Eka Kurniawan

Journal

Tag: Intan Paramaditha

“There are many young talented writers who are well-read, such as Andina Dwifatma and Norman Erikson Pasaribu. Poets Mario F. Lawi and Aan Mansyur have also caught my attention with their poetry. And don’t forget those from my own generation: Intan Paramaditha, Ugoran Prasad, Ratih Kumala, Puthut E.A., Gunawan Maryanto, Agus Noor, and some others. I think the landscape of our literature is very varied. It’s only a matter of time until the world discovers it, I believe.”

An interview from Jakarta Globe.

Indonesian Greatest Writers and Some Talented New Generations

jplus_160815

Here is my glimpse view of Indonesian greatest writers, and some talented writers of our new generation (from JPlus, 16 August 2015).

Kisah Fantasi + Spekulasi Filsafat = Jorge Luis Borges

Jika boleh menyederhanakan, formula cerpen-cerpen Borges menurut saya bisa dikatakan adonan antara kisah fantasi dan spekulasi filsafat. Kalau penasaran, sila baca artikel saya “Kosmologi Borges”, tapi di sini saya terutama ingin menunjukkan bahwa kreatifitas pada dasarnya merupakan upaya membuat adonan baru dari sesuatu yang ada sebelumnya. Para ahli toh sudah banyak yang bilang bahwa tiga tahap kreatifitas itu sederhana. Pertama, kita meniru. Makanya, jangan buru-buru main hakim jika melihat seseorang meniru kreatifitas orang lain, atau memergoki anak kita mencontek. Meniru merupakan tahap awal kreatifitas. Yang harus ditanamkan adalah jangan membiasakan diri mengaku karya orang lain, apalagi memperoleh keuntungan dari pekerjaan orang lain, sebab itu sudah kriminal. Meniru bukanlah mencuri, atau mengaku, tapi sebuah usaha menempatkan diri di tempat orang lain dan mencoba melakukan hal yang sama yang telah dilakukan orang lain. Jika saya meniru lukisan Van Gogh, saya mencoba menempatkan diri di tempat Van Gogh dan mencoba melukis bunga matahari persis seperti yang dilakukannya. Biasanya tidak sama bagus, tapi setidaknya kita belajar sebuah proses kreatifitas langsung ke seorang master (meskipun secara imajiner). Ketika Borges menulis “The Story of the Two Dreamers”, saya rasa dia mencoba meletakkan dirinya di tempat Sir Richard Burton ketika menerjemahkan “The Ruined Man Who Became Rich Again Through A Dream”. Perbedaannya, Burton menerjemahkan karya itu dari Arab ke Inggris, sementara Borges membayangkan dirinya menerjemahkan ke Spanyol. Dan pada dasarnya, proses penerjemahan kurang-lebih sama seperti proses meniru, makanya banyak penulis mengawali karirnya belajar menulis melalui penerjemahan. Tahap kedua, setelah meniru, adalah memodifikasi atau mengubah karya orang lain. Di tahap ini seseorang tak lagi