Journal

Barthes Mengajari Saya Memahami Bahasa Kucing

Image Music Text, Roland Barthes

Saya memelihara seekor kucing persia pemberian seorang teman. Konon, kucing akan mengeong dengan bunyi serta ekspresi yang berbeda kepada orang yang berbeda, seperti kita punya panggilan yang berbeda kepada orang yang berbeda. Mungkin benar. Setidaknya saya sering merasa tahu jika ia mengeong untuk saya (Anda bisa juga menganggap saya sok merasa tahu saja). Tapi lama-kelamaan, saya toh terpaksa belajar “bahasa” kucing, setidaknya bahasa Si Puspita (nama kucing saya, jika bahasa yang dipergunakannya ternyata berbeda dengan bahasa kucing lain). Saya bisa tahu persis jika ia mengeong dengan suara tertentu, ditambah gerakan-gerakan tertentu di dekat pintu kamar mandi, artinya “Aku ingin minum, ambilin air, dong!” Nah, ketika saya membaca buku Roland Barthes berjudul Image Music Text, terpikir juga oleh saya, barangkali buku ini bisa membantu saya memahami bahasa kucing, atau membuat saya mengerti kenapa saya paham bahasa kucing (dalam hal ini, Si Puspita). Kenapa tidak? Membaca buku ini saya merasa diajak untuk kembali belajar membaca. Ya: belajar membaca. Belajar memahami bahasa, tak melulu sebagai ekspresi linguistik, tapi juga sebagai ekspresi narasi. Bahwa “Bond saw a man about fifty” (dari Goldfinger, Ian Fleming) tak semata-mata informasi yang tersurat, tapi juga memiliki fungsi tentang deskripsi seseorang yang ditandai dengan perkiraan umur, dan informasi bahwa Bond tak begitu kenal orang tersebut, sesuatu yang akan bermakna dalam novel itu. Bahwa “meong” bukan sekadar suara seekor kucing, sebab bisa juga berarti “Aku boleh lompat ke pangkuanmu, enggak?” Buku ini merupakan kumpulan esai terpilih Barthes. Bagi banyak orang mungkin yang paling populer adalah esai berjudul “The Death of the Author” yang begitu sering dikutip (dan sering pula disalah-pahami), jadi terasa basi dan saya tak akan menyinggung-nyinggungnya lagi. Esai paling menarik menurut saya adalah “Introduction to the Structural Analysis of Naratives”. Esai itu seperti merangkum seluruh esai di buku ini, dan secara ringkas bisa dikatakan sebagai esai tentang “belajar membaca”. Begini lho cara membaca kalimat. Begini lho cara membaca wacana. Begini lho cara membaca cerita. Dan kalau ilmu dari esai itu bisa saya pakai untuk belajar membaca novel-novel James Bond, kenapa saya tak mencoba pakai untuk membaca meong-meong kucing saya? Jadi meskipun Barthes mengaku bahwa bentuk-bentuk narasi di dunia ini tak terhitung, dan mustahil meneliti semuanya untuk menemukan sejenis “kesimpulan”, ia toh mencoba mengorek-ngorek strukturnya, memotong-motongnya. Dan menurut saya, ini sungguh mengasyikkan. Saya sudah sebutkan bahwa “meong” bukan semata-mata “meong”. Ada berlapis-lapis tingkatan makna di baliknya. Setidaknya ada berlapis-lapis tingkatan deskripsi dalam setiap narasi. Yang tadi saya sebut baru tingkat fungsi. “Fifty” dalam “Bond saw a man about fifty” memiliki fungsi untuk menciptakan karakter juga. Luntang-lantung Si Puspita di depan pintu kamar mandi memiliki fungsi untuk menjelaskan bahwa ia ingin minum. Dan fungsi ini, tanpa harus diterang-jelaskan, juga merujuk ke suatu makna lain yang lebih kompleks: saya harus membuka pintu kamar mandi, ambil air dengan gayung, meletakkan gayung berisi air di lantai agar kucing saya bisa minum. Anda mungkin berpikir apakah kucing saya secerdas itu sampai bisa menyampaikan pesan sekompleks demikian kepada saya? Tidak. Kucing saya tidak secerdas itu. Dalam beberapa hal dia tolol. Dia sering tak bisa mengukur jarak, melompat tak tepat sasaran hingga jatuh atau terbentur. Pokok soalnya bukan itu. Pokok soalnya adalah bagaimana kita (saya) membaca pesan si kucing. Membaca tak hanya di tingkat harafiah, apalagi sekadar bunyi dan aksi (kucing luntang-lantung di depan pintu kamar mandi), tapi membaca tingkat-tingkat makna narasi lainnya. Baiklah, Barthes mungkin tak pernah memaksudkan esainya ini untuk dipergunakan balajar membaca atau memahami meong si kucing. Tapi apa pedulinya? Saya membaca bukunya, dan terserah saya lah menarik makna dan mempergunakan pengertian saya untuk apa. Ya, kan? (Iya, pernyataan terakhir itu terpaksa merujuk ke esainya yang lain, apa boleh buat).

