah dan jatuh ke pelukan seorang perempuan bernama Nora, sebelum “meninggalkannya” dan berhubungan dengan perempuan lain bernama Jenny. Terlihat seperti kisah yang sederhana, dan memang kisahnya sederhana. Yang rumit (dan membuat novel ini menarik, dan saya rasa membuatnya istimewa), adalah bagaimana kisah sederhana tersebut dibawakan dengan cara yang dalam tingkat tertentu menjadi puitis. Tidak, yang saya maksud dengan “puitis” bukan dalam makna Barnes mempergunakan banyak bahasa berbunga-bunga (yang umum bisa ditemukan dalam banyak novel kita), tapi bagaimana ia memeriksa setiap peristiwa, setiap impresi, menjadi semacam epifani. Bagaimana setiap kejadian, setiap ungkapan perasaan, bisa dibawa ke satu analogi yang menurut saya tetap menyegarkan meskipun novel ini terbit pertama kali tahun 1937. Apa yang saya maksud sebagai puitis adalah, bayangkan setiap peristiwa, setiap analogi dan epifani di novel ini, sebagai baris-baris dalam puisi. Seperti yang saya suratkan dalam judul, novel ini terutama dilihat dari sudut pandang penderitaan Felix dan Nora dalam hubungan cintanya dengan Robin. Ada satu sosok yang saya pikir berada di atas mereka semua, menjadi semacam penelaah atau cermin pantul, seorang dokter bernama Matthew. Melalui monolog dan percakapan si dokter inilah, kita kemudian bisa memeriksa bagaimana kedua orang ini bertahan dalam cinta yang menderitakan. Bagaimana Felix dan Nora tetap mencintai Robin, bahkan meskipun Robin selalu meninggalkan mereka (dan sesekali bisa muncul dalam situasi yang tak bisa ditolak). “Baronin,” kata Felix, “Selalu mencari seseorang untuk memberitahu dia bahwa dirinya inosens.” Dengan kata lain, Robin (si Baronin) merupakan orang yang terus berjalan, mencari konfirmasi, dan tak mungkin ditahan di dalam rumah. Bahkan meskipun ia ditahan di rumah, saya bayangkan ia terus bertanya kepada suaminya, “Kau mencintaiku? Aku cantik? Aku baik?” dan sang suami harus bertahan dalam pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Satu analogi yang terus terbayang oleh saya diceritakan oleh Nora. Robin sekali waktu memberinya boneka. “Ketika seorang perempuan memberikan boneka kepada seorang perempuan, itu hidup yang mereka tak bisa miliki, anak mereka, suci dan profan,” kata Nora. Tapi betapa hancurnya Nora, ketika ia tahu Robin juga memberikan boneka yang sama ke perempuan lain (Jenny). Apa boleh buat, cinta dan kebahagiaan pada dasarnya bukan hal yang sama. Saya rasa si dokter menyiratkan hal itu dalam monolognya. Jangan mengharapkan kebahagiaan dalam cinta, itu tidak seperti rasa manis dalam gula. Cinta tak selalu memberi kebahagiaan, sebagaimana seseorang bisa bahagia tanpa cinta. Itu sesederhana sesuatu yang berbeda. Dan orang-orang ini, Felix dan Nora, bisa menjadi contoh bagaimana ada manusia yang terus bertahan dalam cinta yang menderitakan, bahkan berkorban untuk itu. Entahlah, apakah itu sejenis ketololan atau bukan. Selain membaca novel ini, saya pernah membaca potret singkat Barnes yang ditulis Javier Marías di Written Lives, dan saya merasa kehidupan Barnes sendiri kurang-lebih menyerupai kehidupan Robin (meskipun dalam novel ini, kita bisa melihat simpati si penulis justru ke para “korban” Robin). Dalam potret itu Marías menulis bahwa, beberapa orang yang mengunjungi dia dan menghabiskan berjam-jam percakapan, selalu berakhir dengan sakit kepala. Saya rasa, jika Anda sakit kepala membaca novel ini dan memikirkan hubungan tokoh-tokohnya, itu pun bukan hal yang mengejutkan.

