Eka Kurniawan

Journal

Tag: Homer

Dua Novel Bohumil Hrabal

Too Loud a Solitude. Biar keren, ia memutuskan untuk memiliki sandal. Ibunya merajutkan untuknya kaus kaki. Ia pun pergi ke lapangan dengan sandal dan kaus kaki, untuk melihat daftar nama pemain utama yang akan turun bermain sepakbola. Tiba-tiba ia merasa sebelah kakinya menginjak sesuatu yang basah dan lembek. Ia tak berani melihat ke bawah, matanya tetap tajam menatap papan pengumuman. Mencari namanya. Di daftar pemain utama, kemudian di daftar pemain cadangan. Setelah menemukan namanya, ia akhirnya menunduk. Ia menginjak tai anjing. Ia buru-buru menatap kembali papan pengumuman. Kembali mencari namanya, berharap satu keajaiban terjadi. Ia menemukan namanya, dan kembali menoleh ke bawah. Kakinya tetap terbenam di kubangan tai anjing. Kita bakal menemukan fragmen-fragmen pendek semacam itu di novel ini, dan saya kira di novel-novelnya yang lain. Bohumil Hrabal tak hanya “Penulis Ceko terbesar yang masih hidup (saat ini sudah meninggal)” sebagaimana dikatakan Milan Kundera, tetapi bisa dibilang master yang mampu mengendalikan humor dan tragedi dalam satu tendangan. Kisah Hanta yang bekerja di kantor polisi sebagai penghancur kertas (banyak di antaranya buku-buku langka dan terlarang), merupakan novel politik yang cerdas. Diam-diam Hanta sering menyelamatkan buku-buku penting dari mesin penghancurnya, membawanya pulang dan membacanya di waktu luang. Tidak tanggung-tanggung ia membaca Goethe, Schiller, Nietzsche, Kant dan memiliki repro karya-karya Rembrandt, Monet, Cézanne, hingga membuatnya “tak bisa membedakan mana pikiran yang datang dariku dan mana yang datang dari buku.” Ini novel tentang sensor dan bagaimana pengetahuan diselamatkan, dengan gaya jenaka. Tentang bagaimana pengetahuan dihancurkan, tapi diselamatkan di kepala manusia. Sementara buku-buku terus dihancurkan setiap hari, di malam hari, Hanta menemukan dirinya larut dalam dunia yang lain: ia melihat Yesus berdialog dengan Lao-tze, dan para filsuf membicarakan surga, berbaur dengan kenangannya atas gadis gipsi, dan pacarnya yang selalu sial namun akhirnya malah menjadi malaikat. Gaya berceritanya yang ekspresif, di tengah alur cerita kita seperti menemukan percikan-percikan fragmen warna-warni, kadang-kadang tentang filsafat, kadang sesepele tentang bir, lain kali tinjauan ringkas mengenai kaum Gypsy, di halaman lain ulasan sekelebat mengenai Hitler. Novelnya saya kira mendekati apa yang menurut saya merupakan novel ideal: bermain-main secara serius, atau keseriusan yang main-main. Kita bisa melihat filsafat, perang, agama, pengetahuan menjadi olok-olok yang menggelikan di novelnya, tapi pada saat yang bersamaan ia bisa membicarakan kehidupan sehari-hari, hal-hal banal semacam pita yang jatuh ke tumpukan kotoran manusia menjadi sesuatu yang penting. Lebih dari itu, Hrabal melakukannya dengan sangat padat dan ringkas, tanpa membuat novelnya menjadi sejenis sinopsis. Di bawah rezim komunis Ceko (dan pendudukan Sovyet, saya kira), kisah Hanta dengan mesin penghancur bukunya menjadi sejenis paradoks menggelikan sekaligus memilukan. Hanta yang bekerja dengan penuh gairah, yang merasa dirinya adalah apa yang dia kerjakan, dengan kedatangan mesin dan teknologi baru (yang diharapkan “membebaskan” manusia), justru merasa dirinya tercerabut. Terasing. “Seperti para pendeta yang, ketika mereka mengetahui Copernicus telah menemukan satu kumpulan hukum kosmik dan bahwa bumi tak lagi menjadi pusat semesta, memutuskan bunuh diri massal karena tak mampu membayangkan sebuah semesta yang berbeda dari yang pernah mereka diami.” Bahkan untuk hal semacam itu, Hrabal menyikutnya dengan humor. Sekaligus kepedihan.

