Eka Kurniawan

Journal

Tag: Isaac Bashevis Singer

Panduan Membaca Knut Hamsun

Saya sering membaca seseorang membuat sejenis panduan dari mana harus membaca karya-karya seorang penulis yang meninggalkan begitu banyak karya, dan tampaknya semua karya itu penting untuk dibaca. Karena beberapa hari lalu saya menulis tentang Knut Hamsun, izinkan saya berbagi panduan (menurut saya) untuk memasuki dunia penulis Norwegia ini.

Sangat Penting Dibaca

Kategori pertama, tentu saja buku-buku yang menurut saya penting untuk dibaca. Untuk para pembaca yang baru mengenalnya maupun untuk para pembaca yang tak berminat membaca seluruh karyanya. Di kategori ini saya cenderung meletakkan novel-novel awalnya, terutama yang terbit di akhir abad ke-19, sebab di masa-masa itulah puncak kreativitasnya meledak. Ada banyak karya di masa ini (apa boleh buat, ia sangat produktif, dan panjang umur), Anda bisa membolak-balik urutannya. Saya hanya akan memilih tiga judul saja yang benar-benar harus dibaca: Hunger, Pan, dan Mysteries. Untuk dua novel pertama, ada terjemahan bahasa Indonesia karya Marianne Katoppo. Jika orang membayangkan karakter penulisan Knut Hamsun, bisa dipastikan sebenarnya datang dari novel-novel ini. Saya membayangkan novel-novel ini merayakan apa yang disebut oleh Milan Kundera sebagai “the lyric age”. Sebagai perayaan atas “aku”, atas keragu-raguan Cartesian, dan terutama perayaan atas usia muda. Membaca karya-karya ini kita akan merasakan pengaruh yang kuat dari Dostoyevsky, tapi perbedaannya sebagaimana kelak ditunjukkan oleh Isaac Bashevis Singer (fans paling berat), dalam karya-karya Hamsun, kita melihat tokoh-tokoh yang tak berakar (tak peduli ia menggelandang di jalanan Christiania) sementara di karya Dostoyevsky akar masyarakat Rusia sangat erat merekat ke tokoh-tokohnya.

Penting Dibaca

Jika masih punya hasrat untuk mengenalnya lebih jauh, tentu saja saya sarankan untuk membaca Growth of the Soil. Di waktu saya masih pengangguran dan hidup terasa lebih membosankan, saya pernah mencoba menerjemahkan novel ini. Hanya sanggup sampai bab 11, tapi saya masih menyimpan arsip terjemahan itu sampai sekarang. Novel inilah yang menjadi alasan Akademi Swedia menganugerahi sang penulis dengan Nobel Kesusastraan. Novel ini merupakan titik perubahan kepengarangan Hamsun. Jika di karya-karya awalnya ia menampilkan sejenis lirisisme, perayaan atas aku, melalui novel ini Hamsun mulai melirik ke arah novel epik. Kita melihat tokoh-tokoh yang memiliki relasi dalam tatanan sosial, dan semakin sedikit penjelajahan ruang dalam jiwa manusia. Saya tak menganggap novel ini sebagai karya terbaiknya (meskipun banyak yang mengatakan begitu), tapi di antara novel-novel epiknya (dan yang tebal-tebal), tentu saja ini yang terbaik.

Untuk Pencinta Sastra

Untuk sebagian besar orang, membaca empat novel Hamsun di atas saya rasa cukup. Tapi jika Anda seorang pencinta sastra, memiliki banyak waktu luang dan menghendaki karya yang baik, saya akan melanjutkan daftar rekomendasi di kategori ini. Daftar ini akan berisi beberapa novel yang sama bagusnya dengan novel-novel di atas, atau setidaknya nyaris berada di level yang sama. Tapi karena dalam banyak hal novel-novel ini memiliki kemiripan (tema, gaya), maka saya simpan di sini. Membaca novel seperti Victoria dan Dreamers, kita akan menemukan kualitas-kulitas yang kita temukan di karya-karya awalnya. Bahkan novel-novel ini, dalam banyak hal mengingatkan kita kepada Pan.