Senyap yang Lebih Nyaring

Tugas seorang penulis, dan intelektual secara umum, adalah bersuara. Tapi sejarah memperlihatkan, ada kalanya penulis memilih pesan bisu. Satu waktu, Gabriel García Márquez dan Mario Vargas Llosa pergi menonton film di bioskop. Entah apa yang terjadi di dalam, keduanya terlibat adu jotos. Kita hanya tahu melalui satu foto terkenal di mana Márquez keluar dari bioskop sudah dalam keadaan mata membengkak. Sampai akhir hayatnya, Márquez memilih bisu tentang apa yang terjadi, demikian pula Llosa sampai hari ini. Ada yang bilang itu menyangkut pilihan politik mereka (Márquez dikenal sebagai orang kiri, Llosa dari kiri kemudian menjadi kanan-liberal), tapi ada juga yang bilang itu urusan perempuan belaka. Tak ada yang tahu. Kedua peraih Nobel itu memilih bisu. Seumur hidup mungkin tak akan ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan barangkali itu lebih baik. Kebisuan yang paling “mengharukan” bagi saya tentu saja kebisuan Albert Camus di tahun-tahun terakhir hidupnya, terutama menyangkut perseteruan dan pertengkarannya dengan Jean-Paul Sartre, orang yang pernah menjadi sahabat dekatnya. Camus tak hanya berhenti bicara dengan Sartre, juga berhenti menulis tanggapan secara langsung, dan tak juga bicara tentang Sartre dengan orang lain secara terang-terangan. Kita tahu pertengkaran mereka dipicu oleh dua hal: perang Alzajair dan dukungan Sartre untuk Uni Sovyet. Kita tahu, Sartre yang pada dasarnya “intelektual belakang meja”, dari keluarga borjuis Paris, merupakan pendukung komunisme Sovyet dan perjuangan Aljazair membebaskan diri dari koloni Prancis (dengan kekerasan). Di lain pihak, ironinya, Camus yang merupakan orang lapangan, yang bergerilya dan menerbitkan pamflet bawah tanah, si anak kere proletar, tidak mendukung Sovyet dan perang Aljazair dianggapnya hanya membuat rakyat Aljazair lebih sengsara (ia lahir di sana). Kita tahu pertengkaran mereka demikian meruncing hingga akhirnya Camus “ngambek” dan tak mau bicara lagi dengan Sartre. Jika bermain Facebook dan Twitter, pasti mereka sudah unfriend dan unfollow. Ada tulisan Sartre yang mengharukan mengenai kebisuan Camus, yang ditulisnya sebagai obituari setelah Camus meninggal dalam kecelakaan mobil. “Enam bulan lalu, atau bahkan kemarin, kami bertanya-tanya, ‘Apa yang akan ia lakukan?’” tulis Sartre. Ia mengakui mereka bertengkar, dan menghormati kebisuan Camus. Tapi itu tak menghalangi Sartre untuk terus bertanya-tanya, buku apa yang sedang dibaca Camus. Jika ia membaca koran, ia bertanya kepada diri sendiri, apa komentar Camus mengenai topik ini? Kadang ia juga mengaku, kebisuan Camus menyakitkan. Ia yakin suatu hari Camus akan bicara, akan berubah sebagaimana dunia berubah. Tapi Sartre salah. Camus tetap membisu hingga kecelakaan mobil menghentikan hidupnya. Kebisuannya terdengar menjadi sesuatu yang nyaring, dan saya rasa menggema panjang bahkan hingga hari ini. Saya baru membaca sepotong biografi, sejenis kesenyapan dan kebisuan lain dari seorang penulis bernama Djuna Barnes. Tinggal di Paris, di lingkaran para penulis semacam Joyce dan Pound dan Hemingway dan Fitzgerald, ia dikenal sebagai orang yang selalu diam di kerumunan, meskipun mereka juga mengakuinya sebagai “perempuan paling brilian di masanya”. Pamornya yang cemerlang, tapi kebisuannya yang misterius, bahkan membuat dua perempuan penulis yang memujanya “menderita”: Anaïs Nin dan Carson McCullers. “Senyap membuat pengalaman melangkah lebih jauh, dan, ketika itu mati, memberinya martabat sebagaimana terhadap sesuatu yang kita sentuh dan tak lenyap.” Saya suka kutipannya, dan membaca biografi dialah yang membuat saya teringat kebisuan-kebisuan lain dari penulis lain. Saya juga jadi teringat jurnal yang saya tulis beberapa bulan lalu: di tengah kebisingan, ketika semua orang bisa bersuara, apa tugas penulis? Jawaban saya saat itu dan saat ini tetap: diam. Ada kalanya kita memang harus diam. Tutup mulut dan berpikir lebih panjang. Sebab senyap seringkali memberi pesan yang lebih nyaring dari apa pun. Selamat Natal.