meniru, tapi mulai menambah atau mengurangi sesuatu secara sadar. Menyadur sebuah karya bisa dianggap merupakan proses modifikasi. Demikian pula parodi, saya kira. Sebagian besar karya awal Borges di A Universal History of Infamy, saya rasa merupakan proses modifikasi dari karya-karya atau sumber-sumber lain. Banyak penulis lain melakukan hal yang kurang sama: mengambil ide pokoknya, lalu mengembangkannya sendiri ke arah lain. Kita tahu Borges menulis buku The Book of Imaginary Beings, sejenis eksiklopedia mengenai makhluk-makhluk imajiner. Italo Calvino mencomot gagasan ini dan mengembangkannya menjadi Invisible Cities, yang kurang-lebih sama: tentang kota-kota imajiner. Roberto Bolaño saya kira juga berangkat dari gagasan yang sama dan memodifikasinya ketika ia menulis Nazi Literature in the Americas, tentang penulis-penulis dan kesusastraan sayap-kanan imajiner di dataran Amerika. Bahkan di tahap modifikasi ini pun, kreatifitas kadang menciptakan hal-hal hebat. Setelah meniru, memodifikasi, tahap terakhir kreatifitas adalah mencampur apa-apa yang telah ada sebelumnya menjadi sesuatu yang lain. Seperti buah jambu, nanas, bengkuang, dicampur gula merah, garam, cabai, asam jawa, dan jadilah “rujak”. Kita tahu di dalam rujak ada berbagai bahan, tapi kita tak lagi menyebutnya berdasarkan bahan-bahan itu. Dalam Borges, saya melihat kreatifitasnya merupakan adonan kisah-kisah fantasi ditambah spekulasi-spekulasi filsafat, yang kemudian menghasilkan cerpen-cerpen semacam “The Disk”, “The Book of Sand”, “Borges and I”, atau yang sangat terkenal, “Tlön, Uqbar, Orbis Tertius”. Dalam karya-karya Cormac McCarthy, kita menemukan adonan gaya Faulkner yang dicampur dengan kisah koboi atau “Spaghetti Western” (terutama dalam trilogi perbatasannya, serta di The Road dan No Country for Old Men). Dalam karya-karya Patrick Modiano, kita bertemu ramuan kisah detektif yang bertemu dengan tradisi Proust, serta novel-novel sosial-politik. Di Animal Farm, Orwell sudah jelas memadukan satir politik, sastra bertendens, dan fabel. Penulis Indonesia seperti Intan Paramaditha, meramu fairy tales dan dongeng gothic dengan isu-isu feminis dan politik, menghasilkan cerpen-cerpen yang orisinal. Dan puisi-puisi Joko Pinurbo, jika bisa disederhanakan, merupakan pertemuan antara kisah-kisah Alkitab dan lelucon-lelucon sufi, sertra tradisi puisi lirik. Tak ada yang baru di bawah langit, demikian kata pepatah. Tugas kita, manusia secara umum atau penulis secara khusus, hanyalah membuat rujak. Syukur jika enak dimakan. Syukur jika ada lidah yang terus mengenang rasa rujak itu dan mengingat rasa tersebut sambil mengingat siapa yang membuat adonannya.