Standard
Journal

Harta Karun Kesusastraan Indonesia

Sekali waktu seseorang bertanya, kenapa saya tak pernah membicarakan kesusastraan Indonesia? Apakah saya tak membaca apa pun dalam kesusastraan Indonesia? Ada ujaran, tak ada jawaban yang tepat untuk pertanyaan yang salah. Berkali-kali saya bicara, di forum diskusi-diskusi yang terhormat, mengenai kesusastraan dan karya-karya kesusastraan Indonesia. Buku pertama saya merupakan telaah panjang tentang Pramoedya Ananta Toer. Saya penggemar cerpen-cerpen Asrul Sani. Di awal karir saya, saya bahkan pembaca berat cerpen-cerpen Kris Mas (ini sudah agak meluas, ia bukan penulis Indonesia, tapi penulis Malaysia). Saya tak pernah menyembunyikan kekaguman saya terhadap dua penulis penting: Asmaraman S. Kho Ping Hoo dan Abdullah Harahap. Ada pendekar dan ada hantu di novel-novel saya, yang tentu saja warisan dari keduanya. Oh, barangkali kebanyakan orang tak pernah menganggap kedua penulis itu sebagai “sastrawan” dan karya-karya mereka merupakan bagian dari kesusastraan Indonesia. Di situlah barangkali persoalannya. Apa yang kebanyakan orang anggap sebagai kesusastraan Indonesia, apa yang mereka anggap sebagai kanon (saya tak yakin ada atau tidak), kadang-kadang bukan karya-karya yang menarik perhatian saya. Harta karun kesusastraan Indonesia saya terletak di novel-novel picisan yang tak terlalu dianggap oleh kritikus sastra, para akademisi, bahkan oleh para sastrawan. Jika saya tinggal di Eropa, barangkali saya akan banyak membaca dime novel. Jika tinggal di Amerika, saya pasti memburu pulp fiction. Jika tinggal di Cina, saya pasti pembaca wu xia. Saya tak membaca sesuatu karena karya itu (kata orang) bermutu, saya membacanya karena saya anggap menarik. Saya jenis pembaca yang, meminjam istilah Borges, pembaca hedonis. Harta karun “kesusastraan” (saya pakai tanpa petik, karena barangkali banyak orang tak anggap ini sebagai kesusastraan) Indonesia saya jarang saya peroleh di toko buku besar, tidak pula di pusat dokumentasi sastra sejenis milik HB Jassin. Saya memburunya di toko buku bekas, berkenalan dengan penjual buku bekas di Internet. Belum lama saya memesan sebuah serial silat yang terbit di tahun 70an yang saya belum pernah dengar judul maupun penulisnya (tak perlu saya sebutkan). Saya membacanya dalam dua hari. Jelek, dan berpikir: pantas saja saya tak pernah mendengarnya. Tapi bahkan dari karya yang jelek, terutama karena panulis ini tak mengerti bagaimana membangun tangga dramatik dari cerita silat, saya bisa menemukan kesenangan-kesenangan tertentu. Hanya segelintir dari teman-teman dekat saya yang mengerti selera saya ini, dan dengan mereka (yang sebagian besar juga berbagi selera yang sama) saya bisa membicarakan karya-karya ini dengan antusias. Seorang teman yang tinggal di Amerika, menyempatkan diri mengirim email pendek hanya untuk bertanya, “Sudah pernah membaca novel Six Balax?” Butuh waktu berbulan-bulan sebelum saya memperoleh novel itu, dengan harga (ajaibnya) sangat murah. Cetakan 1977, atau dua tahun setelah kelahiran saya. Ditulis oleh penulis kelahiran Tegal bernama Hino Minggo, yang mengklaim tokohnya sebagai “Super Spy Pribumi” dan dirinya sebagai penggemar O. Henry. Membaca judul episode-episodenya saja sudah membuat saya tertawa terbahak-bahak: “The Man with Golden Golok”, “Dirty Marni Crazy Larso”, “Pembalasan Murid-murid Afkiran”. James Bond dan Nick Carter jadi terasa petualangan garing. Dan di waktu-waktu luang, saya bisa membaca ulang berkali-kali Nagasasra dan Sabuk Inten SH Mintardja. Juga Manusia Harimau SB Chandra (judul yang bersama Tujuh Manusia Harimau Motinggo Busye mengilhami saya menulis novel Lelaki Harimau). Ketika di umur belasan tahun saya membayangkan diri saya sebagai penulis, novel-novel seperti itulah yang ingin saya tulis. Tentu saja dengan pengetahuan dan kemampuan menulis yang pas-pasan, saya tak pernah berhasil melakukan. Ketika akhirnya saya menerbitkan novel pertama kali, bagaimana pun, jejak-jejak keinginan dan selera saya masih tertanam di sana. Jika karya seorang penulis tak akan pernah jauh dari apa yang dibacanya, saya bisa sangat yakin menunjukkan: itulah harta karun bacaan saya. Itulah sejarah kesusastraan saya. Sejarah kesusastraan Indonesia dalam karya-karya saya.

Standard