Untuk Penggemar Hamsun

Jika Anda memantapkan diri sebagai penggemar Hamsun, tentu saja Anda harus terus melaju membaca karya-karya “minor” lainnya. Sebagai salah satu penggemar Hamsun, saya sudah melewati bagian ini. Bahkan melalui novel-novel minornya, kita bisa belajar banyak hal. The Wanderer, merupakan salah satu novelnya di kategori ini yang sering saya baca ulang hanya karena satu hal: ia mengajari saya menulis deskripsi dengan indah dan tak membosankan. Salah satu harta-karun untuk menulis dengan pendekatan “to show”. Tentu ada karya-karya lain, kebanyakan dari tradisi epik yang lahir di awal abad ke-20, seperti The Women at the Pump, The Wayfarers, dan The Ring is Closed. Selain itu ada satu kumpulan cerita pendek (sesuatu yang langka, karena Hamsun tampaknya lebih senang menulis novel), Tales of Love and Loss.

Untuk yang Sinting

Seperti saya bilang di atas, Knut Hamsun berumur panjang (lewat 90 tahun) dan produktif menulis. Jadi ada banyak karyanya di luar yang sudah saya sebut di atas. Jika karya-karya tersebut telah diterjemahkan ke bahasa Inggris, sudah pasti susah menemukannya. Dalam hal ini termasuk dua jilid kumpulan surat-suratnya. Apakah Anda cukup sinting untuk memburu karya-karya yang tersisa ini?

Knut Hamsun Memimpin Pasukan Gerilya

Jika di zaman ini kita memutuskan untuk berperang melawan pemerintah yang sah, dengan kata lain membentuk pasukan gerilya, saya membayangkan pasukan itu seharusnya dipimpin oleh Knut Hamsun, atau berisi tokoh-tokoh di karyanya. Saya rasa komandan pasukan gerilyawan memerlukan sejenis kesintingan, keberanian, dan sekaligus ketidak-berakaran sejenis penulis ini. Pertama-tama, seorang gerilyawan sejati haruslah seorang pengembara, musafir, dan gelandangan abadi. Itu semua ada dalam diri Hamsun. Kita bisa menyebut hampir seluruh tokoh di karyanya merupakan pengembara, sekaligus musafir dan gelandangan. Bahkan judul-judul novelnya menyuratkan hal itu: The Wanderer, The Wayfareres, The Vagabond. Tanpa semangat mengembara dan menggelandang, pasukan gerilya akan habis dibantai tentara reguler di kesempatan pertama baku-tembak. Kualitas kedua dari pasukan gerilya, saya rasa sangatlah jelas, kita haruslah menjadi kaum pemimpi. Tak mungkin kita memutuskan masuk ke dalam hutan, atau bergerak di bawah tanah, jika kita tak punya impian. Impian yang barangkali sulit diwujudkan dengan cara sederhana dan biasa. Tokoh-tokoh Hamsun dipenuhi orang-orang (kebanyakan pemuda) yang hidup dengan impian-impian mereka. Impian yang bukan