Written Lives

Pentingkah membaca riwayat hidup penulis? Orang bisa berdebat soal ini, tapi bagi saya, tulisan tentang apa pun asal ditulis dengan baik layak untuk dibaca. Jika kita bisa menikmati riwayat hidup seorang jenderal atau pemilik pabrik jamu, kenapa kita tak bisa menikmati riwayat hidup seorang penulis? Bahkan tanpa harus mengenal karya-karyanya sekali pun. Sayang sekali “biografi” sebagai sebuah genre sastra merupakan barang yang langka di Indonesia. Coba tengok, apakah sudah ada biografi otoritatif mengenai Pramoedya Ananta Toer? Saya yakin sampai lima tahun ke depan atau lebih, belum ada. Jangan sebut penulis-penulis lainnya. Oh, memang akhir-akhir ini ada banyak “biografi” di pasaran, tapi saya tak yakin saya minat membacanya. Kebanyakan dari pseudo-biografi ini isinya tak lebih dari omongan si tokohnya, sedikit mirip memoar tapi ditulis orang lain. Begini. Bagi saya, biografi yang baik pertama-tama harus menempatkan apa pun yang dikatakan si tokoh sebagai sumber sekunder, atau bahkan sumber kesekian. Sumber yang kebenarannya paling layak diragukan. Bukan lagi rahasia, tokoh apa pun cenderung bias bicara tentang dirinya. Yang kecil bisa dibesar-besarkan, yang memalukan bisa disembunyikan. Apa pun yang keluar dari si tokoh, hanya bisa dipegang jika bisa diverifikasi ke sumber lain. Ini yang jarang saya dapatkan di buku-buku pseudo-biografi. Saya memikirkan ini sambil membaca buku berjudul Written Lives karya Javier Marías. Buku yang menyenangkan, yang saya rasa memberi cakrawala tambahan mengenai genre biografi. Berisi riwayat hidup 20 penulis (plus dua tulisan tambahan mengenai beberapa penulis), yang disusun sedemikian rupa sehingga seolah-olah menjadi cerita tersendiri, meskipun Marías meyakinkan kita bahwa tak ada apa pun di tulisannya yang dikarang-karang, dan semua yang ada di sana bisa dilacak sumbernya di tempat lain. Tentu saja ini bukan “biografi” yang ideal, dan sang penulis juga tidak bermaksud seperti itu, melainkan lebih menyerupai potret. Ya, potret: sekelumit bagian hidup seorang penulis, seringkali dalam bentuk close-up. Dengan mengacu sumber-sumber tertulis, ia “menciptakan” sosok-sosok para penulis ini dalam sudut pandang dia, dan hasilnya merupakan potret-potret penuh ironi dan kelucuan. Sebut misalnya potret mengenai Mishima dalam “Yukio Mishima in Death”. Ada bagian di mana pada tahun 1967 terdengar rumor bahwa seorang penulis Jepang akan memperoleh Nobel. Mishima, yang terkenal sangat narsis dan percaya diri, yang saat itu sedang berpergian, memutuskan pulang dan mengaturnya agar saat mendarat persis beberapa saat setelah pengumuman Nobel. Bahkan ia sudah menyewa ruangan VIP, mungkin untuk konferensi pers. Ketika pesawat mendarat, ia keluar dengan senyum mengembang. Ya, tentu saja tak ada wartawan atau fans yang menunggu dan mengelu-elukannya, sebab tahun itu yang memperoleh Nobel adalah penulis Guatemala (Miguel Ángel Asturias). Dari tulisan yang lain, “William Faulkner on Horseback” saya baru tahu bahwa Faulkner, salah satu penulis yang terkenal melarat (As I Lay Dying ditulis selama enam minggu di waktu istirahat saat ia harus kerja malam memasukkan batu-bara ke tungku), ternyata punya hasrat belanja yang agak tak terkendali untuk: pakaian mahal dan kuda! (Ehm, saya akan mengingat dia jika saya tak bisa menahan diri membeli t-shirt mahal). Sekali lagi ini bukan buku biografi seperti yang saya idealkan, dan lebih menyerupai potret. Tapi bahkan melalui potret-potret seperti ini, kita tahu ada hal-hal yang tak mungkin keluar dari mulut si tokoh. Senorak-noraknya Mishima, dia pasti berkilah soal menyewa ruang VIP di hari pengumuman Nobel. Meskipun mengaku gemar membeli kuda mahal, Faulkner diam-diam saja soal kecenderungan membeli baju mahal. Begitu pula James Joyce saya rasa (di tulisan “James Joyce in His Poses”), tak bakal terus-terang mengaku ia depresi selama dua tahun terakhir hidupnya, karena novel Finnegans Wake tak memperoleh sambutan meriah sebagaimana diharapkannya. Masih perlukah membaca riwayat hidup para penulis? Menurut saya perlu. Bagaimanapun mereka manusia yang pernah hidup dan cerita tentang mereka barangkali berguna untuk hidup kita. Terutama jika itu ditulis dengan baik, dan tidak berisi bualan-bualan membesar-besarkan diri si tokoh.