***

Saya ingin membaca Hrabal sejak lama, lebih dari setahun lalu. Tapi selama 2014 saya memutuskan untuk lebih banyak membaca karya “klasik”. Orang bisa berdebat mengenai apa itu klasik. Klasik, bagi saya sesederhana karya dari abad 19 ke belakang. Dari Dostoyevsky, Tolstoy, hingga Shakespeare bahkan Homer. Masih banyak yang tertinggal dan masih ingin saya baca, tapi tahun ini bagaimanapun saya ingin bergerak. Akan lebih banyak membaca kesusastraan dari para penulis sekitar paruh pertama abad 20. Saya tak tahu siapa saja yang bisa saya temukan, tapi membaca dua novel Bohumil Hrabal di hari pertama tahun ini saya kira merupakan awal yang bagus. Setidaknya saya mengenal penulis Ceko lain setelah Milan Kundera dan Jaroslav Hašek.

***

Closely Observed Trains. Novel ini dibuka dengan adegan pesawat Jerman yang jatuh, dan bangkainya dipreteli penduduk kota. Salah satu yang sibuk mengangkuti kepingan-kepingan pesawat itu adalah ayah si tokoh. Ia seorang kolektor barang-barang tak berguna, yang karena kemampuan teknisnya, bisa mengubah barang-barang itu menjadi hal-hal yang berguna. Yang tentu saja bikin sirik banyak orang. Lalu kisah melipir ke kakek dan kakek-buyut, yang seperti si ayah, juga disiriki banyak orang karena “keberuntungan-keberuntungan” mereka. Si kakek-buyut kehilangan kakinya di front, dan gara-gara itu ia pensiun dini dan dapat gaji pensiunan bertahun-tahun lamanya, dan memakai uang itu untuk minum-minum sambil mengejek orang-orang yang harus bekerja keras demi sesuap nasi. Si kakek-buyut sering dipukuli orang yang kesal, tapi tak juga kapok. Si kakek punya kemampuan hipnotis, dan sekali waktu mencoba menghentikan tank Jerman dengan hipnotisnya. Gagal, dan malahan ia diseruduk tank hingga kepalanya lepas dan mengganjal laju tank. Mati, tapi jadi pahlawan. Kita akan mengira novel ini mengenai sejarah keluarga sialan penuh keberuntungan ini (meliputi kakek-buyut, kakek, ayah, dan anak), tapi dengan cerdik Hrabal mengecoh kita. Itu hanyalah pembukaan untuk memperkenalkan si tokoh utama, sebelum cerita berbelok tentang kisah si tokoh itu sendiri, seorang pegawai magang di stasiun kereta api, dan di sanalah kisah sesungguhnya terjadi. Dalam hal-hal seperti ini, gaya berceritanya mengingatkan saya kepada César Aira, tapi saya tak tahu apakah Aira membaca Hrabal atau tidak. Seperti novel yang sebelumnya saya sebut, novel ini juga sangat ekspresif, dan memperlihatkan kualitas Hrabal yang lain: kejeliannya kepada segala yang visual, dan humornya yang semakin menjadi-jadi. Ada adegan “mesum” di mana satu pegawai perempuan kepergok telanjang bulat bersama seorang pegawai lelaki di satu malam. Si pegawai lelaki bahkan mengecapi sekujur tubuh si perempuan dengan stempel stasiun. Tentu saja mereka disidang, tapi bukan karena mereka telah melakukan tindakan senonoh (sebab urusan moral semacam itu merupakan urusan pribadi belaka), tapi karena stempel yang dipakai mengandung bahasa Jerman! Itu penghinaan terhadap negeri Hitler. Hrabal hampir tak pernah gagal membuat kita tersenyum. Kisah utama novel ini adalah tentang kereta penuh amunisi milik Jerman, dan dua petugas stasiun (si tokoh utama, dan lelaki yang berbuat mesum) yang berniat meledakannya. Sejenis kisah “perjuangan”, tapi jangan salah kira. Apa yang disebut “kisah utama” itu sebenarnya ia ceritakan nyaris sekilas saja, dan baru kita ketahui menjelang akhir. Sebagian besar alurnya justru ke sana-kemari, termasuk kisah si bocah tokoh utama yang berusaha menjadi “dewasa”. Yang ia maksud dewasa adalah bisa meniduri perempuan dengan selayaknya, sebab terakhir ia mencobanya, ia mengalami apa yang disebut orang Jawa sebagai “peltu” (nempel metu, baru nempel sudah keluar). Dan peristiwa “peltu” itu makin membuatnya malu (sampai ia mengiris nadinya berharap mati) karena dilakukan di studio foto dengan semboyan “Lima Menit Selesai”. Ia merasa terhina karena bahkan tak sampai lima menit. Lagi-lagi humor ala Hrabal. Menggelikan, dan pedih.