dalam arti cita-cita besar, tapi lebih sering mereka memang tenggelam dalam impian itu sendiri, yang entah apa. Yang membuat tokoh-tokoh ini seperti tercerabut dari masyarakat dan lingkungannya. Kita melihat tokoh-tokoh semacam ini di Hunger dan Mysteries. Kualitas lain yang harus dimiliki seorang gerilyawan, saya rasa kemampuannya untuk menjadi penyendiri. Ya, kita tahu, namanya juga pasukan, tentu saja pasukan gerilya harus terdiri dari banyak orang. Tapi berbeda dengan pasukan tentara reguler, seorang gerilyawan semestinya bisa beroperasi sendiri. Pertama, sudah jelas bukan hal yang mudah untuk merekrut anggota pasukan gerilya. Kedua, bahkan jika bisa membangun satu pasukan gerilya, besar kemungkinan tentara reguler berhasil menghabisi mereka hingga yang tersisa hanya komandannya, atau anggota pasukan yang paling beruntung. Kita bisa melihat kualitas-kualitas semacam ini juga ada di tokoh-tokoh Hamsun. Di novelnya yang terkenal, Growth of the Soil, kita bertemu Isak. Ia tak hanya mencerabut diri dari masyarakat, tapi terbukti mampu “beroperasi” sendiri di dalam hutan. Menebang kayu, bertani, berternak. Di novel ini kita seolah-olah melihat satu peradaban kecil, satu kekaisaran yang dibangun hanya oleh sepasang tangan manusia. Di novel lainnya, Pan, kita akan bersua Letnan Thomas Glahn yang juga menyendiri ke dalam hutan, hanya berteman senapan dan anjing peliharaan. Dan jangan lupa, di novel-novel lain yang sudah saya sebut sebelumnya, kita juga akan bertemu para penyendiri ini. Para pengembara penyendiri dan para pemimpi penyendiri. Sendirian mereka mencoba menaklukkan dunia di sekitar mereka. Baiklah, ada satu hal penting terakhir mengapa Knut Hamsun harus memimpin pasukan gerilya, atau kita balik, kenapa para anggota dan komandan pasukan gerilya harus belajar dari Knut Hamsun. Dalam sebagian besar novelnya, dan belajar dari tokoh-tokohnya, kita akan bertemu karater-karakter skeptis. Tentu ini berbeda dengan kebanyakan pasukan gerilya yang pernah ada di dunia, yang umumnya memegang teguh satu keyakinan. Saya katakan, keyakinan yang teguh cepat atau lambat akan menghentikan semua operasi gerilya. Pasukan gerilya akan berhenti oleh keyakinan mereka sendiri, baik melalui kemenangan gemilang maupun melalui kekalahan menyakitkan. Hanya orang-orang skeptis yang meragu-ragukan segala hal (Hamsun bahkan meragu-ragukan keragu-raguan itu sendiri, demikian komentar Isaac Bashevis Singer), yang bisa bergerilya terus-menerus. Melawan tanpa henti. Bergerilya untuk bergerilya.