Di Sini Monologue Intérieur Bermula

Mereka bilang di novel inilah monologue intérieur bermula. We’ll to the Woods No More. Edouard Dujardin. Ditulis di Paris tahun 1880an. Les lauriers sont coupés. Tanpa itu, tanpa teknik yang kemudian dikenal sebagai arus-kesadaran, novel ini mestinya hilang dari muka bumi. Terbit sekali kemudian dilupakan. Seperti jutaan buku lainnya. Omong kosong jika kau pikir menulis dan buku diciptakan untuk keabadian. Setiap hari orang menulis, setiap hari lahir buku baru, dan sebagian besar, 99,999999% akan hilang dari peradaban. Dilupakan. Percayalah. Survival the fittest, kata Darwin. Buku dan pemikiran tak ada bedanya dengan binatang. Ada yang punah, dan sedikit yang bertahan menghadapi ganasnya zaman. Penulis berusaha menulis sebaik-baiknya, berharap ia akan abadi, seperti seekor anjing mengharapkan kiriknya lahir sehat dan meneruskan spesies mereka. Alamlah yang akan menyiksa buku dan kirik ini, menghancurkannya dengan gila-gilaan. Menjadi artefak. Menjadi fosil. Novel ini, dengan caranya sendiri, memilih bertahan hidup. Bukan karena ia karya besar, bukan karena ia mengandung gagasan hebat, tapi semata-mata karena teknik yang dipergunakannya. Teknik, sayang. Pada akhirnya kesusastraan adalah keterampilan. Sebagaimana tukang kayu dihormati karena keterampilannya. Percuma memiliki gagasan besar jika kau tak terampil. Kau akan menjadi bahan tertawaan saja, Sayang. James Joyce membaca novel ini, tampaknya karena tak sengaja. Di perjalanan dari Paris ke Dublin tak lama setelah pergantian abad. 1902. Lama kemudian Joyce mencuri dari novel itu, si arus-kesadaran, untuk Ulysses. Ia mengakuinya, menyebut nama sang penemu. Dan Dujardin meledak gembira, karena novel kecil ini menjadi alas bagi satu novel besar. Menjadi dasar bagi satu gerakan besar. Di edisi setelahnya, Dujardin bahkan mendedikasikan novel ini untuk Joyce. Sebenarnya apa itu monolog interior? Tentu saja bukan sekadar monolog. Monolog, ngoceh sendiri, kemungkinan besar senantiasa dengan asumsi ada pendengar. Bahkan meskipun diri sendiri. Tidak demikian dengan monolog interior. Ia muncul seringkali tidak untuk didengarkan. Seringkali tanpa struktur. Seringkali merupakan kibasan-kibasan kesan. Jika kita menangkapnya dalam bentuk kata-kata, karena itu salah satu cara (yang sejujurnya lemah) untuk membuatnya ada. Monolog interior merupakan orkestra refleksi, abstraksi, kesan sejenak, mood, dibandingkan sebagai penceritaan aksi atau tindakan-tindakan. Kurang-lebih begitu menurut Dujardin. Saya yakin ia tak memikirkan itu ketika melakukannya. Ia mengatakan itu bertahun-tahun setelah novelnya terbit, bahkan setelah Ulysses juga terbit. Dan dalam novelnya, beberapa kali sejujurnya ia bocor. Si aku menceritakan tindakan-tindakan. Dan mengutip surat secara lengkap, alih-alih membiarkannya sebagai kenangan kacau. Tapi itulah gunanya membaca novel semacam ini. Kita bisa melakukannya jauh lebih baik, berabad-abad kemudian, setelah menemukan kesembronoannya. Bagi saya, monolog interior tak hanya ungkapan bagaimana pikiran bekerja, tapi terutama bagaimana dunia luar masuk ke dalam pikiran. Kadang-kadang ia runtut, seringkali tidak. Kadang-kadang logis, tak jarang tidak logis. Dunia luar masuk ke dalam pikiran, kemudian dikeluarkan kembali melalui kata-kata. Pembaca melihat dunia melalui apa yang ada di dalam pikiran. Begitulah. Monolog interior merupakan sejenis kode. Barangkali lebih menyerupai kode puisi daripada prosa. Tapi lupakan soal itu. Setiap orang berpikir dengan cara mereka sendiri. Dunia akan selalu berbeda di dalam pikiran setiap orang. Virginia Woolf memperlihatkan kepada kita dengan cara yang berbeda. William Faulkner juga. Dan novel ini … sejatinya saya menyukai ceritanya. Daniel Prince dan Leah. Oh. Seorang lelaki jatuh cinta kepada artis panggung. Diporotin. Berharap bisa tidur dengannya. Duitnya makin habis, dan ia belum juga menidurinya. Hingga kesempatan itu datang. Leah mengajaknya ke kamar. Tapi saat itulah ia berpikir, ia harus membuktikan cintanya. Cinta suci. Cinta murni, bukan cinta penuh nafsu. Ia akan menolak jika gadis itu mulai membuka pakaian. Tolol. Di dunia ini memang banyak lelaki tolol. Monolog interior mengajak kita masuk ke pikiran lelaki tolol, sebagaimana kita bisa masuk ke pikiran karakter macam apa pun. Tentu saja tak akan pernah sempurna. Bagaimanapun kata-kata tak akan pernah sempurna mewakili dunia. Dan pikiran manusia merupakan misteri gelap, yang kata-kata bahkan tak mungkin menaklukkannya.

