Pendongeng itu bernama Honoré de Balzac, saya menemuinya di satu toko buku loak di satu masa. Ia hendak mendongengkan beberapa cerita yang disebutnya sebagai Droll Stories (atau Contes Drolatiques). “Cerita-cerita jenaka? Apa itu jenaka, Tuan Balzac?” tanya saya penasaran. Dengan tergagap ia berkata, “Nggg, pokoknya aku ingin seperti Master Rabelais. Ya, François Rabelais dan bikin dongeng-dongeng pantagruelist (Pantagruel, salah satu mahakarya Rabelais) seperti dia, sebab dialah pangeran segala kebijaksanaan, dan raja komedi.” Baiklah, kata saya. Mulailah mendongeng. Ia bercerita tentang pastor muda bernama Philippe de Mala, yang jatuh cinta kepada La Belle Imperia, yang ternyata gundik banyak pejabat penting. Saya jadi ingat satu bagian di novel Siddhartha karya Herman Hesse, ketika Siddhartha jatuh cinta kepada seorang pelacur. “Ah, apanya yang lucu? Kau hanya mencoba nyinyir saja, Tuan,” kataku. Balzac kembali tergeragap. Sialan, barangkali begitu pikirnya, anak kecil ini berani-beraninya berkomentar begitu. Ia kemudian mendongengkan cerita lain. Tentang dosa yang ringan. Hmm, menarik, pikir saya. Itu benar-benar dongeng yang menarik, dan berhasil membuat saya tersenyum. Juga membuat saya semakin yakin akan satu hal: cerita yang baik, pada dasarnya selalu memiliki kerangka yang sederhana. Kerangka tiga babak. Ada masalah. Ada konflik. Ada penyelesaian. Sebuah novel yang panjang, saya rasa hanya merupakan perkembangan dari kerangka tiga babak tersebut. Permasalahannya barangkali dikembangkan menjadi beberapa masalah. Atau lingkaran masalah-konflik-penyelesaian berkembang menjadi dua atau lebih putaran. Kurang lebih sama seperti putaran dialektika Hegelian. Dongeng tentang dosa yang ringan ini merupakan wujud pola yang sederhana tersebut, dan karena permasalahan-konflik serta penyelesaiannya kuat, menjadi sangat menarik. Balzac mengisahkan tentang Messire Bruyn, bangsawan yang sudah berumur tapi masih bujangan. Ia butuh istri. Itu masalahnya. “Dan apalah artinya sebuah kastil tanpa nyonya rumah? Sebagaimana apalah arti sebuah bandul tanpa loncengnya?” (kutipan ini mengingatkan saya pada satu paragraf di Don Quixote yang pernah saya kutip untuk novel saya: “Apalah artinya seorang ksatria tanpa seorang nyonya?”). Bruyn akhirnya jatuh cinta kepada gadis muda (gipsi, Moor) dan mereka pun menikah. Konflik terjadi di sini: Blanche, gadis muda itu, menginginkan anak (saya rasa lebih dari sekadar anak, ia ingin ditiduri), yang tak bisa diberikan oleh suaminya yang tua. Suaminya meminta ia sabar, “Tunggu sampai aku mati dan kau menjadi perempuan bebas, Sayangku. Dan jagalah kehormatanku,” demikian kira-kira kata suaminya. Tapi hasrat Blanche memiliki anak terus menggelora. Ia pun menemui pastor, antara mencoba membuat pengakuan dan mencari nasihat. “Bisakah aku seperti Maria Sang Perawan? Tetap suci tapi punya anak?” tanyanya. Ah, kata si pastor. Itu tak mungkin. Itu hanya terjadi sekali saja di dunia ini. Di titik inilah, si pastor (saya rasa agak sinting), mencoba berempati pada dilema Blanche, menceritakan kisah Saint Lidoire, yang dalam satu tidur lelap, ditiduri oleh orang jahat hingga bunting. “Karena ia tak menikmatinya (dibuat miring sengaja oleh saya), dosanya ringan saja.” Nah, Blanche mulai memikirkan bagaimana ia bisa punya anak dengan dosa ringan. Bahkan tanpa perlu membaca bagaimana penyelesaiannya, saya sudah mulai cengar-cengir dengan kisah tersebut. “Baiklah, Tuan Balzac. Anda memang lucu. Tapi saya ingin mendengar kisah-kisah lainnya.” Droll Stories merupakan kumpulan cerita berisi tiga puluh cerita. Awalnya diterbitkan secara terpisah dalam tiga volume (1832, 1833 dan 1837). Agak mengejutkan bahwa buku ini sangat jarang diterbitkan kembali, jauh berbeda dengan dua buku lain karya Balzac, Pére Goriot dan Eugénie Grandet. Saya beruntung memiliki buku ini, dari kebiasaan saya mengadopsi buku bekas dari toko buka loakan. Sebenarnya istilah “adopsi buku” mungkin kurang tepat. Jika penulis melihat buku yang ditulisnya sebagai anak rohani, saya rasa pembaca tak bisa melihat buku yang dibacanya sebagai anak, tidak pula sebagai anak adopsi. Dari sudut pandang pembaca, buku saya rasa lebih tepat disebut sebagai inang pengasuh. Seperti kebanyakan anak, kita seringkali tak bisa memilih inang pengasuh kita. Jika beruntung, kita memperoleh buku-buku dari penulis-penulis hebat sebagai inang pengasuh. Jika buntung, kita diberi inang pengasung berupa buku-buku sampah oleh orangtua kita dan menjadi bebal dan pemalas karenanya. Hal baiknya, bersama berlalunya waktu, kita akhirnya bisa memilih sendiri inang pengasuh yang baik (kecuali kita terlanjur malas). Kita membelinya di toko buku, mengadopsinya dari toko loakan, atau meminjamnya dari perpustakaan. Baiklah, seperti biasa saya agak melantur. Agar sedikit tersambung, saya akan katakan: saya mengadopsi Droll Stories, sebuah buku sampul tebal terbitan The Modern Library (tanpa tahun terbit, melihat bentuk sampulnya, terbit sekitar 1939-1962. Tapi catatan penerjemahnya ditulis Januari, 1874, sic! ), dan membiarkan buku ini menjadi inang pengasuh saya selama beberapa hari di awal tahun 2014.