Homer

The Iliad adalah kemarahan, sementara The Odyssey adalah perjalanan. Yang pertama ditulis konon ketika ia di puncak kematangannya sebagai penyair, yang kedua ditulis di masa ketika ia lebih tua, yang barangkali artinya ia jauh lebih bijak. Saya tak tahu mana kualitas terbaik yang harus dimiliki seorang penulis: kemarahan atau kebijaksanaan. Kisah kemarahan Achilles di The Iliad merupakan salah satu yang menurut saya paling mengerikan. Ada beberapa “kemarahan” di kisah-kisah yang saya baca, yang terus mengganggu saya (dan mungkin banyak pembaca). Kemarahan Sethe di Beloved Toni Morrison, ketika ia membunuh anaknya, merupakan salah satu yang terus menghantui pikiran saya. Di novel Knut Hamsun, Pan, saya teringat kemarahan Letnan Thomas Glahn yang menembak mati anjingnya sendiri, Aesop. Bangkai si anjing ia kirim ke rumah Edvarda, gadis yang menghancurkan hatinya. Dan jangan dilupakan kemarahan Kapten Ahab terhadap paus raksasa yang memutus kakinya, di novel Moby-Dick. Meskipun begitu, kemarahan Achilles kepada Hector saya rasa tak ada tandingannya. Di buku kedua puluh dua puisi epik ini, setelah Achiles mengalahkan Hector (yang membunuh Patroclus, sahabat Achilles) dalam pertempuran, Achilles menyeret mayat Hector di tanah berdebu. “So his whole head was dragged down in the dust, and now his mother began to tear her hair …” (kutipan dari terjemahan Robert Fagles, sang jenius Homer menderetkan dua baris, dua adegan di dua tempat yang berbeda, untuk memperlihatkan rasa marah di satu sisi, dan rasa perih di sisi lainnya). Perang Troya sendiri, yang merupakan panggung utama The Iliad, lahir dari satu kemarahan setelah Paris dari Troy menculik Helena, memancing amarah orang-orang Achaea. Pasukan Achaea yang dipimpin oleh Agamemnon (kakak Menelaus, suami Helena) pun melancarkan perang atas Troya, dan Achilles dengan kemarahannya menjadi roh penting dari perang bertahun-tahun ini. Menurut tradisi, The Odyssey ditulis Homer setelah The Iliad, bahkan banyak yang yakin itu ditulis di masa tuanya. Kisah yang meliputi The Odyssey pun, pada dasarnya merupakan “sekuel” dari The Iliad, yakni perjalanan Odysseus (atau Ulysses dalam tradisi Latin, salah satu komandan pasukan Achaea) seusai perang Troya, pulang ke rumahnya di Ithaca. Perjalanan ini merupakan “perang” tersendiri, dan meliputi waktu bertahun-tahun yang sama lamanya dengan perang Troya. Perjalanan, saya rasa merupakan tema klasik dalam banyak literatur, tak hanya di Barat (tempat The Odyssey memberi pengaruh yang sangat luas terhadap kesusastraan klasik maupun modern), tapi juga di Timur. Journey to the West, salah satu kanon klasik Cina yang mengisahkan perjalanan Sun Gokong dan pendeta Buddha ke Barat (India) untuk memperoleh kitab, juga merupakan kisah perjalanan. Demikian pula dalam novel-novel kontemporer, dengan mudah kita bisa menemukannya: tahun lalu saya membaca Traveller of the Century karya Andrés Neuman. Meskipun merupakan novel gagasan, novel itu berkisah mengenai satu perjalanan (dan perhentian). Seperti ditulis dalam pembukaan The Odyssey, kisah perjalanan menurut saya selalu merupakan “Many cities of men he saw and learn their mind” (juga terjemahan Robert Fagles). Kisah perjalanan pada dasarnya merupakan kisah gagasan, kisah memperoleh kebijaksanaan. Tentu saja ada pertarungan, ada drama: istri Odysseus, Penelope yang menunggu kepulangannya, dirongrong ratusan pemuda yang menginginkan dirinya menjadi istri. Tapi yang terpenting, membaca The Odyssey sering membuat saya yakin, perjalanan paling panjang dan menderitakan, adalah perjalanan pulang ke rumah. Pelampiasan dendam Achilles pada akhirnya membawanya kepada kematiannya sendiri. The Iliad seperti mengatakan bahwa pertarungan merupakan perjalanan yang pendek. Singkat dan ringkas. Sementara itu, The Odyssey seperti bilang perjalanan dan petualangan merupakan kemarahan yang panjang, dendam yang berlarut-larut.