Corat-coret di Toilet dan Hal-hal Lain Tentang Cerpen

Selain menerbitkan novel baru, hal paling membahagiakan untuk saya adalah melihat kembali Corat-coret di Toilet terbit. Bagaimanapun itu buku tipis saya yang istimewa: buku fiksi pertama saya (setahun sebelumnya saya menerbitkan skripsi saya di UGM tentang Pramoedya). Saya jarang membaca ulang karya-karya saya (kecuali terpaksa untuk beberapa kebutuhan, seperti ngedit dan mencocokkan terjemahan), tapi hal ini tak berlaku untuk Corat-coret di Toilet. Saya harus mengakui: buku itu sering saya baca kembali, untuk mengingatkan saya kenapa saya memutuskan untuk menjadi penulis, kenapa menulis merupakan sesuatu yang menyenangkan. Di luar itu, jujur saja, saya menganggap penulis-penulis lain dari generasi saya, melakukan debut karya fiksi mereka (kebanyakan kumpulan cerpen), jauh lebih baik daripada saya. Saya bisa menyebut beberapa kumpulan cerpen debut penulis-penulis yang saya kenal, yang saya rasa sangat istimewa: Kuda Terbang Maria Pinto Linda Christanty, Sihir Perempuan Intan Paramaditha, Perempuan Pala Azhari, Bidadari yang Mengembara A.S. Laksana. Meskipun bukan debut, Filosofi Kopi Dee juga salah satu yang menarik. Dibandingkan karya-karya itu, Corat-coret di Toilet terlihat terlalu sederhana, dengan cerita yang gampang ditebak, ditulis dengan main-main, dengan teknik yang secara sembrono dicuri dari sana-sini (kadang-kadang membacanya kembali saya suka tersenyum lebar dan bergumam, “Ini sangat Dickens, seharusnya aku tak mencuri terlalu terang-terangan, lah.”). Sebenarnya, seperti apa sih kumpulan cerita pendek ideal saya? Sejujurnya saya tak memiliki kriteria khusus, tapi ada beberapa kumpulan cerpen Indonesia, selain judul-judul di atas, yang saya anggap istimewa. Misalnya, Saksi Mata Seno Gumira Ajidarma. Barangkali karena tema dan gayanya, serta tekniknya, yang utuh dalam satu kumpulan. Saya tak pernah melihat yang seperti ini lagi di kumpulan cerpen Seno lainnya. Saya juga ingin merujuk kumpulan cerpen Asrul Sani, Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat. Tak ada tema besar yang mengikat erat cerpen-cerpen itu, tapi kesederhanaan dan leluconnya menyenangkan, bahkan dibaca saat ini pun. Godlob Danarto, barangkali memenuhi hasrat saya mengenai kumpulan cerpen yang utuh, dengan gaya dan teknik yang menyatu. Dengan alasan yang sama, saya juga merujuk ke Cerita dari Blora, Pramoedya Ananta Toer. Ada yang saya lewatkan? Debut Joni Ariadinata, Kali Mati, saya rasa harus dimasukkan ke dalam daftar ini, daftar kumpulan cerpen yang saya sukai dan saya rekomendasikan. Saya tak pernah melihat Joni menulis cerpen-cerpen, atau menerbitkan kumpula cerpen, seberkarakter debutnya ini. Problem utama Joni, saya kira adalah, ia mencoba meniru dirinya sendiri. Itu hal terburuk yang bisa terjadi pada seorang penulis, dan ini banyak terjadi pada penulis lain di sini. Mungkin saya salah, saya tak lagi mengikuti karyanya dalam beberapa tahun terakhir, tapi saya tetap menganggap Kali Mati salah satu kumpulan cerpen terbaik di negeri ini. Ada yang lain? Saya kira ada beberapa yang lain, yang saya lewatkan atau saya lupakan ketika menulis ini. Kembali ke Corat-coret di Toilet, dengan segala kesederhanaan teknik seorang penulis pemula, ditambah kenaifan dan kenekatannya, saya selalu kembali ke buku itu. Sebab hanya di buku itu saya bisa melihat benih-benih hasrat-hasrat kesusastraan saya, yang tak akan pernah saya temukan di karya saya yang lain. Saya tak bisa membayangkan akan menulis lebih bagus dari itu di masa itu. Jika waktu di ulang, saya yakin, saya akan menulis hal yang sama, barangkali dengan ketololan yang sama. Saat ini, bertahun-tahun kemudian (14 tahun tepatnya), saya sudah sangat senang jika seseorang menyukai cerita-cerita itu, dan saya senang melihatnya kembali terbit. Seseorang bilang, itu buku yang bagus. Bahkan ada yang bilang, itu buku kumpulan cerpen terbaik yang pernah dibacanya. Saya rasa ia belum membaca banyak kumpulan cerpen, bahkan untuk ukuran cerpen Indonesia. Ada banyak kumpulan cerpen bagus di kesusastraan kita. Masalahnya, saya pikir, kesusastraan Indonesia tak lagi membutuhkan karya yang bagus. Sudah banyak. Yang benar-benar kita butuhkan adalah karya yang hebat, sebab sekadar bagus sudah tak lagi mencukupi.