Berbagi Mengenai Penerjemahan

30 September merupakan Hari Penerjemahan Internasional. Mari bicara tentang ini. Tak bisa disangkal, banyak penulis berharap karyanya diterjemahkan ke bahasa asing. Tak hanya membuka ruang pembaca baru, tapi terutama tentu saja sedikit gengsi: karya yang diterjemahkan setidaknya mengindikasikan karya tersebut memiliki nilai atau kualitas tertentu. Beberapa orang barangkali beruntung menguasai lebih dari satu bahasa sehingga bisa melakukannya sendiri. Isaac Bashevis Singer, salah satu yang saya tahu menerjemahkan karyanya sendiri (sebagian) ke bahasa lain. Tapi tentu tak semua orang seberuntung itu. Bahkan meskipun bisa melakukannya, atau nekat melakukannya, juga bukan hal yang gampang menerbitkan karya terjemahan. Banyak orang buta mengenai hal ini. Saya salah satunya. Sekarang sedikit bisa melihat, meskipun boleh dibilang masih rabun. Saya ingin berbagi sedikit mengenai pengalaman saya, siapa tahu berguna bagi penulis lain. Saya tahu banyak penulis dan karya dalam kesusastraan kita, yang layak untuk dibaca di luar teritori bahasa kita. Baiklah, sekali lagi, seperti kebanyakan penulis di sini, saya buta soal penerjemahan karya ke bahasa asing. Saya tak kenal penerjemah, tak kenal penerbit di luar, atau intinya, saya tak punya kenalan siapa-siapa. Diperparah oleh kenyataan saya punya kecenderungan bekerja sendiri, tak punya komunitas dengan jaringan luas dan kemampuan keuangan yang mampu mengirim anggotanya ke berbagai acara kesusastraan di luar, hanya memiliki sekelompok teman yang nasibnya kurang-lebih sama seperti saya. Satu-satunya yang bisa saya lakukan hanyalah menulis sebaik mungkin, menerbitkannya di sini, dan berharap ada orang yang menyukainya. Dalam keadaan seperti itu, ketika Cantik Itu Luka diterjemahkan dan terbit dalam Bahasa Jepang (2006), bisa dibilang itu kebetulan. Ibu Ribeka Ota (ia menerjemahkan karya Murakami ke bahasa Indonesia juga), orang Jepang yang tinggal di Semarang, kebetulan membaca novel itu dan menyukainya. Atas inisiatifnya sendiri, ia menerjemahkan novel itu. Entah berapa lama. Saya rasa ia melakukannya karena hobi, sebab ia tak menghubungi saya maupun penerbit saya pada awalnya. Hingga satu hari, sebuah agen (literary agent) yang bermarkas di Tokyo menghubungi saya, bilang ada penerbit Jepang ingin menerbitkan novel itu. Saya senang dan kaget, tentu saja. Semakin kaget ketika tahu, naskahnya sudah siap dan tinggal terbit. Dari merekalah saya kemudian berkenalan dengan Ibu Ribeka Ota. Ia masih memperbaiki naskah novel tersebut dengan berkonsultasi ke saya (saya ingat mengiriminya foto-foto pohon untuk menunjukkan nama pohon yang tidak dimengertinya), sebelum terbit. Itu buku pertama saya yang terbit dalam bahasa asing. Saya rasa, nasib saya sangat baik. Hal itu juga terjadi dengan edisi Malaysia untuk novel yang sama. Bahkan bisa dibilang, saya sama sekali tak berhubungan dengan penerbit maupun penerjemahnya. Kami diperantarai pihak ketiga, hingga buku itu akhirnya terbit. Hal yang sama terjadi dengan novel Lelaki Harimau. Ada sebuah penerbit dari Italia yang mengirim orang ke Indonesia untuk mencari karya-karya lokal untuk diterjemahkan dan terbit di sana. Saya tahu ia mengambil beberapa karya penulis Indonesia lainnya. Saya tak tahu bagaimana ia kemudian