Agamemnon

Agamemnon, dalam salah satu mahakarya tragedi Yunani Agamemnon, karya Aeschylus, bagi saya merupakan gambaran kekuasaan yang cenderung pongah, seperti umumnya kekuasaan. Dan kepongahan ini entah bagaimana, seolah memperoleh pemakluman. Saya bisa menunjukkan bagaimana sosok seperti Agamemnon dengan mudah bisa kita lihat di dalam kerangka negara modern saat ini, terutama dalam satu hal yang paling menyedihkan: kekuasaan tak pernah salah. Baiklah, sebelum saya bicara mengenai sosok Agamemnon ini, saya ingin memberi kilasan ringkas latar belakang kisahnya. Bagi yang pernah membaca Iliad karya Homer, tentu akan menemukan bagian bagaimana Achilles pergi ke perang Troya. Karya Homer yang lain, Odyssey, dimulai jauh setelah Agamemnon dan kemudian isterinya mati, sepulang dari perang Troya. Bagi yang pernah menonton film Troy, tentu tahu bahwa penyebab perang itu adalah Paris yang menculik isteri Menelaus, Helen. Nah, Agamemnon merupakan kakak Manelaus, dan dialah yang sangat berang dan mengumumkan perang yang kemudian dikenal sebagai Perang Troya. Naskah tragedi Aeschylus ini fokus pada bagian kecil ketika Agamemnon pulang dari perang dan dibunuh isterinya, Clytemnestra. Latar belakang pembunuhan inilah, yang saya rasa merupakan bagian penting untuk dilihat, dan sekaligus membuka watak sebenarnya dari kekuasaan, baik negara tradisional maupun negara modern. Sebelum bicara lebih lanjut, saya ingin mengingatkan satu pertanyaan penting, pertanyaan moral yang sangat rumit menyangkut hubungan warga negara dan negara: mana yang lebih penting, hak hidup warga negara atau negara? Kita tahu negara didirikan oleh warga negara untuk memenuhi harapan-harapan dan cita-cita warga negara, tapi bagaimana jika ada warga negara “dianggap” mengancam keberadaan negara? Itu akan menjadi paradoks. Bagi saya, secara moral, negara harus patuh kepada tujuan utamanya: menjamin hak hidup warga negara. Hak hidup warga negara, dengan itu berada di atas hak hidup negara. Tapi dalam kenyataannya, hal itu sering terjadi sebaliknya. Mari kita lihat ke dalam kasus Agamemnon. Kita tahu, Perang Troya yang dikobarkan Agamemnon pada dasarnya merupakan masalah pribadi antara Paris dan Menelaus, serta Helen. Dalam hal ini, saya melihat Agamemnon telah melintasi batas-batas kekuasaan, dengan mengangkat masalah pribadi adiknya menjadi masalah negara. Kasus pribadi itu, menjadi kasus antar negara. Di sini, saya