Abdullah Harahap

Jika saya harus menyebut tiga novelis terpenting dalam kesusastraan Indonesia, saya akan menyebut Pramoedya Ananta Toer, Asmaraman S. Kho Ping Hoo, dan Abdullah Harahap. Membaca semua karya mereka, saya pikir sudah cukup untuk memasuki rimba kesusastraan, dan menjadi yang paling gila di antara orang-orang gila. Saya pernah bertemu dengan Pramoedya, tapi pertemuan dengan Abdullah Harahap barangkali merupakan yang paling ajaib. Sejujurnya, sebelum benar-benar bertemu dengannya, saya berpikir bahwa penulis ini sudah lama tiada. Pikiran ini barangkali dibawa oleh kenyataan bahwa saya (kita), tak pernah menemukan apa pun yang tertulis mengenai riwayat hidupnya. Seolah-olah sejak lama memang ia tak pernah ada di dunia ini. Di sebagian besar buku-bukunya, kita tak pernah menemukan sebaris pun informasi mengenai sang penulis. Kapan ia lahir, dimana ia tinggal. Sosoknya sama misterius dengan kisah-kisah yang ditulisnya. Sebagian besar novelnya diterbitkan oleh penerbit-penerbit kecil (jika tak bisa dibilang skala ruko), beberapa di antaranya bahkan tak mencantumkan alamat, tak punya logo perusahaan. Dan sebagian besar tak mendaftarkan judul-judul novelnya dalam daftar ISBN. Novel-novelnya tampak lebih seperti brosur daripada sebagai karya kesusastraan. Novel-novelnya tak dijual di toko buku besar semacam Gramedia (kecuali belakangan hari), tapi di kaki lima dan di atas bis dan kereta, disodorkan oleh pedagang asongan, bersama Teka-Teki Silang, novel porno dan jam tangan palsu. Tapi itulah memang yang terjadi dalam kesusastraan Indonesia. Ketika saya dan dua teman, Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad memutuskan untuk membaca ulang karya-karyanya, saya tetap beranggapan ia tak ada lagi di dunia ini. Bukan hal mudah menemukan kembali karya-karyanya. Saya membacanya ketika masih remaja, menyewanya dari taman bacaan. Tak pernah menemukannya di toko buku, juga perpustakaan. Saya menemukan kembali novel-novelnya di toko-toko buku loak, berjejalan dengan majalah dan koran bekas. Sebenarnya ia tak hanya menulis novel-novel horor dan misteri. Ia menulis novel romans, bahkan memulai karir menulisnya dengan genre tersebut. Tapi puncak karya-karyanya, saya rasa berada di novel-novel horor dan misterinya. Dengan formula gothic lokal, misteri ala Edgar Allan Poe, dan sedikit petualangan dan penyelidikan. Setelah membaca banyak karya-karyanya, kami memutuskan untuk menerbitkan antologi cerita pendek kami, yang terinspirasi dari novel-novel horor dan misterinya. Dengan gagah berani, kami memutuskan buku itu (berjudul Kumpulan Budak Setan) sebagai tribut untuk Abdullah Harahap. Bahkan ketika buku itu hendak terbit, berisi dua belas cerita pendek kami, saya tetap beranggapan bahwa Abdullah Harahap sudah lama tiada. Hingga hari itu, saya sedang berada di rumah, dan sebuah pesan pendek masuk ke telepon genggam. Dari istri saya, yang bekerja di sebuah stasiun TV. Pesannya singkat saja, ia baru saja bertemu dengan Abdullah Harahap. Ia bilang kepada sang maestro, “Saya kira sudah meninggal.” Istri saya mengirimkan foto dirinya bersama sang penulis, dan itulah kali pertama saya melihat wajahnya. Seorang lelaki tua, tapi dengan tubuh yang masih tegap, berkacamata hitam. Tipikal penulis-penulis romans yang saya bayangkan hidup di tahun 70an. Beberapa minggu kemudian kami (saya, Intan dan Ugo) benar-benar bertemu di lobi Penerbit Gramedia Pustaka Utama (yang kemudian menerbitkan kembali karya-karya Abdullah Harahap). Kami masuk ke satu kedai kopi dan ngobrol selama hampir dua jam. Dengan selera humornya yang menyenangkan, serta aura misterusnya, ia kemudian bilang, yang bagi saya terasa seperti ejekan yang menyenangkan, “Saya bangkit lagi dari kubur.” Itulah Abdullah Harahap, salah satu maestro kesusastraan kita.