memutuskan mengambil novel saya juga (L’Uomo Tigre, dari informasi penerbitnya, akan terbit awal tahun depan). Tiga kasus itu hanya menunjukkan betapa pasifnya saya. Saya yakin, tak hanya saya, tapi sebagian besar penulis Indonesia juga sepasif itu. Sebagian besar karena saya buta soal urusan ini. Lagipula menunjukkan hasrat agar karya diterjemahkan ke bahasa asing, untuk standar moral saya, agak memalukan (meskipun sebenarnya sah-sah saja). Hal ini sedikit berubah setelah saya bertemu dua sahabat baik: Ben Anderson dan Tariq Ali. Dalam beberapa pertemuan, Ben sedikit mengkritik sikap pasif saya. Saya sadar, seambisius apa pun kita, kita cenderung menyembunyikannya. Saya termasuk, tentu saja. Tapi Ben mengingatkan satu hal yang sangat penting: terjemahan yang buruk akan memberi kesan yang buruk terhadap karyamu. Itulah kenapa ia menyarankan saya lebih aktif. Ia menyarankan saya untuk memulai memikirkan penerjemahan karya saya ke Bahasa Inggris dan Perancis sebagai awalan. Kedua bahasa itu bisa dibilang lingua franca. Pintu gerbang untuk ke seluruh dunia. Meskipun saya mengerti, saya toh tak bisa berbuat apa-apa juga. Memang apa yang bisa saya lakukan? Selama bertahun-tahun sejak obrolan itu, bisa dibilang saya tak melakukan apa pun. Hingga satu hari saya bertemu dengan Tariq Ali, makan siang bersama di satu restoran Jepang di Kemang. Ia galak. Tentu saja galak, sebab ia memang aktivis. Dia orang yang diceritakan oleh The Rolling Stones dalam lagu “Street Fighting Man”. Dia yang muncul di satu episode novel Bad Girl Mario Vargas Llosa sedang teriak-teriak di jalanan London. Dia bilang, “Karyamu harus dibaca pembaca berbahasa Inggris” dengan nada seolah saya tak punya pilihan lain. “Cari penerjemah sekarang juga.” Sejujurnya saya agak terteror waktu itu. Hampir setiap bulan dia bertanya, sejauh mana prosesnya? Saya hanya membalas dengan basa-basi, sebab kemajuan saya bisa dibilang sangat lambat. Atau tak bergerak sama sekali. Bagaimana bisa bergerak, saya bahkan tak kenal penerjemah? Hingga akhirnya, setelah memperoleh kepastian dari Verso bahwa mereka akan menerbitkan karya saya (Lelaki Harimau/Man Tiger), saya memberanikan diri menghubungi beberapa penerjemah, untuk memberi contoh terjemahan 1-2 halaman. Contoh-contoh itu dikirim ke London (untuk Tariq) dan Los Angeles (untuk Ben). Kami akhirnya memilih Labodalih Sembiring untuk menerjemahkan karya tersebut (hampir dua tahun prosesnya, dan novel itu rencananya terbit 19 Mei 2015). Di hari yang sama ketika bertemu Dalih untuk membicarakan proyek tersebut, di Yogya, saya juga bertemu dengan Annie Tucker. Itu terjadi di awal 2012. Saya sudah berhubungan dengannya melalui surel selama beberapa minggu sebelumnya. Intinya, ia ingin menerjemahkan Cantik Itu Luka. Jujur saja, ini kebetulan. Kebetulan ada yang menyukai novel itu dan tertarik menerjemahkannya. Terjemahannya bagus dan saya suka. Tapi saya tak ingin proyek Annie berjalan seperti kasus-kasus sebelumnya, di mana proyek itu berjalan sendiri tanpa keterlibatan saya. Saya sudah sedikit mempelajari seluk-beluk soal penerjemahan dan penerbitan sehingga saya setidaknya tahu apa yang saya inginkan. Setidaknya, novel itu bisa saya bawa ke Verso juga, tapi jika ada kesempatan lain kenapa tidak diusahakan. Sebelum saya memberi izin Annie meneruskan terjemahan itu, saya meminta bertemu dengannya. Kami kemudian membuat kesepakatan. Saya ingin membagi kesepakatan saya di sini, karena saya pikir ini sangat penting dan siapa tahu bisa menjadi masukan untuk penulis lain. Ada dua syarat yang saya minta ke Annie: 1) Ia harus menyelesaikan terjemahan itu, tak peduli ia memperoleh dana (entah dari mana) atau tidak. 