rasa logika Agamemnon adalah logika kekuasaan, logika harga diri sebuah negara, dan pada akhirnya, logika mempertahankan hak hidup negara. Ia tak lagi peduli bahwa itu urusan pribadi, selama urusan itu dianggap melukai harga diri negara, maka perang harus dikobarkan. Bagi saya absurd, tentu saja. Tapi bahkan dalam politik modern, berapa banyak perang antar negara terjadi karena kekonyolan segelintir orang? Tapi bagian paling tak masuk akal dari kisah Agamemnon terjadi saat Agamemnon pergi untuk berperang bersama armada lautnya. Di perjalanan ia dihadang badai, sebagai pertanda dewa tak merestui perang itu. Hanya ada dua cara agar ia bisa terbebas dari badai tersebut: kembali dan berarti mempermalukan negara, atau memberikan kurban yakni membunuh anak kandungnya sendiri, Iphigenia. Demi harga diri dan hak hidup negara, Agamemnon memilih untuk membunuh anaknya. Ia memilih hak hidup negara di atas hak hidup manusia. Adakah yang protes soal ini? Hampir tak ada. Membaca itu, kita merasa itu pilihan sulit tapi Agamemnon melakukan hal benar. Para tetua menganggapnya hal wajar seorang manusia dikorbankan demi harga diri negara yang tercoreng. Pemakluman dan pendiaman ini bagi saya mengerikan. Dan lebih mengerikan bahwa hal seperti ini bisa terjadi juga, tak hanya di karya drama tragedi Yunani, tapi dalam negara modern. Kematian Munir. Hilangnya Wiji Thukul. Pembunuhan Marsinah. Mereka adalah Iphigenia nyata, Iphigenia hari ini, dan Agamemnon merupakan penguasa gila yang akan membunuh siapa pun untuk sebuah entitas yang mestinya menjamin mereka hidup, yang kita sebut sebagai negara. Di dunia yang sinting seperti itu, di dunia yang menganggap apa yang dilakukan Agamemnon sebagai kewajaran, hanya satu orang saja yang waras. Clytemnestra, isterinya. Ialah yang kemudian menikam Agamemnon, tiga kali. Saya percaya, orang seperti Agamemnon semestinya memang tidak berkuasa, sebab ia telah melanggar tugasnya yang paling utama, menjamin hak hidup warga negara. Tapi tentu saja masalahnya juga rumit jika kita bicara mengenai Clytemnestra. Haruskan ia membunuh untuk mengembalikan prinsip dasar negara itu? Seperti mahakarya tragedi semestinya, Agamemnon memberi banyak pertanyaan, agar kepala kita tetap waras menghadapi kehidupan sebenarnya. Tapi bagi saya jelas, manusia seperti Iphigenia tak selayaknya dibunuh untuk negara yang seharusnya menjamin ia tetap hidup, dan pembunuhnya tak layak berkuasa.