Dua Tradisi

Saya selalu membayangkan ada dua tradisi besar dalam bercerita/menulis novel (saya rasa sebenarnya dalam kesusastraan secara umum). Pertama, tradisi menulis dengan wadah; kedua tradisi menulis yang bebas mengalir. Saya tak yakin apakah istilah itu tepat atau tidak, tapi mari kita membayangkannya. Tradisi pertama, berawal atau berkembang dipengaruhi oleh tradisi panggung. Tradisi kedua, tentu saja berawal atau berkembang melalui tradisi mendongeng. Penyebutan pertama dan kedua ini bisa kita bolak-balik. Saya tak mengasumsikan yang satu lebih utama dari yang lain. Kenapa tradisi dari panggung ini saya bayangkan sebagai tradisi menulis dengan wadah? Ya bayangkan saja panggung sebagai wadah. Ada ruang terbatas sebesar panggung. Ada durasi waktu sebuah cerita akan dipentaskan. Jangan lupa, penonton juga dikondisikan di situasi tertentu: duduk di tempat penonton, memandang panggung dari sudut pandang yang tetap. Artinya, ada ruang-waktu yang secara ketat membatasi sejauh mana cerita akan disajikan. Keadaan ini secara langsung tentu saja sangat berpengaruh terhadap cara dan teknik bercerita. Saya melihatnya, tradisi ini menciptakan satu aturan-aturan dramatik yang sangat ketat. Jika kamu pernah dengar dari editormu, buang bagian yang tidak mengganggu cerita jika ia menghilang, maka saya yakin, editormu merupakan bagian dari aliran ini. Aliran yang menjunjung tinggi efisiensi. Aliran ini memerhatikan dengan ketat kapan sebuah karakter harus muncul, kapan permasalahan ditampilkan, di bagian mana konflik memuncak. Tentu saja dalam menulis novel, kita tidak membayangkan panggung. Meskipun begitu, bukan berarti tradisi ini, tradisi bercerita dengan wadah, tak terasa di novel. Bahkan saya melihat, pengaruhnya sangat kuat sekali. Saya bisa menyebut, Hemingway berada di tradisi ini. Kebanyakan sekolah menulis, akan mengajarkan aliran ini. Kita tak memerlukan panggung untuk membuat batasan-batasan ruang dan waktu, karena kita menciptakannya sendiri. Tentu saja bapak dari aliran ini, saya akan membayangkannya: Shakespeare. Aliran kedua, yang bersumber dari mendongeng, tentu bersifat sebaliknya. Ia mengasumsikan bebas ruang dan waktu (meskipun ya sebenarnya tidak). Sebagaimana layaknya dongeng, ia bisa diceritakan di mana dan kapan saja. Nyaris tak ada batasan durasi (bisa bersambung bermalam-malam layaknya Syahrazad di Hikayat Serbu Satu Malam). Pendengar dongeng juga bisa mendengarkan dongeng dengan cara apa saja, sambil tiduran, duduk di belakang pendongeng, atau di mana pun. Tak ada ruang dan waktu yang mengungkung, karena itu aturan-aturan ketat tangga dramatik tidak dikembangkan di sini. Yang berkembang adalah justru teknik “hipnotis”, teknik mencengkeram minat pendengar dongeng dengan apa pun tergantung situasi (karena situasinya tidak bisa dikendalikan, sebagaimana keadaan di ruang pertunjukan). Kadang-kadang pendongeng mengambil teknik dramatik panggung, tapi lain kali ia mungkin menyanyi untuk membuat pendengarnya betah, lain kali ia melantur dulu ke cerita yang lain. Disgresi, permainan kata, bunyi, berkembang di aliran ini yang bebas-merdeka selama pendongeng yakin bisa mempertahankan pendengarnya. Di aliran ini kita bisa menemukan kisah yang semena-mena, novel yang tak ke mana-mana (bayangkan If On A Winter’s Night A Traveler Italo Calvino), alur yang maju-mundur bertumpuk-tumpuk (bayangkan novel-novel Faulkner). Ada kesan aliran ini seenak udel sendiri, tapi saya rasa kesusastraan tak akan berkembang banyak tanpa mereka. Saya bayangkan editor harus bekerja keras melihat novel-novel seperti ini (dan mereka kadang tetap memakai ukuran “wadah” untuk mengatasinya). Aliran ini juga berkembang pesat. Ada Marquez. Ada Salman Rushdie. Ada James Joyce. Bapak dari semua penulis ini, tentu saja saya akan menyebut: Cervantes penulis Don Quixote. Saya menaruh hormat pada kedua kecenderungan ini (eh, jangan dilupakan para penulis yang kadang berada di area abu-abu keduanya), dan jauh di dalam hati kecil saya, saya selalu berpikir kondisi ideal menjadi penulis adalah menjadi Shakespeare dan Cervantes di waktu yang bersamaan. Berpikir tentang wadah sekaligus merasa mengalir bebas, atau sebaliknya. Itulah kenapa kita sering berpikir tentang aturan-aturan dalam menulis (seolah kita membayangkan menulis untuk ruang-waktu tertentu seperti panggung), sekaligus punya hasrat besar untuk melanggarnya (membebaskan diri sebagaimana pendongeng).