Manis Agak Pahit

Cerita seperti apa yang saya suka? Yang jelas, saya tak terlalu suka melodrama. Saya suka nangis oleh melodrama, dan saya benci keadaan seperti itu. Sesekali saya terjebak di bioskop menonton film semacam itu. Diam-diam saya berkaca-kaca, dan tak akan pernah melupakan filmnya. The Notebook, misalnya. Tapi sekaligus saya berjanji tak akan menonton film apa pun lagi yang diangkat dari novel-novel Nicholas Sparks (saya malas dan tak pernah membaca novel-novelnya). Tak apa-apa ada melodrama, tapi sedikit saja. Beberapa waktu terakhir ini saya menyelesaikan dua novel Mario Vargas Llosa. Pertama, Bad Girl, atas saran Intan Paramaditha (entah kenapa ia mendorong saya untuk membacanya, mungkin tahu saya akan suka). Setelah membaca novel itu, saya mencoba mengambil novel lain dari Vargas Llosa, Aunt Julia and the Scriptwriter. Jika ada yang bertanya cerita atau novel seperti apa yang saya suka, sekarang saya akan menyebut kedua novel itu. Ada beberapa novel dari penulis lain yang barangkali akan saya gabung dengan keduanya. Saya bisa menyebut salah satunya: Museum of Innocence Orhan Pamuk. Siapa pun yang pernah membaca ketiga novel itu, pasti bisa mengerti apa yang menyamakan ketiganya, dan mungkin bisa sedikit menebak selera bacaan saya. Bad Girl bercerita tentang seorang bocah yang jatuh cinta kepada seorang anak perempuan. Sialnya si anak perempuan selalu menolak cintanya, dan lebih sialnya lagi, si bocah selalu mencintainya. Itu berlangsung hingga si bocah menginjak remaja, menginjak masa dewasa, menginjak masa tua, bahkan menjelang mati. Aunt Julia and the Scriptwriter berkisah tentang seorang remaja yang jatuh cinta kepada bibinya. Bukan bibi sedarah, memang. Ia seorang janda, adik dari istri pamannya. Si bibi jelas beberapa tahun lebih tua, dan si remaja masih dikategorikan di bawah umur menurut undang-undang. Mereka saling jatuh cinta. Tapi orang tua, keluarga besar, bahkan pemerintah (melalui peraturan mereka) menentang hubungan asmara ini. Museum of Innocence berkisah tentang seorang pemuda yang hampir menikah dengan tunangannya, tiba-tiba bertemu dengan sepupunya yang cantik dan jatuh cinta (bahkan menidurinya). Si pemuda berasal dari keluarga kaya raya, si gadis berasal dari keluarga miskin dan pernah berbuat aib karena mengikuti kontes kecantikan. Keluarga si pemuda tak akan menerima hubungan ini. Si gadis kecewa dengan si pemuda yang tak kunjung melamarnya dan memutuskan menghilang, di tengah keruwetan kota Istambul. Si pemuda memutuskan tunangannya dan mencari si gadis. Sedikit ringkasan cerita ketiganya barangkali bisa membuat sesuatu berdering di kepala. Ada kesamaan? Tentu. Semuanya merupakan kisah cinta. Ah, hampir semua novel merupakan kisah cinta. Lebih khusus lagi, ketiganya merupakan romans. Tentang cinta yang “terlarang” atau “terhalang” dan bagaimana mereka berjuang memperoleh cinta. Romeo and Juliet. Laila Majnun. Kita bisa membuat daftar kisah-kisah semacam itu. Seri novel populer Harlequin bahkan mengkhususkan diri di cerita-cerita semacam begini. Selera saya terlihat agak kacangan, tapi percayalah ketiga novel di atas sama sekali tidak kacangan. Saya tak akan mengomentari kualitas-kualitas literer novel-novel itu. Biarlah itu urusan kritikus atau pembaca sastra yang budiman. Saya hanya ingin mengomentari kisah cinta mereka, sebab itu yang menarik perhatian saya. Seperti seharusnya romans yang baik, kisah cinta mereka harus berakhir bahagia. Saya tak terlalu suka pada kenyataan Romeo dan Juliet tidak berakhir bahagia. Saya ingin, setiap kisah cinta yang terhalang oleh apa pun, setelah perjuangan para kekasih, akhirnya mereka bisa memperoleh cinta mereka. Tapi sekaligus saya benci menemukan kalimat “dan mereka bahagia selama-lamanya”. Seperti roti, saya suka roti yang manis, tapi tak suka roti yang terlalu manis atau hanya memberi rasa manis. Membuat mual. Saya menyukai kisah cinta yang manis, dengan serpihan rasa pahit di dalamnya. Bahkan mungkin yang tersisa justru rasa pahit, yang abadi tertancap di ingatan. Seperti itulah ketiga novel di atas. Semuanya berakhir bahagia untuk pasangan-pasangan tersebut, tapi sekaligus tidak bahagia. Ada rasa pahit yang tersisa di ujung cerita, yang saya rasa tak perlu menceritakannya. Sebab hal yang membahagiakan hanya bisa diukur jika kita tahu ada hal yang tidak membahagiakan.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