Hak untuk Disebut

Seorang penulis pemula menulis cerita pendek yang secara gagasan, kerangka alur cerita, bahkan beberapa potong kalimat, sama dengan cerita pendek penulis lain yang lebih dulu terbit. Karena soal itu, saya berdiskusi dengan teman di satu penerbit mengenai “attribution right”. Saya belum tahu apa padanannya dalam Bahasa Indonesia, tapi gampangnya kita sebut “Hak untuk Disebut”. Hak ini sangat mendasar. Saya melihat, jika tak salah, pembela copyright maupun pendukung copyleft, sama-sama menghormati hak ini. Bahkan meskipun sebuah karya sudah memasuki domain publik, sang pengarang masih berhak atas hak ini, meskipun hak ekonominya mungkin telah lenyap. Nama Herman Melville akan terus ditulis sebagai penulis Moby Dick, misalnya. Demikian pula jika kita menulis sebuah karya, dan karya itu berdasarkan karya lain, atau mengutip karya orang lain, hak ini pun muncul. Kita harus menyebutnya, misalnya dengan cara: “Karya ini berdasarkan …”, “Kalimat ini dikutip dari …” Mengabaikan hak ini tak hanya berpeluang melanggar moral, bisa pula melintasi rambu-rambu hukum. Saya tak ingin membahas aspek hukum atau definisi mengenai hal ini, saya pikir persoalan ini dengan mudah dicari untuk diketahui. Tiba-tiba saya lebih tertarik melihatnya dari sudut tantangan estetik. Adakah? Tentu saja. Saya memikirkan ini sudah agak lama, ketika membaca kumpulan cerita pendek Carlos Fuentes berjudul Happy Families. Di bagian muka, kita berhadapan dengan satu kutipan dari Anna Karenina: “Semua keluarga bahagia, bahagia dengan …” (kita tahu kelanjutan pembukaan novel yang sangat terkenal tersebut). Tentu kita bisa mengatakan meletakkan kutipan tersebut di muka buku sebagai salah satu bentuk “penyebutan” Fuentes terhadap Tolstoy, seolah-olah mengatakan, seluruh cerita pendek di buku ini, meminjam pijakan dari novel Anna Karenina. Saya menjadi tertarik pada penyebutan kutipan tersebut terutama karena fakta bahwa judul buku tersebut “Keluarga Bahagia” sementara dalam bayangan saya, Anna Karenina lebih banyak menceritakan keluarga yang tak bahagia. Tentu ada satu paradoks yang ingin dipermainkan oleh Fuentes di sini, dan dengan cara itulah, ia ingin kita membaca kumpulan cerpennya sambil membayangkan (atau jika sempat, membaca ulang) Anna Karenina. Menyertakan satu kutipan dari karya orang lain di karya kita, saya pikir mestinya memang jauh-jauh dari sekadar “gaya-gayaan”. Selain ditempatkan sebagai “penyebutan”, satu sikap kerendahan hati bahwa “karya ini terinspirasi atau didasarkan pada karya itu”, bagi saya juga membawa konsekuensi tantangan estetik: dengan satu dan lain cara, karya kita akan diperbandingkan langsung dengan karya yang beberapa potong kalimatnya kita kutip. Pertarungan macam apa yang ingin ditawarkan seorang penulis dengan memperhadapkan karyanya dengan karya (mestinya) pendahulunya? Di luar soal kutipan, saya menemukan bentuk lain “penyebutan” ini, yang di satu sisi tampak tersamar, tapi di sisi lain juga sangat mencolok. Tidak terang-terangan mengatakan bahwa “karya ini terinspirasi atau didasarkan karya itu”, tapi di sisi lain jelas-jelas merujuk ke karya yang lain. Kita tahu novel James Joyce yang mengisahkan perjalanan Leopold Bloom mengelilingi Dublin diberi judul Ulysses tentu bukan tanpa sebab. Novel itu secara terang-terangan mengakui berdiri di atas pijakan karya Homer berjudul Odyssey (yang dilatinkan menjadi Ulysses). Joyce tak perlu mengatakan apa pun lagi, judul tersebut sudah mengatakan jauh lebih banyak dari apa yang perlu dikatakan. Tentu kita bisa saja membaca novel itu tanpa perlu membaca perjalanan Odyssey, tapi sekaligus novel itu seperti “meminta” untuk dibaca bersandingan dengan epik tersebut. Di sini Joyce jelas tak hanya memberi “hak penyebutan” terhadap Homer (siapa pun itu), ia membawanya ke petualangan estetik. Hal yang hampir sama kita temui di novel 1Q84 Haruki Murakami. Dalam Bahasa Jepang, “Q” dibaca sama dengan angka “9”. Mau tak mau, novel itu juga seperti meminta dibaca beriringan dengan 1984 George Orwell. Bersifat rendah hati bahwa karya kita berdiri di atas pijakan karya orang lain, saya percaya tak akan menghancurkan reputasi kita. Itu tak semata-mata penghormatan kepada penulis dan karyanya. Bagi saya jelas: itu juga merupakan tantangan estetik. Apa yang ingin kita tawarkan ketika mengolah karya orang lain dan membentuknya menjadi karya milik kita sendiri?

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