Apa yang Saya Katakan Ketika Saya Bicara tentang Sastra

Sebagai penulis, tak jarang saya bertemu seseorang (penulis baru maupun pembaca) yang bertanya: “Apa itu sastra? Apa bedanya sastra dan bukan sastra?” Terus-terang saya malas menjawab itu, dan menganggap itu pekerjaan kaum akademisi, bukan penulis seperti saya. Kadang-kadang, saking malasnya, meskipun saya terpaksa menjawab pertanyaan itu, saya hanya akan menjawab: “Di dunia ini hanya ada dua jenis karya. Satu, karya yang saya sukai; dua, karya yang tidak saya sukai.” Jawaban itu kadang cukup untuk membuat orang berhenti bertanya, tapi tentu saja tak memadai dan sulit dipertanggungjawabkan. Problem ini terutama sangat terasa di novel. Saya hampir jarang mendengar orang bertanya, puisi tertentu sastra atau bukan? Semua puisi, seolah dengan sendirinya adalah karya sastra, dan para penyair, semuanya sastrawan. Cerita pendek kurang lebih sama. Pokok soalnya, tentu karena novel melahirkan begitu banyak genre. Sangat banyak. Begitu banyaknya, bahkan yang disebut novel sastra biasanya tak terlalu terdengar. Di toko buku, mereka hanya menempati ruang kecil yang nyaris tak terlihat. Sebagian besar yang dibaca orang jelas bukan novel sastra. Tapi karena di sekolah mereka hanya mengenal istilah “sastra” (adakah sekolah yang mengajarkan tradisi novel romans, kriminal, kependekaran atau genre lain?), mereka mulai menganggap semua yang mereka baca sebagai sastra. Hal ini pada gilirannya, memancing reaksi para sastrawan yang tentu akan (dengan sewot) menganggap karya lain itu sebagai bukan sastra. Lalu muncullah kebingungan, jadi yang mana sastra dan mana bukan sastra? Pokok soal kedua adalah, karena sastra sering dibahas kaum akademisi (di universitas bahkan ada Fakultas Sastra), “sastra” seolah-olah memperoleh kedudukan istimewa. Ia menjadi puncak pencapaian. Tentu saja bagi saya ini juga ngawur. Dunia penulisan bukanlah Liga Sepakbola yang memiliki jenjang dari divisi bawah hingga divisi utama. Seseorang yang menulis banyak (atau bertahun-tahun) novel romans tidak serta-merta naik pangkat jadi penulis sastra. Bukan saja karena itu absurd, tapi juga karena sastra tidak berada di atas romans. Bagi saya, itu sesederhana: berbeda. Di mana bedanya? Buat saya pribadi, yang paling gampang untuk melihat sesuatu sebagai sastra adalah: karya sastra memiliki kekhasan mengangkat atau mempertanyakan persoalan di dalam dirinya (yakni kesusastraan), eksplisit maupun tidak. Cara lain yang sering saya lakukan, karena latar belakang pendidikan saya, saya lebih suka melihat sastra seperti filsafat. Sangat penting dalam filsafat, ketika seorang filsuf memberikan pemikirannya, ia akan meletakkan pemikiran itu di dalam kerangka (peta) pemikiran-pemikiran filsuf lain. Artinya, sangat tidak masuk akal seseorang menjadi filsuf tanpa memperhitungkan filsuf-filsuf lain. Dalam sastra, karena ia mengangkat dan mempertanyakan persoalan di dalam dirinya, juga sangat penting untuk tahu di mana karya-karya sastra dan penulis lain berada. Jangan heran jika mendengar Haruki Murakami berkata, karya-karyanya merupakan upaya untuk mempertemukan Dostoyevsky dan Raymond Chandler, misalnya (Damn, Murakami sangatlah beruntung, karya-karyanya disukai oleh pembaca yang sebagian besar mungkin tak tahu atau tak peduli mengenai Dostoyevsky maupun Chandler dan apa pengaruh mereka terhadap karya-karyanya!). Contoh lain, karya-karya Borges sering dianggap sebagai sastra fantasi. Tentu saja berbeda dari para penulis “genre” fantasi, Borges mengolah dan mempertanyakaan kesusastraannya sendiri: apa itu fantasi? Apa yang bisa dilakukan oleh fantasi? Di genre lain hal seperti itu bukan tuntutan utama (mungkin saja ada yang menyerempet, dan dengan itu, ia menyerempet sastra). Tentu akan ada yang bilang, jika seperti itu, karya sastra cenderung akan menjadi konsumsi para sastrawan sendiri. Bisa jadi benar dan itu bukan sesuatu yang perlu dikeluhkan! Bukankah genre lain juga memiliki pembaca yang khusus? Percayalah, tak ada satu pun genre yang ditujukan untuk semua pembaca. Tentu saja pembahasan sastra dan bukan sastra mestinya lebih panjang dan kompleks dari sekadar tulisan ini (dan itu tugas akademisi!). Tapi saya pikir, sangat penting di usia kesusastraan Indonesia yang mulai berumur, untuk memulai tugas pembenahan ini. Tujuannya tentu saja, agar penulis dan pembaca bertanggung jawab terhadap pilihannya. Jika seseorang menulis sastra, ia mesti tahu tanggung jawab pilihannya (dan tak perlu petentengan). Jika seseorang menulis novel genre, ia tak harus sewot tidak dianggap sastra. Saya pikir setiap penulis, apa pun jenis yang ditulisnya, akan dihormati oleh satu-satunya ukuran yang bisa mencakup sastra maupun bukan sastra: kemampuan menulis. Agatha Christie merupakan penulis terhormat, sama seperti James Joyce, meskipun mereka menulis di bidang yang berbeda. Kita tak perlu membanding-bandingkan mana yang lebih hebat di antara mereka, seperti tak ada gunanya membandingkan siapa yang lebih hebat di antara Sebastian Vettel (F1) dan Valentino Rossi (MotoGP). Ketiadaan pengetahuan mengenai hal ini akan berakibat buruk, seperti yang selama ini kerap terjadi: banyak penulis yang merasa karyanya (yang susah dibaca, rumit dan melantur) sebagai karya sastra, padahal yang benar seringkali sesederhana ia tak bisa menulis.

Catatan: tulisan ini berutang gagasan kepada beberapa kicauan Maggie Tiojakin di Twitter (@maggietiojakin) mengenai persoalan yang sama.