2) Saya tak ingin buku itu terbit di Indonesia. Saya hanya mau itu terbit di negara Berbahasa Inggris. Saya sadar, itu syarat berat. Annie merupakan penerjemah baru. Syarat pertama barangkali bisa dilakukannya, karena rasa senang dan hobi. Tapi syarat kedua? Seperti saya, ia juga tak kenal penerbit di luar. Termasuk di Amerika, tempat tinggalnya. Saya sendiri tak punya pilihan lain. Saya tak ingin karya saya diterbitkan dalam terjemahan, tapi tak dibaca. Saya ingin lebih serius soal ini. Tapi Annie ternyata menyanggupinya. Ia mengerjakannya di antara waktu luang mengerjakan desertasi. Ia mengajukan dana beasiswa untuk penerjemahan itu, dan beberapa ada yang lolos. Yang paling penting adalah ketika proyek itu memperoleh bantuan dana dari PEN Center Amerika. Draft terjemahan saya di sana dibaca salah satu orang penting di penerbitan sastra Amerika, Barbara Epler. Dia pemimpin New Directions. Dia editor yang mengakuisisi penulis-penulis seperti Roberto Bolaño dan Cesar Aira. Ketika ia menghubungi saya dan menyatakan minat untuk menerbitkan Beauty is a Wound, saya tahu saya tak mungkin menolaknya. Buku ini direncanakan terbit tahun depan. New Directions menginginkan buku itu terbit berdekatan dengan Indonesia sebagai tamu kehormatan di Frankfurt Bookfair, meskipun saya tak tahu, apa urusan buku saya, saya, dan acara itu. Pada saat yang sama, manuskrip Man Tiger rupanya beredar di beberapa editor penerbit Eropa. Salah satunya Sabine Wespieser Editeur dari Perancis, yang segera menghubungi saya dan berminat menerbitkan novel itu ke dalam bahasa Perancis (akan disusul dengan Cantik Itu Luka). Tak ada alasan untuk saya menolak, kan? Saya hanya memastikan bahwa saya ingin berkomunikasi dengan penerjemahnya. Nasihat Ben terus terngiang-ngiang, “Penerjemahan yang buruk akan meninggalkan kesan yang buruk tentang karyamu.” Selama hampir setahun proses penerjemahan, saya tak hanya berhubungan melalui surel dengan Pak Etienne Naveau, sang penerjemah, tapi juga telah bertemu dua kali di Jakarta. Saya tak tahu proses ini akan membawa saya (dan karya saya) ke mana. Jujur, sebenarnya saya hanya ingin menulis dan membaca saja, tapi urusan-urusan semacam ini pada akhirnya tak terelakkan. Dan tentu sama seriusnya. Dan naluri saya yang kemudian mengatakan: saatnya berhenti sejenak. Saya tak lagi membicarakan prospek menerjemahkan karya saya ke bahasa lain untuk sementara, setidaknya sampai edisi Inggris dan Perancis terbit. Mungkin saya salah. Tapi saya merasa dua bahasa itu merupakan salah dua pintu gerbang, yang harus dibuka lebih dulu sebelum membuka pintu-pintu yang lain. Semoga catatan saya bermanfaat untuk penulis-penulis lain. Saya akan senang sekali jika bisa melihat karya-karya penulis Indonesia beredar di rak toko-toko buku berbahasa asing, dan mereka dibicarakan bukan karena mereka penulis Indonesia, tapi sesederhana karena mereka penulis yang bagus.

