Novel ini dibuka dengan satu kutipan: “In that case, I’ll miss the thing by waiting for it. – FK”. Tentu saja FK merupakan inisial Franz Kafka. Kutipan itu, meskipun tak disebutkan, berasal dari The Castle. Menunggu merupakan pusat novel ini: sekelompok penduduk desa (mungkin lebih tepatnya komunal) di tengah badai kehancuran tengah menantikan juru selamat mereka, yang kita tak tahu apakah benar ia sejenis nabi, sejenis pemimpin, atau hanya bangsat penipu. Dalam beberapa bagian, novel ini sering merujuk ke laba-laba. Bar tempat penduduk desa itu nongkrong dan menunggu, dijejali laba-laba. Bahkan dua bab sengaja diberi judul “The Work of Spider”. Hey, bukankah laba-laba merupakan binatang penunggu? Mereka salah satu binatang yang paling sabar menunggu. Menunggu juru selamat untuk perut mereka. Baiklah, novel ini bukan sesuatu yang gampang untuk dibaca, bahkan sejak bab pertama. Ini bukan jenis novel yang kita baca dari halaman pertama hingga halaman terakhir dan kita mengangguk, oh begitu ceritanya. Saya bahkan tak yakin bisa menyusun ulang kronologi ceritanya. Satantango, seperti tersirat dari judulnya, lebih seperti tarian. Bergerak ke sana-kemari, dan kita (saya, setelah mencoba membaca berulang-ulang) menikmati gerakannya. Berharap menemukan alur kisah yang lurus dan terpola, meminjam kutipan Kafka di awal, hanya akan membuat kita kehilangan bagian-bagian penting dari novel ini. Tengok misalnya bab pertama. Dibuka oleh tokoh bernama Futuki yang terbangun oleh bunyi bel misterius: gereja terdekat berjarak empat kilometer dan menaranya sudah lama rubuh dan yang jelas tak memiliki bel. Sesuatu akan terjadi, pikirnya. Tapi kemudian kita tahu, bel itu seperti pintu masuk untuk adegan lain: Futuki tidur dengan Nyonya Schmidt, isteri tetangganya yang tengah menggiring ternak dimana mereka bisa memperoleh upah seharga delapan bulan kerja keras (dan butuh beberapa jam lagi untuk pulang). Apakah bab ini akan mengisahkan hubungan rahasia Futuki dan Nyonya Schmidt? Tidak. Setelah itu mereka membicarakan uang hasil kerja mereka, bagaimana pembagiannya, dan berlanjut ke pertengkaran kecil karena Tuan Schmidt ingin meminjam bagian Futuki. Oh, setelah itu terkuak rencana kepindahan mereka dari desa tersebut, dan seterusnya dan seterusnya. Seperti tarian, setiap halaman, setiap fragmen cerita, merupakan gerakan untuk menguak gerakan-gerakan lainnya. Saya tak akan menceritakan ringkasan cerita novel ini lebih lanjut. Selain nyaris mustahil, tentu saja bukan pada tempatnya membocorkan hal seperti itu di sini, meskipun saya percaya karya yang baik tetap asyik dinikmati meskipun kita sudah tahu apa yang diceritakan, sebab karya yang baik nyatanya selalu menuntut untuk dibaca dan dibaca kembali. Meskipun begitu, saya ingin mengatakan bahwa novel ini sangat menekan. Menekan dari sana-sini, dari caranya ditulis, dari alur kisahnya, dari tokoh-tokohnya, bahkan dari bahasanya. Ini kisah tentang sebuah desa diambang kehancurannya, tapi bagaikan kita dihadapkan pada kehancuran dunia itu sendiri. Di akhir dunia seperti itu, semua makhluk seperti bergerak sendiri-sendiri, meskipun tak bisa kemana-mana. Jika para orangtua disibukkan oleh rencana kepindahan, mengikuti Irimiás si juru selamat, di sisi lain kita dihadapkan pada gadis-gadis remaja yang menjual tubuh mereka untuk kesenangan kecil, dihadapkan pada gadis cilik yang membunuh kucingnya, dan dihadapkan pada dokter jompo yang tak bisa berbuat apa-apa melihat segalanya pudar di hadapannya, dan dengan sendirinya menjadi satu-satunya pengamat yang telaten. Saya yakin banyak hal bisa dicatat dari novel karya László Krasznahorkai ini, tapi tiba-tiba saya menyadari satu fakta kecil yang sekonyong merebut perhatian: novel ini ditulis oleh penulis Hungaria. Beberapa tahun lalu saya kenal baik dengan Duta Besar Hungaria untuk Indonesia (sekarang ia sudah pensiun). Negara itu kecil saja, dengan bahasa yang juga dipergunakan sedikit orang. Tapi satu hal jelas: mereka menghasilkan penulis-penulis kelas dunia, dan karya-karya kelas dunia: Imre Kertész (meraih Nobel Kesusastraan 2002) dan Péter Nadas, misalnya. Tapi saya tak heran. Saya yakin negara itu, tak peduli berapa jumlah penduduknya (tak lebih dari 10 juta, lebih kecil dari jumlah penduduk Jakarta di siang hari), memang memiliki akar kesusastraan yang kuat. Perkenalan saya dengan Pak Mihaly Illes cukup menjadi bukti untuk saya: di tengah kesibukannya sebagai duta besar, ia selalu meluangkan waktu untuk membaca cerita pendek Indonesia yang terbit di koran hari Minggu. Ia bahkan menerjemahkan beberapa di antaranya ke Bahasa Hungaria, cerpen saya salah satunya, dan itulah latar belakang perkenalan kami. Di negara yang bahkan diplomatnya menerjemahkan sastra, penulis hebat saya rasa sesuatu yang tak terelakkan. László Krasznahorkai salah satunya saja.