Hak untuk Disebut

Seorang penulis pemula menulis cerita pendek yang secara gagasan, kerangka alur cerita, bahkan beberapa potong kalimat, sama dengan cerita pendek penulis lain yang lebih dulu terbit. Karena soal itu, saya berdiskusi dengan teman di satu penerbit mengenai “attribution right”. Saya belum tahu apa padanannya dalam Bahasa Indonesia, tapi gampangnya kita sebut “Hak untuk Disebut”. Hak ini sangat mendasar. Saya melihat, jika tak salah, pembela copyright maupun pendukung copyleft, sama-sama menghormati hak ini. Bahkan meskipun sebuah karya sudah memasuki domain publik, sang pengarang masih berhak atas hak ini, meskipun hak ekonominya mungkin telah lenyap. Nama Herman Melville akan terus ditulis sebagai penulis Moby Dick, misalnya. Demikian pula jika kita menulis sebuah karya, dan karya itu berdasarkan karya lain, atau mengutip karya orang lain, hak ini pun muncul. Kita harus menyebutnya, misalnya dengan cara: “Karya ini berdasarkan …”, “Kalimat ini dikutip dari …” Mengabaikan hak ini tak hanya berpeluang melanggar moral, bisa pula melintasi rambu-rambu hukum. Saya tak ingin membahas aspek hukum atau definisi mengenai hal ini, saya pikir persoalan ini dengan mudah dicari untuk diketahui. Tiba-tiba saya lebih tertarik melihatnya dari sudut tantangan estetik. Adakah? Tentu saja. Saya memikirkan ini sudah agak lama, ketika membaca kumpulan cerita pendek Carlos Fuentes berjudul Happy Families. Di bagian muka, kita berhadapan dengan satu kutipan dari Anna Karenina: “Semua keluarga bahagia, bahagia dengan …” (kita tahu kelanjutan pembukaan novel yang sangat terkenal tersebut). Tentu kita bisa mengatakan meletakkan kutipan tersebut di muka buku sebagai salah satu bentuk “penyebutan” Fuentes terhadap Tolstoy, seolah-olah mengatakan, seluruh cerita pendek di buku ini, meminjam pijakan dari novel Anna Karenina. Saya menjadi tertarik pada penyebutan kutipan tersebut terutama karena fakta bahwa judul buku tersebut “Keluarga Bahagia” sementara dalam bayangan saya, Anna Karenina lebih banyak menceritakan keluarga yang tak bahagia. Tentu ada satu paradoks yang ingin dipermainkan oleh Fuentes di sini, dan dengan cara itulah, ia ingin kita membaca kumpulan cerpennya sambil membayangkan (atau jika sempat, membaca ulang) Anna Karenina. Menyertakan satu kutipan dari karya orang lain di karya kita, saya pikir mestinya memang jauh-jauh dari sekadar “gaya-gayaan”. Selain ditempatkan sebagai “penyebutan”, satu sikap kerendahan hati bahwa “karya ini terinspirasi atau didasarkan pada karya itu”, bagi saya juga membawa konsekuensi tantangan estetik: dengan satu dan lain cara, karya kita akan diperbandingkan langsung dengan karya yang beberapa potong kalimatnya kita kutip. Pertarungan macam apa yang ingin ditawarkan seorang penulis dengan memperhadapkan karyanya dengan karya (mestinya) pendahulunya? Di luar soal kutipan, saya menemukan bentuk lain “penyebutan” ini, yang di satu sisi tampak tersamar, tapi di sisi lain juga sangat mencolok. Tidak terang-terangan mengatakan bahwa “karya ini terinspirasi atau didasarkan karya itu”, tapi di sisi lain jelas-jelas merujuk ke karya yang lain. Kita tahu novel James Joyce yang mengisahkan perjalanan Leopold Bloom mengelilingi Dublin diberi judul Ulysses tentu bukan tanpa sebab. Novel itu secara terang-terangan mengakui berdiri di atas pijakan karya Homer berjudul Odyssey (yang dilatinkan menjadi Ulysses). Joyce tak perlu mengatakan apa pun lagi, judul tersebut sudah mengatakan jauh lebih banyak dari apa yang perlu dikatakan. Tentu kita bisa saja membaca novel itu tanpa perlu membaca perjalanan Odyssey, tapi sekaligus novel itu seperti “meminta” untuk dibaca bersandingan dengan epik tersebut. Di sini Joyce jelas tak hanya memberi “hak penyebutan” terhadap Homer (siapa pun itu), ia membawanya ke petualangan estetik. Hal yang hampir sama kita temui di novel 1Q84 Haruki Murakami. Dalam Bahasa Jepang, “Q” dibaca sama dengan angka “9”. Mau tak mau, novel itu juga seperti meminta dibaca beriringan dengan 1984 George Orwell. Bersifat rendah hati bahwa karya kita berdiri di atas pijakan karya orang lain, saya percaya tak akan menghancurkan reputasi kita. Itu tak semata-mata penghormatan kepada penulis dan karyanya. Bagi saya jelas: itu juga merupakan tantangan estetik. Apa yang ingin kita tawarkan ketika mengolah karya orang lain dan membentuknya menjadi karya milik kita sendiri?