Out Stealing Horses, Per Petterson

Hari ini seorang teman bertanya, apa yang membuat saya menyukai karya-karya Knut Hamsun. Ia mengingatkan saya, tak banyak pengaruh Hamsun dalam karya saya, juga mengingatkan saya, bahwa Hamsun dekat dengan Nazi. Saya tak tertarik dengan Nazi-nya, jika ia memang seorang Nazi. Seorang Marxis dan komunis seperti Maxim Gorky mengagumi karya-karya Hamsun juga. Seorang Yahudi seperti Isaac Bashevis Singer juga pengagum Hamsun. Dengan mudah kita melihat pengaruh Hamsun di kedua penulis tersebut. Bagi saya, realisme Hamsun memang menarik. Metodenya seperti membalik apa yang dilakukan Dostoyevsky. Jika Dostoyevsky menceritakan manusia dengan cara menerobos masuk ke dalam diri manusia, Hamsun memakai cara yang sama mengeluarkan isi manusia ke lingkungan sekitarnya. Di Growth of the Soil, kita membaca jiwa si manusia melalui apa yang dilakukannya di tengah hutan, bagaimana ia menebang pepohonan, memelihara ternak, berkebun. Si tokoh yang bahkan tak banyak bicara ini, kita bisa mendengarnya sebagaimana kita serasa mencium aroma jerami, tai ternak, dan udara hutan. Saya bukan penggemar sastra Norwegia, juga bisa dibilang tak tahu apa-apa soal itu. Tapi di kepala saya, penulis yang memuncaki hirarki kesusastraan versi saya adalah Knut Hamsun, penulis Norwegia. Saya tak yakin saya akan menulis novel, bahkan menulis blog ini, tanpa pernah mengenal Hamsun. Saya menyinggung soal sastra Norwegia karena pernah seorang teman berkata, “Jika ada sastrawan Indonesia terkenal di dunia, dunia pasti akan memerhatikan kesusastraan Indonesia.” Sebagai warga negara yang baik, saya harus akui, impian semacam itu tentu saja indah. Tapi saya tak terlalu yakin dengan kenyataannya. Saya menyukai Gabriel García Márquez, tapi itu tidak dengan dengan serta-merta membuat saya penasaran dengan sastra Kolombia. Saya tidak yakin juga, sebagian besar orang yang menyukai Milan Kundera akan dengan serta-merta penasaran pengin tahu kesusastraan Ceko. Sebagian besar penulis terikat dengan kesusastraan negaranya, tapi dalam banyak kasus, seorang penulis dan karyanya menarik karena ia adalah dirinya, bukan karena bagian dari kesusastraan tertentu. Meskipun begitu, ketika saya menemukan dan membaca novel Out Stealing Horses karya Per Petterson, dan mengetahui ia penulis Norwegia, mau tak mau saya teringat kepada berhala saya, Hamsun. Dan semakin membaca halaman demi halaman novel tersebut, saya semakin melihat di sana-sini Hamsun seperti muncul kembali. Barangkali karena lanskap dan cara bercerita mereka yang mengingatkan satu ke yang lainnya. Hutan dan penebangan pohon di novel ini mengingatkan saya ke hutan di Growth of the Soil (meskipun saya rasa, yang satu di bagian selatan, yang lain di utara), atau lanskap hutan di Pan. Suasana pedesaan dan penghuninya (ah, termasuk gadis pemerah susu yang membuat kemaluan si tokoh menggelembung di balik celananya), mengingatkan saya pada suasana pedesaan di The Wanderer. Cara Per Petterson mendeskripsikan lanskap dan lingkungan sekitar untuk memberi suara kepada dunia dalam si tokoh, saya rasa merupakan warisan Hamsun yang sudah saya sebut di atas. Meskipun begitu, ada hal yang sangat jelas membedakan keduanya. Di sebagian besar (jika tak bisa bilang semuanya!) novel Hamsun, cerita didorong oleh motif-motif dan kehendak yang keluar dari si tokoh utama (dan biasanya, memang hanya menceritakan satu tokoh utama). Di Hunger, seluruh bangunan cerita disusun oleh motif si tokoh yang ingin menjadi penulis. Di Growth of the Soil, peristiwa demi peristiwa terjadi diawali oleh keputusan si tokoh untuk masuk hutan dan membangun “peradaban” di sana. Di The Wanderer, semuanya dimulai karena kehendak si tokoh untuk mengembara. Dalam hal ini, Per Petterson sedikit berbeda: nasib si tokoh tidak melulu ditentukan oleh pilihan dan kehendaknya, tapi boleh jadi oleh apa yang dilakukan oleh orang lain. Dalam hal ini, bagaimana si tokoh terpengaruh oleh apa yang dilakukan ayahnya dengan perempuan lain, dan oleh peristiwa penembakan seorang bocah sepuluh tahun atas saudara kembarnya. Ini dua tradisi bercerita yang sangat berbeda. Yang satu seperti efek domino di mana satu kartu dijatuhkan dan akan menjatuhkan kartu-kartu lain secara berkesinambungan, yang kedua seperti permainan karambol (atau biliard), di mana satu bola digerakkan dan membuat beragam gerakan berantai (yang sangat tak beraturan) tergantung posisi bola-bola lain. Meskipun dalam karya-karya Hamsun kita seperti melihat garis lurus, membaca Per Petterson ini membuat saya kangen membaca kembali novel-novel Hamsun. Ada yang kurang dimiliki Petterson tapi dimiliki Hamsun secara melimpah: humor.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