Pangandaran

Saya melewati awal tahun 2013 ini di Pangandaran. Saya selalu mencintai kota ini. Kecil dan berbau laut. Saya tidak lahir di sini, tapi tinggal di sini sejak berumur 10 tahun, dan meninggalkannya ketika saya masuk universitas. Bagaimanapun, ibu saya masih tinggal di sana, dan sesekali saya mengunjunginya. Kadang-kadang saya hanya di rumah saja, tak menginjakkan kaki sama sekali ke pasir pantai, seperti dilakukan kebanyakan pelancong. Menghirup aroma lautnya dari jendela kamar kadang-kadang sudah lebih dari cukup. Berjalan dari rumah ke minimarket sejauh seratus meter, sudah cukup untuk membakar kulit. Tapi ada waktu-waktu saya mengingat masa remaja saya. Sepulang sekolah, saya pergi ke pantai membawa novel (atau komik), dan duduk membaca di bawah pohon pandan. Pangandaran hanyalah kota kecil, tapi saya rasa para penulis pun tak berani melewatkannya. Di serial Wiro Sableng (Bastian Tito), sang pendekar pernah bertarung di Pangandaran (saya tak tahu apakah di masa para pendekar berkelana ke sana-kemari kota kecil ini sudah ada atau tidak, sudah memiliki nama seperti itu atau belum, tapi itu tak lagi penting, bukan?). Di novel-novel misteri Abdullah Harahap, kota-kota kecil di pantai selatan Jawa Barat (di mana Pangandaran salah satunya) selalu diidentikan dengan mistik, tempat orang mengirim santet, teluh, mencari ilmu hitam. Juga para pencipta lagu. Saya selalu suka lagu Doel Sumbang berjudul “Pangandaran”, tentang sepasang kekasih yang memadu cinta di pantai kota ini. Lagu tersebut dalam Bahasa Sunda, yang membuatnya terdengar lebih memabukkan di telinga. Sekali-dua, saya menyebut kota ini di cerita-cerita pendek saya, dengan penuh cinta. Saya membayangkan kota ini seperti Blanes (di pesisir Catalonia, Spanyol) bagi Roberto Bolaño, tempat sang penulis bahkan pernah menjual cenderamata. Saya suka berjalan memandangi toko-toko cenderamata, tempat kaos-kaos digantung, dimana orang-orang menumpahkan cinta ke kota ini, seperti James Joyce mengagungkan Dublin di cerpen-cerpennya. Mungkin itu berlebihan, tapi itu benar. Jika ada hal yang menyedihkan, tak ada toko buku di kota ini. Saya tak terlalu peduli hal-hal lain yang juga tak ada, tapi tak ada toko buku benar-benar menyedihkan. Juga tak ada perpustakaan. Tapi di kota tanpa toko buku dan perpustakaan ini, setidaknya seseorang yang pernah tinggal di sana sekali waktu bermimpi menjadi penulis. Hanya Tuhan yang tahu setan apa yang merasukinya. Bacaan saya sangat sedikit di masa-masa itu. Novel-novel silat, horor, romans picisan, itulah yang bisa saya peroleh. Juga cerita-cerita pendek dari majalah remaja. Selebihnya barangkali buku kisah para nabi dan orang-orang saleh. Oh, sekali waktu ayah saya pernah memberi satu antologi cerita pendek Australia. Dalam bahasa Inggris yang susah-payah saya coba baca. Saya tak ingat judul bukunya, tapi dua cerpen saya ingat: “The Cruise of the Nifty Duck” (Ray Harris?) dan “Laura Goes to School”. Saya juga tak terlalu yakin siapa saja penulisnya, apa ceritanya, hanya ingat dua judul itu. Saya tak tahu darimana ayah saya memperoleh buku itu. Tapi ia memang jenis ayah yang jika punya uang banyak, tak akan segan membeli semua buku yang ada di dunia untuk kami. Sayangnya ia tak punya uang banyak, jadi hanya beberapa buah buku pernah ia beli untuk kami. Bagaimanapun, saya tetap mencintai kota kecil ini, bahkan meskipun tanpa toko buku. Saya ingat, di awal masa-masa saya menulis, saya sering pulang ke sini hanya untuk menulis beberapa cerita pendek. Saya akan mengurung diri di ruang belakang, tempat ayah saya menyimpan bahan kaos dan cat sablon (ia memiliki usaha kecil membuat kaos cenderamata), dan menulis di buku tulis bergaris. Tanpa gangguan, ditemani kehangatan cuaca pantai, beberapa cerita pendek saya tulis di ruangan tersebut. Sekarang saya jarang menulis di sini, dan menggantinya dengan membaca. Saya selalu memenuhi ruang tersisa di tas saya dengan buku jika berkunjung ke sini. Barangkali kota ini memang dipenuhi energi mistis. Buat saya, energi itu mendorong saya untuk menulis, dan terutama membaca. Sekali waktu seorang teman pernah melemparkan lelucon, jika sekali waktu Indonesia berantakan dan terpecah-belah (seperti terjadi pada Yugoslavia dan Uni Sovyet), tanah air dan paspor mana yang akan saya pegang? Sekarang saya yakin, saya akan memilih memegang paspor “Republik Pangandaran”, meskipun seseorang pernah berkata, satu-satunya paspor yang layak dimiliki seorang penulis hanyalah karya yang (sangat) baik dan satu-satunya tanah air untuk penulis adalah Bahasa yang ia pergunakan.

Older posts

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